Showing posts with label Rasulullah saw. Show all posts
Showing posts with label Rasulullah saw. Show all posts

Thursday, September 5, 2013

Ketika Rasulullah SAW Memberikan Syafaat Kepada Ummatnya di Hari Kiamat

Ini adalah sekelumit “kisah masa depan”, ketika seluruh manusia berkumpul di hari kiamat. Kisah ini disampaikan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya. Dalam kisah itu diceritakan bahwa Allah mengumpulkan seluruh manusia dari yang pertama hingga yang terakhir dalam satu daratan. Pada hari itu matahari mendekat kepada mereka, dan manusia ditimpa kesusahan dan penderitaan yang mereka tidak kuasa menahannya.

Lalu di antara mereka ada yang berkata, “Tidakkah kalian lihat apa yang telah menimpa kita, tidakkah kalian mencari orang yang bisa memberikan syafa’at kepada Rabb kalian?”
 
Yang lainnya lalu menimpali, “Bapak kalian adalah Adam AS.”
 
Akhirnya mereka mendatangi Adam lalu berkata, “Wahai Adam, Anda bapak manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, dan meniupkan ruh kepadamu, dan memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu, dan menempatkanmu di surga. Tidakkah engkau syafa’ti kami kepada Rabb-mu? Apakah tidak kau saksikan apa yang menimpa kami?”
 
Maka Adam berkata, “Sesungguhnya Rabbku pada hari ini sedang marah yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya Dia telah melarangku untuk mendekati pohon (khuldi) tapi aku langgar. Nafsi nafsi (aku mengurusi diriku sendiri), pergilah kalian kepada selainku, pergilah kepada Nuh AS.”
 
Lalu mereka segera pergi menemui Nuh AS dan berkata, “Wahai Nuh, engkau adalah Rasul pertama yang diutus ke bumi, dan Allah telah memberikan nama kepadamu seorang hamba yang bersyukur (abdan syakuro), tidakkah engkau saksikan apa yang menimpa kami, tidakkah engkau lihat apa yang terjadi pada kami? Tidakkah engkau beri kami syafa’at menghadap Rabb-mu?”
 
Maka Nuh berkata, “Sesungguhnya Rabbku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Sesungguhnya aku punya doa, yang telah aku gunakan untuk mendoakan (celaka) atas kaumku. Nafsi nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Ibrahim AS!”
 
Lalu mereka segera menemui Ibrahim dan berkata, “Wahai Ibrahim, engkau adalah Nabi dan kekasih Allah dari penduduk bumi, syafa’atilah kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang menimpa kami?”
 
Maka Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya, dan sesungguhnya aku telah berbohong tiga kali. Nafsi nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Musa AS!”
 
Lalu mereka segera pergi ke Musa, dan berkata, “Wahai Musa, engkau adalah utusan Allah. Allah telah memberikan kelebihan kepadamu dengan risalah dan kalam-Nya atas sekalian manusia. Syafa’atilah kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”
 
Lalu Musa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan pernah marah seperti ini sesudahnya. Dan sesungguhnya aku telah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya. Nafsi nafsi, pergilah kalian kepada selainku, pergilah kalian kepada Isa AS!”
 
Lalu mereka pergi menemui Isa, dan berkata, “Wahai Isa, engkau adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang dilontarkan kepada Maryam, serta ruh dari-Nya. Dan engkau telah berbicara kepada manusia semasa dalam gendongan. Berilah syafa’at kepada kami kepada Rabb-mu! Tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”
 
Maka Isa berkata, “Sesungguhnya Rabb-ku pada hari ini sedang marah dengan kemarahan yang tidak pernah marah seperti ini sebelumnya, dan tidak akan marah seperti ini sesudahnya. Nafsi nafsi, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Muhammad SAW!”
 
Akhirnya mereka mendatangi Muhammad SAW, dan berkata, “Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang. Syafa’atilah kami kepada Rabb-mu, tidakkah kau lihat apa yang kami alami?”
 
Lalu Nabi Muhammad SAW pergi menuju bawah ‘Arsy. Di sana beliau bersujud kepada Rabb, kemudian Allah membukakan kepadanya dari puji-pujian-Nya, dan indahnya pujian atas-Nya, sesuatu yang tidak pernah dibukakan kepada seorangpun sebelum Nabi Muhammad. Kemudian Allah SWT berkata kepada Muhammad, “Wahai Muhammad, angkat kepalamu, mintalah, niscaya kau diberi, dan berilah syafa’at niscaya akan dikabulkan!”
 
Maka Muhammad SAW mengangkat kepalanya dan berkata, “Ummatku wahai Rabb-ku, ummatku wahai Rabb-ku, ummatku wahai Rabb-ku!”
 
Lalu disampaikan dari Allah kepadanya, “Wahai Muhammad, masukkan ke surga di antara umatmu yang tanpa hisab dari pintu sebelah kanan dari sekian pintu surga, dan mereka adalah ikut memiliki hak bersama dengan manusia yang lain pada selain pintu tersebut dari pintu-pintu surga.”
 
***
 
Di dalam kisah ini, Rasulullah SAW juga menceritakan bahwa lebar jarak antara kedua sisi pintu surga itu, bagaikan jarak Makkah dan Hajar, atau seperti jarah Makkah dan Bushro. Hajar adalah nama kota besar pusat pemerintahan Bahrain. Sedangkan Bushro adalah kota di Syam. Bisa kita bayangkan, betapa tebalnya pintu-pintu surga itu..
 
Itulah sekelumit kisah masa depan ketika hari kiamat. Pada hari itu, Rasulullah SAW memberi syafa’at kepada ummatnya. Pada hari itu Rasulullah SAW menjadi sayyid (tuan)nya manusia. Shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW. (hudzaifah)
 
Maraji’ : Hadits Riwayat Bukhari – Muslim.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2009/09/25/3999/ketika-rasulullah-saw-memberikan-syafaat-kepada-ummatnya-di-hari-kiamat/#ixzz2dzFngYLI
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Saturday, July 6, 2013

Meminta Akhirat

Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW melihat semangat dan kesungguhan Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami dalam membantu dan melayani keperluan beliau, Rasulullah bersabda, “Mintalah kepadaku wahai Rabi’ah! Niscaya aku akan memberimu.”

Mendengar tawaran itu, Rabi’ah lalu menjawab, “Aku akan berpikir dahulu wahai Rasulullah! Nanti aku akan memberitahukannya kepadamu.”

Maka, Rabi’ah pun berpikir apa yang hendak ia minta dari sang kekasih Allah tersebut. Sudah barang tentu semua yang dipinta dapat dipenuhi Rasulullah, baik itu urusan yang bersifat dunia maupun urusan akhirat kelak. Karena, Rasulullah sangat dimuliakan Allah SWT sehingga doa dan permintaannya akan dikabulkan.

Dalam benak Rabi’ah, jika ia meminta dunia, itu sungguh sesuatu yang hanya bersifat sementara. Semua yang ada di dalamnya fana dan pasti akan lenyap dalam sekejap mata.

Dan sesungguhnya selama hidup di dunia ini, Allah telah memberi rezeki yang cukup dan selalu mendatangi siapa pun hamba-Nya yang memerlukan.

Setelah merenung dan terus memikirkannya, Rabi’ah mencapai suatu tekad untuk meminta akhirat. Ia menemui Rasulullah untuk menyampaikan permintaannya. Tatkala Rasulullah didatangi Rabi’ah, beliau bertanya, ”Apakah yang telah kamu perbuat wahai Rabi’ah?”

Rabi’ah Menjawab, “Wahai Rasulullah, aku meminta kepadamu agar engkau sudi memberi syafaat kepadaku di sisi Rabbmu, agar Dia membebaskanku dari api neraka.” Mendengar permohonan Rabi’ah itu, Rasulullah kembali bertanya, “Siapakah kiranya yang telah menyuruhmu untuk meminta hal ini?”

Rabi’ah menjelaskan, tidak ada seorang pun yang menyuruhnya meminta demikian. Permintaan itu lahir setelah ia berpikir dan merenungi jika segala yang ada di dunia ini hanyalah bersifat sementara.

Rabi’ah hanya meminta Rasulullah yang kedudukannya begitu mulia di sisi Allah, berkenan mendoakannya agar selamat di akhirat yang abadi.

Mendengar penjelasan Rabi’ah, Rasulullah berdiam sejenak lalu bersabda, “Aku akan memenuhi permintaanmu, bantulah aku atas dirimu dengan engkau banyak-banyak bersujud (banyak melaksanakan shalat).” (Sebagaimana diriwayatkan oleh sang pelaku sejarah Imam Ahmad bin Hanbal).

Subhanallah … itulah yang dipinta Rabi’ah ketika mendapat kesempatan emas. Seandainya ia meminta jabatan, harta, dan kesenangan dunia, pasti Rasulullah tetap berupaya memberikannnya.

Sebaliknya, kesempatan emas yang belum tentu didapatkan setiap manusia itu, Rabi’ah gunakan untuk mempersiapkan kehidupannya di akhirat.

Ia meminta agar selamat dari api neraka dan menikmati indahnya surga yang abadi. Demikianlah sekiranya kita yang mengaku sebagai umat Rasulullah, jika ada tawaran dari pemimpin kita atau dari siapa pun yang itu bersifat duniawi bahkan penuh dengan konspirasi. Sepatutnya kita menolak tanpa ragu.

Sungguh, segala kenikmatan di dunia ini, sejatinya banyak berupa jebakan setan, yang dapat menjerumuskan umat manusia ke dalam neraka. Mari berhati-hati dan selalu meminta keselamatan akhirat yang abadi.
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/06/25/moxuy3-meminta-akhirat

Tuesday, August 28, 2012

Sekelumit Aksi di Sepenggal Episode Cinta

dakwatuna.com - Sudah cukup lama Bilal bin Rabah tak mengumandangkan adzan lagi, pasca meninggalnya orang yang ia cinta. Rasulullah SAW.
 
Hingga suatu ketika Khalifah Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan. Mungkin sang Khalifah pun rindu, seperti halnya rindu para penduduk Madinah terhadap lantunan merdu suara adzan Bilal.
Bilal pun menjawab “Jika dahulu tuan memerdekakan saya untuk kepentingan tuan, maka saya bersedia adzan. Tapi jika dahulu tuan memerdekakan saya karena Allah SWT, maka izinkan saya melakukan apa yang saya mau.”

“Saya memerdekakan engkau karena Allah” jawab sang Khalifah.

Bilal bin Rabah adalah mantan budak Bani Umayyah yang telah Abu Bakar merdekakan. Tapi begitulah adanya cinta Bilal. Penolakannya terhadap pinta Abu Bakar dan tidak berkumandangnya lagi lantunan adzan dari lisannya pasca Rasul wafat, bukan karena ia tak cinta…
 
###
 
Suatu malam Bilal bermimpi bersua dengan Rasulullah. Dalam mimpinya, Rasul berkata padanya, “Wahai Bilal, lama sekali kita berpisah.aku rindu padamu.”

Kata-kata Rasulullah begitu padat dan sarat makna; “Aku rindu padamu”. Menggambarkan kerinduan yang begitu mendalam. Seakan tak ada lagi kata yang tepat untuk melukiskan rasa rindu Rasul selain kata rindu itu sendiri.

Bilal pun menjawab “Ya Rasulullah, saya juga rindu pada Tuan.”

Hati Bilal begitu bahagia tak terperi dapat memandang wajah teduh sang manusia agung yang sangat ia cinta.

Keesokan pagi, Bilal bercerita pada salah seorang sahabatnya perihal mimpi semalam. Dalam kurun waktu yang singkat, cerita itu telah menyebar ke seantero penjuru Madinah. Madinah pun kembali berselimut duka, seolah Rasul baru saja wafat. Setiap jiwa merasa rindu, ingin bernostalgia. Mengingat kembali hari-hari ketika mereka bersama sang Rasul, orang yang mereka cinta.

Para sahabat ingin obat kerinduan mereka menjadi paripurna. Maka para sahabat pun bersepakat meminta Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Awalnya Bilal menolak. Tapi karena bersikerasnya para sahabat meminta, akhirnya Bilal pun menyanggupinya.

Suara adzan Bilal terdengar begitu syahdu. Seluruh penduduk di sepenjuru Madinah pun khusyu’ berlinang air mata. Saat itu mereka membayangkan seolah Rasul ada, membersamai mereka. Obat rindu mereka paripurna-lah sudah…

Pasca peristiwa yang mengharu biru itu, Bilal memutuskan untuk hijrah. Syiria adalah tempat yang ia pilih. Hijrahnya Bilal karena ia ingin menjauh dari makam Rasul dengan keluar dari Madinah.

Bilal adalah salah seorang sahabat yang telah Rasul jamin masuk surga. Tapi begitulah adanya cinta Bilal. Hijrahnya ke Syiria untuk menjauh dari makam Rasul bukan karena ia tak cinta…
 
###
 
Ada sejumput pelajaran yang berharga dari aksi cinta dalam kisah Bilal;

Tak berkumandangnya bait-bait nada cinta dari lisan kita pada dia yang tercinta tapi belum jadi mahrom kita, bukan karena tak cinta… tapi karena kita harus menjaga cinta, agar tak ada yang tergores duka. Agar kita tak terluka…

Mungkin itu pula yang Bilal ingin lakukan, hingga ia tak mau lagi mengumandangkan ‘dawai cinta’ (adzan) pasca wafatnya orang yang ia cinta, Rasulullah. Hingga ia pun harus menahan lisannya yang mungkin sebenarnya pun rindu mengumandangkan ‘dawai cinta’. Karena ia tak ingin dirinya beserta penduduk Madinah tergores duka karena rindu pada Baginda Rasul…

Hijrahnya kita (menjauh) dari tempat di mana orang yang kita cinta berada, bukan karena tak cinta… Tapi karena kita harus menjaga cinta, agar kemurniannya terjaga. Karena ketika kita berada pada tempat atau ranah yang sama, mungkin akan terasa sangat sulit menjaga niat-niat kita. Khawatir jikalau niat kita akan mudah terkontaminasi oleh riya, sum’ah atau penyakit hati lainnya.

Bilal pun hijrah. Tapi hijrah Bilal pasti bukan karena tak cinta.., tapi karena ia tak kuasa menahan rasa cinta yang berbuah rindu hendak jumpa, yang semakin bergelayut manja pada relung jiwa. Rindu pada orang yang ia cinta, Rasul yang mulia…

###

Inilah sepenggal aksi ‘tutup mulut’ dan ‘walkout’ Bilal, yang ia lakukan agar tak tergores duka karena buah cinta menghadirkan rindu yang menghujam jiwa…

Tentulah kisah cinta Bilal jauh beda dengan cinta kita… Kisahnya serupa, tentang cinta. Tapi tak sama..

Cinta Bilal sungguh mulia, karena tertuju untuk insan mulia. Rasulullah SAW. Sedang cinta kita tertuju pada seorang pria yang belum tentu jodoh kita.

Jika saja cinta mulia Bilal dapat ia manajemen dengan baik agar tak dirundung pilu, maka sudah sepatutnya cinta kita yang sangat semu dapat kita manage dengan baik agar tetap ridha Allah yang diharap, yang dituju…

Selamat belajar untuk me-manage cinta menjadi aksi nyata untuk meraih Ridha-Nya, di sepenggal episode cinta…

Oleh: Anisa Prasetyo Ningsih
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/08/22453/sekelumit-aksi-di-sepenggal-episode-cinta/#ixzz24o5tasta

Thursday, August 9, 2012

Jadilah yang Terkuat di Dunia…!

Umumnya saat kita ditanya tentang apakah hewan terkuat di dunia, maka jawaban yang sering kita berikan adalah Gajah. Ini sangat wajar karena kebanyakan kita lebih fokus pada tubuh yang besar dan otot yang kuat. Tapi tahukah Anda bahwa Gajah Afrika hanya mampu mengangkat beban dengan proporsi 25% dari total berat badannya…? Coba kita bandingkan dengan kemampuan seekor hewan kecil bernama Kumbang Badak (The rhinoceros beetle). Kumbang ini mampu membawa beban seberat 850 kali dari total berat badannya…! Subhanallah…!

Dengan kata lain, kemampuan makhluk kecil ini adalah 3.400 kali dari kemampuan Gajah yang kita anggap perkasa itu. Wah…ternyata indikator kuat itu tidak sesempit yang kita kira kan…!?

Kenyataan di atas secara eksplisit memberikan kita gambaran bahwa ternyata indikator kuat-tidaknya makhluk tidak hanya terletak pada besar kecilnya otot saja.

Dalam dinul Islam, salah satu indikator kuat-tidaknya seseorang diterjemahkan dalam kemampuan seseorang menahan amarah.

Rasulullah Saw bersabda: Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain disebutkan:
Dari Ibnu Mas’ud RA Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang dikatakan paling kuat di antara kalian? Sahabat menjawab: yaitu di antara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda: “Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.” (HR. Muslim)

Sahabatku, sebagaimana sedih, gembira, takut, khawatir, dan lupa maka marah juga sifat yang dimiliki oleh setiap manusia sebagai anugerah dari Allah SWT. Maka tidak salah bila seorang hamba memiliki sifat ini. Penting untuk kita ingat bahwa kita tidak diperintahkan untuk menghapus sifat yang sudah menjadi sunnatullah pada diri manusia ini, melainkan kita diperintahkan untuk bisa mengendalikannya sehingga saat sesuatu yang menyebabkan marah itu datang kita tetap tidak menuruti keinginan untuk melampiaskan amarah itu. Maka benar sekali ketika Rasulullah SAW mengajarkan kita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh “Dari Abu Hurairah RA, bahwa seseorang berkata kepada Nabi Saw: berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda:Jangan menjadi seorang pemarah”. Kemudian diulang-ulang beberapa kali. Dan beliau bersabda: “Janganlah menjadi orang pemarah” (HR. Bukhari).

Jauh sebelum menyampaikan hadits ini kepada kita, Rasulullah SAW sudah mengamalkan hal ini pada diri beliau sendiri. Tentu kita tahu bagaimana beliau bersikap ketika diludahi, dilempar dengan kotoran unta atau setiap hari dihina oleh seorang wanita buta, apa yang baginda rasul lakukan…? Bukannya marah malah memaafkan dan menyuapi wanita buta itu dengan makanan hingga akhir hayat beliau, dan akhirnya si wanita buta itu beriman kepada Allah. Subhanallah… bukankah ini adalah akhlak yang mulia…?!

Pernah seorang pasien bertanya kepada saya; “Pak dokter, bukankah orang yang sakit hati atau kecewa lalu ia sangat ingin marah tapi dia menahan amarahnya dan dipendamnya dalam hati, justru akan berbahaya? Bila terus menerus terjadi dan marah itu tidak dia lampiaskan tapi dipendam saja dalam hati, dia akan stress dan terganggu malahan bisa jiwanya…??“

Saya menjawab; “Iya bapak benar sekali, dalam ilmu psikologi itu memang sangat mungkin terjadi tapi Allah SWT sudah menjelaskan dan memberi solusi pencegahan supaya stress itu tidak terjadi pada hambaNya. Mari sejenak kita lihat Firman Allah dalam Al Qur’an, surat Ali Imran: 133-134
'Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imran: 133-134)'"

Sahabatku, Secara psikis, seseorang yang hanya menahan amarah saja tentu lama kelamaan bisa menimbulkan stress, apalagi kalau kekesalan, kekecewaan dan sakit hati itu terjadi berulang kali dan diingat terus menerus. Dalam ayat di atas Allah SWT sudah menjelaskan bahwa “menahan amarah harus selalu diikuti dengan memaafkan kesalahan orang“. Bila sudah bisa menahan amarah dan mampu dengan ikhlas memaafkan kesalahan orang yang menyakiti hati kita itu maka dengan sendirinya jiwa kita akan melupakan kesalahannya, lega dan terasa tenteram. Tidak ada stress dan sakit hati lagi setelah itu karena kita sudah memaafkannya. Mari kita jadikan ini sebagai satu paket akhlak yang harus kita miliki, yaitu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Masih mempelajari ayat di atas, ternyata tidak tanggung-tanggung Allah SWT menyebutkan menahan amarah itu sebagai salah satu ciri-ciri orang yang bertaqwa. Artinya, orang yang kuat ialah orang yang mampu menahan amarahnya, orang yang mampu menahan amarah ialah orang yang bertaqwa maka dalam penilaian Allah SWT orang yang bertaqwa itu adalah orang yang sesungguhnya paling kuat.

Memang dalam prakteknya, menahan amarah itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi menahan amarah pada saat kita punya peluang untuk menyalurkannya. Padahal tantangannya justru terletak di situ. Kalau tiba-tiba kita dibuat marah oleh seseorang lalu kita tidak marah tapi ternyata seseorang itu adalah professor kita…, maka itu tidak mencerminkan kemampuan menahan amarah melainkan peluang untuk marah memang sempit sekali. Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Anas Al Juba’i, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang mampu menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.” (HR. Ahmad dengan sanad Hasan)

Sahabatku…. ada pertanyaan menarik yang perlu kita jawab bersama:
  1. Sudahkah kita bisa menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang dalam keseharian kita selama ini..?
  2. Inginkah kita menjadi orang yang terkuat di mata Allah dan rasul-Nya…?
  3. Maukah kita digolongkan menjadi hamba-hamba Allah yang bertaqwa…?
  4. Sukakah kita disuruh memilih bidadari yang kita mau saat di surga nanti…?
Mari kita jawab dalam hati masing-masing dengan tekad dan kerinduan akan Ridha Allah yang Maha Rahman dan Rahim…
Wallahu’alam.

Oleh: dr. Ichsan, MSc.
(Abirifqi)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/08/22302/jadilah-yang-terkuat-di-dunia/#ixzz230xAGJRd

Mengenal Ciri-ciri dan Pribadi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam



Kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

1. Allah Ta’ala berfirman:
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan mereka Al Kitab dan Al Hikmah dan sebelum itu, mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran:164)
2. Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: “Sesungguhnya saya ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa.” (QS. Al Kahfi:11)

3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang puasa pada hari Senin. Beliau menjawab: “Pada hari itulah aku dilahirkan, lalu diangkat menjadi Rasul dan diturunkan Al-Qur’an kepadaku.” (HR. Muslim)

4. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan pada hari Senin bulan Rabi’ul Awal di Makkah Al Mukarramah tahun Al Fiil (571 M), berasal dari kedua orang tua yang sudah ma’ruf. Bapaknya bernama Abdullah bin Abdul Muthallib dan ibunya bernama Aminah binti Wahb. Kakek beliau memberinya nama Muhammad. Bapak beliau meninggal dunia sebelum kelahirannya.

5. Sesungguhnya termasuk kewajiban seorang muslim adalah hendaknya dia mengetahui kedudukan Rasul yang mulia ini, berhukum dengan Al Qur’an yang diturunkan kepadanya, berakhlak dengan akhlaknya serta mengutamakan dakwah kepada Tauhid yang mana risalahnya dimulai dengannya sesuai firman Allah Ta’ala:
“Katakan: Sesungguhnya saya hanya menyembah Rabbku dan saya tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya.” (QS. Al-Jin:20)

Nama dan Garis keturunan (Nasab) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

1. Allah Ta’ala berfirman:
“Muhammad adalah Rasulullah.” (QS. Al Fath:29)
2. Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Saya memiliki lima nama: Saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi yang Allah menghapus kekufuran denganku, saya Al-Hasyir yang manusia dikumpulkan di atas kedua kakiku, dan saya Al-’Aqib yang tidak ada Nabipun setelahnya.” (Muttafaq ‘Alaih)
Dan Allah menamakannya dengan “Raufur Rahim”
3. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenalkan dirinya kepada kita dengan beberapa nama: “Saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al Muqaffy (Nabi terakhir) dan Al Hasyir, saya Nabi At Taubah, Nabi Ar Rahman.” (HR. Muslim )
4. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidaklah kamu heran bagaimana Allah memalingkan dari saya cacian orang-orang Quraisy dan laknat mereka? Mereka mencaci dan melaknat saya (dengan sesuatu) yang sangat tercela, dan saya adalah Muhammad.” (HR. Bukhari )
5. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :
“Sesungguhnya Allah telah memilih dari keturunan Ismail Kinayah, dan dari Kinayah Allah memilih Quraisy, dari Quraisy Allah memilih bani Hasyim, dan dari bani Hasyim Allah memilih saya.” (HR. Muslim )
6. Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya:
“Namailah diri kalian dengan nama-nama saya, tapi janganlah kalian berkuniah (mengambil gelar) dengan kuniah saya. Karena sesungguhnya saya adalah Qasim sebagai pembagi diantara kalian.” (HR. Muslim )

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Seolah-olah kamu melihatnya

1. Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling tampan wajahnya, paling bagus bentuk penciptaannya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. (Muttafaq ‘Alaih)

2. Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkulit putih dan berwajah elok. (HR. Muslim)

3. Bahwasanya badan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, dadanya bidang, jenggotnya lebat, rambutnya sampai ke daun telinga, saya (Shahabat-pent) pernah melihatnya berpakaian merah, dan saya tidak pernah melihat yang lebih indah dari padanya. (HR. Bukhari)

4. Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepalanya besar, demikian juga kedua tangan dan kedua kakinya, serta tampan wajahnya. Saya (Shahabat-pent) belum pernah melihat orang yang seperti dia, baik sebelum maupun sesudahnya. (HR. Bukhari)

5. Bahwasanya wajah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bundar bagaikan Matahari dan Bulan. (HR. Muslim)

6. Bahwasanya apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam gembira, wajahnya menjadi bercahaya seolah-olah seperti belaian Bulan, dan kami semua mengetahui yang demikian itu. (Muttafaq ‘Alaih)

7. Bahwasanya tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa kecuali dengan senyum, dan apabila kamu memandangnya maka kamu akan menyangka bahwa beliau memakai celak pada kedua matanya, padahal beliau tidak memakai celak. (Hadits Hasan, Riwayat At Tirmidzi)

8. Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: “Tidak pernah saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa terbahak-bahak sehingga kelihatan batas kerongkongannya. Akan tetapi tertawa beliau adalah dengan tersenyum.” (HR. Bukhari)

9. Dari Jabir bin Samrah Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada bulan purnama. Saya memandang beliau sambil memandang bulan. Beliau mengenakan pakaian merah. Maka menurut saya beliau lebih indah daripada bulan.” (Dikeluarkan At Tirmidzi, dia berkata Hadits Hasan Gharib. Dan dishahihkan oleh Al Hakim serta disetujui oleh Adz-Dzahabi)

10. Dan betapa indahnya ucapan seorang penyair yang mensifati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sya’irnya:
“Si Putih diminta memohon hujan dari awan dengan wajahnya.
Si Pemberi makan anak-anak yatim dan pelindung para janda.”
Sya’ir ini berasal dari kalamnya Abu Thalib yang disenandungkan oleh Ibnu Umar dan yang lain. Ketika itu kemarau melanda kaum muslimin, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memohon hujan untuk mereka dengan berdo’a: Allahummasqinaa (Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami), maka turunlah hujan. (HR. Bukhari)
Adapun makna dan sya’ir tersebut adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang disifati dengan Si Putih diminta untuk menghadapkan wajahnya yang mulia kepada Allah dan berdo’a supaya diturunkan hujan kepada mereka. Hal itu terjadi ketika beliau masih hidup, adapun setelah kematian beliau maka Khalifah Umar bin Al Khathab bertawasul dengan Al Abbas agar dia berdo’a meminta hujan dan mereka tidak bertawasul dengan beliau.

Cap Kenabian Beliau

1. Dari Jabir bin Samrah Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya pernah melihat cap kenabian diantara kedua bahu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , (cap itu berbentuk) gondok merah seperti telur burung dara yang menyerupai warna jasadnya.” (HR. Muslim)

2. Dari Abdullah bin Sarjas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saya (juga) telah menemuinya, makan makanannya, minum minumannya, dan saya pernah melihat cap kenabian di punuk pundaknya sebelah kiri, di atas cap kenabian tersebut terkumpul tahi lalat semisal kutil.” (HR. Muslim)

3. Dari Al Ja’du bin Abdur Rahman berkata: “Saya mendengar As Sa’ib bin Yasid berkata: “Bibi saya pergi membawa saya ke Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , kemudian berkata: Wahai Rasulullah , sesungguhnya anak keponakan saya ini kurang sehat. Maka beliau mengusap kepala saya dan mendoakan keberkahan buat saya. Lalu beliau berwudhu, dan saya meminum air wudhu beliau. Kemudian saya berdiri di belakang punggungnya. Saya melihat cap kenabian di antara kedua bahunya seperti telur burung puyuh.” (Mutafaq ‘Alaih)

Keharuman aroma badan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

1. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mempunyai warna kulit yang bersih, keringatnya seperti mutiara, apabila berjalan beliau mendorongkan badannya ke depan. Belum pernah saya menyentuh sutra bergambar yang lebih lembut dari tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam . Dan saya belum pernah mencium minyak wangi dari Misk maupun Ambar yang lebih harum dari baunya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam .” (Mutafaq ‘Alaih)

2. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi pernah mengunjungi kami, kemudian beliau tidur siang sehingga berkeringat. Datanglah ibu saya dengan membawa sebuah botol. Kemudian beliau mengalirkan keringat beliau ke botol tersebut, sehingga Nabi terbangun dan bertanya: Wahai Ummu Sulaim, apa yang kamu lakukan? Ibu saya menjawab: Keringatmu ini akan kami jadikan sebagai parfum. Karena dia merupakan parfum yang paling wangi.” (HR. Muslim)

3. Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikenal dengan keharuman bau bila bersua. (Disahihkan oleh Al-Albani di Shahih Al Jami’)

4. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu , bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah menolak bila diberikan minyak wangi. (HR. Bukhari)

5. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya: “Sebaik-baik minyak wangi adalah Misk.” (HR. Muslim)

(Dinukil dari: Mengenl Pribadi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , Penulis: Syaikh Muhammad Jamil Zainu. Alih bahasa: Mukhlish Zuhdi. Penerbit Yayasan Al-Madinah, Shafar 1419 H, hal. 11-16, 22-23)

Wednesday, August 8, 2012

Aisyah, Keutamaannya dan Keluasan Ilmunya

Beliau, Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq,atau juga biasa dipanggil dengan al-Shiddiqiyah yang dinisbatkan kepada al-Shiddiq yaitu orang tuanya sendiri Abu Bakar, kekasih Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.Seorang wanita mulia dan istimewa di mana sebagian dari ilmu agama kita ini bersumber darinya. Begitu banyak keutamaan dan kemuliaan yang dimilikinya, semoga Allah meridhainya dan mengumpulkannya dengan kekasihnya yang paling dicintainya yaitu Nabi kita Muhammad Shalallahu alaihi wassalam.

Semoga setelah membaca kisah ini hati kita akan tersentuh dan semakin menambah rasa cinta kita kepada istri-istri Beliau. Beberapa keutamaannya tidak dapat dihitung dengan jari sehingga hanya sebagian kecil yang dapat dipaparkan di sini, di antarnya adalah sebagai berikut:

1. Kecintaan Rasulullah kepadanya melebihi kecintaannya kepada istri-istri beliau yang lainnya yang semuanya ada 9 orang. Pada suatu ketika Rasulullah ditanya, “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Maka beliau menjawab, “Aisyah.” Hal ini didasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Amr bin ‘Ash, di mana dia datang kepada Nabi seraya bertanya,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab,”Aisyah.” Kemudian Amr bin Ash bertanya, ”Siapakah orang lelaki yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, ”Bapaknya (Abu Bakar).” Dia bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab,”Umar ”, yakni Ibnu Al Khaththab, semoga Allah meredhai semuanya.

2. Malaikat menyampaikan salam untuknya bukan hanya sekali. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim darinya (Aisyah), di mana Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya Jibril telah mengucapkan salam untukmu.” Maka aku menjawab, ”Alaihis as-Salam.”

3. Allah telah menurunkan ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan pembebasan dirinya dari tuduhan dusta sebanyak sepuluh ayat dalam surat An-Nuur, di mana di dalamnya Allah menjelaskan bahwa laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik, dan beliau tergolong wanita yang baik, membebaskan mereka dari tuduhan orang-orang yang menyebarkan tuduhan dusta itu, dan memberi kabar gembira bahwa bagi mereka surga, sebagaimana Aallah berfirman, ”... dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula. Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).“ An-Nuur:26.

4. Pada saat Rasulullah sakit, beliau minta untuk tinggal di kamarnya (aisyah), sehingga dia dapat mengurusnya sampai Allah memanggil ke hadirat-Nya (wafat). Karena itulah, maka Rasulullah meninggal di rumah Aisyah, di mana beliau meninggal dalam pangkuan dan dekapannya. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan darinya (Aisyah), dia berkata: ”Allah mewafatkan Rasulullah di mana kepala beliau berada di antara paru-paruku dan bagian atas dadaku, sehingga air liur beliau bercampur dengan air liurku.” Bagaimana hal itu bisa terjadi, Abdurrahman saudara laki-laki Aisyah masuk ke rumah mereka, di mana ketika itu dia membawa siwak (alat penggosok gigi), lalu Rasulullah melihatnya. Aisyah memahaminya bahwa beliau ingin bersiwak, dan dia mengambil siwak dari Abdurrahman dan melembutkannya, lalu Rasulullah bersiwak dengannya. Setelah Rasulullah meninggal, maka siwak itu dipakai Aisyah. Inilah pengertian yang dimaksud dengan “air liur beliau bercampur dengan air liurku.”

5. Berdasarkan sabda Rasulullah, ”Keutamaan Aisyah ataas wanita yang lainnya bagaikan keutamaan tsarid (roti yang dibubuhkan dan dimasukkan ke dalam kuah) atas makanan-makan yang lainnya.”
Berkenaan dengan keluasan dan keunggulan ilmunya, tidak ada seorang ulamapun yang mengingkarinya. Banyak kesaksian dan pengakuan yang dikemukakan para ulama berkenaan dengan kredibilitas keilmuwan Aisyah. Hal ini menunjukkan betapa luas dan mumpuninya ilmu yang dimilikinya. Di bawah kesaksian empat pakar ilmu pengetahuan dari kalangan ulama terdahulu:

1. Kesaksian putra saudara perempuannya (keponakannya) Urwah bin Zubeir tentang kredibilitas dan keunggulan ilmu yang dimiliki oleh Aisyah, sebagaimana yang diriwayatkan putranya Hisyam, ”Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pintar dalam ilmu fiqh (agama), kedokteran dan syair selain Aisyah."

2. Kesaksian Az-Zuhri yang juga berkenaan dengan kredibilitas dan keunggulan ilmu yang dimiliki Aisyah, seraya berkata, ”Seandainya diperbandingkan antara ilmu Aisyah denan ilmu seluruh istri Nabi dan ilmu seluruh wanita, niscaya ilmu Aisyah jauh lebih unggul.”

3. Kesaksian Masruq berkenaan dengan ilmu yang dimiliki Aisyah yang berkenaan dengan masalah faraidh, sebagaimana yang terungkap dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Darda darinya seraya berkata, “Aku melihat para syeikh dari kalangan sahabat Rasulullah bertanya kepada Aisyah tentang faraidh (ilmu waris)"

4. Kesaksian Atha’ bin Rabah, di mana ketika Allah berfirman, maka Aisyah merupakan orang yang paling faham, paling mengetahui dan paling bagus pendapatnya dibandingkan dengan yang lainnya secara umum.

5. Kesaksian Zubeir bin Awwam, di mana dia berkata sebagaimana hal ini telah diriwayatkan putranya Urwah, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pintar tentang Al-Qur’an , hal-hal yang difardhukan, halal dan haram, syair, cerita Arab dan nasab (silsilah keturunaan) selain Aisyah."

Dengan mengemukakan lima kesaksian yang dipaparkan oleh para ulama besar dari kalangan sahabat dan tabi’in cukuplah sebagai bukti yang menunjukkan kredibilitas dan keunggulan ilmu yang dimiliki oleh Aisyah dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki oleh para Sahabat Rasulullah dan para tabi’in lainnya.

Aisyah meninggal pada bulan Ramadhan yang agung tepat pada tanggal 17 Ramadhan, pada usia 66 tahun, dan dimakamkan di Al-Baqi’ kawasan pemakaman yang terletak di kota Madinah. Hal ini sesuai dengan wasiatnya, di mana beliau berwasiat agar dimakamkan di temnpat pemakaman istri-istri Rasulullah. Semoga Allah meridhainya .

Sumber:
Ilmu dan Ulama Pelita Kehidupan Dunia dan Akhirat, Pustaka Azzam.
http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/05/aisyah-keutamaannya-dan-keluasan.html

Friday, August 3, 2012

Pahala Melimpah di Balik Memberi Makan Berbuka

Bulan Ramadhan benar-benar kesempatan terbaik untuk beramal. Bulan Ramadhan adalah kesempatan menuai pahala melimpah. Banyak amalan yang bisa dilakukan ketika itu agar menuai ganjaran yang luar biasa. Dengan memberi sesuap nasi, secangkir teh, secuil kurma atau snack yang menggiurkan, itu pun bisa menjadi ladang pahala. Maka sudah sepantasnya kesempatan tersebut tidak terlewatkan.

Inilah janji pahala yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan,
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”[1]

Al Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa memberi makan buka puasa di sini boleh jadi dengan makan malam, atau dengan kurma. Jika tidak bisa dengan itu, maka bisa pula dengan seteguk air.[2]

Ath Thobari rahimahullah menerangkan, “Barangsiapa yang menolong seorang mukmin dalam beramal kebaikan, maka orang yang menolong tersebut akan mendapatkan pahala semisal pelaku kebaikan tadi. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar bahwa orang yang mempersiapkan segala perlengkapan perang bagi orang yang ingin berperang, maka ia akan mendapatkan pahala berperang. Begitu pula orang yang memberi makan buka puasa atau memberi kekuatan melalui konsumsi makanan bagi orang yang berpuasa, maka ia pun akan mendapatkan pahala berpuasa.”[3]
Sungguh luar biasa pahala yang diiming-imingi.

Di antara keutamaan lainnya bagi orang yang memberi makan berbuka adalah do’a dari orang yang menyantap makanan berbuka. Jika orang yang menyantap makanan mendoakan si pemberi makanan, maka sungguh itu adalah do’a yang terkabulkan. Karena memang do’a orang yang berbuka puasa adalah do’a yang mustajab. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
 
Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.”[4] Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.[5]

Apalagi jika orang yang menyantap makanan tadi mendo’akan sebagaimana do’a yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam praktekkan, maka sungguh rizki yang kita keluarkan akan semakin barokah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,
اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى
 
Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku][6]

Tak lupa pula, ketika kita hendak memberi makan berbuka untuk memilih orang yang terbaik atau orang yang sholih. Carilah orang-orang yang sholih yang bisa mendo’akan kita ketika mereka berbuka. Karena ingatlah harta terbaik adalah di sisi orang yang sholih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada ‘Amru bin Al ‘Ash,
يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ
 
Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta di tangan hamba yang Shalih.”[7]

Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga.[8] Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »
 
Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.”[9]
Seorang yang semangat dalam kebaikan pun berujar, “Seandainya saya memiliki kelebihan rizki, di samping puasa, saya pun akan memberi makan berbuka. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Sungguh pahala melimpah seperti ini tidak akan saya sia-siakan. Mudah-mudahan Allah pun memudahkan hal ini.”
Lalu bagaimanakah dengan Saudara?
 
Disusun di hari penuh berkah, Panggang-GK, 4 Sya’ban 1431 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2012/07/pahala-melimpah-di-balik-memberi-makan.html

Thursday, August 2, 2012

Dan Pohon-Pohon itupun Berjalan

Apakah sahabat percaya, ada sebuah pohon yang mampu berjalan? Atau malah sahabat pernah menyaksikannya sendiri, di mana pohon-pohon itu berjalan di hadapan kita, melenggak-lenggok layaknya ditiup angin kencang? Ehmm, sepertinya mustahil yach. It’s impossible to think about that, may be. Tidak masuk akal. Kalau bergerak, pasti. Tapi kalau berjalan…???? Gak yakin dech. Baiklah kalau begitu. Saya tanya lagi, Saudara penggemar film drama dan fantasi? Jika saudara adalah penggemar film ber genre ini, tentu tidak asing dengan film Harry Potter dan Narnia (The Chronicles of Narnia: Prince Caspian). Dalam film ini kita bisa menyaksikan bagaimana pohon-pohon dalam film itu mampu berjalan, bahkan ikut serta dalam peperangan melawan musuh. Hebat gak tuh, tapi sayangnya peristiwa itu hanya ada di dalam film, dan rekayasa belaka.

Masihkah anda percaya akan adanya pohon yang pernah berjalan? Seorang rasionalis yang belum pernah sendiri menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepala, kemungkinan besar akan mengatakan “TIDAK!!!”. Dan dengan sedih, saya mesti mengatakan, saudaraku, siapapun Anda, khususnya umat Islam, yang percaya akan adanya sebuah mukjizat, tidak perlu sungkan lagi untuk mengatakan, “SAYA PERCAYA DAN YAKIN”. Dan memang sudah semestinya kita mempercayai hal itu. Karena peristiwa tersebut benar-benar pernah terjadi di dunia ini. Nyata, bukan rekayasa. Dan peristiwa tersebut, pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Sebuah peristiwa luar biasa, sekaligus menjadi bukti nyata kebenaran Islam serta kerasulan Baginda NAbi SAW. Wa Allahu a’lam.

Nah, Peristiwa ini bermula manakala Rasulullah tengah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Dalam perjalanan tersebut, baginda nabi mengajak serta Uqa’il bin Abi Tholib. Dan Uqa’il inilah yang nantinya akan menjadi saksi nyata terhadap kebenaran peristiwa tersebut. yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Peristiwa-peristiwa yang sungguh mengagumkan, yang membuat keimanan hati Uqail semakin bertambah kuat.

Kali pertama peristiwa mengagumkan ini terjadi saat Rasulullah SAW ingin membuang hajat. Rasulullah berjalan kesana kemari untuk menemukan tempat yang aman dan cocok untuk buang hajat. Namun, setelah mencari kesana kemari, Beliau tidak menemukan tempat yang aman lagi cocok untuk melakukan itu, karena posisi beliau kala itu ada di tengah hutan. Maka Rasulullah pun berkata kepada Uqa’il, “Hai Uqail, teruslah engkau berjalan sampai ke pohon itu, dan katakanlah kepada pohon-pohon itu bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW berkata, ‘agar kamu semua datang kepadanya untuk menjadi aling-aling atau penutup baginya, karena sesungguhnya baginda Nabi akan mengambil air wudhu dan buang air besar.'

Setelah memperoleh perintah itu, Uqail melangkahkan kakinya menuju pohon-pohon di sana. Namun, belum pula ia sempat mengucapkan sepatah katapun kepada pohon-pohon itu, mereka telah berjalan mendekati dan mengelilingi Rasulullah. Melihat peristiwa aneh dihadapannya,Uqail hanya mampu terdiam sekaligus takjub akan kebesaran Allah yang telah ia tunjukkan lewat pohon-pohon itu. “Masyaallah, baru kali ini aku melihat pohon itu berjalan”, katanya dalam hati.

MENCARI AIR

Setelah peristiwa itu, Rasulullah beserta Uqail melanjutkan perjalanan mereka. Jarak perjalanan yang cukup jauh, di antara semak dan belukar, membuat Uqail tidak mampu menahan rasa hausnya. Uqail meminta izin kepada Rasulullah untuk mencari air. Tapi sayangnya, tak jua ia peroleh air tersebut. Maka baginda Nabi berkata lagi kepada Uqail, “Hai Uqail, dakilah gunung itu dan sampaikanlah salamku kepadanya, serta katakan, jika padamu ada air, berilah aku minum”.

Uqail lalu pergi mendaki gunung itu, setelah sampai di hadapan sang gunung, dikatakannya apa-apa yang disabdakan oleh Baginda Nabi SAW. Belum pula ia selesai berkata, gunung itu dengan fasihnya berkata, “Katakanlah kepada Nabi SAW, sejak Allah SWT menurunkan ayat yang bermaksud, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu beserta keluargamu dari (siksa) api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu”. Aku menangis sebab takut kalau aku akan menjadi bagian dari batu-batu itu, maka tidak ada lagi air padaku.

Dan demikianlah seterusnya, berbagai peristiwa menakjubkan itu terjadi pada diri Rasulullah SAW dan sahabat. Sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal dapat terjadi di dunia fana’ ini. Semua bergerak atas kehendak Allah Ta’ala. Dan bagi kita, cukuplah kisah-kisah diatas, menjadi bukti akan kebenaran Islam, dan membenarkan akan kerasulan Bagianda Nabi SAW serta semakin memantapkan hati ini untuk terus beribadah kepada Allah SWT.

“Maka ketika Mukjizat Nabi Muhammad itu ditunjukkan kepada para Sahabat, bertambahlah iman mereka”, semoga kita menjadi salah satu dari Umat Muhammad yang merasakan manisnya iman itu. Amin….

SEMOGA BERMANFAAT!!!!!

Nb: Kisah ini diambil dari majalah Hikmah, (edisi 01-15 Nopember 2008, hal: 19)

http://zilzaal.blogspot.com/2012/08/dan-pohon-pohon-itupun-berjalan.html

Wednesday, August 1, 2012

Rindu Rasulullah

“Aku rindu… aku rindu…”, kata Rasulullah Saaw ketika sedang duduk bersama para sahabat.

Para sahabat bertanya kepada beliau Saw, “Siapakah gerangan yang engkau rindukan itu ya Rasulullah?”

“Aku rindu kepada saudara-saudaraku..”, jawab beliau Saw

“Bukankah kami ini saudara-mu ya Rasulullah?”, tanya para sahabat.

“Kalian sahabat-sahabatku dan aku mencintai kalian, namun aku sangat rindu kepada saudara-saudaraku”, jawab Rasulullah Saw.

Sahabat semakin penasaran dan sekali lagi bertanya kepada beliau Saw

“Ya Rasulullah, siapakah gerangan mereka yang engkau panggil dengan sebutan ‘saudaramu’ dan engkau sangat rindukan itu?”

Rasulullah Saww menjawab, “Mereka adalah umatku kelak, yang mana mereka belum pernah melihat wajahku, belum pernah bertemu denganku, belum pernah berbincang-bincang denganku, tetapi mereka sangat merindukanku dengan tulus, ikhlas dan penuh rasa hormat kepadaku, mereka adalah orang-orang yang melanjutkan perjuanganku dan tidak jarang pula mereka meneteskan air mata karena menahan rindu yang sangat kepadaku, aku rindu kepada mereka dan aku ingin bertemu dengan mereka…”

السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ, أَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ وَأَقَمْتَ الصَّلاَةَ وَآتَيْتَ الزَّكَاةَ وَأَمَرْتَ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَيْتَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَعَبَدْتَ اللّه مُخْلِصاً حَتَّى أتَاكَ الْيَقِيْنُ فَصَلَوَاتُ الله عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ وَعَلَى أهْلِ بَيْتِكَ الطَّاهِرِيْنَ
Share this post to other.
http://sufiroad.blogspot.com/2012/06/rindu-rasulullah.html

Monday, July 30, 2012

Imam Hasan bin Ali r.a Bercerita Tentang Kakeknya

Cucu Rasulullah yaitu Imam Hasan bin Ali r.a pernah menceritakan tentang pribadi kakeknya yang agung, beliau berkata, ”Bahwa Rasulullah SAW tidak duduk dalam suatu majelis, atau bangun daripadanya, melainkan Rasulullah SAW berzikir kepada Allah SWT, Rasulullah SAW tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila Rasulullah SAW sampai kepada suatu tempat, di situlah Rasulullah SAW duduk sehingga selesai majelis itu dan Rasulullah SAW menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata, sehingga orang-orang yang berada di majelisnya itu merasa tiada seorang pun yang diberikan penghormatan lebih darinya. Bila ada orang yang datang kepadanya karena sesuatu keperluan, maka Rasulullah SAW terus melayaninya dengan penuh kesabaran sehingga orang itu bangun dan kembali.

Rasulullah SAW tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya sesuatu keperluan, jika ada maka diberikan kepadanya, dan jika tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya. Budi pekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Rasulullah SAW dianggap semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama dalam hal kebenaran, tidak berat sebelah. Majelisnya semuanya ramah-tamah, sabar menunggu, amanah, tidak pernah terdengar suara yang tinggi, tidak ada kemaksiatan di dalamnya, tidak disebut yang kotor dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang muda disayangi yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu didahulukan."

Berkata Imam Hasan bin Ali r.a lagi, ”Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya sungguh mulia, selalu berlemah-lembut, tidak keras atau kasar, tidak suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak bergurau atau berkata kosong, segera melupakan apa yang tiada disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya, tidak suka menjadikan orang berputus asa. Rasulullah SAW tidak suka mencela orang dan memburukkannya. Rasulullah SAW tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan menghasilkan pahala.

Apabila Rasulullah SAW berbicara, semua orang yang berada dalam majelisnya memperhatikannya dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka. Bila Rasulullah SAW berhenti berbicara, mereka baru mulai berbicara, dan bila dia berbicara pula, semua mereka berdiam seribu basa. Mereka tidak pernah bertengkar di hadapannya. Rasulullah SAW tertawa bila dilihatnya mereka tertawa, dan Rasulullah SAW merasa takjub bila mereka merasa takjub. Rasulullah SAW selalu bersabar bila didatangi orang badui yang seringkali bersifat kasar dan suka mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mau mengalah atau menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang senang, tetapi Rasulullah SAW tetap menyabarkan mereka dengan berkata: “Jika kamu dapati seseorang yang memerlukan bantuan, hendaklah kamu menolongnya dan jangan menghardiknya!”. Rasulullah SAW juga tidak mengharapkan pujian dari siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mau memujinya pun, Rasulullah SAW tidak menyuruh untuk berbuat begitu. Rasulullah SAW tidak pernah memotong pembicaraan sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah Rasulullah SAW berbicara, atau Rasulullah SAW menjauh dari tempat itu."

http://ungkapanfie.wordpress.com/2011/06/25/imam-hasan-bin-ali-r-a-bercerita-tentang-kakeknya/

Inilah I'tikaf Ala Rasulullah SAW

Sebelum diangkat menjadi Rasul Allah SWT, Nabi Muhammad SAW memiliki kecintaan untuk mengasingkan diri, dengan tujuan untuk beribadah.

Menurut Dr Akram Dhiya Al-Umuri dalam Sahih Sirah Nabawiyah, Nabi Muhammad mengasingkan diri dari kaumnya yang Jahiliyah di Gua Hira yang terletak di Bukit Hira. Posisi gua itu berada di tempat yang lebih tinggi dari Ka’bah.

Ibnu Abi Jamrah menuturkan, selama menyendiri di Gua Hira, Nabi Muhammad melakukan tiga bentuk ibadah sekaligus: menyepi, beribadah, dan melihat Baitullah. Rasulullah menyendiri di gua yang sempit itu selama beberapa malam, kemudian kembali kepada keluarganya, dan kembali lagi untuk menyepi.

Kebiasaan itu berlangsung hingga turunnya wahyu dan diangkatnya Muhammad SAW sebagai Utusan Allah. Dalam Fathu Bari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW diangkat sebagai nabi pada usia 40 tahun. Imam Baihaqi berkata, ‘’Turun kepada beliau kenabian itu pada usia 40 tahun.’’

Ketika sudah diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk berdakwah dan mengamalkan syariat Islam secara sempurna. Sejak itu, masjid menjadi tempat untuk beribadah kepada Allah. ‘’Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka kamu janganlah menyembah seseorang pun di dalamnya selain (menyembah) Allah.’’ (QS Al Jinn: 18).

Menurut Dr Ahmad Abdurazaq Al-Kubaisi dalam Al-I’tikafu Ahkamuhu wa Ahammiyatuhu fi Hayati Muslim, Nabi Muhammad SAW senantiasa menjalin ikatan dengan Rabbnya.
‘’Beliau tak pernah meninggalkan kegiatan rutinnya, termasuk amalan berkala tahunan,’’ ujar Al-Kubaisi.

Salah satu amalan berkala yang dilakukan Rasulullah adalah menyendiri dan memutuskan hubungan dengan berbagai kegiatan keluarga dan masyarakat. Menurut Al-Kubaisi, Nabi SAW menjauhi tempat tidurnya, mengencangkan ikat pinggannya, lalu pergi menyendiri ke masjid untuk berdiri dan sujud guna beribadah kepada Rabbnya dengan khusyuk.

Amalan itu tak pernah terlewatkan. Bila sakit dan ada alasan lainnya, Rasulullah SAW tak pernah lupa mengqadhanya. “Ketahuilah, kegiatan berkala tahunan itu adalah i’tikaf, yang biasa dilakukan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan,’’ papar Al-Kubaisi. Lalu mengapa Rasulullah SAW tak pernah melewatkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan?

Menurut Al-Kubaisi, karena sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan kesempatan terbaik yang dipilihkan Allah SWT bagi Rasulullah SAW dan umatnya. Pada kesepuluh terakhir Ramadhan itulah, Nabi Muhammad SAW menyendiri dan ber-khalwat dengan Sang Khalik. Rasulullah bermunajat untuk yang dicintainya, yakni Allah SWT.

I’tikaf merupakan kesempatan untuk mengungkapkan kepatuhan dan ketundukan seorang hamba kepada Rabbnya.
http://ramadhan.republika.co.id/berita/ramadhan/shaum-ala-rasulullah-saw/12/07/30/m7y2cz-inilah-itikaf-ala-rasulullah-saw

Tuesday, July 24, 2012

Seni Memimpin Ala Rasulullah saw

NABI Muhammad merupakan sosok pemimpin yang hingga hari ini diakuai dan dihormati banyak manusia. Bahkan kepempinan manusia sempurkan ini telah banyak diakui para peneliti Barat. Sebut saja Will Durant, Gustav Lebon, La Martin, Thomas Carlyle dan masih banyak yang lain.


La Martin yang setelah meneliti kehidupan Nabi menyatakan, “Muhammad adalah manusia di atas manusia dan di bawah Tuhan. Tak dapat diragukan bahwa ia adalah utusan Tuhan.”

Bahkan Thomas Carlyle, cendekiawan Inggris, mengritik orang Barat yang begitu saja meyakini kampanye buruk terhadap nama besar Muhammad. “Diantara aib terbesar yang ada hari ini ialah bahwa seorang cendekiawan menerima begitu saja ucapan seseorang yang mengatakan bahwa Islam adalah bohong dan Muhammad adalah penipu.”

“Pandangan yang kokoh, pemikiran-pemikiran yang lurus, kecerdasan, kecermatan, dan pengetahuannya akan kemaslahatan umum, merupakan bukti-bukti nyata kepandaiannya. Kebutahurufannya justru memberikan nilai positif yang sangat mengagumkan. Ia tidak pernah menukil pandangan orang lain, dan ia tak pernah memperoleh setetes pun informasi dari selain-Nya. Allah-lah yang telah mencurahkan pengetahuan dan hikmah kepada manusia agung ini. Sejak-sejak hari-hari pertamanya, ia sudah dikenal sebagai seorang pemuda yang cerdas, terpercaya dan jujur. Tak akan keluar dari mulutnya suatu ucapan kecuali memberikan manfaat dan hikmah yang amat luas,” katanya.

Sementara itu Gustav Lebon, cendekiawan Prancis, dalam bukunya “Peradaban Islam dan Arab”, menulis, “Jika kita ingin kita ingin mengukur kehebatan tokoh-tokoh besar dengan karya-karya dan hasil kerjanya, maka harus kita katakan bahwa diantara seluruh tokoh sejarah, Nabi Islam adalah manusia yang sangat agung dan ternama. Meskipun selama 20 tahun, penduduk Makkah memusuhi Nabi sedemikian kerasnya, dan tak pernah berhenti mengganggu dan menyakiti beliau, namun pada saat Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah), beliau menunjukkan puncak nilai kemanusiaan dan kepahlawanan dalam memperlakukan warga Makkah. Beliau hanya memerintahkan agar patung-patung di sekitar dan di dalam Ka’bah dibersihkan. Hal yang patut diperhatikan dalam kepribadian beliau ialah bahwa sebagaimana tidak pernah takut menghadapi kegagalan, ketika memperoleh kemenangan pun beliau tidak pernah menyombong dan tetap menunjukkan sikapnya yang lurus.”

Bahkan Allah Subhanahu Wata’ala sendiri secara langsung memuji dan mengatakan dalam Surah Al Ahzab ayat 21 yang artinya, “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik…”

Sayangnya, kita lebih sosok Rasululah dari aspek ruhaniyaah dan spiritual belum menyentuh sosok beliau sebagai pengelola pemerintahan dan suatu negara hingga akhirnya beliau berhasil membangun bangunan negara yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafuur. Surat Al Ahzab ayat 21 membuat kita kembali teringat betapa keteladanan beliau meliputi semua aspek kehidupan. Semua tindak tanduk dan tutur kata beliau merupakan teladan dan warisan yang teramat berharga.

Rahasia keteladan Nabi dalam memimpin tentu saja karena ditopang oleh empat sifat yang sudah tidak asing lagi:

Pertama, shidiq yang artinya jujur. Kejujuran merupakan sikap utama dan harus mendapat tempat semestinya pada diri seorang pemimpin. Dan Nabi Muhammad SAW dikenal oleh masyarakatnya sebagai sosok yang jujur, jauh dari dusta. Kejujuran membawa kepada kebaikan, kebaikan dalam segala hal, utamanya dalam memimpin suatu bangsa dan masyarakat.

Kedua, amanah yang artinya mampu menjalankan kepercayaan yang diemban di pundak secara profesional tanpa mencederai kepercayaan yang sudah diberikan. Sikap amanah telah mengakar kuat pada diri Rasululah bahkan semenjak di usia belia. Tidak ada yang menyangsikan kejujuran seorang Muhammad kecil. Gelar amin (orang yang layak dipercaya) disandingkan di belakang nama beliau, Muhammad Al-Amin.

Ketiga, tabligh yang berarti menyampaikan kebenaran dan berani mengungkap kebatilan. Kepemimpinan beliau ditopang oleh sikap transaparansi, keterbukaan, dan selalu bersuara dengan tuntunan Ilahi. Tak ayal sikap terang-terangan beliau dalam mendakwahkan ajaran kebenaran dan memberangus kemunkaran mengundang murka pentolan-pentolan Kaum Quraish.

Sebuah delegasi datang menemui paman Nabi, Abu Thalib, untuk memberi tawaran menggiurkan khusus untuk Nabi asal beliau menghentikan dakwahnya. Mereka, pentolan Qurasih ini dicekam rasa ketakutan bahwa kedudukan, kewibawaan, dan kekuasaannya akan tamat seiring laju perkembangan dakwah sang Nabi.

“Jika keponakanmu menginginkan kerajaan, kami siap mengangkatnya menjadi raja; jika menginginkan harta, kami siap mengumpulkan harta sehingga tidak ada yang terkaya kecuali Nabi; jika ia terkena gangguan jin, kami siap mencarikan obat untuk menyembuhkanya; asalkan ia berhenti mendakwahkan Islam,” demikian pernyataan tawaran itu.

Aspirasi delegasi Quraish disampikan oleh Abu Thalib kepada Nabi. Nabi menyampaikan sebuah pernyataan tegas sembari memberi ilustrasi indah yang memupuskan “mimpi” delegasi Quraish, “Demi Allah, jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan meninggalkan (dakwah) ini, sampai Allah memenangkannya atau aku hancur karenanya.”

Sifat Nabi berikutnya yang menjadi penopang kepemimpinan beliau adalah fathanah. Fathanah adalah cerdas. Kecerdasan atau berilmu mutlak dimiliki oleh seorang pemimpin. Pemimpin harus tahu bahwa setiap keputusan dan arahannya sesuai sasaran yang dituju. Karenanya, dalam berdialog, berdiskusi, menyampaikan ajaran Allah, beliau selalu mendasarkannya pada ilmu.

Tiga Nilai Moral

Empat penopang kepemimpinan Nabi di atas melahirkan nilai-nilai moral yang adiluhung. Pijakan moral sangat penting diunggah sebelum memutuskan suatu perkara. Dr. A. Ilyas Ismail dalam sebuah tulisannya menyebutkan ada Tiga Sifat Moral yang harus ada pada diri seorang pemimpin, seperti yang telah diajarakan sendiri oleh Rasul.

Sumber sifat moral itu merupakan intisari dari firman Allah Surah At-Taubah 128, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Kata Ilyas Ismail, ayat tersebut mengandung tiga ajaran moral bagi seseorang dalam memimpin yaitu, memiliki sense of crisis, sense of achievement, dan kasih sayang.


Sense of crisis merupakan penjabaran dari ayat di atas, “a`zizun a`laihi ma a`nittum.” Seorang pemimpin harus tahu apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Rasa sakit seorang warganya menjadi rasa sakit bagi diri sosok pemimpin yang punya sifat empati.


Kebahagiaan rakyatnya menjadi kebahagiaan bagi dirinya. Empati, bisa mengetahui keadaan masyarakat yang dipimpin menjadi idaman setiap penduduk di negeri ini.


Akan tetapi, empati itu sering mampir pada momen tertentu: Pilkada, Pileg, Pilpres. Setelah semuanya berakhir, rakyat hanya terhibur oleh mimpi dan angan kosong belaka. Himpitan ekonomi, perut yang keroncongan, biaya sekolah yang melangit tak terjangkau, orang miskin yang “dilarang” sakit, menjadi pemandangan yang dengan mudah kita saksikan.


Suatu saat Sayidina Umar bin Khaththab pernah berujar yang ditujukan kepada semua orang yang diberi amanah sebuah jabatan, “Jika rakyatku kelaparan, Umar orang yang harus pertama kali merasakannya; jika rakyatku merasa kenyang, Umar orang yang harus terakhir merasakannya.” Sosok umar merupakan penerus sikap moral seorang pemimpin sejati, Nabi Muhammad.


Nabi Muhammad merupakan sosok pemimpin yang manakala ada bahaya mengancam atau segala hal yang tidak nyaman, beliau siap pasang badan dan berdiri di garis terdepan. Misalnya, setiap kali peperangan beliau selalu maju lebih dulu ketimbang sahabat-sahabat yang lain.


Tetapi, bila ada kenikmatan beliau mendahulukan orang lain. Contohnya, suatu kali beliau diundang oleh salah seorang sahabat untuk makan bersama. Yang diundang hanya beliau seorang karena si pengundang melihat Nabi dalam keadaan sangat lapar. Namun Nabi mengajak sahabat-sahabat yang duduk bersama beliau.


Tiba di rumah pengundang, Nabi mempersilakan para sahabat makan terlebih dahulu. Satu per satu sahabat melahap hidangan yang tersaji. Setelah itu barulah beliau yang makan. Berkat mukjizat beliau, makanan yang seharusnya hanya cukup satu orang bisa mencukupi banyak perut orang lain.


Sementara sifat moral berikutnya adalah sense of achievement. Menurut Ilyas Ismail, sifat ini merupakan penjabaran dari bunyi ayat Allah dalam surat yang sama, “harisyun a`laikum.” Artinya seorang pemimpin dalam mengemban ide dan gagasan harus benar-benar bertujuan memajukan masyarakat dan warga negaranya.


Pemimpin yang harisyun a`laikum adalah pemimpin yang mendahulukan kepentingan orang banyak jauh mengalahkan kepentingan pribadi, partai, dan kelompoknya. Salah satu potret indahnya ada pada seorang sahabat, sepupu sekaligus menantu Nabi, Imam Ali bin Abi Thalib.


Suatu hari, Aqil, saudara Ali, meminta harta lebih dari haknya karena anak-anaknya sedang menderita. Kata Ali, “Datanglah nanti malam, engkau akan kuberi sesuatu.” Malam itu Aqil datang. Lalu Ali berkata: “Hanya ini saja untukmu.” Aqil segera mengulurkan tangannya untuk menerima pemberian Ali. Tiba-tiba ia menjerit. Ternyata ia sedang memegang besi yang menyala. Dengan tenang Ali berkata, “Itu besi yang dibakar api dunia, bagaimana kelak aku dan engkau dibelenggu dengan rantai jahannam?”


Sayangnya, di negeri berharap adanya pemimpin berjiwa sense of achievement belum menjelma menjadi sebuah kenyataan. Tengok saja kasus busung lapar, bunuh diri karena kemiskinan, memakan nasi aking, padahal negeri kita kaya akan sumber daya alam. Dalam UU pasal 34 disebutkan bahwa orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara. Mungkinkah hal itu terjadi karena bunyi pasalnya telah berubah menjadi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran segelintir orang"?


Keberpihakan pada masyarakat dari pemimpin negeri ini laksana jauh panggang dari api. Sumber daya alam diekslploitasi sedemikian rupa, perusahaan-perusahaan menjadi tuan di negeri kita sementara kita menjadi pelayan di negeri sendiri. Akibatnya, angka kemiskinan merangkak naik, rakyat menjerit, sementara pejabatanya asyik dengan tingkah pola yang menjijikkan: biaya dinas yang dimanipulasi, korupsi yang merajai bumi pertiwi, arah pembangunan yang tidak jelas juntrungannya.


Ketiga, masih kata Ilyas, adalah pengasih dan penyayang yang merupakan penjabaran dari ra`ufun rahiim. Kasih sayang perlu dimiliki oleh semua orang, dalam hal ini, seorang pemimpin. Dengan kasih sayangnya, pemimpin mampu bersimpati dan memberikan empati, dan mengulurkan tangan.


Dengan kasih sayang, seorang pemimpin akan berkeliling untuk melihat satu per satu keadaan rakyatnya. Adakah di antara mereka yang kekurangan gizi, sakit tapi tak mampu berobat, terlilit hutan yang tak sanggup dibayar, sehingga pemimpin itu menjadi orang pertama yang selalu merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya.


Seorang pemimpin hendaknya menjadi pengembala yang melayani rakyatnya untuk mencapai tujuan mereka dan memenuhi kebutuhannya. Dia harus bisa melayani bukan minta dilayani. Mari kita simak kata-kata seorang penyair tentang junjungan kita, Nabi Muhammad SAW:


“Jika engkau menyayang, maka engkau (laksana) ibu dan ayah.”


Dengan melihat sejarah dan cacatan masa lalu Nabiullah Muhammad, pemimpin seperti SBY tentunya tidak perlu memasang iklan besar-besar di pelbagai media untuk meningkatkan elaktibilitas, popularitas, dan memperbaiki citranya yang belakangan sangat terpuruk karena hantaman kasus korupsi di tubuh partai yang telah mengantarkannya menjadi RI 1 dua kali berturut-turut. Cukuplah beliau meneladani ajaran moral Nabi dalam memimpin, rakyat dan kita semua akan mencintai dan mendukungnya. Akankah sejarah berulang dengan SBY bertindak layaknya Umar bin Khathtab, Ali bin Abi Thalib, atau pemimpin yang malah tumbang di tangan rakyatnya sendiri? Sejarah akan menjawab.


Keteladanan Rasulullah Muhammad menjadi referensi yang sejalan dengan ruang dan waktu, dimanapun seseorang berada pada sebuah zaman. Uswah, keteladanan beliau adalah sebuah jalan yang terang, bersih dari dusta, pengkhianatan, kebodohan, jauh dari sikap hiprokit. Siapa saja yang memimpin suatu negeri tanpa bersendikan teladan nabi, pasti jauh dari kebaikan dan kesejahteraan.*


Oleh: Ali Akbar bin Agil

Pengasuh Majlis Ta`lim dan Ratib Al-Haddad, Malang-Jawa Timur

Shafiyah binti Abdul Muththalib: Tinggalkan Kemewahan Menuju Medan Jihad

Rasulullah Saw. mengumpulkan keturunan Bani Abdul Muththalib di sebuah rumah. Lalu beliau mengajak mereka masuk Islam, "Hai Fathimah binti Muhammad! Hai Shafiyah binti Abdul Muththalib! Hai Bani Abdul Muththalib! Aku tidak dibekali Allah untuk kalian, kecuali mengajak kalian beriman kepada Allah dan mempercayai kerasulanku."

Di antara mereka ada yang langsung menyambut ajakan beliau, ada yang ragu-ragu, dan ada yang menolak mentah-mentah. Shafiyah binti Abdul Muththalib termasuk dalam kelompok yang langsung menyambut ajakan Rasulullah Saw. Sejak itu, Shafiyah dan anaknya Zubeir bin Awwam masuk ke dalam barisan kaum muslimin.

Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, Shafiyah yang keturunan bangsawan Bani Hasyim itu turut bersama mereka. Dengan ikhlas, ia tinggalkan Mekkah dengan segala kenangan indah, status kebangsawanan, kemegahan, dan kemewahan. Shafiyah tidak seperti wanita kebanyakan. Ia punya nyali yang besar, pemberani, dan penuh inisiatif. Selama bergabung dengan barisan kaum muslimin, Shafiyah selalu ikut di berbagai medan jihad.

Dalam Perang Uhud, Shafiyah turut berperang bersama Rasulullah dalam pasukan wanita. Tugasnya mengangkut air, menyediakan anak panah, dan memperbaiki busur. Di samping itu, ia amat ingin merekam seluruh jalannya pertempuran ke dalam ingatannya yang kuat.

Shafiyah selalu bersemangat dalam setiap pertempuran. Wajar, karena dalam barisan Islam ada keponakannya Muhammad Rasulullah, saudaranya Hamzah bin Abdul Muththalib, dan anak kandungnya Zubeir bin Awwam. Apalagi Perang Uhud merupakan perang terbesar setelah Perang Badar.

Saat Perang Uhud mulai berkecamuk dan pasukan kaum muslimin terdesak, Shafiyah melihat barisan mujahidin kocar-kacir menjauhi Rasulullah Saw. Hanya sedikit kaum muslimin yang tinggal bertahan bersama beliau. Sementara itu pasukan kaum musyrikin terus memburu hingga hampir mendekati Rasulullah. Secepat kilat Shafiyah melemparkan tempat air yang dibawanya. Dengan tangkas ia melompat bagaikan singa betina yang sedang melatih anaknya. Direbutnya pedang seorang muslim yang lari ketakutan. Shafiyah maju menyerang barisan musuh yang ada dihadapannya. Ia berteriak kepada kaum muslimin, "Pengecut kalian! Mengapa kalian tinggalkan Rasulullah!"

Melihat itu, Rasulullah menyuruh Zubeir agar mencegah ibunya. Tapi, Shafiyah tetap maju sambil menyabetkan pedangnya ke arah musuh yang mendekatinya. "Mengapa aku harus kembali! Aku mendengar mayat Hamzah dirusak. Padahal saudaraku tewas fi sabilillah," teriaknya kepada Zubeir. Akhirnya Rasulullah memerintahkan Zubeir agar membiarkan ibunya mencari mayat Hamzah bin Abdul Muththalib.

Ketika perang usai, Shafiyah menyaksikan mayat Hamzah rusak berat. Perutnya terkoyak, jantungnya hilang, hidung dan telinganya dipotong. Menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu, Shafiyah berdoa, memohon ampunan bagi Hamzah. Ia sabar dan menyerahkan semua itu kepada Allah.

Dalam Perang Khandaq, Shafiyah, para istri Rasulullah, isti para shahabat, dan anak-anak ditempatkan di pondok Hassan bin Tsabit. Pondok itu terletak di atas sebuah bukit, kokoh dan sukar ditembus musuh.

Ketika kaum muslimin sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi kemungkinan serangan dari pasukan kafir Quraisy dan sekutu-sekutunya, kaum Yahudi Bani Quraizhah mendatangi pondok tempat para wanita dan anak-anak dikumpulkan. Tujuannya untuk memata-matai dan mengacaukan konsentrasi pasukan muslimin. Pondok memang tidak dijaga, lantaran seluruh kekuatan kaum muslimin dikerahkan untuk menjaga Khandaq dan menghadapi musuh yang sangat banyak.

Shafiyah melihat sesosok bayangan bergerak di keremangan fajar. Ia curiga dengan bayangan yang mengendap-endap itu. Dan ia yakin bahwa itu bukan bayangan pasukan muslimin. Pandangan dan pendengarannya terus mengikuti gerak bayangan itu.

Kiranya seorang Yahudi sedang menuju pondok. Yahudi itu bergerak mengelilingi pondok, memeriksa kalau-kalau ada pengawal yang menjaga. Shafiyah segera mengetahui bahwa orang itu adalah mata-mata. Kaum Yahudi Bani Quraizhah melanggar perjanjian damai yang mereka buat dengan Rasulullah. Kini mereka terang-terangan membantu pasukan kafir Quraisy dalam memusuhi kaum muslimin. Seandainya musuh Allah yang satu ini tahu bahwa kami tanpa pengawal, pasti orang Yahudi akan menawan kami dan menjadikan kami budak,' gumamnya dalam hati.

Dengan cepat Shafiyah mengenakan pakaian tempur. Diambilnya sebuah tongkat, lalu ia turun mendekati pintu. Direnggangkannya pintu perlahan-lahan. Kemudian dari celah-celah pintu itu, ia mengamati si Yahudi. Pada saat yang tepat, Shafiyah memukul kepala si Yahudi dengan tongkat. Musuh Allah itu langsung jatuh. Dengan sigap, Shafiyah memburu dan memukulnya kembali hingga tiga kali. Seketika itu juga si Yahudi tewas.

Shafiyah lalu memenggal kepala si Yahudi dan menggelindingkannya dari puncak pondok ke hadapan kawan-kawannya yang tengah menunggu. Melihat kepala kawannya terpotong, mereka saling menyalahkan. Seorang dari mereka berkata, "Kita sudah tahu, Muhammad tidak akan meninggalkan kaum wanita dan anak-anak tanpa pengawal." Mereka pun angkat kaki lari ketakutan.