Wednesday, September 29, 2010

Kalung Itu Pernah Kutemukan di Jalan

Dalam kitab Dzayl Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab menulis kisah tentang Imam al-Bazzaz.

Suatu ketika, al-Bazzaz menunaikan ibadah haji. Setelah beberapa hari di Makkah, ia kehabisan bekal. Tidak sepeser pun uang dan sedikit makanan yang ia miliki. Ia kelaparan.

Al-Bazzaz menelusuri jalan-jalan, mencari pekerjaan untuk mendapatkan makanan. Namun hasilnya nihil. Sampai kemudian ia menemukan sebuah kantong yang tergeletak di pinggir jalan. Mulanya ia ragu untuk mengambilnya, namun kemudian ia bawa kantong itu, dan terkejut setelah tahu kantong itu berisi barang-barang berharga. Ia tidak pernah melihat barang-barang sebagus itu sebelumnya. Ia putuskan untuk tak mengutak-atik kantong itu. Ia ikat kembali dan menjaganya sampai ditemukan siapa pemiliknya.

Al-Bazza kembali mencari pekerjaan untuk mendapatkan makanan.

Sampai kemudian ia mendengar ada lelaki tua yang kehilangan barang. Ia memaparkan ciri-ciri barang tersebut. Ia juga mengatakan, akan memberikan hadiah kepada siapa pun yang menemukan barangnya itu.

Ooh, ini pasti pemilik kantong yang aku temukan, pikir al-Bazza. Mulanya ia ragu, apakah kantong itu akan diserahkan atau tidak. Sementara ia sendiri sedang membutuhkan makanan. Is sempat berpikir buruk, namun akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikannya.

Lelaki tua itu kemudian memberikan dua dinar emas kepada al-Bazzaz sebagai imbalan. Namun, al-Bazzaz menolak. "Aku tidak bisa menerima imbalan itu. Aku hanya menginginkan pekerjaan yang menghasilkan upah.”

Namun lelaki tua itu mendesak agar al-Bazzaz menerima imbalan itu.

“Aku tidak bisa menerima imbalan itu.” Tegas al-Bazzaz. “Aku tulus saat menjaga barang itu, sampai kemudian aku mengembalikannya kepadamu. Aku hanya bisa berharap semoga Allah memberiku balasan yang jauh lebih besar.”

Lelaki tua itu akhirnya memahami.


Musim haji pun usai. Para jamaah haji mulai meninggalkan Makkah. Demikian pula al-Bazzaz. Ia pulang ke kampung halamannya menggunakan perahu. Dalam perjalanan perahu itu dihantam badai. Para penumpangnya terhempas ke laut. Namun Allah menakdirkan al-Bazzaz selamat. Ia berpegangan di serpihan kayu perahu. Selama beberapa hari ia terombang-ambing tak tentu arah. Sampai kemudian ia terdampar di sebuah pulau.

Karena ia tidak mengenal siapa pun di pulau itu, al-Bazzaz menuju masjid. Ia mengerjakan shalat dan berdoa agar diberi jalan keluar. Setelah itu ia membaca al-Quran. Orang-orang yang ada di masjid itu kagum dengan bacaan al-Bazzaz. Salah seorang kemudian mendekati al-Bazzaz.

“Syekh, tolong ajari kami membaca al-Quran.” Kata orang itu.

Di tengah kegalauan dan kesedihan, tanpa berpikir panjang ia menyanggupi permintaan mereka untuk mengajar membaca al-Quran.

Setelah beberapa lama, al-Bazzaz semakin merasakan kebahagiaan menjalankan pekerjaannya. Demikian juga dengan para muridnya. Mereka begitu bersemangat belajar bersamanya. Bahkan mereka meminta al-Bazzaz menetap di pulau itu untuk terus mengajarkan al-Quran. Namun al-Bazzaz menolak. Tak terpikirkan sedikit dalam benaknya bahwa ia akan menetap di sana. Para penduduk pun terus mendesaknya. Bahkan mereka berniat menjodohkan al-Bazzaz dengan salah seorang gadis yang ayahnya telah meninggal. Akhirnya al-Bazzaz pun tak kuasa menolak permintaan mereka.

Saat diperkenalkan dengan gadis yang dimaksud, al-Bazzaz terpaku pada kalung di leher sang gadis. Sampai orang-orang menyangka jika ia mau menikah dengan gadis itu karena kalung itu. Mereka tidak tahu apa yang ada dalam benak al-Bazzaz.

Al-Bazzaz kemudian menceritakan perihal kejadian terkait dengan kalung itu. Kalung itu adalah kalung yang ada dalam kantong yang ia temukan saat sedang berhaji, yang ternyata milik seorang lelaki tua. Al-Bazzaz mengembalikan kantong itu utuh berikut isinya, dan menolak saat lelaki tua itu hendak memberikan imbalan emas.

Sontak orang-orang yang mendengar ceritanya pun bersorak gembira. Al-Bazzaz bingung mengapa mereka bersorak gembira.

“Lelaki tua pemilik kantong berisi kalung emas itu adalah ayah gadis ini.” Kata mereka. “Ia adalah guru kami di sini. Ia juga pernah bercerita tentang dirimu, pemuda yang jujur dan amanah. Ia selalu berdoa agar suatu saat dipertemukan denganmu, untuk kemudian dijodohkan dengan anak gadisnya.”

“Allah mengabulkan doanya.”

Al-Bazzaz pun menikah dan menetap di pulau itu. Ia dikaruniai dua anak. Namun tak lama kemudian istrinya meninggal dunia, kemudian kedua anaknya pun menyusul. Akhirnya al-Bazzaz pun mewarisi semua harta kekayaan peninggalan istrinya.

No comments:

Post a Comment