Showing posts with label Malaikat. Show all posts
Showing posts with label Malaikat. Show all posts

Saturday, July 6, 2013

Malaikat Kiraman Katibin



Diterangkan dalam sebuah hadits bahwa manusia dijaga oleh malaikat, salah satunya berada di sebelah kanan sebagai pencatat amal kebaikan tanpa kesaksian yang lain, dan yang satunya lagi berada di sebelah kiri sebagai pencatat amal yang jelek, dan dia tidak akan mencatat amal jelek tanpa kesaksian di sebelah kanannya.
 
Jika manusia duduk, satu malaikat berada di sebelah kanannya dan malaikat lainnya di sebelah kirinya. Sedangkan jika manusia berjalan, maka satu malaikat berada di belakangnya dan malaikat yang lain berada di depannya, dan jika manusia tidur, malaikat yang satu berada di dekat kepalanya dan yang lain berada di dekat kirinya.

Kesaksian Malaikat
 
Dalam riwayat yang lain dijelaskan, ada 5 malaikat yang menyertai manusia, yaitu:

  • Dua malaikat menjaga pada malam hari.
  • Dua malaikat menjaga pada siang hari.
  • Dan satu malaikat yang tidak pernah berpisah dengannya.
Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Artinya:
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
(QS. Ar-Ra'd: 11).

Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.

Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

Yang dimaksud malaikat yang bergantian yaitu malaikat malam dan siang yang melindunginya dari jin, setan dan manusia.

Kedua malaikat menulis amal kebaikan dan kejelekan diantara kedua bahunya. Lidahnya sebagai pena, mulutnya sebagai tempat tinta, keduanya menulis amal manusia sampai datang hari kematiannya.

Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya malaikat di sebelah kanan itu lebih dapat dipercaya daripada malaikat di sebelah kiri. Maka jika manusia beramal jelek dan malaikat di sebelah kiri akan menulisnya, maka malaikat di sebelah kanannya berkata kepadanya, 'Tunggu dulu, tunggulah selama 7 jam, jika dia beristighfar kepada Allah jangan kau tulis dan jika dia tidak beristighfar maka tulislah satu kejelekan.'"

Maka ketika dicabut nyawa manusia dan diletakkan dalam kuburnya, kedua malaikat berkata,
"Wahai Tuhanku, Engkau telah menyerahkan kepada kami hamba-Mu untuk menulis amalnya dan sungguh Engkau telah mencabut ruhnya, maka ijinkanlah kami naik ke langit."

Maka ALlah SWT berfirman,

"Langit telah dipenuhi dengan malaikat yang membaca tasbih, maka kembalilah kalian berdua dan bertasbihlah kepada-Ku, bacalah takbir dan tahlil, dan tulislah bacaan-bacaan itu untuk hamba-Ku sampai dia dibangunkan dari kuburnya."

Kiraman Katibin

Allah SWT berfirman tentang malaikat Kiraman Katibin,

Aku menanamkan mereka Kiraman Katibin karena ketika menulis amal kebaikan mereka naik ke langit dan memperlihatkannya kepada Allah dan mereka bersaksi atas hal tersebut dengan berkata, "Sesungguhnya hamba-Mu si Fulan berbuat sesuatu kebaikan demikian dan demikian."

Dan ketika menulis atas seorang hamba amal kejelekan, mereka naik dan memperlihatkannya kepada Allah dengan rasa susah dan gelisah.

Maka Allah SWT berfirman kepada malaikat Kiraman Katibin, "Apa yang diperbuat hamba-Ku?"

Mereka diam hingga Allah berfirman untuk yang kedua dan ketiga kalinya, lalu mereka berkata,
"Ya Tuhanku, Engkau Dzat yang mengetahui aib dan Engkau memerintahkan hamba-hamba-Mu agar menutupi aib-aib mereka. Sesungguhnya setiap hari mereka membaca kitab-Mu dan mereka mengharap kami menutupi aibnya."

Lalu malaikat Kiraman Katibin mengatakan yang mereka ketahui tentang apa yang diperbuat seorang hamba.

"Maka sesungguhnya kami menutupi aib-aib mereka dan Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui aib-aib."

Karena inilah mereka dinamakan Kiraman Katiban (yang mulia di sisi Allah) dan yang mencatat amal perbuatan.

Referensi dari kitab Daqoiqul Akhbar Fii Dzikril Jannati Wan Nar.
Sumber: http://kisahislamiah.blogspot.com/2011/07/kisah-malaikat-pencatat-amal.html
Sumber : http://anehcuy.blogspot.com/2012/10/subhanallah-inilah-kisah-malaikat.html#ixzz2POZ07lbo

Thursday, November 1, 2012

Ilmuwan Berhasil Menemukan Letak Terompet Malaikat Isrofil

Sekitar tahun 2005 silam sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Prof. Frank Steiner dari Universitas Ulm, Jerman melakukan observasi terhadap alam semesta untuk menemukan bentuk sebenarnya dari alam semesta raya ini sebab prediksi yang umum selama ini mengatakan bahwa alam semesta berbentuk bulat bundar atau prediksi lain menyebutkan bentuknya datar saja.

Dengan menggunakan sebuah peralatan canggih milik NASA yang bernama “Wilkinson Microwave Anisotropy Prob” (WMAP), mereka mendapatkan sebuah kesimpulan yang sangat mencengangkan karena menurut hasil penelitian tersebut alam semesta ini ternyata berbentuk seperti terompet..!!

Di mana pada bagian ujung belakang wilayah “terompet” alam semesta itu merupakan alam semesta yang tidak bisa diamati (unobservable), sedang bagian depan, di mana bumi dan seluruh sistem tata surya berada merupakan alam semesta yang masih mungkin untuk diamati (observable)



Beginilah bentuk cosmos jagat raya yang ditemukan oleh saintis, berbentuk terompet. Semakin kearah ujung "terompet" (sebelah kanan) maka semakin banyak galaksi dan bisa diamati.

Bentuk Alam Semesta
Di dalam kitab Tanbihul Ghofilin Jilid 1 hal. 60 ada sebuah hadits panjang yang menceritakan tentang kejadian kiamat yang pada bagian awalnya sangat menarik untuk dicermati.

Abu Hurairah ra berkata :

Rasulullah saw bersabda :“Ketika Allah telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah menjadikan sangkakala (terompet) dan diserahkan kepada malaikat Isrofil, kemudian ia letakkan dimulutnya sambil melihat ke Arsy (Singgasana kekuasaan) menantikan bilakah ia diperintah”.

Saya bertanya : “Ya Rasulullah apakah sangkakala itu?”

Jawab Rasulullah : “Bagaikan tanduk dari cahaya.”

Saya tanya : “Bagaimana besarnya?”

Jawab Rasulullah : “Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutusku sebagai Nabi, besar bulatannya itu seluas langit dan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali.

Tiupan pertama : Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan).

Tiupan kedua : Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan).

Tiupan ketiga: Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).”

Dalam hadits di atas disebutkan bahwa sangkakala atau terompet malaikat Isrofil itu bentuknya seperti tanduk dan terbuat dari cahaya.

Ukuran bulatannya seluas langit dan bumi. Bentuknya laksana tanduk mengingatkan kita pada terompet orang–orang jaman dahulu yang terbuat dari tanduk.



Akhir dari pangkal "terompet" (sebelah kiri) di alam semesta ini tidak terbatas panjangnya dan sangat sempit. Hal ini membuat para saintis semakin tidak bisa mengamati dan menyelidikinya.

Kalimat seluas langit dan bumi dapat dipahami sebagai ukuran yang meliputi/mencakup seluruh wilayah langit (sebagai lambang alam tak nyata/ghoib) dan bumi (sebagai lambang alam nyata/syahadah).

Atau dengan kata lain, bulatan terompet malaikat Isrofil itu melingkar membentang dari alam nyata hingga alam ghoib.

Jika keshohihan hadits di atas bisa dibuktikan dan data yang diperoleh lewat WMAP akurat dan bisa dipertanggungjawabkan maka bisa dipastikan bahwa kita ini bagaikan rama-rama (kupu-kupu) yang hidup di tengah-tengah kaldera gunung berapi paling aktif yang siap meletus kapan saja.

Satu lagi contoh dari banyaknya bukti tentang kebenaran Kitab Suci akhirnya terkuak. Contohnya seperti dalam Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa janin berkembang dengan tiga fase, yang akhirnya menjadi patokan bidang kedokteran di seluruh dunia.

Juga, bahwa matahari dan semua benda langit bergerak tanpa kecuali yang pada masa dahulu disangkal oleh para ilmuwan ternyata juga ada di dalam Al-Qur’an dan masih banyak kebenaran lainnya yang manusia belum dapat menguaknya.

Perlu diketahui pula bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang saintis apalagi seorang astronomis, namun itu semua sudah ada di kitab yang berusia lebih dari 1.400 tahun yang lalu.

Bukti yang tadinya untuk akal manusia saja masih merupakan misteri. Kenapa dan apa yang dimaksud dengan terompet (sangkakala) malaikat Isrofil itu?

Dan Allah telah mengabarkan kedahsyatan terompet malaikat Isrofil itu dalam surah An Naml ayat 87 :

“Dan pada hari ketika terompet di tiup, maka terkejutlah semua yang di langit dan semua yang di bumi kecuali mereka yang di kehendaki Allah. Dan mereka semua datang menghadapNya dengan merendahkan diri.” (An Naml 87)

Makhluk langit saja bisa terkejut apalagi makhluk bumi yang notabene jauh lebih lemah dan lebih kecil. Pada sambungan hadits di atas ada sedikit preview tentang seperti apa keterkejutan dan ketakutan makhluk bumi kelak.

“Pada saat tergoncangnya bumi, manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya, yang menyusui lupa pada bayinya, anak-anak jadi beruban dan setan-setan berlarian.”

Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik, jika terompetnya saja sebesar itu, bagaimana dengan peniupnya dan bagaimana pula Sang Pencipta keduanya?

Maha Besar dan Maha Benar Allah SWT dengan segala firmanNya.

http://forum.viva.co.id/iptek/560186-ilmuwan-berhasil-menemukan-letak-terompet-malaikat-isrofil.html

Monday, October 8, 2012

Wasiat dari Jibril

Dalam suatu riwayat Ibnu Hatim, disebutkan bahwa Jibril AS pernah berkata pada Nabi Muhammad Saw, “Tidaklah aku diutus kepada seseorang yang lebih aku cintai daripada ketika aku diutus kepadamu.”

“Maukah aku ajarkan kepadamu (kalimat pembuka) doa yang aku simpan khusus untukmu—yang belum pernah aku ajarkan kepada seorangpun sebelummu—yang dapat engkau baca sewaktu berdoa dengan harap-harap cemas? Maka bacalah:

“Yaa nuurus samawaati wal ardhi.
Wayaa qoyyumas samaawaati wal ardhi.
Wayaa shomadas samaawati wal ardhi.
Wayaa zainas samaawaati wal ardhi.
Wayaa jamaalas samaawati wal ardhi.
Wayaa dzal jalaali wal ikroom.
Wayaa ghoutsal mustaghitsiina.
Wamuntaha roghbatil ‘aabidiina.
Wa munaffisal kurobi ‘anil makrubiina.
Wa mufarrijal ghommi ‘anil maghmuumiina.
Wa shoriikhol mustashrikhiina.
Wa mujiiba suu’aalil ‘abidiina…”

“Wahai Dzat Yang Menerangi langit dan bumi.
Wahai Dzat Yang Mengurus langit dan bumi.
Wahai Dzat Yang Menahan langit dan bumi.
Wahai Dzat Yang Menghiasi langit dan bumi.
Wahai Dzat Yang Memperindah langit dan bumi.
Wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan.
Wahai Dzat Yang menjadi tempat memohon pertolongan bagi mereka yang memohonnya.
Wahai Dzat yang menjadi puncak harapan para ahli ibadah.
Wahai Dzat Yang Melepaskan beragam kesulitan bagi mereka yang dilandanya.
Wahai Dzat Yang Menghilangkan kecemasan dari mereka yang ditimpanya.
Wahai Dzat Yang Memberi pertolongan kepada mereka yang memohonnya.
Dan, Wahai Dzat Yang Mengabulkan permohonan para hamba-Nya…”

“Selanjutnya, silakan engkau berdoa kepada Allah dengan doa yang menyangkut urusan dunia dan akhirat.”

Berdoa adalah kebutuhan seorang hamba pada Tuhannya. Biasanya, kebutuhan itu muncul setiap saat terlebih jika kita merasa bahwa diri ini tidak sanggup menanggung beban, masalah yang datang bergantian, hingga sampai putus harapan.

Selain sebagai kebutuhan, Allah juga menyerukan para hamba-Nya untuk mau berdoa, meminta apa pun yang kita inginkan, tanpa harus ‘memaksa’ Allah untuk cepat mengabulkan doa kita. Sebab pada dasarnya, cukuplah Allah yang Mahatahu segala yang terbaik untuk segenap hamba-Nya dan cukuplah hak kabul-mengabulkan menjadi urusan dan rahasia-Nya semata.

“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al-Mukmin: 60).

Islam begitu indah dan sistematis. Segala amal ibadah memiliki cara dan adab masing-masing. Begitu pun dengan berdoa. Karena Allah menganjurkan kita untuk berdoa dan lengkap dengan jaminannya bahwa akan dikabulkan oleh-Nya, maka perbanyaklah meminta pada Allah dengan suara yang lembut, penuh harap—juga selipkan wasiat Jibril selepas shalat fardhu kita. Insya Allah, Dia perkenankan semua hajat kita. Amin. Wallahu a’lam.

Oleh: Ina Salma Febriani
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/10/07/mbiwrg-wasiat-dari-jibril

Wednesday, August 15, 2012

Bagaimana Rasanya Dua Hari Bersama Malaikat Maut?

Nabi Idris atau bernama asli Akhnukh adalah keturunan keenam dari Nabi Adam. Dipanggil Idris karena kepandaiannya dalam berbagai disiplin ilmu dan kemahiran lainnya.

Karena kepandaiannya itu, Nabi Idris ramai menjadi perbincangan di kalangan makhluk Allah, termasuk malaikat pencabut nyawa, Izrail. Dengan izin Allah SWT, Malaikat Izrail diperbolehkan untuk mengunjungi Nabi Idris, namun dengan berpura-pura menjadi manusia biasa.

“Assalamualaikum,” kata malaikat sambil mengetuk pintu rumah Nabi Idris dengan membawakan oleh-oleh dari surga. Mendengar ketukan itu, Nabi Idris yang sehari-hari banyak menghabiskan waktunya menjahit kemeja sambil bertasbih, menjawab salam dan mempersilakan masuk tamu.

Setelah berkenalan dengan tamu, mereka berdua terlibat dalam diskusi hangat seputar Islam dan kepandaian Nabi Idris dalam berbagai disiplin ilmu. Hingga tidak terasa matahari mulai tenggelam di ufuk barat.

Karena malam hari, Nabi Idris mempersilakan tamu menginap di rumahnya. Keduanya bersama-sama asyik beribadah hingga datang waktu makan malam. Sebagai tuan rumah yang baik, Nabi Idris menyuguhkan menu makan malam dan mengajak sang tamu untuk menyantap makan malam bersama.

Namun si tamu menolak dan lebih memilih melanjutkan ibadah sendiri. Setelah selesai makan, Nabi Idris kembali beribadah dengan si tamu bersama-sama hingga larut malam. Rasa ngantuk menyergap Nabi Idris, dengan berat hati Nabi Idris menawarkan si tamu untuk istirahat dan melanjutkan ibadah pada esoknya. Tetapi, si tamu menolak ajakan, dan mempersilakan Nabi Idris untuk istirahat terlebih dahulu.

Kondisi yang sama juga terjadi pada malam berikutnya, hingga akhirnya Nabi Idris menanyakannya kepada si tamu. “Siapakah Anda sebenarnya?, kenapa Anda tidak mau makan dan tidur?”

“Saya adalah Malaikat Izrail,” jawab si tamu. Mendengar jawaban itu, Nabi Idris kaget bukan kepalang. “Anda mau mencabut nyawa saya?” tanya Nabi Idris.

Sejurus kemudian malaikat pencabut nyawa itu menggeleng. Tujuan dia bertamu hanya ingin mengetahui lebih dalam lagi keseharian makhluk Allah SWT yang selalu menjadi pembicaraan karena amal kebaikannya itu.

Dari situ Nabi Idris mulai memahami dan sadar tentang kebiasaan para malaikat yang selalu berdoa tanpa henti, dan kebiasaannya mendekati orang-orang beriman.

“Bagaimana rasanya saat nyawa dicabut?” tanya Nabi Idris kepada Malaikat Izrail. Tidak menunggu waktu lama, Malaikat Izrail mencabut nyawa Nabi Idris dan mengembalikannya kembali dengan izin Allah SWT.

Namun Nabi Idris tidak merasakan apa-apa ketika nyawanya dicabut. “Karena saya melakukannya dengan lemah lembut, begitulah yang saya lakukan kepada orang-orang beriman,” jawab Malaikat Izrail.
www.merdeka.com
http://kisahislami.com/bagaimana-rasanya-dua-hari-bersama-malaikat-maut/

Tuesday, December 6, 2011

Tatkala Nabi Ibrahim A.S. Dijemput Malaikat Maut

Alkisah menurut shirah, pernah Nabi Ibrahim as berdialog dengan Malaikat Maut soal sakratulmaut. Kekasih Allah itu bertanya, “Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat dosa?”

Malaikat menjawab pendek: “Engkau tak akan sanggup.”

“Aku pasti sanggup,” tegas beliau.

“Baiklah, berpalinglah dariku,” pinta si Malaikat.

Saat Nabi Ibrahim as berpaling kembali, di hadapannya telah berdiri sesosok makhluk berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk, dan berpakaian serba hitam. Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula Nabi Ibrahim as jatuh pingsan!

Ketika tersadar kembali, beliau pun berkata kepada Malaikat Maut, “Wahai Malaikat Maut, seandainya para pendosa itu tak menghadapi sesuatu yang lain dari wajahmu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu menjadi hukuman untuknya.”

Di kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh ‘Ikrimah dari Ibn ‘Abbas ini, menceritakan Nabi Ibrahim as meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat mencabut nyawa orang-orang beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada Ibrahim as, Malaikat Maut pun mengubah wujudnya. Maka di hadapan Nabi yang telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan, gagah, berpakaian indah dan menyebar aroma wewangian yang sangat harum.

“Seandainya orang beriman melihat rupamu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu sebagai imbalan amal baiknya,” kata Nabi Ibrahim as.

http://namakugusti.wordpress.com/2010/07/23/tatkala-nabi-ibrahim-as-dijemput-malaikat-maut/

Friday, November 4, 2011

Fir’aun Menetapkan Hukuman untuk Dirinya Sendiri

Al-Shadiq meriwayatkan bahwa suatu kali pada masa Fir’aun berkuasa Sungai Nil pernah surut airnya. Orang-orang pun pulai mendatangi istana Fir’aun dan berseru, “Wahai Raja, alirkanlah untuk kami air Sungai Nil.” Fir’aun menjawab, “Sesungguhnya aku sedang tidak rela terhadap kalian.” Mereka pun pergi.

Selang beberapa waktu setelah itu, mereka pun kembali mendatangi Fir’aun seraya berkata, “Wahai Raja, kematian dan kebinasaan telah menimpa kami; dan jika kamu tidak mengalirkan untuk kami air Sungai Nil, niscaya kami benar-benar akan menyembah tuhan selain kamu.”

Fir’aun menjawab, “Pergilah kalian ke dataran yang lebih tinggi!” Mereka pun pergi. Kemudian Fir’aun menyendiri ke tempat yang tidak diketahui orang dan tidak dapat didengar perkataannya. Fir’aun menempelkan wajahnya ke tanah dan menengadahkan tangannya seraya berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku datang kepada-Mu sebagai seorang hamba yang hina kepada Tuannya, dan sesungguhnya aku menyadari bahwa Engkau mengetahui tidak seorang pun yang dapat mengalirkan air Sungai Nil kecuali Engkau, maka alirkanlah air Sungai Nil ini.”

Tak lama kemudian, mengalirlah air Sungai Nil itu lebih deras dari sebelumnya. Fir’aun menemui rakyatnya dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku telah mengalirkan untuk kalian air Sungai Nil.” Mereka pun menyungkurkan diri seraya sujud kepada Fir’aun.

Setelah kejadian itu, Jibril a.s. (dengan menjelma sebagai seorang manusia) mendatangi Fir’aun seraya berkata kepadanya, “Wahai Raja, tolonglah aku berkenaan dengan seorang budak milikku.”

Fir’aun bertanya, “Apa masalahnya?”

Jibril a.s. menjawab, “Aku memiliki seorang budak yang aku beri kepercayaan dan kekuasaan terhadap budak-budakku yang lainnya. Aku serahkan kepadanya kunci-kunciku, tetapi dia memusuhiku dan menyukai orang yang memusuhiku dan memusuhi orang yang aku cintai.”

Fir’aun berkata, “Seburuk-buruk budak adalah budakmu; seandainya aku dapat menangkapnya, niscaya akan aku tenggelamkan dia ke dalam Laut Qalzam.”

Jibril a.s. berkata, “Wahai Raja, tuliskanlah untukku sebuah surat tentang hal itu.” Maka Fir’aun minta diambilkan kertas dan pena, lalu dia menuliskan di dalamnya hukuman terhadap seorang budak yang menentang tuannya, menyukai orang yang memusuhi tuannya, dan memusuhi orang yang menyukai tuannya. Hukumannya adalah dia harus ditenggelamkan di Laut Qalzam (laut yang menenggelamkan apa saja yang melintasi permukaannya).

Jibril a.s. kembali berkata, “Wahai Raja, tanda tanganilah surat ini.” Fir’aun pun menandatangani surat tersebut dan menyerahkannya kembali ke Jibril a.s. yang menyamar sebagai manusia.

Pada hari Fir’aun tenggelam di laut, Jibril a.s. mendatanginya dengan membawa surat tersebut seraya berkata kepadanya, “Ambillah surat ini. Kamulah yang paling patut mendapatkannya, karena ia merupakan ketetapan hukummu yang telah kamu jatuhkan terhadap dirimu sendiri.”

Sumber:
‘Ilal Al-Syaraa’i’, jilid 1 bab 53. Dari Adam hingga Isa a.s., Al-Jaza’iri, bab 12, pasal 4.
Buku ‘Jibril alaihis salam, Menjejak Langkah Malaikat Pembawa Wahyu’ oleh Muhammad Syahir Alaydrus.

Wednesday, November 2, 2011

Jibril a.s. dan Nabi Adam a.s.

Ketika Allah menurunkan Adam a.s. dari surga, Adam a.s. terkena penyakit cacar hitam dari wajah hingga kakinya. Lama sekali dia bersedih dan terus menangis karena apa yang dialaminya itu. Melihat hal itu, Jibril a.s. mendatanginya seraya berkata, "Apa yang menyebabkan kamu menangis, wahai Adam?"

Adam a.s. menjawab, "Karena cacar yang bermunculan ini yang tak segera sembuh."

Jibril a.s. berkata, "Dirikanlah shalat, karena sesungguhnya ini adalah waktu shalat yang paling utama!"

Adam a.s. pun mengerjakan shalat, sehingga cacar itu menghilang dari wajahnya sampai ke dadanya.

Beberapa waktu kemudian, Jibril a.s. pun mendatangi Adam a.s. kembali pada waktu shalat yang kedua seraya berkata, "Wahai Adam, dirikanlah shalat! Karena sesungguhnya saat ini adalah waktu shalat yang kedua." Adam a.s. pun mengerjakan shalat, dan cacar itu menghilang dari dada hingga pusarnya.

Beberapa waktu kemudian, Jibril a.s. pun mendatangi Adam a.s. kembali pada waktu shalat yang ketiga seraya berkata, "Wahai Adam, dirikanlah shalat! Karena sesungguhnya saat ini adalah waktu shalat yang ketiga." Adam a.s. pun mengerjakan shalat, dan cacar itu menghilang dari pusar hingga kedua lututnya.

Beberapa waktu kemudian, Jibril a.s. pun mendatangi Adam a.s. kembali pada waktu shalat yang keempat seraya berkata, "Wahai Adam, dirikanlah shalat! Karena sesungguhnya saat ini adalah waktu shalat yang keempat." Adam a.s. pun mengerjakan shalat, dan cacar itu menghilang dari kedua lutut hingga kedua mata kakinya.

Beberapa waktu kemudian, Jibril a.s. pun mendatangi Adam a.s. kembali pada waktu shalat yang kelima seraya berkata, "Wahai Adam, dirikanlah shalat! Karena sesungguhnya saat ini adalah waktu shalat yang kelima." Adam a.s. pun mengerjakan shalat, dan cacar itu menghilang dari seluruh tubuhnya.

Adam a.s. pun segera memuji Allah dan menyanjung-Nya. Kemudian Jibril a.s. berkata, "Wahai Adam, shalat dan penyakit cacarmu ini adalah perumpamaan bagi seluruh keturunanmu. Barangsiapa di antara keturunanmu mengerjakan shalat sehari semalam (sebanyak) lima waktu shalat (fardhu), dia terbebas dari dosa-dosanya sebagaimana sembuhnya kamu dari penyakit cacar ini."

Sumber :
'Ilal Al-Syaraa'i, jilid 2 h. 134, Al-Jazairi, Dari Adam hingga Isa a.s., bab Nabi Adam a.s. Riwayat ini bersumber dari Abu Abdillah.
Buku 'Jibril alaihissalaam, Menjejak Langkah Malaikat Pembawa Wahyu' oleh Muhammad Syahir Alaydrus.