Wednesday, February 29, 2012

Peradaban Ya’juj Wa Ma’juj..?

Di dalam surah Al-Kahfi Allah سبحانه و تعالى menggambarkan karakter utama dua kaum yang bernama Ya’juj dan Ma’juj:

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ

“Mereka berkata: "Hai Zulkarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi.” (QS Al-Kahfi 94)

Zulkarnain merupakan seorang penguasa di masa lalu yang mengelola kekuasaannya berdasarkan keimanan kepada Allah سبحانه و تعالى . Dalam penjelajahannya di muka bumi ketika mengarah ke utara ia berjumpa dengan suatu kaum yang hidup terpencil dan menggunakan bahasa yang asing bagi Zulkarnain. Kaum tersebut berdomisili di sebuah wilayah di belakang dua gunung. Kaum ini kemudian mengajukan permohonan kepada Zulkarnain agar membangun dinding antara Ya’juj dan Ma’juj dengan mereka. Mereka berharap dinding itu dapat melindungi mereka dari kekejaman Ya’juj dan Ma’juj. Sebab mereka sangat tahu reputasi utama dua kaum ini sebagai pembuat kerusakan (مُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ ).

Akhirnya Zulkarnain membangun dinding tersebut terbuat dari bongkahan-bongkahan besi yang kemudian dilapisi oleh cairan tembaga mendidih agar tidak mudah berkarat. Zulkarnain memiliki teknologi yang sedemikian canggih sehingga dinding yang dibuatnya memiliki kualitas yang prima dan dapat bertahan lama. Namun demikian, iapun sadar betapapun kokohnya dinding tersebut, pasti dinding itu memiliki masa kadaluarsa. Sehingga Zulkarnain mengeluarkan pernyataan penting sesudah berhasil menyelesaikan pembangunan dinding tadi:

قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

“Zulkarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabbku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar". (QS Surah Al-Kahfi 98)

Zulkarnain bersyukur bahwa ia dapat membangun dinding pencegah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Sehingga dinding tersebut dapat dirasakan sebagai rahmat Allah bagi kaum yang lemah seperti mereka yang dijumpai Zulkarnain yang berlokasi di belakang dua gunung. Zulkarnain memang tercatat sebagai penguasa yang beriman dan adil-bijaksana. Namun Zulkarnain yakin bahwa apabila sudah datang janji Allah, maka dinding tersebut bakal hancur luluh. Bilakah kejadian tersebut akan berlangsung? Sebab jika dinding tersebut sudah hancur, maka bukan kaum di belakang dua gunung itu saja yang akan terkena dampak perbuatan fasad (kerusakan) Ya’juj dan Ma’juj. Tetapi bahkan seluruh umat manusia akan merasakannya. Inilah yang diisyaratkan dalam ayat berikut:

حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ

“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (QS Al-Anbiya 96)

Ya’juj dan Ma’juj akan berbuat kerusakan yang massif terhadap umat manusia ketika dinding yang selama ini mengurung mereka telah Allah hancur-luluhkan. Mereka akan “turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” Allah menggambarkan bahwa kerusakan yang mereka timbulkan dikarenakan begitu banyaknya jumlah mereka yang seluruhnya memiliki reputasi utama sebagai pembuat fasad (kerusakan). Bahkan di dalam sebuah hadits digambarkan bahwa bangsa Arab bakal menjadi salah satu target utama tindakan zalim dari penyebarluasan kerusakan Ya’juj dan Ma’juj.

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَزِعًا مُحْمَرًّا وَجْهُهُ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam keluar dalam keadaan takut dan wajah beliau memerah, beliau mengucapkan: "LAA ILAAHA ILLALLAAH, celakalah bangsa Arab dari keburukan yang mendekat, saat ini dinding penghalang Ya'juj dan Ma'juj telah terbuka seperti ini -beliau melekatkan jari jempol dan jari telunjuk- ia (Zainab) bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kita akan dibinasakan sementara ditengah-tengah kami ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: "Ya, bila kekejian banyak (menyebar)." (MUSLIM - 5129)

Hadits di atas sekaligus memberi isyarat kuat mengenai saat Allah mulai menghancur-luluhkan dinding yang dibangun Zulkarnain sekian ribu tahun yang lalu. Dan saat itu ialah di zaman Nabi صلى الله عليه و سلم sesudah beliau hijrah ke Madinah. Seorang ulama pemerhati Ilmu Akhir Zaman bernama Syaikh Imran Hosein berpendapat bahwa sejak zaman Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم Ya’juj dan Ma’juj telah mulai “turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” Artinya, Ya’juj dan Ma’juj telah menebar kerusakan sejak lama yaitu semenjak limabelas abad yang lalu..!

Bila pandangan di atas dapat diterima, maka menjadi jelaslah bagi kita mengapa dewasa ini kita merasakan kehidupan yang sangat buruk dan penuh kerusakan. Dan terlebih khusus lagi, kita menjadi sangat mengerti mengapa bangsa Arab dewasa ini menjadi bangsa yang telah binasa dan diselimuti kehinaan. Sebab kekejian telah menyebar di kalangan bangsa Arab saat ini. Bangsa Arab telah berhasil diacak-acak oleh Peradaban Modern Ya’juj dan Ma’juj yang melakukan megaproyek globalisasi nilai-nilai anti-tuhan dan anti-agama. Padahal Umar bin Khattab pernah berkata: “Kami (bangsa Arab) menjadi mulia karena Islam, dan kami pasti akan menjadi hina saat melepaskan Islam dari kehidupan.”

Ya’juj dan Ma’juj merupakan kaki-tangan Dajjal. Oleh karenanya kita melihat Peradaban Modern Ya’juj dan Ma’juj sangat selaras dengan Sistem Dajjal yang telah dibicarakan Ahmad Thomson. Yaitu suatu peradaban yang berusaha menyeragamkan umat manusia ke dalam One Global Society (Satu Masyarakat Dunia) berlandasakan nilai-nilai fasad (kerusakan) Ya’juj wa Ma’juj. Dunia modern dewasa ini merupakan hasil penetrasi ribuan tahun yang dilakukan oleh Ya’juj wa Ma’juj ke segenap pelosok dunia. Globalisasi nilai-nilai anti-tuhan dan anti-agama yang terasa sedemikian merata dewasa ini sangat sesuai dengan gambaran Allah:

وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ

“Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain...” (QS Al-Kahfi 99)

Dewasa ini globalisasi yang difahami sebagai proses modernisasi oleh kebanyakan orang awam, justeru merupakan sebuah mega-proyek Ya’juj dan Ma’juj beserta segenap penyambut hadirnya Ad-Dajjal untuk memastikan tegaknya The Godless, Secular and Sinful Civilization (Peradaban Anti-Allah, sekuler dan penuh dosa). Maka seragamlah berlakunya nilai-nilai kekafiran di seluruh pelosok dunia, baik timur maupun barat ataupun utara dan selatan. Berbagai ideologi sesat memasyarakat seperti pluralisme, liberalisme dan sekularisme. Sistem politik berlandaskan demokrasi (suara mayoritas adalah suara kebenaran) dan berperilaku Machiavelli (tujuan menghalalkan segala cara). Sistem ekonomi dan keuangan ribawi (baca: rentenir lintah darat). Sistem hukum mengharamkan berlakunya hukum Allah dan memaksakan diterapkannya hukum produk manusia (baca: hukum Jahiliyah dan hukum Thaghut). Sistem budaya yang berlandaskan faham hedonisme (syahwat menjadi ilah). Sistem sosial yang diikat berdasarkan nilai primordial kebangsaan (yang memandang orang kafir dengan orang beriman sebagai setara). Dan masih banyak lagi daftar kebatilan yang meliputi aspek hidup manusia modern.

Alhasil, setiap hamba Allah yang ingin bersungguh-sungguh hanya beribadah kepada Allah secara total di zaman penuh fitnah dewasa ini wajib melakukan pemisahan hubungan mental secara total dengan The Godless, Secular and Sinful Civilization. Sebab bila ia biarkan diri dan keluarganya tenggelam dan larut menyerahkan wala’ (loyalitas) kepada Peradaban Ya’juj dan Ma’juj, niscaya ia bakal menyesal di akhirat. Sebab peradaban ini bermaksud menjamin setiap warga dunia modern menikmati surga Sistem Dajjal dengan resiko kehilangan peluang menikmati surga akhirat alias memperoleh tiket untuk masuk neraka...! Dan peradaban ini hendak memastikan setiap hamba Allah yang ingin tetap ber-istiqomah dalam dienullah Al-Islam wajib merasakan penderitaan neraka dunia dan azab kekuatan Ya’juj dan Ma’juj. Barangsiapa memilih untuk tetap tunduk kepada Allah, maka ia harus rela menghadapi berbagai azab dari peradaban Ya’juj dan Ma’juj, namun ganjarannya ialah terbebaskan dari neraka Allah di akhirat untuk menikmati surga-Nya. The Godless, Secular and Sinful Civilization ingin mengajak seluruh umat manusia masuk neraka. Maka setiap muslim yang menolak ajakan mereka harus bersiap diri menjadi kaum minoritas. Barangkali inilah maksud hadits di bawah ini:

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah Azza Wa Jalla pada hari kiamat berfirman: 'Wahai Adam, lalu Adam berkata; 'Aku penuhi panggilan-Mu dan kebahagian ada di tangan-Mu wahai Rabb. Lalu dikatakan dengan suara; Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadamu untuk mengeluarkan dari keturunanmu ba'tsun naar (utusan-utusan ke neraka). Adam berkata; Ya Rabb, apa yang Engkau maksud Ba'tsunnar (utusan-utusan neraka) itu?) Allah berfirman: 'Setiap seribu ambillah sembilan ratus sembilan puluh sembilan.'" Beliau bersabda: "Maka pada saat itu wanita yang hamil gugur kandungannya, anak kecil akan beruban, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya, (Al Hajj: 2)." Hal itu sangat terasa berat bagi umat manusia, hingga wajah mereka berubah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sembilan ratus sembilan puluh sembilan itu adalah dari Ya'juj dan Ma'juj dan satu orangnya dari kalian."(HR Bukhari)

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan penghuni surga, walau itu berarti kami harus menjadi kaum minoritas, kaum ghurabaa (terasing) di zaman penuh fitnah era Sistem Dajjal serta Peradaban Ya’juj wa Ma’juj dewasa ini... Amiin ya Rabbal’aalamiin.

http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/peradaban-ya-juj-wa-ma-juj.htm

Misteri Injil Kuno Pengungkap Kerasulan Muhammad SAW

Perhatian dunia tertuju ke Turki. Beberapa hari ini, publik dihebohkan dengan terungkapnya sebuah misteri yang terkandung dalam Injil berusia 1500 tahun yang tersimpan di Turki.

Yang membuat heboh, Injil kuno itu mengungkap sebuah fakta yang mengguncang keimanan, terutama bagi umat Kristiani. Betapa tidak. Injil Barnabas itu mengajarkan ajaran yang berbeda dibanding doktrin Kristen dunia.

Ya, Injil Barnabas itu meyakini Yesus (Isa) sebagai utusan, bukan Tuhan. Menurut Huffingtonpost, Injil Barnabas pun meyakini adanya utusan (nabi) penerus risalah Isa, yang berasal keturunan Nabi Ismail, yakni Nabi Muhammad SAW.

Barnabas dipercayai sebagai salah seorang murid Isa di Yerussalem. Barnabas yang bernama asli Yusuf, bersama para murid lainnya menyebarkan ajaran Isa. Barnabas adalah seorang Yahudi suku Lewi yang berasal dari Siprus. Dalam Wikipedia, Hajj Sayed berpendapat. terdapat pertikaian antara Paulus dan Barnabas dalam surat Galatia ketika keduanya menjalani misi dakwah menuju Syprus (45-49 M).

Ini yang mendukung perbedaan injil Barnabas dengan ajaran Paulus. Injil Barnabas ini berbeda dengan Kodeks Sinaiticus, karena menggunakan bahasa Aramik bukan Yunani kuno. Bahasa Aramik diyakini sebagai bahasa yang digunakan Nabi Isa atau Yesus. Berbeda dengan berbagai Injil lainnya, kitab Barnabas diyakini ditulis Barnabas selama berada di Siprus, setelah berpisah dari Paulus.

Di Siprus inilah pengikut Barnabas berkembang hingga lebih dari seribu tahun. Bila ditelusuri ada benang merah pengungkapan Injil Barnabas di Turki dengan tempat ajaran Barnabas yang berkembang di Siprus.

Ada sebuah biara di utara Siprus Turki yang disebut sebagai Biara Rasul St Barnabas, yang didirikan oleh pengikut setia sekte Barnabas. Dan di dalam biara inilah diyakini Barnabas dikuburkan hingga ia meninggal dunia. Pengikut sekte Barnabas inilah yang diyakini menulis ulang Injil Barnabas pada abad ke-5 masehi.

Sekitar 1980-an, biara ini telah dirampok oleh sekelompok orang. Mereka menggali lantai dan dinding biara selama malam hari. Tidak diketahui apa yang mereka incar. Diduga sekelompok orang itu telah mencuri sesuatu terkubur di dalam dinding.

Seorang wartawan Siprus mengklaim telah menemukan salinan Alkitab yang sangat kontroversial dari St Barnabas. Ia kemudian mencoba menyelidiki fakta itu. Tak lama kemudian, ia temukan tewas tertembak.

Sekitar 12 tahun lalu, polisi Turki dalam sebuah operasi menemukan sebuah Alkitab tua dari seorang warga siprus yang hijrah ke Turki. Ada beberapa rumor tentang kabar itu. Pihak polisi tak membenarkan dan menolak kabar itu.

Puncaknya, tiga hari lalu, sebuah Alkitab tersebut telah dipublikasikan untuk pertama kalinya setelah 12 tahun disimpan pemerintah Turki. Saat ini Alkitab ini disimpan di museum negara Turki dan telah menjadi perhatian dunia termasuk dari Vatikan.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/29/m03s0u-misteri-injil-kuno-pengungkap-kerasulan-muhammad-saw

Tuesday, February 28, 2012

Di Saudi Perawat Katolik Roma itu Bersyahadat

Hidayah Islam bisa datang dengan tiba-tiba, ataupun datang setelah melakukan pencarian yang panjang. Berangkat dari keraguan tentang ajaran agama yang dianutnya sejak kecil, Areej (Ella) Mora menuturkan kisahnya dalam mencari kebenaran yang berakhir pada Islam, di negeri tempat kelahiran Islam, Arab Saudi. Berikut kisahnya, yang kami sadur dari Saudi Gazzette (13/01/2012).

***

Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen yang sangat konservatif, yang sangat ketat menjalankan nilai-nilai dasar dan prinsip kepercayaan Katolik Roma.

Ketika semakin dewasa secara fisik, mental dan spiritual, saya mulai mempertanyakan dasar kepercayaan dari agama itu, yang saya ikuti secara buta. Saya mempertanyakan tentang konsep ketuhanan Yesus, Perawan (Maria) sebagai ibu dari tuhan, trinitas, dosa asli dan warisan, pengorbanan darah, penyaliban dan banyak lagi.

Perjalanan spiritual membimbing saya menggali ajaran dari berbagai kelompok Kristen. Saya bahkan bergabung dengan kelompok bernama kristiani yang "dilahirkan Kembali" dan menghapal banyak ayat Bibel.

Namun, sejalan dengan pencarian akan ilmu dan kebenaran agama itu, saya semakin bingung, karena menemukan banyak kesalahan dan kontradiksi.

Saya kemudian bekerja di Arab Saudi dalam tiga periode waktu yang berbeda. Pertemuan saya dengan Islam dan Muslim terjadi saat saya datang ke Al Khobar untuk bekerja sebagai perawat.

Di sana, saya melihat begitu banyak wanita mengenakan kerudung dan penutup wajah. Ketika itu, pertama kali pula saya mendengar panggilan shalat, adzan.

Namun, perkenalan saya dengan Islam sebenarnya terjadi saat menjalani tugas kedua di sebuah rumah sakit anak-anak di Taif. Saat itu, saya diundang untuk hadir dalam kuliah tentang Islam, bertemu dan mendengarkan para pembicara yang berasal dari berbagai negara dan agama. Salah satu di antara pembicara adalah seorang mantan pendeta. Tiba-tiba, saya merasa banyak ajaran Islam yang sesuai dengan apa yang saya cari selama ini tentang agama.

Penerimaan saya atas ajaran agama Islam terjadai dalam masa tugas ketiga di Rumah Sakit Al Tagher Jeddah.

Di sana saya mendapatkan seorang teman satu kamar dari Pakistan. Ia memberi saya banyak buku tentang Islam. Saya belajar banyak tentang Islam melalui dirinya.

Suatu hari, lelah akibat pekerjaan dan masalah rumah tangga yang menumpuk, saya menyendiri di teras tempat tinggal kami. Saat saya menghirup udara segar, terdengar suara adzan ashar.

Panggilan shalat itu terdengar seperti alunan musik yang manis di telinga, sehingga saya dapat merasakan kenyamanan dan keteduhan di dalam hati.

Tanpa sadar, saya mengangkat kedua tangan dan berdoa agar Tuhan menunjukkan jalan-Nya. Saya tidak tahu bahwa ketika itu saya menghadap kiblat.

Saya pejamkan mata, dan air mata pun berlinang dari keduanya. Saya merasa terangkat ke atas dan mendengar suara berkata, "hanya ada satu Tuhan."

Malam itu, saya kembali menyaksikan teman sekamar melakukan shalat. Setelah ia menyelesaikannya, saya lalu berjalan mendekat dan berkata, "Saya ingin shalat bersamamu."

Dia bertanya, apakah saya ingin menjadi seorang Muslim. Dan dengan segera saya menjawabnya, ya.

Saya memeluk Islam pada bulan Mei 2005 dan resmi mengucapkan dua kalimat syahadat pada April 2007. Saya melanjutkan pelajaran tentang Islam di Pusat Dakwah Jeddah.

Alhamdulillah, Allah membimbing saya kepada Islam. Tidak ada yang lain yang saya minta, dan semoga dengan izin Allah, Allah akan terus membimbing saya hingga ajal menjemput. Dan menjadikan saya sebagai alat untuk membawa keluarga dan orang-orang lain, yang menjadi abu, menemukan Islam.

Alhamdulillah, belum lama ini saya melaksanakan rukun Islam yang kelima. Saya sudah menunaikan ibadah haji.*

http://www.hidayatullah.com/read/20663/14/01/2012/di-saudi-perawat-katolik-roma-itu-bersyahadat.html

Pelajaran dari Wanita Pelit

DALAM beberapa kitab tazkiyatun nafs, seperti Tanbiihul Ghaafiliin, Al-Jauharul Mauhuub wa Munabbihatul Quluub, dan Al-Mawaaidz al-‘Ushfuuriyyah, dicantumkan sebuah kisah ganjaran yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala kepada seorang wanita yang pelit bersedekah saat ia hidup di dunia. Inilah petikan kisahnya.

Suatu hari datang kepada Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) seorang wanita dengan tangan kanan yang tidak berfungsi (lumpuh).

“Ya Rasul, berdoalah kepada Allah untuk tanganku ini agar bisa berfungsi kembali seperti semula,” pintanya kepada Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

“Kenapa tanganmu bisa seperti itu?” tanya Rasulullah kembali.

Lalu diceritakan wanita tersebut apa yang terjadi dengan dirinya.

“Saya bermimpi seakan kiamat telah terjadi. Neraka jahannam telah menyala dan surga telah terhidang. Di dalam neraka terdapat beberapa lembah. Kulihat ibuku berada di salah satu lembah tersebut. Di tangan kanannya terdapat lemak dan di tangan kirinya terdapat lap kecil yang menghindarkan tangannya dari terkaman api neraka.”

“Mengapa ibu bisa berada di lembah tersebut?” Bukankah ibu seorang yang taat kepada Allah dan Ayah selalu ridha dan sayang terhadap ibu?” tanyaku kepada ibuku.

“Anakku, semasa di dunia ibu pelit. Di sinilah tempat ibu.”

“Lalu apa maksudnya lemak dan kain yang menempel di tangan ibu?”

“Ini adalah balasan sedekah ibu saat masih di dunia. Selama hidup, ibu tidak pernah bersedekah kecuali lemak dan kain lap. Dua benda inilah yang melindungi tangan ibu dari sengatan api neraka.”

Aku pun bertanya kembali, “Ayah di mana, Bu?”

“Ayahmu dermawan. Tentulah ia sedang berada di surga di tempat orang-orang yang dermawan.”

Aku bergegas ke Surga untuk menemui ayahku. Kulihat ayahku sedang berdiri di dekat telagamu, ya Rasul. Ia sedang memberi minum manusia, menerima gelas dari tangan Ali. Ali dari Utsman. Utsman dari Umar. Umar dari Abu bakar. Abu Bakar dari tanganmu, ya Rasul.

“Wahai Ayah! Mengapa ibuku yang taat kepada Allah dan patuh dengan Ayah tega ayah biar berada di salah satu lembah di neraka? Sedangkan Ayah sibuk memberi minum manusia dari telaga Rasulullah. Ayah, ibu haus di neraka sana. Berikanlah ia seteguk air saja,” pintaku kepada Ayah.

“Wahai anakku, ibumu itu berada di tempat orang yang pelit dan orang yang berdosa. Allah mengharamkan air telaga ini diberikan kepada orang-orang yang pelit dan orang-orang yang berdosa.” Ayah menolak untuk memberikannya.

Aku nekad mengambilnya segelas, untuk diminumkan kepada ibuku. Ketika ibuku sedang minum, kudengar suara, “Semoga Allah melumpuhkan tanganmu karena kamu datang memberi minum kepada orang yang pelit dari telaga Muhammad.”

Aku terbangun. Dan kulihat tanganku menjadi lumpuh.

Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda, “Kepelitan ibumu telah menghukummu di dunia ini. Begitulah nanti yang akan dirasakan ibumu ketika dihukum Allah?”

Aisyah menceritakan, Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). lalu menaruhkan tongkatnya ke tangan kanan wanita itu dan berdoa, “Ya Allah, dengan kebenaran mimpi yang dituturkan wanita ini sembuhkanlah tangannya seperti semula.”

Tangan kanannya pun sembuh, dan dia pun segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎).

Apa yang layak dipetik dari kisah yang diceritakan Aisyah, isteri Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) tersebut? Ada tiga hal yang bisa dijadikan pelajaran.

Pertama, jangan ragukan kalau surga dan neraka itu memang ada. Karena itu, tak pantas bila kita tak menyiapkan diri untuk masuk ke surga dan menjauhkan diri segala perilaku yang bisa menuntun ke neraka. Cerita adanya telaga Rasul Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) di dalam surga menjadi salah satu kenikmatan yang bakal dirasakan oleh penduduk surga nantinya. Oleh sebab itu, sering-sering berdoa kepada Allah agar diizinkan merasakan telaga Rasulullah. Kalau sudah merasakan telaga Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), dipastikan sudah berada di surga.

Ada riwayat dari Abu Said yang menarik untuk diingat agar menguatkan kita saat beribadah.

Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda, “Bila penduduk surga memasuki surga, maka akan terdengar suara, “Inilah saatnya kehidupan abadi. Saat yang menjadikan kalian selalu sehat dan tak akan pernah sakit. Saat yang membuat kalian menjadi seperti remaja dan tidak pernah tua. Saat yang membuat kalian menerima kenikmatan. Tak akan susah untuk selama-lamanya." Semua ini seperti apa yang difirmankan Allah Subhanahu Wata’ala.

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ وَقَالُواْ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَـذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللّهُ لَقَدْ جَاءتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُواْ أَن تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“….. Mereka diseru. Inilah surga yang diwariskan kepadamu karena amal yang kamu kerjakan.” (QS. Al-A’raf [7]: 43)

Kedua, telaga Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) sudah ditetapkan menjadi balasan untuk orang-orang dermawan di akhirat kelak. Beruntung sekali bila kita tergolong orang yang dermawan.

Setiap kali kita bersedekah makin dekat kesempatan kita menikmati telaga Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). di akhirat kelak. Sungguh, ini kenikmatan yang luar biasa. Di dunia saja sedekah yang diberikan kepada orang lain, mendapat balasan langsung dari Allah Subhanahu wa-ta'ala (سبحانه و تعالى‎), kita begitu senang. Apalagi sampai dapat merasakan telaga Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم).

Bila dikaji di dalam al-Qur’an, Allah mengganti setiap harta yang disedekahkan dengan jumlah minimal 10 kali lipat. Bisa dilihat di surat al-An’am [6]: ayat 160. Allah menjanjikan balasan 10 kali lipat bagi mereka yang berbuat baik. Bersedekah adalah salah satu perbuatan baik. Bahkan di dalam surat al-Baqarah [2] ayat 261, Allah menjanjikan balasan sampai 700 kali lipat.

Maka layak bila kita sering mengingat-ingat hadits yang didengar Ali Kwh dari Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم);

”Sedekah, jika telah dikeluarkan dari tangan pemiliknya, lebih dahulu berada di ‘tangan’ Allah, sebelum sampai ke tangan orang yang menerima sedekah. Lalu sedekah itu akan mengucap lima kalimat: Aku kecil kau besarkan, aku sedikit kau perbanyak, aku musuh kau cintai, aku fana kau kekalkan, kamu penjagaku, kini aku menjagamu.”

Ketiga, jika tidak mau berbagi kepada orang lain, siap-siaplah menjadi penghuni neraka. Sekiranya sedekah harta yang diberikan cuma sedikit, tentu hanya itu yang akan dibawanya ke akhirat kelak. Riwayat yang diutarakan Aisyah ra. di atas sudah jelas menceritakan bagaimana nasib dan kondisi orang pelit di dalam neraka.

Di dunia saja, orang pelit sering dijauhi masyarakat. Bahkan masyarakat malas berteman dengannya, apalagi di akhirat. Tak akan ada yang bisa menolongnya ketika sudah berada di neraka. Persis seperti apa yang dikatakan Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم); “Orang pelit jauh dari Allah, jauh dari surga-Nya, dan jauh dari manusia, tapi dekat dengan neraka-Nya. Dan orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surganya, gampang bergaul dengan manusia, dan jauh dari api neraka.”

Karena itu, marilah kita menjadi golongan orang dermawan. Golongan yang bakal mendapatkan air dari telaga Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Amin.*

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc
Penulis adalah Pengurus Lembaga Baca Tulis (eLBeTe) Sumut

Ditemukan, Injil yang Mengabarkan Kedatangan Nabi Muhammad

Sebuah Injil berusia 1.500 tahun yang menceritakan kedatangan Nabi Muhammad SAW ditemukan di Turki. Kabarnya, Gereja Vatikan telah meminta secara resmi kepada pemerintah Turki untuk melihat Injil yang tersimpan selama 12 tahun di negara tersebut.

Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugul Gunay mengatakan sejalan dengan keyakinan Islam, Injil ini memperlakukan Yesus sebagai manusia bukan Tuhan. Fakta ini, sekaligus menolak ide konsep tritunggal dan penyaliban Yesus.

"Disebutkan injil ini, Yesus berkata kepada salah seorang pendeta, bagaimana kami memanggil mesias? Muhammad adalah nama yang diberkati," kata dia membacakan salah satu ayat dalam Injil seperti dikutip alarabiya.net, Senin (27/2).

Gunay menuturkan dalam injil ini juga disebutkan Yesus sendiri menyangkal menjadi Mesias. Yesus mengatakan bahwa Mesias itu adalah keturunan Ismail yakni orang Arab.

Sebelumnya, Umat Islam sendiri mengklai pesan kedatangan Muhammad SAW juga terdapat dalam injil Barnabas, Markus, Matius, Lukas dan Yohannas.

Gunay mengatakan pihak Vatikan telah meminta salinan injil tersebut saat Injil tersebut hendak diselundupkan ke luar Turki pada tahun 2000. Kini, Injil tersebut berada dalam brankas pengadilan Ankara. Nantinya, Injil tersebut akan diserahkan kepada Museum Etnografi Ankara.

Meski demikian, kalangan Gereja skeptis dengan keaslian Injil tersebut. Seorang pendeta Protestan Ihsan Ozbek mengatakan Injil itu berasal dari abad ke-5 atau ke-6. Sementara Barnabas, yang merupakan pemeluk pertama Kristen hidup pada abad pertama.

"Salinan Injil di Ankara mungkin telah ditulis ulang oleh salah seorang pengikut Barnabas," kata dia.

Sebab, lanjutnya, ada jeda 500 tahun antara Barnabas dan penulisan salinan Inkjil. "Umat Islam mungkin akan kecewa bahwa Injil ini tidak ada hubungannya dengan injil Barnabas," ujarnya.

Sementara Profesor Omer Faruk menilai Injil itu perlu ditelusuri lebih lanjut guna memastikan Injil itu dibuat oleh Barnabas atau pengikutnya.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/02/27/m01kz6-ditemukan-injil-yang-mengabarkan-kedatangan-nabi-muhammad

Allah Akbar, Injil Kuno Ini Kabarkan Kedatangan Rasulullah

Pemerintah Turki telah mengkonfimasi sebuah injil kuno yang diprediksi berusia 1500 tahun. Injil kuno tersebut ternyata memprediksi kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai penerus risalah Isa (Yesus) di bumi.

Bahkan Alkitab rahasia ini memicu minat yang serius dari Vatikan. Paus Benediktus XVI mengaku ingin melihat buku 1.500 tahun lalu. Sebagian orang memprediksi Injil ini adalah Injil Barnabas, yang telah disembunyikan oleh Turki selama 12 tahun terakhir.

Menurut mailonline, injil yang ditulis tangan dengan tinta emas itu menggunakan bahasa Aramik. Inilah bahasa yang dipercayai digunakan Yesus sehari-hari. Dan di dalam injil ini dijelaskan ajaran asli Yesus serta prediksi kedatangan penerus kenabian setelah Yesus.

Injil kuno berusia 1.500 tahun ini bersampu kulit hewan, ditemukan polisi Turki selama operasi anti penyeludupan di tahun 2000 lalu. Alkitab kuno ini sekarang di simpan di Museum Etnografi di Ankara, Turki.

Sebuah fotokopi satu halaman dari naskah kuno tulisan tangan Injil ini dihargai 1,5 juta poundsterling. Menteri Budaya dan Pariwisata Turki, Ertugrul Gunay mengatakan, buku tersebut bisa menjadi versi asli dari Injil. Dan sempat tersingkir akibat penindasan keyakinan Gereja Kristen yang menganggap pandangan sesat kitab yang memprediksi kedatangan penerus Yesus.

Gunay juga mengatakan Vatikan telah membuat permintaan resmi untuk melihat kitab dari teks yang kontroversial menurut keyakinan Kristen ini. Kitab ini berada diluar pandangan iman Kristen sesuai Alkitab Injil lain seperti Markus, Matius, Lukas dan Yohanes.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/27/m01lyq-allah-akbar-injil-kuno-ini-kabarkan-kedatangan-rasulullah

Monday, February 27, 2012

Abd Al-Malik: Kisah Musisi Rapper Prancis yang Bersyahadat di Jalanan

Menjadi penjahat yang lihai mencuri mobil dan mengedarkan narkoba, Abd al-Malik bisa saja tak punya masa depan. Beruntung ia memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar, yang menghadiahinya nilai-nilai terbaik di sekolah dan membawanya pada sebuah pencarian spiritual.

Sebagai seorang rapper, di awal keislamannya, Abd al-Malik sempat kalut saat mendengar Islam tak sejalan dengan seni musik yang dipilihnya. Dalam otobiografinya yang berjudul Sufi Rapper (2009), Abd al-Malik mengatakan budaya rap Prancis lahir dalam konteks rasisme dan xenofobia (ketakutan berlebihan pada orang asing) yang meluas.

Ia hidup di sebuah ghetto (lingkungan tempat tinggal para kaum imigran minoritas) di Prancis. “Saat aku masih sekolah, aku sering melihat politisi berkata ‘Kita semua adalah Prancis,’ tapi aku tak pernah melihat seorang pria kulit hitam pun di televisi. Tak ada politisi Prancis yang berkulit hitam,” katanya.

Ia masih ingat betapa ia mengecam kurangnya kesempatan bagi anak-anak imigran, juga iklim kemiskinan dan kejahatan di tempat tinggalnya. Hal itu semakin diperparah diskriminasi yang terjadi dalam berbagai hal, juga pelecehan yang dilakukan para polisi. Karena itu, ketika mulai populer pada 1990-an, musik rap dikritisi sebagai seni yang mengagungkan kekerasan dan mempertinggi ketegangan rasial.

Sebelum memeluk Islam, ia bernama Regis. Dilahirkan di Paris pada 14 Maret 1975 dengan nama Régis Fayette-Mikano . Pada 1977, Regis kecil yang berdarah Kongo dibawa orang tuanya kembali ke negara asalnya dan tinggal di Brazzaville (ibukota sekaligus kota terbesar di Republik Kongo). Régis menghabiskan masa kecilnya di sana, sebelum akhirnya ia dan keluarganya kembali ke Prancis dan menetap di distrik ghetto bernama Neuhof (selatan Kota Strasbourg) pada 1981.

Saat Regis memasuki usia remaja, ayahnya pergi meninggalkan rumah. Sejak itu, ibunya harus berjuang seorang diri membesarkan dan mendidik Regis orang anaknya. Dan sejak itu pula, Regis mulai tumbuh menjadi penjahat kecil.

Di lingkungan barunya yang keras, tanpa sosok ayah, Regis belajar memenuhi keterbatasan dan kekurangan yang didapatinya di rumah. Dari kejahatan-kejahatan kecil yang dilakukannya, ia terus tumbuh menjadi penjahat yang berhasil membangun dominasi bersama beberapa temannya.

Ia menjambret dan mencuri mobil, demi untuk menghasilkan uang yang tidak bisa diperolehnya dari rumah. Dalam kondisi itu, Regis menjalani tiga peran kehidupan sekaligus. Ia adalah seorang seorang anak yang berjuang mempertahankan hidup keluarganya, siswa yang berprestasi di sekolah, serta penjahat jalanan yang lihai.

Regis pun memilih musik rap untuk menyalurkan frustasinya, juga bercerita dan menyampaikan kritik sosial atas semua yang dialaminya. Terinspirasi rap Amerika pada tahun 1980-an, Abd al-Malik bergabung dengan saudara dan sekelompok temannya dan menciptakan New African Poets, disingkat NAP.

Di tengah kekritisannya, Régis terpikat pada gerakan Black Power dan mengidolakan Malcolm X sebagai seorang pahlawan Muslim kulit hitam yang telah berani menentang ketidakadilan. Baginya dan sejumlah pemuda imigran di Prancis kala itu, Islam menawarkan sebuah identitas yang menantang.

Pengetahuan tentang Islam diperolehnya dari para dai Islam yang berceramah di jalan-jalan. Pada usianya yang ke-16, Regis memutuskan memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Abd al Malik. Selama beberapa tahun setelahnya, bersama para Muslim tersebut, ia berkeliling Prancis untuk menyeru pria-pria muda agar pergi ke masjid, menumbuhkan dan memanjangkan jenggot, serta berhenti meminum alkohol dan mengkonsumsi narkoba.

Beberapa lama terlibat, Abd al Malik melihat ajaran yang populer di ghetto-ghetto Prancis itu bukan sesuatu yang secara eksplisit keras. Namun, katanya dalam Sufi Rapper, ajaran tersebut secara fanatik mendorong para imigran muda untuk mencerca segala sesuatu yang sekular, modern, dan kebarat-baratan. “Dan itu justru memperdalam rasa keterasingan kami,” ujarnya.

Di situlah ia kembali menemukan gejolak dalam batinnya. Sebagai remaja, Abd al Malik merasakan ketulusan dan semangatnya pada Islam sama besarnya dengan hasratnya pada rap, sebuah seni yang harus ia cerca dan jauhi. “Karena rap adalah musik modern, dan ia kebarat-baratan.”

Abd al Malik terjebak dalam paradoks itu hingga beberapa tahun. “Itu menyakitkan,” katanya. Perasaan sakit itu semakin menjadi karena ia membiayai musiknya dengan melakukan kejahatan dan menjadi pengedar narkoba. “Perbuatan-perbuatan itu sangat tidak agamis.”

Hingga pada akhirnya, suatu hari, Abd al Malik pergi ke seorang pemimpin penjahat lokal dan meminta pinjaman. Setelah itu, sambil memegang sebuah kantong sampah penuh uang, Abd al Malik terduduk dan menangis seorang diri di apartemennya.

Kekacauan batin itu mendorongnya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang keimanannya. Dalam pencarian itu, ia memperoleh jawaban dari tasawuf, cabang sufisme Islam yang kontemplatif.

Ia menemui seorang guru spiritual dari Afrika Utara yang mengajarkannya bahwa inti agama adalah cinta dan kesadaran akan sifat rohani setiap manusia. "Maka, Islam adalah agama cinta. Islam adalah berdamai dengan dirimu dan orang lain," katanya.

Ia sampai pada satu kesimpulan, bahwa memposisikan Islam sebagai agama kelompok minoritas sama dengan menjadi minoritas dalam Islam itu sendiri. “Dan itu bukanlah Islam yang sesungguhnya.”

Pergeseran pola pikir itu memperluas pandangan Abd al Malik tentang musik rap dan perannya melalui seni tersebut. Ia mulai menulis lagu untuk album solonya, dengan mengusung pesan yang menyerukan pemahaman antar ras. Salah satu lagunya, "12 September 2001," adalah permohonan untuk memisahkan politik dan agama. Sebuah lagu lainnya, "God Bless France," menggambarkan evolusi pribadinya dari kebencian pada patriotisme.

Dalam otobiografinya, Abd al Malik menuliskan bahwa dalam musiknya, ia hanya berupaya menerjemahkan bahasa hati. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan rap keras dan mulai berkolaborasi dengan berbagai musisi untuk mengembangkan sebuah suara baru yang mencampurkan musik jaz, nyanyian, dan puisi kecaman yang estetis.

Ketika para rapper lain terus menciptakan 'musik amarah' dan--beberapa diantaranya--dituduh menghasut kekerasan, Abd al Malik tetap dengan pilihannya. Alih-alih mengkritik sistem Prancis, Abd al Malik mendorong negaranya untuk hidup sesuai dengan cita-cita demokrasi. Melalui musiknya yang telah meraih berbagai penghargaan, ia menunjukkan bahwa Muslim tak harus menjauhi hal-hal modern. “Terlebih jika kita bisa berbuat sesuatu dengan itu.”

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/02/27/m00x51-abd-almalik-kisah-musisi-rapper-prancis-yang-bersyahadat-di-jalanan

Berbuat Baik Kepada Arwah Orangtua

Berbuat baik kepada orang tua (Birrul Waalidain) menempati posisi yang istimewa dalam Islam. Perintah untuk berbuat baik kepada orangtua ditempatkan pada rangking kedua setelah perintah untuk beribadah kepada Allah SWT. "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu apa pun. Dan hendaklah kalian berbuat baik kepada ibu bapak." (QS. An-Nisa [4]: 36).

Sebaliknya, durhaka kepada orang tua (Uquuqul waalidain) adalah sebagai dosa besar yang menempati posisi kedua sesudah dosa syirik. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: "Dosa-dosa besar itu adalah: Mempersekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua, membunuh manusia dan sumpah palsu." (HR. Bukhari).

Demikian juga Allah SWT menempatkan perintah berterima kasih kepada ibu bapak setelah berterima kasih kepada Allah SWT. "Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu dan bapaknya; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang semakin lemah, dan menyusukannya selama dua tahun. Oleh sebab itu, bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu, hanya kepadakulah tempat kembali." (QS. Luqman [31];14).

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW menghubungkan antara keridhaan dan kemurkaan Allah SWT dengan keridhaan dan kemurkaan kedua orang tua. Beliau bersabda: "Keridhaan Allah ada pada keridhaan orang tua. Dan kemarahan Allah ada pada kemarahan orang tua." (HR. Tirmidzi).

Begitulah Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan kedudukan yang sangat istimewa terhadap orangtua sehingga berbuat baik kepada keduanya merupakan suatu kewajiban dan kemuliaan. Sedangkan durhaka kepada keduanya adalah sebuah kemaksiatan dan dosa besar yang sangat hina.

Berbuat baik kepada orang tua merupakan perintah yang tidak putus karena kewafatannya. Maknanya, meskipun orang tua sudah wafat, si anak atau ahli waris yang masih hidup masih diberikan kesempatan untuk berbuat baik kepada arwah orang tuanya, yaitu dengan cara mengurus jenazahnya dengan baik (memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkan); melunasi utang-utangnya; melaksanakan wasiatnya; meneruskan silaturahim yang dibinanya semasa hidup; memuliakan sahabat-sahabatnya dan mendoakannya.

Seorang laki-laki dari Bani Salimah datang dan bertanya kepada baginda SAW. "Ya Rasulullah, adakah sesuatu kebaikan yang masih dapat aku lakukan terhadap ibu bapakku yang keduanya sudah meninggal dunia? Rasulullah menjawab: "Ada, yaitu: Menshalatkan jenazahnya, memintakan ampun baginya, menunaikan janjinya, meneruskan silaturrahimnya dan memuliakan sahabatnya." (HR. Abu Daud). Wallahu al-Musta'an.

Oleh: Ustaz Imron Baehaqi Lc
(Penulis adalah: Pengurus PCIM Malaysia, Bidang Dakwah dan Tarjih dan sekarang sedang menyelesaikan Program Masternya di Bidang Usuluddin di Universiti Malaya (UM), Kuala Lumpur, Malaysia)
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/02/24/lzvdas-berbuat-baik-kepada-arwah-orangtua

Friday, February 24, 2012

Kisah Teladan tentang Birrul Walidain (Berbuat Baik kepada Kedua Orangtua)

Sahabat Abu Hurairah sempat gelisah karena ibunya masih dalam jeratan kekufuran.

Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia bercerita.

Aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam. Suatu hari aku mengajaknya untuk masuk Islam, tetapi dia malah mengeluarkan pernyataan yang tidak kusukai tentang Nabi. Aku pun menemui Rasulullah dalam keadaan menangis.

Aku mengadu, “Wahai Rasulullah, aku telah membujuk ibuku untuk masuk Islam, namun dia menolakku. Hari ini, dia berkomentar buruk tentang dirimu. Mohonlah kepada Allah supaya memberi hidayah pada ibuku.” Rasulullah bersabda : “Ya, Allah. Tunjukilah ibu Abu Hurairah.”

Aku keluar dengan hati riang karena do’a Nabi. Ketika aku pulang dan mendekati pintu, maka ternyata pintu terbuka. Ibuku mendengar langkah kakiku dan berkata : “Tetap di situ Abu Hurairah.”

Aku mendengar kucuran air. Ibu-ku sedang mandi dan kemudian mengenakan pakaiannya serta menutup wajahnya, dan kemudian membuka pintu. Dan ia berkata : “Wahai, Abu Hurairah! Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu.”

Aku kembali ke tempat Rasulullah dengan menangis gembira. Aku berkata, “Wahai, Rasulullah, Bergembiralah. Allah telah mengabulkan do’amu dan menunjuki ibuku.” Maka beliau memuji Allah dan menyanjungNya. [Hadits Riwayat Muslim]

Ibnu Umar pernah melihat lelaki menggendong ibunya dalam thawaf. Ia bertanya : “Apakah ini sudah melunasi jasanya (padaku) wahai Ibnu Umar?” Beliau menjawab : “Tidak, meski hanya satu jeritan kesakitan (saat persalinan)”.

Zainal Abidin, adalah seorang yang terkenal baktinya kepada ibu. Orang-orang keheranan kepadanya (dan berkata) : “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu. Mengapa kami tidak pernah melihatmu makan berdua dengannya dalam satu talam?”

Ia menjawab, ”Aku khawatir tanganku mengambil sesuatu yang dilirik matanya, sehingga aku durhaka kepadanya.”

Sebelumnya, kisah yang lebih mengharukan terjadi pada diri Uwais Al-Qarni, orang yang sudah beriman pada masa Nabi, sudah berangan-angan untuk berhijrah ke Madinah untuk bertemu dengan Nabi. Namun perhatiannya kepada ibunya telah menunda tekadnya berhijrah. Ia ingin bisa meraih surga dan berteman dengan Nabi dengan baktinya kepada ibu, kendatipun harus kehilangan kemuliaan menjadi sahabat Beliau di dunia.

Dalam shahih Muslim, dari Usair bin Jabir, ia berkata : Bila rombongan dari Yaman datang, Umar bin Khaththab bertanya kepada mereka : “Apakah Uwais bin Amir bersama kalian ?” sampai akhirnya menemui Uwais. Umar bertanya, “Engkau Uwais bin Amir?” Ia menjawab, ”Benar.” Umar bertanya, “Engkau dari Murad kemudian beralih ke Qarn?” Ia menjawab, “Benar.” Umar bertanya, “Engkau punya ibu?” Ia menjawab, “Benar.” Umar (pun) mulai bercerita, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Akan datang pada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan penduduk Yaman yang berasal dari Murad dan kemudian dari Qarn. Ia pernah tertimpa lepra dan sembuh total, kecuali kulit yang sebesar logam dirham. Ia mempunyai ibu yang sangat dihormatinya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya aku hormati sumpahnya. Mintalah ia beristighfar untukmu jika bertemu.”

Umar pun akhirnya berkata, “Tolong mintakan ampun (kepada Allah) untukku.” Maka ia memohonkan ampunan untukku. Umar bertanya, “Kemana engkau akan pergi?” Ia menjawab, “Kufah.” Umar berkata, “Maukah engkau jika aku menulis (rekomendasi) untukmu ke gubernurnya (Kufah)?” Ia menjawab, “Aku lebih suka bersama orang yang tidak dikenal.”

Kisah lainnya tentang bakti kepada ibu, yaitu Abdullah bin Aun pernah memanggil ibunya dengan suara keras, maka ia memerdekakan dua budak sebagai tanda penyesalannya.

[Diadaptasi dari Idatush Shabirin, oleh Abdullah bin Ibrahim Al-Qa’rawi dan Ilzam Rijlaha Fatsamma Al-Jannah, oleh Shalihj bin Rasyid Al-Huwaimil]
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VIII/1425/2005M. Penerbiit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183]
sumber : almanhaj.or.id

Mati Syahid di Atas Salib

Suatu saat, Rasulullah Saw. ingin mengetahui gerak-gerik kaum kafir Quraisy maka beliau mengirim sepuluh pejuangnya untuk melakukan misi tersebut. Di antara sepuluh pejuang yang diutus oleh Rasulullah Saw tersebut adalah Khubaib bin Ady dan Zaid bin Ditstsinah. Mereka dipimpin oleh Ashim bin Tsabit.

Ketika mereka tiba di suatu tempat yang berada di antara Asfan dan Mekah, suku Hayyan dari kabilah Hudzail sempat melihat mereka, lalu suku Hayyan itu mengintai para pejuang utusan dan berhasil membunuh delapan orang di antara mereka sedang sisanya Khubaib bin Ady dan Zaid bin Ditstsinah berhasil mereka tangkap. Setelah itu, keduanya dijual oleh suku Hayyan kepada kaum kafir Quraisy, lalu mereka menyiksa Zaid hingga tewas sedangkan Khubaib masih dibiarkan hidup dengan 2 pilihan, mati di tiang salib atau kembali pada agamanya semula (kafir).

Pada saat hendak dihukum salib, Khubaib meminta izin kepada mereka untuk melaksanakan sholat tetapi mereka tidak mengizinkannya dengan harapan agar Khubaib mau kembali kepada kekafirannya. Tetapi akhirnya Khubaib tetap melakukan sholat meski tidak diijinkan olah kaum kafir Quraisy. Khubaib berkata, ”Demi Allah, seandainya kalian tidak mengancam untuk membunuhku maka niscaya aku akan tambah lagi sholatku.” Kemudian ia pun mendoakan mereka, ”Ya Allah, hitunglah jumlah mereka dan bunuhlah mereka semuanya!” Karena didoakan seperti itu maka kaum kafir Quraisy pun segera menyalibnya, dan Khubaib sempat melantunkan sebuah syair sebelm kematiannya menjemput,

"Aku tidak peduli bila harus dibunuh
karena aku seorang muslim
Karena setelah itu,
tempat tinggalku berada di sisi Allah
Sedang hidup seperti itu sungguh indah
Dan Mungkin juga nanti akan bertemu
dengan para kekasih tercinta."


Setelah itu kaum kafir quraisy menimpali ucapan Khubaib tersebut, ”Apakah kamu ingin Muhammad menggantikan tempatmu? Sedangkan kamu sendiri akan sehat dan senang berada di tengah keluargamu?”

Khubaib menjawab, “Demi Allah, aku sama sekali tidak ingin berada di tengah keluargaku sambil menikmati indahnya dunia sedangkan Rasulullah Saw sedang tersakiti walau tertusuk duri sekalipun.”

Abu Sufyan yang sempat mendengar jawaban yang terlontar itu lalu memberikan komentar, “Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorangpun yang mencintai orang lain seperti cintanya sahabat Muhammad kepadamya.”

Selesai bercakap-cakap, anak-anak panah kaum kafir Quraisy segera berhamburan melesat ke tubuh Khubaib dan tombak Abu Maisarah dari bani Abdud Daar yang mengakhiri nyawa Khubaib, maka ia pun pergi menuju Tuhannya sebagai pahlawan syahid dengan gagah berani.

Dipetik dari Buku “100 Kisah Teladan Tokoh Besar” karya Muhammad Sa’id Mursi & Qasim Abdullah Ibrahim

Thursday, February 23, 2012

Ekor yang Terputus

Alkisah, suatu hari di tepian parit sebuah desa, tampak seekor cicak kecil berusaha berlari menghidari sergapan ular yang sedang kelaparan. Rimbunnya rumput di sekitar situ membantu cicak menyelamatkan diri, tetapi usaha si cicak tidak bertahan lama...
Hup, ekor cicak pun tertangkap sang ular. Dengan kekuatan seadanya, cicak berupaya dan terus berjuang untuk meloloskan diri dari ular itu. Demi menyelamatkan nyawanya, cicak menggunakan upaya terakhir dengan memutuskan ekornya dan segera melarikan diri dengan berlari sekuat tenaganya.

Kebetulan kejadian itu dilihat oleh seorang petani. Karena merasa kasihan, berkatalah si petani kepada si cicak. "Hai cicak kecil, sungguh beruntung kamu bisa menyelamatkan diri dari santapan si ular. Namun sayang sekali ekormu harus terputus. Apakah kamu merasa sangat kesakitan?"

Dengan mata kecilnya, si cicak kecil menatap ke mata simpati si petani sambil menganggukkan kepalanya. Terlihat samar matanya berkaca-kaca.

Si petani tersentuh hatinya dan menawarkan bantuannya kepada cicak itu. "Kemarilah cicak, aku akan membantu membalut lukamu. Aku punya obat luka yang mujarab untuk menyembuhkan lukamu." Si petani lalu mengeluarkan sebungkus obat.

"Terima kasih, Pak Petani. Kami kaum cicak, biarpun kecil dan lemah tetapi telah dibekali oleh Yang Maha Kuasa kemampuan menyelamatkan diri dari bahaya dengan memutuskan ekor di saat yang genting. Walaupun kami merasakan kesakitan saat melakukan itu, tetapi secara alami, alam akan membantu menyembuhkan dan menumbuhkan ekor seperti semula.

Kebaikan hari Pak Tani membalut lukaku, justru akan menghambat pertumbuhan ekor baruku. Terima kasih atas kebaikan hatimu. Aku sendiri sangat bersyukur atas rasa sakit ini. Itu menyadarkan kepadaku bahwa aku harus lebih menghargai kehidupan ini dengan berjuang dan mensyukuri setiap hari yang masih tersisa untukku. Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa pak Tani," si cicak merangkak menjauh sambil memikul rasa sakit yang sangat. Jauh di dalam hatinya, cicak tahu, semua penderitaan ini hanyalah sebuah proses pendewasaan yang harus dilalui.

Netter yang Bijaksana,

Kalau menghadapi kesulitan, cobaan, kita hanya bisa merengek, mengeluh minta dikasihani maka nasib tidak akan berubah menjadi lebih baik. Justru harus belajar keras pada diri sendiri untuk tetap tegak, tegar dalam menghadapi setiap masalah yang muncul di hadapan kita.

Penderitaan hidup dan rasa sakit tidak akan membuat kehidupan kita berakhir dengan sia-sia, selama kita sadar bahwa di setiap penderitaan dan rasa sakit selalu ada hikmah yang bisa diambil. Yakni sebuah proses untuk menguatkan dan mendewasakan kita, agar kita tumbuh sebagai pribadi yang lebih dewasa dan siap berjuang demi menciptakan kehidupan sukses yang lebih baik dan lebih luar biasa!

Penulis : Andrie Wongso
http://m.andriewongso.com/artikel/aw_artikel/4941/Ekor_Yang_Terputus/

Monday, February 20, 2012

Dialog Rasulullah dengan Abu Dzar

Diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Husain dari Abu Idris Al-Khaulani bahwa Abu Dzar r.a. bercerita: “Pada suatu hari aku masuk ke dalam masjid dan menemui Rasulullah saw. sedang duduk seorang diri; maka aku mendekatinya dan duduk di sampingnya, kemudian terjadilah dialog (soal jawab di antara beliau dan aku).

1. Aku (Abu Dzarr) bertanya, “Ya Rasulullah, engkau memerintahkan aku bersolat?”
Beliau (Rasulullah) menjawab: “Sholat adalah sebaik-baik perbuatan, maka perbanyaklah.”

2. Aku tanya, “Amal apakah yang paling afdhal?”
Beliau jawab: ”Beriman kepada Allah dan berjihad fi sabiilih (pada jalanNYA).”

3. Aku tanya, ”Mukmin yang bagaimanakah yang paling afdhal?”
Beliau jawab: “Mukmin yang terbaik akhlaknya.”

4. Tanya, “Muslim yang bagaimanakah yang paling selamat?”
Jawab: “Muslim yang menyelamatkan orang lain dari gangguan lidahnya dan tangannya.”

5. Tanya, “Hijrah yang bagaimanakah yang afdhal, ya Rasulullah?”
Jawab: “Ialah hijrah dari (meninggalkan) perbuatan maksiat.”

6. Tanya, ”Solat yang bagaimanakah yang afdhal, ya Rasulullah?”
Jawab: "Sholat yang panjang khusyuknya (lama berdiri).”

7. Tanya, ”Hamba-hamba sahaya manakah yang paling afdhal untuk dimerdekakan?”
Jawab: ”Hamba yang paling mahal harganya dan yang paling disayang oleh pemiliknya.”

8. Tanya, ”Sedekah yang bagaimanakah yang paling afdhal, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Pemberian dari orang yang masih kekurangan (tidak kaya) dan pemberian secara rahasia kepada fakir miskin.”

9. Tanya, ”Ayat apakah di antara ayat-ayat yang diturunkan kepadamu yang paling besar?”
Jawab: ”Ayat Kursi, dan tujuh langit itu jika dibandingkan dengan Kursi seperti halnya sebuah cincin (atau lingkaran besi) yang berada di tengah-tengah padang pasir, dan perbandingan Arasy terhadap Kursi adalah perbandingan padang pasir itu terhadap cincin tadi.”

10. Tanya, ”Berapakah bilangan Nabi-Nabi, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Seratus dua puluh empat ribu.” (124,000)

11. Tanya, ”Berapakah yang menjadi Rasul di antara mereka, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Sebanyak tiga ratus tiga belas.” (313)

12. Tanya, ”Siapakah yang pertama, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Adam.”

13. Tanya, ”Apakah dia seorang Nabi yang diutus ?”
Jawab: ”Benar, dia diciptakan oleh Allah dengan tanganNYA, ditiupkan ruh ke dalam tubuhnya yang disempurnakan.”
Dan selanjutnya Rasulullah bersabda:
“Hai Abu Dzarr, empat dari mereka adalah dari golongan Siryaniun, iaitu Adam, Syith, Nuh, dan Idris, iaitu Nabi pertama yang dapat menulis dengan pensil. Dan empat Nabi dari keturunan Arab, iaitu Hud, Syuaib, Saleh, dan Nabimu, hai Abu Dzarr.”

14. Abu Dzarr bertanya, ”Berapa kitab telah diturunkan Allah, ya Rasulullah?”
Ar-Rasul saw. menjawab: ”Seratus empat kitab (104). Kepada Syith telah diturunkan lima puluh halaman, Idris tiga puluh halaman, Ibrahim sepuluh halaman, Musa sebelum Taurat ada sepuluh halaman, di samping kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.”

15. Tanya, ”Ya Rasulullah, apakah isi lembaran yang diturunkan kepada Ibrahim?”
Jawab: ”Isinya ialah: Hai Raja yg berkuasa, dipuji dan sombong, sesungguhnya AKU tidak mengutusmu untuk mengumpulkan dunia, melonggokkan sebagian di atas sebagian, akan tetapi AKU mengutusmu untuk menerima doa orang yang teraniaya agar tidak sampai kepada-KU, kerana AKU tidak akan mengembalikannya walaupun ia datang dari seorang yang kafir. Seorang yang bijaksana akan membagi masanya menjadi beberapa waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya, beberapa waktu untuk bertanya pada dirinya sendiri (muhasabah), beberapa waktu untuk merenungkan ciptaan Allah, dan beberapa waktu lagi utk mengurus keperluan makan dan minumnya. Seorang yang bijaksana tidak akan menyibukkan diri melainkan untuk tiga tujuan: mencari bekal untuk hari kemudian (Akhirat), mencari nafkah hidup, dan mencari kelezatan yang halal. Seorang yang bijaksana hendaklah mengenal zamannya, tekun mengurus urusannya, dan menjaga lidahnya. Barangsiapa yang menyesuaikan bicaranya dengan perbuatan, maka akan jarang berbicara melainkan dalam hal-hal yang mengenai dirinya.”

16. Tanya, ”Apakah isi lembaran-lembaran yang diturunkan ke atas Musa, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Isinya adalah semua peringatan dan ibarah; aku heran dengan orang yang yakin akan mati tetapi ia masih bisa bersuka-ria, aku heran dengan orang yang yakin dengan adanya takdir tetapi ia masih terus-terusn membanting tulang bekerja, aku heran dengan orang yang melihat keadaan dunia yg selalu berubah tetapi ia masih bisa tenang mempercayainya dan aku heran dengan orang yang yakin adanya hari hisab besok tetapi ia masih enggan beramal.”

17. Tanya, ”Ya Rasulullah, apakah ada yang sampai kepada kita sesuatu yg dulu ada di tangan Ibrahim dan Musa, dan apakah yang diturunkan Allah kepadamu?”
Jawab: ”Ada, cobalah baca hai Abu Dzarr, ‘Sesungguhnya beruntunglah orang yg membersihkan diri (dengan beriman) dan ia ingat akan nama Tuhannya, lalu ia bersembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.’ Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu (iaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”

18. Abu Dzarr bertanya, ”Apakah wasiatmu kepadaku, ya Rasulullah?”
Ar-Rasul saw menjawab: ”Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah, karena itu (taqwa) adalah pokok segala urusanmu.”

19. Abu Dzarr bertanya lagi, ”Apa lagi ya Rasulullah?”
Rasulullah saw. menjawab: “Bacalah Al-Qur’an dan berzikirlah (ingatlah) kepada Allah, kerana itu akan menjadi zikir buatmu di langit dan cahaya bagimu di dunia.”

20. Tanya, “Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab: “Hindarilah banyak ketawa, kerana itu mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.”

21. Tanya, “Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab: “Laksanakanlah kewajiban berjihad, karena itu merupakan kerahiban perjuangan bagi umatku.”

22. Tanya, ”Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Hendaklah engkau selalu diam (tidak bercakap) melainkan untuk kebaikan, kerana itu dapat mengusir syaitan dan dapat menolongmu dalam urusan agamamu.”

23. Tanya, ”Apa lagi, ya Rasulullah?”
Jawab: ”Lihatlah hanya kepada orang yang kondisinya di bawahmu dan janganlah melihat orang yang kondisinya berada di atasmu, agar engkau tidak memandang rendah akan nikmat yang Allah berikan kepadamu.”

24. Abu Dzarr bertanya, ”Apa lagi, ya Rasulullah?
Jawab: “Cintailah orang-orang fakir miskin dan duduklah bersama-sama mereka, agar engkau tidak memandang rendah dan kecil nikmat Allah kepadamu.”

25. Bertanya Abu Dzarr, “Apa lagi, ya Rasulullah?”
Rasulullah saw. menjawab: “Hubungilah kerabatmu, walaupun mereka memutuskan hubungannya dengan engkau.”

26. Tanya Abu Dzarr, “Apa lagi ya Rasulullah?”
Jawab Rasululllah: “Katakanlah apa yang haq (yang benar) walaupun itu merupakan hal yang pahit.”

27. Tanya, “Apa lagi ya Rasulullah?”
Jawab: ”Janganlah engkau takut dicerca orang karena membela agama Allah.”

28. Tanya, ”Apa lagi ya Rasulullah?”
Jawab: ”Apa yang engkau ketahui tentang dirimu akan mencegahmu mencampuri urusan orang lain dan janganlah engkau sesalkan bahwa orang tidak melakukan apa yang engkau sukai. Dan cukup sebagai aib bahwa engkau mengetahui tentang orang lain apa yang engkau tidak mengetahui tentang dirimu sendiri.”
Kemudian Rasulullah saw. memukul dadaku dengan tangannya seraya bersabda: “Tiada aqal seperti kebijaksanaan, tiada wara’ seperti memahami diri dan tiada kebanggaan seperti akhlak yang baik.”

Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda ini bermanfaat.

Sumber:
Terjemahan Ibnu Katsir, Jilid 2
http://virouz007.wordpress.com/2010/06/08/784/

Kisah Seorang Pelari Yang Mengharukan

Namanya adalah Derek Redmond, pelari pemegang rekor 400 m dari Inggris. Kisahnya terjadi pada olimpiade musim panas di Barcelona tahun 1992. Derek Redmond mulai berlari, namun larinya terhenti pada 150 meter. Derek jatuh karena cedera hamstring. Ia meringis kesakitan dan akhirnya terkapar di arena lari.

Namun Ia berupaya bangkit, kemudian berlari sambil terpincang-pincang menahan rasa sakitnya. Beberapa official mendekatinya dan menyuruhnya berhenti, namun ia tidak menggubrisnya. Ia terus berlari.

Tiba-tiba dari kerumunan penonton, seseorang berlari mendekatinya. Setelah berhasil menerobos penjagaan pihak keamanan stadion, Ia merangkul Derek. Ia mengatakan, “Nak, sebaiknya kamu berhenti. Tidak mungkin kamu bisa menang..” Derek menjawab, “Tidak. Aku harus berlari sampai finish.”

Orang itu berkata lagi, “Baiklah. Mari kita berlari bersama. Ulurkan tanganmu ke pundakku…”

Demikianlah, mereka berdua berlari sepanjang lintasan hingga sampai garis finish. Kegigihan Derek memukau penonton saat itu. Sejumlah 65.000 penonton melakukan standing ovation pada saat ia memasuki garis finish.

Derek kalah dari lomba, namun ia memenangkan hati penonton. Dia mengalahkan rasa akitnya, dan memenangkan lomba untuk dirinya sendiri. Dan pria yang mendukung sepenuhnya aksi Derek itu adalah ayahandanya, Jim Redmond.[muftiaziz.javabeanku.com]

http://www.hefamily.org/6293/kisah-seorang-pelari-yang-mengharukan

Thursday, February 16, 2012

Ayah... Engkau Lebih Berharga dari Uang Itu...

Salah satu da’i berkata, “Ada seorang laki-laki memiliki hutang, dan pada suatu hari datanglah kepadanya pemilik piutang, yang kemudian mengetuk pintunya. Selanjutnya salah seorang putranya membukakan pintu untuknya. Dengan tiba-tiba, orang itu mendorong masuk tanpa salam dan penghormatan, lalu memegang kerah baju pemilik rumah seraya berkata kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah, bayar hutang-hutangmu, sungguh aku telah bersabar lebih dari seharusnya. Kesabaranku sekarang telah habis. Sekarang kamu lihat apa yang kulakukan terhadapmu, hai laki-laki?!"

Pada saat itulah sang anak ikut campur, sementara air mata mengalir dari kedua matanya saat dia melihat ayahandanya ada pada kondisi terhina seperti itu.

Dia berkata, ”Berapa hutang yang harus di bayar ayahku?"

Dia menjawab, ”Tujuh puluh ribu real.”

Berkata sang anak, ”Lepaskan ayahku.. Tenanglah, bergembiralah, dan semua akan beres.”

Lalu masuklah sang anak ke kamarnya, di mana dia telah mengumpulkan sejumlah uang yang bernilai 27 ribu Real dari gajinya untuk hari pernikahan yang tengah ditunggunya. Akan tetapi dia lebih mementingkan ayahanda dan hutangnya daripada membiarkan uang itu di lemari pakaiannya. Sang anak masuk ke ruangan lantas berkata kepada pemilik piutang, “Ini pembayaran dari hutang ayahku, nilainya 27 ribu Real. Nanti akan datang rizki, dan akan kami lunasi sisanya segera dalam waktu dekat. Insya Allah.”

Di saat itulah, sang ayah menangis dan meminta kepada lelaki itu untuk mengembalikan uang itu kepada putranya, karena ia membutuhkannya, dan dia tidak punya dosa dalam hal ini. Sang anak memaksa agar lelaki itu mengambil uangnya. Lalu melepas kepergian lelaki itu di pintu sambil meminta darinya agar tidak menagih ayahnya, dan hendaknya dia meminta sisa hutang itu kepadanya secara pribadi.

Kemudian sang anak mendatangi ayahnya, mencium keningnya seraya berkata, “Ayah, kedudukan ayah lebih besar dari uang itu. Segala sesuatu akan diganti jika Allah azza wa jalla memanjangkan usia kita, dan menganugerahi kita dengan kesehatan dan ‘afiyah. Saya tidak tahan melihat kejadian tadi. Seandainya saya memiliki segala tanggungan yang wajib ayah bayar, pastilah saya akan membayarkan kepadanya, dan saya tidak mau melihat ada air mata yang jatuh dari kedua mata ayah di atas jenggot ayah yang suci ini.”

Lantas sang ayah pun memeluk putranya, sembari sesenggukan karena tangisan haru, menciumnya seraya berkata, “Mudah-mudahan Allah meridhai dan memberikan taufiq kepadamu wahai anakku, serta merealisasikan segala cita-citamu.”

Pada hari berikutnya, saat sang anak sedang asyik melaksanakan tugas pekerjaannya, salah seorang sahabatnya yang sudah lama tidak dilihatnya, datang menziarahinya. Setelah mengucapkan salam dan bertanya tentang keadaannya, sahabat tadi bertanya,

“Akhi (saudaraku), kemarin salah seorang manajer perusahaan memintaku untuk mencarikan seorang laki-laki muslim, terpercaya lagi memiliki akhlak mulia yang juga memiliki kemampuan menjalankan usaha. Aku tidak menemukan seorang pun yang kukenal dengan kriteria-kriteria itu kecuali kamu. Maka apa pendapatmu jika kita pergi bersama untuk menemuinya sore ini?”

Maka berbinar-binarlah wajah sang anak dengan kebahagiaan, seraya berkata, "Mudah-mudahan ini adalah do’a ayah, Allah azza wa jalla telah mengabulkannya.”

Maka dia pun banyak memuji Allah azza wa jalla. Pada waktu pertemuan di sore harinya, tidaklah manajer tersebut melihat kecuali dia merasa tenang dan sangat percaya kepadanya, dan berkata, “Inilah laki-laki yang tengah kucari.”

Lalu dia bertanya kepada sang anak, “Berapa gajimu sekarang?”

Dia menjawab, “Mendekati 5 ribu Real.”

Dia berkata, “Pergi besok pagi, sampaikan surat pengunduran dirimu. Gajimu 15 ribu Real, bonus 10% dari laba, dua kali gaji sebagai tempat dan mobil, dan enam bulan gaji akan di bayarkan untuk memperbaiki keadaanmu.”

Tidaklah pemuda itu mendengarnya hingga dia menangis sambil berkata, “Bergembiralah, wahai ayahku.”

Manajer pun bertanya kepadanya tentang sebab tangisannya. Maka pemuda itu pun menceritakan apa yang telah terjadi dua hari sebelumnya. Maka manajer itu pun memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang ayahnya. Adapun hasil dari labanya pada tahun pertama tidak kurang dari setengah milyar Real.

Berbakti kepada kedua orang tua adalah bagian dari ketaatan terbesar, dan bentuk taqarrub kepada Allah azza wa jalla yang teragung. Dengan berbakti kepada keduanya rahmat-rahmat akan diturunkan, segala kesukaran akan disingkapkan. Dan Allah azza wa jalla telah mengaitkan antara berbakti kepada kedua orang tua dengan tauhid, Allah azza wa jalla berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS. Al Israa’. 23]

Di dalam shahihahin, dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Amal mana yang paling dicintai oleh Allah?” Maka beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Kukatakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Kukatakan, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian jihad di jalan Allah.” [HR.al Bukhari & Muslim]

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan datang atas kalian Uwais bin ‘Amir bersama dengan penduduk Yaman dari Murad kemudian dari Qorn. Dulu dia kena penyakit sopak, kemudian sembuh darinya kecuali selebar koin uang dirham. Dia punya seorang ibu yang dulu dia berbakti kepadanya. Seandainya dia bersumpah atas nama Allah, pastilah akan dipenuhiNya. Maka jika kamu sempat membuat dia beristighfar untukmu, maka lakukanlah.” [HR. Muslim]

Ini pula Hiwah bin Syuraih, dia adalah salah seorang Imam kaum muslimin dan ulama yang terkenal. Dia duduk pada halaqohnya mengajar manusia. Berbagai thalib (penuntut ilmu) datang kepadanya dari segenap tempat untuk mendengar darinya. Maka suatu ketika ibunya berkata kepadanya, saat dia berada di tengah-tengah muridnya, “Berdirilah wahai Hiwah, beri makan ayam.” Maka dia pun berdiri dan meninggalkan kajian.

Ketahuilah wahai saudaraku yang tercinta, bahwasanya termasuk pintu-pintu sorga adalah Babul Walid (Pintu berbakti kepada orang tua). Maka janganlah kehilangan pintu tersebut, bersungguh-sungguhlah dalam menaati kedua orang tuamu. Demi Allah, baktimu terhadap keduanya termasuk diantara sebab-sebab kebahagiaanmu di dunia akhirat.

Aku memohon kepada Allah azza wa jalla agar memberikan taufik kepadaku dan seluruh kaum muslimin untuk berbakti kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya. Wallahu a`lam

Oleh: Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi Hafizhahullah
http://enkripsi.wordpress.com/2010/05/11/ayah-engkau-lebih-berharga-dari-uang-itu/

Wednesday, February 15, 2012

Rasul Pun Menangis

Tangisan bagi seorang Muslim adalah rasa harap dan cemas sebagaimana diekspresikannya ketika dia berdoa dan berzikir memohon perlindungan Allah SWT. Kita saksikan tetesan air mata orang-orang saleh pada waktu shalat. Kita saksikan air mata yang membasahi muka para jamaah haji di Padang Arafah. Dan, memang menangis adalah bagian dari akhlak yang baik. Dalam Alquran Allah berfirman, “Dan mereka tundukkan dagu dan mukanya seraya menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (QS [17]: 109, [19]: 58).

Ubaid bin Umar dan ‘Atha’ bertanya kepada Siti Aisyah radhiyallahu anha (RA). ”Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkanmu yang engkau lihat dari Rasulullah SAW.” Kemudian, sambil terisak Siti Aisyah menjawab, “Kana kullu amrihi ‘ajaba, Sungguh semua ikhwal Rasululullah SAW sangat menakjubkan.” Siti Aisyah melanjutkan, “Pada suatu malam beliau datang kepadaku sehingga kulit kami saling bersentuhan. Beliau berbisik, “Ya Khumaira (panggilan Rasulullah kepada Aisyah, wahai yang bewarna kemerah-merahan), izinkanlah aku beribadah kepada Tuhanku.”

Maka, beliau meninggalkanku dan mengambil gharibah air untuk berwudhu. Tidak lama setelah beliau takbir, aku dengar beliau terisak-isak. Dadanya bagaikan terguncang. Rasulullah terus-menerus menangis, sehingga air matanya membasahi janggut dan bertetesan ke tanah. Rasulullah larut dalam tangisan sampai dikumandangkan azan Subuh. Dan, Bilal memberi tahu waktu shalat Subuh telah masuk. Bilal menyaksikan keadaan Nabi yang masih terisak dan dia berkata, “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis? Padahal, dosa-dosamu telah diampuni Allah. Engkau adalah kekasih Allah yang paling utama?” kata Bilal. Maka, Rasul menjawab, “Sungguh besar kasih sayang-Nya, tetapi betapa aku belum menjadi hamba yang bersyukur.”

Abdullah bin as-Syikhir berkata, “Saya datang kepada Rasulullah SAW, sedangkan beliau sedang shalat maka terdengarlah isak tangis beliau yang bergemuruh di dalam dadanya, bagaikan suara air mendidih dalam bejana.” (Diriwayatkan oleh Dawud dan Turmudzi).

Dari hadis ini dapat kita ambil hikmah, betapa Nabiyullah Muhammad SAW masih menangis dan merasakan belum menjadi hamba yang bersyukur. Padahal, beliau adalah hamba yang ma’shum, yakni bersih dari dosa. Selain itu, Allah SWT juga memuliakannya melebihi siapa pun makhluk ciptaan-Nya. Rasulullah adalah al-Musthafa (manusia pilihan) yang pertama kali memasuki surga sebelum yang lain memasukinya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita telah dijamin masuk surga? Apakah keislaman kita diterima oleh Allah SWT? Adakah kita masih tetap tertawa dan tidak menangis menghadapi akhirat yang setia menunggu untuk kita datangi?Ataukah, kita tetap tertawa menikmati dunia yang tidak pernah setia menemani ketika kita pergi? Apakah kita masih tetap tertawa dan lalai pada perjalanan akhir, sedangkan dunia itu bakal lenyap dan tenggelam ditelan waktu.

Kenikmatan di dunia ini hanya sesaat dan pasti akan sirna. Mengapa air mata kita enggan menetes? Apakah hati kita telah beku sehingga mata enggan mengeluarkan air mata ketika menyaksikan orang-orang kecil sedang kelaparan? Ke manakah nurani kita? Apakah kita sudah bersyukur dengan yang telah kita raih atau sebaliknya kita makin kufur?

Oleh: Ustaz Toto Tasmara
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/02/13/lzbz51-rasul-pun-menangis

Tuesday, February 14, 2012

Valentine’s Day; Ritual Cinta Yang Membodohi Remaja

dakwatuna.com – Tanggal 14 Februari telah menjadi hari special yang ditunggu-tunggu oleh para remaja di dunia, tak terkecuali remaja di Indonesia. Mereka terlanjur meyakini hari ini sebagai hari kasih sayang yang harus diisi dengan perayaan istimewa. Mulai dari saling tukar kado, menyatakan cinta, ciuman, sampai seks bebas merupakan aktivitas yang turut mewarnai valentine’s day.

Sejarah Valentine’s Day

Valentine’s Day yang kini dimaknai sebagai hari kasih sayang, tidak muncul dan diperingati begitu saja. Terdapat beberapa versi tentang asal-usul lahirnya Valentine’s Day. Versi pertama, menurut catatan The World Book Encyclopedia (1998) disebutkan bahwa sejarah Valentine’s Day bermula dari sebuah kepercayaan di Eropa. Kepercayaan kuno ini menyebutkan bahwa cinta burung jantan dan betina mulai bersemi pada tanggal 14 Februari. Burung-burung memilih pasangannya pada hari itu. Berdasarkan kepercayaan kuno di kalangan masyarakat Eropa kala itu, lalu kemudian mereka menganjurkan agar pemuda-pemudi memilih pasangannya di hari yang sama seperti berseminya cinta burung jantan dan betina. Apalagi dalam bahasa Perancis Normandia terdapat kata Gelantine yang berarti cinta. Persamaan bunyi antara Gelantine dan Valentine inilah yang dijadikan dasar penetapan hari kasih sayang.

Versi kedua, menghubungkan Valentine’s Day ini dengan seorang pendeta. Menurut beberapa ahli sejarah bahwa Valentine’s Day diadopsi dari nama seorang pendeta bernama Saint Valentine. Dia ditangkap oleh kaisar Claudius II karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih. Dia juga menolak menyembah Tuhan-Tuhan orang Romawi. Kaisar lalu memerintahkan agar dia di penjara dan pada akhirnya dijatuhi hukuman gantung. Orang-orang yang bersimpati kepadanya, lalu menulis surat tentang kecintaan mereka kepada doa sang pendeta. Surat itu kemudian dipajang dan diikatkan di terali bekas penjaranya.

Sementara versi ketiga mengacu pada sebuah pesta yang dilakukan orang-orang Romawi kuno yang disebut Lupercalia. Inilah versi terkuat yang diyakini kebenarannya hingga saat ini. Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian pensucian di masa Romawi kuno. Upacara yang khusus dipersembahkan untuk mengenang dan mengagungkan dewi cinta (Queen of Feverish Love) yang bernama Juno Februata. Dalam pesta tersebut, para pemuda mengambil nama gadis di sebuah kotak secara acak. Nama gadis yang diambilnya tadi kemudian menjadi pendampingnya selama setahun untuk bersenang-senang.

Bergesernya Makna Valentine’s Day

Seiring berjalannya waktu, tahun 496 M Paus Gelasius I mengubah upacara ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day. Upacara untuk menghormati Saint Valentine yang mati digantung oleh kaisar Claudius. Dia digantung karena melanggar aturan kaisar yang melarang para pemuda untuk menikah. Kaisar Claudius berpendapat bahwa tentara yang masih muda dan berstatus bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan. Lelaki yang belum beristri lebih sabar bertahan dalam perang dibandingkan tentara yang sudah menikah. Oleh Karena itu, kaisar memerintahkan untuk melarang kaum laki-laki untuk menikah. Namun, Saint Valentine menentang kebijakan itu. Dia berpendapat bahwa pemuda-pemudi tetap harus mendapat ruang yang luas untuk melampiaskan hasrat cintanya. Dia lalu secara diam-diam menikahkan banyak pemuda.

Sejak orang-orang Romawi kuno mengenal agama Nasrani, maka pesta jamuan kasih sayang ini (pesta Lupercalia) lalu dikaitkan dengan upacara kematian Saint Valentine. Setelah Paus Gelasius menetapkan tanggal 14 Februari sebagai tanggal penghormatan buat Saint Valentine, maka akhirnya perayaan ini berlangsung secara terus menerus setiap tahunnya hingga sekarang. Hari ini dijadikan sebagai momen untuk saling tukar menukar pesan kasih dan menempatkan Saint Valentine sebagai simbol dari para penabur kasih. Hari Valentine ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga, coklat, dan gua-gula. Hari Valentine juga diisi dengan acara kumpul-kumpul, pesta dansa, minum-minuman alkohol hingga pesta seks. Singkatnya perayaan kasih sayang ini dipersembahkan untuk mengagungkan Saint Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, kepasrahan, dan keberanian dalam memperjuangkan cinta.

Sikap Seorang Remaja

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kaum remaja khususnya pemuda-pemudi Islam? Haruskah mereka ikut hanyut dalam perayaan itu? Tentu jawabannya tidak. Karena Valentine’s Day bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Valentine’s Day bersumber dari paganisme orang musyrik penyembah berhala. Valentine’s Day justru telah merendahkan dan mempersempit makna cinta. Cinta dihargai sebatas coklat, bunga mawar, greeting card, ciuman dan seks bebas. Valentine’s Day juga menyempitkan kasih sayang hanya sehari saja. Padahal dalam Islam, kasih sayang itu perlu diaktualisasikan setiap saat dan di setiap tempat. Bahkan kita diperintahkan untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh manusia.

Perayaan Valentine’s Day juga menggiring remaja untuk melakukan seks. Hal itu dapat kita saksikan dengan jelas dari propaganda mereka. Seorang pakar kesehatan di Inggris bahkan menganjurkan seks di hari Valentine. Direktur kesehatan British Heart Foundation yakni Prof. Charles George mengungkapkan bahwa seks bebas tidak saja membakar 100 kalori dalam tubuh, tetapi juga sangat baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, dia menganjurkan agar masyarakat di manapun, baik tua maupun remaja, hendaknya mengisi perayaan hari Valentine dengan pesta seks.

Olehnya itu, penulis secara pribadi dan sebagai pendidik mengajak kepada seluruh remaja khususnya pemuda-pemudi Islam untuk menjauhi dan tidak ikut-ikutan dalam perayaan ini. Siapa yang ikut merayakan Valentine’s Day berarti dia telah merusak pribadinya sendiri sebagai muslim dan bahkan menjadi bagian dari mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud)

Oleh: Muhammad Rais, S.Ip
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18511/valentines-day-ritual-cinta-yang-membodohi-remaja/#ixzz1mJlSudsN

Valentine's Day; “Sebuah Pembodohan Umat atas Nama Cinta”

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S.AL-ISRO :36)

Valentine Day, begitulah kita menyebutnya. Sebuah hari yang dicitrakan sebagai hari ‘kasih-sayang’ oleh orang-orang yang berkepentingan. Valentine memang sudah menjadi fenomena tersendiri di kalangan muda-mudi kita di Nusantara. Tak hanya kaum muda Nasrani, bahkan sebagian kaum muda muslim pun ikut berpesta pora merayakan hari kematian Santo Valentinus tersebut.

Di banyak Negara, tak terkecuali Indonesia Valentine mempunyai daya tarik tersendiri bagi kaula muda. Pencitraan sebagai hari kasih-sayang dijadikan dalil dalam merayakan hari tersebut. Pencitraan itupun kemudian dikesankan bahwa cinta itu erat berhubungan dengan bulan Februari, coklat, kartu selamat dan ngedate. Bahkan oleh sebagian dijadikan moment sebagai ‘pembuktian cinta’ berskala serba terbuka.

Memang, banyak di antara kaula muda yang hanya melihat sebuah fenomena dengan kaca mata sederhana, hingga mereka hanya ikut dalam arus yang ada tanpa berfikir kritis darimana dan mengapa momen itu tercipta. Mereka hanya melihat momen yang dikesankan indah oleh orang berkepentingan. Mengapa disebut berkepentingan? Karena moment Valentine yang dicitrakan sebagai hari kasih-sayang ini sarat kepentingan.

Salah-satunya kepentingan ekonomis. Bagi kaum kapitalis, moment valentine merupakan lumbung subur bisnis di bulan Februari. Karena mereka punya kepentingan ekonomis di dalam pencitraan itu. Maka bisa dilihat, diberbagai media Valentine dijadikan ‘umpan’ bagi para kaula muda. Dimulai iklan Televisi, Radio, Majalah, Koran, Spanduk dan berbagai Reklame terpampang secara berkala bak serangan gerilya dalam peperangan.

Valentine; Lumbung Bisnis Kaum Kapitalis

Motif niaga atau bisnis ini menjadi alasan utama kaum kapitalis karena menguntungkan, mereka merasa perlu memanfaatkan Valentine sebagai umpan bisnis, hingga kemudian dibuat dan dikemas menjadi menarik. Di situlah, pencitraan Valentine sebagai hari kasih-sayang menjadi agenda utama kaum kapitalis dan orang-orang yang tak bertanggung jawab. Mereka dikatakan tidak bertanggung jawab karena hanya melihat keuntungan materil semata, tidak menilai dan melihat aspek lain untuk dipertimbangkan. Mereka tidak mau tahu, apakah Valentine merusak akidah (kepercayaan) kaula muda Islam sebagai mayoritas di Nusantara, apakah perayaan Valentine mempunyai keuntungan terhadap kemajuan moral bangsa atau tidak. Mereka sama sekali tidak memiliki pemikiran ke arah itu, yang ada hanya bagaimana bisnis mereka bisa menguntungkan seuntung-untungnya dan orang suka dengan produk tersebut.

Selama ini, kaum muda muslim telah diperdaya dengan agenda setting kebohongan Valentine. Pencitraan terhadap publik sangat intens, sehingga publik langsung bisa percaya tanpa ada tanda-tanya. Dan ini perlu pelurusan.

Dengan melihat fenomena di atas, kita akan tersadar bahwa kita tengah berada di lapangan peperangan. Peperangan yang berlapangan pemikiran yang bersenjatakan argumen-argumen jitu dalam menyerang. Perang itu bukan perang fisik, namun perang pergulatan ideologis. Fenomena Valentine termasuk agenda perang pemikiran masa kini. Banyak pihak yang apriori terhadap masalah ini, mereka menganggap Valentine merupakan Fenomena sosial yang terjadi seperti fenomena-fenomena yang lain. Tidak perlu dipersoalkan. Tidak mau repot berpikir kritis. Padahal jika kita lihat aspek-aspek yang lain, maka akan kita dapati beragam macam keganjilan sebagai sebuah kebohongan yang disetting.

Valentine; Pembodohan Atas Nama Cinta

Valentine perlu dicermati serta dikritisi, seperti dari mana sebabnya Valentine bisa dinamakan kasih sayang? Toh ketika memakai pendekatan bahasa, baik secara etimologi bahkan terminology sekalipun, kasih-sayang dan Valentine tidak punya kausalitas linguistik. Lebih jauh lagi jika kita kaji lewat pendekatan historis (sejarah), kita tidak akan pernah mendapati bahwa Valentine's Day yang selalu dikaitkan dengan hari kasih-sayang memiliki mata rantai sejarah dengan cinta dan kasih sayang. Justru yang ada, pada tanggal 14 Februari memiliki muatan Teologis praktis dengan ritualitas Paganisme Romawi Kuno yang diadopsi oleh kaum Kristen yang hendak memasuki bangsa adidaya kala itu.

Berawal dari ritual perayaan Lupercalia Bangsa Romawi Kuno, embrio Valentine tercipta. Akulturasi perayaan Lupercalia dilakukan Kaum Kristen sebagai wasilah agar agama mereka dapat diterima masyarakat Romawi kala itu. Dengan berbagai eksplorasi, akhirnya Kaum Nasrani mempunyai jalan agar ritual itu tetap berjalan namun dengan landasan teologis mereka. Tanggal 14 sendiri dipilih karena memiliki sejarah kelam tentang kematian Santo Valentinus Sang Pendeta yang dihukum gantung karena enggan mengakui tuhan-tuhan Bangsa Romawi. Dia tetap bersikukuh mempercayai ketuhanan Yesus. Sang Raja Romawi pun menghukumnya.

Valentine dan Kerusakan Moral Bangsa

Seperti yang telah disinggung di atas, pencitraan Valentine sebagai hari Cinta dan Kasih-sayang memiliki dampak yang begitu serius terhadap keberlangsungan moralitas bangsa. Pasalnya, pencitraan tersebut cenderung menyalah-gunakan nama cinta. Malam valentine selalu dijadikan momen hura-hura serta pesta pora. Hingga sebagai ajang pembuktian cinta serba terbuka, dalam hal ini kaula muda menjadikan momen aktivitas seksual atas nama pembuktian cinta. Tidak sedikit remaja perempuan yang rela memberikan keperawanannya atas nama cinta. Dan ini menjadi masalah serius bagi keberlangsungan moral bangsa. Jika terus dibiarkan, maka nilai yang dianggap salah sekalipun akan dianggap biasa-biasa saja karena dibiasakan. Dan di sinilah peran pemerintah diuji.

Sejauh mana pemerintah dapat melindungi hak-hak warga negaranya. Terlebih generasi muda muslim sebagai mayoritas. Bila selama ini, banyak pihak yang selalu mengumandangkan sesuatu atas nama HAM. Maka umat Islam, dalam hal ini para kaula muda Islam memiliki hak yang sama untuk dilindungi dari kecacatan Spiritual dan Moral dari pencitraan sesat Valentine's Day sebagai hari Cinta dan Kasih-sayang. Wallahu a’lam.

Alan Ruslan Huban (Bidgar Da’wah PC PEMUDA PERSIS Cibatu, Mahasiswa STID Mohammad Natsir Jakarta)
http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/alan-ruslan-huban-mahasiswa-stid-mohammad-natsir-valentine-day-sebuah-pembodohan-umat-atas-nama-cinta.htm

Thursday, February 9, 2012

Islam dan "Bencana" Valentine’s Day

SEPERTI tahun-tahun sebelumnya, peringatan Valentine`s Day (V-Day) akan kembali banyak dirayakan oleh banyak remaja. Mall-mall dan pusat perbelanjaan tidak mau kalah start, turut bersolek menampilkan atribut dan dekorasi yang menandai datangnya “hari cinta” dengan menghadirkan aksesoris seperti bunga mawar merah, lambang love, bahkan memberikan potongan harga besar-besaran demi menyambutnya.

Dalam banyak catatan sejarah, V-Day merupakan warisan paganisme (Dewa-Dewi) zaman Romawi kuno. Mereka meyakini pertengahan bulan Februari merupakan bulan cinta dan kesuburan. Kepercayaan ini kemudian diwarnai oleh kaum Kristen Katolik Roma dengan nuansa Kristiani. Salah satu bentuk ‘akuisisi’ atas mitos paganisme ini adalah dengan mengganti nama anak-anak gadis mereka dengan nama Paus atau Pastor dan mendapat dukungan Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.

Seiring berjalannya waktu, ketika Kaum Barat berhasil melakukan simbolisasi terhadap tokoh Valentino, ditunjang pula dengan penguasaan media dan informasi, sejak saat itu V-Day menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ia menjadi ajang menyatakan “cinta dan kasih sayang” kepada pasangan. Kekuatan media dimanfaatkan betul untuk memborbardir massa tentang personalisasi Valentino sebagai tokoh yang layak dikenang sepanjang masa oleh siapa saja yang berjuang demi “cinta.”

Betulkah propaganda mereka tentang cinta itu? Tidak usah jauh-jauh, lihatlah ke sebelah Timur. Iraq porak-poranda akibat gempuran tentara Salibis, Muslimah-nya diperkosa oleh tentara-tentara hidung belang, orangtua dan anak-anak menjadi korban pembantain, ribuan lainnya terpaksa menjadi pengungsi di negeri sendiri.

Betulkah cinta yang mereka ekspor ke generasi ini? Lihatlah, angka perceraian yang tinggi, anak-anak menjadi rusak karena keluarga broken home, prostitusi yang merajelela bahkan dilegalkan oleh negara, aborsi, orangtua dititipkan di panti jompo. Inikah cinta yang mereka pekikkan?

Bandingkan dengan titian cinta nabi kepada kita, umatnya. Di kala Thaif dan Uhud menjadi hari-hari terberat sang Nabi. Pengorbanannya bagi umat tiada berbanding. Teguh terhadap dakwah mewarnai hari-hari Rasul akhir zaman ini. Kecemasannya pada nasib umat selalu mengemuka. Ia adalah Rasul yang penuh cinta kepada umatnya. Cinta itu berbalas, generasi sahabat (generasi pertama) adalah generasi yang juga sangat mencintainya.

Sesungguhnya, V-Day tidak lain merupakan wajah buruk budaya Barat. Di satu sisi, mereka memasihkan kata cinta dengan bunga di tangan sebelah, tangan satunya menikam dan menjerumuskan ke dalam jurang kerusakan moral.

Betul, tidak semua hal yang bersumber dari Barat berakibat buruk. Namun, dalam hal perayaan hari Valentine’s ini jelas-jelas buruk dan merusak generasi muda.

Dua hal yang menandai keburukan hari ini

Pertama, kaburnya sumber perayaan itu sehingga tidak laik umat Islam untuk ikut merayakannya.

Kedua, umumnya, perayaan Valentine’s dilakukan dengan pasangan alias kekasih atau pacar yang jelas ditentang dalam agama kita. Ketika telah bersinggungan dengan pacaran, tak pelak akan menyeret pada perbuatan yang tidak semestinya, gaul bebas, hubungan intim, dan sebagainya.

Setahun silam, berita memiriskan datang dari Kediri, Jawa Timur tahun lalu. Di kota tersebut dan mungkin di kota-kota lainnya, penjualan kondom mengalami peningkatan tajam menjelang tanggal 14 Februari. Kondom tersebut didistribusikan ke hotel-hotel sekitar untuk melayani permintaan dari penyewa kamar hotel. Bagaimana dengan tahun sekarang ini?

Terjadinya kasus seperti di atas tak lain karena pemahaman remaja yang menyimpang dalam mengartikan hari kasih sayang. Anggapan sementara sebagian para remaja, hari kasih sayang adalah hari bercinta, bercumbu, memberikan seluruh raga kepada sang kekasih, meskipun belum ada ikatan suci yaitu pernikahan.

Ketika hari Valentine’s tiba, mereka meninggalkan orangtua mereka dengan pacar-pacar mereka, pergi ke tempat wisata atau sekedar pergi ke hotel-hotel kelas melati. Parahnya lagi, hotel pun sudah siap memfasilitasi perbuatan-perbuatan mesum mereka dengan menyediakan stok kondom yang mencukupi.

Sayangnya banyak para remaja kita yang justru mengimitasinya. Keikutsertaan ini tidak dibersamai tindakan reflektif yang mencerminkan akibat dan dampak dari apa yang mereka lakukan. Seakan, membuktikan cinta itu hanya ada di hari yang satu ini, bahwa ia mencintai setulus hati, dengan beragam tanda-tanda yang menyertainya sebagai penguat ungkapan cintanya. Tidak sedikit di antaranya, dari kata-kata menuju “tindakan” yang seharusnya baru dilakukan oleh pasangan yang telah sah menjadi suami-istri.

Padahal, Allah telah menjelaskan dalam al-Qur`an perihal para “pembebek” suatu perbuatan tanpa dasar ilmu.

وَلاَ تَمْشِ فِي الأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُول

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Israa [17]: 36).

Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda: “Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani?” Baginda bersabda: “Kalau bukan mereka, siapa lagi? (HR. Bukhari Muslim).

Lewat sabdanya, Nabi menunjukkan kekhawatiran yang sangat atas nasib generasi sepeninggalnya yang melepaskan atribut dan identitas keislamannya dengan mengikuti tradisi dan budaya yang bertentangan dengan Islam itu sendiri. Kebodohan menjadi penyebab utama di balik sikap mengekor budaya ‘orang lain’ tanpa menimbang dampaknya.

Tiga Dampak V-Day

Dalam Islam, konsep cinta telah diletakkan pada tempat yang semestinya, tidak menyimpang dari naluri manusia itu sendiri, juga selaras dengan titian ilahi sebagai nilai-nilai moralnya. Menjadi seorang muslim itu berbeda. Kita tidak butuh cinta semu berbalut nafsu atas nama maksiat. Kita butuh bukti bukan janji. Kita tidak butuh slogan-slogan cinta bila faktanya tak ada.

Cinta dan kasih sayang yang diobral, ibarat baju yang diobral seribu tiga. Cinta dan kasih sayang itu jadi murahan dan kehilangan nilai serta rasanya. Cinta dalam Islam diperlakukan dengan agung. Cara memperoleh pasangan juga sudah diatur sedemikian rupa agar tidak melanggar harkat dan martabat manusia sebagai manusia. Harga diri masing-masing individu juga dijaga, bukan untuk diobral yang dapat menimbulkan fitnah.

Sementara, Valentine`s Day akan memunculkan dan membentuk pola perilaku tercela.

Pertama, munculnya akhlak tasyabbuh yaitu akhlak yang meniru orang lain tanpa mengetahui ihwal dilakukannya hari V-Day tersebut. Dengan meniru dan merayakan praktek kasih sayang yang tidak benar itu, membuat keluhuran kasih sayang dalam Islam, perlahan tapi pasti, menjadi pudar, tak lagi populer, dan pada akhirnya dapat punah ditelan masa.

Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) telah memagari umat dengan sabdanya, “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut.” (HR. Tirmidzi).

Kedua, dengan meniru orang lain menunjukkan ketidakberdayaan umat Islam yang pada gilirannya akan meninggalkan ciri-ciri ketinggian nilai Islam, menanggalkan identitas keislaman. Pada akhirnya, membuat umat Islam berperilaku mengikuti trend yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Dengan mengikuti V-Day, bukan saja mengikuti pesta untuk menyatakan kasih sayang namun juga mengikutsertakan seks bebas, fashion, pakaian minim, dansa dansi, dan mengumbar nafsu lainnya.

Ketiga, V-Day secara tidak langsung memberi keuntungan kepada pihak kapitalis dan menjadikan umat Islam sebagai konsumennya. Mereka yang membuat, memproduksi barang untuk kepentingan perayaan, sementara pembelinya adalah umat Islam.

Karenanya, sikap kita mestilah berbanding lurus dengan sikap yang mencerminkan jati diri seorang muslim. Perayaan hari kasih sayang atau V-Day tidak lebih sekedar upaya peringatan kematian seorang pendeta yang dipandang sebagai ‘martir’ cinta. Berbicara tentang cinta dan kasih sayang, Islam tidak kehabisan bahan untuk itu. Terlebih salah satu pondasi berdiri tegaknya ajaran Islam karena Rahmatan lil Alamin yang salah satunya memprioritaskan hak (cinta) kepada Allah dari yang lain.

Hanya saja, alih-alih menjajal cinta kepada Allah justru cinta kepada sesama manusia sering disalahtafsirkan dengan berpacaran, ber-kholwah (berdua-duaan) di tempat-tempat ramai atau sepi, melakukan hubungan biologis pra-nikah. Akibat dari peringatan V-Day ini lahirlah anak-anak tanpa bapak disertai merajalelanya aborsi.

V-Day adalah bencana budaya buat kita semua. Peringatan V-Day sudah waktunya kita eliminasi lalu kita jadikan sebagai monumen kecelakaan sejarah yang tidak perlu ditangisi apalagi diikuti. Peringatan ini, sekaligus untuk para orangtua yang memiliki anak remaja.

Oleh: Abu Khadijah Bin Agil
Penulis adalah Staf Pengajar di Ponpes. Darut Tauhid, Malang-Jawa Timur

Sumber : http://hidayatullah.com/read/21035/07/02/2012/islam-dan-

Kisah Hidup Imam Abu Hanifah yang Menakjubkan

Wajahnya tampan dan ceria, fasih bicaranya dan santun tutur katanya. Tidak terlalu tinggi badannya, tidak pula terlalu pendek sehingga enak dipandang mata. Di samping itu, beliau suka berpenampilan rapi, wajahnya ceria dan gemar memakai wewangian. Ketika muncul di tengah-tengah manusia, mereka bisa menebak kedatangannya dari bau wanginya sebelum melihat orangnya.

Itu lah dia Nu’man bin Tsabit Al-Marzuban yang dikenal dengan Abu Hanifah, orang pertama yang meletakkan dasar-dasar fikih dan mengajarkan hikmah-hikmah yang baik.

Abu Hanifah masih merasakan hidup sesaat sebelum berakhirnya khilafah bani Umayah dan awal kekuasaan bani Abasiyah. Beliau hidup pada suatu masa di mana para khalifah dan para gubernur memanjakan para ilmuwan dan ulama hingga rejeki datang kepada mereka dari segala arah tanpa mereka sadari.

Meski demikian, Abu Hanifah senantiasa menjaga martabat jiwa dan ilmunya dari semua itu. Sesampainya di istana beliau disambut ramah dengan penuh hormat, dipersilakan duduk di samping khalifah Al-Manshur kemudian khalifah bertanya tentang banyak persoalan yang menyangkut agama maupun dunia.

Ketika beliau bermaksud untuk pulang, Amirul Mukminin mengulurkan sebuah wadah yang di dalamnya terdapat tiga puluh ribu dirham, padahal Al-Manshur dikenal kikir dibanding yang lain. Lalu Abu Hanifah berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah orang asing di Baghdad ini dan tidak memiliki tempat untuk menyimpannya. Maka aku titipkan di baitul maal, kelak jika aku memerlukannya, saya akan meminta kepada Anda.” Maka Al-Manshur mengabulkan permohonannya. Hanya saja, masa hidup Abu Hanifah tak begitu lama setelah peristiwa itu. Ketika beliau wafat, ternyata didapatkan di rumahnya harta titipan orang-orang yang jauh lebih besar daripada pemberian Amirul Mukminin.

Tatkala Al-Manshur mendengar berita tersebut, dia berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah. Dia telah mengelabuhi kita, dia tidak ingin mengambil sesuatu pun dari kita, dia menolak pemberianku dengan cara halus.”

Ini tidaklah aneh, karena Abu Hanifah memiliki prinsip bahwa tidak ada yang lebih bersih dan lebih mulia daripada orang yang makan dari hasil tangannya sendiri. Oleh sebab itu, beliau menyediakan waktu khusus untuk berdagang. Beliau berdagang kain dan pakaian, kadang-kadang pulang pergi antar kota-kota di Irak. Di samping itu beliau juga memiliki toko pakaian yang terkenal dan banyak dikunjungi orang. Mereka mendapatkan kejujuran dalam bermuamalah dan amanah dalam memberi dan mengambil. Tidak diragukan lagi bahwa mereka merasakan kesenangan tersendiri dari cara muamalah Abu Hanifah, perniagaan beliau maju berkat karunia Allah hingga banyak keuntungan yang beliau dapat.

Beliau mendapatkan harta dengan cara yang halal lalu membelanjakan di tempat yang semestinya. Telah menjadi kebiasaan beliau, setiap sampai haul (satu tahun), beliau menghitung laba yang beliau dapat. Lalu menyisihkan sekedarnya untuk mencukupi kebutuhannya, sisanya dibelikan barang untuk diberikan kepada para penghafal Al-Qur’an, ahli hadits, ahli fikih dan murid-muridnya baik berupa makanan ataupun pakaian. Beliau memberikan hal itu sembari berkata, “Ini adalah laba dari hasil perniagaanku dengan kalian, Allah melancarkannya di tanganku. Demi Allah, aku tidak memberi kalian dengan hartaku sendiri, melainkan karunia Allah untuk kalian yang diberikan-Nya melalui aku. Pada tiap-tiap rezeki tidak ada suatu kekuatan dari seseorang kecuali dari Allah.”

Berita tentang kedermawanan dan kebijaksanaan Abu Hanifah masyhur di belahan bumi timur maupun barat. Terutama di kalangan para sahabat dan orang-orang yang biasa bertemu dengan beliau.

Sebagai contohnya, pernah seorang pelanggannya datang ke toko beliau seraya berkata, “Saya membutuhkan baju “khaz”, wahai Abu Hanifah.” Beliau menjawab, “Apa warna yang Anda kehendaki?” dia menjawab, “Yang berwarna ini dan ini.” Beliau berkata, “Bersabarlah sampai saya menemukannya dan akan aku berikan kepada Anda.”

Pada kasus yang lain, ada seorang wanita tua yang mencari baju “khaz”, kemudian beliau menunjukkan barang yang dimaksud. Lalu wanita itu berkata, “Saya adalah seorang wanita yang lemah, tidak pula tahu menahu soal harga, sedangkan ini hanyalah titipan. Maka juallah baju itu dengan harga yang sama ketika Anda membelinya, lalu ambillah sedikit untung darinya, karena saya adalah wanita lemah.”

Abu Hanifah berkata, “Saya membeli baju ini dua potong dalam satu harga. Saya sudah menjual yang sepotong hingga kurang empat dirham saja dari modal saya. Belialah baju ini seharga empat dirham karena saya tidak ingin mendapatkan laba dari Anda.”

Suatu hari beliau mendapatkan pakaian usang dan lusuh yang dikenakan seorang yang menghadiri majlisnya. Ketika orang-orang telah bubar dan tak ada seorang pun selain beliau dan laki-laki itu, beliau berkata, “Angkatlah alas shalat itu lalu ambillah sesuatu di bawahnya.” Orang itu mengangkat alas yang dimaksud, ternyata ada uang seribu dirham. Abu Hanifah berakta, “Ambillah dan perbaikilah penampilan Anda.” Orang itu menjawab, “Saya adalah orang yang mampu. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan nikmat-Nya untuk saya. Saya tidak membutuhkannya.” Abu Hanifah berkata, “Jika Allah telah memberikan nikmatnya kepada Anda, lantas manakah bekas nikmat yang engkau tampakkan? Belum sampaikah sabda Nabi saw, “Allah suka melihat bekas-bekas nikmat-Nya atas para hambanya,” sudah sepantasnya Anda memperbagus penampilan Anda agar tidak menyusahkan teman Anda.”

Kedermawanan Abu Hanifah dan perlakuan baiknya kepada orang lain mencapai klimaksnya, hingga setiap kalia beliau memberikan belanja kepada keluarganya, beliau juga menginfakkan jumlah yang sama kepada orang-orang yang membutuhkan. Setiap kali beliau memakai baju baru, beliau juga membelikan baju-baju untuk orang miskin sebesar harga bajunya. Jika diletakkan makanan di hadapannya, beliau sisihkan separuhnya untuk diberikan kepada orang-orang fakir.

Diriwayatkan pula bahwa beliau bertekad setiap kali bersumpah kepada Allah di tengah pembicaraannya, beliau akan bersedekah dengan satu dirham perak. Berikutnya ditingkatkan lagi, beliau berjanji untuk bersedekah satu dinar emas setiap kali bersumpah di tengah pembicaraanya. Namun jika sumpahnya menjadi kenyataan, dia sedekah lagi sebanyak satu dinar.

Salah satu rekan bisnis Abu Hanifah adalah Hafs bin Abdurrahman. Abu Hanifah biasa menitipkan kain-kain kepadanya untuk dijual ke sebagian kota-kota di Irak. Suatu kali Abu Hanfiah memberikan dagangan yang banyak kepada Hafsh sambil memberitahukan bahwa pada barang ini dan itu ada cacatnya. Beliau berkata, “Jika Anda bermaksud menjualnya, maka beritahukanlah cacat barang kepada orang yang hendak membelinya.”

Akhirnya Hafsh berhasil menjual seluruh barang, namun dia lupa memberitahukan cacat barang-barang tertentu tersebut. Dia berusah mengingat-ingat orang yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut, namun hasilnya nihil. Tatkala Abu Hanifah mengetahui duduk perkaranya, juga tidak mungkin diketahui siapa yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut, beliau merasa tidak tenang hingga kahirnya beliau sedekahkan seluruh hasil penjualan yang dibawa Hafsh.

Di samping itu, Abu Hanifah juga pandai bergaul. Majelisnya dipenuhi orang dan dia bersusah hati bila ada yang tidak hadir meski dia orang yang memusuhinya. Salah seorang sahabatnya mengisahkan, “Aku mendengar Abdullah bin Mubarak berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Wahai Abu Abdillah alangkah jauhnya Abu Hanifah dari ghibah. Akut ak pernah medengarnya menyebutkan satu keburukan pun tentang musuhnya.” Sufyan Ats-Tsauri menjawab, “Abu Hanifah cukup berakal sehingga tidak akan membiarkan kebaikannya lenyap karena ghibahnya.”

Di antara kegemaran Abu Hanifah adalah mencukupi kebutuhan orang yang menarik simpatinya. Sering ada orang lewat kemudian ikut duduk di majelisnya tanpa sengaja. Ketika dia hendak beranjak pergi, beliau segera menghampirinya dan bertanya tentang kebutuhannya. Bila dia punya kebutuhan, maka Abu Hanifah akan memberinya, kalau sakit maka akan beliau antarkan dan jika memiliki hutang maka beliau akan membayarkan sehingga terjalinlah hubungan yang baik antara keduanya.

Dengan segala keutamaan yang disandang Abu Hanifah tersebut, beliau juga termasuk orang yang rajin shaum di siang hari dan shalat tahajud di malam harinya. Akrab dengan Al-Qur’an dan istighfar di waktu ashar. Ketekunannya dalam beribadah di latar belakangi oleh peristiwa di mana beliau mendatangi suatu kaum lalu mendengar mereka berkomentar tentang Abu Hanifah. “Orang yang kalian lihat itu tidak pernah tidur malam.” Demi mendengar kata-kata itu, Abu Hanifah berkata, “Dugaan orang terhadapku ternyata berbeda dengan apa yang aku kerjakan di sisi Allah. Demi Allah jangan pernah orang-orang mengatakan sesuatu yang tidak aku lakukan. Aku tak akan tidur di atas bantal sejak hari ini hingga bertemu dengan Allah.”

Mulai hari itu Abu Hanifah membiasakan seluruh malamnya untuk shalat. Setiap kali malam datang dan kegelapan menyelimuti alam, ketika semua lambung merebahkan diri. Beliau bangkit mengenakan pakaian yang indah, merapikan jenggot dan memakai wewangian. Kemudian beridiri di mihrabnya, mengisi malamnya untuk ketaatan kepada Allah, atau membaca beberapa juz dari Al-Qur’an. Setelah itu mengangkat kedua tangan dengan sepenuh harap disertai kerendahan hati. Terkadang beliau mengkhatamkan Al-Qur’an penuh dalam satu rakaat, terkadang pula beliau menghabiskan shalat semalam dengan satu ayat saja.

Sebuah riwayat menyebutkan bahwa tatkala shalat malam secara berulang-ulang Abu Hanifah membaca membaca firman Allah Ta’ala:

“Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pasti,” (Al-Qamar: 46).

Beliau menangis karena takut kepada Allah dengan tangisan yang menyayat hati.

Telah diketahui banyak orang selama lebih dari empat puluh tahun beliau melakukan shalat fajar dengan wudhu shalat isya’. Hingga akhir wafat beliau pernah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 7000 kali.

Setiap kali beliau membaca surat Al-Zalzalah, gemetar jasadnya, beretar hatinya. Dengan memegang jenggotnya, beliau berkata, “Wahai yang membalas sebesar dzarrah kebaikan dengan kebaikan dan sebesar dzarrah keburukan dengan keburukan, selamatkanlah hamba-Mu Nu’man dari api neraka dan jauhkan ia dari apa-apa yang bisa mendekatkan dengan neraka, masukkanlah ia ke dalam luasnya rahmat-Mu, ya Arhamarrahimin. (novel/al-Islam)

http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/kisah-hidup-imam-abu-hanifah-yang-menakjubkan.htm