Showing posts with label Ibu. Show all posts
Showing posts with label Ibu. Show all posts

Tuesday, April 23, 2013

Melukai Ibumu, Murkalah Tuhanmu

Seorang ibu tua yang tinggal di kampung memiliki seorang anak pria yang hidup sukses di kota. Anak tersebut menikah dengan seorang wanita karier dan dikarunia seorang anak yang pintar. Merasa kesepian, sang ibu yang tinggal di kampung berkirim surat kepada anaknya bahwa dua minggu lagi ia akan pergi ke kota menjumpai anak cucunya dan tinggal di sana demi mengusir rasa sepi.

Saat menerima surat dari ibunya, sang anak berdiskusi dengan istrinya tentang bagaimana menyikapi kehadiran sang ibu di tengah mereka. Sang istri berkata, “Mas, engkau bekerja seharian penuh hingga larut malam, demikian pula aku. Aku akan merasa risih bila ibumu tinggal di rumah ini sebab ia akan mencibirku dan mengatakan bahwa aku adalah ibu yang tidak pandai mengurus anak sendiri.”
 
Sang istri melanjutkan, “Aku pun tak tega bila menyuruhmu untuk menaruh beliau di panti jompo. Nah, bagaimana kalau kita buatkan saja sebuah saung dari bambu di halaman belakang rumah. Lalu kita tempatkan ibumu di sana. Ia akan bebas melakukan apa saja. Sementara kita dengan kesibukan yang ada tidak akan pernah merasa terusik.”

Sang suami mengangguk tanda setuju atas usul istrinya. Maka dibuatkanlah sebuah saung bambu di belakang rumah untuk sang ibu. Begitu ibunya datang, anak dan menantu tersebut menerimanya dengan penuh kehangatan, namun sayang mereka menempatkan sang ibu di saung bambu di halaman belakang rumah.
 
Dan kami berwasiat kepada manusia tentang kedua orangtuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. (kami berwasiat kepadanya). ’bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu, karena hanya kepada-Ku-Lah kembalimu [ Qs. Lukman 31 : 14 )
 
Ibu yang datang ke kota demi mengusir kesepian di desa, malah merasa terisolasi di tengah anak cucunya sendiri.
“Ma, jangan lupa untuk mengirimkan makan tiga kali sehari untuk ibu ya!” Itulah kalimat yang diucapkan sang suami kepada istrinya setiap kali ia hendak berangkat bekerja. Sang istri pun lalu menyampaikan lagi pesan ini kepada pembantunya untuk melakukan hal yang diminta suaminya. Maka, tiga kali sehari makanan diantar oleh pembantu tersebut ke dalam saung.
 
Namun karena kesibukan mereka berdua, keduanya kerap lupa untuk mengingatkan pembantu tersebut untuk mengantarkan makanan kepada orangtuanya. Tadinya tiga kali sehari, terkadang hanya dua kali atau satu kali. Setelah berbulan-bulan tinggal di dalam saung, pesan untuk mengirimkan makanan sudah tidak mereka ingat lagi sehingga pembantunya pun ikut lalai mengirimkan padanya makanan.
 
Allah Swt sungguh murka terhadap anak yang melalaikan hidup orangtuanya!
Piring kotor masih teronggok di pinggir saung. Sudah lama tidak diambil oleh pembantu yang biasa mengantarnya. Karena cahaya yang redup di dalam saung, sang nenek tanpa sengaja menginjak piring itu hingga akhirnya pecah. Tidak ada lagi makanan yang dikirimkan oleh anaknya. Nenek itu lapar. Ia pun pergi ke warung untuk beli makanan untuk sekadar mengganjal rasa lapar. Makanan telah terbeli, lalu dengan apa ia harus meletakkan, sebab tiada lagi alas.
 
Lalu sang nenek pergi mencari alas untuk makanannya. Tiada yang ia temui selain sebuah batok kelapa. Ia cuci dan bersihkan batok tersebut. Usai dibersihkan, batok itu menjadi teman setia nenek untuk makan. Demikianlah kebiasaan makan yang dilakukan nenek, hingga suatu hari Allah berkenan untuk memberlakukan kehendaknya!!
 
Di suatu pagi, lepas dari pengawasan baby sitter, seorang bocah lelaki berusia sekitar lima tahun pergi ke halaman belakang. Sudah lama ia tidak bermain ke halaman tersebut. Bocah itu bengong, terperangah saat ia melihat ada sebuah saung bambu di sana. Anak itu pergi menghampiri. Ia dorong pintunya hingga terbuka. Anak tersebut memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia pun masuk ke dalamnya. “Eh… ada pangeran kecil rupanya!” suara nenek terdengar mengguratkan senyum di bibir.
 
“Nenek... siapa ya?” Tanya sang bocah polos.
“Aku ini adalah nenekmu. Ibu dari ayahmu!” Nenek itu mencoba menjelaskan.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah menjalin kehangatan. Kehangatan tali persaudaraan. Persaudaraan antara seorang nenek dengan cucunya, yang tidak bisa dipisahkan oleh jarak apa pun. Keduanya membaur tak ubahnya darah dan daging.
 
Sejak itu, sang bocah sering mengunjungi neneknya meski kedua orangtuanya tak tahu apa yang dilakukan anaknya selama ini. Ketika si bocah melihat sebuah benda aneh di pojok saung, ia bertanya, “Itu benda apa, Nek?” si cucu menunjuk ke sebuah benda dengan perasaan ingin tahu. Si nenek melempar pandangan ke arah yang ditunjuk cucunya. Ia tahu bahwa yang dimaksud cucunya adalah batok kelapa.
 
“Oh… itu piring nenek. Tempat makan nenek. Lucu ya…?!” Nenek menjawab dengan wajah tersenyum.
“Iya, Nek! Ini bagus sekali,” sambut sang cucu. Sang cucu merekam kejadian itu.
 
Dalam sebuah liburan akhir pekan, bocah ini diajak tamasya ke luar kota oleh papa dan mamanya. Mereka pergi membawa mobil ke tempat wisata. Sesampainya di sebuah taman wisata yang begitu rimbun, teduh dan indah, mereka pun berbagi tawa dan kebahagiaan. Mereka berlari, berkejaran, berjalan dan melompat. Hari itu penuh keceriaan bagi mereka bertiga.
 
“Haaaap!” sang papa melompat sambil berteriak. Diikuti suara dan lompatan yang sama dari sang mama. Rupanya keduanya telah melompat melintasi bibir selokan kecil di sana. “Ayo Nak… lompati selokan itu. Kamu pasti bisa!” Teriak keduanya berseru kepada anak mereka.
 
Sang anak berdiri terdiam di seberang. Ia melemparkan pandangan ke dalam selokan. Ia tak mau melompat, namun malah berujar, “Pa… Ma…, tolong ambilkan benda itu dong!” Papanya melihat ke arah benda yang ditunjuk anaknya, ia tahu benda yang dimaksud adalah ‘batok kelapa’ dalam selokan.
 
“Apa sih, Nak? Nggak usah diambil. Itu kotor!” kata Si papa. Sang mama menimpali dengan kalimat serupa.
Namun si anak tetap bersikeras, merengek dan mengancam bahwa dirinya tidak mau meneruskan tamasya bila mama atau papanya tidak mau mengambilkan benda tersebut.
 
Keduanya mengalah. Diangkatlah ‘batok kelapa’ yang telah baunya busuk dari selokan. Keduanya repot mencari keran air untuk mencucinya. Setelah agak bersih, batok itu pun diberikan kepada sang anak. Keduanya merasa heran melihat sang anak begitu hangat memeluk batok kelapa tersebut.
 
Dalam perjalanan kembali ke rumah. Ketiganya masih berada di dalam mobil. Tak sabar dan penuh rasa ingin tahu, sang mama bertanya kepada anaknya, “Mama jadi bingung sama kamu. Sebenarnya untuk apa sih batok kelapa itu, Nak.?!”
 
Si anak masih memeluk batok itu. Ia angkat kepalanya lalu berkata, “Aku mau kasih kejutan ke mama!”
Dengan kepolosannya ia melanjutkan, “Kalau sampai di rumah, benda ini akan aku cuci sampai bersih. Setelah itu akan aku beri bungkus yang rapih. Bila sudah rapi, aku akan berikan ini untuk mama sebagai alas untuk makan.”
 
“Untuk makan?!” Mama bertanya keheranan dengan rasa jijik. “Iya, untuk makan. Aku lihat nenek di saung belakang rumah, ia makan dengan ini. Papa dan Mama yang berikan itu untuk Nenek kan?!” Tanyanya polos.
 
Keduanya bergidik. Allah Swt sungguh telah menegur mereka berdua lewat lidah anak mereka sendiri. Selama ini, sungguh mereka telah menyia-nyiakan orangtua sendiri. Hingga harus makan dengan alas dari sesuatu yang menjijikkan bagi mereka, yaitu batok kelapa. Apakah Anda masih menyia-nyiakan hidup orangtua Anda?!
 

Monday, October 8, 2012

Kisah Indah Abu Hurairah

Waktu kecil Abdusy Syams (hamba Matahari) sangat sayang kepada seekor anak kucing betina, yang dalam bahasa Arab disebut Hurairah. Sejak itu, dia dikenal dengan panggilan Abu Hurairah.

Setelah masuk Islam, Rasulullah SAW lebih suka memanggilnya Abu Hirr sebagai panggilan akrab, dan dia lebih suka panggilan itu. Abu Hirr artinya penyayang kucing jantan.

Namun, Rasulullah SAW kemudian mengganti namanya menjadi Abdur Rahman (hamba Allah yang Mahapenyayang).

Abu Hurairah RA berasal dari suku Daus dan dia masuk Islam melalui Thu f ail bin ‘Amir ad-Dausy, salah seorang pe mimpin suku tersebut.

Setelah masuk Islam, pemuda Ad-Dausy ini pergi ke Madinah menemui Nabi dan berkhidmat untuk Rasulullah sepenuh hati. Dia tinggal bersama ahli shuffah di beranda Masjid Nabawi. Tiap waktu dia bisa shalat di belakang Nabi dan mendengarkan pelajaran berharga dari Nabi.

Abu Hurairah punya ibu yang sudah tua dan sangat disayanginya. Dia ingin ibunya memeluk Islam, tapi menolak bahkan mencela Rasulullah SAW. Abu Hurairah sangat sedih. Dia pergi menemui Rasulullah sambil menangis.

“Mengapa engkau menangis, wahai Abu Hirra?” sapa Nabi. Abu Hurairah menjelaskan apa yang menyebabkan hatinya galau, sambil meminta Rasul mendoakan ibunya. Lalu Nabi berdoa agar ibu Abu Hurairah terbuka hatinya untuk menerima Islam.

Suatu hari Abu Hurairah menemui ibunya. Sebelum membuka pintu dia mendengar suara gemericik air, kemudian terdengar suara ibunya. “Tunggu di tempatmu, Nak!”

Setelah dipersilakan masuk, Abu Hurairah kaget tatkala ibunya langsung menyambut dengan ucapan dua kalimat syahadat. Alangkah bahagianya Abu Hurairah, keinginannya tercapai. Segera dia kembali menemui Rasulullah. “Dulu aku menangis karena sedih, sekarang aku menangis karena gembira.”

Abu Hurairah sangat menyayangi ibunya, terlebih setelah ibunya masuk Islam. Dia selalu hormat dan berbakti kepada ibunya. Setiap akan pergi meninggalkan rumah dia berdiri lebih dahulu di depan pintu kamar ibunya mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaiki wa rahmatullah wa barakatuh, ya ummah!”

Ibunya menjawab dengan lembut, “Wa ‘alaikas salam wa rahmatullahi wa barakatuh, ya bunayya.”

Kemudian, Abu Hurairah mendoakan ibunya, “Rahimakillahu kama rabbay tini shaghira” (semoga Allah mengasihi ibu sebagaimana ibu merawatku waktu kecil).”

Ibunya membalas doa putranya dengan doa yang tidak kalah indahnya, “Wa rahimakallahu kama barartani kabira” (semoga Allah mengasihimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku setelah engkau dewasa).

Abu Hurairah aktif mengajak orang lain agar memuliakan dan berbuat baik dan menyayangi kedua orang tua. Suatu hari dia melihat dua orang berjalan bersama, yang satu lebih tua dari lainnya. Abu Hurairah bertanya kepada yang muda, siapa orang tua ini? “Bapakku,” jawab anak muda itu.

Lalu Abu Hurairah menasihatinya. “Janganlah engkau memanggilnya dengan menyebut namanya. Jangan berjalan di hadapannya. Dan jangan duduk sebelum dia duduk lebih dahulu.” Begitulah, sisi lain Abu Hurairah, yang sangat sayang kepada ibunya dan hormat kepada yang lebih tua.

Oleh: KH Yunahar Ilyas
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/10/04/mbd9rm-kisah-indah-abu-hurairah

Tuesday, June 5, 2012

Ada Nama Allah di Tubuh Ibu

Assalamu’alaikum Wr Wb

Bismillaahirrahmaanirrahiim
,

Apa kabar ibu kita hari ini? Sudahkah kita mengunjungi, atau sekedar menelepon mengucapkan salam hari ini, atau mungkin sahabat sudah mempunyai rencana spesial dengan ibu hari ini?

Memang seorang ibu sudah sepantasnyalah mendapatkan tempat spesial di dalam hati semua orang. Ada anekdot yang pernah saya dengar dari seorang teman, “Seorang ibu dapat membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang yang tercurah walaupun hanya seorang diri, sedangkan anaknya bisa berjumlah lebih dari enam. Namun sementara anak yang banyak itu belumlah tentu dapat mengurusi ibunya yang sudah tua walaupun ibunya hanya satu.”

Masya Allah. Boleh jadi ucapan itu banyak benarnya, dikarenakan kita seringkali lupa terhadap ibu. Seringkali kita disibukkan oleh urusan-urusan keseharian yang akhirnya kita lupa atau tidak sempat.

Artinya jika kita sudah tidak satu rumah dengan ibu, walau berdekatan atau notabene masih satu kotapun belum tentu setiap week end kita dapat mengunjungi ibu kita, apalagi bagi yang ibunya di luar kota atau bahkan di luar negeri.

Sementara masih dapat kita ingat, betapa nyamannya pelukan hangat seorang ibu. Yang dengan kasih sayangnya menentramkan kita, yang dengan telatennya mengurusi kita dalam setiap keadaan. Sakit, sedih, gembira, dan tidak peduli betapa nakalnya kita, tetap doa dan kasih sayangnya selalu ada di depan.

Karena itu dalam hadis Rasulullah SAW menyatakan ketika ada yang bertanya; “Siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?" “Ibumu”, jawab Nabi. “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Lalu?”, “Ibumu." Baru kemudian, "Bapakmu dan keluarga terdekat yang lain,” tegas Nabi. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan dalam sebuah hadis Qudsi, Abdurrahman bin ‘Auf ra berkata, ia mendengar dari Rasullullah SAW, “Allah pernah mengatakan, ‘Aku adalah Allah, dan Aku adalah Arrahman (Maha Pengasih), Akulah Yang Menciptakan rahim (ibu), dan Aku ambilkan sebutannya dari NamaKU (Arrahiim = Maha Penyayang), barang siapa yang menyambungkannya, maka Aku akan menyambungkan (diriKU) dengannya. Tapi bagi yang memutuskannya maka Aku pun akan memutuskan (diriKU) dengannya.” (HR. Tirmidzi).

Tidak ada bagian tubuh kita yang diambil dari nama suci Allah, kecuali rahim seorang ibu. Tempat dimana Allah telah memilih untuk menaruh buah kasih saying sepasang hamba ciptaanNYA. Di dalam rahim itulah yang biasa juga disebut sebagai alam rahim (alam kasih sayang) proses janin terbentuk, tumbuh dan berkembang dan pada akhirnya ditiupkannya ruh dan setelah lewat dari 3 masa kegelapan akhirnya lahirlah seorang anak manusia ke dunia.

Dimensi rahiim atau kasih saying sangatlah luas. Betapa kasih saying ibupun kita tidak dapat membalasnya. Sebagaimana hadits yang menceritakan tentang seorang ibu yang digendong ketika berthawaf, lelaki itu menggendong kemanapun si ibu mau. Kemudian lelaki yang menggendongnya bertanya kepada sahabat Umar, lalu apa jawab Abdullah bin Umar ra, "Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu."

Seandainya kita mempunyai dua buah gunung emas dan kita berikan semua kepada ibu kita pun belumlah cukup dibandingkan dengan kasih sayang serta kebaikan yang telah ibu berikan kepada kita. Karena itu perlulah kita tafakuri sudahkah kita terus menyambung tali silaturahiim, dalam artian menebarkan kasih saying kepada ibu kita, ibu, ibu kemudian bapak kita, lalu kepada keluarga dan sesama?

Berhati-hatilah karena Rasullullah SAW, mengingatkan dalam haditsnya; “Dua dosa besar yang Allah segerakan azabnya di dunia, yaitu berbuat zalim dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Hakim). Oleh karena itu, mari segerakan kita bersimpuh memohon maaf, menebarkan doa dan kasih saying kepada mereka, “Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku dan kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil. Aamiin."

Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Ustaz Erick Yusuf: Pemrakarsa Training iHAQi (Integrated Human Quotient)
Twitter: @erickyusuf

Thursday, May 24, 2012

Doa Ibu yang Membuat Anaknya yang Mati Hidup Lagi

Sebelumnya saya pernah menulis tentang dahsyatnya Doa Nabi Yunus dan dahsyatnya Doa Nabi Musa. Kali ini saya akan menulis tentang dahsyatnya doa seorang ibu terhadap anaknya yang sudah mati, kemudian anak itu hidup kembali. Kisah ini saya dapatkan dalam kitab Mujab ad-Da’wah yang ditulis oleh Imam al-Hafizh Ibnu Abi ad-Dunya rahimahullah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu , dia bercerita:

Suatu hari kami menjenguk seorang anak muda dari Anshar (Madinah) yang sedang sakit berat. Kami tidak beranjak dari sisinya sampai ajal menjemputnya. Lalu kamipun membentangkan kain untuk menuntupi wajahnya. Ibunya yang sudah lemah dan tua berada di samping kepalanya. Lalu kami menoleh kepadanya sambil menghiburnya dengan berkata, ‘Berharaplah pahala dari Allah atas musibah yang menimpamu’.

‘Apakah anakku sudah mati?’, tanya wanita tua itu.

‘Ya’, jawab kami.

‘Benarkah apa yang kalian katakan?’, tanyanya lagi.

‘Ya, benar’, jawab kami.

Lalu wanita tua itu mengulurkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku pasrah kepada-Mu dan berhijrah kepada Rasul-Mu, dengan harapan agar Engkau berkenan menolongku dalam tiap kesulitan. Ya Allah, janganlah Engkau timpakan kepadaku musibah ini pada hari ini’.

Kemudian dibukalah penutup wajah yang telah kami tutupkan kepada anak muda itu. Tidak berapa lama kemudian, kami menyantap makanan bersamanya.

Ajaib, anak muda itu hidup kembali.

Apa hikmah kisah ini?

Pertama, kisah ini memberi bukti akan dahsyatnya efek doa seorang ibu yang shalihah. Doa orangtua kepada anaknya seperti doa Nabi untuk umatnya. Jangan ragu untuk selalu meminta doa dari orangtua.

Kedua, kisah ini memotivasi kita agar terus berdoa. Jangan pernah berhenti berdoa. Jangan berpikir mengapa doa kita belum terkabulkan. Kalaupun Allah swt ‘belum’ menjawab doa kita, maka kita sudah mendapatkan dua pahala: pahala berdoa dan pahala bersabar menunggu keputusan Allah swt. Tidak ada doa yang tidak terkabul. Allah swt mengabulkan doa-doa kita yang sesuai dengan kebutuhan kita dan sesuai pada waktu yang kita butuhkan.

Ketiga, kisah ini memotivasi kita untuk terus mempertebal keyakinan kepada Tuhan. Ya, keyakinan penuh kepada Allah swt, Sang Pemberi Kehidupan, bahwa Dia akan selalu menyertai langkah hidup kita. Keyakinan seperti ini tidak akan tumbuh dalam hati seseorang yang tidak percaya dengan Kemahakuasaan Allah swt. Keyakinan seperti ini tidak akan lahir dari hati yang lalai dari Allah swt. Itulah hati yang penuh dengan doa dan pengharapan kepada Allah, hati yang penuh dengan cinta kepada Allah, hati yang selalu berusaha lurus di jalan-Nya. Pemilik hati seperti ini akan selalu ditolong oleh Allah swt. persis seperti yang dilakukan-Nya terhadap wanita tua itu.

Kita seringkali merasa putus asa dan terombang-ambing dengan ujian hidup. Itu karena kita tidak punya keyakinan penuh kepada Allah swt. bahwa Dia akan menolong kita. Bisa jadi, hati kecil kita berkata bahwa sebabnya adalah karena kita kurang dekat dengan-Nya selama ini.

Jika kita selalu berusaha mendekat kepada Allah swt dan memperbaiki ibadah kepada-Nya, maka yakinlah Dia akan memberi jalan keluar pada setiap kesulitan kita.

http://bangaziem.wordpress.com/2012/05/17/doa-ibu-yang-membuat-anaknya-yang-mati-hidup-lagi-2/

Thursday, May 10, 2012

Apa Jadinya Jika Tuhan Tidak Menciptakan Hawwa?

Apa jadinya jika Tuhan tak mencipta sang Hawwa / Apa jadinya hidup kita tanpa hadir mereka / Kelangsungan manusia terletak di pundak seorang wanita / Terimakasih ohhh ibuku / Kasih sayang sepanjang hidupmu / Dengan senyummu terbuka pintu surgaku /

Itulah penggalan lirik lagu yang berjudul Terimakasih Ibu yang disenandungkan oleh grup musik asal Bandung, Sugar Cane. Master-copy lagu ini dikirim ke saya lewat perantara Hendra ‘Ken’ Fauzi, sahabat lama saya, yang terlibat dalam manajemen band Sugar Cane.

Menurut saya, lagu ini liriknya bagus. Manis didengar semanis sugar (gula) dan suara vokalis-nya bening Sebening Mata Air. Musiknya apik. Digarap dengan serius. Punya citarasa tersendiri. Lagu ini bercerita tentang kewajiban sang anak untuk bersyukur dan berbakti terhadap orangtua, lebih-lebih kepada ibu. Lagu ini mungkin tidak dirancang untuk masuk dalam genre musik religi, namun saya kira isinya agamis, artinya selaras dengan pesan agama. Lagu ini bisa dinikmati oleh para remaja atau anak sekolah. Daripada mendengarkan lagu yang destruktif, lebih baik mendengarkan lagu-lagu seperti ini. (Buat pembaca yang kurang sreg dengan lagu dan musik, silakan baca tulisan saya sebelumnya: Haramkah Mendengarkan Nyanyian dan Musik?)

Gara-gara lagu itu, saya jadi ‘dipaksa’ menulis lagi, setelah sekian lama tidak menulis di blog ini. Bukan karena saya kehabisan bahan untuk menulis, tapi karena kebodohan saya membagi waktu. Waktu saya sebagian besar habis dalam majlis-majlis ilmu. Selain untuk menambah wawasan keilmuan saya, tentu saja majlis-majlis ilmu memberi saya peluang untuk melayani umat. Harap maklum, saya ini pelayan, alias jongos.

Baiklah, saya akan mulai menulis dari soal ibu kita, nenek moyang kita, yaitu Hawwa alayhassalam.

As-Suddi meriwayatkan dari Abu Shalih dan Abu Malik, dari Ibnu Abbas, dari Murrah, dari Ibnu Mas‘ud, dari kalangan para sahabat Rasulullah, bahwa mereka berkata, ‘Iblis dikeluarkan dari surga dan Adam ditempatkan di surga. Lalu, Adam merasa kesepian mondar-mandir di surga, lantaran ia tidak punya teman-hidup yang dapat membuatnya tentram. Di saat Adam tertidur dan ia terbangun dari tidurnya, ia melihat seorang wanita yang sedang duduk di sisi kepalanya. Wanita ini diciptakan Allah dari tulang rusuknya. Adam bertanya kepadanya, ‘Siapakah gerangan engkau?’ Yang ditanya menjawab, ‘Aku seorang wanita’. Adam kembali bertanya, ‘Untuk apa engkau diciptakan?’ Wanita itu menjawab, ‘Agar engkau tentram di sisiku’.

Untuk menguji ilmu Adam, para malaikat pun bertanya, ‘Wahai Adam, siapa nama wanita itu?’ Adam menjawab, ‘Hawwa’. Para malaikat kembali bertanya, ‘Mengapa disebut Hawwa?’ Adam menjawab, ‘Li annaha khuliqot min syay’in hayyin – karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup’.
Begitulah yang ditulis Imam Ibnu Katsir ad-Dimasyqi as-Syafii dalam kitab Qoshosh al-Anbiya’ ketika menceritakan penciptaan Hawwa dari tulang rusuk Adam.

Dr Amru Khalid dalam kitab Inni Ja’ilun fil Ardhi Khalifah mengatakan bahwa Hawwa disebut Hawwa karena mengandung tiga makna. Makna pertama, lantaran Hawwa berasal dari kehidupan (li annaha min al-hayat). Ia tidak diciptakan dari tanah (sebagaimana Adam) namun ia diciptakan dari diri Adam sendiri. Dengan makna ini, artinya kehidupan tidak sempurna tanpa seorang Hawwa. Kenikmatan dunia dan nilai dunia menjadi cacat kecuali dengan kehadiran Hawwa. Makna kedua, Hawwa berarti al-ihtiwa’ (mengisi peran), karena dengan itulah ia mengisi hidup Adam. Seorang wanita bisa mengisi hidupnya dengan berperan sebagai seorang ibu, anak, saudara, bahkan seorang ayah. Makna ketiga, Hawwa berarti al-haya’ (malu). Dengan makna ini, seorang wanita perlu punya rasa malu.

Hawwa adalah wanita paling cantik di dunia. Kemungkinan posturnya tinggi, puluhan meter. Dalam sebuah hadits shahih, Adam digambarkan tingginya adalah 60 hasta (30 meter). Untuk mengimbangi postur Adam, bisa jadi postur Hawwa menyamai posturnya Adam. Begitu tingginya postur Hawwa, hingga ada riwayat yang mengatakan bahwa tempat terdalam dari Laut Merah hanyalah seukuran lututnya Hawwa. Masya Allah…

Hawwa dimakamkan di Jeddah, tidak jauh dari Laut Merah. Karena keberadaan Hawwa, kotanya disebut Jeddah, artinya Nenek Moyang. Untuk berziarah ke makam Hawwa tidak mudah. Paling-paling, para peziarah hanya berdiri dan berdoa di depan pintu kompleks makamnya yang bertuliskan ‘Maqbaroh Ummina Hawwa’ – Kuburan Ibu Kita Hawwa. (Maklum, negara Arab Saudi agak ketat soal ziarah kubur. Saking ketatnya, kadang over-acting alias berlebihan). Bahkan, tidak sedikit peziarah yang naik ke atas pohon yang tumbuh di pinggir tembok kompleks makam, sekedar untuk melongok ke dalamnya, menghilangkan rasa penasaran mereka. Beruntung, suatu kali, ketika pintu kompleks makam terbuka dan satpam-nya lengah, saya nekat menerobos masuk ke dalam area makam Hawwa, dan dari dalam area tersebut saya melihat dan memotret bentuk makam yang ukurannya panjang-panjang. Sewaktu saya kecil, ibu saya memang pernah menceritakan tentang panjangnya ukuran makam di kompleks makam Hawwa. Dan memang begitulah yang saya saksikan. Wallahu a’lam.

Setelah Hawwa, wanita tercantik di dunia adalah Sarah, istri Nabi Ibrahim. Pantaslah kalau Nabi Yusuf terkenal dengan ketampanannya, karena ia adalah titisan (cicit) Sarah. Yusuf adalah anak Ya‘qub. Ya‘qub adalah anak Ishaq. Ishaq adalah anak Ibrahim dan Sarah. Karena ketampanan Nabi Yusuf, banyak ibu hamil yang membaca Surat Yusuf ketika hamil, berharap anaknya setampan/secantik Yusuf. Hehehehhe…

Dalam ajaran Islam, wanita memang punya kedudukan mulia. Bahkan, al-Quran merekam banyak figur wanita yang menghiasi perjalanan peradaban manusia. Di antaranya adalah: kisah Ibu Musa dan saudari Musa, kisah Asiyah (istri Firaun), kisah putri Nabi Syuaib (sejarawan menyebutnya: Shafura), kisah Maryam, bunda Isa. Dan, tidak ketinggalan, peran Khadijah, yang membantu Rasulullah dalam perjuangan awalnya memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Quraisy Makkah.

Begitu pentingnya peran wanita dalam kehidupan, sehingga wanita-wanita perkasa itu sering ditambahi dengan gelar Siti. Siti adalah kependekan Sayyidati (Junjunganku atau Yang Dipertuan). Sehingga, dalam masyarakat muncullah nama-nama seperti: Siti Hawwa, Siti Asiyah, Siti Maryam, Siti Khadijah, Siti Aisyah, Siti Sarah, Siti Fathimah, Siti Zaynab, dan sebagainya. Sedangkan untuk kaum lelaki yang hebat, gelar tambahannya adalah Sidi. Sidi adalah kependekan dari Sayyidi (Junjunganku atau Yang Dipertuan). Tentu saja, gelar-gelar ini adalah bentuk penghormatan terhadap keluhuran pribadi seseorang yang dikenal dengan kebajikan hidupnya.

Oleh karena itulah, ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang prioritas bakti kepada orangtua, maka Rasulullah menjawabnya: ibumu dulu… ibumu dulu… ibumu dulu… baru ayahmu. Bakti kepada ibu disebut tiga kali. Itu artinya lebih diprioritaskan. Makanya, surga berada di bawah kaki ibu. Maksudnya, ganjaran berbakti kepada ibu adalah surga. Beruntunglah orang yang masih mempunyai ibu. Dengan begitu, ia punya peluang untuk mendapatkan surga. Senyum seorang ibu kepada sang anak, sebagai tanda ke-ridha-annya, membuat pintu-pintu surga terbuka. Bakti kepada orangtua tidak hanya ketika mereka masih hidup. Ketika mereka sudah wafat, sang anak tetap punya kewajiban untuk berbakti kepada keduanya, yaitu dengan cara mendoakan mereka, memohonkan ampun untuk mereka, berbuat baik atas nama mereka, dan menyambung persaudaraan dengan sahabat-sahabat mereka yang masih hidup.

Mungkin Anda pernah mendengar sebuah kisah masyhur (populer) yang terjadi di zaman Rasulullah, yaitu kisah tentang seorang lelaki yang lebih mementingkan istrinya daripada ibunya sendiri. Lelaki ini bernama Alqamah. Karena ia lebih mementingkan istrinya, sang ibu marah dan sakit hati terhadap Alqamah. Akibatnya sungguh tragis, sang anak tidak mampu mengucap kalimat tauhid (syahadat) ketika sakaratul maut. Rasulullah pun heran dengan kejadian ini, padahal Alqamah termasuk lelaki shalih, rajin shalat, puasa, sedekah, dan lainnya. Lalu Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk membakar Alqamah di depan ibunya. Akhirnya, sang ibu tidak tega anaknya dibakar di depannya. Sang ibu lalu ridha kepadanya. Alqamah akhirnya mampu mengucap kalimat tauhid di saat malaikat maut menjemput ajalnya.

Imam Ahmad dan Imam at-Thabrani meriwayatkan hadits tentang kisah tersebut. Kisah ini memang menjadi perhatian di kalangan para ulama sejak dulu, lebih-lebih dari para ahli hadits. Imam as-Suyuthi dan Imam al-Haytsami, misalnya, menilai kisah tersebut tidak benar, karena periwayat hadits yang menceritakan kisah itu, yaitu Fa’id bin Abdurrahman, dinilai cacat alias tidak kredibel.

Baiklah, kita anggap saja kisah Alqamah itu fiktif alias tidak ada. Namun, pesan moralnya jangan dilupakan. Bukankah ada hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, ‘Ridha Allah ada pada ridha orangtua, dan murka Allah ada pada murka orangtua’? Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi.

Kembali ke soal Hawwa.

Karena Hawwa diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, maka perlakuan terhadap wanita perlu ekstra hati-hati. Jika mau diluruskan secara ekstrem, maka rusuk itu akan patah. Jika wanita didiamkan dalam kebengkokannya, maka ia semakin bengkok. Serba salah, memang. ‘Hendaknya kalian berlaku baik-baik terhadap wanita’, begitu pesan Rasulullah. Di lain kesempatan, Rasulullah juga berpesan, ‘Sebaik-baik suami adalah yang berbuat baik terhadap istrinya’. Wanita yang dimaksud oleh Rasulullah itu bukan hanya istri, namun juga mencakup ibu, anak wanita dan seterusnya ke bawah, saudara yang wanita, keponakan yang wanita, dan wanita pada umumnya.

Sungguh, apa jadinya jika Allah tidak menciptakan seorang Hawwa, atau seorang ibu, atau seorang wanita. Dunia bakal hampa. Namun, kaum wanita perlu juga menengok ke-Hawwa-an mereka. Adam dari tanah, sehingga fungsi kaum lelaki adalah memakmurkan bumi (dunia). Hawwa dari rusuk Adam, sehingga fungsi kaum wanita adalah menjadi mitra internal dan supporter paling dekat terhadap lelaki. Jika kaum wanita menyadari hal ini, niscaya dunia semakin tentram jadinya.

Ala kulli hal, mari kita hormati wanita dan kita muliakan ibu kita.

http://bangaziem.wordpress.com/category/kisah-inspiratif/

Monday, April 16, 2012

Teladan Wanita Sepanjang Masa

Dulu sering sekali mempertanyakan hal ini, jika seorang laki-laki mempunyai sosok Nabi Muhammad sebagai teladan utama, lalu bagaimana dengan kaum wanita? Siapa teladan terbaik bagi mereka? Karena menurut saya, tidak mungkin bagi seorang wanita, apalagi dalam Islam, untuk di ombang-ambing tidak jelas, termasuk di dalamnya perihal keteladanan.

Dan akhirnya, saya menemukan jawabannya, sebuah jawaban yang diberikan oleh ia yang ucapannya selalu mengandung hikmah dan pembelajaran.

“Yang sempurna dari kaum lelaki sangatlah banyak, tetapi yang sempurna dari kaum wanita hanyalah Maryam binti Imran, Asiyah binti muzahim, Khadijah binti khuwailid dan Fatimah binti Muhammad. Sedangkan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita adalah seperti keutamaan tsarid (roti yang diremukkan dan direndam dalam kuah) atas segala makanan yang ada.” (HR Bukhari)

“Cukuplah wanita-wanita ini sebagai panutan kalian. Yaitu Maryam binti Imran, Khadijah binti khuwailid, Fatimah binti Muhammad dan Asiyah binti muzahim, istri fir’aun.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

“Sebaik-baik wanita penduduk surga adalah Khadijah binti khuwailid, Fatimah binti Muhammad dan Asiyah istri fir’aun.” (HR Ahmad)

Tetapi, nama-nama tersebut hanya akan menjadi nama saja, jika kita tidak mengetahui kisah hidup, bara api semangat perjuangan serta pancaran cahaya keimanan yang bersemburat indah dari mereka.

Sudah sewajarnya, kita sebagai umat Islam, tahu tentang kisah mereka, para wanita terbaik dunia dan akhirat, terutama kaum hawa. Bacalah biografi mereka dan dapatkan hikmah terbaik dari mereka. Apa yang akan disampaikan di sini hanya sebagian kecil saja. Namun, mudah-mudahan memberikan hikmah bagi kita semua.

Asiyah Binti Muzahim

Sebuah keniscayaan, bagi mereka yang Allah muliakan di dunia dan akhirat untuk mengalami ujian yang berat untuk menentukan kadar kualitas mereka. Tentulah kita sudah familiar akan siksaan dahsyat yang dialami Asiyah binti Muzahim, sampai ia harus meregang nyawa di bawah salib dan terik panas matahari, setelah sebelumnya disiksa dengan siksaan yang berat. Sampai-sampai Allah membocorkan sedikit rahasia-Nya dengan menampakkan istana surga pada Asiyah. Benar-benar sebuah pembelajaran iman bagi kita. Inilah konsekuensi terberat dari makna keimanan.

“Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mudalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. Attahrim: 11)

Dari Asiyah pula kita belajar akan fitrah indah dari seorang wanita, ketika Allah menganugerahkan kasih sayang kepadanya saat Musa kecil dihanyutkan d sungai Nil. Refleks saja baginya untuk meminta kepada firaun untuk mengasuh Musa kecil. Dan Fir’aun pun, seperti kebanyakan laki-laki lainnya, kadang tak kuasa jika berhadapan dengan keinginan wanita. Fitrah yang sering kita lihat, dari ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, serta kaum wanita lainnya, mudah sekali bagi mereka untuk menampakkan kasih sayangnya, terutama pada anak kecil. Lihat betapa luwesnya mereka. Bandingkan dengan kaum ayah yang untuk menggendong saja banyak yang kaku.

“Dan berkatalah istri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari." (QS. Al-qoshos: 9)

Dari Asiyah pula kita belajar tentang arti kesabaran. Kita bisa membayangkan jika mempunyai pasangan seperti fir’aun dengan sifatnya yang congkak, bahkan mengaku sebagai Tuhan. Pastinya harus luar biasa sabar menghadapi orang seperti ini.

“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-qoshos: 4)

Asiyah juga menggambarkan dengan jelas, jika keimanan sudah terpatri kuat dalam hati, lingkungan yang luar biasa penuh dengan nuansa kemusyrikan dan kekufuran tidak menggoyahkan keimanannya sedikit pun. Apalagi mereka yang mendapati dalam hidupnya nuansa penuh dengan keimanan, harus benar-benar bersyukur.

Dan mungkin, inilah bagian yang sedikit sulit untuk saya kemukakan, seperti yang telah saya sebutkan, Asiyah lebih memilih kematian daripada menggadaikan keimanannya. Bayangkan, pengorbanan yang telah ia lakukan, semua fasilitas terbaik sebagai seorang permaisuri, semua materi yang ada dan semua kenikmatan dunia terbaik yang telah menyatu dalam kehidupannya. Semuanya dia korbankan. Entah bisa kita bandingkan dengan wanita zaman sekarang atau tidak, katanya realistis padahal aslinya materialistis, menuntut berlebihan pada ayah atau suaminya. Kita benar-benar banyak mendapatkan hikmah dan pembelajaran dari kehidupanmu, wahai permaisuri Mesir yang dirahmati Allah.

Maryam Binti Imran

Dan inilah wanita kedua, seorang wanita yang namanya paling masyhur di dunia dan akhirat. Jika kita coba hitung, lebih dari 3/5 penduduk dunia saat ini, umat Islam dan nasrani, tahu namanya. Namanya begitu harum, sampai-sampai menjadi nama seorang wanita yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an, bersanding dengan nama ayahnya yang mulia pula. Dialah Maryam binti Imran, namanya terabadikan dalam Al-Qur’an surat ke-19, sedangkan nama ayahnya pada surat ke-3. Sebuah penghargaan yang luar biasa yang Allah berikan.

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Al-Imran: 42)

Hikmah pertama yang bisa kita ambil adalah bagaimana ‘gen’ orang tua berpengaruh langsung kepada anaknya. Imran dan Hanna sebagai orang tua dari Maryam adalah orang yang terkenal akan kesalehan dan track record kebaikannya. Wajar jika kemudian Maryam menjadi sosok yang banyak diinginkan oleh kaumnya ketika ia dilahirkan. Bukankah hak pertama seorang anak adalah dilahirkan dari seorang wanita yang shalih??

“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (QS. Maryam: 28)

Kedua, lingkungan tumbuh kembang seorang Maryam kecil sangat kondusif. Kita semua tahu, Maryam akhirnya diasuh oleh nabi Zakariya setelah masyarakat luas berlomba untuk mengasuhnya. Maryam kemudian ditempatkan khusus di mihrab Baitul Maqdis. Sebuah lingkungan yang begitu bagus dan istimewa (di asuh oleh nabi) untuk menjadikannya seorang wanita yang super shalihah dan super dekat dengan Allah. Bahkan, disebutkan bahwa Maryam adalah sosok wanita yang tidak pernah meninggalkan qiyamulail dan memiliki waktu puasa yang khusus, yaitu 2 hari berpuasa dan 1 hari berbuka.

“Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang ruku.” (QS. Al-Imran: 43)

Dalam buku 4 wanita terbaik dunia dan akhirat karya Ali Awudh Uwaidhoh disebutkan bahwa Maryam mengandung Nabi Isa AS pada usia 13 tahun. Ini menandakan kedewasaan yang terbentuk pada jiwa dan diri Maryam, sehingga Allah kemudian mengujinya dengan kehamilan tanpa ayah dan menjadikannya seorang ibu bagi nabi yang mulia.

“Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (QS. At-Tahrim: 12)

Tibalah bagi Maryam dan anaknya untuk hijrah ke negeri Mesir dikarenakan keamanan yang memburuk di negeri para nabi, 12 tahun lamanya dia menetap di Mesir, perjuangan membesarkan nabi Isa AS dilakukannya dengan penuh kesabaran, jangan dikira Maryam hanya santai-santai saja di sana, perjuangannya untuk memberikan makan anaknya dilakukan sendiri dengan menjadi buruh tani gandum, sekali lagi, semua ini dilakukan oleh seorang Maryam, wanita terbaik dunia akhirat. Coba kita bayangkan perjuangannya, perjalanan jauh dari Palestina ke Mesir, panas terik di ladang sambil membesarkan nabi Isa as. Dan, kita tahu bersama hasil didikan Maryam, seorang nabi yang terkenal karena kesantunan dan kasih sayangnya. Sampai akhir hayatnya, Maryam selalu setia mendampingi putranya dalam menyebarkan agama tauhid di masyarakat. Benar-benar menjadi teladan sejati wanita seantero dunia.

Khadijah Binti Khuwailid

Inilah sosok wanita yang tak kalah supernya, beliau merupakan istri al amin, Muhammad. Butuh keberanian yang tinggi untuk ‘nembak duluan’ bagi seorang wanita, Khadijah yang memang melihat keistimewaan dan budi pekerti yang luhur dari Muhammad, tentu tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bersanding dengan sosok seperti Muhammad. Dan tentu saja, apa yang dilakukannya membutuhkan mental baja, terlebih dengan backgroundnya sebagai janda. Tapi apakah perbuatannya itu membuat dirinya menjadi hina? Tidak sama sekali.

Gambaran sosok Khadijah sebenarnya cukup simpel, Khadijah adalah teladan sejati para istri dalam rangka ketaatannya pada suami. Khadijah adalah wanita pertama yang mengakui kenabian suaminya, karena memang dia yang paling paham karakter dan sifat dari suaminya.

“Demi Allah, sesungguhnya Allah selamanya tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah sungguh engkau telah menyambung tali silaturahim, jujur dalam berkata, membantu orang yang tidak bisa mandiri, engkau menolong orang miskin, memuliakan (menjamu) tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah.” (HR Al-Bukhari I/4 no 3 dan Muslim I/139 no 160)

Dan kita semua tahu bagaimana support terbaik diberikan Khadijah kepada baginda rasul, dengan konsekuensi yang tidak murah dan mudah. Hampir semua harta yang ia dan Nabi Muhammad miliki, digunakan untuk pergerakan dakwah Islam. Ia rela membersamai Rasulullah selama 3 tahun dalam embargo ekonomi dan sosial yang dilakukan kaum kafir Quraisy, coba sejenak kita bayangkan kondisi embargo yang membuat Bani Hasyim harus makan rumput kasar padang pasir. Dan Ia, tetap setia, sekali lagi, ia tetap setia kawan.

“Dia (Khadijah) beriman kepadaku di saat orang-orang mengingkari. Ia membenarkanku di saat orang mendustakan. Dan ia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tiada mau.” (HR. Ahmad)

Wajar jika baginda rasul sendiri tidak bisa menduakan Khadijah selama ia hidup, padahal Rasul mampu melakukan itu. Bahkan setelah Khadijah wafat pun butuh waktu lebih dari 1 tahun bagi baginda rasul sampai kemudian menikah lagi. Memang ada seorang laki-laki yang mampu menyakiti hati dan melupakan sosok seperti Khadijah? Penulis rasa tidak ada.

Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Belum pernah aku cemburu kepada istri-istri nabi lainnya kecuali kepada Khadijah, padahal aku belum pernah bertemu dengannya.” Ia melanjutkan, "Setiap kali Rasulullah menyembelih seekor kambing beliau berkata 'Kirimlah daging ini kepada teman-teman Khadijah!” Pada suatu hari aku membuat beliau marah. Aku berkata: ”Khadijah?” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ”Sesungguhnya aku telah dianugerahi rasa cinta kepadanya.” (HR. Muslim)

Jangan tanya tentang kemandirian yang ada pada diri Khadijah. Dialah salah satu saudagar Mekah yang sukses, sebuah pelajaran penting bagi kaum hawa untuk menjadi pribadi yang mandiri dan profesional. Rumah tangga yang di bangun bersama Muhammad pun termasuk rumah tangga yang santun dan dewasa karena dalam keberjalanannya tidak pernah sekalipun mereka beradu kata-kata kasar, apalagi hujatan. Bahkan Khadijah tidak pernah ‘manyun’ di hadapan Muhammad, pun setelah ia diangkat menjadi Rasul. Khadijah benar-benar menjadi teladan sejati para istri.

Dan setiap apa yang dilakukannya mendapatkan balasan terbaik dari Rabbnya. Bersabda Rasulullah saw: “Wahai Khadijah, ini malaikat Jibril telah datang dan menyuruhku untuk menyampaikan salam dari Allah kepada-mu dan memberikan kabar gembira kepadamu dengan rumah yang terbuat dari kayu, tidak ada keributan dan rasa capai di dalamnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Fatimah Binti Muhammad

Dan inilah yang terakhir. Ia merupakan cahaya mata baginda rasul. Jika ingin tahu sifat, karakter, cara bicara bahkan cara berjalan rasul versi perempuan, maka ialah yang paling mirip dengannya. Ia adalah Fatimah binti Muhammad.

“Saya tidak melihat seorang pun yang cara berjalan, tingkah laku, pembicaraan, dan saat berdiri juga duduknya yang sangat mirip dengan Rasulullah selain Fatimah.” (HR Tirmidzi)

Dari ketiga nama sebelumnya, mungkin Fatimah adalah contoh terbaik bagi wanita yang menginjak masa dewasa. Fatimah kecil adalah saksi pembangkangan kafir Quraisy terhadap apa yang dibawa oleh ayahnya. Ialah yang kemudian membersihkan pakaian rasul, saat kotoran ditimpakan padanya. Ia pula yang kemudian dengan lantang berorasi di depan kaum kafir yang menyakiti baginda rasul. Sungguh wanita yang sangat pemberani. Setidaknya ‘kecerewetan’ seorang wanita di tempatkan proporsional olehnya.

Fatimah juga mendapatkan tempa ujian yang dahsyat. Dari kecil, dia membersamai orang tuanya dalam embargo, membuatnya kehilangan masa kecil yang seharusnya nyaman dan mengasyikkan. Saat usianya belasan, ia harus rela untuk ditinggalkan sang ibu dan saudari-saudarinya yang lain satu per satu. Bayangkan betapa beratnya ditinggal ibu dan saudari-saudari tercinta dalam kurun waktu yang tidak telalu lama. Namun, bukan Fatimah namanya jika tidak tegar menghadapi ujian. Bahkan kemudian ia yang mengurusi setiap kebutuhan dari ayahandanya. Benar-benar contoh bakti yang luar biasa, itulah sebabnya ia terkenal dengan sebutan Ummu Abiha (anak yang menjadi seperti ibu bagi ayahnya).

Dan tentu saja, tak lengkap jika membicarakan Fatimah, namun tidak membicarakan kisahnya bersama suaminya, Ali bin abi Thalib. Kisah cinta mereka berdua memang menjadi teladan bagi muda-mudi dalam mengontrol setiap apa yang berkecamuk dalam hatinya. Rasa yang ada di hati Fatimah, tersimpan sangat rapi. Kata cinta, terucapkan hanya ketika ia yang telah mengusik hatinya, Ali bin Abi Thalib, telah menjadi penyempurna separuh agamanya. Hal yang sangat langka untuk kurun waktu sekarang.

Dari kehidupan Fatimah, kita juga mungkin banyak belajar tentang makna kesederhanaan dan penerimaan. Kita tentu paham dengan kehidupan keluarganya yang pas-pasan, menuntutnya untuk lebih banyak berkorban dan bekerja dengan tangannya sendiri. Kehidupan awal-awal rumah tangga untuk pasangan muda. Padahal dia adalah putri kesayangan Rasul, manusia termulia. Coba sedikit kita renungkan nasihat nabi sekaligus ayah kepada putri kesayangannya ini.

“Kalau Allah menghendaki wahai Fatimah, tentu lumpang itu akan menggilingkan gandum untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki agar ditulis beberapa kebaikan untukmu, menghapuskan keburukan-keburukan serta hendak mengangkat derajatmu.

Wahai Fatimah, barangsiapa perempuan yang menumbukkan (gandum) untuk suami dan anak-anaknya, pasti Allah akan menuliskan untuknya setiap satu biji, satu kebaikan serta menghapuskan darinya setiap satu biji satu keburukan. Dan bahkan Allah akan mengangkat derajatnya.

Wahai Fatimah, barangsiapa perempuan berkeringat manakala menumbuk (gandum) untuk suaminya. Tentu Allah akan menjadikan antara dia dan neraka tujuh khonadiq (lubang yang panjang).

Wahai Fatimah, manakala seorang perempuan mau meminyaki kemudian menyisir anak-anaknya serta memandikan mereka, maka Allah akan menuliskan pahala untuknya dari memberi makan seribu orang lapar dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

Wahai Fatimah, bilamana seorang perempuan menghalangi (tidak mau membantu) hajat tetangganya, maka Allah akan menghalanginya minum dari telaga “Kautsar” kelak di hari Kiamat.

Wahai Fatimah, lebih utama dari itu adalah kerelaan suami terhadap istrinya. Kalau saja suamimu tidak rela terhadap engkau, maka aku tidak mau berdo’a untukmu. Apakah engkau belum mengerti wahai Fatimah, sesungguhnya kerelaan suami adalah perlambang kerelaan Allah sedang kemarahannya pertanda kemurkaan-Nya.

Wahai Fatimah, manakala seorang perempuan mengandung janin dalam perutnya, maka sesungguhnya malaikat-malaikat telah memohonkan ampun untuknya, dan Allah menuliskan untuknya setiap hari seribu kebaikan serta menghapuskan darinya seribu keburukan. Manakala dia menyambutnya dengan senyum, maka Allah akan menuliskan untuknya pahala para pejuang. Dan ketika dia telah melahirkan kandungannya, maka berarti dia ke luar dari dosanya bagaikan di hari dia lahir dari perut ibunya.

Wahai Fatimah, manakala seorang perempuan berbakti kepada suaminya dengan niat yang tulus murni, maka dia telah keluar dari dosa-dosanya bagaikan di hari ketika dia lahir dari perut ibunya, tidak akan keluar dari dunia dengan membawa dosa, serta dia dapati kuburnya sebagai taman di antara taman-taman surga. Bahkan dia hendak diberi pahala seribu orang haji dan seribu orang umrah dan seribu malaikat memohonkan ampun untuknya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa orang perempuan berbakti kepada suaminya sehari semalam dengan hati lega dan penuh ikhlas serta niat lurus, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan kepadanya pakaian hijau (dari surga) kelak di hari Kiamat, serta menuliskan untuknya setiap sehelai rambut pada badannya seribu kebaikan, dan Allah akan memberinya (pahala) seratus haji dan umrah.

Wahai Fatimah, manakala seorang perempuan bermuka manis di depan suaminya, tentu Allah akan memandanginya dengan pandangan ‘rahmat’.

Wahai Fatimah, bilamana seorang perempuan menyelimuti suaminya dengan hati yang lega, maka ada Pemanggil dari langit memanggilnya 'Mohonlah agar diterima amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu maupun yang belum lewat.'

Wahai Fatimah, setiap perempuan yang mau meminyaki rambut dan jenggot suaminya, mencukur kumis dan memotongi kukunya, maka Allah akan meminuminya dari ‘rahiqil makhtum dan sungai surga, memudahkannya ketika mengalami sakaratil maut, juga dia hendak mendapati kuburnya bagaikan taman dari pertamanan surga, serta Allah menulisnya bebas dari neraka serta lulus melewati shirat.”

Namun, kita tentu bisa lihat, hasil dari apa yang ia lakukan, dari setiap ujian dan dari setiap pengorbanan yang dilakukannya. Allah mengangkat derajatnya dunia akhirat dan melahirkan dari rahimnya anak-anak yang menjadi penerus keturunan Rasulullah. Walaupun, hidupnya tidak lebih dari 30 tahun, namun inspirasi yang diberikan Fatimah sewajarnya terus hidup bagi wanita-wanita mukmin setelahnya. Termasuk generasi kita sekarang.

Demikian saudara-saudariku sedikit kisah wanita terbaik dunia akhirat. Dari kisah di atas, kita bisa mengambil banyak sekali persamaan yang ada pada mereka. Ujian yang mereka dapat tentu saja bukan ujian yang remeh remeh, tapi sebanding dengan julukan yang kemudian ada pada mereka, wanita terbaik dunia dan akhirat. Jadi, jangan khawatir bagi mereka yang mendapatkan ujian yang berat, barangkali Allah tengah mengupgrade diri kita, sehingga menjadi pribadi yang lebih berharga di sisi-Nya.

Mereka juga terkenal dengan wanita mutakamil atau wanita yang sempurna. Baik dari sisi lahiriah maupun ruhiyah. Mereka terkenal dengan sebutan jamilatul jamil (cantik dari yang tercantik), itu dari sisi lahir sedangkan dari sisi ruhiyah, mereka terkenal dengan sebutan albatul atau atthohiroh yang berarti suci.

Dari keempat nama tersebut, kita juga bisa melihat karakter atau sifat luar biasa yang seharusnya melekat pada seorang ibu. Asiyah dengan Musa, walau ia hanya anak angkatnya. Maryam dengan Isa. Khadijah dengan anak-anaknya yang cukup banyak, serta Fatimah dengan para pemuda penghulu surganya. Kasih sayang mereka, didikan dan teladan mereka pada anak-anaknya, itulah kunci keberhasilan pengasuhan mereka. Ibu memang sosok luar biasa, kita pasti sepakat dengan kalimat ini.

Dari kisah mereka, kaum wanita seharusnya bisa mengambil pelajaran, bahwa dalam Islam tidak membatasi potensi kebaikan dan kebermanfaatan yang mungkin dilakukan oleh seorang wanita. Apakah itu menjadi engineer, dokter, farmasist, scientist, guru, ahli gizi, plantologist, polwan, entrepreneur, penulis dan profesi lainnya. Namun, tentu saja, tidak boleh melupakan potensi kebaikan dan kebermanfaatan terbesar yang Allah berikan kepada kaum wanita, yaitu menjadi istri dan menjadi ibu. Istri yang taat kepada suaminya dan Ibu yang mengandung, melahirkan dan mendidik anaknya dengan didikan rabbani. Suatu hal yang seharusnya diingat oleh mereka yang ramai meneriakkan kesetaraan gender yang ternyata jauh dari nilai-nilai Islam.

Oleh: Feriyanto
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19504/teladan-wanita-sepanjang-masa/#ixzz1sAcwFCgt

Monday, April 9, 2012

"Durhaka" Berbuah Celaka

"Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah," demikian pepatah masyhur yang menunjukkan bagaimana peran ibu pada anak-anaknya.

Hanya saja, teramat sedikit anak yang mengerti dan menghargai ibu mereka. Padahal, dalam al-Quran banyak disebutkan, ridha ibu merupakan ridha Allah dan murka ibu bisa membuat murkan Allah. Setidaknya tercermin dalam kisah ini.

Peristiwa ini terjadi pada naas yang pernah dialami oleh Ali, pemuda asal Madura, pada pertengahan tahun 2005 silam.

Menurut pengakuan laki-laki berperawakan murah senyum ini, peristiwa yang hampir merenggut nyawanya tersebut, bermuara pada keinginannya melanjutkan studi, seusai menamatkan proses pembelajaran Sekolah Menengah Aliyah (SMA), di salah satu pondok pesantren di kota garam tersebut.

Setelah berbagi pikiran dengan salah satu temannya, diambillah keputusan untuk melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi Islam yang terletak di Situbondo, Jawa Timur.

Tak disangka, ketika mengutarakan keinginannya tersebut kepada kedua orangtuanya, ternyata keinginan mereka bertolakbelaka dengan apa yang dikehendaki Ali. Alasannya, selain jauh, dia juga tidak memiliki teman sekampung yang hendak melakukan studi di sana.

”Ndak usah kuliah di sana. Kamu kan gak ada teman dari sini (kampung). Nanti kamu berangkat dan pulang sendirian. Kalau terjadi apa-apa di jalan, bagaimana?” papar Ali, menirukan keberatan ibunya.

Sekalipun telah mendapat sinyal ketidakridhaan orangtuanya, terutama ibu, Ali nampaknya tetap bersikeras untuk melanjutkan misinya. Peringatan-peringatan orangtuanya akan kemudharatan kalau dia bersikukuh kuliah di sana, sama sekali tak digubris. “Anjing menggonggong, kafilah terus berlalu.”

Akhirnya, melihat kengototan si-buah hati yang gak bisa ditawar-tawar, mereka pun dengan berat hati menyetujui keberangkatan Ali.

”Kalau kamu masih bersikeras, ya, terserah kamu,” ujar mereka dengan nada berat, penuh keterpaksaan.

Kecelakaan

Tidak lama setelah mendapat ’lampu hijau’ dari orangtua, bersama si-teman, Ali akhirnya berangkat ke daerah perantauan. Perjalanan pertama ini, bertujuan untuk observasi, memastikan akan kebenaran berita, bahwa di pondok yang mereka tuju itu ada perguruan tingginya, atau tidak.

Memang, perburuan mereka akan perguruan tinggi, bisa dibilang sedikit agak liar. Menurut pengakuan Ali, mereka sama sekali buta akan perguruan tinggi tersebut. Anehnya, mereka sudah tergiur untuk kuliah di sana.

Tanda-tanda kurang baik mulai cium. Ketika mereka telah menapakkan telapak kaki di lokasi yang mereka tuju. Setelah menggali informasi dari pengurus pesantren, terungkap, bahwa pondok tersebut tidak memiliki perguruan tinggi, sebagaimana informasi yang mereka dapatkan.

”Saya sangat kecewa. Jauh-jauh dari madura ke Situbondo, ternyata hasilnya nihil,” terang Ali.

Karena perburuannya tidak sukses, Ali pun langsung balik kanan, pulang kampung. Namun, perjalanan kali ini, dia harus tempuh sendiri, karena sahabatnya masih ada keperluan yang lain. Dan hal inilah yang sangat dikhawatirkan oleh kedua orangtuanya.

Ceritanya, ketika bus yang dikendarai Ali tiba di salah satu terminal di Madura, ia bersiap-siap turun. Tak ada angin, tak ada hujan, ketika kaki kirinya menginjakkan tanah, tiba-tiba dia langsung lunglai, pingsan. Naasnya, kepala bagian belakang, terbentur tortoar, yang mengakibatkan goresan luka tepat pada salah satu sarafnya, yang kemudian menyebabkan Ali berlumuran darah.

Ali langsung tidak berdaya. Sekujur tubuhnya kaku, tak ubahnya sebuah mayat.
”Menurut informasi yang saya peroleh, saat itu tangan saya dalam posisi terlentang. Tidak bisa diubah posisinya, karena kaku. Akhirnya, untuk mengganti pakaianku yang berlumuran darah, pihak medis memotong-motong bajuku,” jelasnya.

Celakanya lagi, saat itu, pria yang memiliki kemampuan bahasa Arab ini, tidak membawa satu pun kartu identitas, sehingga membuat orang-orang di sekitarnya kebingungan untuk menghubungi pihak keluarga.

Sebuah keajaiaban, di tengah kondisi keritisnya, Ali sempat mengucapkan nama pondok almamaternya, sehingga memudahkan para relawan melacak keberadaan keluarganya.
”Sudah pasti itu pertolongan Allah. Dalam kondisi demikian, aku bisa memberitahu nama almamaterku. Dan terus-terang, saya sendiri tidak menyadari akan hal itu,” akunya dengan nada terbata-bata.

Pasca kecelakaan itu, selama empat hari Ali tidak sadarkan diri. Dalam kurun waktu itu, ± delapan infus dan dua oksigen dia habiskan.

Buta, Bisu dan Tuli

Setelah mengalami masa kritis, pada hari kelima, Ali mulai siuman. Sayangnya, kondisi ini, justru membuat Ali semakin terpukul. Bagaimana tidak, ketika awal siuman, dia mendapatkan dirinya tidak mampu melihat, mendengar, dan berbicara. ”Saya sangat terpukul,” tegasnya.

Untunglah, Ali bukan tipe orang yang mudah menyerah dengan keadaan. Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi Ali sedikit demi sedikit membaik. Dia sudah mampu memdengar dan melihat. Tapi, untuk berbicara, dia mengalami kesulitan. Banyak lawan bicaranya, termasuk ibu bapaknya sendiri, tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. ”Keluar suara, tapi mereka pada tidak mengerti dengan apa yang saya ucapkan,” terangnya.

Selama kurang lebih satu bulan, Ali mengalami kondisi yang demikian. Alhamdulillah, setelah itu kondisinya kembali membaik, normal seperti sediakala, meskipun, kadang kala dia masih merasakan rasa nyeri di kepalanya.

Sedari itu, Ali tidak pernah lagi mengacuhkan perkataan orangtuanya. Peristiwa tersebut, benar-benar dijadikan pelajaran penting bagi kehidupannya.

”Ini adalah teguran Allah yang sangat berharga bagiku. Intinya, jangan pernah kita mendurhakai orangtua. Ingat, ridha Allah itu terletak pada ridha orangtua, dan murka Allah, itu terletak pada murka orangtua,” ujarnya mengingatkan, sembari menyitir salah satu hadits Nabi Muhammad Shalallahu ’alahi Wasallam. Semoga kisah ini bisa dijadikan pelajaran bagi semuanya, ujar Ali mengakhiri ceritanya.*

Cerita ini dikisahkah Ali, pemuda asal guluk-guluk, Madura, kepada hidayatullah.com

http://www.hidayatullah.com/read/15836/12/03/2011/

Tuesday, April 3, 2012

Bisakah Kita Membalas Kebaikan Ibu? Inilah Jawaban Islam

Suatu hari, Ibnu Umar melihat seseorang yang sedang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lantas berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?”

Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Kitab al-Kabair karya adz-Dzahabi).

Kisah di atas memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa setiap anak tidak akan dapat membalas jasa orang tuanya, kecuali ia menemukan orang tuanya sebagai budak, lalu dibeli dan dimerdekakan. (HR Muslim). Dalam hadis lain, “Berbuat baik kepada kedua orang tua itu lebih utama daripada shalat, sedekah, puasa, haji, umrah, dan berjihad di jalan Allah.” (HR Thabrani).

Apakah masih ada kewajiban berbuat baik kepada orang tua setelah keduanya wafat? Sabda Nabi SAW, “Masih, yaitu mendoakannya, memohonkan ampunan untuknya, menunaikan janjinya, memuliakan temannya, dan menyambung hubungan kerabat yang tidak tersambung kecuali dengannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).

Sejarah mencatat, banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Kita tidak akan dapat menjadi hebat seperti sekarang tanpa sentuhan darinya. Maka, tak berlebihan jika ada ungkapan, Al-Jannatu tahta aqdami al-ummahat”, surga berada di bawah telapak kaki ibu.

Karena itu, ketika seorang laki-laki berhijrah dari Yaman kepada Nabi SAW dan ingin berjihad. Kemudian, Nabi SAW bertanya, “Apakah di Yaman masih ada kedua orang tuamu?”

“Masih ya Rasulullah” jawab laki-laki itu.

Nabi SAW bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan mintalah izin darinya. Jika keduanya memberi izin maka engkau boleh berjihad dan jika keduanya tidak mengizinkan maka berbuat baiklah kepadanya, karena hal itu merupakan sesuatu yang paling baik yang engkau bawa untuk bertemu dengan Allah setelah tauhid.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).

Lalu, datang laki-laki lain kepada Nabi SAW meminta baiat untuk berangkat hijrah. Ia berkata, “Aku datang kepadamu, sehingga membuat kedua orang tuaku menangis.”

Kemudian Nabi SAW bersabda, “Kembalilah kepada keduanya dan buatlah keduanya tertawa, sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, dan al-Hakim).

Ibu memiliki peran yang tak dapat digantikan oleh siapa pun. Dialah yang mencetak generasi unggul. Maka, tidaklah berlebihan jika seorang penyair mengungkapkan, Al-Ummu madrasatun, in a’dadtahaa a’dadta sya’ban thayyiba al-a’raaqi. Ibu itu ibarat sebuah sekolah, apabila kamu persiapkan dengan baik, berarti kamu telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Dalam hadis lain, Rasul SAW menempatkan ibu sebagai orang yang paling utama untuk dihormati. Beliau memerintahkan umatnya untuk senantiasa memuliakan ibunya, kemudian menyayangi ibunya. Setelah itu, barulah bapak. Wallahu a’lam.

Oleh: Imam Nur Suharno
Dikutip dari Hikmah Republika edisi 29 Maret 2012 dengan judul: Membalas Kebaikan Ibu
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/04/02/m1ujql-bisakah-kita-membalas-kebaikan-ibu-inilah-jawaban-islam

Wednesday, January 4, 2012

Kasih Anak Sepanjang Galah

Saat aku masih kanak-kanak dulu, di TVRI diputar serial Jepang berjudul Oshin. Cerita yang diangkat dari kisah nyata ini berkisah tentang perjuangan dan ketabahan seorang wanita desa yang lugu dan miskin bernama Oshin. Berkat kegigihan dan semangat pantang menyerah yang dimilikinya, Oshin berhasil menjadi pengusaha kaya-raya dan memiliki beberapa buah supermarket.

Di dalam serial yang banyak menguras air mata itu, ada satu kisah yang membuatku terhenyak dan tak habis pikir. Diceritakan bahwa saat itu keluarga para petani di Jepang sangat miskin. Mereka tidak mempunyai lahan sendiri, jadi hanya bertindak sebagai buruh yang menggarap sawah milik para tuan tanah. Ketika panen tiba, para petani ini wajib menyetorkan sebagian dari hasil panen kepada pemilik lahan alias tuan tanah. Dan hanya tersisa sedikit beras yang harus dibagi untuk memberi makan seluruh keluarga dan harus cukup untuk enam bulan sampai musim panen berikutnya.

Sayangnya jatah beras yang tersedia hanya sedikit sedangkan jumlah anggota keluarga banyak. Oshin tinggal bersama ayah, ibu, saudara-saudaranya dan seorang nenek (ibu dari ayah Oshin). Karena beras yang ada tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, ayah Oshin sebagai kepala keluarga mengambil keputusan hendak membuang ibunya ke gunung. Harapannya dengan berkurangnya jumlah anggota keluarga, maka persediaan beras yang ada akan cukup.

Tak percaya tapi nyata, pikiran kanak-kanakku tidak dapat mencerna hal itu. Mengapa seorang anak, dalam hal ini ayah Oshin, bisa begitu tega mempunyai pikiran keji seperti itu. Membuang ibunya sendiri, ibu kandungnya, ibu yang telah melahirkan dan mengasuhnya sampai dewasa? Tidakkah ia mempunyai rasa belas kasihan kepada ibunya? Tidakkah ia mengingat jasa dan peluh ibunya selama dia kecil? Mengapa kemiskinan yang mendera bisa membuat seseorang menjadi jahat, di luar batas peri kemanusiaan? Sekejam itukah kemiskinan? Berbagai pertanyaan melintas-lintas di kepala kanak-kanakku dan tak sanggup kujawab.

Berpuluh tahun kemudian, aku membaca kisah yang mirip, berjudul 'Ubasute no Hanashi', yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh petani miskin untuk membuang orangtua mereka yang telah lanjut usia di daerah pegunungan. Berarti bukan hanya ayah Oshin seorang yang melakukan hal itu.

Namun ada yang unik dari cerita ini. Diceritakan tentang seorang pemuda yang menggendong ibunya yang renta ke gunung. Namun dalam perjalanan, ibunya mematahkan ranting-ranting dan menjatuhkannya ke jalan yang mereka lalui. Terdorong oleh rasa ingin tahu, si pemuda bertanya kepada ibunya. Dan apakah jawaban sang ibu?

“Ibu menjatuhkan ranting-ranting ini agar engkau tidak tersesat saat pulang ke desa nanti, Nak.”

Dengan penuh linangan air mata, si pemuda menggendong kembali ibunya pulang.

Begitu mulia hati seorang ibu. Di saat dirinya yang renta dianggap sudah tak berguna lagi, di saat hatinya pilu karena buah hati nan dicintai berniat membuangnya karena dianggap hanya menghabis-habiskan jatah beras saja, di saat hatinya tercabik-cabik karena anak kesayangan yang ditimang dan dibelai sejak kecil seolah melupakan segala kebaikannya, di saat seperti itu seorang ibu masih mendoakan kebaikan untuk anaknya. Mendoakan agar anaknya selamat dan tidak mendapatkan bala bencana maupun kesulitan dalam perjalanan pulang nanti.

Betapa mulia hati seorang ibu. Tegakah kita menyakitinya?

Oleh Kemalawaty
http://www.eramuslim.com/oase-iman/kemalawaty-kasih-anak-sepanjang-galah.htm

Thursday, November 10, 2011

Ummu Sulaim, Sambut Islam dengan Segenap Keikhlasan Hatinya

dakwatuna.com - Ummu Sulaim, begitu ia dikenal. Perempuan bernama asli Rumaisha binti Milhan ini menyambut kehadiran Islam dengan segenap keikhlasan hatinya. Ia songsong kehadiran fajar Islam yang baru saja menerobos celah-celah kehidupannya itu. Namun, suaminya Malik bin Nadhar, masih senang dan bertahan dalam selimut kejahiliyahannya.

Hukum Islam pun memberi ketegasan bagi Ummu Sulaim bahwa seorang Muslimah diharamkan memiliki suami yang musyrik, maka pernikahan mereka yang telah berjalan dan mempunyai anak laki-laki bernama Anas bin Malik itu bubar demi keyakinan masing-masing. Buah hati yang masih kecil itu ikut dalam asuhan Rumaisha. Tak ada keraguan yang menghadangnya, bahkan setiap hari perempuan ikhlas itu mengajari Anas bin Malik dengan pola hidup Islami.

Hari demi hari, bulan dan tahun dilalui dengan keikhlasan dalam mendidik Anas bin Malik. Maka menjelmalah Anas bin Malik menjadi seorang anak laki-laki yang saleh dan tangguh. Walaupun sudah beberapa waktu Rumaisha menjanda, namun setiap ada orang yang menanyakan kesendiriannya, Rumaisha selalu berkata, “Tidak terpikir olehku untuk menikah lagi sampai anakku Anas menjadi dewasa dan bergabung dalam majelis Rasulullah.”

Kekuatan sikap ibunya itu, membuat Anas bin Malik merasa berutang budi padanya. Sebagai anak yang saleh, Anas mengungkapkan rasa terima kasihnya itu dengan berdoa, “Semoga Allah membalas kebaikan ibuku yang telah merawatku dengan baik.”

Rumaisha pun menyerahkan putranya kepada Rasulullah SAW agar membantu keperluan beliau di rumahnya sekaligus bisa belajar Islam secara langsung dari beliau. Beberapa hari setelah Anas tinggal di rumah Rasulullah, seorang laki-laki bernama Abu Thalhah berkunjung ke rumah Rumaisha.

Setelah ditanya keperluannya, Abu Thalhah berkata, “Aku ke sini untuk melamarmu. Kuharap engkau mau menjadi istriku, ya Rumaisha.”

“Aku percaya bahwa pria seperti dirimu tentu banyak diminati para wanita. Tapi, Muslimah mana yang bersedia dinikahi laki-laki penyembah berhala seperti dirimu, ya Abu Thalhah”.

“Untuk itu, jika engkau rela memeluk Islam sebagai agamamu, niscaya aku tidak akan menolak lamaranmu. Bahkan akan kujadikan keislamanmu itu sebagai mahar bagiku,” jawab Rumaisha kepada Abu Thalhah diplomatis.

Mendengar jawaban singkat dari Rumaisha, Abu Thalhah pun pulang membawa gemuruh panjang dalam dada. Beberapa hari kemudian, setelah yakin bahwa hatinya telah mantap kepada Islam, maka Abu Thalhah segera datang kepada Nabi untuk menyatakan keislamannya. Rumaisha pun tidak ingkar pada janjinya. Ia sambut lamaran Abu Thalhah dengan keikhlasan hatinya.

Rumaisha dan Abu Thalhah pun akhirnya menikah di bawah panji iman, Islam, dengan satu cita-cita besar dalam perjuangan Islam. Setelah aqad nikah selesai dilaksanakan, salah seorang yang ikut hadir berkata, “Sungguh, belum pernah aku menjumpai mahar yang lebih mulia daripada maharnya Rumaisha. Ia rela, Islamnya Abu Thalhah sebagai mahar perkawinannya.”

Dari pernikahannya dengan Abu Thalhah, Rumaisha melahirkan seorang anak yang diberi nama Sulaim. Sejak itulah orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Ummu Sulaim. Bersama-sama dengan Abu Thalhah, pasangan suami istri itu banyak terlibat dalam perjuangan Islam, baik di masa perang maupun di masa damai.

Teringat dalam sebuah peristiwa di perang Uhud, Ummu Sulaim bersama mujahidah-mujahidah yang lain sangat giat mengangkuti qirbah-qirbah (tempat air dari kulit) berisi air di atas punggung mereka sebagai persediaan minum prajurit yang bertempur di medan perang. Begitu pula yang terjadi saat perang Hunain, ia bertempur mendampingi suaminya dengan membawa sebilah belati yang diselipkan di balik lengan bajunya. Setiap kali ada musuh mendekatinya, ia menikam dengan belatinya tersebut.

Ketika keadaan aman, Ummu Sulaim yang masih keturunan keluarga Adi bin Najjar (pengrajin kayu dari suku Khazraj) itu, tekun berkarya membuat kerajinan tangan. Setiap kali Rasulullah datang ke rumahnya, ia akan memberikan hasil karyanya itu kepada beliau. Bersama anaknya Anas bin Malik, Ummu Sulaim ikut meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Tercatat ada sekitar 14 buah hadits yang dia riwayatkan.

Keikhlasan Ummu Sulaim dalam berjuang menegakkan Islam membuat Rasulullah SAW menaruh perhatian khusus padanya. Ini tergambar dari ucapan beliau mengenai dirinya, “Aku bermimpi masuk surga, ternyata di sana ada Rumaisha istri Abu Thalhah.”
Suatu hari Abu Thalhah sedang ada keperluan ke luar kota. Tiba-tiba anaknya Sulaim sakit keras hingga menemui ajalnya. Dengan tabah dan penuh keikhlasan, Ummu Sulaim merawat jenazah anaknya. Dia berpesan kepada seluruh keluarganya supaya merahasiakan kematian Sulaim bila Abu Thalhah datang. “Biar aku sendiri yang menceritakan padanya,” pinta Ummu Sulaim.

Ketika Abu Thalhah pulang, Ummu Sulaim menyambut kedatangan suaminya dengan mesra dan cinta kasih. Dia berupaya menyenangkan hati Abu Thalhah dengan menghidangkan makanan kesukaannya, serta berdandan secantik mungkin. Melihat sambutan istrinya yang luar biasa itu, tentu saja Abu Thalhah sangat senang dan merasa rindu pada Ummu Sulaim. Apalagi sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu istrinya.

Begitulah, Ummu Sulaim mampu menutupi duka hatinya dengan melayani Abu Thalhah dengan baik. Setelah itu, Ummu Sulaim bertanya, “Wahai suamiku, bagaimana pendapatmu bila seseorang minjam uang kepada orang lain lalu digunakannya. Namun, ketika pemiliknya memintanya kembali, orang itu merasa keberatan?”

“Tentu saja peminjam itu tidak benar,” jawab Abu Thalhah. “Jika demikian, dengarlah suamiku. Putramu adalah barang pinjaman dari Allah SWT. Sekarang Allah telah mengambil kembali barang pinjaman itu,” kata Ummu Sulaim. Mendengar perkataan istrinya, Abu Thalhah sangat terkejut. Namun setelah merenung sejenak ia pun berkata dengan tenang dan tabah, “Sesungguhnya semua makhluk adalah kepunyaan Allah, dan akhirnya akan kembali kepada-Nya.”

Pada pagi harinya Abu Thalhah menemui Rasulullah dan menceritakan semua yang sedang dialaminya. Nabi menanggapi keluh kesah sahabatnya itu dengan berkata, “Ya Abu Thalhah, mudah-mudahan Allah SWT memberi barokah kepada kalian berdua.”

Atas karunia-Nya, Ummu Sulaim pun hamil. Menjelang kelahiran anak itu, Abu Thalhah sedang bersiap-siap untuk menemani Rasulullah ke luar kota. Melihat istrinya kesakitan, maka Abu Thalhah pun menunda keberangkatannya seraya berkata, “Ya Allah, betapa inginnya aku menyertai Rasulullah, tapi hal itu tak mungkin kulakukan karena istriku sedang kesakitan.”

Usai Abu Thalhah berkata demikian, Ummu Sulaim tidak lagi merasakan sakit. Ia pun menyarankan suaminya supaya menyusul Rasulullah. Anehnya, begitu Abu Thalhah dan Rasulullah pulang, Ummu Sulaim merasakan sakitnya kambuh lagi.

Dan beberapa saat kemudian ia pun melahirkan bayinya. Anas lalu membawa bayi itu pada Rasulullah dan ia diberi nama Abdullah oleh beliau. Tidak lama setelah kelahiran Abdullah, Ummu Sulaim mengandung dan melahirkan berulang-ulang hingga ia memiliki banyak anak dalam perkawinannya dengan Abu Thalhah. Semoga perjuangan Rumaisha dengan keikhlasan hatinya menjadi penyemangat dalam dakwah Islam bagi para Muslimah generasi penerus.

Oleh: Cecep Y Pramana
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/08/14161/ummu-sulaim-sambut-islam-dengan-segenap-keikhlasan-hatinya/#ixzz1dAcOJ2uh

Monday, August 1, 2011

Potret Salaf Dalam Birrul Walidain

Suatu hari, Ibnu Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Diambil dari kitab al-Kabair, karya adz-Dzahabi)

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.” (Diambil dari kitab Uyunul Akhyar, karya Ibnu Qutaibah)

Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.” (Diambil dari kitab Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)

Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” (Diambil dari kitab Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk padahal ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang didapatkan anaknya. (Diambil dari Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya. (Diambil dari al-Birr wasilah, karya Ibnu Jauzi)

Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kalajengking tersebut. Beliaupun tersengat kalajengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu.” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.” (Diambil dari kitab Nuhzatul Fudhala’)

Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa kuberikan pasti kuberikan.” (Diambil dari Shifatush Shafwah)

Hafshah binti Sirin mengatakan, “Ibu dari Muhammad bin Sirin sangat suka celupan warna untuk kain. Jika Muhammad bin Sirin memberikan kain untuk ibunya, maka beliau belikan kain yang paling halus. Jika hari raya tiba, Muhammad bin Sirin mencelupkan pewarna kain untuk ibunya. Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirin bersuara keras di hadapan ibunya. Apabila beliau berkata-kata dengan ibunya, maka beliau seperti seorang yang berbisik-bisik. (Diambil dari Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi).

Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah beliau bertanya kepada para sahabat Muhammad bin Sirin, “Ada apa dengan Muhammad, apakah dia mengadukan suatu hal? Para sahabat Muhammad bin Sirin mengatakan, “Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya.” (Diambil dari Siyar A’lamin Nubala’, karya adz-Dzahabi)

Humaid mengatakan, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis, ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” (Dari kitab Bir wasilah, karya Ibnul Jauzi)

Kisah Uwais al-Qorni

Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gubernur Yaman menemui khalifah Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir”, sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau bertanya, “engkau Uwais bin Amir?”, “Betul” Jawabnya. Khalifah Umar bertanya, “Engkau dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn?”, “Betul,” sahutnya. Beliau bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham?”, “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau memiliki seorang ibu.” Khalifah Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar Ibnul Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan surat untukmu kepada gubernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan, “Berada di tengah-tengah banyak orang sehingga tidak dikenal itu lebih ku sukai.” (HR. Muslim)

Sumber : www.muslim.or.id
http://madinatulilmi.com/?prm=posting&kat=2&var=detail&id=315

Wednesday, June 15, 2011

Syurga di Bawah Telapak Kaki Ibu

Tersebutlah seorang ahli ibadah pada masa Muhammad Rosululloh SAW. Hari-hari digunakan untuk berdzikir dan mengerjakan sholat tahajjud. Ia pun senang bersedekah dan mengerjakan kebaikan-kebaikan. Orang-orang memanggil Alqomah. Ia tinggal di sebuah rumah bersama istri yang dicintainya. Sementara ibu Alqomah yang sudah tua tinggal sendiri di desa.

SUATU ketika Alqomah jatuh sakit. Makin lama sakitnya makin para. Hingga ia pun tidak bisa berbuat apa-apa melainkan hanya berbaring di atas tempat tidur. Istrinya yang merasa bahwa Alqomah sedang mengalami naza’ atau sakaratulmaut mengutus seseorang untuk melaporkan keadaan ini kepada Rasululloh SAW. Setelah mendengar cerita itu, Rasullullah mengutus tiga orang sahabat yaitu Bilal, Amar dan Suhaib untuk menengok Alqomah. Beliau berpesan agar mereka mengajarkan kalimat talqin pada Alqomah.

Sesampainya di rumah Alqomah, ketiganya langsung menemui Alqomah yang sedang mengalami sakaratulmaut. Mereka lalu menuntunnya agar melafatkan kalimat Laa ilaaha illallah. Tetapi apa yang terjadi? Mulut Alqomah tidak terbuka sedikitpun. Berkali-kali ketiga pemudah itu mengajarkan, berkali-kali pula mulut Alqomah seperti terkunci. Ketiganya heran. Padahal Alqomah adalah orang yang ahli ibadah, tapi kenapa tidak bisa membaca kalimat sesederhana itu. Dengan menyimpan rasa tidak percaya ketiganya pulang menghadap Rasullulah. Mereka langsung menceritakan kejadian itu. Rasullulah bertanya.

"Apakah orang tua Alqomah masih hidup?"

"Wahai Rasullullah… Alqomah mempunyai seorang ibu yang tua."

"Kalau begitu pergilah kalian menemui Ibunda Alqomah. Jika ia masih kuat untuk berjalan, mintalah ia agar datang kemari. Tapi jika tidak, biar aku saja yang kesana."

Maka pergilah Bilal, Amar dan Suhaib ke rumah Ibunda Alqomah. Sesampainya disana mereka langsung mengutarakan maksud kedatangan mereka. Tanpa berpikir panjang Ibunda Alqomah bergegas memenuhi panggilan Rosululloh walaupun berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat.

Sesampainya di rumah Rosululoh, Ibunda Alqomah diberitahu mengenai keadaan anaknya. Namun ia nampak biasa saja mendengar berita itu seolah tidak mau tahu tentang apa yang sedang dialami oleh Alqomah. Hal ini membuat Rosululloh ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi antara ibu dan anak tersebut.

"Wahai Ibunda Alqomah…, Aku ingin bertanya kepadamu dan jawablah pertanyaanku dengan jujur. Bagaimana pendapat Ibu terhadap putra Ibu yang bernama Alqomah?"

Ibunda Alqomah diam sejenak, lalu berkata, "Alqomah adalah seorang anak laki-laki yang ahli sholat, ahli puasa dan ahli shodaqoh... Akan tetapi....”

Ibu Alqomah tidak meneruskan kalimatnya. Matanya berkaca-kaca seolah memendam suatu beban perasaan yang sangat berat.

“Akan tetapi apa Ibu…?” tanya Rosululloh.

“Aku sangat marah kepadanya…”

Ibu Alqomah tidak dapat membendung air matanya. Ia menangis terisak-isak dihadapan Rosululloh.

“Apa masalahnya Ibu...?”

“Semenjak Alqomah menikah dengan perempuan yang dicintainya, ia mulai melupakan aku... bahkan meremehkan aku. Ia lebih mendahulukan kepentingan istrinya daripada aku. Ia lebih mendengar kata-kata istrinya daripada nasehatku. Padahal akukan ibunya… aku sangat sakit hati, karena Alqomah tidak pernah sedikitpun menyadari kesalahannya lalu minta maaf kepadaku… Yaaahh... sampai sekarang aku tidak ridho kepadanya…”

Rosululloh telah menemukan jawaban atas keadaan yang dialami Alqomah. Kemarahan ibunyalah yang menyebabkan Alqomah mengalami beratnya sakaratulmaut, karena lisannya tidak mampu melafadzkan kalimat “Laa ilaaha illalloh…”

“Wahai Bilal…” panggil Rosululloh.

“Cari dan kumpulkan kayu bakar yang banyak!”

Ibunda Alqomah merasakan sesuatu yang janggal dari ucapan Rosululloh. “Untuk apakah kayu bakar itu, wahai Rosululloh… Apa yang akan kau perbuat terhadap Alqomah?”

“Membakarnya...” jawab Rosululloh singkat.

“Apa?! Wahai Rosululloh… Betapapun marahnya aku kepada Alqomah, mana mungkin aku sampai hati kalau ia dibakar api. Mohon jangan lakukan itu...”

“Tahukah Ibu… Adzab Alloh lebih mengerikan dan lebih kekal. Kalau memang Ibu ingin Alloh mengampuni dosa Alqomah, maka Ibu harus mau memaafkan semua kesalahan Alqomah terhadap Ibu lalu Ibu meridhoinya… Sebab semua ibadah yang telah dikerjakan Alqomah, seperti, sholat, berpuasa dan bersedekah, semua itu tidak ada artinya bagi Alqomah selama Ibu masih memendam amarah terhadapnya..”

Walau bagaimanapun, orang tua tetaplah orang tua yang tidak mungkin tega melihat anaknya menderita. Ibunda Alqomah pun tidak rela kalau anaknya mendapat adzab dari Alloh.

“Baiklah wahai Rosululloh, aku bersaksi kepada Alloh dan para malaikatNya. Aku juga bersaksi dihadapan orang-orang iman yang hadir di sini bahwa sekarang juga aku memaafkan semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh Alqomah terhadapku… Dan aku meridhoinya…”

“Bilal…!”

“Ya, Rasululloh…”

“Pergilah ke rumah Alqomah. Lihatlah, apakah ia sudah bisa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illalloh… Aku kuwatir jangan-jangan pernyataan Ibunda Alqomah tadi tidak berasal dari dalam hatinya melainkan hanyalah sungkan kepadaku”

Berangkatlah Bilal menuju rumah Alqomah. Begitu sampai di depan rumah ia menjumpai telah banyak orang-orang berdatangan. Tiba-tiba Bilal mendengar suara Alqomah dengan fasih dan jelas melafadzkan kalimat Laa ilaaha illalloh…

Sampai didalam rumah Bilal menjumpai Alqomah telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Lalu Bilal berkata, “Wahai orang-orang yang hadir di sini. Ketahuilah bahwa amarah ibunya telah menghalang-halangi Alqomah untuk membaca kalimat talkin. Dan sekarang berkat ridho ibunya ia bisa mengucapkan kalimat itu…”

Tak lama kemudian Rosululloh beserta beberapa sahabatnya datang berta’ziyah. Mereka lalu memandikan, mengkafani dan mensholati jenazah Alqomah. Kemudian diantar beriringan oleh Rosululloh dan para sahabat menuju tempat pemakaman.

Pemakaman Alqomah pun selesai dilaksanakan. Sementara para pengantar masih berada di tempat pemakaman, Rosululloh bersabda, “Wahai orang-orang beriman, muhajir dan anshor…… Siapa saja yang mengutamakan kepentingan istrinya hingga melalaikan ibunya, maka ia akan mendapatkan laknat Alloh, laknat para Malaikat dan laknat semua para manusia. Alloh tidak menerima amal ibadahnya, baik yang wajib maupun yang sunnah, kecuali jika ia bertaubat dan berbuat baik serta mencari ridho ibunya. Sebab ridho Alloh beserta ridhonya ibu dan murka Alloh beserta murkanya ibu”.

http://ponpesgama.blogspot.com/2011/02/kisah-inpiratif-syurga-di-bawah-telapak.html