Showing posts with label Nabiyullah. Show all posts
Showing posts with label Nabiyullah. Show all posts

Monday, September 30, 2013

Tawadhu Sahabat Nabi

"Dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman." (QS. Asy-Syu’ara: 215)

Pembenahan akhlak merupakan misi kenabian dari Nabi Muhammad Saw., seperti deklarasinya pada salah satu haditsnya: Innama bu’isttu li utammima makarimal akhlaq (sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia). Untuk itu akan kita temukan kemuliaan akhlak itu pada berbagai cerita Nabi dan para sahabatnya. Seperti pada kisah berikut ini:
 
Pada suatu hari Abu Bakar RA dan Ali bin Abi Thalib RA pergi berkunjung ke rumah Rasulullah Saw… Setibanya di depan pintu rumah nabi, satu sama lain saling mendorong rekannya untuk masuk terlebih dahulu.

Abu Bakar: Kamu duluan, ya Ali!

Ali: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Aba Bakr, sedang Rasulullah sendiri pernah bersabda tentang mu: “Belum pernah matahari terbit atau terbenam atas seseorang sesudah para nabi, lebih utama dari Abu Bakar.”

Abu Bakar: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Ali, sedang Rasulullah juga pernah bersabda tentangmu: “Aku telah menikahkan wanita terbaik kepada lelaki terbaik, aku nikahkan putriku Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib.”

Ali: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Aba Bakar, sedang Nabi Saw pernah bersabda: “Kalau iman umat ini ditimbang dengan iman Abu Bakar, tentu akan berat timbangan iman Abu Bakar.”

Abu Bakar: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Ali, sedang Rasulullah Saw pernah bersabda tentangmu: “Dikumpulkan Ali bin Abi Thalib di Mahsyar pada hari Kiamat kelak dengan berkendaraan bersama Fatimah, Hasan dan Husain, lalu orang-orang bertanya-tanya, “Nabi siapa gerangan itu?” Lalu ada yang menjawab, “ia bukan nabi, tetapi Ali bin Abi Thalib dan keluarganya.”

Ali: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Aba Bakar, sedang Rasulullah Saw pernah bersabda tentang engkau: “Kalau aku harus mempunyai kekasih selain dari Rabbku, tentu aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasihku.”

Abu Bakar: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Ali, sedang Rasulullah Saw pernah bersabda: “Pada hari kiamat aku bersama Ali, lalu Allah berfirman kepadaku: “Wahai kekasihku, aku telah pilihkan untukmu, Ibrahim al-Khalil sebagai ayah terbaikmu, dan Aku telah pilihkan untuk Ali sebagai saudara dan sahabat terbaikmu.”

Ali: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Aba Bakar, sedang Allah Ta’ala pernah berfirman tentangmu: “Dan orang yang datang membawa kebenaran dan orang yang membenarkannya, mereka itu adalah orang-orang yang bertaqwa (QS. Az-Zumar: 33)

Abu Bakar: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Ali sedang Allah Ta’ala juga telah mengisyaratkan mu dalam firman-Nya: Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari kerelaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)

Pada waktu keduanya sedang asyik memperbincangkan keutamaan sahabatnya, Jibril datang berkunjung kepada Rasulullah Saw, seraya berkata: “Ya Rasulullah, di luar sana ada Abu Bakar dan Ali hendak menemuimu. Pergilah, sambutlah keduanya!”

Maka Rasulullah Saw segera bangkit dari duduknya, menyambut mesra dan mempersilakan masuk kedua sahabatnya yang mulia. Beliau Saw menempatkan Abu Bakar di sebelah kanannya dan Ali di sebelah kirinya, seraya berkata kepada mereka, “Demikianlah kami kelak dibangkitkan di hari Kiamat.”

Akhlak mereka itu persis dengan ayat Allah yang berbunyi:
"Dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman." (QS. Asy-Syu’ara: 215)

Rendahkanlah sayapmu ini berkonotasi agar Rasulullah Saw. rendah hati atau tawadhu bila berhadapan dan berinteraksi dengan para sahabatnya. Dan kerendahhatian Rasulullah Saw. ini ditiru oleh para sahabat kemudian, maka terbacalah oleh kita sekarang tentang sifat dasar pengikut Nabi Muhammad Saw. Dari kurun ke kurun, generasi ke generasi. Allah mengingatkan kita bahwa generasi pengganti yang akan berperan kemudian setelah habis masa peran orang-orang yang keluar dari ajaran-Nya, memiliki sifat tawadhu, lemah lembut seperti dalam firman-Nya:
"Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan sebuah kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Maidah: 54)

Untuk itu, alangkah eloknya bila kita sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw. Yang tawadhu, berhias diri juga dengan sikap tawadhu, terutama dengan sesama umat Sayyidina Muhammad Saw. sehingga akan tampak pemandangan sosial yang indah di antara sesama muslim, saling menghargai, tidak saling merendahkan, saling menutupi, tidak saling menelanjangi, saling memuji, tidak saling mencela. Energi kita pun tidak digunakan untuk mencari cacat saudara, tetapi kita gunakan untuk mengerahkan potensi kita agar berdaya guna hidup di tengah-tengah masyarakat.
 
Namun perlu diingat, rendah hati ini jangan sampai masuk ke derajat rendah diri. Karena rendah hati akan berdampak positif, sementara rendah diri akan berdampak negatif. Rendah hati adalah sebuah keutamaan, sedangkan rendah diri adalah kehinaan. Rendah hati akan memacu jiwa pemiliknya untuk terus bertanding, sedangkan rendah diri akan meracuni pemiliknya untuk tidak ikut bertanding, mereka kalah sebelum berperang. Rendah hati adalah obat kesombongan, sedangkan rendah diri adalah penyakit, yang sementara ini menggerogoti jiwa umat Nabi Muhammad Saw.

Semoga saja kita termasuk orang yang rendah hati yang tidak rendah diri. Amin ya Rabbal ‘alamin.
 
"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (QS. Al-Furqan: 63)
 

Jassasah Si Pengawal Dajjal


Pernahkah anda mendengar Jassasah ?

Dia adalah pengawal Dajjal yang bertugas mencari-cari berita dari manusia, bila ia menemui manusia yang lewat di pulau kediaman Dajjal.

Pulau apakah itu dan dimana ?

Pulau itu adalah pulau misteri sampai saat ini masih disembunyikan keberadaannya oleh Allah -Azza wa Jalla-.

Kali ini kami akan mengajak anda menikmati kisah di bawah ini yang menyingkap sedikit perihal kehidupan makhluk misteri ini agar anda semakin yakin tentang kebenaran risalah Nabi kita Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-..

Dari Fathimah bintu Qois -radhiyallahu anha-, ia berkata :

“Aku pernah sholat bersama Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Aku berada di shaff wanita yang berada dekat dengan punggung kaum lelaki. Tatkala Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah menyelesaikan sholatnya, maka beliau duduk di atas mimbar sambil tertawa. Kemudian beliau bersabda, “Hendaknya setiap orang melazimi tempatnya”, lalu bersabda lagi, “Tahukah kalian kenapa aku kumpulkan kalian ?”

“Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”, kata mereka.

Beliau bersabda,

“Demi Allah, sesungguhnya aku tidaklah mengumpulkan kalian karena keinginan (dalam membagi ghonimah, –pent.) dan tidak pula karena takut (terhadap musuh, –pent.).

Akan tetapi aku kumpulkan kalian, karena Tamim Ad-Dariy dahulu seorang yang beragama Nasrani. Kemudian ia datang berbai’at dan masuk Islam. Dia telah menceritakan kepadaku sebuah kisah yang sesuai dengan kisah yang pernah aku ceritakan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal. Dia telah menceritakan kepadaku bahwa telah berlayar dalam sebuah perahu besar bersama 30 orang lelaki dari Suku Lakhm dan Judzam. Mereka dipermainkan oleh ombak selama sebulan di lautan. Kemudian mereka berlabuh pada sebuah pulau di tengah lautan ketika terbenamnya matahari. Mereka pun duduk di perahu kecil, lalu memasuki pulau itu.

Mereka dijumpai oleh binatang yang lebat bulunya; mereka tak tahu mana depan dan belakangnya karena banyak bulunya. Mereka berkata (kepada binatang itu), “Celaka engkau, siapakah engkau?”

Binatang itu menjawab, “Aku adalah Jassasah (tukang cari berita)”.

Mereka bilang, “Apa itu Jassasah?”

Binatang itu berkata, “Wahai kaum, pergilah engkau kepada laki-laki ini di dalam istana itu. Karena ia amat rindu dengan berita kalian”.

Dia (Tamim) berkata, “Tatkala ia (si binatang) menyebutkan seorang lelaki kepada kami, maka kami khawatir jangan sampai binatang itu adalah setan perempuan”.

Tamim berkata, “Kami pun pergi dengan cepat sampai kami memasuki istana tersebut. Tiba-tiba di dalamnya terdapat orang yang paling besar kami lihat dan paling kuat ikatannya dalam keadaan kedua tangannya terbelenggu ke lehernya antara kedua lututnya sampai kedua mata kakinya dengan besi”. Kami katakan, “Celaka anda, siapakah anda?”

Dia (Dajjal) menjawab, “Sungguh kalian telah tahu beritaku. Kabarkanlah kepadaku siapakah kalian?”

Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang Arab. Kami telah berlayar dalam sebuah perahu besar. Kami pun mengarungi lautan saat berombak besar. Akhirnya, ombak mempermainkan kami selama sebulan. Kemudian kami berlabuh di pulau anda ini. Kami pun duduk-duduk di perahu kecil, lalu masuk pulau. Tiba-tiba kami dijumpai oleh binatang yang lebat bulunya; mereka tak tahu mana depan dan belakangnya karena banyak bulunya. kami berkata (kepada binatang itu), “Celaka engkau, siapakah engkau?” Binatang itu menjawab, “Aku adalah Jassasah (tukang cari berita)”. Kami bilang, “Apa itu Jassasah?” Binatang itu berkata, “Pergilah engkau kepada laki-laki ini di dalam istana. Karena ia amat rindu dengan berita kalian”. Lalu kami menghadap kepadamu dengan cepat, kami takut kepadanya dan tak merasa aman jika ia adalah setan perempuan”.

Dia (Dajjal) berkata, “Kabarilah aku tentang pohon-pohon korma Baisan (nama tempat di Yordania, –pent.)!!”.

Kami bertanya, “Engkau tanya tentang apanya?”.

Dajjal berkata, “Aku tanyakan kepada kalian tentang pohon-pohon kurmanya, apakah masih berbuah?”.

Kami jawab, “Ya”.

Dajjal berkata, “Ingatlah bahwa hampir-hampir ia tak akan berbuah lagi”. Dajjal berkata, “Kabarilah aku tentang Danau Thobariyyah!!”.

Kami katakan, “Apanya yang kau tanyakan?”

Dajjal berkata, “Apakah di dalamnya masih ada air?”

Mereka menjawab, “Danau itu masih banyak airnya”.

Dajjal berkata, “Ingatlah, sesungguhnya airnya hampir-hampir akan habis”. Dajjal bertanya lagi, “Kabarilah aku tentang mata air Zughor!!”

Mereka bertanya, “Apanya yang kau tanyakan?”

Dajjal berkata, “Apakah di dalam mata air itu masih ada air? Apakah penduduknya masih menanam dengan memakai air dari mata air itu?”

Kami jawab, “Ya, mata air itu masih banyak airnya dan penduduknya masih bercocok tanam dari airnya”.

Dajjal berkata lagi, “Kabarilah aku tentang Nabinya orang-orang Ummi (ummi : buta huruf, yakni orang-orang Quraisy), apa yang ia lakukan?

Mereka berkata, “Dia telah keluar dari Kota Makah dan bertempat tinggal di Yatsrib (Madinah)”.

Dajjal bertanya, “Apakah ia diperangi oleh orang-orang Arab?”

Kami katakan, “Ya”.

Dajjal bertanya, “Apa yang ia lakukan pada mereka?”

Lalu mereka kabari Dajjal bahwa sungguh ia (Nabi itu, yakni Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam-) telah berkuasa atas orang-orang yang ada di sekitarnya dari kalangan Arab dan mereka menaatinya”.

Dajjal berkata kepada mereka, “Apakah hal itu sudah terjadi?”

Kami jawab, “Ya”.

Dajjal berkata, “Ingatlah bahwa hal itu lebih baik bagi mereka untuk menaatinya. Sekarang aku kabari kalian bahwa aku adalah Al-Masih (yakni, Al-Masih Ad-Dajjal). Sungguh aku hampir diberi izin untuk keluar. Aku akan keluar, lalu berjalan di bumi. Aku tak akan membiarkan suatu negeri, kecuali aku injak dalam waktu 40 malam, selain Makkah dan Thoibah (nama lain bagi kota Madinah, –pent.). Kedua kota ini diharamkan bagiku. Setiap kali aku hendak memasuki salah satunya diantaranya, maka aku dihadang oleh seorang malaikat, di tangannya terdapat pedang terhunus yang akan menghalangiku darinya. Sesungguhnya pada setiap jalan-jalan masuk padanya ada malaikat-malaikat yang menjaganya”

Dia (Fathimah bintu Qois) berkata, “Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda seraya menusuk-nusukkan tongkatnya pada mimbar, “Inilah Thoibah, Inilah Thoibah, Inilah Thoibah, yakni kota Madinah. Ingatlah, apakah aku telah menceritakan hal itu kepada kalian?”

Orang-orang pun berkata, “Ya”.

[HR. Muslim dalam Kitab Asyroot As-Saa'ah, bab : Qishshoh Al-Jassasah (no. 2942), Abu Dawud dalam Kitab Al-Malaahim (4326), At-Tirmidziy dalam Kitab Al-Fitan (2253) dan Ibnu Majah Kitab Al-Fitan (4074)]

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=506085039487701&id=425791027517103

Tuesday, August 13, 2013

Kisah Pencurian Jasad Nabi Muhammad SAW

Peristiwa yang memilukan dan nyaris menampar wajah umat islam terjadi pada tahun 1164 M atau 557 H. Jasad Nabi Muhammad SAW pernah terusik dan nyaris dicuri oleh orang kafir laknatullah. Akhirnya Allah menyelamatkannya dari rencana jahat yang mengancam sang nabi tercinta.

Usaha-usaha mengambil jasad nabi dari makamnya untuk dipindah ke tempat lain sudah be...rkali-kali dilakukan orang, diantaranya adalah yang terjadi pada tahun 557 H (1163 M). Dikisahkan dalam kitab Fusul min Tarikhil Madinah, sebagaimana telah dicatat oleh sejarawan Ali Hafidz.

Pada tahun itu Sultan Nuruddin Mahmud Zinki yang menguasai Mesir dan Syiria terkenal sebagai raja yang saleh dan memperhatikan Islam. Pada suatu malam ketika ia tidur di istananya di Damaskus, ia mimpi bertemu Nabi Muhammad saw, sedang menudingkan tangannya ke arah dua orang berwajah Eropa, seraya berkata, “Wahai Mahmud, tolonglah aku dari dua orang ini!”.

Kemudian ia bangun dan tertegun kaget, lalu berwudhu dan shalat dua rakaat, dan tidur lagi. Ketika sudah tertidur ia melihat seperti yang ia lihat tadi, kemudian terbangun ambil air wudhu, shalat dan tidur lagi dan yang untuk ketiga kalinya, ia bermimpi seperti yang ia lihat pada yang pertama.

Tanpa menunggu pagi, saat itu juga ia panggil menterinya yang saleh dan taat beragama bernama, Jamaluddin al-Musilly. Setelah sultan cerita semua yang ia alami tadi, maka al-Musilly dengan hati-hati berkata: “Ini pasti terjadi sesuatu yang negatif di Madinah, sekarang juga kita harus ke sana dan harus kita rahasiakan dahulu peristiwa yang Sultan alami tadi”.

Malam itu juga Sultan segera mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan dari damaskus ke madinah yang memakan waktu 16 hari, dengan mengendarai kuda bersama 20 pengawal serta banyak sekali harta yang diangkut oleh puluhan kuda. Sesampainya di Madinah, sultan langsung menuju Masjid Nabawi untuk melakukan sholat di Raudhah dan berziarah ke makam Nabi SAW. Sultan bertafakur dan termenung dalam waktu yang cukup lama di depan makam Nabi SAW, bingung tidak tahu apa yang harus dikerjakan.

Berkatalah menteri kepada Sultan: “Dapatkah tuan sultan memastikan dua orang itu kalau sekarang tuan sultan melihatnya?”. “Ya, pasti”, jawab Sultan.

Maka menteri langsung berdiri dan mengumumkan agar semua penduduk Madinah datang ke Masjid, karena sultan akan membagikan hadiah dan sedekah, jangan sampai ada yang ketinggalan. Kemudian satu-persatu penduduk Madinah datang dan dicatat di depan Sultan. Sampai pada orang yang terakhir, Sultan tidak melihat orang yang terlihat dalam mimpi. Lantas sultan bertanya: “Masih adakah yang lain?”.

Penduduk Madinah kemudian menjawab: “Memang masih ada, yaitu dua orang jamaah haji dari Maroko yang mukim disini, mereka saleh dan kaya, sering membagi sedekah dan selalu shalat berjamaah di Masjid Nabawi, mereka merasa sudah cukup tidak perlu ambil sedekah atau hadiah.

“Datangkan mereka kesini sekarang juga…..!”, perintah Sultan.

Terkejutlah Sultan ketika melihat dua orang itu persis dengan yang ia lihat dalam mimpi, lalu ia bertanya, “Dari mana asal kalian berdua?”... “Kami berdua dari Maroko, kami berdua beribadah haji dan ingin bermukim dekat makam Nabi satu tahun”, jawab mereka. “Apakah keterangan kalian dapat saya percayai…?”, desak Sultan agar mereka mengaku yang sebenarnya. Tetaplah mereka bersikeras pada keterangannya dan tidak mengakui apa yang mereka kerjakan sebenarnya.

Maka Sultan datang ke rumah yang mereka sewa (rumah dekat makam Nabi dari arah kiblat) dan sesampainya di rumah itu yang di temuinya adalah tumpukan harta, sejumlah buku dalam rak dan dua buah mushaf al-Qur’an. Lalu sultan berkeliling ke kamar sebelah. Saat itu Allah memberikan ilham, sultan Mahmud tiba-tiba berinisiatif membuka tikar yang menghampar di lantai kamar tersebut. Masya Allah, Subhanallah.... ternyata ada lubang gua..

Semua yang melihat jadi terkejut dan Sultan memerintahkan salah satu pengikutnya untuk masuk….. dan alangkah terkejutnya….. ternyata lubang itu menuju arah bawah Masjid Nabi dan sudah menembus tembok masjid, hampir sampai tembok makam Nabi. Seketika itu juga, sultan segera menghampiri kedua lelaki berambut pirang tersebut dan menghantamnya dengan sangat keras "Pluaak..Pluook".. keduanyapun jatuh tersungkur.

Setelah bukti ditemukan, mereka mengaku diutus oleh raja Nasrani di Eropa misinya untuk mencuri jasad Nabi SAW. Pengakuan mereka adalah; 1- Mereka adalah dua orang Kristen dari Spanyol, datang ke Madinah menyamar sebagai jamaah haji dari Maroko. 2- Maksud kedatangannya adalah melaksanakan tugas suci dari Liga Kristen Internasional untuk mengambil jasad Nabi Muhammad saw dan dibawa ke Eropa. 3- Dengan menggali terowongan dan membuang tanah galian ke Baqi’ setiap malam, mereka optimis berhasil mengambil jasad nabi saw. 4- Semua biaya ditanggung oleh liga tersebut.

Pada pagi harinya, setelah mengakui semua perbuatannya mereka dihukum pancung di sebelah Timur makam Nabi saw disaksikan semua penduduk Madinah. Karena peristiwa tersebut Sultan memerintah memperkuat bangunan makam dengan menggali sekelilingnya sedalam 15 meter kemudian dicor atau dibeton dengan timah. Setelah pembangunan selesai, sultan Mahmud dan rombongan pulang ke negeri Syam untuk kembali memimpin kerajaannya.
 

Thursday, November 22, 2012

Kisah Kematian Nabiyullah Adam 'alaihissalam


Kisah ini memberitakan kepada kita tentang saat-saat terakhir kehidupan bapak kita Adam dan keadaannya pada saat sakaratul maut. Para malaikat memandikannya, memberinya wangi-wangian, mengkafaninya, menggali kuburnya, menshalatkannya, menguburkannya, dan menimbunnya dengan tanah. Mereka melakukan hal itu untuk memberikan pengajaran kepada anak cucu sesudahnya, tentang bagaimana cara menangani orang mati.

Nash Hadis

Dari Uttiy bin Dhamurah As-Sa’di berkata, “Aku melihat seorang Syaikh di Madinah sedang berbicara. Lalu aku bertanya tentangnya.” Mereka menjawab, “Itu adalah Ubay bin Ka’ab.” Ubay berkata, “Ketika maut datang menjemput Adam, dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Wahai anak-anakku, aku ingin makan buah surga.’ Lalu anak-anaknya pergi mencari untuknya. Mereka disambut oleh para malaikat yang telah membawa kafan Adam dan wewangiannya. Mereka juga membawa kapak, sekop, dan cangkul.

Para Malaikat bertanya, ‘Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?’ Mereka menjawab, ‘Bapak kami sakit, dia ingin makan buah dari surga.’ Para malaikat menjawab, ‘Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba.’ Lalu para malaikat datang. Hawa melihat dan mengenali mereka, maka dia berlindung kepada Adam.

Adam berkata kepada Hawa, ‘Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan Malaikat Tuhanku Tabaraka wa Taala.’ Lalu para malaikat mencabut nyawanya, memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan kuburnya dengan membuat liang lahat di kuburnya, menshalatinya. Mereka masuk ke kuburnya dan meletakkan Adam di dalamnya, lalu mereka meletakkan bata di atasnya. Kemudian mereka keluar dari kubur, mereka menimbunnya dengan batu. Lalu mereka berkata, ‘Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian.’”

Takhrij Hadis

Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawaidul Musnad, 5/ 136.
Ibnu Katsir setelah menyebutkan hadis ini berkata, “Sanadnya shahih kepadanya.” (Yakni kepada Ubay bin Ka’ab). (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/98).

Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad. Rawi-rawinya adalah rawi-rawi Hadis shahih, kecuali Uttiy bin Dhamurah. Dia adalah rawi tsiqah.” (Majmauz Zawaid, 8/199).

Hadis ini walaupun mauquf(sanadnya tidak sampai pada Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam) pada Ubay bin Kaab, tetapi mempunyai kekuatan hadis marfu’, karena perkara seperti ini tidak membuka peluang bagi akal untuk mengakalinya.

Penjelasan Hadis

Hadis ini menceritakan tentang bapak kita, Adam, manakala maut datang menjemputnya, Adam rindu buah surga. Ini menunjukkan betapa cinta Adam kepada surga dan kerinduannya untuk kembali kepadanya. Bagaimana dia tidak rindu surga, sementara dia pernah tinggal di dalamnya, merasakan kenikmatan dan keenakannya untuk beberapa saat.

Bisa jadi keinginan Adam untuk makan buah surga merupakan tanda dekatnya ajal. Sebagian hadis menyatakan bahwa Adam mengetahui hitungan tahun-tahun umurnya. Dia mengitung umurnya yang telah berlalu. Nampaknya dia mengetahui bahwa tahun-tahun umurnya telah habis. Perpindahannya ke alam akhirat telah dekat. Dan tanpa ragu, Adam mengetahui bahwa anak-anaknya tidak mungkin memenuhi permintaannya. Mana mungkin mereka bisa menembus surga lalu memetik buahnya. Anak-anak Adam juga menyadari hal itu. Akan tetapi, karena rasa bakti mereka kepada bapak mereka, hal itulah yang mendorong mereka untuk berangkat mencari.

Belum jauh anak-anak Adam meninggalkan bapaknya mereka telah dihadang oleh beberapa malaikat yang menjelma dalam wujud orang laki-laki. Mereka telah membawa perlengkapan untuk menyiapkan orang mati. Para malaikat memperagakan apa yang dilakukan oleh kaum muslimin terhadap jenazah seperti pada hari ini. Mereka membawa kafan, wewangian, juga membawa kapak, cangkul, dan sekop yang lazim diperlukan untuk menggali kubur.

Ketika anak-anak Adam menyampaikan tujuan mereka dan apa yang mereka cari, para malaikat meminta mereka untuk pulang kepada bapak mereka, karena bapak mereka telah habis umurnya dan ditetapkan ajalnya.

Manakala para malaikat maut datang kepada Adam, Hawa mengenalinya sehingga dia berlindung kepada Adam. Sepertinya Hawa hendak membujuk Adam agar memilih hidup di dunia, karena para rasul tidak diambil nyawanya sebelum mereka diberi pilihan (antara kehidupan dunia dan akhirat-pent) sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam kepada kita. Adam tidak menggubris dan menghardiknya dengan berkata, “Menjauhlah dariku, karena aku pernah melakukan dosa karenamu.” Adam mengisyaratkan rayuan Hawa untuk makan pohon yang dilarang semasa keduanya berada di Surga.

Para Malaikat mengambil ruh Adam. Mereka sendirilah yang mengurusi jenazahnya dan menguburkannya, sementara anak-anak Adam melihat mereka. Para malaikat itu memandikannya, mengkafaninya, memberinya wangi-wangian, menggali kuburnya, membuat liang lahat, menshalatinya, masuk ke kuburnya, meletakkannya di dalamnya, lalu mereka menutupnya dengan bata. Kemudian mereka keluar dari kubur dan menimbunkan tanah kepadanya. Para Malaikat mengajarkan semua itu kepada anak-anak Adam. Mereka berkata, “Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian.” Yakni, cara yang Allah pilih untuk kalian dalam hal mayat kalian.

Cara ini adalah syariat umum yang berlaku untuk seluruh rasul dan semua orang beriman di bumi ini, mulai sejak saat itu sampai sekarang. Dan cara apa pun yang menyelisihinya berarti menyimpang dri petunjuk Allah, yang besar kecilnya tergantung pada kadar penyimpangannya. Barangsiapa melihat tuntunan kaum muslimin dalam urusan jenazah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, niscaya dia pasti melihat kesamaan antara hal itu dengan perlakuan para malaikat kepada Adam.

Sepanjang sejarah, petunjuk ini telah banyak diselisihi oleh sebagian besar umat manusia. Ada yang membakar orang mati. Ada yang membangun bangunan-bangunan megah, seperti pyramid, untuk mengubur orang mati dengan meletakkan makanan, minuman, mutiara dan perhiasan bersamanya. Ada yang meletakkan mayit di kotak batu atau kayu. Semua itu menuntut biaya yang mahal dan hanya membuang-buang energi untuk sesuatu yang tidak berguna. Dan yang paling utama, semua itu telah menyelisihi petunjuk yang Allah syariatkan kepada mayit Bani Adam.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis
  1. Disyariatkan menyiapkan mayit dan menguburkannya seperti disebutkan di dalam hadis.
  2. Sunnah–sunnah terhadap mayit yang demikian itu adalah petunjuk semua rasul dalam setiap syariat mereka.
  3. Pengajaran malaikat kepada anak-anak Adam tentang sunnah ini dengan ucapan dan perbuatan.
  4. Semua cara menangani mayit selain cara yang disebutkan di dalam hadis di atas adalah penyimpangan dari manhaj dan petunjuk Allah.
  5. Keutamaan bapak kita Adam, di mana para malaikat mengurusi jenazahnya, menshalatkannya dan menguburkannya.
  6. Kemampuan para malaikat untuk menjelma menjadi manusia dan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia.
  7. Sudah munculnya beberapa peralatan sejak zaman manusia pertama, seperti kapak, cangkul dan sekop.
  8. Seseorang harus berhati-hati terhadap isterinya yang bisa menjadi penyebab penyimpangannya. Adam memakan buah karena hasutan Hawa. Dan Allah telah meminta kita agar berhati-hati terhadap sebagian isteri dan anak-anak kita, “Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka.” (At-Taghabun:14).
Sumber: Buku “Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa”, DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Pustaka Yassir

Wednesday, August 15, 2012

Kehancuran Bangsa Sodom

Allah SWT telah menetapkan keputusannya bahwa barangsiapa yang ingin bahagia hidup di dunia dan di akhirat hendaklah menempuh jalan hidup yang telah dicontohkan oleh para Nabi-Nya. Sejauh mana kita taat kepada Allah maka sejauh itu pula kebahagiaan, kesuksesan dan kejayaan yang akan manusia peroleh. Adanya iman dan amal dalam kehidupan manusia maka akan menyebabkan kesuksesan hidup manusia. Tidak adanya iman dan amal dalam dalam kehidupan manusia maka akan menyebabkan kesusahan di dunia ini dan di akhirat nanti.

Allah mengutus para Nabi untuk memberi peringatan dan menyampaikan kabar gembira kepada umat manusia. Pada kesempatan ini marilah kita menyimak akan kezaliman umat yang telah malampaui batas dan telah Allah musnahkan dari atas bumi ini. Satu di antara umat itu adalah kaum Sodom.

Allah SWT telah mengutus Nabi Luth a.s untuk menyeru mereka agar beriman kepada Allah, memurnikan nama-Nya dan menjauhi kebiasaan buruk mereka yang melakukan hubungan sexual sesama jenis yaitu lelaki dengan lelaki dan meninggalkan perempuan. Perbuatan ini merupakan sesuatu penyelewengan fitrah yang amat buruk. Nabi Luth telah menyeru mereka untuk menghentikan perbuatan tersebut di samping menyampaikan seruan-seruan Allah, tetapi mereka mengabaikannya dan malah mereka mengingkari kenabiannya. Akhirnya, kaum Nabi Luth dimusnahkan dengan bencana yang sangat mengerikan dan dahsyat. Kejadian ini berlaku pada kira-kira tahun 1800 sebelum Masihi.

Allah SWT mengutus Nabi Luth a.s kepada satu kaum yang mendiami sepanjang timur laut (Dari Israel – Yordania), Laut Mati. Ibukota Sodom terletak di Utara Laut Mati.

Di dalam Al-quran menceritakan kisah Nabi Luth yang menasihati kepada kaumnya seperti mana dalam Surah Asy-Syuara ayat 160-168
Kaum Luth telah mendustakan para Rasul”, “Ketika saudara mereka Luth berkata kepada mereka,”Mengapa kamu tidak bertakwa?” “Sungguh, aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,” “Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepada ku””Dan aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku hanyalah dari Tuhan seluruh alam” “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki (Homoseks) di antara manusia” “dan kamu tinggalkan (perempuan) yang diciptakan Tuhan untuk dijadikan sebagai isteri kamu? Kamu memang orang-orang yang melampaui batas’ ” Mereka menjawab, ” Wahai Luth! Jika engkau tidak berhenti, engkau termasuk orang-orang yang terusir” ” Dia (Luth) berkata, ” Aku sungguh benci kepada perbuatan mu”
Didalam Al Qur’an Surat Al A’raf Allah melanjutkan kisah ini.
Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah ) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?”. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan para pengikutnya) dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri .” (QS. Al A’raaf, : 80-82)

Kaum Sodom hidup dalam lumpur kemaksiatan. Mereka terjun dalam kebejatan akhlak yang belum pernah dilakukan umat sebelumnya. Makin lama makin jauh mereka dari nur hidayah. Perampokan dan pencurian hampir terjadi setiap hari. Mereka yang kuat akan menindas dan menyiksa yang lemah. Maksiat yang paling menonjol adalah hubungan sexual sesama jenis. Perbuatan homoseksual (liwat) di kalangan lelakinya dan lesbian di kalangan wanitanya.

Nabi Luth mengajak mereka beriman dan beribadah kepada Allah meninggalkan kebiasaan mungkar, menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan kejahatan yang diilhamkan oleh iblis dan syaitan. Ia memberi penerangan kepada mereka bahwa Allah telah mencipta mereka dan Allah tidak meridhai amal perbuatan mereka yang mendekati sifat dan tabiat kebinatangan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bahwa Allah akan memberi ganjaran setimpal dengan amal kebajikan mereka. Yang berbuat baik dan beramal soleh akan diganjar dengan syurga di akhirat sedang yang melakukan perbuatan mungkar akan di balaskannya dengan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam.

Nabi Luth berseru kepada mereka agar meninggalkan adat kebiasaan yaitu melakukan perbuatan homoseksual dan lesbian. Nabi Luth menyatakan perbuatan itu bertentangan dengan fitrah dan hati nurani manusia serta menyalahi hikmah yang terkandung didalam penciptaan manusia. Tapi ternyata Kaum Sodom telah buta mata hatinya. Kemaksiatan yang mereka lakukan telah mendarah daging di dalam kehidupan sehari hari. Mereka tidak mengindahkan seruan Nabi Luth dan mengusir Nabi Luth dari kampungnya. Terlebih lagi mereka melakukan makar dengan menawan tamu tamu Nabi Luth yang berwajah tampan untuk mereka gunakan sebagai pelampiasan nafsu bejat mereka. Kaum yang sesat itu itu mengetahui bahwa tamu tamu tampan yang datang ke rumah Nabi Luth a.s adalah malaikat-malaikat yang menyamar sebagai manusia yang diutus oleh Allah untuk menurunkan azab dan siksa atas rakyatnya kerana segala kemungkaran dan kemaksiat yang keji dan kotor. Rencana busuk kaum sodom berhasil terlaksana karena bantuan istri Nabi Luth yang seorang munafik.

Akhirnya Nabi Luth a.s dan kedua putrinya mengungsi dari kota Sodom karena kota itu akan ditimpa azab. Dan begitu langkah Nabi Luth berserta kedua puterinya melewati batas kota Sodom, sewaktu fajar menyingsing, bergetarlah bumi dengan dahsyatnya di bawah kaki rakyat Sodom, tidak terkecuali isteri Nabi Luth yang munafik itu. Getaran itu mendahului suatu gempa bumi yang kuat dan hebat disertai angin yang kencang dan hujan batu yang menghancurkan dengan serta-merta kota Sodom berserta semua penghuninya . Bertebaran mayat-mayat yang dilaknat oleh Allah S.W.T di kota Sodom, dan hancurlah kota tersebut. Namun, masih ditinggalkan kesan-kesan kehancuran kota tersebut oleh Allah S.W.T, sebagai peringatan umat manusia. Demikianlah kebesaran dan ayat Allah yang diturunkan untuk menjadi pengajaran dan ibrah bagi hamba-hamba-Nya yang mendatang.

http://kisahislami.com/kehancuran-bangsa-sodom/

Bagaimana Rasanya Dua Hari Bersama Malaikat Maut?

Nabi Idris atau bernama asli Akhnukh adalah keturunan keenam dari Nabi Adam. Dipanggil Idris karena kepandaiannya dalam berbagai disiplin ilmu dan kemahiran lainnya.

Karena kepandaiannya itu, Nabi Idris ramai menjadi perbincangan di kalangan makhluk Allah, termasuk malaikat pencabut nyawa, Izrail. Dengan izin Allah SWT, Malaikat Izrail diperbolehkan untuk mengunjungi Nabi Idris, namun dengan berpura-pura menjadi manusia biasa.

“Assalamualaikum,” kata malaikat sambil mengetuk pintu rumah Nabi Idris dengan membawakan oleh-oleh dari surga. Mendengar ketukan itu, Nabi Idris yang sehari-hari banyak menghabiskan waktunya menjahit kemeja sambil bertasbih, menjawab salam dan mempersilakan masuk tamu.

Setelah berkenalan dengan tamu, mereka berdua terlibat dalam diskusi hangat seputar Islam dan kepandaian Nabi Idris dalam berbagai disiplin ilmu. Hingga tidak terasa matahari mulai tenggelam di ufuk barat.

Karena malam hari, Nabi Idris mempersilakan tamu menginap di rumahnya. Keduanya bersama-sama asyik beribadah hingga datang waktu makan malam. Sebagai tuan rumah yang baik, Nabi Idris menyuguhkan menu makan malam dan mengajak sang tamu untuk menyantap makan malam bersama.

Namun si tamu menolak dan lebih memilih melanjutkan ibadah sendiri. Setelah selesai makan, Nabi Idris kembali beribadah dengan si tamu bersama-sama hingga larut malam. Rasa ngantuk menyergap Nabi Idris, dengan berat hati Nabi Idris menawarkan si tamu untuk istirahat dan melanjutkan ibadah pada esoknya. Tetapi, si tamu menolak ajakan, dan mempersilakan Nabi Idris untuk istirahat terlebih dahulu.

Kondisi yang sama juga terjadi pada malam berikutnya, hingga akhirnya Nabi Idris menanyakannya kepada si tamu. “Siapakah Anda sebenarnya?, kenapa Anda tidak mau makan dan tidur?”

“Saya adalah Malaikat Izrail,” jawab si tamu. Mendengar jawaban itu, Nabi Idris kaget bukan kepalang. “Anda mau mencabut nyawa saya?” tanya Nabi Idris.

Sejurus kemudian malaikat pencabut nyawa itu menggeleng. Tujuan dia bertamu hanya ingin mengetahui lebih dalam lagi keseharian makhluk Allah SWT yang selalu menjadi pembicaraan karena amal kebaikannya itu.

Dari situ Nabi Idris mulai memahami dan sadar tentang kebiasaan para malaikat yang selalu berdoa tanpa henti, dan kebiasaannya mendekati orang-orang beriman.

“Bagaimana rasanya saat nyawa dicabut?” tanya Nabi Idris kepada Malaikat Izrail. Tidak menunggu waktu lama, Malaikat Izrail mencabut nyawa Nabi Idris dan mengembalikannya kembali dengan izin Allah SWT.

Namun Nabi Idris tidak merasakan apa-apa ketika nyawanya dicabut. “Karena saya melakukannya dengan lemah lembut, begitulah yang saya lakukan kepada orang-orang beriman,” jawab Malaikat Izrail.
www.merdeka.com
http://kisahislami.com/bagaimana-rasanya-dua-hari-bersama-malaikat-maut/

Tuesday, July 31, 2012

Mengapa Kita Sholat Dan Sujud Menghadap Kiblat?

Kaum kuffar, -khususnya kristen-, sering kali menghina Islam dengan mengatakan Islam menyembah batu Hitam di Ka’bah. Mereka sering memfitnah muslim menyembah kotak Hitam Ka’bah itu sendiri dengan alasan umat Islam selalu menghadap Ka’bah dalam melaksanakan Shalat 5 waktu, Shalat Sunnat. Umat Islam pun dilarang buang air kecil maupun besar dengan menghadap Ka’bah.
Padahal, justru mereka kaum kuffar itu sendiri lah yang mengingkari Kitabnya yang ada di tangan mereka sendiri karena perintah menghadap Kiblat ini telah diperintahkan pula pada Nabi-Nabi sebelum Rasullullah Muhammad SAW baik dalam Perjanjian Lama maupun perjanjian baru.

Bahkan setiap Nabi memiliki Kiblat & tugu batu untuk melakukan Thawaf atau mengelilingi batu tersebut, hanya mereka kaum kuffar saja yang tidak pernah membaca Kitab mereka sehingga secara tidak sadar mereka malah menghina Kitab yang ada ditangan mereka sendiri.

Mengapa mereka tidak pernah membaca kitab mereka? Setidaknya ada 2 alasan:
1. Bagi umat Katolik, membaca Kitabnya merupakan hal yang tabu karena membaca Alkitab harus dibimbing oleh Pastur & dihindari membaca Alkitab secara sendiri.
2. Mereka telah merasa aman dan tidak perlu membaca alkitab secara keseluruhan karena doktrin gereja yang menjamin mereka masuk surga asal bermodal percaya & mengakui saja.

Dalam Alkitab mereka sendiri, jelas tertulis bahwa Shalat itu harus menghadap kiblat, ini ayatnya:

Mazmur 5:8 Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah KE ARAH BAIT-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau.

Mazmur 138:2 Aku hendak sujud KE ARAH BAIT-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.

Yehezkiel 44:4. Lalu dibawanya aku melalui pintu gerbang utara ke depan Bait Suci; aku melihat, sungguh, rumah TUHAN penuh kemuliaan TUHAN, maka aku sujud menyembah.

Daniel 6:10 Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka KE ARAH YERUSALEM; TIGA KALI SEHARI ia berlutut, BERDOA SERTA MEMUJI ALLAHNYA, seperti yang biasa dilakukannya.

Jelas disitu tertulis bahwa:
1. Beribadah itu dengan Sujud, muka ke tanah, mengapa umat Non Islam tidak pernah sujud?
2. Beribadah itu dengan menghadap ke Kiblat, mengapa umat Non Islam tidak pernah menghadap Kiblat?
3. Disamping sujud maka ada pula berlutut, duduk diantara dua sujud, mengapa umat Non Islam tidak berlutut?
4. Setidaknya dilaksanakan lima kali sehari, mengapa umat Non Islam tidak setiap hari? Malah hanya satu kali per minggu?
5. Setelah Shalat (Pray=berdoa) lalu dilanjutkan dengan memuji Allah (berdzikir), Umat mana yang melaksanakan ke lima hal ini? Umat Islam!

Setiap umat memiliki kiblatnya masing- masing, setiap umat memiliki arah masing-masing kemana dia menghadap. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Al-Qur’an:

QS.2: 148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

QS.2: 142. Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka dari kiblatnya yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.”

Dalam Alkitab Kristen pun jelas tertulis bahwa nabi-nabi terdahulu pun memiliki bait Allah masing masing… banyak sekali ayatnya… lebih dari 100 ayat dan termasuk perjanjian baru pada masa Nabi Isa sekalipun…

Dan Yesus pun tidak pernah menghapus Taurat meski satu titik kecil sekalipun, artinya Hukum Taurat & kitab-kitab para Nabi terdahulu masih tetap berlaku:

Matius 5:17. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Lukas 16:17 Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal.

Lalu mengapa mereka malah menghina Sujud menghadap Bait Allah? Mengapa mereka menghina Shalat & mengatakan nunggang nungging? Padahal Yesus pun Shalat dengan bersujud muka ke tanah dan Yesus pun berlutut serta merebahkan diri ke tanah persis bagaimana Muslim melaksanakan Shalat dengan Sujud, berlutut, merebahkan diri ke tanah:

Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa- Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Markus 14:35 Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya. Dari dua ayat diatas maka dapat disimpulkan:

1. Yesus sujud kepada Allah, sebagaimana orang Islam sujud. Tidak ada tata cara ibadah dengan sujud muka ke tanah kecuali umat Islam. Kenapa umat non Islam menghina Sujud dengan mengatakan nungging? Padahal Yesus pun sujud! Bibir mereka memuji Yesus, tapi hatinya jauh dari Yesus:

Matius 15:8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
15:9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”

2. Yesus menyembah pada Allah, berdoa kepada Allah. Setiap yang berdoa pada Allah berarti bukan Allah & bukan Tuhan, sebagaimana saudara berdoa pada Allah, berarti saudara bukan Allah. Hanya umat Islam-lah yang murni berdoa HANYA pada Allah langsung tanpa melalui perantara Yesus, tanpa perantara Malaikat, tanpa perantara Bunda Maria, tanpa perantara Rasul atau Santo.

Matius 4:10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan HANYA KEPADA DIA SAJALAH engkau berbakti!”

3. Yesus maju sedikit dari ke dua muridnya sebelum sujud, artinya Yesus menjadi Imam shalat bagi ke dua muridnya. Hal semacam ini pun hanya dilaksanakan oleh umat Islam, dimana imam maju sedikit, 1 shaft didepan para makmum lainnya. Adakah umat agama lain yang melaksanakan hal demikian?

4. Yesus tidak meminta sesuai kehendak dirinya, tapi sesuai kehendak Allah, artinya Yesus berserah diri pada Allah, berserah diri pada Allah ini artinya Muslim. Banyak sekali ayat dalam alkitab dimana Yesus berserah diri kepada Allah. Kata “Muslim” dalam bahasa arab pun berarti berserah diri pada Allah.

Dalam alkitab Kristen pun jelas menulis bahwa:

Nabi Ibrahim bersujud:
Kejadian 17:3 Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya…..

Nabi Lot bersujud:
Kejadian 19:1 Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah.

Nabi Ezra bersujud:
Ezra 10:1 Sementara Ezra berdoa dan mengaku dosa, sambil menangis dengan bersujud di depan rumah Allah, berhimpunlah kepadanya jemaah orang Israel yang sangat besar jumlahnya, laki- laki, perempuan dan anak-anak. Orang- orang itu menangis keras-keras.

Nabi Yosua bersujud:
Yosua 5:14 Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: ”Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?

Nabi Daud bersujud:
Mazmur 95:6 Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita

Nabi Musa bersujud
Keluaran 34:8 Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah

Nabi Harun bersujud
Bilangan 20:6 Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka.

Nabi Ibrahim bersujud, Nabi Daniel bersujud, Nabi Musa bersujud, Nabi Harun bersujud, Nabi Daud bersujud, Nabi Sulaiman bersujud, Nabi Yosua bersujud, Nabi Yehezkiel & para Nabi lain pun bersujud, bahkan Yesus pun bersujud!!!

Lalu mengapa orang Kristen menghina muslim bersujud dengan hinaan nunggang nungging? Mengapa mereka sendiri tidak pernah sujud? Apa mereka tidak ingin mengikuti jalan para Nabi terdahulu & Nabi Isa sendiri dengan bersujud muka ke tanah? Mengapa mereka mengingkari sujud yang dicontohkan para Nabi terdahulu?

Terlebih lagi, Nabi-nabi terdahulu selalu mendirikan tugu yang kemudian di dekatnya akan didirikan Rumah Allah / Bait Allah / Betel / Baitullah.

Kejadian 31:13 Akulah Allah yang di BETEL itu, di mana engkau mengurapi TUGU, dan di mana engkau bernazar kepada-Ku; maka sekarang, bersiaplah engkau, pergilah dari negeri ini dan pulanglah ke negeri sanak saudaramu.”

Kejadian 28:18 Keesokan harinya pagi- pagi Yakub mengambil BATU yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu MENJADI TUGU dan menuang minyak ke atasnya.

Kejadian 28:22 Dan BATU YANG KUDIRIKAN SEBAGAI TUGU ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”

Kejadian 31:45 Kemudian Yakub mengambil SEBUAH BATU DAN DIDIRIKANNYA MENJADI TUGU.

Kejadian 31:51 Selanjutnya kata Laban kepada Yakub: “Inilah TIMBUNAN BATU, DAN INILAH TUGU yang kudirikan antara aku dan engkau–

Kejadian 31:52 TIMBUNAN BATU DAN TUGU inilah menjadi kesaksian, bahwa aku tidak akan melewati timbunan batu ini mendapatkan engkau, dan bahwa engkaupun tidak akan melewati timbunan batu dan tugu ini mendapatkan aku, dengan berniat jahat.

Kejadian 35:14 Kemudian Yakub mendirikan tugu di tempat itu, yakni TUGU BATU; ia mempersembahkan korban curahan dan menuangkan minyak di atasnya.

Matius 23:16 Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.

Jadi, mengapa mereka menghina ibadah Haji & Thawaf Keliling Ka’bah jika itu semua jelas terdapat dalam kitab mereka sendiri & juga dilakukan serta dicontohkan oleh para nabi terdahulu?

Didalam Islam, menghadap Ka’bah bukanlah merupakan suatu kebaikan, sebagaimana tertulis:
QS.2: 177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang- orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang- orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Ayat ber-haji pun terdapat baik dalam perjanjian baru maupun perjanjian lama, tapi insya Allah kita bahas di lain waktu.

Qs. 3 Ali Imran:85. Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali- kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

Semoga ini bisa menjadi penguat iman & benteng aqidah dari musuh Islam yang selalunya guna cara tak baik dalam menyebarkan agama yang tak benar. (islamterbuktibenar.net)

http://haroky2000.wordpress.com/2012/01/18/mengapa-kita-sholat-dan-sujud-menghadap-kiblat-jawaban/

Friday, July 20, 2012

Analis Injil Kuno Berusia 1.500 tahun : Yesus Tidak Pernah Disalibkan

Berdasarkan laporan dari analis 'Injil kontroversial' - Al-Kitab kuno berusia 1.500 tahun bertinta emas yang ditemukan di Turki - menyatakan bahwa Yesus (Nabi Isa 'alaihi salam) adalah fana, tidak pernah disalibkan, hal tersebut dianggap menantang prinsip-prinsip inti agama Kristen.

Beberapa analis mengklaim bahwa itu adalah Injil Barnabas, yang diyakini sebagai tambahan pada Injil Markus, Mattius, Lukas dan John, yang telah membuat perhatian besar masyarakat dunia pada awal tahun ini karena menyatakan bahwa Yesus telah menubuatkan kedatangan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam.

Pada bulan Februari 2012, Vatikan secara resmi meminta izin untuk melihat Kitab yang berbahasa Aram tersebut, yang teksnya bertinta emas yang dituliskan pada kulit hewan dan bersampul kulit hewan, yang ditemukan oleh Turki selama operasi polisi anti-penyelundupan pada tahun 2000.

Pekan ini, terjemahan Injil tersebut yang dikutip dari dokumentasi media - aslinya ditulis dalam bahasa Syiriac, dengan dialek Aram dilaporkan menyatakan bahwa Yesus mengatakan: "Aku mengakui di hadapan Surga, dan diseru untuk menyaksikan segala sesuatu yang tinggal di bumi, bahwa aku seorang yang asing bagi semua, bahwa manusia telah berkata tentang aku, bahwa aku lebih dari sekedar manusia."

"Karena aku seorang manusia, yang lahir dari seorang wanita, tunduk pada penghakiman Allah; yang hidup disini seperti manusia lainnya, tunduk pada penderitaan-penderitaan biasa," dikutip the Y-Jesus, majalah online yang berbasis di AS.

Ayat dalam injil tersebut menyangkal bahwa Yesus ada Tuhan dan konsep Trinitas, dimana doktrin Kristen mendefinisikan bahwa Allah sebagai tiga Tuhan: Bapak, Anak (Yesus Kristus), dan Rohul Kudus.

Selain itu, Injil tersebut juga menyatakan "keberadaan Yudas Iskariot sebagai orang yang mati disalib bukan Yesus, sedangkan dalam Perjanjian Baru, Yudas menkhianati Yesus," lapor Y-Jesus.

Pernyataan-pernyataan itu membantah ajaran Kristen, yang selama ini dibangun dengan doktrin kematian Yesus sebagai penebus dosa manusia dan kebangkitannya sebagai harapan kehidupan abadi.

Pernyataan itu mendukung ajaran Islam, bahwa Yesus (Isa Al-Masih) adalah seorang manusia yang menjadi Nabi dan Rasul Allah, bukan Tuhan, kemudian diangkat ke langit oleh Allah, bukan mati disalib.

Sebagaimana Allah berfirman di dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun." (5: 75)
"dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (4: 157-158)

The Y-Jesus mengatakan "Sejalan dengan keyakinan Islam, Injil itu memperlakukan Yesus sebagai manusia dan bukan Tuhan. Menolak pemikiran Tritunggal Kudus dan Penyaliban, dan mengungkapkan bahwa Yesus memprediksi kedatangan Nabi Muhammad."

Dalam salah satu ayat dari Injil tersebut, Yesus berkata kepada seorang pendeta: "Bagaimana Mesiah disebut? Muhamamad adalah nama yang diberkati."

"Pada (ayat) lainnya, Yesus membantah menjadi Al-Masih, mengklaim bahwa dia akan menjadi Ismailiyah, istilah yang digunakan untuk orang Arab," tambah laporan Y-Jesus.

Injil kuno berbahasa Aram tersebut menimbulkan banyak kontroversi tentang keaslian keseluruhan isi Injil. Belum ada yang dapat memastikan keaslian keseluruhan dari isi Injil tersebut, apakah seluruhnya memuat apa yang diajarkan Nabi Isa 'alaihi salam, atau telah ada perubahan padanya. Namun beberapa pernyataan dari Injil itu yang diungkapkan, telah membantah prinsip-prinsip dasar Kristiani.

Sementara pendeta protestan İhsan Özbek membantah bahwa Injil itu ditulis oleh St. Barnabas. "Salinan di Ankara mungkin telah ditulis oleh salah satu pengikut St Barnabas," katanya kepada koran Turki Today Zaman sebelumnya pada tahun 2012. Wallahu a'lam bish shawab. (siraaj/arrahmah.com)

http://arrahmah.com/read/2012/06/05/20714-analis-injil-kuno-berusia-1-500-tahun-yesus-tidak-pernah-disalibkan.html

Tuesday, February 7, 2012

Iblis Ingin Bertaubat

Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa sesungguhnya Iblis pernah datang menemui Nabi Musa a.s. dengan berkata: “Wahai Musa, engkau adalah seorang yang telah diutus oleh Allah s.w.t. dan Dia telah berkata-kata denganmu secara langsung.” Kemudian Nabi Musa a.s. berkata: “Memang benar apa yang kamu katakan, kamu ini siapa dan apa yang kamu mau dariku?”

Lalu berkata Iblis: “Aku adalah Iblis. Wahai Musa, aku mau minta tolong kepada kamu untuk mengatakan kepada Tuhanmu bahwa seorang makhluk-Nya ingin bertaubat kepadaNya.”

Lalu Nabi Musa a.s. berdoa kepada Allah s.w.t. dan menyampaikan apa yang diucapkan oleh Iblis, dan kemudian Allah s.w.t. pun menurunkan wahyu-Nya, “Wahai Musa, katakan padanya bahwa sesungguhnya Aku berkenan menerima permohonan taubatnya itu, dengan syarat mestilah terlebih dahulu dia (Iblis) sujud di kubur Adam. Kalau dia mau sujud maka aku bersedia mengampuni segala dosanya.”

Setelah Nabi Musa a.s. menerima wahyu dari Allah s.w.t. maka Nabi Musa a.s. pun segera memberitahu Iblis tentang apa yang telah Allah perintahkan.

Begitu Nabi Musa a.s. memberitahu segala perintah Allah s.w.t., maka dengan sombong dan congkaknya Iblis berkata: “Wahai Musa, aku tidak sujud kepada Adam ketika ia hidup di syurga, bagaimana mungkin aku hendak sujud padanya sesudah dia mati.”

Begitulah sifat sombong Iblis yang tetap dengan kedengkiannya. Walaupun dia tahu bahwa api neraka itu akan membakarnya, dia tetap tidak mau beriman pada Allah s.w.t. dengan sujud memuliakan Adam.

Dalam sebuah hadis diterangkan bahwa sesungguhnya Allah s.w.t. setiap 1000 tahun sekali mengeluarkan Iblis dari neraka, dan mengeluarkan Adam a.s. dari syurga, serta memerintahkan Iblis supaya sujud kepada Adam a.s. Namun disebabkan sikap angkuhnya dia tetap enggan sujud kepada Adam a.s., maka dikembalikanlah Iblis ke dalam neraka…..

http://www.islambisa.web.id/2008/11/30/iblis-ingin-bertaubat/

Friday, January 6, 2012

Kisah Nabi Isa Turun ke Bumi (Bagian ke-5 -Habis)

Nabi Isa AS akan turun ke bumi. Berita ini masih menjadi perdebatan di kalangan kaum Muslimin, apalagi kaum di luar Muslimin, yang sudah menganggap final bahwa Isa Almasih mati digantung di kayu salib. Berita ini mungkin masih menimbulkan kontroversi bagi kaum muslimin, disebabkan adanya kemusykilan dari berita itu, atau belum adanya pengetahuan yang komplet yang mereka terima.

Betulkah orang yang sudah mati bisa hidup kembali? Bukankah Nabi Muhammad sebagai Rasul dan Nabi terakhir, dan apa perlunya Nabi Isa turun lagi ke bumi? Lalu apa tugas beliau turun ke bumi? Belum lagi jika menyangkut soal teknis, bagaimana cara beliau turun dan bagaimana cara interaksinya dengan umat Islam pada zamannya. Semuanya masih menimbulkan tanda tanya besar.

Nabi Isa turun ke bumi bukan sekedar kepercayaan akal-akalan, tetapi didasarkan pada dalil yang sahih. Dalam hadis Nawwas bin Sam’an yang panjang, yang membicarakan kemunculan Dajjal dan turunnya Isa, Rasulullah SAW bersabda, “Ketika Allah telah mengutus Almasih ibnu Maryam, turunlah Isa di menara putih di sebelah timur Damsyik (Suriah) dengan mengenakan dua buah pakaian yang dicelup dengan minyak Wars dan minyak Za’faran, dan kedua telapak tangannya diletakkan di kedua sayap Malaikat. Bila dia menundukkan kepala, menurunlah rambutnya, dan jika diangkatnya, kelihatan landai seperti Mutiara, maka tidak ada orang kafirpun yang mencium nafasnya kecuali pasti meninggal dunia. Padahal nafasnya itu sejauh mata memandang. Lalu Isa mencari Dajjal hingga menjumpainya di pintu Lodd, lantas dibunuhnya Dajjal. Kemudian Isa datang kepada suatu kaum yang telah dilindungi oleh Allah dari Dajjal, lalu Isa mengusap wajah mereka dan memberi tahu mereka tentang derajat mereka di surga.” (Sahih Muslim).

Allah berfirman, “Kaum Yahudi tidak membunuh Rasul-Nya, Isa ibnu Maryam, meskipun mereka mengaku hal itu dan pengikut Isa mempercayainya. Sebenarnya, Nabi Isa tidak terbunuh. Allah menggantikan orang yang menyerupai dirinya kepada mereka, sedangkan Isa diangkat Allah ke langit."

“Dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh Almasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah.' Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, melainkan orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka, sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang Isa benar-benar dalam keraguan tentang orang yang dibunuh itu, kecuali hanya mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa: 157-158).

Allah menunjukkan dalam kitabnya bahwa Isa akan turun di akhir zaman. Dan turunnya itu merupakan pertanda bahwa kiamat sudah dekat. “Sesuungguhnya dia adalah tanda terjadinya kiamat.” (Az-Zuhruf: 61). Allah juga mengabarkan bahwa orang-orang Ahlikitab pada zaman itu akan beriman kepadanya. “Ahlikitab akan beriman kepadanya sebelum kematiannya.” (An-Nisa: 159).

Kapankah itu terjadi? Nabi Isa turun ke bumi setelah Dajjal merajalela di seantero jagat. Lalu kapan Dajjal muncul? Wallahu A’lam, Allah yang maha Tahu. Dalam hadis Bukhari dikatakan, Dajjal itu sudah ada, tetapi dikurung dan dibelenggu tangannya dalam sebuah biara di sebuah Pulau di tengah laut yang arahnya ke timur dari Jazirah Arab.

Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 157-159 menunjukkan orang-orang Yahudi tidak membunuh dan tidak menyalib Isa, tetapi Allah mengangkatnya ke langit. Sebagaimana juga disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 55. “Ingatlah ketika Allah berfirman, “Hai Isa, sesungguhnya aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkatmu kepadaku…”

Yang dimaksud dengan sinyalemen di atas bukan kematian, al-Maut, sebab jika yang dimaksud adalah kematian, Isa sama dengan orang-orang mukmin lainnya, yaitu diambil roh mereka lalu di bawa ke langit. Jika demikian tidak ada keistimewaan Isa dibandingkan dengan orang lain. Kalau yang dimaksud adalah rohnya berpisah dari tubuhnya. Tubuhnya masih berada di bumi, sebagaimana tubuh para Nabi atau manusia laiannya.

Firman Allah, “Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.” (An-Nisa: 158). Memberikan penjelasan bahwa Allah mengangkat tubuh dan rohnya sebagaimana halnya Isa akan turun dengan roh dan tubuhnya, seperti disebutkan dalam hadis Bukhari-Muslim, karena kalau yang maksud adalah “Mematikannya,” niscaya Allah berfirman, “Mereka tidak membunuhnya dan pula menyalibnya, tetapi dia meninggal dunia…..”

Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lafal “Mutawaffika” ialah “Qabidhuka”. Yakni memegang roh dan tubuhnya. Sedang lafal “At-Tawaffi”, tidak menghendaki atau menetapkan Tawaffi roh tanpa tubuh dan tidak pula tawaffi terhadap keduanya, kecuali dengan adanya Qarinah (indikasi atau alasan) tersendiri. Kadang-kadang lafal “Tawaffa”, berarti memegang roh ketika tidur, seperti dalam Surat Az-Zumar ayat 42 dan surat Ali Imran ayat 61.

Dalam tafsir Ibnu Jarir Athabari, tentang surat An-Nisa: 159, “Tidak ada seorangpun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepada Isa sebelum kematiannya.” Pendapat yang paling sahih adalah pendapat orang yang mengatakan bahwa takwil ayat ini ialah tidak ada seorangpun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepada Isa sebelum Isa mati, Mauti, sebelum kematian Isa, demi Allah, sesungguhnya beliau sekarang masih hidup di sisi Allah. Bila nanti beliau turun ke bumi, semua orang akan beriman kepadanya (Tafsir Athabari).

Asy-Syaikhani lebih jelas lagi ketika meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda “Demi Allah yang diriku adalah di Tangan-Nya, benar-benar putra Maryam akan turun di tengah-tengah kamu sebagai juru damai yang adil, lalu ia menghancurkan salib, dan harta kekayaan melimpah ruah hingga tidak ada seorangpun yang mau menerima (sedekah atau zakat) dari orang lain, sehingga pada waktu itu sujud satu kali labih baik daripada dunia dan seisinya.”

Kemudian Abu Hurairah berkata, “Bacalah firman Allah ini – An-Nisa ayat 159, jika Anda mau.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir RA, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, “akan senantiasa ada golongan dari umatku yang berjuang membela kebenaran dengan memperoleh pertolongan hingga datangnya hari kiamat… kemudian akan turun Isa putra Maryam AS, lalu pemimpin mereka berkata (kepada Isa): 'silahkan anda salat mengimami kami.' Isa menjawab, 'tidak usah, sesungguhnya sebagian kalian sudah pemimpin bagi sebagian yang lain.' sebagai manifestasi kepemimpinan dari Allah bagi umat ini.” (Shahih Muslim).

Nabi Isa turun ke bumi ketika orang-orang islam sedang menyusun saf hendak salat Subuh dan Imam salat mereka sudah maju. Imam itu lalu mundur dan mempersilahkan Nabi Isa maju untuk mengimami mereka, tetapi beliau menolak. Di dalam hadis disebutkan “dan Imam mereka, atau imam pasukan islam, adalah seorang yang saleh. Ketika imam mereka sudah maju untuk salat Subuh, turunlah Isa bin Maryam. Imam itu mundur, berjalan membungkuk dan mempersilahkan Isa maju, Isa meletakkan tangannya di pundak imam itu dan berkata kepadanya, “Majulah dan salatlah, sebab imam ini di qamatkan untukmu,” imam itu lalu salat bersama mereka.

Nabi Isa turun ke bumi bukan untuk meneruskan risalahnya, tetapi hanya akan menunjukkan jalan yang lurus kepada umatnya yang telah sesat, dan kembali kepada agama islam, yaitu mengikuti risalah Nabi Muhammad SAW. Karena itulah, nabi Isa tidak mau menajdi Imam bagi umat Muhammad, sebab, dalam hal ini Nabi Isa adalah bagian dari umat Muhammad.

Tidak majunya Isa menjadi Imam Salat adalah bukti, dia datang sebagai pengikut Rasulullah SAW dan melaksanakan hukum dengan dasar Al-Qur’an, bukan dengan Injil. Karena syariat Al-Qur’an merupakan penyempurna syariat-syariat sebelumnya. Disamping itu Allah telah mengambil sumpah dan janji dari para Nabi, mereka akan beriman kepada Nabi Muhammad dan mengikutinya jika beliau diutus jika beliau masih hidup.

Al-Qur’an menunjukkan dalil itu, “Dan ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, sungguh apa saja yang aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh beriman kepadanya dan menolongnya Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka menjawab,”Kami mengakui.” Allah berfirman, “Kalau begitu saksikanlah, dan aku menjadi saksi bersamamu, barangsiapa yang berpaling sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang fasik (Ali Imran: 81-82.

Lalu bagaimana dengan hadis Nabi yang menyebutkan, “Tidak ada Nabi sesudah saya (Muhammad)?” apakah ini tidak bertolak belakang dengan maksudnya? Menurut An-Nawawi, pensyarah hadis ini adalah logika yang salah. Sebab dengan turunnya Isa tidak dimaksudkan bahwa dia turun sebagai Nabi dengan syariat yang menghapus syariat kita, tidak disebutkan begitu dalam hadis ini, tidak juga di dalam hadis lain. Namun Isa akan turun sebagai hakim yang adil, yang melaksanakan syariat kita, menghidupkan syariat kita, yang sudah ditinggalkan oleh manusia.

Pekerjaan pertama yang akan dilakukan oleh Nabi Isa adalah menghadapi Dajjal. Setelah turun, Isa menuju Baitulmakdis, tempat Dajjal dikepung oleh pasukan Muslim. Isa memerintahkan mereka untuk membuka pintu. Dalam beberapa hadis disebutkan, Rasulullah bersabda, “Isa berseru, Bukakan pintu, mereka lalu membukanya, dan dibalik pintu itu ada Dajjal bersama 70.000 orang Yahudi, yang semuanya membawa perisai dan pedang. Ketika Dajjal memandang Isa, laksana garam yang mencair di lautan, ia melarikan diri, Isa mengejarnya sampai di pintu gerbang Ludd timur (salah satu daerah di timur tengah), kemudian membunuhnya, dan Allah mengalahkan kaumYahudi.

Rahasia luluhnya Dajjal adalah, Allah memberikan kepada Nabi Isa bau khusus yang kalau dicium oleh orang kafir, si kafir itu akan mati. Dalam sebuah hadis Shahih Muslim, yang panjang disebutkan, “Saat dia (Dajjal) dalam keadaan demikian, Allah mengutus Isa ibnu Maryam. Isa akan turun di menara di timur Damaskus, dengan pakaian yang dicelup dengan minyak Wars dan minyak Za’faran, sambil bergantung dengan kedua tangannya di sayap dua Malaikat. Jika Isa menggerakkan kepala, bertetesan air, dan jika dia menggerakkan kepala, biji-biji perak laksana mutiara berjatuhan darinya. Setiap orang kafir yang mencium baunya akan mati… Isa mengejar Dajjal sampai ke gerbang Ludd timur lalu membunuhnya. Kemudia datang kepada Isa suatu kaum yang dijaga Allah dari Dajjal, lalu Isa mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan kepada mereka derajat mereka di Surga.”

Rahasia mengapa Isa tidak membiarkan Dajjal mati sendiri adalah untuk mematahkan kekuatan dan fitnah makhluk itu. Dengan menyaksikan pembunuhan dan kematiannya manusia menjadi yakin bahwa Dajjal adalah makhluk yang lemah dan dapat dikalahkan, dan klaimnya adalah palsu dan dusta.

Setelah Isa menghancurkan Dajjal dan fitnahnya Ya’juj dan Ma’juj keluar dari zamannya, dan membuat kerusakan yang sangat dahsyat di bumi. Tentang bangsa Ya’juj dan Ma’juj ini diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 93-99. “Ketika Zulkarnain dalam perjalanan sampai pada suatu tempat diantara dua gunung, ia menemukan di sana suatu kaum yang nyaris tidak bisa memahami perkataan. Kaum itu mengadukan kepadanya bahwa yang mengancam mereka adalah bangsa Ya’juj dan Ma’juj, dan memintanya untuk membangun tembok yang dapat melindungi mereka ari kejahatan Ya’juj dan Ma’juj.

Zulkarnain memenuhi permintaan mereka, “Hingga apabila dia telah sampai diantar dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, “Hai Zulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?

Zulkarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekauatan, agar aku membuat dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi, hingga apabila besi itu sudah sama rata dengan kedua gunung itu, Zulkarnain berkata, “Tiuplah, hingga apabila besi itu sudah menjadi api, diapun berkata, “berilah aku tembaga agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.” Maka mereka tidak bisa mendakinya dan tidak bisa melubanginya. Zulkarnain berkata, “Ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh, dan janji tuhan itu adalah benar,” kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian di tiup lagi sangkala, lalu kami kumpulkan mereka itu semuanya.” (Al-Kahfi: 93-99).

Rasulullah SAW menjelaskan, “Ya’juj dan Ma’juj akan dilepas, dan mereka keluar menyerang manusia, sebagaimana difirmankan Allah SWT. “Dari tempat-tempat yang tinggi mereka keluar dengan cepat,” mereka merambah bumi. Orang-orang muslim berlindung di kota-kota dan benteng-benteng untuk menghindari mereka. Mereka merampok hewan-hewan kaum muslimin, mereka minum-minum air di bumi sampai sebagian mereka melewati sebuah sungai dan meminum airnya hingga kering, lalu lewat orang-orang setelah masa mereka, dan berkata, “Dulu di sini pernah ada Air.”

Kemudian, ketika tidak ada lagi yang teresisa kecuali satu orang di benteng atau di kota, seorang dari mereka berkata, “Penduduk bumi sudah kita habisi, tinggal penduduk langit.”

Lalu salah seorang mengambil senjata dan melemparkannya ke langit, dan senjata itu kembali dengan darah yang mengandung bala dan fitnah. Ketika mereka dalam kondisi demikian, Allah mengirimkan ulat-ulat ke leher mereka, sehingga mereka mati tidak berdaya.

Lalu orang-orang muslim berkata, “adakah sukarelawan yang mau melihat apa yang sedang dilakukan musuh?”

Salah seorang menyatakan bersedia, dan diperkirakan dia bakal terbunuh. Dia turun dan menemukan mereka sudah menjadi bangkai yang bertumpuk-tumpuk, lalu dia berseru, “Hai orang-orang Islam, bergembiralah sesungguhnya Allah telah mengalahkan musuh kalian untuk kalian.”

Mereka keluar dari kota-kota dan benteng-benteng mereka, melepaskan hewan-hewan ternak mereka, tetapi mereka tidak menemukan tempat pengembalaan kecuali telah dipenuhi mayat. Maka sesuatu tang paling disyukuri saat itu adalah rumput yang ditemukan.

Tanda-tanda besar kiamat itu, setelah datangnya Dajjal, dan turunnya Isa Almasih, yang membunuh Dajjal dan Ya’juj dan Ma’juj, yakni antara lain hapusnya ajaran Islam, hilangnya Al-Qur’an dan penyembahan berhala. Berikutnya adalah penghancuran Ka’bah oleh Dzussuwaiqatain (tokoh jahat semacam Dajjal), barulah matahari terbit dari barat, keluar binatang melata, dan api yang menghimpun manusia sebagai akkhir kiamat yang merusak dunia dan seisinya.

Bagaimana kita mengenali Nabi Isa AS. Rasulullah memberikan petunjuk, “Pada malam ketika saya di Isra’-kan, saya bertemu Musa…” lalu beliau menyebutkan ciri-cirinya, kemudian melanjutkan sabdanya, “Dan saya juga bertemu dengan Isa, perawakannya sedang, kulitnya merah, seperti orang yang baru keluar dari permandian.” (HR Bukhari-Muslim).

Kalau kita gabung dengan hadis-hadis lainnya, ciri-ciri Nabi Isa, bertubuh sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, berkulit merah agak coklat, dan berbulu, dadanya bidang, rambutnya lurus seperti orang baru keluar dari permandian, dan rambutnya sampai di bawah ujung telinga bagian bawah, yang disisir dan memenuhi kedua pundaknya.

Setelah Dajjal dibunuh oleh Nabi Isa, bumi menjadi damai. Kala itu Allah menurunkan hujan, sehingga membersihkan bumi yang telah rusak hingga cemerlang seperti kaca. Kemudian tumbuhlah berbagai pohon buah-buahan, sehingga manusia bisa memakan dan berteduh di bawahnya. Begitu juga ternak, tumbuh dewasa dengan cepat. Susu seekor kambing, dengan barakah Allah, dapat mencukupi satu keluarga, susu seekor sapi dapat mencukupi satu kabilah, serta susu seekor unta bunting yang akan melahirkan dapat mencukupi kebutuhan banyak orang.

Penghuni planet bumi ini hidup dengan aman, tidak ada permusuhan diantara umat manusia, begitu juga dunia Fauna. Ular dapat hidup bersama unta, harimau berdampingan dengan Sapi, dan Srigala bersama kambing. Malah anak-anak kecil bisa bermain dengan ular, dan ular itu tidak membahayakan bagi mereka. Nabi Isa akan menjadi hakim yang adil, membebaskan Jizyah, pajak Jiwa. Sifat bakhil, saling membenci dan saling dengki, akan hilang. Orang-orang menawarkan sedekah dan zakatnya kepada orang lain, tetapi tidak ada yang menerimanya.

Namun masa tata tentrem kerta raharja, gemah ripah loh jinawi relatif hanya sebentar. Menurut Sahih Muslim, sekitar tujuh tahun, sehingga menggenapkan usia Nabi Isa di bumi menjadi 40 tahun, sebab ketika diangkat Allah ke langit umurnya baru 33 tahun, setelah itu Allah mengirim angin yang sangat dingin dari arah Syam, dan terjadilah kiamat.

Habis
http://www.sufiz.com/kisah-nabi/kisah-nabi-isa-turun-ke-bumi-bagian-ke-5-habis.html

Kisah Nabi Isa AS Diangkat Ke Langit (Bagian ke-4)

Ibnu Katsir berkata dalam Qhisasul Anbiya’: Para pengikut Nabi Isa berselisih pendapat setelah Nabi Isa diangkat ke langit. Sebagian mereka mengatakan, di tengah-tengah kita ada hamba Allah SWT dan rasul-Nya (Ariyus). Sebagian lagi mengatakan, dia adalah Allah. Yang lain lagi mengatakan, dia adalah anak Allah. Mereka berselisih pendapat tentang Injil yang menyebutkan berbagai kebohongan di mana terdapat di dalamnya penambahan, pengurangan, dan pergantian. Al-Qur’an al-Karim telah membahas persoalan ketuhanan. Ia menjelaskan bahwa Allah SWT Maha Suci dari segala sekutu dan anak dan segala hal yang menyerupai-Nya serta segala bentuk inkarnasi, kejauhan, kedekatan dan pencapaian pandangan mata. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, YangMahaEsa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. ” (QS. al-Ikhlash: 1-4)

Dan tentang Isa as Allah berfirman: “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah ia.” (QS. Ali ‘Imran: 59)

“Mereka (orang-orang kafir) berkata: Allah mempunyai anak.’ Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepadanya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’, lalu jadilah ia.” (QS. al-Baqarah: 116-117)

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putra Allah’ dan orang-orang Nasrani berhata: Al-Masih itu putra Allah.’ Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Mereka dilaknat oleh Allah; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. at-Taubah: 30)

Nas tersebut mengisyaratkan akidah orang-orang Mesir dan orang-orang seperti mereka dari umat-umat yang terdahulu di mana akidah mereka terfokus pada keyakinan penyaliban Isa, tentang tebusan dan kebangkitan Tuhan yang disalib serta penentangannya terhadap para pengikutnya setelah kematiannya.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putra Maryam.‘ Katakanlah: ‘Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?’ Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dihehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Maidah: 17)

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Allah salah seorang dari yang tiga,’ padahal sekali-kali tidak ada selain dari Tuhan Yang Esa.” (QS. al-Maidah: 73)

Demikianlah Al-Qur’an al-Karim menyebutkan sikap berbagai aliran yang saling berlawanan yang tumbuh setelah pengangkatan al-Masih. Al-Qur’an menjelaskan bahwa al-Masih adalah hamba Allah SWT dan seorang rasul yang diutus kepada Bani Israil. Kata hamba dan rasul adalah kata yang sangat jelas artinya, adapun yang dimaksud dengan al-Kalimah dan ar-Ruh, maka kedua kata tersebut perlu dijelaskan. Kaum Muslim memahami bahwa al-Kalimah adalah petunjuk Allah SWT yang diberikan-Nya kepada Maryam sedangkan ar-Ruh adalah menunjukkan atau mengisyaratkan kepada Ruh Kudus, yaitu Jibril as. Allah SWT telah menguatkannya atau menguatkan Nabi Isa dengan ruh yakni Jibril: “Dan (ingatlah) ketika Aku dukung kamu dengan Ruhul Kudus.” (QS. al-Maidah: 110)

Setelah mengemukakan keyakinan kaum Masehi tentang karakter Nabi Isa dan akhir dari kehidupannya dan setelah menjelaskan kebenaran yang Allah SWT ceritakan kepada kita tentang karakter tersebut dan akhir dari kehidupan yang dialami oleh Nabi Isa, kita ingin mengetahui apa yang harus dilakukan oleh kaum Muslim dalam hubungan mereka dengan orang-orang Masehi serta keyakinan mereka. Islam menetapkan atau menyampaikan nas-nas yang jelas yang mengkhususkan agama Masehi —di antara agama-agama yang lain—dengan kecintaan. Al-Qu’ran mengingkari ketuhanan al-Masih; ia juga mengingkari penyaliban dan tebusan dosa yang dilakukannya. Namun Al-Qur’an menegaskan dalam nasnya bahwa agama Nasrani merupakan agama yang lebih dekat kecintaannya kepada Islam.

Allah SWT berfirman:“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. al-Maidah: 82)

Allah SWT memuji para pengikut al-Masih yang berjalan di atas petunjuknya. Allah SWT berfirman: “Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (keadaan tidak menikah dan mengurung diri di biara) padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi mereka sendirilah yang mengada-adakannya untuk mencari keridhaan Allah.” (QS. al-Hadid: 27)

Tidak terdapat kontradiksi dari dua sikap tersebut. Pengingkaran Al-Qur’an terhadap ketuhanan al-Masih dan pengakuannya terhadap kecintaan kaum Nasrani serta pujiannya terhadap orang-orang yang mengikuti Nabi Isa mengandung makna lebih dari satu: Pertama, bahwa Masehi berdasarkan pada agama Tauhid dan sangat sulit bagi para pengikutnya untuk meninggalkan tauhid, dan hanya Allah SWT yang mengakui hakikat apa yang terpendam dalam hati; kedua, dalam kalangan orang-orang Nasrani terdapat para pendeta dan para rahib yang tidak bersikap congkak di hadapan Allah SWT tetapi mereka sangat patuh dan tunduk kepadanya; ketiga, sebagian pengikut Nabi Isa memiliki hati yang dipenuhi dengan kasih sayang dan rahmat. Tentu rahmat dan kasih sayang tersebut tidak tumbuh kecuali dari keimanan terhadap hari akhir. Allah SWT telah menetapkan perintah-Nya kepada kaum Muslim agar mereka memperlakukan ahlul kitab dengan perlakuan yang mulia dan baik, sebagaimana Islam menjamin kebebasan untuk menentukan keyakinan pada setiap manusia.

Allah SWT berfirman: “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus: 99)

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.” (QS. al-Baqarah: 256)

“Katakanlah: ‘Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah).’” (QS. Ali ‘Imran: 64)

Kita perhatikan bahwa ayat-ayat tersebut berbicara tentang cara memperlakukan kaum Masehi sebagai individu sebagaimana ia berbicara tentang bagaimana kita memperlakukan keyakinan mereka. Sehubungan dengan kaum Masehi sebagai individu, kita menyaksikan ayat-ayat tersebut memerintahkan untuk membalas kecintaan yang mereka perlihatkan di mana nas tersebut dengan tegas mengatakan bahwa mereka lebih dekat kecintaannya kepada orang-orang yang beriman. Jika Allah SWT yang menegaskan hal tersebut, maka orang-orang Muslim harus membalas kebaikan dan kecintaan yang ditunjukkan oleh kaum Nasrani. Adapun sehubungan dengan keyakinan mereka, di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang melarang untuk memaksa manusia dalam bentuk apa pun.

Allah SWT berfirman: “Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir.” (QS. al-Kahfi: 29)

Yang demikian itu, karena keimanan yang didahului dengan paksaan adalah bukan keimanan karena ia berarti mencabut ikhtiar atau kebebasan manusia, padahal itu adalah syarat dari keimanan. Dan barangkali inilah yang menunjukkan kesempumaan Islam dilihat dari sikapnya yang demikian indah. Kami kira tanpa kita harus memaksakan tafsiran kita kepada ayat-ayat tersebut dan memohon kepada Allah SWT dari kesalahan dan kebodohan bahwa Islam dengan sikapnya itu ingin menjauhkan para pengikutnya dari kalangan awam dari perdebatan yang panjang dan melelahkan seputar keyakinan orang lain. Tentu perdebatan tersebut tidak akan berujung dan akan menjadi seperti debat kusir saja. Namun tugas tersebut hanya diemban oleh para ulama, di mana mereka membahas sebagaimana mereka kehendaki berbagai keyakinan-keyakinan keberagamaan, sedangkan orang-orang awam tidak diberi tanggung jawab dalam hal itu. Lagi pula, perselisihan antara keyakinan dan aliran-aliran di kalangan Masehi dan kalangan Yahudi jika melibatkan orang-orang awam, maka itu hanya memboroskan waktu dan hanya membuat lelah saja.

Islam akan kembali menjadi asing dan akan kembali menjadi asing seperti pertama kali terbit. Dalam suasana keasingan Islam yang pertama, orang-orang Muslim berhasil membangun suatu individu Muslim yang kokoh. Dan ketika bangunan tersebut telah selesai, maka sempurnalah pembangunan pemerintahan Islam. Kita tidak mendengar bahwa salah seorang di antara mereka terlibat dalam perdebatan yang sengit yang tidak berujung sekitar keyakinan orang lain. Sesungguhnya memberi petunjuk kepada orang lain sehingga orang tersebut mengetahui jalan menuju Allah SWT adalah perbuatan yang indah, tetapi hidayah tersebut didahului dengan tekad seseorang untuk memberikan petunjuk kepada dirinya sendiri. Seandainya orang-orang Islam membimbing mereka menuju jalan Allah SWT niscaya Allah SWT memberi petunjuk melalui mereka siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya.

Al-Qur’an menetapkan dua mukjizat kepada Nabi Isa yang tidak disebutkan dalam kitab Injil: pertama mukjizat yang berupa pembicaraannya saat ia masih menyusui di buaian. Dan yang kedua mukjizat makanan yang turun dari langit kepada kaum Hawariyin. Sebagaimana Al-Qur’an menetapkan kemuliaan yang diperoleh oleh Nabi Isa saat ia diselamatkan dari tangan-tangan jahat orang-orang Yahudi yang ingin menyiksanya atau membunuhnya sehingga Nabi Isa terselamatkan dan dia diangkat ke langit.

Rasulullah saw mewasiatkan kepada sahabatnya agar mereka memperlakukan orang-orang Masehi dengan penuh kebaikan, bahkan beliau menikahi Maria al-Qibthiya. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa seseorang lelaki dari Bani Salim bin Auf yang bernama al-Hasin mempunyai dua orang anak yang masih Kristen, lalu ia masuk Islam dan bertanya kepada Rasulullah saw bagaimana seandainya ia harus memaksa kedua anaknya untuk memeluk Islam sedangkan mereka berdua menolak agama lain selain agama Masehi?

Kemudian Allah SWT menurunkan ayat yang berbunyi: “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama (Islam).” (QS. al-Baqarah: 256)

Ketika para utusan Najran dari kalangan kaum Masehi datang ke Madinah untuk berunding dengan Nabi, maka beliau memberi mereka setengah dari mesjidnya agar mereka dapat melaksanakan salat dengan cara mereka di dalamnya. Pada suatu hari Rasulullah saw berdiri untuk melakukan salat kepada seseorang jenazah lalu dikatakan kepadanya bahwa ia adalah jenazah Yahudi. Kemudian Rasulullah menjawab: “Bukankah ia adalah manusia.” Dalam kesempatan lain Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mengganggu secara aniaya seorang Yahudi atau seorang Nasrani, maka aku akan jadi musuhnya pada hari kiamat.” Terkadang kekuasaan akan langgeng meskipun disertai dengan kekufuran tetapi ia tidak akan abadi ketika disertai dengan kelaliman.

Para ulama Islam berselisih pendapat berkaitan dengan keadaan Nabi Isa setelah pengangkatannya. Mereka sepakat bahwa beliau tidak disalib tetapi Allah SWT mengangkatnya di sisi-Nya. Tetapi ketika ia tidak disalib, maka bagaimana keadaannya setelah itu: apakah ia masih hidup, ataukah ia mati seperti matinya nabi yang lain? Mayoritas mengatakan bahwa Allah SWT mengangkat Isa dengan fisiknya dan ruhnya di sisi-Nya. Mereka mengambil zahir dari firman-Nya: “Tetapi Allah mengangkatnya di sisi-Nya.” (QS. an-Nisa’: 158)

Juga sebagian hadis yang mendukung hal tersebut. Sementara itu, kelompok yang lain dari kalangan mufasirin, dan ini adalah kelompok yang minoritas, mereka mengatakan bahwa Nabi Isa hidup sehingga Allah SWT mematikannya sebagaimana Dia mematikan nabi-nabi-Nya lalu Dia mengangkat ruhnya di sisi-Nya sebagaimana ruh para nabi diangkat, begitu juga ruh para shidiqin (orang-orang yang benar) dan syuhada. Mereka mengambil zahir firman-Nya: “(Ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir.” (QS. Ali ‘Imran: 55)

Bersambung...
http://ibh3.wordpress.com/2010/08/31/nabi-isa-diangkat-ke-langit/