Friday, November 4, 2011

Rahasia di Balik Segumpal Darah

dakwatuna.com - Sebenarnya temanya sedikit kurang terbuka dan membuat kita harus mengkerutkan dahi 5 cm, namanya juga rahasia, paling tidak… sebisa mungkin akan kita ringkas di media ini, karena sebuah keterbatasan jika diuraikan semua, apalagi ilmu-ilmu Allah teramat luas sedang akal pikiran manusia sangatlah terbatas.

Kita mungkin pernah mendengar cerita Imam Syafi’e yang kecerdasannya sangat dikagumi banyak kalangan termasuk di antaranya Imam Ahmad bin hambal. Coba bayangkan perihal kecerdasan beliau, satu hadits saja bisa diurai menjadi banyak poin penting. Kita juga tentu sering mendengar kisah Imam Bukhari yang luar biasa kesungguhannya dalam menuliskan hadits, dan sekarang para ulama di dunia sepakat bahwa kitab paling benar setelah kitab suci Al-Qur’an adalah shahihnya Imam Bukhari. Setelah sebelumnya beliau bermimpi mengikuti jejak Rasulullah dan beliau terus mengikuti di belakangnya sebagai sebuah isyarat penting di kemudian hari untuk konsisten dengan pekerjaan mulia yang sekarang manfaatnya sangat dirasa oleh kaum muslim di manapun.

Dua contoh singkat di atas dengan segala karya dan goresan sejarah emasnya semata-mata terlahir dari hati yang lemah lembut. Bukan hanya output ketenangan, tapi ada juga hasil karya besar yang terlahir dari orang-orang yang berjiwa besar yaitu mereka yang berhati bersih.

Kita juga bisa membuka tafsiran para ulama terkemuka sambil dikaji secara perlahan di rumah masing-masing dan membongkar rahasia menarik dari Qur’an sebagai pedoman manusia perihal mendapatkan hati yang lemah lembut dan tenang pada ayat yang sudah populer di surat Ar Ra’d ayat 28 juz 13

“ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Ada satu ayat lagi yang sangat menarik dan bisa kita kaji bersama, karena inilah rahasia yang saya maksudkan serta harus dibuktikan sebagai sebuah analisa menarik di zaman modern yaitu di surat Az zumar ayat 23 juz 23.

“Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang [1], gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun.”

Ayat ini menerangkan dengan jelas bahwa yang menjadi tenang ketika mendekatkan diri kepada Allah bukan hatinya saja, tapi juga kulitnya (luar biasa). Makanya kita bisa melihat orang-orang yang ahli dzikir, ahli ibadah, ahli ilmu, kecenderungan perkataan mereka lebih bijak, santun, dan kulitnya pun lebih bersih dan ini semua berasal dari hati yang lembut.

Esensi Dzikir & Shalat

Keadaan seperti ini dirasa nyaman untuk berdzikir karenanya dekat dengan rahmat Ilahi. Adapun dzikir yang lebih utama dari ibadah lainnya adalah shalat sesuai dengan petunjuk Qur’an di surat Al ankabut ayat 45 juz 20.

“Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Shalat itu sendiri secara etimologi artinya berdoa. Maka sangat wajar jika di dalam shalat sangat dianjurkan memperbanyak doa khususnya ketika sujud sesuai dengan hadits:

عن أبي هريرة رضي الله عنه, أنَ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد, فأكثروا الدعاء

Abu Hurairah menuturkan, bahwa Rasulullah bersabda: keadaan yang menjadikan terasa lebih dekat pada seorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika dia bersujud, maka perbanyaklah berdoa (di saat sujud). [2]

Dalam hadits lain di tuturkan:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ. وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Maksudnya:

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa (sunat) pada bulan Allah yaitu bulan Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam (Tahajjud).” [3]

Bertolak dari 2 hadits di atas perihal keutamaan masing-masing, (1) Keutamaan bersujud, (2) Keutamaan shalat malam.Akan lebih bermakna jikalau kita bisa menggabungkan keduanya (Subhanallah).

Sedangkan dari segi terminologi artinya perbuatan atau perkataan yang di awali via takbir (Allahu akbar) dan diakhiri salam (Assalamu’alaikum wa Rahmatullah) dengan niat semata-mata karena Allah. Dan tentunya harus sesuai dengan petunjuk Rasulullah dalam prakteknya.

Kesimpulan sementara:

Dengan memperbanyak shalat hati ini akan menjadi lemah lembut jika dilakukan dengan sepenuh hati. Supaya tidak ada alasan, ”orang yang shalat ko….masih belum Islami,” padahal tidak ada hubungannya dengan shalat. Yang harus dipertanyakan adalah sejauh mana kesungguhan hatinya dalam melakukan shalat, bukan perintah shalatnya!!

Hitung-hitungan matematikanya adalah sebagai berikut:

Shalat = berdoa, banyak shalat = penghancur karang di hati dan membuat hati jadi lemah lembut + kulit menjadi lebih halus dan bersih, jadi hasilnya adalah perbanyak shalat biar hati dan kulit ini menjadi lemah lembut dan halus, dan di iringi niat semata-mata untuk mencari rahmat Allah.

Sebagai penutup mari kita sama-sama memasang protect bermerek Microsoft of Takwa pada hati kita dari segala virus iri, dengki, sombong, cinta dunia berlebih, dan virus lain yang mematikan hati. Pastikan kalau kita rajin meng-update antivirus tersebut tanpa dibatasi waktu.

Salah satu bentuk protect itu adalah menjadikan Qur’an sebagai sahabat yang senantiasa menghiasi hari-hari kita. Almarhum Sheikh Tantawi (Grand Sheikh Azhar) pernah berkata: “Semakin sering kita membaca Qur’an, maka akan semakin besar pula kecintaan kita terhadap kalam Allah tersebut.” [4]

Ditambahkan oleh Imam muda Masjidil haram Sheikh Khalid al ghamdi di sela-sela kunjungan saya ke tanah suci tahun 2009 dengan mengikuti talaqi (istilah belajar dengan cara tradisional secara langsung) kepada beliau, yaitu dengan mengutip perkataan bijak dari orang shalih : “sekiranya hati kita bersih, niscaya kita tidak akan pernah merasa puas dan bosan untuk membaca al-Qur’an”. (5)

Sekarang….

Bagaimana dengan saya, Anda, dan kita semua, berani mencoba dan membuktikan sebagai sebuah analisa bersama dengan memperbanyak bacaan ayat suci Al-Qur’an dan mengurangi segala kecek-kecek yang kurang bermakna!!



Catatan Kaki:

[1] Maksud berulang-ulang di sini ialah hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah itu diulang-ulang menyebutnya dalam Al Quran supaya lebih Kuat pengaruhnya dan lebih meresap. sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa maksudnya itu ialah bahwa ayat-ayat Al Quran itu diulang-ulang membacanya seperti tersebut dalam mukaddimah surat Al Faatihah.

[2] Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim

[3] Hadits riwayat Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab al-Shiyam, no: 1163.

[4] Kajian Tafsir hari Jum’at, tanggal 12 Juni 2009 di Masjid-Islamic Mission City-Kairo.

[5] Utsman Bin Affan Rodiyallahu ‘anhu

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/15874/rahasia-di-balik-segumpal-darah/#ixzz1cgupwpTd

Thursday, November 3, 2011

Belajar dari Kisah Badui

Diriwayatkan dari Al Yafi’i dari Sa’id bin Abi Arubah, bahwasannya ketika Al-Hajjaj bin Yusuf tiba di salah satu tempat sumber air di antara Makkah dan Madinah, ia menyuruh pengawalnya untuk mencarikan orang yang dapat makan bersamanya. Selain itu, Raja juga akan menanyakannya beberapa soal.

Maka pengawal itu mencari-cari, melihat-lihat ke arah bukit, dan di sana terlihat olehnya seorang Badui yang sedang berselimut, maka dibangunkan dengan kakinya dan berkata padanya, “Anda dipanggil oleh raja."

Maka Badui tersebut segera bangun dan mengikut. Ketika telah berhadapan dengan Al-Hajjaj, ia pun diperintah, “Cucilah tanganmu dan makan bersamaku.” Jawab Badui, “Aku telah menerima undangan yang lebih baik dari padamu, dan aku telah menyambutnya."

Al Hajjaj bertanya, “Siapakah itu? Jawab Badui, “Allah ta’alaa, memanggil aku untuk puasa, maka aku kini berpuasa."

Al-Hajjaj bertanya, “Apakah di musim kemarau yang sangat panas ini? Jawabnya, ”Ya, saya berpuasa untuk menghadapi hari yang lebih panas dari ini."

Maka Al-Hajjaj berkata, “Berbukalah hari ini dan esok hari anda puasa."

Dengan bijaksana, Badui menjawab, “Jika anda dapat menjamin bahwa aku akan hidup hingga esok hari, maka aku akan berbuka."

Al-Hajjaj pun tercengang, “Itu di luar kekuasaanku,” jawab raja.

“Jika itu bukan di luar kekuasaan Anda, maka bagaimana anda meminta padaku untuk membatalkan yang pasti dengan sesuatu yang tidak Anda kuasai."

Jawab Al-Hajjaj, “Tapi aku memiliki makanan yang lezat." Jawab Badui, “Kelezatan itu bukanlah buatan tukang masak, tetapi kelezatan itu disebabkan oleh sehat wal’afiat.”

Petikan hikayat di atas mendeskripsikan betapa kuatnya tekad si Badui untuk tetap berpuasa, sekali pun berpuasa sunnah dalam kondisi yang sangat tidak memungkinkan: cuaca panas menyengat sedangkan orang terhormat mengajaknya duduk bersama untuk menyantap hidangan lezat. Dalam hal ini, tekad yang patut kita contoh ialah ketakutan Badui kalau-kalau ia tak memiliki kesempatan untuk berpuasa esok hari jika ia membatalkan puasanya, sebagaimana yang diperintahkan oleh sang raja.

Keputusan Badui tersebut pastilah beralasan. Selain mengharap pahala dari Allah, Badui tersebut juga tahu betul manfaat puasa baik dari segi jasmani dan rohani.

Rasulullah bersabda, “Berpuasalah, maka kamu akan sehat.” Sabda Rasul ini memang terbukti secara medis bahwa orang yang membiasakan diri untuk berpuasa wajib maupun sunnah memang jauh lebih sehat ketimbang orang yang selalu menyibukkan dirinya dengan mengisi perut. Bagaimana pun, organ tubuh kita perlu beristirahat. Maka saat berpuasa itulah terjadi proses pembersihan pada organ-organ tubuh.

Rasulullah pun memberikan contoh teladan perihal puasa sunnah dari hadis yang diriwayatkan Aisyah RA, “Pada suatu hari, Nabi Saw masuk padaku dan bertanya: Apakah ada makanan? Jawabku, “Tidak ada. Maka Nabi Saw bersabda, “Kalau begitu saya puasa hari ini.” (HR An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

Berbicara tentang puasa sunah, saat ini umat Islam telah memasuki musim haji dimana umat Muslim disunahkan untuk berpuasa Arafah, baik di sepuluh pertama atau hanya pada saat hari Arafah. Puasa Arafah pun memiliki beberapa keutamaan.

Abu Hurairah RA berkata, Rasullullah Saw bersabda, “Tiada hari yang lebih disukai oleh Allah untuk beribadah pada-Nya seperti pada hari-hari sepuluh pertama Dzulhijjah. Puasa di hari-hari itu sama dengan puasa setahun, dan bangun malamnya sama dengan bangun Lailatul Qadr.” (HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).

Hadits lain, yang diriwayatkan oleh Anas r.a, “Orang-orang yang puasa akan keluar dari kubur mereka di hari Qiyamat, dikenal dengan bau mulut mereka dengan harum bagaikan kasturi. Dihantarkan pada mereka hidangan dan panic-panci yang masih tertutup mulutnya dengan kasturi, lalu dikatakan pada mereka, “Makanlah karena kamu dahulu lapar ketika orang-orang kenyang, dan minumlah karena dahulu kamu haus ketika orang-orang puas. Dan istirahatlah kamu karena kamu lelah di waktu orang-orang istirahat,” Maka mereka menikmati hidangan tersebut, sedangkan orang-orang sibuk dengan hisab."

Ibarat sekolah, tentu kita membutuhkan nilai-nilai ekstrakulikuler sebagai bentuk kelebihan yang kita miliki di hadapan guru. Begitupun dengan ibadah. Untuk memberatkan timbangan di hadapan pengadilan Allah, Ibadah wajib saja tidak cukup. Maka, kita membutuhkan suplai dari ibadah nawafil (sunnah), ada baiknya kita tutup kekurangan ibadah wajib dengan memperbanyak ibadah sunnah. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kekuatan dan keikhlasan dalam beribadah, Amien.

Oleh: Ina Salma Febriany
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/11/03/lu28fe-belajar-dari-kisah-badui

Wednesday, November 2, 2011

Hidayah saat Mengajar di Sekolah Islam

“Saya tidak pernah begitu dekat dengan Tuhan sampai saya menjadi seorang muslimah. Alhamdulillah....”

Hidayah bisa datang dari mana saja. Bila Allah SWT telah berkehendak, tak ada yang bisa menghadangnya. Dan itulah yang dialami Lynette Wehner.

Wanita kelahiran Amerika ini merasa gelisah, dan terjadi pergulatan bathin ketika mendapatkan tugas mengajar di sebuah sekolah Islam. Ia, yang notabene penganut agama Kristen Katholik, saat berinteraksi dengan komunitas muslim, mesti mengenakan atribut muslimah saat mengajar, jilbab. Namun, atas nama profesionalitas, ia menjalaninya dengan senang. Meski jilbab adalah sesuatu yang sangat asing baginya.

Beruntung seorang staf di sekolah Islam itu membantunya mengenakan jilbab. “Saya sangat tertarik bahkan sambil tertawa saat mencoba berbagai trend gaya berjilbab,” kata Wehner.

Bahkan pergulatan bathin yang sesungguhnya mulai terasa. Ia merasa nyaman mengenakan busana muslimah itu. Guru, staf, dan murid-muridnya begitu baik memperlakukannya meskipun keyakinannya berbeda. Pandangan negatifnya tentang Isalm selama ini berangsur berubah. Umat Islam tidak seperti yang dibayangkannya, “jahat dan teroris”. Sebaliknya, pagi itu ia merasa sangat rileks berada di lingkungan muslim. “Mengapa seseorang bisa sedemikian mudah membuat stereotipe terhadap orang lain tanpa mengenal lebih jauh orang yang bersangkutan. Ia telah belajar banyak hal di hari pertama mengajarnya.

Di luar jam pelajaran, Wehner kerap berinteraksi dan berdiskusi dengan siswanya. Tak hanya dia yang kerap bertanya tentang Islam, muridnya pun kerap menanyakan kebenaran ajaran Kristen Katholik. Dari sinilah ia mulai meragukan keyakinannya.

Ternyata muridnya jauh lebih memahami sejarah agama Kristen. Sebenarnya, mereka tidak secara khusus belajar sejarah agama Kristen. Yang mereka pelajari adalah sejarah agama Islam. Namun, dalam pelajaran itu, dipelajari juga sejarah agama-agama terdahulu, termasuk Kristen. Itulah sebabnya, pemahaman mereka tentang sejarah agama Kristen pun sangat baik.

“Saya terkesan dengan sikap para siswa, pengetahuan mereka tentang agama saya (Kristen) lebih baik dibandingkan pengetahuan yang saya miliki. Dan saya bertanya dalam hati, dari mana mereka tahu semua itu,” kata Wehner.

Sejak itu, diam-diam ia sering membaca buku-buku yang berisi ajaran Islam, yang ditinggalkan murid-muridnya di sekolah. Saat itu Wehner mulai merasakan, apa yang ia baca mengandung banyak kebenaran. Lebih dari itu, Wehner juga sering bertanya soal Islam dengan guru-guru di sekolah itu. Ia terus membaca dan bertanya kepada banyak orang dan melakukan pencarian. Ia bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdiskusi dan memuaskan rasa ingin tahunya tentang Islam. “Perbicangan kami sangat menarik dan logis, otomatis semakin mendorong rasa ingin tahu saya. Saya merasa telah menemukan apa yang selama ini saya cari. Tiba-tiba saja, ada rasa damai yang menyebar di dalam hati saya. Inikah cahaya Islam?”

Di rumah, Wehner mulai membaca terjemahan Al-Quran. Sayangnya, ia harus main kucing-kucingan dengan suaminya, lantaran ketidaksukaannya pada Islam. Kala itu ia belum bercerai.

Awalnya, Wehner merasa takut telah melakukan pengkhiatan terhadap agamanya dan ragu untuk percaya bahwa ada kitab suci lain, selain Alkitab, yang diturunkan Tuhan. “Namun saya berusaha mendengarkan apa kata hati saya, yang menyuruh saya membaca Al-Quran. Saat membacanya, saya merasa, beberapa bagian dalam Al-Quran itu dituliskan khusus untuk saya. Sering kali saya membacanya sambil menangis. Tapi setelah itu, saya merasa tenang.”

Ia juga kerap melakukan shalat. “Saya shalat di kamar anak lelaki saya, dengan diam-diam tentunya. Tangan saya memegang sebuah buku tentang tata cara shalat. Saya melakukan shalat dengan konflik bathin dalam diri saya. Sebelum itu saya tidak biasa berdoa secara langsung kepada Tuhan. Sepanjang hidup saya, kepada saya diajarkan untuk berdoa kepada Yesus. Biarlah saya berdoa kepada Yesus dan Dialah yang akan menyampaikan doa saya kepada Tuhan,” kata Wehner.

Sementara itu, ia juga sering belajar tauhid dalam Islam. Dalam Islam, konsep keesaan Tuhan sangat jelas. Yakni, Tuhan itu satu. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan ternyata, ajaran itu sangat berpengaruh dalam diri Wehner. Maka, semakin lama ia semakin yakin akan kebenaran Islam. Alhasil, beberapa bulan kemudian, Wehner memutuskan untuk memeluk Islam, “Inilah momennya untuk menjadi seorang muslimah.” Hari itu ia yakin, Tuhan sedang bicara kepadanya. Tidak ada yang perlu ditakutkan jika memang ingin berpindah ke agama Islam. “Ketika itu saya mulai menangis bahagia.”

Wehner mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan seluruh siswa sekolah Islam tempat ia mengajar, disaksikan para guru yang lain, termasuk staf. “Saya menjadi orang yang baru. Semua keraguan sirna. Saya yakin telah membuat keputusan yang benar. Saya tidak pernah begitu dekat dengan Tuhan sampai saya menjadi seorang muslimah. Alhamdulillah, saya sangat beruntung.”

http://majalah-alkisah.com/index.php/cahaya-hati/713-hidayah-saat-mengajar-di-sekolah-islam

Saat Setan Sekecil Lalat

Tak satupun manusia lepas dari gangguan setan. Sesuai dengan namanya, shatana atau sesuatu yang jauh, setan senantiasa menggoda manusia dari tempat yang jauh (tak terlihat) dan mengajak manusia menjauh dari kebaikan. Sudah menjadi komitmen setan untuk terus menerus menggoda dan menganggu anak cucu Adam AS hingga akhir jaman. Kadang-kadang kita dibuat geram oleh ulahnya sehingga ingin mengekspresikannya dengan ucapan atau perbuatan.

Suatu ketika seorang sahabat mengekspresikan kejengkelannya dengan memaki setan saat hewan tunggangan Rasulullah SAW tersandung. "Terkutuklah setan!"

Rasulullah SAW yang kebetulan mendengarnya menasihati, "Jangan berkata 'Terkutuklah setan', karena jika kamu berkata seperti itu, setan menjadi arogan dan berkata: 'Dengan kekuatanku akan kubuat ia jatuh.' Ketika kau berkata, 'Bismillah', setan akan menjadi sekecil lalat." (HR Ahmad).

Demikianlah cara yang diajarkan Rasulullah SAW menghadapi mahluk yang sombong. Tidak dengan cacian dan makian, tetapi dengan menyebut nama Allah.

Di dalam ibadah haji pun kita diberi kesempatan untuk mengekspresikan kemarahan dan permusuhan kita terhadap iblis dalam ritual melempar jumrah.

Dengan kerikil sebesar biji jagung yang telah disiapkan sebelumnya, kita melemparinya sambil tetap mengingat dan menyebut nama Allah Zat Yang Maha Besar "Bismillahi Allahu Akbar".

Mencaci maki bukanlah cara yang diajarkan Islam untuk mengekspresikan kemarahan, membalas atau melawan kesombongan. Logika sederhana mengatakan, kalau kita balas dan lawan kesombongan dengan caci maki, lalu apa beda kita dengan mereka?

Alasannya adalah hanya karena ajaran Islam terlalu mulia untuk itu. Mencaci maki pun kadang bagaikan menepuk air didulang terpercik muka sendiri. Rasulullah SAW punya logika sederhana untuk itu.

Telah bersabda Rasulullah SAW, "Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci-maki kedua orang tuanya." Para sahabat bertanya, "Bagaimana seseorang bisa mencaci-maki kedua orang tuanya?" Maka beliau SAW menjawab: "Dia mencaci-maki ayah orang lain, lalu orang lain itu mencaci maki kembali orang tuanya" (HR Bukhari)

Mencaci maki, apalagi membakar patung tokoh, bendera, atau simbol-simbol yang dihormati suatu kaum untuk mengekspresikan kemarahan bukanlah akhlak yang diajarkan Rasulullah SAW. Karena, mengambil pelajaran dari hadits tadi, hal itu tidak berbeda dengan melakukannya terhadap apa yang kita hormati sendiri.

Alangkah indahnya jika hujatan atau caci maki digantikan dengan cara yang bermartabat seperti telah diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. "Allah Maha Besar Sungguh Maha Besar, Segala Puji hanya bagi Allah Pujian yang amat banyak, Tiada Tuhan Selain Allah Yang Maha Esa, Tiada Sekutu bagi-Nya."

Oleh: Rahmat Saptono
Penulis adalah sahabat Republika Online
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/11/02/lu0cor-saat-setan-sekecil-lalat

Bengkok Itulah Kelebihan dan Keistimewaannya

Suatu hari, ia datang dengan muka marah, dada sempit, seakan isinya terpenuhi oleh bara api dan ia hendak menyemburkannya keluar sekaligus.

Aku katakan kepadanya: “Insya Allah Antum baik-baik saja!”

Ia menjawab: “Kalau saja aku tidak pernah menikah!!! Niscaya hari ini hatiku tenang, jiwaku tenteram dan pikiranku santai … !!!”

“Apa yang membuat pernikahanmu menyusahkanmu?” tanyaku kepadanya pura-pura tidak tahu.

“Siapa lagi kalau bukan si dia, perempuan itu!!!” jawabnya masih dengan nada marah.

“Engkau maksudkan istrimu??!!” komentarku asal-asalan saja.

“Betul sekali” sergahnya.

“Apa lagi yang engkau keluhkan darinya??” komentarku mencoba menyabarkannya.

“Buanyaaak lah!!!” tanggapannya.

“Maksudmu, yang Antum keluhkan darinya jauh lebih banyak dari yang memuaskan dirimu??” tanyaku masih berlagak bodoh terhadap semua yang telah diungkapkannya.

Ia angguk-anggukkan kepalanya berkali-kali tanda setuju terhadap pernyataanku yang terakhir.

“Barangkali engkau mengeluhkan tentang ketidaktundukannya kepadamu?” pancingku kepadanya.

Ia menatapku dengan cepat dan memandangiku secara mendalam: “tepat sekali” katanya.

“Air matanya langsung bercucuran saat engkau mendebat atau membantahnya??” pancingku lebih lanjut.

Tampak kekagetan pada raut mukanya seraya berkata: “betul, betul sekali” komentarnya setelah itu.

“Ia juga sering membangkang??” selidikku lebih jauh.

Semakin tampak jelas kekagetannya pada bahasa tubuhnya, seraya berkata: “Seakan-akan kamu hidup bersama kami!!!”.

“Perhatiannya kepadamu semakin menurun dan berkurang setelah masa pernikahan berlalu beberapa bulan??” selidikku kayak petugas KPK saja.

“Kamu telah mendengar cerita tentang istriku dari orang lain ya??” pertanyaannya untuk menyembunyikan keheranan dan kekagetannya lebih lanjut.

“Perhatiannya kepadamu semakin parah setelah kalian mempunyai anak??” selidikku lebih lanjut tanpa mempedulikan pertanyaan dia sebelumnya.

“Jadi kamu telah mengetahui segalanya tentang istriku ya??!!!” komentarnya keheranan.

“Tenang dan santai saja saudaraku … dan mari dengarkan penjelasanku!!” pintaku kepadanya.

Tampak rasa marah dan nyeseknya berkurang, dan mulai tergantikan oleh rasa ingin tahu dan karenanya tampak jelas keinginannya untuk menjadi pendengar yang baik. Ia pun berkata: “Silakan berbicara, saya siap menjadi pendengar”.

“Pernahkah engkau membeli alat elektronik? HP, Notebook, dan semacamnya? Dan adakah disertakan bersamanya buku manual penggunaannya?”

“Pernah” jawabnya.

“Bagaimana Antum mempergunakan alat itu? Mestikah sesuai dengan buku manual penggunaannya?”

“Pastilah” jawabnya.

“Bagus, anggaplah Antum baru saja membeli alat elektronik itu, di situ dijelaskan bahwa catu listriknya adalah 110 volt, namun, Antum paksakan dia untuk dicolokkan ke kontak listrik dengan kekuatan 220 volt, apa kira-kira yang akan terjadi??” penjelasanku memberi kuliah teknik elektro.

“Pastilah langsung terbakar” jawabnya singkat.

“Misalnya lagi engkau ditantang untuk balapan motor, motormu 125 cc dengan tulisan di speedometer maksimal 140 km berjam, sedangkan temanmu membawa motor 250 cc dengan tulisan maksimal 260 km berjam pada speedometernya” ceramahku di hadapannya.

“Dijamin kalah lah aku” sergahnya.

“Seandainya Antum memacu gas motor Antum sehingga mentok, akankah motor bisa melaju melebihi angka 140 km berjam??”

“Ya nggak bisa tentunya” jawabnya.

“Kenapa?” tanyaku kepadanya.

“Ya karena dari sononya (pabriknya) memang tidak dimungkinkan untuk melaju di atas 140 km berjam” jawabnya dengan tegas dan lugas.

“Demikianlah ‘pabrikan’-nya perempuan, oleh Allah SWT telah menciptakannya dengan ‘manual’ tertentu yang kita harus ‘menggunakannya’ sesuai dengan ‘manual’ itu” penjelasanku filosofis.

“Maksudmu?” tanyanya.

“Tabiat psikologis perempuan yang engkau keluhkan di awal pembicaraan kita tadi, itulah ‘pabrikan’ perempuan dari sang Penciptanya, kalau saja engkau pahami ‘manual’-nya dengan baik, niscaya engkau tidak akan menuntutnya layaknya dia laki-laki macam kita ini”.

“Manual yang mana yang engkau maksud” tanyanya tampak kebingungan, sebab aku mulai bergaya seorang filosof.

“Bukankah Rasulullah SAW, utusan sang Pencipta telah menjelaskan tentang sebagian dari ‘manual’ itu saat bersabda:

” استوصوا بالنساء خيرا فإن المرأة خلقت من ضلع أعوج وإن أعوج شيء في الضلع أعلاه فإذا ذهبت تقيمُه كسرت ، وإذا تركته لم يزل أعوج ، فاستوصوا بالنساء خيرا ”

Aku wasiatkan kepada kalian agar berbaik-baik kepada kaum perempuan, sebab ia diciptakan dari tulang iga, sedangkan tulang iga yang paling bengkok adalah yang paling atas, oleh karena itu, jika kalian bermaksud membuatnya lurus dan tidak bengkok, niscaya patah lah ia, dan jika engkau membiarkannya begitu saja, niscaya ia akan terus menerus bengkok dan tidak pernah menjadi lurus, oleh karena itu, aku wasiatkan kepada kalian agar berbaik-baik kepada perempuan. (Hadits shahih muttafaqun ‘alaih)

“Bener juga ya!” serunya.

“Jadi, apa yang engkau inginkan dan minta dari istrimu itu mirip dengan engkau meminta motormu untuk melaju dengan kecepatan di atas 140 km berjam, sehingga, walau pun gasnya sudah kamu tarik sekuat-kuatnya, ya tetap saja maksimal motormu melaju pada kecepatan 140 km berjam” kuliahku kepadanya selanjutnya.

“Oooo” gumamnya dan sepertinya dia mulai mengerti isyarat yang saya maksud.

“Dan mari kita dalami lebih lanjut sabda Rasulullah SAW di atas” pintaku kepadanya.

“Dalam hadits tadi Rasulullah SAW menjelaskan bahwa jika tulang iga yang bengkok itu kita paksakan harus lurus, maka patahlah dia, hal ini mirip dengan alat elektronik 110 volt kita colokkan pada listrik dengan kekuatan 220 volt, kebakarlah dia” demikian bunyi lanjutan wejanganku kepadanya.

Ia berkata: “Tetapi, bukankah penjelasanmu ini mengindikasikan pengecilan dan pengurangan kadar perempuan??!!!”

“Kekurangan di satu sisi dan kelebihan di sisi lain” jawabku singkat.

“Sama dengan lelaki, ia mempunyai kekurangan di satu sisi dan mempunyai kelebihan di sisi yang lainnya” lanjutku menerangkan.

“Menariknya, apa yang kurang pada perempuan itu berbanding lurus dengan kelebihan pada lelaki dan apa yang lebih pada perempuan berbanding lurus dengan kekurangan pada lelaki” aku melanjutkan kuliah “filsafat”-ku kepadanya.

“Mohon maaf, terlalu filosofis penjelasanmu, tolong beri aku ulasan yang mudah” pintanya kepadaku.

“Dalam hadits Rasulullah SAW tadi disinggung tentang sesuatu yang ‘bengkok’ atau tidak tegak lurus. Betul tidak?!” tanyaku meminta penegasan dari dia.

“Tidakkah saat menyusui, posisi seorang ibu dalam keadaan ‘bengkok’ dan tidak tegak lurus?! Begitu pula saat ia mengenakan pakaian pada anaknya, tidakkah ia dalam posisi ‘bengkok’ dan tidak tegak lurus?!! Dan tidakkah saat ia mendekap anaknya, seorang ibu dalam keadaan ‘bengkok’ dan tidak tegak lurus?!!” demikian retorikaku kepadanya.

“Betul, betul sekali, saya tidak melihat seorang perempuan yang melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti tadi kecuali dalam keadaan ‘bengkok’ dan tidak tegak lurus” jawabnya meng-iya-kan.

“Coba kamu renungkan, tidak ada satu pun kondisi atau posisi seorang ibu saat mengekspresikan rasa rindunya, atau kasih sayangnya, atau belas kasihnya, atau cintanya kepada anaknya kecuali ia dalam keadaan ‘bengkok’ dan tidak tegak lurus!!” pernyataanku mendikte.

“Menariknya lagi, semua kosa kata yang menggambarkan demikian, dalam bahasa Arab, bahasa yang dipakai Rasulullah SAW, semua mempunyai hubungan erat dengan kata ‘bengkok’”.

“Misalnya kata ‘athifah yang berarti simpati, empati, emosi dan kasih sayang. Ia mempunyai hubungan erat dengan makna bengkok, bukankah jalanan yang menikung dalam bahasa Arab disebut thariqun mun’athifun???!!

Dan bukankah kecenderungan atau ketertarikan seseorang kepada sesuatu dalam bahasa Arab disebut mail, sebagaimana firman Allah SWT: fala tamilu kullal mail fatadzaruha kal-mu’allaqah (Q.S. An-Nisa’: 129), dan bukankah mail dalam bahasa Arab artinya adalah miring atau condong, atau bengkok??!!

Dan masih ada beberapa kosa kata lagi yang mempunyai makna bengkok dan sekaligus mempunyai makna sayang atau simpati atau empati dan semacamnya.

Inilah kelebihan perempuan, dengan ‘bengkok’ inilah ia mampu mengekspresikan berbagai rasa sayang, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh lelaki secara sempurna”.

(Dialog antara DR. Muhammad Rasyid Al-‘Uwaid dengan salah seorang lelaki yang mengeluhkan tentang istrinya).

Oleh: Musyafa Ahmad Rahim, Lc

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15685/bengkok-itulah-kelebihan-dan-keistimewaannya/#ixzz1cW0f89Qb
http://www.dakwatuna.com/2011/10/15685/bengkok-itulah-kelebihan-dan-keistimewaannya/

Jibril a.s. dan Nabi Adam a.s.

Ketika Allah menurunkan Adam a.s. dari surga, Adam a.s. terkena penyakit cacar hitam dari wajah hingga kakinya. Lama sekali dia bersedih dan terus menangis karena apa yang dialaminya itu. Melihat hal itu, Jibril a.s. mendatanginya seraya berkata, "Apa yang menyebabkan kamu menangis, wahai Adam?"

Adam a.s. menjawab, "Karena cacar yang bermunculan ini yang tak segera sembuh."

Jibril a.s. berkata, "Dirikanlah shalat, karena sesungguhnya ini adalah waktu shalat yang paling utama!"

Adam a.s. pun mengerjakan shalat, sehingga cacar itu menghilang dari wajahnya sampai ke dadanya.

Beberapa waktu kemudian, Jibril a.s. pun mendatangi Adam a.s. kembali pada waktu shalat yang kedua seraya berkata, "Wahai Adam, dirikanlah shalat! Karena sesungguhnya saat ini adalah waktu shalat yang kedua." Adam a.s. pun mengerjakan shalat, dan cacar itu menghilang dari dada hingga pusarnya.

Beberapa waktu kemudian, Jibril a.s. pun mendatangi Adam a.s. kembali pada waktu shalat yang ketiga seraya berkata, "Wahai Adam, dirikanlah shalat! Karena sesungguhnya saat ini adalah waktu shalat yang ketiga." Adam a.s. pun mengerjakan shalat, dan cacar itu menghilang dari pusar hingga kedua lututnya.

Beberapa waktu kemudian, Jibril a.s. pun mendatangi Adam a.s. kembali pada waktu shalat yang keempat seraya berkata, "Wahai Adam, dirikanlah shalat! Karena sesungguhnya saat ini adalah waktu shalat yang keempat." Adam a.s. pun mengerjakan shalat, dan cacar itu menghilang dari kedua lutut hingga kedua mata kakinya.

Beberapa waktu kemudian, Jibril a.s. pun mendatangi Adam a.s. kembali pada waktu shalat yang kelima seraya berkata, "Wahai Adam, dirikanlah shalat! Karena sesungguhnya saat ini adalah waktu shalat yang kelima." Adam a.s. pun mengerjakan shalat, dan cacar itu menghilang dari seluruh tubuhnya.

Adam a.s. pun segera memuji Allah dan menyanjung-Nya. Kemudian Jibril a.s. berkata, "Wahai Adam, shalat dan penyakit cacarmu ini adalah perumpamaan bagi seluruh keturunanmu. Barangsiapa di antara keturunanmu mengerjakan shalat sehari semalam (sebanyak) lima waktu shalat (fardhu), dia terbebas dari dosa-dosanya sebagaimana sembuhnya kamu dari penyakit cacar ini."

Sumber :
'Ilal Al-Syaraa'i, jilid 2 h. 134, Al-Jazairi, Dari Adam hingga Isa a.s., bab Nabi Adam a.s. Riwayat ini bersumber dari Abu Abdillah.
Buku 'Jibril alaihissalaam, Menjejak Langkah Malaikat Pembawa Wahyu' oleh Muhammad Syahir Alaydrus.

Tuesday, November 1, 2011

Hajar Aswad

Hajar Aswad adalah batu berwarna hitam kemerah-merahan, terletak di sudut selatan, sebelah kiri pintu Ka’bah. Ketinggiannya 1,10 meter dari permukaan tanah. Ia tertanam di bagian dalam dinding Ka’bah yang mulia.

Dulu diameter Hajar Aswad sekitar 30 centimeter. Akibat berbagai peristiwa yang menimpanya sepanjang masa, kini Hajar Aswad tersisa delapan butir batu kecil sebesar kurma yang dikelilingi oleh bingkai perak.

Namun, tidak semua yang terdapat di dalam bingkai adalah Hajar Aswad. Butiran Hajar Aswad tepat berada di tengah dempulan dalam bingkai. Butiran inilah yang dicium dan disentuh oleh jamaah haji.

Dari Hajar Aswad, thawaf dimulai dan diakhri. Oleh karena itu, ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa penentuan rukun ditinjau dari eksistensinya sebagai sudut terpenting di Baitullah, yaitu rukun sebelah timur, tempat dimulainya thawaf.

Warna asal Hajar Aswad adalah putih, tetapi bagian yang terlihat di permukaan kini berwarna hitam. Mungkin perubahan tersebut disebabkan oleh kebakaran yang pernah terjadi di Ka’bah pada masa kaum Quraiys.

Kemudian kebakaran kedua yang terjadi pada era Ibnu Az-Zubair yang mengakibatkan terpecahnya Hajar Aswad menjadi tiga pecahan. Saat membangun kembali Ka’bah, Ibnu Az-Zubair pernah berusaha untuk menahannya dengan perak.

Abdullah bin Abbas berkata, “Di bumi ini tidak ada suatu benda dari surga selain Hajar Aswad dan batu Maqam Ibrahim. Keduanya termasuk permata-permata surga. Seandainya tidak pernah disentuh oleh orang musyrik, maka setiap orang cacat yang menyentuhnya, pasti akan disembuhkan Allah.”

Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim adalah dua permata yaqut dari surga yang telah dihapus oleh Allah cahayanya. Seandainya tidak demikian, pasti akan menerangi semua yang berada antara timur dan barat.”

Iyadh berkata, “Hajar Aswad adalah batu yang dimaksud oleh Nabi saat beliau bersabda, ‘Sesungguhnya aku tahu ada sebuah batu yang dulu memberi salam kepadaku. Ia adalah permata yaqut berwarna putih, lebih putih daripada susu. Lalu Allah mengubahnya menjadi hitam akibat berbagai dosa anak Adam dan sentuhan orang-orang musyrik padanya.”

Batu ini selalu dihormati, diagungkan, dan dimuliakan, baik pada masa jahiliyah maupun Islam. Orang-orang mencari berkah padanya dan menciumnya. Hingga tibalah pada suatu ketika Makkah dimasuki kaum Qaramithah secara paksa pada 317 H. Mereka merampas Makkah, membantai para jamaah haji, menguasai Baitullah, mencabut Hajar Aswad, dan membawanya ke negeri mereka di Kota Ahsa’ yang terletak di wilayah Bahrain.

Bajkam At-Turki, seorang penguasa Baghdad, telah mendermakan ribuan dinar kepada mereka pada masa pemerintahan Ar-Radhi Billah agar mereka bersedia mengembalikannya. Akan tetapi, mereka tidak pernah melakukannya.

Lalu, Abu Ali Umar bin Yahya Al-Alawai, seorang khalifah yang taat pada Allah, tampil sebagai penengah pada 339 H. Akhirnya, mereka pun bersedia untuk mengembalikannya. Mereka membawanya ke Kufah, lalu menggantungkannya di tiang ketujuh Masjid Jami’.

Setelah itu, mereka mengembalikannya ke tempat semula. Mereka beralasan, “Kami telah mengambil berdasarkan perintah dan mengembalikannya berdasarkan perintah pula.” Lama masa hilangnya sekitar 22 tahun.

Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Atlas Haji & Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghlouth
http://www.jurnalhaji.com/2011/10/26/kisah-hajar-aswad/