Showing posts with label Haji. Show all posts
Showing posts with label Haji. Show all posts

Sunday, January 15, 2012

Bertemu Almarhum Suami saat Beribadah Haji

Dengan mata berkaca-kaca, ibu itu bercerita pada saya tentang pertemuan dirinya dengan sang suami yang telah meninggal 3 tahun yang lalu. Pertemuan pertama saat dia berzikir di sebuah masjid, dan pertemuan kedua saat dirinya menjalankan ritual lempar jumroh.

Saat melihat suaminya, ibu itu tidak kuasa menahan tangis. Dia hanya mampu tertegun dan menangis bahagia ketika suaminya berjalan di depannya saat di masjid, dan melihat suaminya berada persis di depannya saat melempar jumroh bersama ribuan jemaah lainnya. Saat itu untuk memanggil suaminya, ibu itu tak kuasa sampai sang suami hilang dari pandangan mata.

Ibu itu melihat wujud suaminya dalam fisik yang nyata. Bukan halusinasi atau bayangan belaka. Dia sangat yakin 100% itulah suaminya. Inilah yang membuat Ibu itu sangat terharu, karena dia tahu suaminya turut hadir menemaninya saat menjalankan ibadah haji kemarin.

Tahukah anda? Ibu ini dan sang suami telah menabung selama bertahun-tahun untuk mengumpulkan biaya agar bisa berangkat haji. Tapi menjelang tabungan haji mereka cukup untuk berangkat, sang suami lebih dahulu meninggal. Inilah yang membuat sedih ibu tersebut, tapi kesedihan itu akhirnya terobati setelah tahu sang suami turut bersamanya saat menjalankan ibadah haji kemarin.

Saudaraku, dari kisah ini bisa kita tarik sebuah fakta, bahwa saat kita punya sebuah niat sebenarnya Allah sudah mencatatnya. Dan saat kita berhalangan menjalankan niat tersebut, Allah punya cara sendiri untuk mewujudkannya buat kita.

Kisah ini hampir sama dengan kisah nyata yang pernah ditayangkan di sebuah televisi nasional. Seorang ibu bertemu anaknya yang telah meninggal saat dirinya menjalankan ibadah haji. Mengapa bisa terjadi? Ternyata selama hidup, anaknya punya cita-cita ingin menunaikan ibadah haji bersama ibunya. Tapi takdir berkehendak lain, sang anak meninggal lebih dahulu karena sebuah bencana alam.

Semoga kisah ini bermanfaat buat anda. Yuk mulai sekarang kita niatkan kebaikan dalam hidup kita, karena niat yang kuat sudah diperhitungkan sebagai pahala buat kita. Dan saat kita ada halangan untuk mewujudkan niat baik tersebut, Allah punya cara untuk mewujudkannya buat kita.

Semoga bermanfaat, semoga kisah ini membawa keberkahan buat anda….. Amiiin.
http://motivasi.petamalang.com/bertemu-almarhum-suami-saat-beribadah-haji

Wednesday, December 28, 2011

Mendapatkan Pahala Haji Mabrur tanpa Berhaji

Suatu ketika, Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Tatkala sedang beristirahat ia bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia melihat dua malaikat sedang membicarakan sesuatu.

"Rasanya orang yang menunaikan haji tahun ini banyak sekali," komentar salah satu malaikat.

"Betul.." jawab yang lainnya.

"Berapa kira-kira jumlah seluruhnya?"

"Tujuh ratus ribu."

"Pantas..."

"Tahukah kamu, dari jumlah tersebut berapa kira-kira yang mabrur?" selidik malaikat yang mengetahui jumlah orang yang menunaikan haji tahun itu.

"Itu urusan Allah."

"Dari jumlah itu, tak satu pun yang mendapatkan haji mabrur."

"Mengapa?"

"Macam-macam sebabnya. Ada yang karena riya. Ada yang tetangganya lebih membutuhkan uang tetapi tidak dibantu, dan dia malah berhaji. Ada yang hajinya sudah berkali-kali, sementara masih banyak orang di sekitarnya yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainnya."

"Lantas?"

"Tetapi masih ada orang yang mendapatkan pahala haji mabrur tahun ini."

"Bukankah tadi dibilang tidak ada?"

"Ya, karena orangnya tidak naik haji."

"Mengapa bisa?"

"Begitulah..."

"Siapa orang itu?"

"Sa'id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq."

Mendengar percakapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun. Sepulang dari Makkah ia tidak langsung ke Mesir, tetapi menuju Kota Damsyiq (Syiria). Sesampai di sana, ia mencari tukang sol sepatu yang disebut malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ia tanyai, apa memang ada tukang sol sepatu yang bernama Sa'id bin Muhafah.

"Ada, di tepi ota." kata salah seorang tukang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai di tempat yang ditunjukkan, Hasan Al-Basyri menemukan tukang sol sepatu yang berpakaian lusuh.

"Benarkah Anda yang bernama Sa'id bin Muhafah?" tanya Hasan Al-Basyri.

"Betul, ada apa?"

Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan dari mana ia harus memulai percakapan. Akhirnya ia menceritakan perihal mimpinya. "Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah Anda perbuat, sehingga Anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur? Sebab, barangkali mimpi itu benar." selidik Hasan Al-Basyri mengakhiri ceritanya.

"Saya sendiri tidak tahu. Yang jelas, sejak puluhan tahun lalu saya memang sangat rindu pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Sejak itu, setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul."

"Tapi, Anda tidak pergi haji?"

"Benar."

"Mengapa?"

"Sewaktu hendak pergi, ternyata istri saya hamil. Ia mengidam berat."

"Lantas?"

"Mengidamnya aneh. Saya dimintanya untuk membelikan masakan daging yang ia cium aromanya. Saya cari sumber bau masakan daging itu, yang ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Di situ ada seorang janda dengan enam anaknya. Saya katakan kepadanya bahwa istri saya menginginkan daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia tidak membolehkannya. Saya katakan bahwa dijual berapa pun akan saya beli. Tapi, ia tetap menolak. Saya tanya alasannya. 'Daging ini halal untuk kami dan haram untuk Tuan.' katanya. 'Mengapa?' tanya saya lagi. 'Karena daging ini adalah daging bangkai keledai. Bagi kami daging ini halal karena andai kami tak memakannya, tentulah kami akan mati kelaparan.' jawabnya sambil menahan air mata."

"Mendengar ucapan tersebut, spontan saya menangis. Lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, dia pun menangis. Akhirnya uang bekal haji saya berikan semuanya untuk janda itu."

Mendengar cerita itu, Hasan Al-Basyri tak bisa menahan air mata. "Jika demikian, engkau memang patut mendapatkan pahala haji mabrur itu."

Sumber : Buku "Amazing Baitullah" karya Agus Haro sudarmojo

Mendapatkan Pahala Haji hingga Hari Kiamat

Seorang tabiin bernama Abdullah bin Mubarak pernah bercerita :

Aku adalah seorang yang sangat suka menunaikan ibadah haji. Bahkan setiap tahun aku selalu berhaji. Pernah pada suatu hari seperti biasanya setiap aku akan menunaikan ibadah haji, aku mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan kepergianku. Aku pergi ke pasar dengan membawa lima ratus dinar hendak membeli seekor unta untuk perjalanan hajiku. Ternyata uangku tidak cukup, maka aku kembali ke rumah. Namun di tengah perjalanan aku melihat seorang wanita sedang berdiri di tempat sampah. Dia mengambil daging seekor ayam yang sudah mati dan membersihkan bulu-bulunya tanpa menyadari kehadiranku di dekatnya.

Aku menghampirinya dan berkata kepadanya, "Mengapa engkau melakukan ini, wahai hamba Allah?" Wanita itu menjawab, "Tinggalkan aku, dan urus saja urusanmu sendiri!"

Aku berkata, "Demi Allah, beritahukan kepadaku keadaanmu yang sebenarnya!" Wanita itu berkata, "Baiklah, akan kukatakan keadaanku yang sebenarnya karena engkau telah memaksaku dengan bersumpah atas nama Allah. Ketahuilah, sesungguhnya aku adalah wanita Alawiyyah (keturunan Nabi Saw). Aku mempunyai tiga orang anak kecil dan suamiku telah meninggal dunia. Sudah tiga hari ini aku dan anak-anakku belum makan apa-apa. Aku sudah mencari sesuap nasi ke mana-mana demi tiga orang anakku, tetapi aku tidak menemukannya selain daging ayam yang sudah mati ini. Maka aku akan memasak daging ini karena ia halal untuk aku dan anak-anakku."

Ketika aku mendengar apa yang dikatakan wanita itu, sungguh bulu kudukku langsung berdiri tegak. Hatiku terasa tersayat-sayat oleh derita mereka. Aku berkata dalam hati, "Wahai Ibnu Mubarak, ibadah haji mana yang lebih mulia daripada menolong wanita ini?" Kemudian aku berkata kepada wanita itu, "Wahai wanita Alawiyyah, sesungguhnya daging ayam ini telah diharamkan untukmu. Bukalah bungkusanmu, aku ingin memberimu dengan sedikit pemberian." Lalu wanita itu mengeluarkan sebuah bungkusan dan aku pun menumpahkan semua uang dinarku ke dalam bungkusan itu.

Wanita itu serentak berdiri karena bahagia dan dia mendoakan kebaikan untukku. Kemudian aku pulang ke rumah, sementara keinginanku untuk pergi haji sudah pupus. Lalu aku menyibukkan diri dengan memperbanyak istighfar dan beribadah kepada Allah. Rombongan haji pun mulai pergi ke Baitullah.

Ketika jamaah haji telah pulang dari Makah, aku keluar rumah untuk menyambut mereka. Aku menyalami mereka satu per satu. Namun anehnya, setiap kali aku menyalami salah seorang dari mereka, dia selalu mengatakan, "Wahai Ibnu Mubarak, bukankah engkau melaksanakan haji bersama kami? Bukankah aku melihat kamu di tempat anu dan anu?"

Aku pun terheran-heran mendengar perkataan mereka. Setelah pulang ke rumah dan aku tidur malam harinya, aku bermimpi bertemu Rasulullah Saw. Beliau berkata kepadaku, "Wahai Ibnu Mubarak, engkau telah memberi uang dinarmu kepada salah seorang keturunanku. Engkau telah melapangkan kesusahannya, dan engkau telah memperbaiki kondisinya dan anak-anaknya. Maka Allah telah mengutus malaikat dalam rupamu. Malaikat itu menunaikan haji untukmu setiap tahun. Dan pahala untukmu akan mengalir terus hingga hari Kiamat."

Aku pun terbangun dari tidurku. Aku bersyukur dan memuji Allah atas segala karunia-Nya kepadaku.

Sumber : Buku "Amazing Baitullah" karangan Agus Haryo Sudarmojo

Tuesday, November 1, 2011

Hajar Aswad

Hajar Aswad adalah batu berwarna hitam kemerah-merahan, terletak di sudut selatan, sebelah kiri pintu Ka’bah. Ketinggiannya 1,10 meter dari permukaan tanah. Ia tertanam di bagian dalam dinding Ka’bah yang mulia.

Dulu diameter Hajar Aswad sekitar 30 centimeter. Akibat berbagai peristiwa yang menimpanya sepanjang masa, kini Hajar Aswad tersisa delapan butir batu kecil sebesar kurma yang dikelilingi oleh bingkai perak.

Namun, tidak semua yang terdapat di dalam bingkai adalah Hajar Aswad. Butiran Hajar Aswad tepat berada di tengah dempulan dalam bingkai. Butiran inilah yang dicium dan disentuh oleh jamaah haji.

Dari Hajar Aswad, thawaf dimulai dan diakhri. Oleh karena itu, ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa penentuan rukun ditinjau dari eksistensinya sebagai sudut terpenting di Baitullah, yaitu rukun sebelah timur, tempat dimulainya thawaf.

Warna asal Hajar Aswad adalah putih, tetapi bagian yang terlihat di permukaan kini berwarna hitam. Mungkin perubahan tersebut disebabkan oleh kebakaran yang pernah terjadi di Ka’bah pada masa kaum Quraiys.

Kemudian kebakaran kedua yang terjadi pada era Ibnu Az-Zubair yang mengakibatkan terpecahnya Hajar Aswad menjadi tiga pecahan. Saat membangun kembali Ka’bah, Ibnu Az-Zubair pernah berusaha untuk menahannya dengan perak.

Abdullah bin Abbas berkata, “Di bumi ini tidak ada suatu benda dari surga selain Hajar Aswad dan batu Maqam Ibrahim. Keduanya termasuk permata-permata surga. Seandainya tidak pernah disentuh oleh orang musyrik, maka setiap orang cacat yang menyentuhnya, pasti akan disembuhkan Allah.”

Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim adalah dua permata yaqut dari surga yang telah dihapus oleh Allah cahayanya. Seandainya tidak demikian, pasti akan menerangi semua yang berada antara timur dan barat.”

Iyadh berkata, “Hajar Aswad adalah batu yang dimaksud oleh Nabi saat beliau bersabda, ‘Sesungguhnya aku tahu ada sebuah batu yang dulu memberi salam kepadaku. Ia adalah permata yaqut berwarna putih, lebih putih daripada susu. Lalu Allah mengubahnya menjadi hitam akibat berbagai dosa anak Adam dan sentuhan orang-orang musyrik padanya.”

Batu ini selalu dihormati, diagungkan, dan dimuliakan, baik pada masa jahiliyah maupun Islam. Orang-orang mencari berkah padanya dan menciumnya. Hingga tibalah pada suatu ketika Makkah dimasuki kaum Qaramithah secara paksa pada 317 H. Mereka merampas Makkah, membantai para jamaah haji, menguasai Baitullah, mencabut Hajar Aswad, dan membawanya ke negeri mereka di Kota Ahsa’ yang terletak di wilayah Bahrain.

Bajkam At-Turki, seorang penguasa Baghdad, telah mendermakan ribuan dinar kepada mereka pada masa pemerintahan Ar-Radhi Billah agar mereka bersedia mengembalikannya. Akan tetapi, mereka tidak pernah melakukannya.

Lalu, Abu Ali Umar bin Yahya Al-Alawai, seorang khalifah yang taat pada Allah, tampil sebagai penengah pada 339 H. Akhirnya, mereka pun bersedia untuk mengembalikannya. Mereka membawanya ke Kufah, lalu menggantungkannya di tiang ketujuh Masjid Jami’.

Setelah itu, mereka mengembalikannya ke tempat semula. Mereka beralasan, “Kami telah mengambil berdasarkan perintah dan mengembalikannya berdasarkan perintah pula.” Lama masa hilangnya sekitar 22 tahun.

Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Atlas Haji & Umrah karya Sami bin Abdullah Al-Maghlouth
http://www.jurnalhaji.com/2011/10/26/kisah-hajar-aswad/

Thursday, October 27, 2011

Amalan Menjelang Tidur

Ummul Mukminin 'Aisyah meriwayatkan hadis mulia ini:

Rasulullah saw berkata kepadaku pada suatu malam, "Ya 'Aisyah, jangan berbaring tidur sebelum engkau melakukan empat ibadah ini: Pertama, membaca keseluruhan Al-Qur'an; Kedua, memperoleh ridha dari para Nabi yang mulia agar mereka memberi syafaat untukmu pada Hari Kebangkitan; Ketiga, menjadikan kaum beriman ridha terhadapmu; Dan keempat, menunaikan ibadah haji kecil." Kemudian beliau bangkit untuk mendirikan shalat dan berdoa tanpa memberiku waktu untuk bertanya.

Aku duduk di ranjang dan berpikir bagaimana mungkin melakukan empat amal yang diberkahi itu dalam waktu semalam. Ketika beliau selesai shalat dan berdoa, aku pun bertanya, "Ya Rasulullah, engkau lebih kucintai daripada kedua orangtuaku. Engkau melarangku tidur sebelem melakukan empat hal tadi. Bagaimana mungkin semua itu dapat diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat?"

Beliau tersenyum dan menjawab, "Hai 'Aisyah, bacalah surat Al Ikhlas yang mulia sebanyak tiga kali, pahalanya sama dengan membaca seluruh Al Qur'an. Jika engkau mewiridkan sholawat dan salam kepadaku dan para Nabi sebelumku, maka engkau akan mendapatkan syafaatku dan syafaat mereka pada Hari Kebangkitan. Agar seluruh Mukminin ridha kepadamu, mintalah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sedangkan haji kecil, engkau akan mendapatkan pahala yang sama dengannya jika engkau mewiridkan Subhaanallaah, Alhamdulillaah, Laa hawla walaa quwwata illa billaah, dan Allaahu Akbar."

Sumber:
Buku 'Allah, Nabi Adam & Siti Hawa' karangan Syaikh Muzaffer Ozak Al-Jerrahi

Tuesday, October 11, 2011

Nurkamil Saskeev, Berhaji Menggunakan Sepeda

Seorang jamaah haji yang berangkat dari Kirgistan dengan bersepeda akhirnya berhasil melewati Ankara pada hari Kamis, setelah berada di jalan selama sebulan.

Nurkamil Saskeev (56) memulai perjalanan dari ibu kota Kirgistan, Bishkek hanya membawa beberapa potong roti dan pakaian. Perjalanan Saskeev masih panjang. ia harus melewati banyak negara lagi untuk bisa sampai ke Makkah.

“Saya sudah melewati Kazakstan, Rusia dan Chechnya. Saya datang ke Trabzon dari Rusia menggunakan kapal. lalu melanjutkan dari Tranbzon ke Ankara naik sepeda,” katanya.

Setelah dari Turki, ia akan melewati iran dan Kuwait, barulah ia bisa sampai ke Arab Saudi. “Saya berencana untuk pergi melalui Suriah, tapi ada konflik internal disana. Jadi, saya memutuskan untuk lewat Kuwait saja,” katanya kepada kantor berita Anatolis, Selasa.

Saskeev akan berada di Ankara selama beberapa hari untuk mendapAtkan visa ke Kuwait dan Arab. Ia mengatakan tak ingin kehilangan waktu. Segera setelah visanya selesai, ia akan melanjutkan perjalanan.

Ia memilih naik haji menggunakan sepeda karena ia pikir niak haji menggunakan pesawat itu terlalu mudah. “Saya pikir tiba di Arab Saudi setelah beberapa jam naik pesawat terlalu mudah, bagi perjalanan ke Makkah yang dianggap sebagai kota suci. Dengan naik sepeda, saya bisa berhenti untuk istirahat dimanapun dan bertemu dengan orang lain,” ungkapnya. Ia mengaku sering bertemu dengan banyak orang dan menitip salam kepada nabi Muhammad.

Ia tersentuh dengan kisah Uwais al-Qarani, seorang sufi yang lahir di tahun 594. Al-Qarani melakukan perjalanan dari Yaman ke Makkah berjalan kaki hanya untuk melihat nabi Muhammad. “Saya tidak akan pernah menyerah,” katanya.

Ini bukan kali pertama Saskeev berada di Istanbul. Ia pernah datang ke Ankara dan Istanbul pada tahun 1993, bahkan sempat bertemu dengan Perdana Menteri Erdogan. Waktu itu, Erdogan menjabat sebagai walikota. Saskeev pernah meminta dibuatkan masjid di desanya. Erdogan sempat mencatat permintaan itu, tapi masjid belum dibangun samapi sekarang. (Dwi Murdaningsih)

http://www.jurnalhaji.com/2011/10/08/nurkamil-saskeev-berhaji-menggunakan-sepeda/

Jadi Tukang Sapu, Cita-cita Nuryanto Berhaji Tercapai

MAKKAH – Namanya Nuryanto. Republika Online bertemu secara tak sengaja di pelataran selatan Masjidil Haram, dekat Maulid Nabi, bangunan yang diyakini sebagai tempat Rasulullah SAW dilahirkan.

Ia mengenakan seragam warna biru. Di bagian depan bajunya, saya lupa di dada kiri atau kanan, tertulis emblem bertulis “Bin Ladin Group”. Sapu di tangan kirinya. Tak usah saya sebutkan profesinya, Anda pasti bisa menebak apa pekerjaan sehari-hari Nuryanto.

Ya, dia adalah satu dari ribuan petugas cleaning service Masjidil Haram –Bin Ladin Group adalah salah satu kontraktor kebersihan masjid itu. Saat kami bertemu, dia baru mengakhiri pekerjaannya: tengah asyik menikmati setangkup roti dan kopi kental dengan gelas kertas. Dia kebagian shift tengah hari itu: bekerja mulai pukul 14.00 hingga pukul 22.00.

Nuryanto sudah tiga bulan menekuni pekerjaannya. Ia datang Agustus lalu, berbarengan dengan orang berduit Jakarta yang mau melakukan umrah Ramadhan. “Saya juga umrah bersama mereka,” ujarnya.

Anda pasti menduga Nuryanto mentok mencari pekerjaan di Tanah Air, dan karenanya “hijrah” ke negeri orang menjadi pekerja kasar. Anda salah jika menebak demikian. Nuryanto adalah transmigran sukses di Sumatera Selatan. Lahannya hampir 13 hektare, sebagian ditanami padi dan sisanya untuk bertanam kelapa sawit. Ia mempunyai empat penggilingan padi, membuka usaha persewaan traktor, dan tenda pernikahan.

Suatu hari di bulan Maret, usai pulang dari sebuah pengajian, ia tergerak untuk menunaikan ibadah haji. Dengan tabungan yang dimiliki, ia pergi mendaftar. “Ternyata baru bisa berangkat tiga tahun lagi,” ujarnya.

Ia tak sabar menunggu tiga tahun lagi. “Secara fisik dan finansial, saya mampu tahun ini,” ujar pria 50 tahun ini.

Ia berdiskusi dengan istrinya, hingga ketemulah ide ini: menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Arab Saudi. Para tetangganya banyak yang bekerja di negeri ini, apa salahnya?

Ia mencari informasi di mana bisa mendaftar. Ada satu biro perekrutan TKI yang menjanjikan bisa segera berangkat asal menyetor sejumlah uang. Ia sepakat. “Hitung-hitung bayar ONH,” ujarnya. Yang menarik, pekerjaan yang ditawarkan padanya sifatnya sementara saja, hanya hingga musim haji berakhir.

Maka Agustus ia berangkat. Sebagai petugas cleaning service di tempat wudhu pria, ia digaji 600 riyal (sekitar Rp 1,5 juta). Kalau dihitung dengan uang yang lebih dulu disetornya, jumlahnya tak sampai separuhnya. “Tapi saya dapat hajinya, dan tiap hari bisa thawaf serta mencium Hajar Aswad sepuasnya,” ujarnya. (Siwi Tri Puji)

http://www.jurnalhaji.com/2011/10/08/jadi-tukang-sapu-cita-cita-nuryanto-berhaji-tercapai/

Thursday, January 20, 2011

Berhaji Tanpa Pahala

Di akhir zaman ramai orang
Pergi Haji tiada pahala
Bahkan apa yang mereka dapat
Ialah dosa-dosa...


(Senandung Nasyid Nada Murni)


Seorang Laki-laki mengunjungi Bisyr Ibn al-Harits untuk berpamitan haji. Ia berkata,”Aku berniat pergi haji, adakah sesuatu yang hendak Anda perintahkan kepadaku untuk dikerjakan?”

“Berapa banyak yang Anda sediakan untuk bekal?” Tanya Bisyr.

“Dua Ribu dirham.”

“Apa yang menjadi tujuan Anda berangkat haji kali ini? Apakah karena zuhud terhadap dunia, atau untuk melepas kerinduan kepada Baitullah, ataukah demi meraih keridhaan-Nya?

“Demi meraih ridha ALLAH,” kata laki-laki itu mantap.

“sekiranya Anda dapat meraih keridhaan ALLAH, sementara anda tetap tinggal di rumah Anda, dengan menginfakkan dua ribu dirham dan anda merasa yakin akan meraihnya, apakah Anda bersedia melakukannya?” Tanya Bisyr.

“Ya.”

“Kalau begitu, pergilah dan berikanlah uang Anda itu untuk menolong sepuluh jiwa; seorang yang terbebani hutang, agar ia membayar hutangnya dengan harta yang engkau berikan; seorang miskin, agar ia dapat memperbaiki keadaannya; seorang kepala keluarga yang dibebani banyak anak; dan seorang pengasuh anak yatim, agar dapat menggembirakan si yatim yang diasuhnya. Sekiranya hati anda cukup kuat untuk memberikan uang itu kepada satu orang saja diantara mereka lakukanlah! Sungguh perbuatan anda mendatangkan kegembiraan di hati seorang muslim, menolong orang yang dalam penderitaan, membantunya keluar dari kesusahannya dan menolong orang yang lemah; semua itu jauh lebih utama daripada ibadah haji seratus kali, setelah hajjatul Islam (haji yang diwajibkan sekali seumur hidup).”

Bisyr Ibn al-Harits kemudian berkata, ”Kini pergilah dan infakkan uang bekal anda itu, sebagaimana yang telah kuperintahkan kepada Anda. Atau kalau tidak ungkapkan isi hati Anda sekarang juga!.”

Laki-laki itu termenung sebentar, lalu berkata, ”Wahai Abu Nashr (panggilan Bisyr Ibn al-Harits) niat kepergian berhaji tetap lebih kuat dalam hatiku.”

Mendengar jawaban itu, Bisyr tersenyum dan berkata kepadanya, ”Memang apabila harta diperoleh melalui kotoran perdagangan atau syubhat, tertariklah hati untuk memenuhi keinginan hawa nafsu, dengan menampakkan dan menonjolkan amal-amal saleh (agar dapat diketahui oleh orang banyak). Sedangkan ALLAH SWT telah bersumpah demi diri-Nya sendiri, bahwa Ia tidak akan menerima amalan selain amalan orang-orang yang bertakwa.”

Seperti laki-laki yang datang menemui Bisyr Ibn al-Harits, banyak diantara kita yang berulangkali menunaikan ibadah haji setelah Hajjatul-Islam, padahal tidak ada alasan syar’i. Mereka berangkat haji bukanlah mencari ridha ALLAH, tetapi hanya untuk mengobati jiwanya yang gersang. Mereka ingin mendapatkan pengalaman eksotis dengan menangis di tanah suci, lalu mengira bahwa yang demikian itu merupakan pencerahan ruhani. Mereka menghabiskan uang yang sangat besar jumlahnya, sementara banyak urusan kaum muslimin yang tidak bisa berjalan karena tak ada dana yang bisa menopang. Lebih mengenaskan lagi, ada yang menunaikan Hajjatul-Islam, tetapi sebenarnya mereka belum terkenai kewajiban. Mereka berangkat ke tanah suci, tetapi tangannya terkotori oleh harta yang sebenarnya merupakan hak dari orang-orang yang menjadi tanggungannya, misalnya orangtuanya yang miskin. Alhasil ia berangkat ke tanah suci dengan airmata, bukan karena haru, tetapi airmata kesedihan pengantarnya karena ada yang terbengkalai, tidak terurusi. Mereka inilah yang menangis di tanah suci, tetapi kembali dengan jiwa yang gersang dan hati yang kosong.

Saya teringat dengan Ibnu Mas’ud RA, sahabat Nabi SAW ini pernah berkata, ”Di akhir zaman akan bertambah banyak orang pergi haji tanpa sebab tertentu. Perjalanan ke sana sangat dimudahkan bagi mereka, dan rezeki mereka pun dilapangkan, namun mereka pulang dari sana dalam keadaan kosong dari pahala dan terlepas dari kebaikan, dan adakalanya seorang dari mereka diperosokkan oleh ontanya di padang pasir dan belantara, sementara tetangganya sendiri dalam kesusahan, tidak diberinya pertolongan.”


Sumber : "Membuka Jalan Kesurga, Menyempurnakan Nikmat Mmenuju Hidup Penuh Rahmat" oleh Mohammad Fauzil Adhim

Monday, August 23, 2010

Jawaban Elegan dari Seorang Tukang Bakso

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek... tekk... tek... suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?

"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan?"

"Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah,dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman ".

"Maksudnya.. ...?" saya melanjutkan bertanya.

"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belumada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus..., tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".

Ia menjawab, "Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT ataupak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. Definisi "mampu" adalah sebuah definisi di mana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri "mampu", maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita."

"Masya Allah...," sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso.

Berterimakasihlah pada orang-orang kecil yang memberikan teladan dan menebarkan harapan perbaikan hidup pada kita. Mereka tiang penyangga yang menahan langit dari keruntuhan.

Mereka peredup terik mentari kehidupan yang ada kalanya terasa panas membakar......

by KUMPULAN KISAH NYATA PEMBERI INSPIRASI DAN MOTIVASI HIDUP on Wednesday, August 11 2010 at 6:22pm

Thursday, December 24, 2009

Kisah Nyata…Tujuh Kali Naik Haji Tidak Bisa Melihat Ka’bah

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.

Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu dan anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”.

Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.

Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. Beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.

Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa begitu memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita.

Tujuh kali anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kembali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.

Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.

Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.

Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah, hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.

Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT? Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.

Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud.

Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari Hasan mau menelponnya. Anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.

“Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele..” kata ulama itu pada Sarah.

Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. “Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit.” cerita Sarah akhirnya. “Oh, bagus…..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia.” potong ulama itu. “Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram.” ungkapnya terus terang. Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.

“Disana….” sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.”

Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah. “Astagfirullah……” Betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. Bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya.

Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.

Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.

“Cuma itu yang saya lakukan...” ucap Sarah.

“Cuma itu?" tanya ulama terperangah. “Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan!” ucap ulama dengan nada tinggi.

“Lalu apa lagi yang Anda kerjakan?” tanya ulama itu lagi sedikit kesal.

“Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.”

“Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia.” kata ulama.

“Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir.”

“Maksudnya ?”. tanya ulama tidak mengerti.

“Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.”

“Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.”

Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.

“Cuma itu yang kamu lakukan ? Masya Allah…!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan.”

Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu.

Akhirnya ulama itu berkata, “Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda.”

Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah telah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di Mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.

“Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad.” ujar Hasan.

Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut.

“Bagaimana ibumu meninggal, Hasan?” tanya ulama itu.

Hasanpun akhirnya bercerita : Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.

Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.

Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri.

Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,” Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!” kata orang itu.

Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya.

“Aku minta supaya kau jangan menengok ke belekang, sampai tiba di rumahmu." pesan lelaki itu.

Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan kenazah ibunya.

Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langka h seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.

Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.

Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.

http://tausyiah275.blogsome.com/2006/03/04/kisah-nyatatujuh-kali-naik-haji-tidak-bisa-melihat-kabah/