Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Tuesday, April 30, 2013

Pertemuan itu, Mengubah Pandangan RA Kartini Tentang Islam

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;
Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?
 
Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.
 
Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.
 
Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.
 
Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.
 

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.


Namun, Kartini tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini.
 
Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.
 
Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.
 
Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.
 
Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.
 
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
 
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
 
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
 
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
 
Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.
 
Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.
 
Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.
 
Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.
 
Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.
 
Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.
 
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.
 
Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah. (ts/hr/rol)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/04/21/31833/pertemuan-itu-mengubah-pandangan-ra-kartini-tentang-islam/#ixzz2RuNQqKs6
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Tuesday, April 2, 2013

April Mop: Hari Dimana Umat Islam Dibantai

Bulan April menjelang. Ada suatu kebiasaan jahiliah yang patut kita waspadai bersama sebagai seorang Muslim; 1 April sebagai hari April Mop. April Mop sendiri adalah hari di mana orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Tapi tahukah Anda apakah April Mop itu sebenarnya?

Sejarah April Mop
 
Sebenarnya, April Mop adalah sebuah perayaan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib yang dilakukan lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekadar hiburan atau keisengan belaka.
 
Biasanya orang akan menjawab bahwa April Mop—yang hanya berlaku pada tanggal 1 April—adalah hari di mana kita boleh dan sah-sah saja menipu teman, orangtua, saudara, atau lainnya, dan sang target tidak boleh marah atau emosi ketika sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran April Mop. Biasanya sang target, jika sudah sadar kena April Mop, maka dirinya juga akan tertawa atau minimal mengumpat sebal, tentu saja bukan marah sungguhan.
 
Walaupun belum sepopuler perayaan tahun baru atau Valentine’s Day, budaya April Mop dalam dua dekade terakhir memperlihatkan kecenderungan yang makin akrab di masyarakat perkotaan kita. Terutama di kalangan anak muda. Bukan mustahil pula, ke depan juga akan meluas ke masyarakat yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, masyarakat dengan mudah meniru kebudayaan Barat ini tanpa mengkritisinya terlebih dahulu, apakah budaya itu baik atau tidak, bermanfaat atau sebaliknya.
 
Perayaan April Mop berawal dari suatu tragedi besar yang sangat menyedihkan dan memilukan? April Mop, atau The April’s Fool Day, berawal dari satu episode sejarah Muslim Spanyol di tahun 1487 M, atau bertepatan dengan 892 H.
 
Sejak dibebaskan Islam pada abad ke-8 M oleh Panglima Thariq bin Ziyad, Spanyol berangsur-angsur tumbuh menjadi satu negeri yang makmur. Pasukan Islam tidak saja berhenti di Spanyol, namun terus melakukan pembebasan di negeri-negeri sekitar menuju Perancis. Perancis Selatan dengan mudah dibebaskan. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya jatuh. Walaupun sangat kuat, pasukan Islam masih memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah barat yang berupa pegunungan. Islam telah menerangi Spanyol.
 
Karena sikap para penguasa Islam yang begitu baik dan rendah hati, banyak orang-orang Spanyol yang kemudian dengan tulus dan ikhlas memeluk Islam. Muslim Spanyol bukan saja beragama Islam, namun sungguh-sungguh mempraktikkan kehidupan secara Islami. Tidak saja membaca Al-Qur’an, namun bertingkah-laku berdasarkan Al-Qur’an. Mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, pergaulan bebas, dan segala hal yang dilarang Islam. Keadaan tenteram seperti itu berlangsung hampir enam abad lamanya.
 
Selama itu pula kaum kafir yang masih ada di sekeliling Spanyol tanpa kenal lelah terus berupaya membersihkan Islam dari Spanyol, namun selalu gagal. Maka dikirimlah sejumlah mata-mata untuk mempelajari kelemahan umat Islam Spanyol.
 
Akhirnya mereka menemukan cara untuk menaklukkan Islam, yakni dengan pertama-tama melemahkan iman mereka melalui jalan serangan pemikiran dan budaya. Maka mulailah secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke dalam wilayah Spanyol. Musik diperdengarkan untuk membujuk kaum mudanya agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca Al Qur’an. Mereka juga mengirimkan sejumlah ulama palsu untuk meniup-niupkan perpecahan ke dalam tubuh umat Islam Spanyol. Lama-kelamaan upaya ini membuahkan hasil.
Akhirnya Spanyol jatuh dan bisa dikuasai pasukan salib. Penyerangan oleh pasukan salib benar-benar dilakukan dengan kejam tanpa mengenal peri kemanusiaan. Tidak hanya pasukan Islam yang dibantai, tetapi juga penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua. Satu-persatu daerah di Spanyol jatuh.
 
Granada adalah daerah terakhir yang ditaklukkan. Penduduk-penduduk Islam di Spanyol (juga disebut orang Moor) terpaksa berlindung di dalam rumah untuk menyelamatkan diri. Tentara-tentara salib terus mengejar mereka. Ketika jalan-jalan sudah sepi, tinggal menyisakan ribuan mayat yang bergelimpangan bermandikan genangan darah, tentara salib mengetahui bahwa banyak muslim Granada yang masih bersembunyi di rumah-rumah. Dengan lantang tentara salib itu meneriakkan pengumuman, bahwa para Muslim Granada bisa keluar dari rumah dengan aman dan diperbolehkan berlayar keluar Spanyol dengan membawa barang-barang keperluan mereka.
 
Orang-orang Islam masih curiga dengan tawaran ini. Namun beberapa dari orang Muslim diperbolehkan melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah dipersiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar melihat ada kapal yang sudah disediakan, mereka pun segera bersiap untuk meninggalkan Granada dan berlayar meninggalkan Spanyol.
 
Keesokan harinya, ribuan penduduk muslim Granada keluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa seluruh barang-barang keperluan, beriringan berjalan menuju ke pelabuhan. Beberapa orang Islam yang tidak mempercayai pasukan salib, memilih bertahan dan terus bersembunyi di rumah-rumah mereka. Setelah ribuan umat Islam Spanyol berkumpul di pelabuhan, dengan cepat tentara salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Lidah api terlihat menjilat-jilat angkasa ketika mereka membakari rumah-rumah tersebut bersama dengan orang-orang Islam yang masih bertahan di dalamnya.
 
Sedang ribuan umat Islam yang tertahan di pelabuhan, hanya bisa terpana ketika tentara salib juga membakari kapal-kapal yang dikatakan akan mengangkut mereka keluar dari Spanyol. Kapal-kapal itu dengan cepat tenggelam. Ribuan umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa karena sama sekali tidak bersenjata. Mereka juga kebanyakan terdiri dari para perempuan dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Sedang para tentara salib telah mengepung mereka dengan pedang terhunus.
 
Dengan satu teriakan dari pemimpinnya, ribuan tentara salib segera membantai umat Islam Spanyol tanpa rasa belas kasihan. Jerit tangis dan takbir membahana. Seluruh Muslim Spanyol di pelabuhan itu habis dibunuh dengan kejam. Darah menggenang di mana-mana. Laut yang biru telah berubah menjadi merah kehitam-hitaman.
 
Tragedi ini bertepatan dengan tanggal 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh dunia kristen setiap tanggal 1 April sebagai April Mop (The April’s Fool Day). Pada tanggal 1 April, orang-orang diperbolehkan menipu dan berbohong kepada orang lain. Bagi umat kristiani, April Mop merupakan hari kemenangan atas dibunuhnya ribuan umat Islam Spanyol oleh tentara salib lewat cara-cara penipuan. Sebab itulah, mereka merayakan April Mop dengan cara melegalkan penipuan dan kebohongan walau dibungkus dengan dalih sekedar hiburan atau keisengan belaka.
 
Bagi umat Islam, April Mop tentu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Hari di mana ribuan saudara-saudaranya se-iman disembelih dan dibantai oleh tentara salib di Granada, Spanyol. Sebab itu, adalah sangat tidak pantas juga ada orang Islam yang ikut-ikutan merayakan tradisi ini. Siapapun orang Islam yang turut merayakan April Mop, maka ia sesungguhnya tengah merayakan ulang tahun pembunuhan massal ribuan saudara-saudaranya di Granada, Spanyol, 5 abad silam.
 
Jadi, perhatikan sekeliling Anda, anak Anda, atau Anda sendiri, mungkin terkena bungkus jahil April Mop tanpa kita sadari. (sa/berbagaisumber)
 

Monday, August 13, 2012

Beginilah mereka menghancurkan kita, lalu bagaimana sikap kita…?!

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari'at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, "Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!". Jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!"."

Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah "Penghapus!", jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!"." Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti.

Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya. "Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya."

"Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika."

"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham Bu Guru"

"Baik permainan kedua," Ibu Guru melanjutkan. "Bu Guru ada Qur'an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu "dijaga" sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang kalian berdiri di luar karpet. Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur'an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa menginjak karpet?"

Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil. Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur'an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

"Anak-anak, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan menginjak-injak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…"

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari'at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan."

"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?" tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo'a dahulu sebelum pulang…"

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

***

Ini semua adalah fenomena Ghazwul-Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:
"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu."(QS. At Taubah :32).

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?

-Note From Brother Asep Juju-
(anna/muslimazone.com)
http://arrahmah.com/read/2012/07/15/21646-beginilah-mereka-menghancurkan-kita-lalu-bagaimana-sikap-kita.html

Wednesday, March 21, 2012

Ki Ageng Pandanarang dan Berdirinya Kota Semarang

Ia menjadi penyebar agama Islam di kota Semarang, sekaligus sebagai bupati pertama. Namanya dikenal sebagai cikal-bakal kota Semarang

Kalau berada di Bukit Mugas, akan Anda lihat Kota Semarang bawah terhampar luas hingga ke laut Jawa, di tempat yang tinggi inilah Ki Ageng Pandanarang (kadang dilafalkan Pandanaran), bupati pertama Semarang dimakamkan. Meski sudah meninggal seakan-akan beliau masih ingin mengawasi kota Semarang yang telah didirikannya sejak awal abad ke 16.

Makam wali yang terletak di tengah kota ini sering diziarahi para birokrat, pedagang, serta santri dan kiai di sekitar Semarang. Malah setiap menjelang ulang tahun kota Semarang, pada 2 Mei, hampir semua pejabat kota Semarang, dari Walikota hingga Lurah berziarah ke makamnya, di lanjutkan ke makam Sunan Tembayat, anak Ki Ageng Pandanarang di Klaten. Sunan Tembayat dikenal sebagai Ki Ageng Pandanarang II, sekaligus sebagai Bupati Semarang kedua.

Asem Arang

Menurut buku Ki Ageng Pandanarang, Pendiri Kota Semarang, karya H. Sukardiyono, BA, juru kunci makam, Bukit Mugas dulu dikenal sebagai Pulau Tirang, sebab kala itu Kota Semarang bawah masih berupa lautan, dan Mugas termasuk pantai laut Jawa. Karena tempatnya agak tinggi dan menjorok ke laut, disebut Pulau Tirang atau Tirang Ngampar.

Di kawasan itu sebelum Ki Ageng Pandanarang datang, sudah ada beberapa Ajar, Pendeta Hindu, seperti Ajar Pragota yang berdiam di tanah pemakaman Bergota sekarang. Menurut serat Kandaning Ringgit Purwa Naskah kbg Nr 7, setelah menetap di Tirang Ampar, Ki Pandanarang berhasil mengislamkan sejumlah penduduk yang bertempat tinggal di sana. Berapa jumlahnya tidak disebutkan, mereka menjadi santri-santrinya. Malah di antara Endang, sebutan murid wanita dalam sekolah agama Hindu, yang bernama Sejanila bersedia masuk Islam dan kemudian menjadi istrinya.

Karena muridnya semakin banyak, Ki Ageng Pandanarang memindahkan pesantrennya ke daerah Pengisikan, dekat pantai yang landai, yang sekarang disebut Bubakan. Bubak, artinya membuka sebidang tanah yang dijadikan tempat kediaman. Selain banyak ikannya, daerah sekitar pantai itu juga dijadikan lahan pertanian dan perkebunan.

Di pemukiman baru itulah, Ki Ageng Pandanarang mendirikan masjid, komplek pesantren, pasar serta lahan pertanian. Karena diakui sebagai cikal-bakal tempat tersebut, beliau diberi gelar “Jurunata”. Gelar ini sekaligus jabatan yang bobotnya setingkat dengan Bupati sekarang. Di sebelah Bubakan ada kampung bernama Jumatan, di sinilah letak persis kediamannya, tempat Jurunata.

Kabupaten Semarang di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Ini terjadi karena Ki Ageng Pandanarang ada hubungan keluarga dengan Kerajaan Demak. Konon, Ki Ageng Pandanarang sendiri datang ke Semarang karena diutus Raden Patah untuk menyiarkan Islam.

Sebetulnya Islam sudah berkembang di Semarang sejak Laksamana Cheng Ho mendarat di pantai Simongan Semarang tahun 1405 M, namun seabad kemudian, Kiai dan masyarakat yang dibina Cheng Ho sudah meninggal dunia, banyak penduduk yang kembali beragama Hindu. Untuk itulah Ki Ageng Pandanarang diutus ke Semarang untuk membina lagi masyarakat Islam yang telah berganti kepercayaannya.

Sementara nama kota Semarang berasal dari ujarannya. Ketika di Bubakan, ia melihat lahan yang jarang terdapat pohon Asam, berbeda dengan tempatnya dulu di Pulau Tirang, yang bergunung, sehingga pohon Asam tumbuh subur. Oleh masyarakat kemudian tempat tersebut dinamakan Semarang, kependekan dari Asem Arang (pohon Asem yang jarang).

Menurut buku 'Ki Ageng Pandanarang, Pendiri Kota Semarang', Ki Ageng adalah cucu Pangeran Sabrang Lor, anak tertua Raden Patah. Raja Demak pertama itu mempunyai putra tertua yang berdiam di sebelah utara sungai yang mengalir di Demak, dan oleh karena itu dia di beri nama Pangeran Sabrang Lor.

Pangeran Sabrang Lor mati muda dan memiliki anak yang bernama Pangeran Madiyo Pandan. Ia lebih senang hidup sebagai Sufi, di masa tuanya kemudian pindah ke Pulau Tirang. Anaknya yang bernama Kanjeng Pangeran Mande Pandan yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Pandanarang, meneruskan perjuangan ayahnya membina masyarakat Islam disekitar pulau itu, sebagaimana diceritakan diatas.

Kisah lain, keluarga Pangeran Madiyo Pandan memang ditugasi menyebarkan agama Islam di daerah Semarang. Namun karena usianya sudah tua, tugas itu diteruskan anaknya, Ki Ageng Pandanarang, hingga berdiri Kabupaten Semarang.

***

Kapan Ki Ageng Pandanarang hidup? Sampai sekarang tidak ada catatan yang pasti. Ada beberapa tanggal yang menjadi perkiraan. Kota Semarang menetapkan hari lahirnya pada 2 Mei 1547 M. ini adalah tanggal dikukuhkannya Ki Ageng Pandanarang II alias Sunan Tembayat sebagai Bupati Semarang II.

Jadi, bisa diperkirakan, Ki Ageng dilahirkan sekitar 50 tahun sebelum tahun 1547. Beliau dimakamkan di Bukit Mugas. Atau sekarang beralamatkan di jalan Mugas Dalam II/4 Semarang, bersebelahan dengan Gedung SMP negeri 10 Semarang. Peninggalan yang ada , antara lain komplek makam, masjid dan bangunan yang dulu pernah digunakan sebagai peantren Pandanarang.

http://www.sufiz.com/jejak-wali/ki-ageng-pandanarang.html

Monday, July 11, 2011

Tentang Shalawat Nabi SAW

Kalimat Thayyibah Shalawat Nabi, Makna Shalawat, Makna Taslim (ucapan salam), Hukum Shalawat, Keutamaan Shalawat, Peringatan Terhadap Orang yang Meninggalkan Shalawat Secara Sengaja, Bentuk Shalawat, Waktu-waktu yang Disunnahkan untuk Mengucapkan Shalawat, Buah Shalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Sesungguhnya Shalawat terhadap Nabi memiliki kedudukan yang tinggi di dalam hati setiap muslim, oleh sebab itu, kami akan membahas dengan ringkas tentang hukum-hukum seputar Shalawat terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kami berkata, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيم ﴾ [الأحزاب: 56].

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah dengan penuh penghormatan.”(QS. Al-Ahzab: 56)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: ”Maksud dari ayat ini adalah, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya, tentang kedudukan hamba dan Nabi-Nya di sisi-Nya dan di sisi para makhluk yang tinggi (Malaikat). Dan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji beliau di hadapan para Malaikatnya, dan para Malaikat pun bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan penduduk bumi untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, supaya terkumpul pujian terhadap beliau dari peghuni dua alam, alam atas (langit) dan alam bawah (bumi) secara bersama-sama.”(Tasir Ibnu Katsir Jilid 3 hal 514)

Faidah Penting: Kenapa orang-orang yang beriman dikhususkan dengan taslim (ucapan salam) kepada Nabi, sedangkan Allah dan para Malaikat tidak?

Jawab: Karena (hakekat) salam adalah memberikan keselamatan kepada Nabi dari apa-apa yang menyakiti beliau, maka ketika ayat ini datang setelah penyebutan tentang apa-apa yang menyakiti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu firman-Nya:

﴿ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَداً إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيم ﴾ [الأحزاب:53]

”Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah itu (setelah Nabi wafat). Sesunguhnya yang demikian itu sangat besar dosanya di sisi Allah.”(QS. Al-Ahzab:53)

Dan sesuatu yang menyakiti hanyalah muncul dari manusia, maka tepat sekali mengkhususukan manusia dan menekankannya dengan taslim (ucapan salam).”(al-Futuhat al-Ilahiyah oleh al-‘Ujailiy jilid 4 hal 454)

Makna Shalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Abu ‘Aliyah rahimahullah berkata: ”Shalawat Allah atas Nabi adalah pujian-Nya kepada beliau di hadapan para Malaikat-Nya, shalawat Malaikat kepada beliau adalah do’a (maksudnya: bahwa para Malaikat memohon kepada Allah tambahan dari pujian Allah kepada Nabi).”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata:” يصلون/mereka bershalawat, maksudnya adalah mereka mendoakan untuk beliau keberkahan.” (Shahih al-Bukhari Kitab Tafsir bab:10)

Al-Haliimiy rahimahullah bekata: ”Makna shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pengagungannya. Dan maka ucapan kita Allahumma shalli ‘ala Muhammad: ”Ya Allah agungkanlah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: ”Maksudnya adalah pengagungan terhadap beliau di Dunia dengan cara meninggikan nama beliau, menampakkan (memenangkan ) agama beliau, dan melanggengkan Syari’atnya. Dan di Akherat dengan cara memperbesar ganjaran (balasan amal) beliau, memberikan beliau hak untuk memberi syafa’at untuk umatnya, dan menunjukkan keutamaan beliau dengan Maqam al-Mahmud (kedudukan yang terpuji).” (Fathul Bari)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: ”Makna shalawat Allah atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pujian-Nya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan penjagaan-Nya terhadap beliau, penampakkan kemuliaan, keutamaan dan kehormatan beliau. Dan shalawat kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, kita memohon kepada Allah tambahan di dalam pujian-Nya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan penampakkan kemuliaan, keutamaan dan kehormatan beliau serta kedekatan beliau kepada Allah.” (Jalaa’ul Afhaam, hal 261-262)

Makna Taslim (ucapan salam) Kepada Beliau

Taslim artinya as-Salaam, yang itu adalah salah satu nama dari nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan makna taslim yang lain adalah: ”Engkau tidak pernah terlepas wahai Muhammad dari kebaikan dan berkah, dan engkau selamat dari segala sesuatu yang tidak menyenangkan dan penyakit serta cacat.” Maka ketika kita berkata: “Allahumma sallim ‘ala Muhammad," maka maksudnya adalah: ”Ya Allah tulislah bagi Muhammad di dalam dakwahnya, umatnya, dan namanya keselamatan dari segala kekurangan (aib/cacat), tambahkanlah seiring berjalannya waktu ketinggian beliau dan (tambahkanlah) jumlah umat beliau, dan nama beliau semakin terangkat.”(Fadhlu as-Shalat ‘ala Nabi, oleh Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah hal 88)Hukum Shalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Shalawat terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah wajib atas setiap muslim, baligh (dewasa menurut kacamata agama) dan berakal, sekali seumur hidup. Adapun selain itu (slain shalawat yang sekali) adalah sunnah yang dianjurkan. (asy-Syifaa, oleh al-Qadhi ‘Iyadh jilid 2 hal 62)

Keutamaan Shalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Banyak sekali hadits yang menjelaskan tentang keutamaan bershalawat kepada Nabi, dan kami akan menyebutkannya sebagian, di antaranya:

1. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan:

عن أبي هريرة أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: (من صلى عليَّ صلاة واحدة، صلى اللَّه عليه عشرًا ).[مسلم حديث 408]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungghnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Siapa saja yang bershalawat kepadaku satu shalawat, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh.” (Muslim hadits no.408)

2. Imam an-Nasaai rahimahullah meriwayatkan:

عن أنس أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: ( من صلى عليَّ صلاة واحدة،صلى اللَّه عليه عشر صلوات، وحُطت عنه عشر خطيئات، ورُفعت له عشر درجات ).[حديث صحيح: صحيح النسائي للألباني جـ1ص415]

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Siapa saja yang bershalawat kepadaku satu shalawat, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh shalawat dan dihilangkan darinya sepuluh kesalahan dan dinaikkan untuknya sepuluh serajat.” (Hadits shahih: Shahih an-Nasaai oleh al-Albani rahimahullah jilid 1 hal:415 )

3. Imam Nasaai rahimahullah juga meriwayatkan:

عن ابن مسعود أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: ( إن للَّه ملائكة سياحين في الأرض يبلغوني عن أمتي السلام ).[حديث صحيح: صحيح النسائي للألباني جـ1ص410]

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya Allah memiliki Malaikat-malaikat yang berkeliling di muka bumi, untuk menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” (Hadits shahih, Shahih Imam Nasaai oleh al-Albani rahimahullah jilid 1 hal: 410)

4. Imam ath-Thabrani rahimahullah meriwayatkan:

عن أبي الدرداء أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: ( من صلى عليَّ حين يصبح عشرًا وحين يُمسي عشرًا أدركته شفاعتي يوم القيامة ).[حديث حسن: صحيح الجامع للألباني حديث 6357]

Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Siapa saja yang bershalawat kepadaku sepuluh kali di waktu pagi dan sore, maka dia akan mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat.” (hadis hasan, Shahih al-Jami’ oleh al-Albani hadits no.6357)

Peringatan Terhadap Orang yang Meninggalkan Shalawat Secara Sengaja

Imam at-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

( رَغِمَ أنفُ رجل ذُكرتُ عنده فلم يصلِّ عليَّ ). [حديث صحيح: صحيح الترمذي حديث 2870]

“Terhinalah seseorang yang namaku disebut di sisinya, tetapi dia tidak bershalawat kepadaku.” (hadits shahih, Shahih at-Tirmidzi hadits no.2870)

Beliau juga meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

( البخيل مَنْ ذُكِرْتُ عنده فلم يصلِّ عليَّ ). [حديث صحيح، صحيح الترمذي حديث 2811]

“Orang yang bakhil (kikir/pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.” (hadits shahih, Shahih at-Tirmidzi hadits no.2811)

Beliau juga meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

( ما جلس قوم مجلسًا لم يذكروا اللَّه فيه، ولم يصلوا على نبيهم، إلا كان عليهم ترة (حسرة وندامة) فإن شاء عذبهم وإن شاء غفر لهم ).[حديث صحيح: صحيح الترمذي حديث 2691]

“Tidaklah suatu kaum duduk di sebuah majelis, yang mereka tidak menyebut nama Allah di dalamnya dan juga tidak bershalawat kepada Nabinya, kecuali hal itu menjadi kerugian dan penyesalan, maka kalau Allah menghendaki Dia akan mengadzabnya dan apabila menghedaki Dia akan mengampuni mereka.” (hadits shahih, Shahih at-Tirmidzi hadits no.2691)

Bentuk Shalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Kami akan menyebutkan bentuk Shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling shahih, yaitu sebagai berikut:

1. Asy-Syaikhan (al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah) meriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujroh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami, maka kami berkata: ”Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami telah mengetahui, bagaiman mengucapkan salam kepada engkau. Maka bagaimana kami bershalawat kepada engkau?” Beliau berkata: ”Ucapkanlah oleh kalian:

اللهم صلِّ على محمد وعلى آل محمد، كما صليت على آل إبراهيم، إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد، كما باركت على إبراهيم إنك حميد مجيد ). [البخاري حديث 6357، ومسلم حديث 406]

2. Keduanya rahimahumallah juga meriwayatkan dari Abi Humaid as-Saa’idi radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ”Wahai Rasulullah bagaimana cara kami bershalawat kepadamu.” Beliau menjawab: ”Ucapkanlah:

اللهم صلِّ على محمد وعلى أزواجه وذريته، كما صليت على آل إبراهيم، وبارك على محمد وعلى أزوجه وذريته كما باركت على إبراهيم، إنك حميد مجيد ) [البخاري حديث 2369، ومسلم 407]

3. Imam an-Nasaai rahimahullah dalam shahih an-Nasaai jilid 1, hal.4141, meriwayatkan dari Zaid bin Khaarijah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Bershalawatlah kalian kepadaku, dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa dan ucapkanlah:اللهم صلِّ على محمد وعلى آل محمد ).[حديث صحيح: صحيح النسائي جـ1ص414]

Hukum Mengeraskan Shalawat Yang Dilakukan Oleh Para Muadzin.

Perbuatan para muadzin yang mengeraskan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah adzan adalah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, para muadzin di zaman beliau, para Shahabat dan para Khulafaur Rasyidin radhiyallahu’anhum dan juga tidak pernah dilakukan oleh para Tabi’in padahal mereka mengetahui keutamaan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan semangat mereka dalam ketaatan, seandainya hal itu baik, pasti mereka lebih dahulu melakukannya.

Dan sebagaimana dimaklumi bahwa lafal adzan adalah ibadah yang dibangun di atas aturan yang baku, tidak boleh menambah dan mengurangi sesuatu apapun di dalamnya. Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد ). [البخاري 2697]

“Siapa saja yang membuat perkara baru yang tidak ada tuntunanya dalam agama kami, maka amalannya tertolak.” (HR. al-Bukhari: 2697)

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: ”Siapa saja yang di dalam Islam membuat bid’ah yang dianggapnya baik, maka dia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhianati amanat Risalah karena Allah telah berfirman:

﴿ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِين ﴾ [المائدة:3]

”Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah:3).

Maka segala sesuatu yang pada hari itu bukan bagian dari agama, pada hari ini pun bukan bagian dari agama.” (Al-Ihkam fii Ushulil Ahkam oleh Ibnu Hazm jilid 6 hal. 225)

Hukum Bershalawat Kepada Selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Pembahasan ini mencakup beberapa hal di antaranya:

Pertama: Bershalawat kepada para Nabi dan Rasulullah ‘Alaihi As-shallatu wassallaam. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: ”Seluruh para Nabi dan Rasul ‘Alaihi As-shallatu wassallaam didoakan dengan shalawat dan diucapkan salam kepada mereka. (Jalaaul Afham 627). Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

( صلوا على أنبياء اللَّه ورسله فإن اللَّه بعثهم كمابعثني ) [حديث حسن: صحيح الجامع للألباني حديث 3782]

“Bershalawatlah kepada para Nabi dan Rasul ‘Alaihi As-shallatu wassallaam, sesungguhnya Allah telah mengutus mereka sebagaimana Dia mengutusku.” (hadits hasan. Di kitab Shahih al-Jami, tulisan Syaikh al-Albani rahimahullah). hadits no:3782)

Kedua: Bershalawat kepada seluruh keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam artian kita mengucapkan:

اللهم صلِّ على آل محمد.

“Ya Allah berilah Shalawat kepada keluarga Muhammad.”

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata: ”Keluarga Nabi diberi ucapan shalawat, dan tidak ada beda pendapat dalam hal ini.” (Jalaaul Afham: 636)

Faidah: Yang dimaksud keluarga Nabi adalah keluarga dalam agama dan iman bukan semata-mata karena hubungan darah, karena Abu Lahab dan Abu Thalib memiliki hubungan darah dengan Nabi akan tetapi keduanya bukan termasuk keluarga Nabi yang kita harus mengucapkan shalawat untuk mereka. Wallahu A’lam

Ketiga: Apakah bershalawat kepada keluarga Nabi secara terpisah/berdiri sendiri? Dalam arti menyebut salah seorang saja di antar mereka, sperti mengucapkan: “Allahumma Shalli ‘ala ‘Ali bin Abi Thalib, atau Allahumma Shalli ‘ala Hasan atau Allahumma Shalli ‘ala Husain atau Allahumma Shalli ‘ala Fathimah dan yang semacamnya. Dan juga apakah bershalawat terhadap para Sahabat radhiyallahu’anhum dan generasi setelah mereka?

Imam Nawawi rahimahullah berkata ketika menjawab pertanyaan tersebut: ”Yang benar yang diyakini oleh kebanyakan ulama adalah, hal itu makruh karena hal itu termasuk kebiasaan ahli bid’ah dan kita telah dilarang dari kebiasaan mereka.” (al-Adzkar Imam Nawawi 159)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: ”Sesungguhnya Rafidhah (syi’ah) apabila menyebut nama Imam-imamnya, mereka bershalawat kepada mereka, dan mereka tidak bershalawat kepada orang-orang yang lebih baik dari imam-imam mereka walaupun orang tersebut lebih baik dan lebih dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada imam mereka. Maka hendaklah kaum muslimin menyelisihi mereka dalam kebiasaan ini.”(Jalaaul Afham 640)

Waktu-waktu yang Disunnahkan untuk Mengucapkan Shalawat

Para ulama menyebutkan waktu-waktu dan kondisi-kondisi yang disunahkan untuk bershalawat, dan mungkin secara singkat penjelasannya sebagai berikut:

1. Setelah mendengar dan mengikuti ucapan muadzin ketika adzan.

2. Ketika masuk dan keluar masjid

3. Setelah tasyahud (tahiyat) akhir di dalam shalat.

4. Setelah doa qunut

5. Di dalam shalat Jenazah setelah takbir yang kedua

6. Sebelum dan sesudah berdoa

7. Ketika berkhutbah jum’at, I’ed, Istisqa dan lain-lain (khusus bagi khatib)

8. Ketika disebut nama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam

9. Ketika berada di Shafa dan Marwah bagi orang yang sedang Haji atau Umrah

10. Hari jum’at

11. Ketika pagi dan sore

12. Ketika menutup sebuah majelis atau pertemuan (taklim, kajian, pelajaran dll)

13. Ketika menyampaikan pelajaran dan ketika selesainya

14. Di antara takbir-takbir dalam shalat I’ed (Asy-Syifaa, oleh al-Qodhi ‘Iyadh, dan Jalaaul Afham)

Buah Shalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menyebutkan secara garis besar tentang buah dari shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, di antaranya:

1. Shalawat termasuk bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

2. Sebab untuk mendapatkan kebaikan, dinaikkan derajat dan penghapusan dosa

3. Mendapat Syafa’at beliau pada hari kiamat

4. Sebab untuk mendapatkan kedekatan dengan Nabi pada hari kiamat

5. Sebab shalawat (do’a) Allah dan Malaikat kepada kita

6. Sebab dikabulkannya do’a

7. Sebab pengampunan dosa dan pengusir kegundahan

8. Sebab untuk mendapatkan majelis yang baik (berkah)

9. Menghindarkan sifat bakhil dari orang yang bershalawat

10. Sebab untuk melanggengkan dan meningkatkan cinta kita kepada Nabi

11. Terkandung di dalamnya syukur, dan pengakuan terhadap nikmat Allah

12. Sebab untuk mendapatkan berkah bagi jiwa, umur dan amalannya dan sebab kebaikannya (Jalaaul Afham hal. 612-626)

Dan akhir do’a kami adalah Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, washolatu wassalaamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Allihi wa Shahbihi wa man Tabi’ahum ilaa Yaumiddin.

http://blog.its.ac.id/syafii/2011/03/30/kalimat-thayyibah-shalawat-nabi-makna-shalawat-makna-taslim-ucapan-salamhukum-shalawatkeutamaan-shalawatperingatan-terhadap-orang-yang-meninggalkan-shalawat-secara-sengajabentuk-shalawat-wakt/

Wednesday, June 15, 2011

Asghor dan Akbar si Penyembah Api

Asghor dan Akbar adalah dua orang majusi yang hidup pada zaman Malik bin Dinar. Mereka adalah orang-orang yang menyembah api. Asghor yang muda telah menyembah api selama 35 tahun. Sedangkan Akbar yang umurnya jauh lebih tua, telah menyembah api selama 73 tahun. Suatu hari Asghor berkata kepada Akbar. “Kita telah menyembah api selama puluhan tahu. Marilah kita coba menguji apakah api ini membakar kita seperti ia membakar orang lain yang tidak menyembahnya. Bila ternyata memang kita tidak terbakar olehnya, maka baiklah kita teruskan menyebahnya untuk selama-lamanya”.

“Saya setuju dengan gagasanmu itu. Marilah kita coba," jawab Akbar. “Idemu itu sangat bagus,” katanya lagi.

Maka keduanya menyalakan api.

“Apakah engkau yang lebih dahulu meletakkan tanganmu ke atas api itu ataukah saya?” tanya Asghor.

“Engkau lebih dahulu..." jawab Akbar.

Asghor meletakkan tangannya di atas api yang sedang menyala itu. Ternyata api itu tetap membakar tangannya. Panasnya tidak berkurang sedikit pun. Dengan mengaduh kesakitan, Asghor menarik tangannya dari api seraya berkata: “Wahai api! Aku telah menyembahmu sekian lama, telah puluhan tahun tidak berhenti. Tapi mengapa engkau membakar tanganku, sehingga menjadi sakit begini?”

Api tidak menjawab sepatah katapun pertanyaan Asghor. Kemudian Asghor berpaling pada sahabtnya Akbar, dan berkata, “Rupanya sia-sia saja kita menyembah api ini. Tetap saja ia tidak mengubah sifatnya dari membakar. Ia tidak membalas kebaikan kita selama ini. Saya kira lebih baik kita tinggalkan saja perbuatan kita untuk menyembah api ini lagi.”

“Tidak!. Aku tidak ingin meninggalkan keyakinanku ini. Aku tetap menyembahnya seumur hidupku." jawab Akbar.

“Apakah api tidak membakar tanganmu? Coba letakkan tanganmu pula di atasnya!”

“Memang, sekalipun tanganmu atau tanganku serta tangan siapa saja tentu akan dibakar oleh api, tapi aku telah menerima keyakinan ini dari nenek moyangku dahulu kala. Aku tidak mau mengubah keyakinanku yang sudah kupilih ini.” jawab Akbar.

Akhirnya terjadilah perpisahan antara dua sahabat itu. Asghor beserta keluarganya pindah menuju kepada Malik bin Dinar, seorang sultan yang sedang berkuasa saat itu. Diceritakannya kepada sultan tentang pengalamannya. Malik bin Dinar mengajaknya masuk Islam. Mulai saat itulah kemudian Asghor menyatakan diri islam setelah mengucapkan kalimah syahadat “asyhadu an laa ilaaha illalloh, wa asyhadu anna muhammadan rosululloh”. Mereka masuk Islam dengan kesadaran mereka sendiri tanpa paksaan.

Malik bin Dinar kemudian berkata kepada Asghor, “Marilah duduk di dekatku sini, bersama sahabat-sahabatku ini. Nanti akan aku kumpulkan uang dari saharat-sahabatku ini untukmu”.

“Tidak… aku tidak ingin uang itu. Aku masuk Islam bukanlah karena kemiskinan dan kemelaratan. Aku masuk Islam adalah karena kesadaran. Aku tidak membutuhkan uang yang tuan maksudkan itu. Aku masih cukup mempunyai bekal untuk hidup walaupun sederhana.” jawab Asghor.

Karena itu, Asghor diberi tempat disebuah rumah sederhana. Sebab gedung yang indah dan mewah pun ia tidak mau menerimanya. Di sanalah ia bersama keluarganya melakukan ibadah kepada Alloh SWT dan menjalankan ajaran-ajaran Islam. Suatu kali, pagi-pagi istrinya berkata, “Pergilah ke pasar, dan carilah pekerjaan, kemudian belilah makanan untuk kita bersama.”

Dengan tidak memberikan jawaban sepatah kata pun, Asghor pergi ke pasar dengan maksud mencari rizki. Di pasar ia mencari pekerjaan, tapi tak seorangpun yang mau menerimanya. Asgor berfikir dalam hati, "Lebih baik aku beramal untuk Alloh SWT dan aku percaya bahwa Dia itu Maha Kuasa dan Maha Pemurah.”

Sesudah mengucapkan perkataan itu, ia pun pergi ke masjid dan di situlah ia melakukan sholat sampai jauh malam. Kemudian ia pulang dengan tangan hampa. Sesampainya di rumah istrinya bertanya, “Tidak satu pun engkau bawa pulang? Dan engkau tidak mendapatkan pekerjaan”.

“Ada orang yang menjanjikan pekerjaan besok, dan besok pula ia menjanjikan upah dari pekerjaan itu.” jawab Asghor.

Besoknya kebetulan hari Jum’at. Pagi-pagi benar ia pergi ke pasar. Seperti hari kemarin, hari itu pun ia tidak mendapatkan pekerjaan. Karena hingga siang hari ia belum mendapatkan pekerjaan, ia kemudian menuju masjid untuk melakukan sholat Jum’at bersama-sama kaum muslimin. Di situ, ia menadahkan tangannya seraya memohon kepada Alloh SWT :

“Ya Alloh, demi kehormatan agama yang kupeluk ini, dan demi kehormatan hari yang mulia ini, aku berdo’a kepada Engkau, kiranya buanglah rasa gelisah dan sedih dari dalam hatiku, karena tak dapat memenuhi kehendak keluargaku. Aku malu sekali terhadap keluargaku, dan aku sangat khawatir, kalau-kalau mereka kembali memeluk agama Majuzi lagi, karena tak sanggup menahan derita kelaparan sejak memasuki agama suci-Mu ini.”

Sedangkan di rumah, saat istrinya menunggu kedatangan suaminya, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang ke rumahnya seraya mengetok pintunya.

Istrinya Asghor keluar menemui tamu iti. Ternyata yang datang itu seorang pemuda yang cukup tampan. Ditangannya sebuah pundi-pundi berisi penuh, kemudian berkata: “Terimahlah pundi-pundi ini dan beritahukan kepada suamimu, bahwa inilah upah (pahala) sholat yang dilakukan di masjid itu. Walaupun amalnya sedikit namun Alloh SWT memberi balasan yang cukup besar."

Pundi-pundi itu di diterima oleh istri Asghor dan kemudian dibukanya. Ternyata di dalamnya berisi 1000 dinar uang emas. Dicobanya mengambil sebuah dan dibawanya ke tukang emas, untuk ditimbang beratnya. Ternyata beratnya melebihi berat emas biasa. Tukang emas itu menjadi heran, kenapa bisa terjadi demikian. Lalu ia bertanya, “Darimana engkau peroleh dinar emas ini? Kenapa beratnya lebih dari yang biasa?”

Istri Asghor menceritakan semua kejadian yang telah terjadi. Dia bergembira sekali menerima rizki dari Alloh yang tak terduga-duga itu. Hilang rasa lapar bertukar dengan rasa syukur Alhamdulillah yang tak henti-hentinya.

Sedangkan Asghor setelah selesai sholat di masjid, ia lalu pulang ke rumah. Ia masih gelisah dan merasa malu karena harus pulang dengan tangan kosong. Untuk menghilangkan kekecewaan istrinya, Asghor kemudian menaruh debu dalam sorbannya. “Jika istriku nanti bertanya, akan kuberikan sorban ini dengan isinya.” Pikir Asghor dalam hati.

Namun ketika sampai di halaman rumahnya, ia mencium bau yang sedap dari makanan yang sedang dimasak istrinya. Maka ditaruhlah sorbannya itu di depan pintu lalu bergegas menemui astrinya seraya menanyakan apa yang dilihatnya. Mendengar cerita istrinya, Asghor bersyukur dan bersujud kepada Alloh untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepadanya.

Istrinya kemudian bertanya, “Apakah yang engkau bawa dalam sorban tadi?”

“Tidak usalah engkau menanyakan hal itu, saya tidak membawa apa-apa.” jawab Asghor.

Istrinya kemudian bergegas menuju ke depan rumahnya dan dibukanya serban yang tergeletak di depan pintu. Ternyata ketika dibuka, sorban itu berisi permata berlian yang banyak sekali jumlahnya.

Rasa bahagia pun menyelimuti hati semuanya. Keluarga Asghor kini hidup lebih dari kecukupan. Namun hal itu tidklah membuat mereka menjadi sombong. Mereka juga tidak lupa untuk mengeluarkan zakat dan bersedekah kepada fakir miskin di sekitarnya. Sehingga tidak hanya keluarganya saja yang merasa bahagia, namun juga para tetangganya. Mereka senang memiliki tetangga seperti Asghor. Meskipun ia kaya, namun juga berhati mulia dan dermawan.

Karena itu, benarlah apa yang sudah difirmankan Alloh SWT : “Barang siapa yang bertaqwa kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi jalan keluar (bagi kesulitan-kesulitan yang menimpanya). Dan memberinya rizqi dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”(QS. At-Tholaq ayat 2-3).

http://ponpesgama.blogspot.com/2011/02/kisah-inspiratif-asghor-dan-akbar-si.html

Syurga di Bawah Telapak Kaki Ibu

Tersebutlah seorang ahli ibadah pada masa Muhammad Rosululloh SAW. Hari-hari digunakan untuk berdzikir dan mengerjakan sholat tahajjud. Ia pun senang bersedekah dan mengerjakan kebaikan-kebaikan. Orang-orang memanggil Alqomah. Ia tinggal di sebuah rumah bersama istri yang dicintainya. Sementara ibu Alqomah yang sudah tua tinggal sendiri di desa.

SUATU ketika Alqomah jatuh sakit. Makin lama sakitnya makin para. Hingga ia pun tidak bisa berbuat apa-apa melainkan hanya berbaring di atas tempat tidur. Istrinya yang merasa bahwa Alqomah sedang mengalami naza’ atau sakaratulmaut mengutus seseorang untuk melaporkan keadaan ini kepada Rasululloh SAW. Setelah mendengar cerita itu, Rasullullah mengutus tiga orang sahabat yaitu Bilal, Amar dan Suhaib untuk menengok Alqomah. Beliau berpesan agar mereka mengajarkan kalimat talqin pada Alqomah.

Sesampainya di rumah Alqomah, ketiganya langsung menemui Alqomah yang sedang mengalami sakaratulmaut. Mereka lalu menuntunnya agar melafatkan kalimat Laa ilaaha illallah. Tetapi apa yang terjadi? Mulut Alqomah tidak terbuka sedikitpun. Berkali-kali ketiga pemudah itu mengajarkan, berkali-kali pula mulut Alqomah seperti terkunci. Ketiganya heran. Padahal Alqomah adalah orang yang ahli ibadah, tapi kenapa tidak bisa membaca kalimat sesederhana itu. Dengan menyimpan rasa tidak percaya ketiganya pulang menghadap Rasullulah. Mereka langsung menceritakan kejadian itu. Rasullulah bertanya.

"Apakah orang tua Alqomah masih hidup?"

"Wahai Rasullullah… Alqomah mempunyai seorang ibu yang tua."

"Kalau begitu pergilah kalian menemui Ibunda Alqomah. Jika ia masih kuat untuk berjalan, mintalah ia agar datang kemari. Tapi jika tidak, biar aku saja yang kesana."

Maka pergilah Bilal, Amar dan Suhaib ke rumah Ibunda Alqomah. Sesampainya disana mereka langsung mengutarakan maksud kedatangan mereka. Tanpa berpikir panjang Ibunda Alqomah bergegas memenuhi panggilan Rosululloh walaupun berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat.

Sesampainya di rumah Rosululoh, Ibunda Alqomah diberitahu mengenai keadaan anaknya. Namun ia nampak biasa saja mendengar berita itu seolah tidak mau tahu tentang apa yang sedang dialami oleh Alqomah. Hal ini membuat Rosululloh ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi antara ibu dan anak tersebut.

"Wahai Ibunda Alqomah…, Aku ingin bertanya kepadamu dan jawablah pertanyaanku dengan jujur. Bagaimana pendapat Ibu terhadap putra Ibu yang bernama Alqomah?"

Ibunda Alqomah diam sejenak, lalu berkata, "Alqomah adalah seorang anak laki-laki yang ahli sholat, ahli puasa dan ahli shodaqoh... Akan tetapi....”

Ibu Alqomah tidak meneruskan kalimatnya. Matanya berkaca-kaca seolah memendam suatu beban perasaan yang sangat berat.

“Akan tetapi apa Ibu…?” tanya Rosululloh.

“Aku sangat marah kepadanya…”

Ibu Alqomah tidak dapat membendung air matanya. Ia menangis terisak-isak dihadapan Rosululloh.

“Apa masalahnya Ibu...?”

“Semenjak Alqomah menikah dengan perempuan yang dicintainya, ia mulai melupakan aku... bahkan meremehkan aku. Ia lebih mendahulukan kepentingan istrinya daripada aku. Ia lebih mendengar kata-kata istrinya daripada nasehatku. Padahal akukan ibunya… aku sangat sakit hati, karena Alqomah tidak pernah sedikitpun menyadari kesalahannya lalu minta maaf kepadaku… Yaaahh... sampai sekarang aku tidak ridho kepadanya…”

Rosululloh telah menemukan jawaban atas keadaan yang dialami Alqomah. Kemarahan ibunyalah yang menyebabkan Alqomah mengalami beratnya sakaratulmaut, karena lisannya tidak mampu melafadzkan kalimat “Laa ilaaha illalloh…”

“Wahai Bilal…” panggil Rosululloh.

“Cari dan kumpulkan kayu bakar yang banyak!”

Ibunda Alqomah merasakan sesuatu yang janggal dari ucapan Rosululloh. “Untuk apakah kayu bakar itu, wahai Rosululloh… Apa yang akan kau perbuat terhadap Alqomah?”

“Membakarnya...” jawab Rosululloh singkat.

“Apa?! Wahai Rosululloh… Betapapun marahnya aku kepada Alqomah, mana mungkin aku sampai hati kalau ia dibakar api. Mohon jangan lakukan itu...”

“Tahukah Ibu… Adzab Alloh lebih mengerikan dan lebih kekal. Kalau memang Ibu ingin Alloh mengampuni dosa Alqomah, maka Ibu harus mau memaafkan semua kesalahan Alqomah terhadap Ibu lalu Ibu meridhoinya… Sebab semua ibadah yang telah dikerjakan Alqomah, seperti, sholat, berpuasa dan bersedekah, semua itu tidak ada artinya bagi Alqomah selama Ibu masih memendam amarah terhadapnya..”

Walau bagaimanapun, orang tua tetaplah orang tua yang tidak mungkin tega melihat anaknya menderita. Ibunda Alqomah pun tidak rela kalau anaknya mendapat adzab dari Alloh.

“Baiklah wahai Rosululloh, aku bersaksi kepada Alloh dan para malaikatNya. Aku juga bersaksi dihadapan orang-orang iman yang hadir di sini bahwa sekarang juga aku memaafkan semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh Alqomah terhadapku… Dan aku meridhoinya…”

“Bilal…!”

“Ya, Rasululloh…”

“Pergilah ke rumah Alqomah. Lihatlah, apakah ia sudah bisa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh… Aku kuwatir jangan-jangan pernyataan Ibunda Alqomah tadi tidak berasal dari dalam hatinya melainkan hanyalah sungkan kepadaku”

Berangkatlah Bilal menuju rumah Alqomah. Begitu sampai di depan rumah ia menjumpai telah banyak orang-orang berdatangan. Tiba-tiba Bilal mendengar suara Alqomah dengan fasih dan jelas melafadzkan kalimat Laa ilaaha illalloh…

Sampai didalam rumah Bilal menjumpai Alqomah telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Lalu Bilal berkata, “Wahai orang-orang yang hadir di sini. Ketahuilah bahwa amarah ibunya telah menghalang-halangi Alqomah untuk membaca kalimat talkin. Dan sekarang berkat ridho ibunya ia bisa mengucapkan kalimat itu…”

Tak lama kemudian Rosululloh beserta beberapa sahabatnya datang berta’ziyah. Mereka lalu memandikan, mengkafani dan mensholati jenazah Alqomah. Kemudian diantar beriringan oleh Rosululloh dan para sahabat menuju tempat pemakaman.

Pemakaman Alqomah pun selesai dilaksanakan. Sementara para pengantar masih berada di tempat pemakaman, Rosululloh bersabda, “Wahai orang-orang beriman, muhajir dan anshor…… Siapa saja yang mengutamakan kepentingan istrinya hingga melalaikan ibunya, maka ia akan mendapatkan laknat Alloh, laknat para Malaikat dan laknat semua para manusia. Alloh tidak menerima amal ibadahnya, baik yang wajib maupun yang sunnah, kecuali jika ia bertaubat dan berbuat baik serta mencari ridho ibunya. Sebab ridho Alloh beserta ridhonya ibu dan murka Alloh beserta murkanya ibu”.

http://ponpesgama.blogspot.com/2011/02/kisah-inpiratif-syurga-di-bawah-telapak.html

Tuesday, June 7, 2011

Sultan Saladin, Pahlawan Islam di Perang Salib

Dia dikenal sebagai raja, panglima perang yang jago strategi, pemimpin umat, dan sekaligus sosok yang santun dan penuh toleransi. Banyak manuskrip yang mencatat “Saladin Sang Raja Mesir” (Saladin, King of Egypt) sebagai simbol kekuasaan Eropa. Namanya tidak bisa dilepaskan dari Sejarah Perang Salib yang membawa kejayaan Islam, namun tanpa menindas kaum Kristiani.

Sultan Saladin lahir dengan nama Salahidun Yusuf Ibn Ayyub di Tikrit, dekat Sungai Tigris dari sebuah keluarga Kurdi. Ia dikirim ke Damaskus, Suriah, untuk menimba ilmu. Selama sepuluh tahun ia berguru pada Nur ad-Din (Nureddin). Setelah berguru ilmu militer pada pamannya, seorang negarawan Seljuk dan pimpinan pasukan Shirkuh, ia dikirim ke Mesir untuk menghadang perlawanan Kalifah Fatimiyah tahun 1160. Ia sukses dengan misinya yang membuat pamannya duduk sebagai wakil di Mesir pada tahun yang sama. Saladin memperbaiki perekonomian Mesir, mengorganisasi ulang kekuatan militernya, dan mengikuti anjuran ayahnya untuk tidak memasuki area konflik dengan Nur ad Din. Sepeninggal Nur ad Din, barulah ia mulai serius memerangi kelompok Muslim sempalan dan pembrontak Kristen. Dia bergelar Sultan di Mesir dan menjadi pendiri Dinasti Ayyubi serta mengembalikan ajaran Sunni ke Mesir.

Terlibat dalam Perang Salib

Dalam dua kesempatan, tahun 1171 dan 1173, Saladin diinvasi Kerajaan Kristen Jerusalem. Nur ad Din saat ini berniat membalas serangan. Namun Saladin berpendapat bahwa mereka harus kuat terlebih dulu. Sepeninggal Nur ad Din, Saladin menjadi penguasa Damaskus. Ia menikahi janda Nur ad Din dan menaklukkan dua kota penting Aleppo dan Mosul yang dulu selalu gagal ditaklukkan Nuraddin. Namun ia menjadi penguasa yang bersahaja. Sedapatnya, ia selalu menghindari pertumpahan darah, apalagi darah warga sipil. Saat menaklukkan Aleppo, 22 Mei 1176, nyawanya nyaris melayang karena usaha pembunuhan. Ia melakukan konsolidasi di Suriah sambil sebisa mungkin menjaga agar jangan sampai tumpah perang dengan pasukan salib sebesar apapun provokasi dari pasukan salib. Misalnya, ia masih belum bereaksi saat Raynald of Chatillon mengusik aktivitas perdagangan dan perjalanan ibadah haji di Laut Merah, wilayah yang menurut Saladin harus selalu menjadi wilayah bebas. Puncaknya adalah saat penyerangan terhadap rombongan karavan jamaah haji tahun 1185. Saladin meradang.

Juli 1187, Saladin menyerang Kerajaan Jerusalem dan terlibat dalam pertempuran Hattin. Ia berhasil mengeksekusi Raynald dan rajanya, Guy of Lusignan. Dia kembali ke Jerusalem 2 Oktober 1187, 88 tahun setelah kaum Salib berkuasa. Berbagai medan pertempuran dilaluinya, dengan satu pesan yang sama kepada pasukannya; minimalkan pertumpahan darah, jangan melukai wanita dan anak-anak. Perang Salib III menelan biaya yang tak sedikit dari kubu Kristen. Inggris mengucurkan dana bantuan yang dikenal dengan istilah ‘Saladin Tithe’ (Zakat melawan Saladin). Dalam satu pertempuran, ia berhadap-hadapan dengan King Richard I dari Inggris di medan perang Arsuf tahun 1191. Di luar perkiraan kedua pasukan, Saladin dan King Richard I saling berjabat tangan dan menghormat satu sama lain. Bahkan saat tahu pimpinan pasukan musuhnya itu sakit, Saladin menawarkan bantuan seorang dokter terbaik yang dimiliki Damaskus. Begitu juga saat tahu Richard kehilangan kuda tunggangannya, ia memberikan dua ekor sebagai gantinya. Di medan itu, keduanya sepakat berdamai. Bahkan adik Richard dinikahkan dengan saudara Saladin.

Tak lama setelah kepergian Richard, Saladin wafat pada tahun 1193 di Damaskus. Saat kotak penyimpanan harta Saladin dibuka, ahli warisnya tidak menemukan cukup uang untuk membiayai pemakamanannya: ia selalu mendermakan hartanya kepada kaum yang membutuhkan. Kini makamnya menjadi salah satu tempat tujuan wisata utama di Suriah. Nama Saladin harum di seantero dunia hingga kini. Bukan hanya kalangan Muslim, kalangan non-Muslim juga sangat menghormatinya. Satu yang dicatat dalam buku-buku sejarah: ketika pasukan Salib menyembelih semua Muslimin yang ditemui saat mereka menaklukkan Jerusalem, Saladin memberikan amnesti dan kebebasan bagi kaum Katolik Roma begitu ia menaklukkan Jerusalem.


Sultan Saladin

1138: Lahir di Tikrit, Irak, sebagai putra dari pimpinan kaum Kurdi, Ayub.

1152: Mulai pekerja sebagai pelayan pimpinan Suriah, Nureddin.

1164: Mulai menunjukkan pekiawaiannya dalam bidang strategi militer dan dalam perang melawan pasukan Salib di Palestina.

1169: Saladin menjadi orang kedua dalam kepemimpinan militer Suriah setelah pamannya, Shirkuh. Shirkuh menjadi wakil di Mesir namun meninggal 2 bulan kemudian. Ia menggantikannya. Namun karena kurang ada respons dan dukungan dari penguasa, ia kembali ke Kairo yang menjadi puas kekuatan Dinasti Ayyub.

1171: Saladin menekan penguasa Fatimi dan menjadi pemimpin Mesir dengan dukungan kekhalifahan Abbasiah. Namun tidak seperti Nureddin yang ingin sesegera menggempur pasukan Kristen, ia cenderung lebih menahan diri. Inilah yang membuat hubungan antar keduanya merenggang.

1174: Nureddin meninggal. Saladin menyususn kekuatan.

1175: The Syrian Assassin leader Rashideddin’ s men made two attempts on the life of Saladin, the leader of the Ayyubids. The second time, the Assassin came so close that wounds were infliceted upon Saladin.

1176: Saladin besieges the fortress of Masyaf, the stronghold of Rashideddin. After some weeks, Saladin suddenly withdraws, and leaves the Assassins in peace for the rest of his life. It is believed that he was exposed to a threat of having his entire family murdered.

1183: Penaklukan kota di utara Suriah, Aleppo.

1186: Penaklukan Mosul di utara Irak.

1187: Dengan kekuatan baru, menyerang Kerajaan Latin Jerusalem dengan pertempuran sengit selama 3 bulan.

1189: Perang Salib III meluas di Palestina setelah Jerusalem di bawah kontrol Saladin. (Lihat Film Versi Hollywood : Kingdom of Heaven)

1192: Menandatangani perjanjian dengan King Richard I dari Inggris yang membagi wilayah pesisir untuk Kaum Kristen dan Jerusalem untuk Kaum Muslim.

4 Maret 1193: Meninggal di Damaskus tidak lama setelah jatuh sakit.

Sumber : http://saladinmania.wordpress.com/

Friday, June 3, 2011

Kelembutan dalam Berdakwah

Suatu hari, seorang ustadz datang ke istana Amirul Mukminin Harun al-Rasyid. Ia datang untuk menasihati Harun al-Rasyid. Di hadapan Harun al-Rasyid, ustadz itu mengucapkan kata-kata yang kasar dan pedas.

Ustadz itu berkata, ‘Wahai Harun al-Rasyid, selama ini Anda sudah melakukan begini dan begitu’. Ia menyebutkan keburukan-keburukan Harun al-Rasyid.

Setelah selesai mendengarkan perkataan ustadz itu, Harun al-Rasyid menjawab, ‘Duhai saudaraku, apakah Anda lebih baik dari Musa alayhissalam?’

Ustadz itu menjawab, ‘Tentu saja, tidak’.

Harun al-Rasyid kembali bertanya, ‘Apakah saya lebih jahat dari Firaun?’

Ustadz itu menjawab, ‘Tentu saja, tidak’.

Harun al-Rasyid berkata, ‘Kalau begitu, selama Anda tidak lebih mulia dibanding Musa alayhissalam dan saya tidak lebih jahat dibanding Firaun, maka tidakkah Anda perhatikan bahwa Allah swt berfirman kepada Musa, ‘Hendaknya kalian berdua (yakni Musa dan Harun) berkata kepada Firaun dengan ucapan yang menyejukkan, mudah-mudahan dengan cara demikian ia menjadi sadar dan takut kepada-Ku?' (al-Quran, surat Thoha ayat 44).

Begitulah jawaban Harun al-Rasyid kepada ustadz yang menasihatinya. Ya, sebuah jawaban yang halus dan mengena. Kisah ini saya dapatkan dalam sebuah buku yang ditulis oleh salah satu ulama Mesir, yang diterbitkan oleh salah satu penerbit ternama di Lebanon.

Saudaraku, kita persis seperti ustadz itu. Kita nasihati dan ceramahi orang dengan kalimat-kalimat munafik, bid’ah, dan kufur. Kita katakan orang lain islamnya tidak kaffah (total), padahal makna kaffah belum tentu kita pahami dengan benar. Dari atas mimbar, kita caci orang yang tidak satu golongan, mazhab, ormas, atau partai dengan kita. Dari status atau catatan jejaring sosial, kita sentil orang dengan menampilkan diri kita sebagai Mr. Clean.

Subhanallah…

Perhatikanlah, Nabi Musa dan Harun saja diperintahkan oleh Allah untuk menasihati Firaun dengan tutur kata yang lembut. Kita tahu siapa Firaun. Dialah yang mengaku Tuhan. Namun, apa yang terjadi dengan kita? Kita nasihati orang lain dengan cara sebaliknya. Kita telanjangi orang lain. Kita puas manakala kita membongkar aibnya. Padahal, yang kita nasihati tidak lebih buruk dari Firaun, dan kita sendiri tidak ada apa-apanya dibanding Musa dan Harun.

Subhanallah, betapa arogannya diri kita…

Sesungguhnya musuh kita adalah kejahilan, bukan si jahil (orangnya). Oleh karena itu, nasihatilah si jahil atas dasar kecintaan kepada Allah, bukan atas dasar kedengkian dan kebencian, apalagi untuk menghinakannya. Manusia bukan malaikat. Manusia adalah makhluk yang senantiasa tergelincir dalam kesalahan. Bersikaplah santun, toleran, dan sejuk kepada orang lain, sambil Anda menyadari pula bahwa Anda juga berpotensi untuk tergelincir dalam kesalahan.

Jangan sedih manakala nasihat kita dianggap angin lalu. Jika kita sedih, itu tanda kita kurang ikhlas. Jangan kita terlampau bernafsu agar orang lain menjadi baik di tangan kita. Kita hanyalah penyampai (muballigh). Tidak lebih.

‘Engkau tidak akan mampu memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang engkau cintai, namun hanya Allah yang mampu memberi hidayah kepada siapapun yang Ia kehendaki. Allah tahu siapa yang mau menerima petunjuk’. (al-Quran, surat al-Qashash, ayat 56).
Percayalah, buat orang beriman, nasihat mendatangkan kebaikan… Percayalah, dengan nasihat yang beradab kita bisa masuk surga…

http://bangaziem.wordpress.com/category/kisah-inspiratif/page/3/

Wednesday, June 1, 2011

Semua Karena Rahmat Allah

Suatu hari, Jibril alayhissalam datang kepada Rasulullah saw. Jibril berkata, "Ada seorang hamba yang telah beribadah kepada Allah di atas puncak bukit yang berada di tengah laut selama 500 tahun. Hamba itu meminta kepada Allah agar ia dimatikan di saat ia sedang bersujud.

Kami, para malaikat, sering melewatinya di saat kami turun ke bumi atau naik ke langit. Kami mendapatkan informasi bahwa nanti di saat ia dibangkitkan pada hari kiamat lalu dibawa ke hadapan Allah, maka Allah berkata kepada malaikat, ‘Masukkan hambaku ini ke dalam surga karena rahmatku.’

Hamba itu protes sambil berkata, ‘Ya Allah, karena amalku saja.’ Dia mengatakan itu sampai tiga kali.

Lalu Allah berkata kepada malaikat, ‘Lakukan perbandingan antara nikmat yang telah didapatkan hamba-Ku ini dengan amalnya.’

Maka, para malaikat mendapatkan kesimpulan bahwa nikmat penglihatan hamba itu setara dengan ibadahnya selama 500 tahun. Sementara, nikmat-nikmat fisik yang lain belum termasuk.

Allah berkata kepada malaikat, ‘Kalau begitu, masukkan hamba-Ku ini ke neraka.’
Lalu hamba itu digiring ke neraka. Pada saat itulah, ia memohon, ‘Ya Allah, masukkan aku ke surga. Masukkan aku ke surga-Mu dengan rahmat-Mu.’

Maka, Allah memasukkannya ke surga."

Lalu Jibril berkata, "Wahai Muhammad, sesungguhnya segala sesuatu karena rahmat Allah."

Kisah itu termuat dalam al-Mustadrak Imam al-Hakim.

Jadi, jika Anda kaya, jangan katakan bahwa itu karena kerja keras Anda membanting tulang. Jika Anda pintar, jangan katakan bahwa itu karena kejeniusan otak Anda. Jika Anda sukses, jangan katakan bahwa itu karena ilmu atau gelar Anda. Jika Anda naik jabatan, jangan katakan bahwa itu prestasi Anda.

Semua itu karena rahmat Allah swt. "Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS 7: 156)

http://bangaziem.wordpress.com/category/kisah-inspiratif/page/2/

Friday, May 27, 2011

Syaikh ‘Abdurrahman Sudais

Di antara kita paling sering mendengar murothal atau tilawah quran dari Syaikh ‘Abdurrahman Sudais hafizhohullah. Beliau adalah salah satu imam dan khotib Masjidil Haram, Makkah Al Mukarromah. Lihatlah suaranya begitu merdu dan lantunan qur’annya begitu syahdu. Beliau tidak hanya hafizh quran, namun beliau juga menjadi spesialis ilmu fiqih. Bagaimana cita-cita beliau di masa kecil? Berikut ceritanya.

Ketika Syaikh Sudais dalam usia anak-anak, ibunya selalu mengatakan padanya, “Wahai ‘Abdurrahman, hafalkanlah qur’an. Insya Allah engkau akan menjadi imam masjidil Harom.” Demikian dorongan motivasi dari ibunya agar Syaikh Sudais kecil bisa termotivasi menghafalkan qur’an.

Lalu setiap kali Syaikh Sudais kecil datang ke Masjidil Harom, ia melihat lebih dekat bagaimanakah tingkah laku imam di sana. Kemudian di pikirannya terbayang, apakah mungkin dia akan seperti itu (menjadi imam Masjidil Harom) dari hari ke hari?
Kemudian pikiran Syaikh Sudais kecil akhirnya terpancing. Dorongan dari ibunya tadi benar-benar memotivasinya. Lalu ia terbayang lagi dalam pikirannya, “Mungkinkah saya bisa menghafalkan qur’an tanpa ada yang keliru? Mungkinkah saya bisa melantunkan al qur’an tanpa membuat kesalahan?”

Akhirnya dengan karunia Allah, kita dapat lihat sendiri bagaimanakah bacaan beliau ketika memimpin shalat di Masjidil Harom. Lihatlah pula ketika beliau membaca ayat, hafalan beliau begitu kuat, tidak kita temukan cacat di sana-sini. Inilah fadhlullah, karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.[1]

***
Pelajaran dari kisah beliau di atas adalah:

1. Dorongan motivasi dari orang tua sangat mendorong sekali seorang anak bisa menjadi sholeh dan bisa menjadi penghafal qur’an.

2. Menghafalkan qur’an di masa kecil seperti seseorang begitu mudah mengukir di batu. Namun tidak ada kata terlambat untuk menghafal qur’an. Ada beberapa kisah nyata yang menunjukkan bahwa ada orang tua yang sudah berumur kepala lima (55 tahun) menghafalkan qur’an. Ada yang berumur 60 tahun juga menjadi hafizh qur’an. Itulah karunia Allah.

3. Untuk menghafalkan qur’an haruslah seseorang diberi motivasi bahwa Al Qur’an itu mudah untuk dihafal. Motivasi semacam ini akan membuat anak kecil atau yang lainnya semakin terdorong untuk menghafalkan qur’an, berbeda jika diberi motivasi sebaliknya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al Qomar: 17).

Semoga dengan taufik dan kemudahan dari Allah kita dapat menjadi bagian dari orang-orang yang menjadi hafizh qur’an secara sempurna. Jika kita selaku orang tua, jangan lupa memotivasi anak-anak kita untuk menghafalkan qur’an, karena itu akan meninggikan derajat anak kita di dunia dan akhirat, orang tua pun akan tertular kebaikannya. Jangan lupa iringi dengan do’a.

Wallahu waliyyut taufiq.

Riyadh-KSA, 29 Rabi’ul Awwal 1432 H (04/03/2011)
http://rumaysho.com/belajar-islam/teladan/3360-cita-cita-syaikh-sudais-menjadi-imam-masjidil-haram.html

Laksamana Cheng Ho: Muslim yang Gemar Memakmurkan Masjid

Laksamana Cheng Ho dikenal sebagai Muslim yang sangat taat dalam menjalankan ibadah. Tentu saja, keislamannya ini karena dilakukan dari lubuk hatinya yang terdalam.

Bagi Cheng Ho, bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinantikan. Bahkan, pada 7 Desember 1411, sesudah pelayarannya yang ke-3, laksamana kepercayaan kaisar Ming ini menyempatkan pulang ke kampungnya, Kunyang, untuk berziarah ke makam sang ayah. Ketika Ramadhan tiba, ia memilih menjalankan ibadah puasa di kampung halamannya.

Cheng Ho dilahirkan tahun 1371 M di sebuah Provinsi bernama Yunan yang ada di sebelah barat daya Cina. Nama kecilnya adalah Ma Ho atau Ma He. Namun, ia juga dikenal dengan sebutan Sam Bo, Sam Po, atau Ma San Po dalam dialek Fujian. Kadang, ada pula yang memanggil namanya dengan Zheng He atau Cheung Ho dalam dialek Kanton. Menurut beberapa riwayat, nama Muslimnya adalah Haji Mahmud Syams.

Laksamana agung ini adalah seorang Muslim yang sangat taat. Ia merupakan keturunan Cina dari Suku Hui. Ia dilahirkan sebagai anak kedua dari pasangan Ma Hazhi dan Wen, ibunya. Sebagai orang Hui-etnis Cina yang sebagian besar pemeluk Islam-Cheng Ho sejak kecil sudah memeluk agama Islam. Kakek dan ayahnya sudah menunaikan rukun haji. Konon, kata hazhi dalam dialek mandarin mengacu pada kata haji.

Dalam setiap kali melakukan pelayaran, para awak kapal yang beragama Islam juga senantiasa melaksanakan shalat secara berjamaah. Tercatat, beberapa tokoh Muslim yang pernah ikut adalah Ma Huan, Guo Chongli, Fei Xin, Hassan, Sha’ban, dan Pu Heri. ”Kapal-kapalnya diisi dengan prajurit yang kebanyakan terdiri atas orang Islam,” tulis Buya Hamka dalam majalah Star Weekly.

Ma Huan dan Guo Chongli yang fasih berbahasa Arab dan Persia bertugas sebagai penerjemah. Sedangkan, Hassan yang juga pimpinan Masjid Tang Shi di Xian (Provinsi Shan Xi) berperan mempererat hubungan diplomasi Tiongkok dengan negeri-negeri Islam. Hassan juga bertugas memimpin kegiatan-kegiatan keagamaan dalam rombongan ekspedisi, misalnya dalam melaksanakan penguburan jenazah di laut atau memimpin shalat hajat ketika armadanya diserang badai.

Cheng Ho juga dikenal sangat peduli dengan kemakmuran masjid. Tahun 1413, dia merenovasi Masjid Qinging (timur laut Kabupaten Xian). Tahun 1430, ia memugar Masjid San San di Nanjing yang rusak karena terbakar. Pemugaran masjid mendapat bantuan langsung dari kaisar.

Konon, pada ekspedisi terakhir (1431-1433), ia sempat menunaikan ibadah haji sebagai pelengkap menjadi seorang Muslim sejati. Sebagai seorang Muslim, ia juga selalu mengandalkan diplomasi damai dalam setiap pelayarannya. Hamka mengatakan, ”senjata alat pembunuh tidak banyak dalam kapal itu, yang banyak adalah ‘senjata budi’ yang akan dipersembahkan kepada raja-raja yang diziarahi.” (Budi Raharjo/Berbagai sumber/RoL)

http://www.dakwatuna.com/2010/08/7003/laksamana-cheng-ho-muslim-yang-gemar-memakmurkan-masjid/

Tuesday, May 10, 2011

Bilal bin Rabah Al Habasyi Radhiallahu ‘Anhu (Wafat 20 H)

Namanya adalah Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).

Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Shalallahu ‘alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.

Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal, semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”

Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu ‘anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.

Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”

Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya.”

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”

Ash-Shiddiq Rodhiallahu ‘anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”

Setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih :

Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti
Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil
Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah
Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil


Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi.

Selalu bersamanya saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.

Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alalfalaahi…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat ‘id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.

Bilal menyertai Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ’sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.

Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”.

Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.

Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..

Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”

AI-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”

Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”

Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Sesaat setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.

Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali (yang artinya), “Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat.

Diposting oleh : Abu Thalhah Andri Abdul Halim, diambil dari ‘Biografi Ahlul Hadits’, yang bersumber dari : Shuwar min Hayaatis Shahabah, karya, Doktor ‘Abdurrahman Ra’fat Basya.
http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihattokoh&id=207