Showing posts with label Ahlul-bait. Show all posts
Showing posts with label Ahlul-bait. Show all posts

Friday, August 2, 2013

Panjang Tangan dan Sedekah

Dalam suatu riwayat Aisyah pernah berkisah, bahwa suatu waktu setelah wafatnya Nabi SAW, para istrinya berkumpul pada suatu rumah salah satu diantaranya. Lalu mereka mengukur tangan-tangan mereka di tembok untuk mencari tangan mana yang terpanjang. Aktivitas ini sering dilakukan mereka, sampai meninggalnya Zainab binti Jahsy.

Apa sebab hal ini dilakukan oleh para istri Nabi SAW? Ternyata, suatu waktu Rasulullah SAW pernah bersabda seperti diriwayatkan Bukhari dan Muslim,

"Bahwa yang paling cepat menyusul diriku dari kalian (istri-istriku) adalah yang paling pajang tangannya."

Yang paling cepat menyusul Rasulullah SAW adalah Zainab binti Jahsy. Sementara Zainab memiliki tangan yang pendek dan bukan yang terpanjang bila dibandingkan dengan istri Nabi SAW lainnya.

Mengapa Zainab? Menurut Aisyah dinukil dari hadits yang sama, karena Zainab bekerja dengan tangannya sendiri dan selalu bersedekah. Bahkan pada suatu riwayat yang dikeluarkan oleh ath-Thbarani dalam al-Ausath disebutkan bahwa Zainab radhiallhu 'anha merajut pakaian kemudian memberikannya kepada pasukan Nabi SAW. Para pasukan Nabi SAW menjahit serta memanfaatkannya pada saat peperangan.

Akhirnya para istri Nabi SAW pun mengetahui maksud Nabi SAW mengenai apa yang disebutnya dengan "panjang tangan", yakni suka bersedekah. Dan Zainab-lah yang dimaksud dalam hadits tersebut.

Wallahu'alam.

Oleh Diyah Kusumawardhani,
dimuat dalam Majalah Sabili edisi 23 tahun XVIII Agustus 2011

Thursday, August 30, 2012

Teguran Ummu Salamah kepada Pembantunya


Islam sangat mencintai kaum fakir miskin. Allah SWT memerintahkan kepada hambanya senantiasa menyantuni orang-orang miskin, dan melarang mereka untuk berperilaku boros atau menghamburkan harta.
 
“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros,” firman Allah SWT dalam surrah Al-israa’ ayat 26.

Dalam banyak hadits, Rasulullah SAW banyak memberikan tauladan sikap kepada kaum fakir miskin. Bahkan istri-istri nabi seakan berlomba-lomba mengamalkan anjuran nabi untuk menyantuni kaum miskin dengan bersedekah, seperti Ummu Salamah.

Suatu hari, beberapa orang fakir datang secara bergerombolan mengetuk rumah Ummu Salamah untuk meminta. Mereka semua memakai pakaian yang compang-camping, tangannya selalu menengadah mengharap uluran tangan dari orang-orang kaya.

Namun bukannya mendapat pemberian, mereka yang mengetok pintu rumah Ummu Salamah justru mendapat makian dari pembantu Ummu Salamah bernama Ummu Husain. Sambil memaki, Ummu Husain juga mengusir gerombolan orang fakir.

“Pergilah...!,” kata Ummu Husain yang berdiri di depan pintu sambil mengarahkan telunjuknya ke luar rumah.

Dengan berat hati, orang-orang fakir itu pergi sampai menghilang dari pandangan mata. Karena perkataan Ummu Husain kencang, Ummu Salamah yang di dalam kamarnya mendengar dan segera melihat apa yang sedang terjadi.

Setelah mengetahui permasalahannya, kemudian Ummu Salamah dengan sabar dan kasih sayang menjelaskan dan meluruskan pemahaman pembantunya itu.

“Hai pembantuku, bukan begitu yang seharusnya kita lakukan. Berilah masing-masing mereka meski hanya satu butir kurma, dan kamu letakkan di tangan mereka masing-masing,” kata Ummu Salamah.

(Buku 99 Kisah Teladan Sahabat Perempuan Rasulullah – Manshur Abdul Hakim)
http://kisahislami.com/teguran-ummu-salamah-kepada-pembantunya/

Wednesday, August 8, 2012

Aisyah, Keutamaannya dan Keluasan Ilmunya

Beliau, Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq,atau juga biasa dipanggil dengan al-Shiddiqiyah yang dinisbatkan kepada al-Shiddiq yaitu orang tuanya sendiri Abu Bakar, kekasih Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.Seorang wanita mulia dan istimewa di mana sebagian dari ilmu agama kita ini bersumber darinya. Begitu banyak keutamaan dan kemuliaan yang dimilikinya, semoga Allah meridhainya dan mengumpulkannya dengan kekasihnya yang paling dicintainya yaitu Nabi kita Muhammad Shalallahu alaihi wassalam.

Semoga setelah membaca kisah ini hati kita akan tersentuh dan semakin menambah rasa cinta kita kepada istri-istri Beliau. Beberapa keutamaannya tidak dapat dihitung dengan jari sehingga hanya sebagian kecil yang dapat dipaparkan di sini, di antarnya adalah sebagai berikut:

1. Kecintaan Rasulullah kepadanya melebihi kecintaannya kepada istri-istri beliau yang lainnya yang semuanya ada 9 orang. Pada suatu ketika Rasulullah ditanya, “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Maka beliau menjawab, “Aisyah.” Hal ini didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Amr bin ‘Ash, di mana dia datang kepada Nabi seraya bertanya,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab,”Aisyah.” Kemudian Amr bin Ash bertanya, ”Siapakah orang lelaki yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, ”Bapaknya (Abu Bakar).” Dia bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab,”Umar ”, yakni Ibnu Al Khaththab, semoga Allah meredhai semuanya.

2. Malaikat menyampaikan salam untuknya bukan hanya sekali. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim darinya (Aisyah), di mana Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya Jibril telah mengucapkan salam untukmu.” Maka aku menjawab, ”Alaihis as-Salam.”

3. Allah telah menurunkan ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan pembebasan dirinya dari tuduhan dusta sebanyak sepuluh ayat dalam surat An-Nuur, di mana di dalamnya Allah menjelaskan bahwa laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, dan beliau tergolong wanita yang baik, membebaskan mereka dari tuduhan orang-orang yang menyebarkan tuduhan dusta itu, dan memberi kabar gembira bahwa bagi mereka surga, sebagaimana Aallah berfirman, ”... dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula. Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).“ An-Nuur:26.

4. Pada saat Rasulullah sakit, beliau minta untuk tinggal di kamarnya (aisyah), sehingga dia dapat mengurusnya sampai Allah memanggil ke hadirat-Nya (wafat). Karena itulah, maka Rasulullah meninggal di rumah Aisyah, di mana beliau meninggal dalam pangkuan dan dekapannya. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan darinya (Aisyah), dia berkata: ”Allah mewafatkan Rasulullah di mana kepala beliau berada di antara paru-paruku dan bagian atas dadaku, sehingga air liur beliau bercampur dengan air liurku.” Bagaimana hal itu bisa terjadi, Abdurrahman saudara laki-laki Aisyah masuk ke rumah mereka, di mana ketika itu dia membawa siwak (alat penggosok gigi), lalu Rasulullah melihatnya. Aisyah memahaminya bahwa beliau ingin bersiwak, dan dia mengambil siwak dari Abdurrahman dan melembutkannya, lalu Rasulullah bersiwak dengannya. Setelah Rasulullah meninggal, maka siwak itu dipakai Aisyah. Inilah pengertian yang dimaksud dengan “air liur beliau bercampur dengan air liurku.”

5. Berdasarkan sabda Rasulullah, ”Keutamaan Aisyah ataas wanita yang lainnya bagaikan keutamaan tsarid (roti yang dibubuhkan dan dimasukkan ke dalam kuah) atas makanan-makan yang lainnya.”
Berkenaan dengan keluasan dan keunggulan ilmunya, tidak ada seorang ulamapun yang mengingkarinya. Banyak kesaksian dan pengakuan yang dikemukakan para ulama berkenaan dengan kredibilitas keilmuwan Aisyah. Hal ini menunjukkan betapa luas dan mumpuninya ilmu yang dimilikinya. Di bawah kesaksian empat pakar ilmu pengetahuan dari kalangan ulama terdahulu:

1. Kesaksian putra saudara perempuannya (keponakannya) Urwah bin Zubeir tentang kredibilitas dan keunggulan ilmu yang dimiliki oleh Aisyah, sebagaimana yang diriwayatkan putranya Hisyam, ”Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pintar dalam ilmu fiqh (agama), kedokteran dan syair selain Aisyah."

2. Kesaksian Az-Zuhri yang juga berkenaan dengan kredibilitas dan keunggulan ilmu yang dimiliki Aisyah, seraya berkata, ”Seandainya diperbandingkan antara ilmu Aisyah denan ilmu seluruh istri Nabi dan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu Aisyah jauh lebih unggul.”

3. Kesaksian Masruq berkenaan dengan ilmu yang dimiliki Aisyah yang berkenaan dengan masalah faraidh, sebagaimana yang terungkap dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Darda darinya seraya berkata, “Aku melihat para syeikh dari kalangan sahabat Rasulullah bertanya kepada Aisyah tentang faraidh (ilmu waris)"

4. Kesaksian Atha’ bin Rabah, di mana ketika Allah berfirman, maka Aisyah merupakan orang yang paling faham, paling mengetahui dan paling bagus pendapatnya dibandingkan dengan yang lainnya secara umum.

5. Kesaksian Zubeir bin Awwam, di mana dia berkata sebagaimana hal ini telah diriwayatkan putranya Urwah, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pintar tentang Al-Qur’an , hal-hal yang difardhukan, halal dan haram, syair, cerita Arab dan nasab (silsilah keturunaan) selain Aisyah."

Dengan mengemukakan lima kesaksian yang dipaparkan oleh para ulama besar dari kalangan sahabat dan tabi’in cukuplah sebagai bukti yang menunjukkan kredibilitas dan keunggulan ilmu yang dimiliki oleh Aisyah dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh para Sahabat Rasulullah dan para tabi’in lainnya.

Aisyah meninggal pada bulan Ramadhan yang agung tepat pada tanggal 17 Ramadhan, pada usia 66 tahun, dan dimakamkan di Al-Baqi’ kawasan pemakaman yang terletak di kota Madinah. Hal ini sesuai dengan wasiatnya, di mana beliau berwasiat agar dimakamkan di temnpat pemakaman istri-istri Rasulullah. Semoga Allah meridhainya .

Sumber:
Ilmu dan Ulama Pelita Kehidupan Dunia dan Akhirat, Pustaka Azzam.
http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/05/aisyah-keutamaannya-dan-keluasan.html

Tuesday, July 24, 2012

Shafiyah binti Abdul Muththalib: Tinggalkan Kemewahan Menuju Medan Jihad

Rasulullah Saw. mengumpulkan keturunan Bani Abdul Muththalib di sebuah rumah. Lalu beliau mengajak mereka masuk Islam, "Hai Fathimah binti Muhammad! Hai Shafiyah binti Abdul Muththalib! Hai Bani Abdul Muththalib! Aku tidak dibekali Allah untuk kalian, kecuali mengajak kalian beriman kepada Allah dan mempercayai kerasulanku."

Di antara mereka ada yang langsung menyambut ajakan beliau, ada yang ragu-ragu, dan ada yang menolak mentah-mentah. Shafiyah binti Abdul Muththalib termasuk dalam kelompok yang langsung menyambut ajakan Rasulullah Saw. Sejak itu, Shafiyah dan anaknya Zubeir bin Awwam masuk ke dalam barisan kaum muslimin.

Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, Shafiyah yang keturunan bangsawan Bani Hasyim itu turut bersama mereka. Dengan ikhlas, ia tinggalkan Mekkah dengan segala kenangan indah, status kebangsawanan, kemegahan, dan kemewahan. Shafiyah tidak seperti wanita kebanyakan. Ia punya nyali yang besar, pemberani, dan penuh inisiatif. Selama bergabung dengan barisan kaum muslimin, Shafiyah selalu ikut di berbagai medan jihad.

Dalam Perang Uhud, Shafiyah turut berperang bersama Rasulullah dalam pasukan wanita. Tugasnya mengangkut air, menyediakan anak panah, dan memperbaiki busur. Di samping itu, ia amat ingin merekam seluruh jalannya pertempuran ke dalam ingatannya yang kuat.

Shafiyah selalu bersemangat dalam setiap pertempuran. Wajar, karena dalam barisan Islam ada keponakannya Muhammad Rasulullah, saudaranya Hamzah bin Abdul Muththalib, dan anak kandungnya Zubeir bin Awwam. Apalagi Perang Uhud merupakan perang terbesar setelah Perang Badar.

Saat Perang Uhud mulai berkecamuk dan pasukan kaum muslimin terdesak, Shafiyah melihat barisan mujahidin kocar-kacir menjauhi Rasulullah Saw. Hanya sedikit kaum muslimin yang tinggal bertahan bersama beliau. Sementara itu pasukan kaum musyrikin terus memburu hingga hampir mendekati Rasulullah. Secepat kilat Shafiyah melemparkan tempat air yang dibawanya. Dengan tangkas ia melompat bagaikan singa betina yang sedang melatih anaknya. Direbutnya pedang seorang muslim yang lari ketakutan. Shafiyah maju menyerang barisan musuh yang ada dihadapannya. Ia berteriak kepada kaum muslimin, "Pengecut kalian! Mengapa kalian tinggalkan Rasulullah!"

Melihat itu, Rasulullah menyuruh Zubeir agar mencegah ibunya. Tapi, Shafiyah tetap maju sambil menyabetkan pedangnya ke arah musuh yang mendekatinya. "Mengapa aku harus kembali! Aku mendengar mayat Hamzah dirusak. Padahal saudaraku tewas fi sabilillah," teriaknya kepada Zubeir. Akhirnya Rasulullah memerintahkan Zubeir agar membiarkan ibunya mencari mayat Hamzah bin Abdul Muththalib.

Ketika perang usai, Shafiyah menyaksikan mayat Hamzah rusak berat. Perutnya terkoyak, jantungnya hilang, hidung dan telinganya dipotong. Menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu, Shafiyah berdoa, memohon ampunan bagi Hamzah. Ia sabar dan menyerahkan semua itu kepada Allah.

Dalam Perang Khandaq, Shafiyah, para istri Rasulullah, isti para shahabat, dan anak-anak ditempatkan di pondok Hassan bin Tsabit. Pondok itu terletak di atas sebuah bukit, kokoh dan sukar ditembus musuh.

Ketika kaum muslimin sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi kemungkinan serangan dari pasukan kafir Quraisy dan sekutu-sekutunya, kaum Yahudi Bani Quraizhah mendatangi pondok tempat para wanita dan anak-anak dikumpulkan. Tujuannya untuk memata-matai dan mengacaukan konsentrasi pasukan muslimin. Pondok memang tidak dijaga, lantaran seluruh kekuatan kaum muslimin dikerahkan untuk menjaga Khandaq dan menghadapi musuh yang sangat banyak.

Shafiyah melihat sesosok bayangan bergerak di keremangan fajar. Ia curiga dengan bayangan yang mengendap-endap itu. Dan ia yakin bahwa itu bukan bayangan pasukan muslimin. Pandangan dan pendengarannya terus mengikuti gerak bayangan itu.

Kiranya seorang Yahudi sedang menuju pondok. Yahudi itu bergerak mengelilingi pondok, memeriksa kalau-kalau ada pengawal yang menjaga. Shafiyah segera mengetahui bahwa orang itu adalah mata-mata. Kaum Yahudi Bani Quraizhah melanggar perjanjian damai yang mereka buat dengan Rasulullah. Kini mereka terang-terangan membantu pasukan kafir Quraisy dalam memusuhi kaum muslimin. Seandainya musuh Allah yang satu ini tahu bahwa kami tanpa pengawal, pasti orang Yahudi akan menawan kami dan menjadikan kami budak,' gumamnya dalam hati.

Dengan cepat Shafiyah mengenakan pakaian tempur. Diambilnya sebuah tongkat, lalu ia turun mendekati pintu. Direnggangkannya pintu perlahan-lahan. Kemudian dari celah-celah pintu itu, ia mengamati si Yahudi. Pada saat yang tepat, Shafiyah memukul kepala si Yahudi dengan tongkat. Musuh Allah itu langsung jatuh. Dengan sigap, Shafiyah memburu dan memukulnya kembali hingga tiga kali. Seketika itu juga si Yahudi tewas.

Shafiyah lalu memenggal kepala si Yahudi dan menggelindingkannya dari puncak pondok ke hadapan kawan-kawannya yang tengah menunggu. Melihat kepala kawannya terpotong, mereka saling menyalahkan. Seorang dari mereka berkata, "Kita sudah tahu, Muhammad tidak akan meninggalkan kaum wanita dan anak-anak tanpa pengawal." Mereka pun angkat kaki lari ketakutan.

Wednesday, January 18, 2012

Calon Penghuni Surga

Suatu hari, Fatimah az-Zahra ra datang menemui Rasulullah SAW dan menanyakan tentang sosok perempuan yang menjadi calon penghuni surga. Melihat kedatangan Fatimah, Rasul pun menyambutnya dengan gembira. “Ada apakah gerangan putriku sehingga datang menemuiku?” tanya Rasul SAW. “Wahai ayahanda, siapakah calon penghuni surga?” tanya Fatimah. Sambil tersenyum, Rasul menjawab, “Calon penghuni surga itu adalah Mutiah.”

Mendengar jawaban Rasul itu, Fatimah pun sedih. Namun, Rasul segera menghiburnya dan mengabarkan bahwa putrinya itu akan selalu bersamanya di surga nanti. Mendengar hal itu, bergembiralah Fatimah. Namun, ia penasaran dengan jawaban Rasulullah SAW tentang Mutiah yang akan menjadi calon penghuni surga. Gerangan apakah yang membuat Mutiah layak mendapatkan kehormatan itu.

Suatu hari, Fatimah bersama Hasan, putranya, datang berkunjung ke rumah Mutiah. Dari balik pintu, Fatimah memberi salam dan dijawab oleh Mutiah. Lalu, Mutiah bertanya, “Siapakah itu?” Fatimah menjawab; “Saya, Fatimah bersama anak saya, Hasan.” Mendengar hal itu, Mutiah pun senang. “Alangkah senangnya menerima kedatangan putri dari seorang yang mulia,” jawab Mutiah. “Tapi mohon maaf, bisakah Anda datang besok karena saya belum dapat izin dari suami saya untuk menerima Hasan,” tambah Mutiah.

Dengan heran, Fatimah pun bertanya, “Bukankah Hasan anak kecil?” “Iya, tapi dia laki-laki dan saya belum dapat izin dari suami,” kata Mutiah. Atas hal itu, Fatimah pun memakluminya dan berjanji akan datang besok pagi.

Keesokan harinya, Fatimah datang lagi ke rumah Mutiah. Kali ini, dia bersama Hasan dan Husein. Namun, jawaban yang sama disampaikan Mutiah karena dia hanya mendapatkan izin untuk menerima Fatimah dan Hasan, tapi tidak untuk Husein. Lalu, Fatimah kembali pulang ke rumahnya dan berjanji akan datang lagi besok.

Esok harinya, Fatimah datang lagi bersama Hasan dan Husein. Setelah memberi salam dan menyampaikan kedatangannya bersama kedua anaknya, Mutiah pun menyambutnya dengan penuh gembira. Mutiah menyampaikan permohonan maaf atas sikapnya dua hari terakhir yang menolak kedatangan Fatimah ke rumahnya disebabkan belum adanya izin dari sang suami. Atas hal ini, Fatimah pun memakluminya.

Selama di rumah Mutiah, Fatimah tak menemukan suatu ibadah yang menunjukkan Mutiah layak mendapat kehormatan sebagai calon penghuni surga. Fatimah melihat sebuah cambuk di atas meja. Ia pun menanyakan hal itu kepada Mutiah. “Cambuk itu selalu aku letakkan di sisi suamiku,” ujar Mutiah. “Apakah suami suka memukulmu?” tanya Fatimah.

Mutiah menjawab bahwa suaminya adalah seseorang yang sangat sayang kepada dirinya. Lalu, mengapa cambuk itu diberikan kepada suaminya? “Saya memberikan cambuk itu padanya agar apabila dia melihat sesuatu yang salah dan kurang dari pelayanan yang kuberikan, dia bisa memukulku. Alhamdulillah, selama ini suamiku belum pernah mempergunakannya untuk mencambuk diriku,” jawab Mutiah.

Fatimah pun kagum akan kesetiaan dan kehormatan yang senantiasa dijaga oleh Mutiah bila suaminya sedang tidak berada di rumah. Karena itu, pantaslah Mutiah mendapat predikat calon penghuni surga. Wallahu a’lam.

Oleh Syahruddin El-Fikri
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/01/17/lxxipd-calon-penghuni-surga

Wednesday, December 28, 2011

Mendapatkan Pahala Haji hingga Hari Kiamat

Seorang tabiin bernama Abdullah bin Mubarak pernah bercerita :

Aku adalah seorang yang sangat suka menunaikan ibadah haji. Bahkan setiap tahun aku selalu berhaji. Pernah pada suatu hari seperti biasanya setiap aku akan menunaikan ibadah haji, aku mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan kepergianku. Aku pergi ke pasar dengan membawa lima ratus dinar hendak membeli seekor unta untuk perjalanan hajiku. Ternyata uangku tidak cukup, maka aku kembali ke rumah. Namun di tengah perjalanan aku melihat seorang wanita sedang berdiri di tempat sampah. Dia mengambil daging seekor ayam yang sudah mati dan membersihkan bulu-bulunya tanpa menyadari kehadiranku di dekatnya.

Aku menghampirinya dan berkata kepadanya, "Mengapa engkau melakukan ini, wahai hamba Allah?" Wanita itu menjawab, "Tinggalkan aku, dan urus saja urusanmu sendiri!"

Aku berkata, "Demi Allah, beritahukan kepadaku keadaanmu yang sebenarnya!" Wanita itu berkata, "Baiklah, akan kukatakan keadaanku yang sebenarnya karena engkau telah memaksaku dengan bersumpah atas nama Allah. Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah wanita Alawiyyah (keturunan Nabi Saw). Aku mempunyai tiga orang anak kecil dan suamiku telah meninggal dunia. Sudah tiga hari ini aku dan anak-anakku belum makan apa-apa. Aku sudah mencari sesuap nasi ke mana-mana demi tiga orang anakku, tetapi aku tidak menemukannya selain daging ayam yang sudah mati ini. Maka aku akan memasak daging ini karena ia halal untuk aku dan anak-anakku."

Ketika aku mendengar apa yang dikatakan wanita itu, sungguh bulu kudukku langsung berdiri tegak. Hatiku terasa tersayat-sayat oleh derita mereka. Aku berkata dalam hati, "Wahai Ibnu Mubarak, ibadah haji mana yang lebih mulia daripada menolong wanita ini?" Kemudian aku berkata kepada wanita itu, "Wahai wanita Alawiyyah, sesungguhnya daging ayam ini telah diharamkan untukmu. Bukalah bungkusanmu, aku ingin memberimu dengan sedikit pemberian." Lalu wanita itu mengeluarkan sebuah bungkusan dan aku pun menumpahkan semua uang dinarku ke dalam bungkusan itu.

Wanita itu serentak berdiri karena bahagia dan dia mendoakan kebaikan untukku. Kemudian aku pulang ke rumah, sementara keinginanku untuk pergi haji sudah pupus. Lalu aku menyibukkan diri dengan memperbanyak istighfar dan beribadah kepada Allah. Rombongan haji pun mulai pergi ke Baitullah.

Ketika jamaah haji telah pulang dari Makah, aku keluar rumah untuk menyambut mereka. Aku menyalami mereka satu per satu. Namun anehnya, setiap kali aku menyalami salah seorang dari mereka, dia selalu mengatakan, "Wahai Ibnu Mubarak, bukankah engkau melaksanakan haji bersama kami? Bukankah aku melihat kamu di tempat anu dan anu?"

Aku pun terheran-heran mendengar perkataan mereka. Setelah pulang ke rumah dan aku tidur malam harinya, aku bermimpi bertemu Rasulullah Saw. Beliau berkata kepadaku, "Wahai Ibnu Mubarak, engkau telah memberi uang dinarmu kepada salah seorang keturunanku. Engkau telah melapangkan kesusahannya, dan engkau telah memperbaiki kondisinya dan anak-anaknya. Maka Allah telah mengutus malaikat dalam rupamu. Malaikat itu menunaikan haji untukmu setiap tahun. Dan pahala untukmu akan mengalir terus hingga hari Kiamat."

Aku pun terbangun dari tidurku. Aku bersyukur dan memuji Allah atas segala karunia-Nya kepadaku.

Sumber : Buku "Amazing Baitullah" karangan Agus Haryo Sudarmojo

Wednesday, December 21, 2011

Dimanakah Tempatmu Kelak, Wahai Kawan ?

Di ujung senja yang memerah di gurun, udara masih terasa terik, dan perlahan-lahan mulai sejuk, saat menjelang datangnya malam. Lelaki itu bergegas menuju masjid. Menunaikan shalat Maghrib yang akan menjelang. Ia shalat dua rakaat. Sambil terus berdzikir, air matanya mengalir. “Di mana kelak aku berada?” ucapnya lirih. “Adakah aku akan mendapatkan tempat kemuliaan?” keluhnya.

Lelaki keturunan orang yang mulia itu kaya raya. Segalanya dimilikinya. Kekayaannya tak terhitung. Melimpah. Karena ia pandai berdagang. Semua pedagang berdagang dengannya. Keuntungannya tak henti-henti. Lelaki itu benar-benar sempurna, hartanya terus bertambah. Tetapi, kala senja ia nampak bersedih, menangis, dan terus menangis. Entah mengapa ia menangis? Sejatinya lelaki itu adalah lelaki yang shaleh dan zuhud dalam hidupnya.

Lelaki itu mengerti kelak akhir kehidupannya. Ia mengetahui orang-orang yang memiliki kekayaan dan istana, segalanya tak lagi berguna. Betapa istana yang megah dan mewah itu semuanya akan pupus, di saat datangnya kematian yang harus diterimanya. Betapa akhir kehidupannya itu, manusia hanyalah menempati sebuah tempat, yang tak lebih lebarnya satu meter dan panjangnya dua meter, yang ditutup dengan papan. Itulah kehidupan alam kubur. Siapapun adanya akan mengalami hal seperti itu. Tidak ada perbedaan antara raja dengan orang miskin.

Pakaian yang indah dan halus terbuat dari sutera, menjadi tak lagi berguna, semuanya akan ditanggalkannya. Siapa saja yang mati, hanyalah menggunakan kain kapan. Itulah pakaian kebesaran yang akan digunakan orang-orang sudah mati. Raja, orang kaya, orang miskin, dan jelata, semuanya hanyalah akan menggunakan kain kafan.

Ketika hidup di dunia, si kaya menggunakan kendaraan yang paling mewah, mungkin seekor unta yang paling baik, bulunya mengkilap, gemuk dan kuat. Tetapi, saat ajal tiba, dan kendaraan yang ditumpangi, tak lain hanyalah keranda, yang tak berharga. Inilah satu-satunya kendaraan yang akan mengantarkannya ke tempat terakhir dalam hidupnya.

Tidak ada lagi kesetiaan yang akan selalu menemani. Isteri–isteri yang cantik dan setia, tak akan menemaninya. Dialam kubur ia hanya sendirian. Tanpa siapa-siapa lagi. Kesetiaan hanya dalam kehidupan dunia. Janji hanya dalam kehidupan dunia. Tidak ada seorang suami atau isteri yang betapapun sangat setianya, mau menemaninya di alam kubur. Ia hanyalah sendirian. Sendirian bersama dengan binatang-binatang yang akan menggerogoti tumbuhnya yang sudah tidak dapat melakukan apa-apa.

Lelaki itu terus bertepekur di dalam masjid. Usai shalat Isya’ tak juga beranjak dari duduknya. Terus berdzikir dan bermunajat kepada Allah Azza Wa Jalla. “Di mana aku kelak berada?” keluhnya. Ia sangat kawatir Sang Pencipta murka, dan tidak mau menerimanya, dan menempatkan dirinya di tempat yang hina. “Ya Rabb, ampunilah segala dosa dan khilafku, dan jauhkanlah aku dari fitnah dunia, serta selamatkanlah aku dari siksamu,” keluhnya.

Allah Azza Wa Jalla memberikan karunia kekayaan yang sangat melimpah kepada lelaki itu. Perdagangannya selalu untung. Tanah pertaniannya yang sangat subur, di kelola para budaknya. Makin lama makin maju, dan hartanya semakin bertambah. Tetapi, lelaki itu tak menjadi lupa dan bersenang-senang dengan kekayaan yang dimilikinya. Sikapnya tak pernah berubah. Hartanya yang melimpah tak melupakan dari taqwanya kepada Allah Azza Wa Jalla.

Maka kekayaannya itu dimanfaatkannya untuk kaum muslimin. Kekayaannya dimanfaatkan untuk membangun jalan menuju akhirat. Sehingga, kekayaan itu menjadi indah baginya, karena semakin banyak kekayaan yang dimilikinya, semakin banyak pula sedekahnya kepada fuqara’. Ia tidak sombong, dan melakukan amal dengan sembunyi-sembunyi.

Di saat malam telah tiba, beliau memikul sekarung tepung di punggungnya, keluar menembus kegelapan malam, ketika orang-orang tidur nyenyak. Beliau berkeliling ke rumah para fuqara’ yang tak suka menadahkan tangannya. Pekerjaan itu ia lakukannya, sampai ajal menjemputnya. Tak pernah henti. Mungkin sesuatu yang tak pernah dimengerti oleh siapapun. Tapi, itulah dilakukan oleh seorang yang sudah zuhud terhadap kehidupan dunia.

Tidak heran banyak orang miskin di Madinah yang hidup tanpa mengetahui dari mana jatuhnya rezeki untuk mereka itu. Setelah lelaki itu meninggal mereka tak lagi menerima rezeki itu. Barulah mereka menyadari siapakah sesungguhnya gerangan manusia dermawan itu?

Sewaktunya jenazah lelaki itu dimandikan, terlihat ada bekas hitam dipunggungnya, sehingga bertanyalah mereka yang memandikannya. “Bekas apa ini?” Lalu, diantara yang hadir menjawab, “Itu adalah bekas karung-karung tepung yang selalu dipikulnya ke seratus rumah di Madinah ini.”

Orang-orang miskin lidahnya kelu, dan hanya dapat berdoa dalam hati, ketika ribuan lelaki mengiringi jenazahnya menuju tempat terakhirnya. Semuanya bersedih. Kekayaan yang melimpah itu, tak bersisa. Lelaki itu juga membebaskan seribu budak, dan memberikan hartanya kepada mereka.

Begitulah lelaki itu. Sikapnya terhadap kehidupan dunia. Tak lagi menolehnya. Sekalipun, begitu banyak harta yang dimilikinya. Itulah cucu Baginda Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, Zainal Abidin, yang sangat mulia.

Wallahu’alam…..

http://titianilahi.wordpress.com/2010/06/20/dimanakah-tempatmu-kelak-wahai-kawan/

Friday, November 18, 2011

Kecemburuan Ummahatul Mukminin

Rasulullah sudah berusaha hendak menghindarkan diri dari mereka (para istrinya), meninggalkan mereka, supaya sikap kasih sayang kepada mereka itu tidak sampai membuat tingkah laku mereka kian melampaui batas, dan sampai ada dari mereka yang mengeluarkan rasa cemburunya dengan cara yang tidak layak.

Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada istri-istri Nabi (Ummahatul Mukminin) itu sudah melampaui sopan santun sehingga ketika terjadi percakapan antara Rasulullah dengan Aisyah, Aisyah menolak menyatakan adanya persamaan rupa Ibrahim dengan Rasulullah. Dan hampir-hampir pula menuduh Maria yang bukan-bukan, yang oleh Nabi dikenal bersih.

Pernah terjadi ketika pada suatu hari Hafshah pergi mengunjungi ayahnya dan bercakap-cakap di sana, Maria datang kepada Nabi tatkala beliau sedang di rumah Hafshah dan agak lama. Ketika Hafshah kembali pulang dan mengetahui ada Maria di rumahnya, ia menunggu keluarnya Maria dengan rasa cemburu yang meluap-luap. Makin lama ia menunggu, cemburunya pun makin menjadi.

Ketika Maria keluar kemudian, Hafshah masuk menjumpai Nabi. "Saya sudah melihat dengan siapa kau tadi," kata Hafshah. "Engkau sungguh telah menghinaku. Engkau tidak akan berbuat begitu kalau tidak kedudukanku yang rendah dalam pandanganmu."

Rasulullah segera menyadari bahwa rasa cemburulah yang telah mendorong Hafshah mengungkapkan perasaannya, dan membicarakannya kembali dengan Aisyah atau Ummul Mukminin yang lain.

Dengan maksud hendak menyenangkan perasaan Hafshah, Rasulullah bahkan hendak bersumpah mengharamkan Maria buat dirinya, jika Hafshah tidak akan menceritakan apa yang telah disaksikannya itu. Hafshah berjanji akan melaksanakan. Namun kecemburuan begitu berkecamuk dalam hatinya, sehingga dia tidak sanggup lagi menyimpan perasaannya. Dan Hafshah pun menceritakan kejadian tersebut kepada Aisyah.

Begitu memuncaknya keadaan mereka, sehingga pada suatu hari mereka mengutus Zainab binti Jahsy kepada Nabi di rumah Aisyah dan dengan terang-terangan mengatakan bahwa beliau berlaku tidak adil terhadap para istrinya. Dan karena cintanya kepada Aisyah beliau telah merugikan yang lain.

Dalam berterus terang itu Zainab tidak hanya terbatas dengan mengatakan Nabi bersikap tidak adil di antara para istrinya, ia bahkan mencerca Aisyah yang ketika itu sedang duduk-duduk. Sehingga membuat Aisyah marah, namun ditenangkan oleh Rasulullah.

Namun Zainab begitu bersikeras menyerangnya dan mencerca Aisyah hingga melampaui batas, sehingga tak ada jalan lain bagi Nabi kecuali membiarkan Aisyah membela diri. Aisyah pun membalas kata-kata Zainab dan membuatnya terdiam.

Pada waktu-waktu tertentu pertentangan istri-istri Nabi itu sudah begitu memuncak, sebab beliau dianggap lebih mencintai yang seorang daripada yang lain. Sehingga Nabi bermaksud hendak menceraikan sebagian mereka.

Setelah Maria melahirkan Ibrahim, rasa iri hati pada mereka makin menjadi-jadi, lebih-lebih Aisyah. Dalam menghadapi kegigihan sikap mereka yang iri hati ini, Rasulullah —yang telah mengangkat tinggi derajat mereka— masih tetap bersikap lemah-lembut. Rasulullah tidak punya waktu untuk melayani sikap yang demikian dan membiarkan dirinya dipermainkan oleh sang istri. Mereka harus mendapat pelajaran dengan sikap yang tegas dan keras. Persoalan Ummahatul Mukminin itu harus dapat dikembalikan ke tempat semula.

Rasulullah harus kembali dalam ketenangannya berpikir, dalam menjalankan dakwahnya, seperti yang sudah ditentukan Allah kepadanya. Beliau hendak memberi pelajaran dengan meninggalkan mereka atau mengancam mereka dengan perceraian.

Akhirnya, selama sebulan penuh Nabi memisahkan diri dari mereka. Tiada orang yang diajaknya bicara mengenai mereka, juga tak seorang pun yang berani memulai membicarakan masalah mereka itu. Dan selama sebulan itu Rasulullah memusatkan perhatiannya pada upaya dakwah dan penyebaran Islam di Jazirah Arab.

Pada saat yang demikian, Abu Bakar dan Umar bin Khathab serta para mertua Nabi yang lain merasa gelisah sekali melihat nasib Ummahatul Mukminin. Mereka khawatir dengan kemarahan Rasulullah yang akan berakibat pula dengan kemurkaan Allah dan para malaikat.

Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa Nabi telah menceraikan Hafshah, putri Umar, setelah ia membocorkan apa yang dijanjikannya akan dirahasiakan. Desas-desus pun beredar di kalangan kaum Muslimin bahwa Nabi sudah menceraikan istri-istrinya. Pada saat yang sama, para istri Rasulullah pun gelisah pula. Mereka menyesal, yang karena terdorong oleh rasa cemburu, sampai sebegitu jauhnya menyakiti hati suami yang tadinya sangat lemah-lembut kepada mereka. Bagi mereka, Rasulullah adalah segalanya dalam hidup ini.

Kini Rasulullah menghabiskan sebagian waktunya dalam sebuah bilik kecil. Dan selama beliau dalam bilik itu, pelayannya yang bernama Rabah duduk menunggu di ambang pintu. Sudah sebulan lamanya Rasulullah dalam bilik itu sesuai dengan niatnya hendak meninggalkan para istrinya.

Ketika itu kaum Muslimin sedang berada dalam masjid dalam keadaan menekur. Mereka berbincang-bincang bahwa Rasulullah telah menceraikan istri-istrinya. Kesedihan mendalam membayang jelas pada wajah mereka.

Umar yang berada di tengah-tengah mereka lalu berdiri, hendak pergi ke tempat Nabi dalam biliknya. Dipanggilnya Rabah agar dimintakan izin hendak menemui Rasulullah. Namun Rabah tidak berkata apa-apa, yang berarti bahwa Nabi belum mengizinkan. Sekali lagi Umar mengulangi permintaannya. Namun Rabah tetap tidak memberikan jawaban.

Sekali ini Umar berkata lagi dengan suara lebih keras. "Rabah, mintakan aku izin kepada Rasulullah SAW. Kukira beliau sudah menduga kedatanganku ini ada hubungannnya dengan Hafshah. Sungguh, kalau beliau menyuruhku memenggal leher Hafshah, akan kupenggal."

Sekali ini Nabi memberi izin dan Umar pun masuk. Ketika Umar sudah duduk dan membuang pandang ke sekeliling tempat itu, ia menangis.

"Apa yang membuatmu menangis, Ibnul Khathab?" tanya Rasulullah lembut.

Yang membuat Umar menangis adalah melihat tikar tempat Nabi berbaring itu sampai membekas di rusuknya. Dan bilik sempit yang tiada berisi apa-apa selain segenggam gandum, kacang-kacangan dan kulit yang digantungkan.

Setelah mengatakan apa yang menyebabkannya menangis, dan Nabi mengatakan perlunya meninggalkan kehidupan duniawi, Umar pun kembali tenang.

"Rasulullah," kata Umar, "Apa yang menyebabkan tuan tersinggung karena para istri itu. Kalau mereka itu tuan ceraikan, niscaya Tuhan di sampingmu. Demikian juga para malaikat —Jibril dan Mikail— juga saya, Abu Bakar, dan semua orang-orang beriman berada di pihakmu."

Kemudian Umar terus bicara dengan Nabi sehingga bayangan kemarahannya berangsur hilang dari wajah beliau dan beliau pun tertawa. Setelah Umar melihat hal ini, ia kemudian menceritakan keadaan Muslimin yang ada di masjid serta apa yang mereka katakan, bahwa Nabi telah menceraikan istri-istrinya— Ummahatul Mukminin. Nabi mengatakan bahwa beliau tidak menceraikan mereka. Dan Umar minta izin untuk mengumumkan hal ini kepada orang-orang yang kini masih menunggu di masjid.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/08/22/lqc07n-sejarah-hidup-muhammad-saw-kecemburuan-ummahatul-mukminin

Thursday, October 27, 2011

Amalan Menjelang Tidur

Ummul Mukminin 'Aisyah meriwayatkan hadis mulia ini:

Rasulullah saw berkata kepadaku pada suatu malam, "Ya 'Aisyah, jangan berbaring tidur sebelum engkau melakukan empat ibadah ini: Pertama, membaca keseluruhan Al-Qur'an; Kedua, memperoleh ridha dari para Nabi yang mulia agar mereka memberi syafaat untukmu pada Hari Kebangkitan; Ketiga, menjadikan kaum beriman ridha terhadapmu; Dan keempat, menunaikan ibadah haji kecil." Kemudian beliau bangkit untuk mendirikan shalat dan berdoa tanpa memberiku waktu untuk bertanya.

Aku duduk di ranjang dan berpikir bagaimana mungkin melakukan empat amal yang diberkahi itu dalam waktu semalam. Ketika beliau selesai shalat dan berdoa, aku pun bertanya, "Ya Rasulullah, engkau lebih kucintai daripada kedua orangtuaku. Engkau melarangku tidur sebelem melakukan empat hal tadi. Bagaimana mungkin semua itu dapat diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat?"

Beliau tersenyum dan menjawab, "Hai 'Aisyah, bacalah surat Al Ikhlas yang mulia sebanyak tiga kali, pahalanya sama dengan membaca seluruh Al Qur'an. Jika engkau mewiridkan sholawat dan salam kepadaku dan para Nabi sebelumku, maka engkau akan mendapatkan syafaatku dan syafaat mereka pada Hari Kebangkitan. Agar seluruh Mukminin ridha kepadamu, mintalah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sedangkan haji kecil, engkau akan mendapatkan pahala yang sama dengannya jika engkau mewiridkan Subhaanallaah, Alhamdulillaah, Laa hawla walaa quwwata illa billaah, dan Allaahu Akbar."

Sumber:
Buku 'Allah, Nabi Adam & Siti Hawa' karangan Syaikh Muzaffer Ozak Al-Jerrahi

Tuesday, August 16, 2011

Sedikit Tentang Sayyidah Fathimah Az-Zahra

Beliau dijuluki Saydatun Nisa`i al-Alamin. Ayahnya Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wa‘Alaa Alihi Wa Sallam, ibunya Khadijah al-Kubra. Dilahirkan di Makkah pada Jum ’at Jumada Tsani. Wafat pada hari Selasa 3 Jumada Tsani tahun 11 Hijrah. Dimakamkan di Baqi, Madinah. Mempunyai 2 anak laki-laki (Hasan dan Husein) dan 2 anak perempuan (Zainab dan Ummu Kultsum).

Siti Fatimah Azzahra putri kesayangan Rasullallah Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam., hidup zuhud dan tekun beribadah, karena pengabdiannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah menjadi contoh teladan bagi seluruh ummat Islam. Karena pengabdian dan penyerahan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka beliau terkenal dengan sebutan “Al-Batul” orang yang sangat tekun beribadah.

Asma binti Umais, berkata: ”Pada suatu hari aku berada di rumah siti Fatimah. Ketika itu siti Fatimah memakai seuntai kalung pemberian suaminya Imam Ali bin Abi Thalib, hasil pembahagian barang ganimah yang diterimanya. Ketika itu Rasulallah Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam datang ke rumah Fatimah. Ketika Rasulallah Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam melihat kalung yang dipakainya, baginda bersabda: ”Hai anakku, apakah engkau bangga disebut orang putri Muhammad, sedangkan engkau sendiri memakai jababirah?”(perhiasan yang biasa dipakai wanita bangsawan.)
Pada waktu itu juga, siti Fatimah melepaskan kalungnya untuk dijual. Hasil penjualan kalung tersebut ia membeli seorang hamba sahaya yang kemudian hamba sahaya itu di merdekakannya. Ketika Rasulallah Shallahu ‘Alaihi Wa ‘Alaa Alihi Wa Sallam mendengarnya, baginda sungguh gembira."

IBADAH SAYYIDAH FATHIMAH AZZAHRA

Al Hasan putra siti Fatimah Azzahra mengatakan:
”Tiap malam Jum’at aku melihat ibuku berada di mihrabnya. Ia terus menerus beruku’ dan bersujud hingga cahaya pagi mulai terang. Aku juga mendengar ibuku selalu berdoa untuk seluruh mukminin dan mukminat, menyebutkan sebahagian nama-nama mereka dan banyak berdoa untuk mereka. Ia tidak berdoa apa-apa untuk dirinya sendiri. Aku pernah bertanya : ”Apa sebab ibu tidak berdoa bagi diri ibu sendiri seperti halnya ibu berdoa untuk orang lain?” Ibu hanya menjawab: ”Tetangga dulu, baru keluarga sendiri ……”

Seorang ahli sufi terkenal Hasan Al-Basri pernah mengatakan:
”Dalam ummat ini, tidak ada wanita yang tekun beribadah, melebihi Siti Fatimah Azzahra, ia terus menerus solat hingga kakinya bengkak.”

www.pondokhabib.wordpress.com
http://zidniagus.wordpress.com/2010/06/15/sedikit-tentang-sayyidah-fathimah-az-zahra/

Thursday, May 5, 2011

Wasiat Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Nabi Muhammad S.A.W. bersabda, ”Sebaik-baiknya manusia di sisi Allah SWT adalah yang paling memberi manfaat di antara mereka kepada manusia, dan orang yang paling buruk di sisi Allah SWT orang yang panjang umurnya tapi buruk amalnya. Dan sebaik-baik manusia itu orang yang panjang umurnya dan bagus amalnya “.

Nabi Muhammad S.A.W. bersabda :

Wahai Ali, orang yang celaka itu ada tiga tanda :
- Memakan makanan yang haram
- Menjauhi orang ‘alim
- Shalatnya untuk sendiri

Wahai Ali, orang yang berbuat dosa itu ada tiga tanda :
- Suka membuat kerusakan (suka mengacau)
- Menyusahkan hamba-hamba Allah
- Menjauhi petunjuk.

Wahai Ali, orang zholim itu ada tiga tanda :
- Dia tidak memperdulikan sesuatu yang dia makan
- Mengerasi orang yang berhutang kepadanya
- Bertindak keras kepada orang berhutang apabila dia mendapatkannya .

Wahai Ali, orang munafik itu ada tiga tanda :
- Jika berkata dia dusta
- Apabila janji dia menyalahi janjinya
- Apabila di amanatkan dia berkhianat. Dan tidak berguna kepadanya nasehat .

Wahai Ali, bagi orang mu’min ada tiga tanda :
- Bersegera dalam taat kepada Allah
- Menjauhkan segala yang diharamkan
- Berbuat baik kepada orang yang berlaku buruk kepadanya .

Wahai Ali,
- Barangsiapa makan barang yang halal, jernilah agamanya, lembut hatinya dan terbuka do’anya
- Barangsiapa makan barang yang subhat, keruh agamanya dan gelap hatinya.
- Barangsiapa makan barang yang haram matilah hatinya. menipis agamanya, lemah keyakinannya, Allah tutup do’anya dan akan mengurang ibadahnya.

Wahai Ali,
- Senantiasa orang yang beriman itu tambah meningkat dalam agamanya selama ia tidak makan barang yang haram,
- Barangsiapa yang menjauhkan diri dari Ulama, maka akan mati hatinya (padam cahaya hatinya) dan akan buta ia terhadap perkara-perkara ibadah kepada Allah SWT.

Wahai Ali,
- Jauhilah olehmu kemarahan, karena sesungguhnya kemarahan itu dari Syaithan,
dan dia akan menguasai dirimu ketika engkau dalam keadaan marah itu.
- Jauhilah olehmu dari sumpahan orang yang teraniaya, karena sesungguhnya Allah SWT akan mengabulkan sumpah itu, sekalipun dia orang kafir, karena kekafiran itu akan tetap pada dirinya.

Wahai Ali,
- Jangan engkau banyak bergurau, karena hal itu akan menghilangkan kewibawaanmu.
- Jangan engkau suka berbohong, karena hal itu akan menghilangkan cahayamu.
- Jauhilah olehmu dua sifat, yaitu kejemuan dan kemalasan, karena jika engkau jemu, engkau tidak akan sabar dalam menegakkan kebenaran yang haq; dan jika engkau malas, maka engkau tidak akan dapat melaksanakan kewajiban kamu yang haq

Oleh karena itu Wahai Ali, manfaatkanlah empat perkara, sebelum datang empat perkara, yaitu :
1. Manfaatkanlah masa mudamu sebelum engkau menjadi tua
2. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum engkau jatuh sakit
3. Manfaatkanlah masa jayamu sebelum engkau miskin
4. Manfaatkanlah masa hidupmu sebelum engkau datang ajalmu .

Wahai Ali, ada tiga perkara termasuk budi pekerti mulia dari dunia yaitu :
1. Memaafkan orang yang menzholimimu
2. Menyambung silaturahmi kepada orang yang memutuskannya
3. Menguasai amarah terhadap orang yang berbuat kejahilan padamu .

Wahai Ali, ada tujuh perkara, itu ialah :
1. Sempurna wudlu’nya
2. Sempurna shalatnya
3. Meng-infaqkan zakat hartanya
4. Pandai mengekang hawa nafsu amarahnya
5. Pandai menjaga lidahnya
6. Selalu memohon ampun atas dosa-dosanya
7. Pandai memberi nasehat dan membimbing ahli keluarganya .

Wahai Ali, empat perkara yang barangsiapa memilikinya, Allah akan sediakan baginya bangunan yang khusus di Syurga, yaitu :
1. Melindungi anak yatim
2. Menasehati orang dhaif
3. Melindungi serta menyayangi kedua orang tua
4. Lemah lembut kepada pembantu-pembantunya

Berbaik Sangka adalah Bagian dari Iman

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha pernah dituduh berselingkuh dengan Shofwan bin Muatthal r.a. Dalam sejarah, peristiwa itu dikenal dengan nama Hadits al-Ifk (Gossip Murahan). Namun, Allah swt. membebaskan Aisyah dari tuduhan keji itu dengan menurunkan wahyu kepada Rasulullah saw. (lihat al-Quran surat an-Nur/24: 11-26)

Ketika peristiwa itu sedang heboh, berkatalah istri Abu Ayyub kepada suaminya, ‘Wahai suamiku, apakah engkau mendengar apa yang diomongkan orang tentang Aisyah?’

Abu Ayyub, sang suami, menjawab, ‘Ya, aku mendengarnya. Namun, semua omongan itu dusta belaka’.

Lalu Abu Ayyub balik bertanya kepada istrinya, ‘Engkau sendiri, wahai istriku, apakah mungkin melakukan selingkuh?’

Istrinya menjawab dengan tegas, ‘Demi Allah, aku tidak mungkin melakukannya!’

Abu Ayyub berkata, ‘Baguslah kalau begitu. Engkau saja tidak mungkin melakukannya, apalagi Aisyah. Tentu saja, Aisyah lebih baik dari kamu’.

Saudaraku,

Meskipun Allah sudah memberikan pembelaan terhadap Aisyah, namun ada kelompok tertentu yang sampai saat ini masih mendiskreditkan Aisyah. Mereka masih mengaku Muslim. Sebenarnya, mereka adalah kelompok yang tidak mempercayai al-Quran dan tidak mencintai Muhammad saw. Mereka adalah kelompok yang hatinya penuh prasangka, padahal prasangka lebih banyak tidak benarnya. Mereka tidak mendahulukan prasangka baik, padahal bersangka baik adalah bagian dari iman.

http://bangaziem.wordpress.com/2010/07/08/berbaik-sangka-adalah-bagian-dari-iman/

Tuesday, May 3, 2011

Aku Mau Tinggalkan Dunia dalam Sujudku

SUATU malam ketika aku sedang nyenyak tidur tiba-tiba aku melihat seolah-olah ayahanda menjelma di hadapanku. Perasaan kasih pada ayahanda tidak dapat ditahan-tahankan lagi, lalu aku berteriak: “Ayah… sudah lama tiada berita dari langit sejak ayahanda tiada!”

Waktu itu aku terlalu rindu setelah beberapa hari ayahanda wafat. Ketika aku sedang memanggil-manggil ayahanda, muncul pula para malaikat bersaf-saf lantas menarik tanganku, membawa aku naik ke langit. Pada saat aku mendongak tampaklah istana-istana indah yang dikelilingi taman-taman indah serta anak-anak sungai mengalir sejauh mata memandang.

Keindahan istana demi istana dan taman demi taman berjajaran di hadapan mata begitu mengasyikkan. Dari celah pintu-pintu istana tersebut menjelmalah para bidadari seolah-olah patung bernyawa yang sangat jelita, sentiasa tersenyum dan bergelak ketawa. Bidadari itu berkata kepadaku: “Selamat datang wahai makhluk yang diciptakan syurga untuknya, dan karena ayahanda kamu, kami diciptakan…”

Malaikat itu terus membawa aku naik ke langit berikutnya sehingga memasuki sebuah tempat yang dipenuhi istana-istana yang lebih indah daripada sebelumnya. Cahayanya bergemerlapan.

Dalam setiap istana itu terdapat ruang-ruang berisi pelbagai perhiasan indah yang belum pernah dilihat mata, tidak terdengar di telinga dan tidak pernah tersirat di hati. Penghuni istana-istana ini senantiasa bergembira, bergelak ketawa dan ceria. Di istana itu terdapat pelbagai kain sutera tipis dan tebal. Juga terdapat selimut-selimut daripada sutera dengan pelbagai warna dan corak.

Di atas rak-rak kelihatan pelbagai jenis gelas diperbuat daripada emas dan perak yang sungguh menawan. Pelbagai jenis hidangan makanan, buah-buahan serta air minuman yang lezat dan enak tersedia untuk dimakan. Pemandangan di taman-tamannya juga sangat memukau dengan aliran sungai yang warnanya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu dan baunya lebih semerbak daripada kesturi.

Aku yang keheranan dan takjub lantas bertanya: “Untuk siapakah tempat-tempat indah sebegini dicipta? Apa nama sungai-sungai yang harum mewangi ini?”

Malaikat-malaikat itu menjawab, “Tempat ini adalah Firdaus, tempat paling tinggi dan tiada lagi syurga di atasnya. Syurga Firdaus ini khusus untuk singgahsana ayahandamu, semua rasul, nabi, para syuhada dan syiddiqun yang dicintai Allah. Sungai ini bernama al-Kautsar yang telah Allah janjikan kepada ayahandamu.”

Aku bertanya lagi: “Di mana ayahandaku?”

Malaikat-malaikat menjawab: “Sebentar lagi ayahandamu akan datang menjemputmu!”

Tidak lama kemudian aku melihat istana-istana yang sangat putih dan permadani yang sangat indah. Tiba-tiba aku sudah berada di atas permaidani yang terbentang di atas singgahsana. Aku melihat ayahandaku sedang berehat di atas singgahsana tersebut dikelilingi sekelompok orang yang tidak dikenali. Ayahanda menarik tanganku dan mencium dahiku berkali-kali.

Ayahanda berkata: “Selamat datang wahai puteriku!” Lalu ayahanda meletakkan aku di atas pangkuannya dan berkata lagi: “Wahai puteriku, tidakkah engkau lihat apa yang telah dijanjikan Allah kepadamu dan yang akan engkau peroleh?”

Ayahanda menunjukkan istana-istana yang dihiasi bermacam-macam hiasan yang indah menawan serta berkilau-kilauan, sejauh mata memandang. Ayahanda berkata: “Inilah tempat tinggalmu, kediaman suamimu, kedua-dua anakmu serta orang-orang yang mencintaimu dan mencintai mereka. Bergembiralah… engkau akan mengikut ayahanda datang ke sini beberapa hari lagi…”

Aku berkata: “Kalau begitu senanglah hatiku dan bertambah rindu pada ayahanda.”

Selepas berjumpa beberapa saat dengan ayahanda, aku terjaga. Tubuhku menggigil dan terasa takut yang amat sangat. Aku masih teringat-ingat bisikan ayahanda. Aku akan mengikut langkah ayahanda beberapa hari lagi. Aku masih ingat ayahanda berkata perkara yang sama sebelum wafat. Ayahanda pernah membisikkan bahawa akulah orang pertama yang menyahut panggilan Ilahi selepasnya.

Sejak hari ayahanda wafat aku selalu menangis dan bersedih. Perasaan sedih makin terasa selepas bermimpi bertemu ayahanda. Aku tahu tidak lama lagi aku akan meninggalkan dunia fana ini untuk bersama ayahanda tercinta di akhirat yang kekal, aman dan sentosa.

Aku menceritakan mimpi tersebut pada suamiku dan juga pembantuku Asma binti Umays. Aku beritahu saat ajal hampir tiba. Asma menunjukkan pelepah kurma basah untuk membuat usungan seperti yang dilihat dibuat di Habshah.

Aku tersenyum saat melihat keranda itu. Aku berwasiat supaya jenazahku nanti dikebumikan pada malam hari agar tiada seorang pun yang marah apabila melihat jenazahku. Aku juga meminta suamiku supaya menikahi Umamah, saudara perempuanku. Umamah menyayangi anakku seperti aku menyayangi mereka.

Setelah merasa saat ajal hampir tiba aku membawa dua orang anakku menziarah makam ayahanda. Tubuhku terasa sangat lemah untuk melangkah. Tapi aku paksakan juga untuk bersembahyang dua rakaat antara mimbar dan makam ayahanda.

Tidak lama lagi jasadku akan berpisah dengan roh. Aku akan meninggalkan dua puteraku. Lalu aku peluk dan cium kedua-duanya bertubi-tubi. Sayang, ibumu terpaksa pergi dulu…

Selamat tinggal sayangku, puteraku dan suami tercinta. Biarlah aku menghadap Ilahi tanpa tangisan siapapun. Aku tidak sanggup melihat tangisan puteraku dan suamiku. Biarlah mereka berada di sisi makam ayahanda dan suamiku bersembahyang. Kalau boleh aku mau tinggalkan dunia ini dalam bersujud pada Ilahi.

Aku terus meninggalkan dua puteraku dan membiarkan suamiku bersembahyang di masjid. Aku mengambil ramuan hanuth, sejenis pengawet mayat yang ayahandaku biasa gunakan. Aku siramkan air ramuan itu ke seluruh tubuhku. Kemudian aku memakai kain sisa kafan ayahandaku. Selepas itu sekali lagi aku memanggil Asma binti Umays yang sentiasa mengurus dan merawatku.

Pada Asma aku berpesan, “Wahai Asma, perhatikanlah aku. Sekarang aku hendak masuk ke rumah membaringkan tubuhku sekejap. Jika aku tidak keluar, panggillah aku tiga kali dan aku akan menjawab panggilanmu. Tetapi jika aku tidak menjawab, ketahuilah aku telah mengikut jejak langkah ayahandaku!”

Setelah sejam berlalu, Asma memanggil-manggil nama wanita itu tetapi tiada jawaban sama sekali. Ketika pembantu itu masuk, dia terkejut apabila melihat wanita kurus cengkung itu meninggal dunia dalam sujudnya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…

***********

Aku dalam cerita di atas ialah Fatimah az-Zahra, anak Rasulullah dengan isteri pertamanya Siti Khadijah. Fatimah meninggal dunia dalam usia 28 tahun setelah 40 hari Rasulullah s,a.w. wafat dan jenazahnya dimakamkan di perkuburan Baqi’ di Madinah. Masih adakah wanita solehah seperti Fatimah di zaman moden ini?

(aliajwad.hadithuna.com)
http://menjadimuslim.info/aku-mahu-tinggalkan-dunia-dalam-sujudku.html

Khadijah binti Khuwalid

By: M. Najamudin Ridha

Khadijah berasal dari golongan pembesar Mekkah. Kawin dengan Muhammad, ketika berumur 40 tahun, manakala Muhammad berumur 25 tahun. Khadijah merupakan wanita kaya dan terkenal. Khadijah bisa hidup mewah dengan hartanya sendiri. Meskipun memiliki kekayaan melimpah, Khadijah merasa kesepian hidup menyendiri tanpa suami, karena suami pertama dan keduanya telah meninggal.

Pada suatu hari, saat pagi buta, dengan penuh kegembiraan ia pergi ke rumah sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal. Ia berkata, "Tadi malam aku bermimpi sangat menakjubkan. Aku melihat matahari berputar-putar di atas kota Mekkah, lalu turun ke arah bumi. Ia semakin mendekat dan semakin mendekat. Aku terus memperhatikannya untuk melihat kemana ia turun. Ternyata ia turun dan memasuki rumahku. Cahayanya yang sangat agung itu membuatku tertegun. Lalu aku terbangun dari tidurku". Waraqah mengatakan, "Aku sampaikan berita gembira kepadamu, bahawa seorang lelaki agung dan mulia akan datang meminangmu. Ia memiliki kedudukan penting dan kemasyhuran yang semakin hari semakin meningkat". Tak lama kemudian Khadijah ditakdirkan menjadi isteri Muhammad.

Ketika Muhammad masih muda dan dikenal sebagai pemuda yang lurus dan jujur sehingga mendapat julukan Al-Amin, telah diperkenankan untuk ikut menjualkan barang dagangan Khadijah. Hal yang lebih banyak menarik perhatian Khadijah adalah kemuliaan jiwa Muhammad. Khadijah lah yang lebih dahulu mengajukan permohonan untuk meminang Muhammad, yang pada saat itu bangsa Arab jahiliyah memiliki adat, pantang bagi seorang wanita untuk meminang pria dan semua itu terjadi dengan adanya usaha orang ketiga, yaitu Nafisah Binti Munyah dan peminangan dibuat melalui paman Muhammad yaitu Abu Thalib. Keluarga terdekat Khadijah tidak menyetujui rencana pernikahan ini. Namun Khadijah sudah tertarik oleh kejujuran, kebersihan dan sifat-sifat istimewa Muhammad ini, sehingga ia tidak mempedulikan segala kritikan dan kecaman dari keluarga dan kerabatnya.

Khadijah yang juga seorang yang cerdas, mengenai ketertarikannya kepada Muhammad mengatakan, "Jika segala kenikmatan hidup diserahkan kepadaku, duniakekuasaan para raja Iran dan Romawi diberikan kepadaku, tetapi aku tidak hidup bersamamu, maka semua itu bagiku tak lebih berharga daripada sebelah sayap seekor nyamuk. dan

"Sewaktu malaikat turun membawa wahyu kepada Muhammad maka Khadijah adalah orang pertama yang mengakui kenabian suaminya, dan wanita pertama yang memeluk Islam. Sepanjang hidupnya bersama Muhammad, Khadijah begitu setia menyertainya dalam setiap peristiwa suka dan duka. Setiap kali suaminya ke Gua Hira', ia pasti menyiapkan semua perbekalan dan keperluannya. Seandainya Muhammad agak lama tidak pulang, Khadijah akan melihat untuk memastikan keselamatan suaminya. Sekiranya Muhammad khusyuk bermunajat, Khadijah tinggal di rumah dengan sabar sehingga Muhammad pulang. Apabila suaminya mengadu kesusahan serta berada dalam keadaan gelisah, beliau coba sekuat mungkin untuk mententram dan menghiburkan, sehingga suaminya benar-benar merasai tenang. Setiap ancaman dan penganiayaan dihadapi bersama.

Dalam banyak kegiatan peribadatan Muhammad, Khadijah pasti bersama dan membantunya, seperti menyediakan air untuk mengambil wudhu. Muhammad menyebut keistimewaan terpenting Khadijah dalam salah satu sabdanya, "Di saat semua orang mengusir dan menjauhiku, ia beriman kepadaku. Ketika semua orang mendustakan aku, ia meyakini kejujuranku. Sewaktu semua orang menyisihku, ia menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepadaku." Khadijah telah hidup bersama-sama Muhammad selama 24 tahun dan wafat dalam usia 64 tahun 6 bulan.

Friday, April 29, 2011

Aku Hanyalah Bendahara

SETELAH bertahun-tahun perjuangan dan penderitaan, misi suci Rasulullah SAW akhirnya meraih kejayaan di semenanjung Arab. Panji-panji Islam berkibar di wilayah-wilayah yang luas meliputi cakrawala Persia dan Syria. Harta yang berlimpah-ruah mengalir ke Madinah dari berbagai negeri-negeri persemakmuran Islam. Di antara putra-putri Rasulullah SAW, hanya Fatimah yang masih hidup saat itu.

Sang ayah sangat mencintai putri satu-satunya itu. Setiap kali Fatimah datang, Rasulullah selalu menerimanya dengan penuh kasih sayang. Demikian juga Fatimah, setiap kali datang ia selalu merebahkan dirinya dalam dekapan sang ayah. Jika ia datang, Rasulullah SAW sering mendudukkan Fatimah di samping beliau sembari menyeka peluh yang membasahi wajah putrinya dengan sapu tangannya atau meraba dahinya dan mengecek kesehatan sang putri.

Suatu hari Fatimah datang menemui Rasulullah SAW. Setelah saling menanyakan kabar dan kesehatan masing-masing, Fatimah berkata kepada sang ayah dengan nada mengeluh, “Ayah, terlalu banyak mulut yang harus disuapi di rumahku. Aku dan suamiku, tiga putra kami, empat keponakan, seorang pembantu, belum tamu-tamu yang datang silih berganti. Aku harus memasak sendirian untuk mereka semua. Aku merasa sangat letih dan kelelahan. Aku mendengar banyak tawanan wanita yang baru saja datang ke Madinah. Jika ayah bersedia memberiku salah satu dari mereka untuk membantuku, itu akan menjadi pertolongan yang sangat berharga bagiku.”

Rasulullah SAW menjawab permintaan putrinya itu dengan suara parau, “Sayangku, semua kekayaan dan tawanan perang yang engkau lihat adalah milik masyarakat muslim. Aku hanyalah bendahara, tugasku adalah mengumpulkan mereka dari berbagai wilayah dan membagi-bagikan mereka kepada orang-orang yang berhak. Dan engkau bukan termasuk yang memiliki hak, anakku, oleh karena itu aku tidak bisa memberimu sesuatu pun dari aset negara ini.“

Kemudian beliau melanjutkan, “Dunia ini adalah tempat untuk beramal. Lakukan tugas-tugasmu dengan baik. Jika engkau merasa lelah, ingatlah Allah dan mintalah pertolongan kepada-Nya. Dia akan memberimu ketabahan dan kekuatan.”

Referensi:
1.Hirak Har, Abu Dawud
2.M. Ibrahim Khan, Kisah-kisah Teladan Rasulullah, Para Sahabat dan Orang-orang Saleh
http://cara-muhammad.com/tag/kisah-2/

Thursday, April 21, 2011

Ketegasan Rasulullah SAW

Oleh : Agustiar Nur Akbar *)

Suatu ketika di zaman Rasulullah SAW pada masa ‘Fathul Makah’ (pembebasan kota Mekah), ada seorang wanita Quraisy yang mencuri. Wanita tersebut seorang bangsawan dari Bani Makhzum. Mereka bingung dalam memutuskan perkara tersebut.

Dalam perundingan salah seorang dari mereka mengusulkan untuk membicarakannya kepada Usamah. Melalui Usamah mereka berniat untuk memintakan syafa’at atau ampunan dari Rasulullah SAW atas wanita tersebut. Mereka tahu bahwa Usamah adalah salah seorang yang dicintai oleh Rasulullah SAW. Berharap Rasulullah mengabulkan permintaan Usamah.

Ketika Usamah menyampaikan kepada Rasulullah SAW perihal keinginan mereka. Rasulullah SAW menjawab, “Apakah engkau hendak membela seseorang agar terbebas dari hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT?”

Setelah itu Rasulullah SAW berdiri dan berkhutbah, “Wahai manusia sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah, apabila seorang bangsawan mencuri, mereka biarkan. Akan tetapi apabila seorang yang lemah mencuri, mereka jalankan hukuman kepadanya. Demi Dzat yang Muhammad berada dalam genggaman-Nya. Kalau seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri. Niscaya aku akan memotong tangannya.”

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan agar memotong tangan wanita tersebut. Setelah itu wanita tersebut bertaubat dan menikah. (HR Bukhari Muslim)

Di sini sangat jelas sekali bagaimana ketegasan Rasulullah SAW dalam menjalankan perintah Allah swt. Bagaimana Rasulullah saw bersikap terhadap yang hak dan yang bathil. Rasulullah SAW tidak mengenal istilah kolusi, korupsi dan nepotisme.

Dalam menegakan hukum yang bertujuan tercapainya keadilan serta kemashlatan bersama. Rasulullah SAW tidak pandang bulu, tidak melihat latar belakang. Tidak melihat apakah ia pejabat, atau bangsawan. Orang yang dekat dan dicintai Rasulullah saw tidak menjadi jaminan untuk lolos dari hukuman.

Fatimah binti Muhammad, putri tercinta Rasulullah SAW pun tak luput dari hukuman jikalau ia mencuri. Bahkan beliau sendiri yang akan menghukumnya. Terlihat bagiamana Rasulullah SAW bersikap profesional dalam melaksanakan tugasnya.

Kekuasaan, kemuliaan, dan keutamaan pada dirinya tidak digunakan secara semena-mena. Beliau tidak melebihkan satu dengan yang lainnya jika sudah memasuki ranah hukum. Termasuk darah dagingnya sendiri yang beliau cintai.

Inilah sosok pemimpin sejati dan profesional; mempunyai sikap tegas dalam memutuskan suatu perkara. Bukan saja istikaomah serta memegang teguh aturan-aturan Illahi.

Rasulullah SAW juga bersikap adil terhadap umatnya.Semoga di kemudian hari kita dapat menemukan pemimpin yang mempunyai jiwa kepemimpinan seperti Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bish-shawab.

*) Penulis adalah mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Kairo, Mesir
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/04/20/ljxfxv-ketegasan-rasulullah-saw

Monday, November 29, 2010

Rumah di Surga

(Asyiah begitu menderita di dalam istana yang penuh dengan orang-orang yang bermaksiat sehingga dia menginginkan rumah di Surga)

Abdullah bin Abbas menceritakan, pada satu hari Rasulullah saw. menjelaskan mengenai empat garis di atas tanah, lalu Rasulullah saw. bertanya, "Apakah engkau mengetahui garis ini garis apa?" Maka para Shahabat pun menjawab, "Engkau lebih tahu wahai Rasulullah," maka Rasulullah saw. pun berkata, "sesungguhnya ini menggambarkan hanya ada empat wanita terbaik di dunia ini."

Khadijah binti Khawalid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asyiah binti Mazahim (istri Fir'aun).

Asyiah begitu lama menderita di bawah cengkraman Fir'aun yang kejam. Bersuamikan lelaki yang kejam tentu saja membuat siapapun wanita menjadi sangat menderita, walaupun kekejaman terhadap istri tidak digambarkan dalam kisah para Shahabiyah, (walau ada sebagian yang menceritakan bahwa akhirnya Asyiah syahid karena dibunuh dengan cara menariknya dengan empat ekor kuda dari segala penjuru atas perintah Fir'aun yang kejam).

Namun selama dalam kekuasaan Fir'aun, sikap kejamnya tidak ditunjukan pada Asyiah, bahkan Asiah membujuk Fir'aun untuk menerima Musa kecil dalam penjagaannya padahal ketika itu sedang diberlakukan undang-undang baru yaitu membunuh bayi lelaki di Mesir.

Namun kecintaan Fir'aun kepada Asyiah membuatnya mampu untuk bukan hanya membawanya namun juga memeliharanya, dan tanpa disadari Firaun, seorang musuh utamanya malah tinggal dalam rumahnya.

Penderitaan Asyiah yang bersuamikan berhala membuatnya menjadi istri yang taat diam di dalam rumah walaupun suaminya sangat kejam, tidak ada sedikitpun keinginan baginya untuk membalas kekejaman itu dengan memboikot, membentak-bentak, marah-marah ataupun kabur dari rumah, semua kekejaman yang dilakukan suaminya di depan matanya tiada terkira dilalui Asyiah dengan sabar, bertahun-tahun terperangkap dalam istana yang dingin tidak ada ketenangan dan keberkahan menyelimutinya.

Namun ditengah kepediahan Asyiah bersuamikan Fir'aun, Islam dan taqarrubilalallah-nya begitu membuatnya menjadi sosok tegar seorang wanita yang sangat beriman, sampai akhirnya tiada yang diminta kecuali satu, “Ya Allah, bangunkan aku rumah di Surga”.

Subhanallah permintaannya terlihat sangat sederhana namun begitu dalam dan penuh makna yaitu rumah di Surga, karena rumah di dunia rasanya sudah seperti di Neraka, dan wajarlah bila kesabaran dan kekuatan untuk memeluk erat Islam ditengah kekejaman Fir'aun menjadikan Asyiah sebagai salah satu wanita yang hidup di bukan era Rasulullah saw. Namun diakui sebagai salah satu wanita unggul selain Siti Maryam, Khadijah dan Fatimah.

Sanggupkah kita meniru Asyiah tetap taat kepada Allah dan tidak meninggalkan suami kita walau suami kita sekejam Fir’aun. Masya Allah, masih banyak yang harus kita pelajari dari para wanita mulia pendahulu kita. Wallahuallam.

http://www.eramuslim.com/akhwat/wanita-bicara/rumah-di-surga.htm

Friday, November 12, 2010

Detik Detik Wafatnya Rasullullah SAW

http://www.2lisan.com/tulisan/artikel/detik-detik-kewafatan-rasullullah

Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa ia berkata: Ketika ajal Rasulullah SAW sudah dekat, baginda mengumpulkan kami di rumah Siti Aisyah ra. Kemudian baginda memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda:

“Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah. Allah berfirman: 'Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan syurga itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.'"

Kemudian kami bertanya: “Bilakah ajal baginda ya Rasulullah?"

Baginda menjawab: "Ajalku hampir tiba..., dan akan pindah ke hadhrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyi la’la.”

Kami bertanya lagi: “Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah?"

Rasulullah menjawab: "Salah seorang ahli bait."

Kami bertanya: “Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?”

Baginda menjawab: “Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah.”

Kami bertanya: “Siapakah yang mensolatkan baginda di antara kami?” Kami menangis dan Rasulullah SAW pun turut menangis.

Kemudian baginda bersabda: “Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama mensolatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya. Kemudian masuklah kamu dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula solat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua.”

Semenjak hari itulah Rasulullah SAW bertambah sakitnya, yang ditanggungnya selama 18 hari, setiap hari ramai para sahabat yang mengunjungi baginda, sampailah datangnya hari Senin, di saat baginda menghembus nafas yang terakhir.

Sehari menjelang baginda wafat yaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah ra. selesai mengumandangkan azannya, ia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW, kemudian memberi salam: “Assalamualaikum ya Rasulullah?” Kemudian ia berkata lagi “Assolah yarhamukallah.”

Fatimah menjawab: “Rasulullah dalam keadaan sakit?” Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid.

Ketika bumi terang disinari matahari siang, Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu ia berkata seperti perkataan yang tadi. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruhmya masuk. Setelah Bilal bin Rabah masuk, Rasulullah SAW bersabda: “Saya sekarang dalam keadaan sakit, Wahai Bilal, kamu perintahkan saja agar Abu Bakar menjadi imam dalam solat.” Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata: “Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?”

Kemudian ia memasuki masjid dan berkata kepada Abu Bakar ra. agar beliau menjadi imam dalam solat tersebut. Ketika Abu Bakar ra. melihat ke tempat Rasulullah SAW yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu ia menjerit dan akhirnya ia pingsan.

Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi ribut sehingga terdengar oleh Rasulullah SAW. Baginda bertanya: “Wahai Fatimah, suara apakah yang ribut itu? Fatimah rha. menjawab: “Orang-orang menjadi ribut dan bingung karena Rasulullah SAW tidak ada bersama mereka.”

Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib dan ibnu Abbas ra. Sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda solat dua rakaat, setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda:

“Ya ma’aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah, sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT, kerana aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini.”

Malaikat Maut datang bertamu pada hari esoknya, yaitu pada hari Senin. Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya ia turun menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan Allah menyuruh kepada Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun jika Rasulullah SAW tidak mengizinkannya, ia tidak boleh masuk, dan hendaklah ia kembali saja. Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Ia menyamar sebagai seorang biasa.

Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah SAW, Malaikat Maut itupun berkata: “Assalamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!”

Fatimah rha berkata kepada tamunya itu: “Wahai Abdullah (Hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit.” Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: “Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk?”

Akhirnya Rasulullah SAW mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah: “Siapakah yang ada di muka pintu itu?

Fatimah menjawab: “Seorang lelaki memanggil ayah, saya katakan kepadanya bahwa ayahanda dalam keadaan sakit. Kemudian ia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma.”

Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah kamu siapakah dia?”

Fatimah menjawab: “Tidak wahai baginda.” Lalu Rasulullah SAW menjelaskan: “Wahai Fatimah, ia adalah pengusir kelazatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Masuklah, Wahai Malaikat Maut."

Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan `Assalamualaika ya Rasulullah.”

Rasulullah SAW pun menjawab: "Waalaikassalam Ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?”

Malaikat Maut menjawab: “Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan, kalau tidak, saya akan pulang."

Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril?"

“Saya tinggal ia di langit dunia?” Jawab Malaikat Maut.

Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril as datang kemudian duduk di samping Rasulullah SAW. Maka bersabdalah Rasulullah SAW: “Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahwa ajalku telah dekat?"

Jibril menjawab: Ya, Wahai kekasih Allah.”

Seterusnya Rasulullah SAW bersabda: “Beritahu kepadaku Wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya?"

Jibril pun menjawab: “Nahwa pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu.”

Baginda SAW bersabda: “Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku?"

Jibril menjawab lagi: "Bahwa pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu.”

Baginda SAW bersabda lagi: “Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang di sediakan Allah untukku?"

Jibril menjawab: "Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Segala puji dan syukur, aku panjatkan untuk Tuhanku. Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang menggembirakan aku?”

Jibril as bertanya: “Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan?"

Rasulullah SAW menjawab: “Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?”

Jibril menjawab: “Saya membawa khabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman: 'Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu.'"

Maka berkatalah Rasulullah SAW: “Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku. Wahai Malaikat Maut mendekatlah kepadaku...”

Lalu Malaikat Maut pun berada dekat Rasulullah SAW. Ali ra bertanya: “Wahai Rasulullah SAW, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya?"

Rasulullah menjawab: "Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga."

Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah. Ketika roh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata: “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut.”

Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril as memalingkan mukanya. Lalu Rasulullah SAW bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku?"

Jibril menjawab: "Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?”

Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah SAW.

Berkata Anas ra: “Ketika aku melalui depan pintu rumah Aisyah ra aku dengar ia sedang menangis, sambil mengatakan: 'Wahai orang-orang yang tidak pernah memakai sutera. Wahai orang-orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum. Wahai orang yang telah memilih tikar dari singgahsana. Wahai orang yang jarang tidur di waktu malam kerana takut Neraka Sa’ir.'”

Wednesday, September 29, 2010

Mangkuk Yang Cantik, Madu dan Sehelai Rambut

Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar RA, Umar RA, Utsman RA, dan ‘Ali RA, bertamu ke rumah Ali RA. Di rumah Ali RA, istrinya Sayidatina Fathimah RHA, putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta ke semua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abubakar RA berkata, “Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut.”

Umar RA berkata, “Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Utsman RA berkata, “Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

‘Ali RA berkata, “Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Fatimah RHA berkata, “Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Rasulullah SAW berkata, “Seorang yang mendapat taufiq untuk ber’amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber’amal dengan ‘amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat ‘amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Malaikat Jibril AS berkata, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Allah SWT berfirman, “Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

[Sahabat Nabi, Last Revised : Ahad, 7 Maret 2005]

Menepati Janji

Suatu ketika Rasulullah saw berjanji ada salah seorang sahabatnya yang bernama Abu Haitsam, bahwa beliau akan memberinya seorang budak. Kebetulan pada waktu itu, tiga orang tawanan didatangkan ke hadapan Rasulullah saw. Rasulullah menyerahkan dua tawanan kepada sahabat yang lain dan masih tersisa satu tawanan.

Pada saat itulah, Sayyidah Fathimah, puteri Beliau, datang menghadap Rasulullah saw dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, berilah aku seorang budak atau pembantu. Apakah Engkau tidak melihat bekas gilingan gandum di telapak tanganku?”

Rasulullah saw teringat perjanjiannya dengan Abu Haitsam dan berkata pada puteri Beliau, “Bagaimana mungkin aku mendahulukan puteriku ketimbang Abu Haitsam, padahal sebelumnya aku telah berjanji padanya? Aku tetap harus menepati janji, meskipun puteriku Fathimah harus menggiling gandum dengan tangannya yang lemah.”