Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, September 18, 2013

Rahasia di Balik Pengunduran Diri Paus Benediktus XVI

Seorang peneliti Saudi mengungkapkan dalam perbandingan agama, kristenisasi dan urusan Vatikan, Direktur Essam tentang alasan sebenarnya Paus Vatikan yang mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri, yang mengguncang komunitas Katolik di seluruh dunia, sebagai Paus pertama kali yang mengundurkan diri sejak 6 abad yang lalu.

Melalui akun twitternya ia mengungkapkan apa yang tersingkap dari faktor faktor sebenarnya, pengunduran diri Paus Benediktus yang ke-16 ini disiarkan pertama kalinya. Dia mengatakan, penyebab utama penguduran diri Paus adalah setelah terjadinya kekacauan dari kalangan gereja Vatikan, terhadap Injil Lama yang di dalamnya terdapat Nama Rasul Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam, yang sampai saat ini masih berada di Vatikan.

Terdapat 3 orang dalam Vatikan itu yang menyembunyikan keislamannya. Dan Paus selalu berusaha mencari tahu mereka. Dan salah satu di antara mereka adalah penanggung jawab pembuatan surat pernyataan pengampunan dosa (dalam agama Katolik) dan ada salah satu yang mengumumkan keislamannya. Dampak diumumkannya keislamannya adalah dia pindah ke Afrika Selatan dan tinggal di sana. Di negaranya Ahmad Deedat. Syaikh Ahmad Deedat lah yang menjadi sebab keislamannya.

Beliau menegaskan dalam akun twitternya bahwa sebenarnya pengunduran diri Paus Benediktus XVI bukanlah karena sakit. Karena sebelumnya Paus Yohanes II usianya lebih tua dan penyakitnya lebih parah, namun ia tidak mengundurkan diri dari keuskupan gereja Vatikan. Ini adalah argumentasi untuk menghadapi media.

Dan dia juga telah menentang Vatikan yang telah mendustai kabar keislaman 35 uskup dan pendeta dari pembesar-pembesar Vatikan. Kebanyakan mereka menyembunyikan keislamannya karena kekhawatiran terhadap keselamatan hidupnya, sebagian kecil juga ada yang mengundurkan diri. Dan Paus memilih untuk diam selama 6 tahun. Vatikan sampai saat ini masih belum memiliki kekuatan untuk membantah kabar keislaman 35 uskup tadi. Maka Paus Benediktus XVI pun mengundurkan diri.

Dia juga menambahkan Paus juga berusaha untuk menutupi keislaman mereka dengan melakukan hujatan terhadap Islam dan hinaan kartun Nabi Muhammad secara terang terangan pada tahun 2006. Namun usahanya justru menjadikan senjata untuk dirinya sendiri yang berujung pada pengunduran dirinya.

Dia mengisyaratkan bahwa dokumen-dokumen Vatikan yang menyelidiki surat pernyataan itu tidak seorang pun mengetahuinya sampai saat ini di tangan siapa surat itu berada. Akan tetapi seorang pengamat mengatakan bahwa Paus menghilangkannya bersamaan dengan keluar dari kantor tugasnya segera.

Dia juga menegaskan terdapat arsip-arsip pemberhentian Paus dan penangkapannya di beberapa negara yang dikunjungi karena keterlibatannya dalam menutup-nutupi kekerasan dan skandal seksual.
Dan peneliti ini menutup dengan memotivasi para dai dan ulama untuk melakukan kegiatan dakwah dengan istiqamah untuk mendakwahi orang-orang Katolik dari pengkultusan terhadap Paus dan uskup di bawahnya menuju penyembahan kepada Allah Subhanahu Wata’ala. (sumber: مكافحة العلمانيه)
 
Redaktur: Samin Barkah
 
http://www.dakwatuna.com/2013/02/16/27895/rahasia-di-balik-pengunduran-diri-paus-benediktus-ke-xvi/

Tuesday, April 30, 2013

Berhati-hatilah Dengan Tentara Allah

Aisyah ra pernah terkagum-kagum melihat seorang ibu yang baru saja diberinya tiga potong roti , dengan penuh kasih sayang oleh ibu tesebut dua potong roti yang diterimanya itu diberikan kepada kedua anaknya yang sedang kelaparan , dalam sekejap roti itu habis dilahap , karena masih lapar mereka minta bagian ibunya yang sekeping itu , apa yang dilakukan oleh sang ibu benar-benar mengagumkan , ia bagi sepotong roti itu menjadi dua bahagian dan memberikannya kepada kedua anaknya , sang ibu rela melepaskan bahagiannya demi anak-anak kesayangannya.

Peristiwa ini diceritakannya kepada Rasulullah Saw , suaminya . Maka secara singkat Rasulullah Saw memberi komentar bahwa “ Allah lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada anak-anaknya.”
 
Ya , memang Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang , tanpa kasih sayang-Nya dunia ini tak akan terwujud , tanpa kasih sayang-Nya dunia ini sudah lama ditutup , bagaimana tidak . . . sedang manusia yang diamanahi untuk memelihara kelestarian bumi ini justeru membuat ulah merusak, bahkan tanpa malu-malu menentang Tuhan.
 
Penentangan manusia terhadap Allah Swt dilakukan secara terang-terangan, baik berupa pemikiran maupun perbuatan . Penyimpangan aqidah telah terjadi diseganap penjuru, pelanggaran syari’ah menjadi lumrah dan kerusakan akhlak jadi tontonan sehari-hari.
Kita tahu bahwa segala benda alam ini adalah milik Allah Swt dan sekaligus tentara-tentara-Nya yang sewaktu-waktu akan digerakkan sesuai kehendak-Nya . Air hujan yang selalu dinantikan kedatangannya oleh segenap manusia, bisa berubah menjadi bencana besar yang menelan korban ribuan manusia, sekali sapu ribuan hektar tanah tenggelam bersama isinya, semua bisa hanyut seketika. Api adalah juga tentara Allah, api memang bermanfaat besar bagi umat manusia , industry kecil dan industry besar tak akan jalan tanpa peran energy api ini. Akan tetapi bila Allah Swt menggerakkan api maka gedung pencakar langitpun bisa hangus dalam waktu yang tidak lama, hutan berjuta juta hektar bisa gundul dimakan api kebakaran.
 
” Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” ( QS Al-An’aam : 44 )
 
Rasulullah Saw bersabda : “ Bagaimana kamu jika dilanda oleh lima perkara ?  kalau aku (Rasulullah Saw), aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya . 
 
Yang pertama ; jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu .
 
Yang kedua ; Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan, kalaulah bukan karena binatang-binatang ternak tentulah hujan tidak akan diturunkan sama sekali. 
 
Yang Ketiga ; Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezholiman penguasa.
 
Yang keempat ; Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka. 
 
Yang kelima ; jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan Sunnah Nabi maka Allah akan menjadikan permusuhan diantara mereka . “ ( HR. Ahmad dan Ibnu Majah )
 
Hadits diatas menjelaskan kepada kita hubungan antara kemaksiatan kepada Allah dengan berbagai musibah yang akan ditimpakan kepada manusia . Ribuan peristiwa yang kita baca , kita dengar dan kita lihat lewat media informasi ternyata menguap begitu saja tanpa menimbulkan kesan dan menjadi buah pelajaran , apalagi membuahkan hikmah.
 
Ini terjadi bukan karena manusia buta matanya , tetapi yang sebenarnya terjadi adalah kebutaan mata hati, mereka tukar kebenaran dengan kesenangan sesaat , mereka tinggalkan jalan petunjuk menuju jalan kesesatan.
 
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).” ( QS Al-Baqarah : 17 – 18 )

Pertemuan itu, Mengubah Pandangan RA Kartini Tentang Islam

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;
Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?
 
Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.
 
Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.
 
Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.
 
Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.
 

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.


Namun, Kartini tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang — lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Adalah Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, yang menuliskan kisah ini.
 
Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.
 
Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah.
 
Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.
 
Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.
 
“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
 
Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.
 
“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
 
Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
 
Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.
 
Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.
 
Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.
 
Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.
 
Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.
 
Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.
 
Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis; Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.
 
Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah. (ts/hr/rol)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/04/21/31833/pertemuan-itu-mengubah-pandangan-ra-kartini-tentang-islam/#ixzz2RuNQqKs6
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Tuesday, April 23, 2013

Melukai Ibumu, Murkalah Tuhanmu

Seorang ibu tua yang tinggal di kampung memiliki seorang anak pria yang hidup sukses di kota. Anak tersebut menikah dengan seorang wanita karier dan dikarunia seorang anak yang pintar. Merasa kesepian, sang ibu yang tinggal di kampung berkirim surat kepada anaknya bahwa dua minggu lagi ia akan pergi ke kota menjumpai anak cucunya dan tinggal di sana demi mengusir rasa sepi.

Saat menerima surat dari ibunya, sang anak berdiskusi dengan istrinya tentang bagaimana menyikapi kehadiran sang ibu di tengah mereka. Sang istri berkata, “Mas, engkau bekerja seharian penuh hingga larut malam, demikian pula aku. Aku akan merasa risih bila ibumu tinggal di rumah ini sebab ia akan mencibirku dan mengatakan bahwa aku adalah ibu yang tidak pandai mengurus anak sendiri.”
 
Sang istri melanjutkan, “Aku pun tak tega bila menyuruhmu untuk menaruh beliau di panti jompo. Nah, bagaimana kalau kita buatkan saja sebuah saung dari bambu di halaman belakang rumah. Lalu kita tempatkan ibumu di sana. Ia akan bebas melakukan apa saja. Sementara kita dengan kesibukan yang ada tidak akan pernah merasa terusik.”

Sang suami mengangguk tanda setuju atas usul istrinya. Maka dibuatkanlah sebuah saung bambu di belakang rumah untuk sang ibu. Begitu ibunya datang, anak dan menantu tersebut menerimanya dengan penuh kehangatan, namun sayang mereka menempatkan sang ibu di saung bambu di halaman belakang rumah.
 
Dan kami berwasiat kepada manusia tentang kedua orangtuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. (kami berwasiat kepadanya). ’bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu, karena hanya kepada-Ku-Lah kembalimu [ Qs. Lukman 31 : 14 )
 
Ibu yang datang ke kota demi mengusir kesepian di desa, malah merasa terisolasi di tengah anak cucunya sendiri.
“Ma, jangan lupa untuk mengirimkan makan tiga kali sehari untuk ibu ya!” Itulah kalimat yang diucapkan sang suami kepada istrinya setiap kali ia hendak berangkat bekerja. Sang istri pun lalu menyampaikan lagi pesan ini kepada pembantunya untuk melakukan hal yang diminta suaminya. Maka, tiga kali sehari makanan diantar oleh pembantu tersebut ke dalam saung.
 
Namun karena kesibukan mereka berdua, keduanya kerap lupa untuk mengingatkan pembantu tersebut untuk mengantarkan makanan kepada orangtuanya. Tadinya tiga kali sehari, terkadang hanya dua kali atau satu kali. Setelah berbulan-bulan tinggal di dalam saung, pesan untuk mengirimkan makanan sudah tidak mereka ingat lagi sehingga pembantunya pun ikut lalai mengirimkan padanya makanan.
 
Allah Swt sungguh murka terhadap anak yang melalaikan hidup orangtuanya!
Piring kotor masih teronggok di pinggir saung. Sudah lama tidak diambil oleh pembantu yang biasa mengantarnya. Karena cahaya yang redup di dalam saung, sang nenek tanpa sengaja menginjak piring itu hingga akhirnya pecah. Tidak ada lagi makanan yang dikirimkan oleh anaknya. Nenek itu lapar. Ia pun pergi ke warung untuk beli makanan untuk sekadar mengganjal rasa lapar. Makanan telah terbeli, lalu dengan apa ia harus meletakkan, sebab tiada lagi alas.
 
Lalu sang nenek pergi mencari alas untuk makanannya. Tiada yang ia temui selain sebuah batok kelapa. Ia cuci dan bersihkan batok tersebut. Usai dibersihkan, batok itu menjadi teman setia nenek untuk makan. Demikianlah kebiasaan makan yang dilakukan nenek, hingga suatu hari Allah berkenan untuk memberlakukan kehendaknya!!
 
Di suatu pagi, lepas dari pengawasan baby sitter, seorang bocah lelaki berusia sekitar lima tahun pergi ke halaman belakang. Sudah lama ia tidak bermain ke halaman tersebut. Bocah itu bengong, terperangah saat ia melihat ada sebuah saung bambu di sana. Anak itu pergi menghampiri. Ia dorong pintunya hingga terbuka. Anak tersebut memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia pun masuk ke dalamnya. “Eh… ada pangeran kecil rupanya!” suara nenek terdengar mengguratkan senyum di bibir.
 
“Nenek... siapa ya?” Tanya sang bocah polos.
“Aku ini adalah nenekmu. Ibu dari ayahmu!” Nenek itu mencoba menjelaskan.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah menjalin kehangatan. Kehangatan tali persaudaraan. Persaudaraan antara seorang nenek dengan cucunya, yang tidak bisa dipisahkan oleh jarak apa pun. Keduanya membaur tak ubahnya darah dan daging.
 
Sejak itu, sang bocah sering mengunjungi neneknya meski kedua orangtuanya tak tahu apa yang dilakukan anaknya selama ini. Ketika si bocah melihat sebuah benda aneh di pojok saung, ia bertanya, “Itu benda apa, Nek?” si cucu menunjuk ke sebuah benda dengan perasaan ingin tahu. Si nenek melempar pandangan ke arah yang ditunjuk cucunya. Ia tahu bahwa yang dimaksud cucunya adalah batok kelapa.
 
“Oh… itu piring nenek. Tempat makan nenek. Lucu ya…?!” Nenek menjawab dengan wajah tersenyum.
“Iya, Nek! Ini bagus sekali,” sambut sang cucu. Sang cucu merekam kejadian itu.
 
Dalam sebuah liburan akhir pekan, bocah ini diajak tamasya ke luar kota oleh papa dan mamanya. Mereka pergi membawa mobil ke tempat wisata. Sesampainya di sebuah taman wisata yang begitu rimbun, teduh dan indah, mereka pun berbagi tawa dan kebahagiaan. Mereka berlari, berkejaran, berjalan dan melompat. Hari itu penuh keceriaan bagi mereka bertiga.
 
“Haaaap!” sang papa melompat sambil berteriak. Diikuti suara dan lompatan yang sama dari sang mama. Rupanya keduanya telah melompat melintasi bibir selokan kecil di sana. “Ayo Nak… lompati selokan itu. Kamu pasti bisa!” Teriak keduanya berseru kepada anak mereka.
 
Sang anak berdiri terdiam di seberang. Ia melemparkan pandangan ke dalam selokan. Ia tak mau melompat, namun malah berujar, “Pa… Ma…, tolong ambilkan benda itu dong!” Papanya melihat ke arah benda yang ditunjuk anaknya, ia tahu benda yang dimaksud adalah ‘batok kelapa’ dalam selokan.
 
“Apa sih, Nak? Nggak usah diambil. Itu kotor!” kata Si papa. Sang mama menimpali dengan kalimat serupa.
Namun si anak tetap bersikeras, merengek dan mengancam bahwa dirinya tidak mau meneruskan tamasya bila mama atau papanya tidak mau mengambilkan benda tersebut.
 
Keduanya mengalah. Diangkatlah ‘batok kelapa’ yang telah baunya busuk dari selokan. Keduanya repot mencari keran air untuk mencucinya. Setelah agak bersih, batok itu pun diberikan kepada sang anak. Keduanya merasa heran melihat sang anak begitu hangat memeluk batok kelapa tersebut.
 
Dalam perjalanan kembali ke rumah. Ketiganya masih berada di dalam mobil. Tak sabar dan penuh rasa ingin tahu, sang mama bertanya kepada anaknya, “Mama jadi bingung sama kamu. Sebenarnya untuk apa sih batok kelapa itu, Nak.?!”
 
Si anak masih memeluk batok itu. Ia angkat kepalanya lalu berkata, “Aku mau kasih kejutan ke mama!”
Dengan kepolosannya ia melanjutkan, “Kalau sampai di rumah, benda ini akan aku cuci sampai bersih. Setelah itu akan aku beri bungkus yang rapih. Bila sudah rapi, aku akan berikan ini untuk mama sebagai alas untuk makan.”
 
“Untuk makan?!” Mama bertanya keheranan dengan rasa jijik. “Iya, untuk makan. Aku lihat nenek di saung belakang rumah, ia makan dengan ini. Papa dan Mama yang berikan itu untuk Nenek kan?!” Tanyanya polos.
 
Keduanya bergidik. Allah Swt sungguh telah menegur mereka berdua lewat lidah anak mereka sendiri. Selama ini, sungguh mereka telah menyia-nyiakan orangtua sendiri. Hingga harus makan dengan alas dari sesuatu yang menjijikkan bagi mereka, yaitu batok kelapa. Apakah Anda masih menyia-nyiakan hidup orangtua Anda?!
 

Thursday, April 11, 2013

Gadis Muda yang Menjual Keperawanannya

Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima . Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.

Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiter mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong. Tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.

Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa. Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya:

”Maaf, nona … Apakah anda sedang menunggu seseorang?”
 
”Tidak!” Jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.

”Lantas untuk apa anda duduk di sini?”

”Apakah tidak boleh?” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam..

”Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”

”Maksud, bapak?”

”Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini.”

”Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual.” Kata wanita itu dengan suara pelan.

”Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini?”

Petugas satpam memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.

”Ok lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti.”

”Saya ingin menjual diri saya,” kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam ke arah petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

”Mari ikut saya,” kata petugas satpam itu memberikan isyarat dengan tangannya.

Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperatif karena ada secuil senyum di wajah petugas satpam itu. Tanpa ragu wanita itu melangkah mengikuti petugas satpam itu.

Di koridor hotel itu terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

”Apakah anda serius?”

”Saya serius.” Jawab wanita itu tegas.

”Berapa tarif yang anda minta?”

”Setinggi-tingginya."

”Mengapa?” petugas satpam itu terkejut sambil menatap wanita itu.

”Saya masih perawan...”

”Perawan?” Sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini.. Pikirnya...

”Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
 
”Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan.. Ya kan …”

”Kalau tidak terbukti? ”

”Tidak usah bayar …”

”Baiklah …” Petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.

”Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda.”

”Cobalah.”

”Berapa tarif yang diminta?”

”Setinggi-tingginya.”

”Berapa?”
 
”Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa?”

”Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya.”

Petugas satpam itu berlalu dari hadapan wanita itu. Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah cerah.

”Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta Rp. 5 juta. Bagaimana?”

”Tidak adakah yang lebih tinggi?”

”Ini termasuk yang tertinggi,” Petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
 
”Saya ingin yang lebih tinggi…”

”Baiklah. Tunggu disini …” Petugas satpam itu berlalu.

Tak berapa lama petugas satpam itu datang lagi dengan wajah lebih berseri.

”Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Rp. 6 juta rupiah. Bagaimana?”

”Tidak adakah yang lebih tinggi?”

”Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai keperawanan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang Rp. 6 juta anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh …”

”Saya ingin tawaran tertinggi …” jawab wanita itu, tanpa peduli dengan celoteh petugas satpam itu.

Petugas satpam itu terdiam. Namun tidak kehilangan semangat.

”Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya. Tolong kancing baju anda disingkapkan sedikit. Agar ada sesuatu yang memancing mata orang untuk membeli.” kata petugas satpam itu dengan agak kesal.

Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu tapi tetap mengikuti langkah petugas satpam itu memasuki lift. Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.

”Ini yang saya maksud, tuan. Apakah tuan berminat? ” Kata petugas satpam itu dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh wanita itu …

”Berapa?” Tanya pria itu kepada Wanita itu.

”Setinggi-tingginya.” jawab wanita itu dengan tegas.

”Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang? ” kata pria itu kepada sang petugas satpam.

”Rp. 6 juta, tuan...”

”Kalau begitu saya berani dengan harga Rp. 7 juta untuk semalam.”

Wanita itu terdiam. Petugas satpam itu memandang ke arah wanita itu dan berharap ada jawaban bagus dari wanita itu.

”Bagaimana?” tanya pria itu.

”Saya ingin lebih tinggi lagi …” kata wanita itu.

Petugas satpam itu tersenyum kecut.

”Bawa pergi wanita ini.” kata pria itu kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamar dengan keras.

”Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar benar ingin menjual?”

”Tentu!”

”Kalau begitu mengapa anda menolak harga tertinggi itu …”

”Saya minta yang lebih tinggi lagi …”

Petugas satpam itu menghela napas panjang. Seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang. Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya.

”Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja, ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya.”

Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.

”Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang 25 juta Rupiah. Apakah itu tidak cukup?” Terdengar suara pria itu berbicara. Wajah pria itu nampak masam seketika.

”Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita engga ketemu, ya sayang?!”
 
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita. Kemudian, dilihatnya, pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajah pria itu.

Dengan tenang, petugas satpam itu berkata kepada Pria itu: ”Pak, apakah anda butuh wanita …?”
 
Pria itu menatap sekilas kearah petugas satpam dan kemudian memalingkan wajahnya.

”Ada wanita yang duduk di sana.” Petugas satpam itu menujuk ke arah wanita tadi.
 
Petugas satpam itu tak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.

“Dia masih perawan..”

Pria itu mendekati petugas satpam itu. Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ”Benarkah itu?”

”Benar, pak.”

”Kalau begitu kenalkan saya dengan wanita itu …”

”Dengan senang hati. Tapi, pak …Wanita itu minta harga setinggi tingginya.”

”Saya tidak peduli …” Pria itu menjawab dengan tegas.

Pria itu menyalami hangat wanita itu.

”Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah ….” Kata petugas satpam itu dengan nada kesal.

”Mari kita bicara di kamar saja.” Kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada petugas satpam itu.

Wanita itu mengikuti pria itu menuju kamarnya. Di dalam kamar …

”Beritahu berapa harga yang kamu minta?”
 
”Seharga untuk kesembuhan ibu saya dari penyakit.”

”Maksud kamu?”
 
”Saya ingin menjual satu-satunya harta dan kehormatan saya untuk kesembuhan ibu saya. Itulah cara saya berterima kasih ….”

”Hanya itu ...?”

”Ya …!”

Pria itu memperhatikan wajah wanita itu. Nampak terlalu muda untuk menjual kehormatannya. Wanita ini tidak menjual cintanya. Tidak pula menjual penderitaannya. Tidak! Dia hanya ingin tampil sebagai petarung gagah berani di tengah kehidupan sosial yang tak lagi gratis. Pria ini sadar, bahwa di hadapannya ada sesuatu kehormatan yang tak ternilai. Melebihi dari kehormatan sebuah keperawanan bagi wanita. Yaitu keteguhan untuk sebuah pengorbanan tanpa ada rasa sesal. Wanta ini tidak melawan gelombang laut melainkan ikut ke mana gelombang membawa dia pergi. Ada kepasrahan di atas keyakinan tak tertandingi. Bahwa kehormatan akan selalu bernilai dan dibeli oleh orang terhormat pula dengan cara-cara terhormat.

”Siapa nama kamu?”

”Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar …” Kata wanita itu.

”Saya tak bisa menyebutkan harganya. Karena kamu bukanlah sesuatu yang pantas ditawar.”

”Kalau begitu, tidak ada kesepakatan!”

”Ada !” kata pria itu seketika.

”Sebutkan!”

”Saya membayar keberanianmu. Itulah yang dapat saya beli dari kamu. Terimalah uang ini. Jumlahnya lebih dari cukup untuk membawa ibumu ke rumah sakit. Dan sekarang pulanglah … ” kata pria itu sambil menyerahkan uang dari dalam tas kerjanya.

”Saya tidak mengerti …”

”Selama ini saya selalu memanjakan istri simpanan saya. Dia menikmati semua pemberian saya tapi dia tak pernah berterima kasih. Selalu memeras. Sekali saya memberi maka selamanya dia selalu meminta. Tapi hari ini, saya bisa membeli rasa terima kasih dari seorang wanita yang gagah berani untuk berkorban bagi orang tuanya. Ini suatu kehormatan yang tak ada nilainya bila saya bisa membayar …”

”Dan, apakah bapak ikhlas…?”

”Apakah uang itu kurang?”

”Lebih dari cukup, pak …”

”Sebelum kamu pergi, boleh saya bertanya satu hal?”

”Silahkan …”

”Mengapa kamu begitu beraninya …”

”Siapa bilang saya berani. Saya takut pak … Tapi lebih dari seminggu saya berupaya mendapatkan cara untuk membawa ibu saya ke rumah sakit dan semuanya gagal. Ketika saya mengambil keputusan untuk menjual kehormatan saya maka itu bukanlah karena dorongan nafsu. Bukan pula pertimbangan akal saya yang `bodoh` … Saya hanya bersikap dan berbuat untuk sebuah keyakinan …”

”Keyakinan apa?”

”Jika kita ikhlas berkorban untuk ibu atau siapa saja, maka Tuhan lah yang akan menjaga kehormatan kita …” Wanita itu kemudian melangkah ke luar kamar.
 
Sebelum sampai di pintu wanita itu berkata: ”Lantas apa yang bapak dapat dari membeli ini …”

”Kesadaran… ”
 
***
 
Di sebuah rumah di pemukiman kumuh. Seorang ibu yang sedang terbaring sakit dikejutkan oleh dekapan hangat anaknya.

”Kamu sudah pulang, nak?”

”Ya, bu … ”
 
”Kemana saja kamu, nak … Huh”

”Menjual sesuatu, bu …”

”Apa yang kamu jual?” Ibu itu menampakkan wajah keheranan. Tapi wanita muda itu hanya tersenyum …

Hidup sebagai yatim lagi miskin terlalu sia-sia untuk diratapi di tengah kehidupan yang serba pongah ini. Di tengah situasi yang tak ada lagi yang gratis. Semua orang berdagang. Membeli dan menjual adalah keseharian yang tak bisa dielakan. Tapi Tuhan selalu memberi tanpa pamrih, tanpa perhitungan ….

”Kini saatnya ibu untuk berobat …”  Digendongnya ibunya dari pembaringan, sambil berkata: ” Tuhan telah membeli yang saya jual…”

Taksi yang tadi ditumpanginya dari hotel masih setia menunggu di depan rumahnya. Dimasukannya ibunya ke dalam taksi dengan hati-hati dan berkata kepada supir taksi: ”Antar kami kerumah sakit…”

Sumber: yauhui dot net/dijual-keperawanan-siapa-yang-mau-beli/
http://mualafmualaf.blogspot.com/2011/06/gadis-muda-jual-perawan.html

Friday, March 22, 2013

Dunia Bukanlah Surga dan Bukan Juga Neraka

Banyak manusia di dunia, masih hidup, tapi sudah begitu banyak ketakutan yang dideranya, seakan dunia ini sudah benar-benar menjadi neraka. Dan sebagian manusia lainnya berpestapora tanpa henti, karena bergelimangan harta benda, sehingga lupa diri, seakan sudah merasa di syurga, padahal hidupnya penuh kemaksiatan dan lupa diri bahwa usianya semakin tua.
 
Lupa juga bahwa hari berlalu demikian cepat, dari kelahiran menuju kematian, dari masa anak-anak,muda, dewasa, tua dan maut sedang menanti. Lupa juga bahwa manusia tak jauh-jauh dari kematian, tak bisa belari atau mengghindar dari maut, tak bisa menolak kedatangan sang maut. Dihindari dan di sambut kedatangannya, sama aja bagi sang maut.
Dia datang bukan atas permintaanmu, dia belum hadir bukan atas kemauanmu, datang atau tidaknya sang maut, ada dalam catatanNya , ada dalam genggamanNya, dan bila saatnya tiba, dia datang tanpa kau pinta, dia hadir tanpa kau sadari, dan tiba-tiba kau mati, ingat itu wahai manusia-manusia yang lupa diri.

Lalu kuburan ada di hadapanmu, jasadmu akan berada di dalamnya, jasadmu akan menjadi santapan cacing-caning tanah atau belantung-belatung yang berpesta memakan dagingmu hingga tak bersisa sedikitpun, lalu tulang belulangmu hancur satu demi satu dan kemudian lenyap bersama tanah, lalu masihkah kau tetap bermandikan kemaksiatan?
Kuburan menjadi tempatmu bersinggah sementara, sebelum kiamat tiba, akankah kau dapat nikmat kubur atau azab kubur? Dunialah tempat persemaianya, dunialah ladang amalnya, dunialah tempat menabung segala amal perbuatanmu, jika tidak, azab kubur akan kau dapatkan tanpa kau kehendaki, azab kubur akan menghancurleburkan tubuhmu, azab kubur akan menjadi tempat awal penyiksaan yang teramat pedih sebelum di siksa di neraka, sudah kau siapakan dirimu menghadapi azab kubur wahai para pendosa?

Di Kuburan kau akan sendirian, jika tak punya amal. Di Kuburan kau akan di azab, jika tak beriman dan tak beramal sholeh. Di Kuburan kau akan di siksa, jika hidupmu penuh dengan kemaksiatan, Jangan ceritakan neraka, di kuburan sudah cukup buat peringatan, bagi yang mau mengambil peringatan dan pelajaran.
Neraka bagi pembuat maksiat bukan apa-apa, neraka bagi orang kapir bukan sesuatu yang menakutkan. Neraka bagi penggelimang dosa bukan sesuatu yang perlu ditakuti
Apa itu neraka? Bagi mereka neraka hanya cerita-cerita kosong, Mati, selesai! itu keyakinan orang-orang kapir.

Bagi yang beriman, jangankan neraka, siksa kubur sudah membuatnya ketakutan luar biasa, apa lagi azab neraka. Ya Allah lindungi hamba dari azab kubur dan azab neraka. Jangankan api neraka, apa di duniapun sudah dapat mengancur leburkan daging dan tulang belulang manusia!
 
Betapapun banyak amal yang kita lakukan, tak sebanding dengan umur yang telah diberikan Allah SWT pada kita, Menurut perkiraan kita, kita sudah beramal banyak, nyatanya jika dihitung secara cermat, ibadah kita hanya sedikit sekali. Dari umur yang diberikan, waktu untuk tidur lebih banyak dibandingkan waktu ibadah. Minim sekali ibadah kita pada Allah, itupun belum tentu diterima Allah, apa lagi kalau dibarengi dengan riya, maka ibadah kita terbenilai apapun, nilai ibadah kita nol, kalau dibarengi dengan riya.
 
Jadi, kalau mau dihitung-hitung, rasanya tak pantas kita mendapat syurga, tak pantas kita dimasukan ke dalam syurga di akherat nanti, pantasnya malah masuk neraka, mengapa ? Karena ibadah kita sedikit sekali, sedangkan dosa kita banyak sekali, hampir tiap hari dosa kita lakukan, ada aja dosa yang kita lakukan, entah dosa kecil yang tidak kita merasa melakukan sampai dosa yang sengaja dilakukan.
 
Maka jika di akherat nanti kita masuk syurga, itu semata-mata hanya karunia Allah, bukan karena amalan kita, amalan kita tak cukup untuk memasuk kita ke dalam syurga, amalan kita tak pantas memasukan kita ke syurga, lagi-lagi itu hanya karunia Allah pada kita, itu hanya karena Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang pada kita, kalau tidak karena karunia Allah, maka kita pantasnya dimasukan ke neraka.
 
Dunia bukan Syurga, maka jangan mengharap yang muluk-muluk terhadap apapun, terimalah hidup ini apa adanya. Kebahagiaan hakiki tidak akan pernah kamu temukan di dunia ini, kebahagiaan di dunia ini hanya semu, hanya bayangan. Jangan mengharap terlalu tinggi, pada apapun yang bersamamu, kepada siapa saja, ya istrimu, ya anakmu, ya muridmu, ya kepada teman dan sahabatmu serta kepada orang-orang yang ada disekelilingmu.
 
Dunia ini bukan syurga, terlalu banyak apa yang kamu terima tidak sesuai dengan yang kamu harapkan, jadi di dunia yang bukan syurga ini harus selalu siap kecewa. Harus siap menerima yang bukan kamu harapkan, harus siap menerima apa yang tidak kamu inginkan, harus siap menerima yang kamu tidak kehendaki. Kecewa, wajar karena kamu manusia biasa, bukan manusia super, bukan wali, bukan nabi, bukan rosul dan bukan orang suci yang mampu begitu tabah dalam menjalani penderitaan betapapun dasyatnya.
 
Dunia bukan Syurga, disekelilingmu banyak sekali hal yang tidak berkenan dengan kepribadianmu, dengan sikap dan watakmu, tapi ada disekelilingmu, ada bersamamu dan hidup bertahun-tahun bersamamu. Apa kamu harus lari ? Jangan Hidup ini bukan syurga, yang serba enak, yang serba mudah, yang tidak ada kesusahan sedikitpun di dalamnya. Jadi jangan pernah bermimpi untuk hidup begitu enak, begitu nikmat, begitu bahagia …. mimpipun jangan !
 
Karena selagi kamu hidup di dunia, kesusahan itu akan terus ada, kesulitan itu akan terus datang, penderitaan itu akan terus menjelma, kekecewaan itu akan terus bergema di dinding hati, di rumah-rumah mewah, apa lagi di rumah-rumah kumuh, di wajah-wajah cantik, apa lagi di wajah-wajah buruk, di wajah-wajah tanpa dosa dan di wajah-wajah penuh maksiat, tapi ini tetap bukan neraka, karena kepedihan, sengsara, kesusahan, melarat dan lain sebagainya tak akan terus ada sepanjang waktu.
 
Dunia bukan Syurga, maka suka dan duka akan terus saling berganti, tangis dan tawa akan terus berganti, senyum dan sinis salin berbagi, jangan pernah mengharap hidup di dunia tanpa penderitaan, tanpa kesusahan, tanpa ujian, tanpa cobaan, nonsen!
 
Tidak akan pernah terjadi hidup di dunia bahagia 100 %, enak 100 %, nikmat 100 % tanpa ada kecewa sedikitpun. Jangan pernah bermimpi di dunia kamu akan dikelilingi oleh bidadari-bidadari yang cantiknya tak terkirakan atau dikelilingi oleh sarana dan prasarana yang paripurna, yang serba wah, serba mewah, serba mencukupi. Apapapun kenikmatan di dunia itu bukan syurga, belum apa-apa. Kebahagian apapun di dunia belum ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan di Syurga.
 
Dunia bukan Syurga, jadi tak ada kenikmatan yang abadi di dalamnya
Dunia bukan Syurga, maka tak ada kebahagian berlangsung selamanya
Dunia bukan Syurga, dan itu akan kau tinggalkan juga.
Duniapun bukan neraka, jadi tak ada kependihan yang abadi di dalamnya
Dunia juga bukan neraka, maka tak ada tangisan sepanjang hidup
Dunia bukan neraka, dimana siksaan akan ada selamanya.
 
Jadi dari azab kubur, tak pantas masuk syurga sampai dunia bukan syurga dan dunia bukan neraka terbentang “benang merah” bagi yang mau merenung, apa sih yang kau cari dalam hidup ini. Kesenangan yang melenakan sampai lupa diri ujungnya mendapat azab kubur. Merasa paling sholeh, merasa paling benar, dan mengaku paling ikhlas, rasanya tak pantas masuk syurga, karena kesholehan dan keikhlasan penilai akhir adalah Allah SWT.
 
Ya Alllah, hamba tak pantas masuk syurgaMu, tapi ya Allah, hamba tak sanggup menahan panasnya api nerakaMu, jangan api di nerakaMu ya Allah, api di dunia saja, sudah dapat menghancur leburkan daging dan tulang belulang hamba menjadi debu.
 
Ya Allah, lindungi hamba dari azab kubur dan nerakaMu. Hamba memang tak pantas masuk syurgaMU ya Allah, tapi nerakaMu ya Allah, hamba tak mampu membayangkan panasnya, selamatkan hamba dari nerakaMu ya Allah, masukan hamba ke dalam syurgaMu yang penuh kenikmatan.
 
Moskow, 21 Maret 2013.

Thursday, January 31, 2013

Kebesaran Hati Seorang Tenzing Norgay

Setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay (pemandu/sherpa) kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay.

Berikut cuplikannya:

Reporter: "Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?".

Tenzing Norgay: "Sangat senang sekali".

Reporter: "Anda kan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?".

Tenzing Norgay: "Ya, benar sekali. Pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilahkan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya & menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia".

Reporter: "Mengapa Anda lakukan itu?"

Tenzing Norgay: "Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN-nya".

Disekitar kita, banyak sekali orang seperti Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay.

Pepatah mengatakan, "Bila Anda hendak jadi pahlawan, harus ada yang bertepuk tangan dipinggir jalan". Di dunia ini, tidak semua manusia berkeinginan dan memiliki impian seperti Sir Edmund Hillary, menjadi pahlawan. Mereka ini cukup berbahagia dengan memberikan pelayanan dengan membantu orang lain mencapai impiannya. Mereka merasa cukup menjadi "orang2 yang bertepuk tangan saja dipinggir jalan".

Silahkan LIKE and SHARE jika anda setuju..

Supported by : www.duniatraining.com
See More

Kisah Si Kembar Rolando dan Ronaldo

Kedua bocah kembar Rolando dan Ronaldo terlahir dari keluarga yang berantakan, di mana ibunya seorang penjudi dan ayahnya seorang pemabuk dan penjudi.

Ibu mereka terlebih dahulu meninggal pada saat si kembar tersebut masih bayi.

Ayah mereka menemani mereka sampai mereka sekolah, dan meninggal juga.

Karena tidak punya keluarga yang bersedia menampung, mereka tinggal di panti asuhan yan

g berbeda.

Berita mengenai nasib malang kedua bocah kembar tersebut menghiasi koran berita lokal tempat lahir mereka di negara Mexico.

40 tahun kemudian setelah kejadian tersebut, seorang pemimpin redaksi ingin mengetahui di mana kedua bocah tersebut berada dan mengutus team wartawan mereka untuk melakukan liputan khusus..

Mereka menemukan Rolando sedang berada di sebuah bar di daerah Guadelajara dalam kondisi mabuk berat dan nampaknya sudah berhari-hari tidak mandi.

Mereka pun mewawancarai si Rolando, mengapa dia sampai begini?

Katanya sambil berteriak..., "Aku begini karena AYAHKU...  Apa yang bisa anda harapkan dari anak seorang pemabuk? Inilah aku, seorang pemabuk juga! Buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya..."

Sementara wartawan yang lain menemukan Ronaldo, di kota Mexico City sebagai seorang Direktur sebuah perusahaan Internasional yang memiliki keluarga bahagia dan harta yang berlimpah.

Mereka mewawancarai si Ronaldo, apa yang menjadi motivasinya sehingga dia bisa menjadi sehebat ini, jawabnya; "Ayahku dulu seorang pemabuk dan penjudi. Sejak dulu aku berusaha membuktikan kalau aku bisa menjadi orang hebat, walau lahir dari keluarga pemabuk dan penjudi..."

***
 
MINDSET dalam pikiran itulah yang menentukan ke mana arah kehidupan yang akan kita jalani.

Apakah kita melihat dari sisi NEGATIF atau ambil dari sisi POSITIFnya; Pilihannya ada di tangan kita masing-masing.

Tanamkan dalam pikiran kita: "Buah bisa saja jatuh JAUH dari pohonnya", tergantung dari mindset dan keputusan kita!

Wednesday, January 2, 2013

Tanda-Tanda 100 Hari Hingga Menjelang Kematian

PERHATIKAN dan RENUNGKAN.. Apa yang anda PIKIRKAN??….Bagaimana kalau yang di TANDU itu adalah ANDA..?? Suka ataw tidak SUKA anda akan mengalaminya sekali dalam seumur hidup ANDA. Ini yang disebut dengan MATI.. Awal dari kehidupan yang SESUNGGUHNYA..!!!!

Tanda-tanda kematian menurut ulama adalah benar dan nyata, hanya amalan dan ketakwaan kita saja yang akan dapat membedakan kepekaan kita kepada tanda-tanda ini. Rasulullah SAW diriwayatkan, masih mampu memperlihat dan menceritakan kepada keluarga dan sahabat secara langsung akan kesukaran menghadapi sakaratul maut dari awal hingga akhir hayat Baginda.

Imam Ghazali rahimahullah diriwayatkan memperolehi tanda-tanda ini sehingga beliau mampu mempersiapkan dirinya untuk menghadapi sakaratulmaut secara sendirian. Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201).

Adapun riwayat-riwayat ini memperlihatkan kepada kita sesungguhnya Allah SWT tidak pernah berlaku zalim kepada hambanya. Tanda-tanda yang diberikan adalah untuk menjadikan kita umat Islam supaya dapat bertobat dan selalu siap dalam perjalanan menghadap Allah SWT.

Walau bagaimanapun, semua tanda-tanda ini akan berlaku kepada orang-orang Islam saja, sedangkan orang-orang kafir yaitu orang yang menyekutukan Allah, nyawa mereka ini akan dicabut tanpa peringatan sesuai dengan kekufuran mereka kepada Allah SWT.

Adapun tanda-tanda ini terdiri beberapa keadaan :

100 Hari Sebelum Hari Kematian

Ini adalah tanda pertama dari Allah SWT kepada hambanya dan hanya akan disadari oleh mereka-mereka yg dikehendakinya. Walau bagaimanapun semua orang Islam akan mendapat tanda ini, hanya apakah mereka sadar atau tidak saja. Tanda ini akan berlaku lazimnya setelah waktu Asar. Seluruh tubuh mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki akan mengalami getaran, seakan-akan menggigil.

Contohnya seperti daging sapi/kambing yang baru disembelih, dimana jika diperhatikan dengan teliti kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar. Tanda ini rasanya nikmat, dan bagi mereka yang sadar dan berdetak di hatinya bahwa mungkin ini adalah tanda kematian maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah sadar akan kehadiran tanda ini.

Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian , tanda ini akan lenyap begitu saja tanpa ada manfaat. Bagi yang sadar dengan kehadiran tanda ini maka ini adalah peluang terbaik untuk memanfaatkan masa yang ada untuk mempersiapkan diri dengan amalan dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.

40 Hari Sebelum Hari Kematian

Tanda ini juga akan terjadi sesudah waktu Asar. Bagian pusat kita akan berdenyut-denyut. Pada ketika ini daun yang tertulis nama kita akan gugur dari pohon yang letaknya di atas Arash Allah swt. Maka malaikat maut akan mengambil daun tersebut dan mulai membuat persediaannya ke atas kita antaranya adalah ia akan mulai mengikuti kita sepanjang waktu.

Akan terjadi malaikat maut ini akan memperlihatkan wajahnya sekilas dan jika ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika. Adapun malaikat maut ini wujudnya cuma seorang tetapi kuasanya untuk mencabut nyawa adalah bersamaan dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya.

7 Hari Sebelum Hari Kematian

Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah sakit di mana orang sakit yang tidak makan secara tiba- tiba dia berselera untuk makan.

3 Hari Sebelum Hari Kematian

Pada masa ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita yaitu diantara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini dapat diketahui/ dipahami maka berpuasalah kita setelah itu supaya perut kita tidak mengandungi banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan kita nanti.

Ketika ini juga mata hitam kita tidak akan bersinar lagi dan bagi orang yang sakit hidungnya akan perlahan-lahan turun, dan ini dapat diketahui jika kita melihatnya dari bahagian sisi. Telinganya akan layu dimana bahagian ujungnya akan berangsur-angsur masuk ke dalam. Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakkan.

1 Hari Sebelum Hari Kematian

Akan berlaku sesudah waktu Asar di mana kita akan merasakan satu denyutan di sebelah belakang yaitu di bahagian ubun-ubun di mana ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui waktu Asar keesokan harinya.

Tanda akhir

Akan berlaku keadaan di mana kita akan merasakan satu keadaan dingin di bahagian pusat dan akan turun ke pinggang dan seterusnya akan naik ke bahagian halkum. Ketika ini hendaklah kita terus mengucap kalimah syahadah dan berdiam diri dan menantikan kedatangan malaikatmaut untuk menjemput kita kembali kepada Allah SWT yang telah menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan pula.

BERSIAP SIAPLAH…..HARI ITU PASTI AKAN DATANG!! ..SUDAH SIAPKAH BEKAL KITA..!????????

wallahu a’lam


Sumber : http://alibastomi.blogspot.com/2011/09/tanda-tanda-100-hari-hingga-menjelang.html

Keajaiban di Balik Sholat Subuh

Kenapa harus bangun pagi buta untuk shalat Subuh?

Bagi seorang muslim mungkin pertanyaan ini dengan mudah dijawab; karena shalat Subuh adalah bagian dari ibadah wajib yang harus dikerjakan sebagai bukti ketaatan pada Tuhannya. Tapi kenapa ya harus pagi buta gitu sholatnya? Lagi enak-enak tidur kok disuruh shalat?

Pertanyaan-pertanyaan ini untuk sebagian orang mungkin dianggap bodoh dan bisa dianggap nyeleneh. Tapi untuk orang-orang yang berfikir ilmiah pertanyaan tersebut adalah stimulasi ide besar untuk pembuktian. Kenapa harus dibuktikan?? Yang jelas tidak ada satu halpun yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan kepada umatnya tanpa kebermanfaatan. Jika kita amati, ada satu hal yang berbeda dari ritual shalat Subuh dibandingkan sholat lima waktu lainnya.

Kalimat yang terdengar dari suara adzan sedikit berbeda dengan adzan pada shalat yang lain. Kalimat “ash shalatu khairun minan naum”, menjadi titik perbedaannya. Arti kalimat itu adalah shalat itu lebih baik dari pada tidur.

Kenapa kalimat itu hanya muncul pada adzan Subuh dan tidak pada adzan lainnya.

Memang ada banyak hikmah yang bisa diambil dari ritual di pagi buta ini. Dari peluang rezeki yang besar karena sudah mulai sejak subuh sampai manfaat terhindar dari kemacetan terutama di kota metropolitan seperti Jakarta. Ternyata bukan itu saja arti kebermanfaatan yang Allah berikan. Shalat Subuh juga mempunyai manfaat mengurangi kecenderungan terjadinya gangguan kardiovaskular.

Di dalam tubuh manusia ada kekuatan yang terus bekerja tanpa kita komando. Apakah kita sedang tersadar atau tidur. Kekuatan yang mengatur gerak usus kita sehingga bisa dikeluarkan menjadi feses setelah menyerap zat-zat bermanfaat untuk tubuh. Kekuatan syaraf otonom mempunyai 2 fungsi yang bekerja secara antagonis, biasa kita sebut sebagai syaraf simpatis dan syaraf parasimpatis.

Kita mempunyai irama tubuh yang biasa disebut irama sirkadian tubuh dimana mulai jam 3 dini terjadi peningkatan adrenalin. Akibatnya tekanan darah manusia juga meningkat. Padahal kita sedang tidur pulas. Biasanya adrenalin kita bekerja saat kita beraktifitas atau dalam keadaan stress.

Selain itu terjadi pula penyempitan pembuluh darah otak yang menyebabkan oksigenasi otak berkurang sehingga kita merasa berat kalo bangun pagi dan cenderung mengantuk.

Peningkatan adrenalin juga mengaktivasi sistem pembekuan darah dimana sel-sel trombosit berangkulan membentuk suatu trombus. Trombus inilah yang menyebabkan gangguan kardiovaskuler pada manusia. Semuanya adalah kerjaan saraf simpatis. Lalu apa hubungannya dengan sholat

Hasil penelitian Furchgott dan Ignarro serta Murad tentang suatu zat didalam dinding sel yang dapat melebarkan pembuluh darah menjawab pertanyaan di atas. Zat yang ditemukan itu bernama NO (Nitrit Oksida). Yang luar biasa adalah ternyata Nitrit Oksida ini diproduksi terus menerus selama istirahat termasuk ketika manusia tidur.

Zat ini juga mencegah terbentuknya trombus dengan menghambat agregasi/penempelan trombosit. Hasil temuan ini mendapat hadiah NOBEL tahun 1998.

Aktivitas Bangun pagi untuk shalat Subuh apa lagi dengan berjalan ke mesjid untuk berjamaah dapat meningkatkan kadar Nitrit oksida dalam pembuluh darah sehingga oksigenasi ke otak juga bertambah akibat melebarnya pembuluh darah otak dan yang pasti trombosit dicegah untuk saling menempel jadinya pembuluh darah tidak bertambah sempit. Aktivitas mengejan yang ditimbulkan pada gerakan rukuk dalam sholat meningkatkan tonus syaraf parasimpatis yang melawan efek dari syaraf simpatis seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Subhanallah bukan? Dengan menjalankan shalat Subuh apa lagi dengan berjalan ke mesjid (terutama untuk yang laki-laki ni) kita dapat mencegah proses gangguan pada sistem kardiovaskular kita.

Untuk orang-orang yang berfikir, demikian hikmah dari ajakan-Nya “ash shalatu khairun minan naum.”

“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak.” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya; hanya dua rekaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit).

Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.

“Setan melilit leher seorang di antara kalian dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, ‘Nikmatilah malam yang panjang ini’. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas.”

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat.” [HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.

“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”. “Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka - padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka - ‘Bagaimana hamba-hambaKu ketika kalian tinggalkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR. Al-Bukhari]

Sedangkan bagi wanita - walau shalat di masjid diperbolehkan - shalat di rumah adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya, yaitu yang mengerjakan shalat Subuh pada saat para pria sedang shalat di masjid. Ujian yang membedakan antara wanita munafik dan wanita mukminah adalah shalat pada permulaan waktu.

“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh. maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR. Muslim, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. “Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS. Huud:81)

Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.

“Jika kamu menolong (agama) Allah, maka ia pasti akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

“Sungguh Allah akan menolong orang yang menolong agamanya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)

TIPS MENJAGA SHALAT SUBUH :

1. Ikhlaskan niat karena Allah, dan berikanlah hak-hak-Nya.

2. Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari.

3. Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali.

4. Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh.

5. Carilah kawan yang baik (shalih).

6. Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw (tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa).

7. Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari.

8. Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding.

9. Bantulah dengan 3 buah bel pengingat (jam weker; telpon; bel pintu).

10. Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga.

Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci ... Aamiin

~ o ~

Salam santun dan keep istiqomah ...


http://www.facebook.com/SudahTahukahAnda.New/posts/581442758536382

Saturday, December 29, 2012

Jika Bermasalah, Shalatlah

“Jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Al-Baqarah [2]: 45)

Ibnu Abid-Dunya dalam kitab Al-Mujabin menceritakan tentang peristiwa yang dialami seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dari kalangan Anshar bernama Abu Ma’allaq, saudagar yang sangat menjaga kepribadian luhurnya.

Suatu hari, di tengah perjalanan berniaga tiba-tiba ia dihadang kawanan perampok bersenjata tajam, “Serahkan hartamu atau aku membunuhmu!”

Abu Ma’allaq berkata, “Apa yang engkau inginkan, aku atau hartaku?”

“Aku inginkan harta dan jiwamu,” jawab perampok.

“Baiklah izinkan saya untuk melaksanakan shalat empat rakaat,” pinta Abu Ma’allaq yang dipenuhi oleh perampok.

Di akhir sujudnya, ia berdoa, “Wahai Zat Yang Pengasih, Wahai Zat Yang Penyayang, Wahai Zat Pemilik ‘Arsy Yang Agung, Wahai Zat yang menjalankan apa yang diinginkan, dengan kemuliaanmu yang tak bisa dituntut aku memohon dengan kuasa-Mu yang tak bisa ditindas, dengan cahaya-Mu yang memenuhi penjuru ‘Arsy-Mu, cegahlah kejahatan perampok ini. Wahai Pemberi perlindungan, lindungilah aku, wahai Sang Pemberi perlindungan!”

Tiba-tiba, seseorang sambil menunggang kuda muncul dengan membawa tombak. Dalam sekejap, penunggang kuda itu menusukkan tombak tersebut kepada sang perampok. Lalu, ia menghampiri Abu Ma’allaq, “Berdirilah!”

“Engkau bukan ayahku dan bukan ibuku, tetapi Allah telah menolongku hari ini melalui engkau,” kata Abu Ma’allaq.

“Aku adalah malaikat penghuni langit ke empat. Pada doamu yang pertama aku mendengar suara ketukan pada pintu-pintu langit, kemudian pada doamu yang kedua aku mendengar penghuni langit ribut. Pada doamu yang ketiga telah sampai berita padaku ada doa orang yang tertimpa kesusahan. Lalu aku memohon kepada Allah agar mengizinkanku untuk membunuh perampok itu,” ujar sang penunggang kuda.

Melalui kisah ini saya ingin mengajak kita semua untuk menyadari bahwa shalat itu benar-benar dapat diandalkan untuk mengatasi segala permasalahan hidup. Allah sanggup menolong hamba-Nya yang khusyu’ dalam shalatnya.

Allah yang disembah dan diibadahi para Sahabat dahulu adalah Tuhan yang kita sembah dan kita ibadahi saat ini. Malaikat langit yang senantiasa turun ke bumi menolong para Sahabat adalah malaikat yang hingga saat ini senantiasa bersiaga melaksanakan perintah Allah tanpa pernah membangkang sekalipun. Para Sahabat Nabi adalah hamba Allah, sama seperti kita. Jika para Sahabat Nabi meminta dan berdoa lalu diterima dan dikabulkan, maka jika kita meminta dan berdoa kepada-Nya, berlaku pula janji-Nya. Ingat firman Allah, “Aku kabulkan permohonan orang-orang yang berdoa kepada-Ku.” (Al-Baqarah [2]: 186)

Masalahnya, apakah kita dengan sungguh-sungguh telah memanfaatkan fasilitas ini? Kebanyakan di antara kita melaksanakan shalat sekadar menggugurkan kewajiban. Tanpa bersungguh-sungguh meminta dan bermohon kepada-Nya. Mulai hari ini, mari kita menjadikan shalat sebagai tempat mengadukan berbagai persoalan, kegelisahan, kepedihan, dan kegundahan.

Melalui shalat yang khusyu’ akan terjalin hubungan yang kuat antara kita sebagai hamba dengan Zat Yang Mahakuat. Bila kita mencurahkan segala ketakutan, kekhawatiran, dan ketegangan kepada-Nya, maka tenanglah jiwa kita dan terhentilah segala keluh kesah. Wallahu a’lam. *

SUARA HDIAYATULLAH JUNI 2012
http://majalah.hidayatullah.com/?p=3461

Tuesday, December 25, 2012

The Blind Boy

"It is He, Who has created for you (the sense of) hearing (ears), sight (eyes), and hearts (understanding). Little thanks you give." [The Qur'an, Surah Al-Mu'minun; 78]

A blind boy sat on the steps of a building with a hat by his feet. He held up a sign which said: "I am blind, please help." (*There were only a few coins in the hat.)

A man was walking by. He took a few coins from his pocket and dropped them into the hat. He then took the sign, turned it around, and wrote some words. He put the sign back so that everyone who walked by would see the new words.

Soon the hat began to fill up. A lot more people were giving money to the blind boy. That afternoon the man who had changed the sign came to see how things were.

The boy recognized his footsteps and asked, "Were you the one who changed my sign this morning? What did you write?"

The man said, "I only wrote the truth. I said what you said but in a different way."

What he had written was: "Today is a beautiful day and I cannot see it."

Do you think the first sign and the second sign were saying the same thing?

Of course both signs told people the boy was blind. But the first sign simply said the boy was blind. The second sign told people they were so lucky that they were not blind. Should we be surprised that the second sign was more effective?

Allaahu Akbar!

Tuesday, December 11, 2012

Taubat Bohong Seorang Pemabuk

Manshour bin Ammar berkata: “Dulu seorang temanku selalu berbuat maksiat, lalu kemudian ia bertaubat. Aku melihatnya sering melakukan ibadah dan shalat tahajjud. Tiba-tiba aku tidak melihatnya beberapa hari. Ada yang mengatakan kepadaku bahwa ia sedang sakit. Aku pun lantas mendatangi rumahnya. Seorang puterinya keluar menemuiku, ia berkata: “Ingin bertemu siapakah engkau?”

Aku menjawab: “Ayahmu.” Maka ia pun mengijinkanku.

Aku masuk ke dalam rumahnya dan mendapati ayahnya berada di ruang tengah rumahnya dalam keadaan terbaring di atas kasurnya. Wajahnya nampak hitam, kedua matanya mencucurkan air mata, dan bibirnya nampak tebal dan membiru.

Dalam keadaan khawatir, aku berkata kepadanya: “Wahai saudaraku, perbanyaklah mengucapkan kalimat laa ilaaha illallaah!” Ia pun membuka kedua matanya, lalu memandangi diriku, kemudian ia pingsan lagi. Aku pun berkata lagi kepadanya: “Wahai saudaraku, perbanyaklah mengucapkan kalimat laa ilaaha illallaah!”

Kemudian aku mengatakannya lagi untuk yang ketiga kalinya. Ia membuka kedua matanya, lalu berkata: “Wahai saudaraku, Manshour! Sungguh kalimat ini telah tertutup antara diriku dengannya.” Aku pun berujar: “Laa haula walaa quwwata ilia billahil ‘aliyyil ‘azhiim (Tiada daya dan kekuatan selain milik Allah yang Maha Tinggi lagi Mulia). Wahai saudaraku, di manakah shalat, puasa, dan tahajjud yang sering kamu lakukan itu?”

Ia menjawab: “Aku melakukan semua itu bukan atas nama Allah. Taubatku adalah kebohongan belaka. Aku melakukan semua itu agar aku dikenal orang-orang sebagai ahli ibadah. Sungguh aku telah riya’ (beribadah cuma ingin dilihat oleh orang lain)."

"Pada saat aku tengah sendirian, aku mengunci pintu dan tidak peduli lagi dengan rasa malu, lalu aku menenggak minum-minuman keras. Aku memperlihatkan kemaksiatanku kepada Tuhanku. Kulakukan itu semua selama beberapa lama, hingga akhirnya aku menderita sakit dan dekat dengan kematian."

"Aku berkata kepada puteriku ini: ‘Ambilkanlah aku mushaf AI-Quran, Aku pun lantas berkata dalam hati: ‘Ya Allah, aku bersumpah demi kalimat agung-Mu yang tertuang dalam kitab suci AI-Quran ini, jika Engkau memberiku kesembuhan maka selamanya aku tidak akan kembali lagi kepada perbuatan dosa’. Allah pun menyembuhkan penyakitku."

"Namun setelah sembuh dari penyakitku, justru aku kembali lagi melakukan perbuatan-perbuatan dosa yang sering aku lakukan sebelumnya. Aku menuruti hawa nafsuku dan menikmati kenikmatan yang haram. Setan benar-benar telah membuatku lupa akan janjiku kepada Allah. Aku melakukan hal itu selang beberapa lama hingga akhirnya aku jatuh sakit lagi dan aku merasa sudah dekat dengan kematian."

"Aku pun memerintahkan keluargaku untuk memindahkanku ke ruangan tengah rumahku, sebagaimana aku selalu melakukan hal tersebut. Aku pun kemudian meminta diambilkan mushaf Al-Quran, lalu aku membacanya. Selanjutnya aku mengangkat mushaf tersebut seraya berkata: ‘Ya Allah, demi kehormatan kalimat-kalimat-Mu yang tertulis dalam mushaf yang mulia ini, aku ingin diberi kesembuhan oleh-Mu’."

"Allah pun mengabulkan permintaanku dengan menyembuhkan penyakitku. Namun justru aku kembali lagi melakukan kemaksiatan sebagaimana sebelumnya. Aku pun kembali sakit lagi.
Aku menyuruh keluargaku untuk memindahkanku lagi ke ruangan tengah rumahku seperti yang engkau lihat sekarang ini, lalu aku minta diambilkan mushaf Al-Quran untuk aku baca. Namun ternyata satu huruf pun dari Al Quran tersebut tidak terlihat oleh mataku. Aku tersadar bahwa Allah Ta’ala telah marah kepadaku. Aku pun lantas menengadahkan wajahku ke langit seraya berkata: ‘Ya Allah, Penguasa langit dan bumi, sembuhkanlah Aku!’. Tiba-tiba aku seakan mendengar suara berbicara:

"Sungguh engkau bertaubat dari dosa-dosamu, jika
engkau ditimpa sakit
Lalu engkau kembali kepada perbuatan dosa, setelah sembuh
Seberapa banyak kesulitan, Dia menyelamatkanmu darinya
Dan seberapa sering musibah, Dia melepaskannya darimu
Lalu mengapa engkau menakuti kematianmu?
Padahal engkau telah berlaku licik kepada-Nya."
 
Manshour bin Amman berkata: “Demi Allah, tidaklah aku keluar dari rurnahnya melainkan aku telah memperoleh beberapa ‘ibrah (pelajaran). Belum sempat aku sampai di pintu rumahku, tiba-tiba ada yang memberitahuku bahwa temanku itu telah meninggal.

Sumber: Kisah-Kisah Su’ul Khotimah, Manshur bin Nashir al-’Awaji, penerbit Darussunnah.
http://kisahislam.net/2012/12/10/taubat-bohong-seorang-pemabuk/