Waktu kecil Abdusy Syams (hamba Matahari) sangat sayang kepada seekor anak kucing betina, yang dalam bahasa Arab disebut Hurairah. Sejak itu, dia dikenal dengan panggilan Abu Hurairah.
Setelah masuk Islam, Rasulullah SAW lebih suka memanggilnya Abu Hirr sebagai panggilan akrab, dan dia lebih suka panggilan itu. Abu Hirr artinya penyayang kucing jantan.
Namun, Rasulullah SAW kemudian mengganti namanya menjadi Abdur Rahman (hamba Allah yang Mahapenyayang).
Abu Hurairah RA berasal dari suku Daus dan dia masuk Islam melalui Thu f ail bin ‘Amir ad-Dausy, salah seorang pe mimpin suku tersebut.
Setelah masuk Islam, pemuda Ad-Dausy ini pergi ke Madinah menemui Nabi dan berkhidmat untuk Rasulullah sepenuh hati. Dia tinggal bersama ahli shuffah di beranda Masjid Nabawi. Tiap waktu dia bisa shalat di belakang Nabi dan mendengarkan pelajaran berharga dari Nabi.
Abu Hurairah punya ibu yang sudah tua dan sangat disayanginya. Dia ingin ibunya memeluk Islam, tapi menolak bahkan mencela Rasulullah SAW. Abu Hurairah sangat sedih. Dia pergi menemui Rasulullah sambil menangis.
“Mengapa engkau menangis, wahai Abu Hirra?” sapa Nabi. Abu Hurairah menjelaskan apa yang menyebabkan hatinya galau, sambil meminta Rasul mendoakan ibunya. Lalu Nabi berdoa agar ibu Abu Hurairah terbuka hatinya untuk menerima Islam.
Suatu hari Abu Hurairah menemui ibunya. Sebelum membuka pintu dia mendengar suara gemericik air, kemudian terdengar suara ibunya. “Tunggu di tempatmu, Nak!”
Setelah dipersilakan masuk, Abu Hurairah kaget tatkala ibunya langsung menyambut dengan ucapan dua kalimat syahadat. Alangkah bahagianya Abu Hurairah, keinginannya tercapai. Segera dia kembali menemui Rasulullah. “Dulu aku menangis karena sedih, sekarang aku menangis karena gembira.”
Abu Hurairah sangat menyayangi ibunya, terlebih setelah ibunya masuk Islam. Dia selalu hormat dan berbakti kepada ibunya. Setiap akan pergi meninggalkan rumah dia berdiri lebih dahulu di depan pintu kamar ibunya mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaiki wa rahmatullah wa barakatuh, ya ummah!”
Ibunya menjawab dengan lembut, “Wa ‘alaikas salam wa rahmatullahi wa barakatuh, ya bunayya.”
Kemudian, Abu Hurairah mendoakan ibunya, “Rahimakillahu kama rabbay tini shaghira” (semoga Allah mengasihi ibu sebagaimana ibu merawatku waktu kecil).”
Ibunya membalas doa putranya dengan doa yang tidak kalah indahnya, “Wa rahimakallahu kama barartani kabira” (semoga Allah mengasihimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku setelah engkau dewasa).
Abu Hurairah aktif mengajak orang lain agar memuliakan dan berbuat baik dan menyayangi kedua orang tua. Suatu hari dia melihat dua orang berjalan bersama, yang satu lebih tua dari lainnya. Abu Hurairah bertanya kepada yang muda, siapa orang tua ini? “Bapakku,” jawab anak muda itu.
Lalu Abu Hurairah menasihatinya. “Janganlah engkau memanggilnya dengan menyebut namanya. Jangan berjalan di hadapannya. Dan jangan duduk sebelum dia duduk lebih dahulu.” Begitulah, sisi lain Abu Hurairah, yang sangat sayang kepada ibunya dan hormat kepada yang lebih tua.
Oleh: KH Yunahar Ilyas
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/10/04/mbd9rm-kisah-indah-abu-hurairah
Showing posts with label Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cinta. Show all posts
Monday, October 8, 2012
Tuesday, August 28, 2012
Sekelumit Aksi di Sepenggal Episode Cinta
dakwatuna.com - Sudah cukup lama Bilal bin Rabah tak mengumandangkan adzan lagi, pasca meninggalnya orang yang ia cinta. Rasulullah SAW.
Hingga suatu ketika Khalifah Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan. Mungkin sang Khalifah pun rindu, seperti halnya rindu para penduduk Madinah terhadap lantunan merdu suara adzan Bilal.
Bilal pun menjawab “Jika dahulu tuan memerdekakan saya untuk kepentingan tuan, maka saya bersedia adzan. Tapi jika dahulu tuan memerdekakan saya karena Allah SWT, maka izinkan saya melakukan apa yang saya mau.”
“Saya memerdekakan engkau karena Allah” jawab sang Khalifah.
Bilal bin Rabah adalah mantan budak Bani Umayyah yang telah Abu Bakar merdekakan. Tapi begitulah adanya cinta Bilal. Penolakannya terhadap pinta Abu Bakar dan tidak berkumandangnya lagi lantunan adzan dari lisannya pasca Rasul wafat, bukan karena ia tak cinta…
Suatu malam Bilal bermimpi bersua dengan Rasulullah. Dalam mimpinya, Rasul berkata padanya, “Wahai Bilal, lama sekali kita berpisah.aku rindu padamu.”
Kata-kata Rasulullah begitu padat dan sarat makna; “Aku rindu padamu”. Menggambarkan kerinduan yang begitu mendalam. Seakan tak ada lagi kata yang tepat untuk melukiskan rasa rindu Rasul selain kata rindu itu sendiri.
Bilal pun menjawab “Ya Rasulullah, saya juga rindu pada Tuan.”
Hati Bilal begitu bahagia tak terperi dapat memandang wajah teduh sang manusia agung yang sangat ia cinta.
Keesokan pagi, Bilal bercerita pada salah seorang sahabatnya perihal mimpi semalam. Dalam kurun waktu yang singkat, cerita itu telah menyebar ke seantero penjuru Madinah. Madinah pun kembali berselimut duka, seolah Rasul baru saja wafat. Setiap jiwa merasa rindu, ingin bernostalgia. Mengingat kembali hari-hari ketika mereka bersama sang Rasul, orang yang mereka cinta.
Para sahabat ingin obat kerinduan mereka menjadi paripurna. Maka para sahabat pun bersepakat meminta Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Awalnya Bilal menolak. Tapi karena bersikerasnya para sahabat meminta, akhirnya Bilal pun menyanggupinya.
Suara adzan Bilal terdengar begitu syahdu. Seluruh penduduk di sepenjuru Madinah pun khusyu’ berlinang air mata. Saat itu mereka membayangkan seolah Rasul ada, membersamai mereka. Obat rindu mereka paripurna-lah sudah…
Pasca peristiwa yang mengharu biru itu, Bilal memutuskan untuk hijrah. Syiria adalah tempat yang ia pilih. Hijrahnya Bilal karena ia ingin menjauh dari makam Rasul dengan keluar dari Madinah.
Bilal adalah salah seorang sahabat yang telah Rasul jamin masuk surga. Tapi begitulah adanya cinta Bilal. Hijrahnya ke Syiria untuk menjauh dari makam Rasul bukan karena ia tak cinta…
Ada sejumput pelajaran yang berharga dari aksi cinta dalam kisah Bilal;
Tak berkumandangnya bait-bait nada cinta dari lisan kita pada dia yang tercinta tapi belum jadi mahrom kita, bukan karena tak cinta… tapi karena kita harus menjaga cinta, agar tak ada yang tergores duka. Agar kita tak terluka…
Mungkin itu pula yang Bilal ingin lakukan, hingga ia tak mau lagi mengumandangkan ‘dawai cinta’ (adzan) pasca wafatnya orang yang ia cinta, Rasulullah. Hingga ia pun harus menahan lisannya yang mungkin sebenarnya pun rindu mengumandangkan ‘dawai cinta’. Karena ia tak ingin dirinya beserta penduduk Madinah tergores duka karena rindu pada Baginda Rasul…
Hijrahnya kita (menjauh) dari tempat di mana orang yang kita cinta berada, bukan karena tak cinta… Tapi karena kita harus menjaga cinta, agar kemurniannya terjaga. Karena ketika kita berada pada tempat atau ranah yang sama, mungkin akan terasa sangat sulit menjaga niat-niat kita. Khawatir jikalau niat kita akan mudah terkontaminasi oleh riya, sum’ah atau penyakit hati lainnya.
Bilal pun hijrah. Tapi hijrah Bilal pasti bukan karena tak cinta.., tapi karena ia tak kuasa menahan rasa cinta yang berbuah rindu hendak jumpa, yang semakin bergelayut manja pada relung jiwa. Rindu pada orang yang ia cinta, Rasul yang mulia…
Inilah sepenggal aksi ‘tutup mulut’ dan ‘walkout’ Bilal, yang ia lakukan agar tak tergores duka karena buah cinta menghadirkan rindu yang menghujam jiwa…
Tentulah kisah cinta Bilal jauh beda dengan cinta kita… Kisahnya serupa, tentang cinta. Tapi tak sama..
Cinta Bilal sungguh mulia, karena tertuju untuk insan mulia. Rasulullah SAW. Sedang cinta kita tertuju pada seorang pria yang belum tentu jodoh kita.
Jika saja cinta mulia Bilal dapat ia manajemen dengan baik agar tak dirundung pilu, maka sudah sepatutnya cinta kita yang sangat semu dapat kita manage dengan baik agar tetap ridha Allah yang diharap, yang dituju…
Selamat belajar untuk me-manage cinta menjadi aksi nyata untuk meraih Ridha-Nya, di sepenggal episode cinta…
Bilal pun menjawab “Jika dahulu tuan memerdekakan saya untuk kepentingan tuan, maka saya bersedia adzan. Tapi jika dahulu tuan memerdekakan saya karena Allah SWT, maka izinkan saya melakukan apa yang saya mau.”
“Saya memerdekakan engkau karena Allah” jawab sang Khalifah.
Bilal bin Rabah adalah mantan budak Bani Umayyah yang telah Abu Bakar merdekakan. Tapi begitulah adanya cinta Bilal. Penolakannya terhadap pinta Abu Bakar dan tidak berkumandangnya lagi lantunan adzan dari lisannya pasca Rasul wafat, bukan karena ia tak cinta…
###
Kata-kata Rasulullah begitu padat dan sarat makna; “Aku rindu padamu”. Menggambarkan kerinduan yang begitu mendalam. Seakan tak ada lagi kata yang tepat untuk melukiskan rasa rindu Rasul selain kata rindu itu sendiri.
Bilal pun menjawab “Ya Rasulullah, saya juga rindu pada Tuan.”
Hati Bilal begitu bahagia tak terperi dapat memandang wajah teduh sang manusia agung yang sangat ia cinta.
Keesokan pagi, Bilal bercerita pada salah seorang sahabatnya perihal mimpi semalam. Dalam kurun waktu yang singkat, cerita itu telah menyebar ke seantero penjuru Madinah. Madinah pun kembali berselimut duka, seolah Rasul baru saja wafat. Setiap jiwa merasa rindu, ingin bernostalgia. Mengingat kembali hari-hari ketika mereka bersama sang Rasul, orang yang mereka cinta.
Para sahabat ingin obat kerinduan mereka menjadi paripurna. Maka para sahabat pun bersepakat meminta Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan. Awalnya Bilal menolak. Tapi karena bersikerasnya para sahabat meminta, akhirnya Bilal pun menyanggupinya.
Suara adzan Bilal terdengar begitu syahdu. Seluruh penduduk di sepenjuru Madinah pun khusyu’ berlinang air mata. Saat itu mereka membayangkan seolah Rasul ada, membersamai mereka. Obat rindu mereka paripurna-lah sudah…
Pasca peristiwa yang mengharu biru itu, Bilal memutuskan untuk hijrah. Syiria adalah tempat yang ia pilih. Hijrahnya Bilal karena ia ingin menjauh dari makam Rasul dengan keluar dari Madinah.
Bilal adalah salah seorang sahabat yang telah Rasul jamin masuk surga. Tapi begitulah adanya cinta Bilal. Hijrahnya ke Syiria untuk menjauh dari makam Rasul bukan karena ia tak cinta…
###
Tak berkumandangnya bait-bait nada cinta dari lisan kita pada dia yang tercinta tapi belum jadi mahrom kita, bukan karena tak cinta… tapi karena kita harus menjaga cinta, agar tak ada yang tergores duka. Agar kita tak terluka…
Mungkin itu pula yang Bilal ingin lakukan, hingga ia tak mau lagi mengumandangkan ‘dawai cinta’ (adzan) pasca wafatnya orang yang ia cinta, Rasulullah. Hingga ia pun harus menahan lisannya yang mungkin sebenarnya pun rindu mengumandangkan ‘dawai cinta’. Karena ia tak ingin dirinya beserta penduduk Madinah tergores duka karena rindu pada Baginda Rasul…
Hijrahnya kita (menjauh) dari tempat di mana orang yang kita cinta berada, bukan karena tak cinta… Tapi karena kita harus menjaga cinta, agar kemurniannya terjaga. Karena ketika kita berada pada tempat atau ranah yang sama, mungkin akan terasa sangat sulit menjaga niat-niat kita. Khawatir jikalau niat kita akan mudah terkontaminasi oleh riya, sum’ah atau penyakit hati lainnya.
Bilal pun hijrah. Tapi hijrah Bilal pasti bukan karena tak cinta.., tapi karena ia tak kuasa menahan rasa cinta yang berbuah rindu hendak jumpa, yang semakin bergelayut manja pada relung jiwa. Rindu pada orang yang ia cinta, Rasul yang mulia…
###
Inilah sepenggal aksi ‘tutup mulut’ dan ‘walkout’ Bilal, yang ia lakukan agar tak tergores duka karena buah cinta menghadirkan rindu yang menghujam jiwa…
Tentulah kisah cinta Bilal jauh beda dengan cinta kita… Kisahnya serupa, tentang cinta. Tapi tak sama..
Cinta Bilal sungguh mulia, karena tertuju untuk insan mulia. Rasulullah SAW. Sedang cinta kita tertuju pada seorang pria yang belum tentu jodoh kita.
Jika saja cinta mulia Bilal dapat ia manajemen dengan baik agar tak dirundung pilu, maka sudah sepatutnya cinta kita yang sangat semu dapat kita manage dengan baik agar tetap ridha Allah yang diharap, yang dituju…
Selamat belajar untuk me-manage cinta menjadi aksi nyata untuk meraih Ridha-Nya, di sepenggal episode cinta…
Oleh: Anisa Prasetyo Ningsih
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/08/22453/sekelumit-aksi-di-sepenggal-episode-cinta/#ixzz24o5tasta
Wednesday, August 15, 2012
Kerisauan Khalid bin Walid Sebelum Wafat
Saudaraku, siapa di antara kita yang tak mengenal Khalid bin Walid ra. Panglima besar kaum muslimin di masa Nabi saw dan dua khalifah sesudahnya; Abu Bakar dan Umar ra. Semua peperangan yang ia pimpin, dapat meraih kemenangan dengan izin Allah Swt. Segudang prestasi kepahlawanan mampu dia torehkan dalam hidupnya.
Umar ra melihat fenomena ini merupakan penyakit berbahaya yang harus segera diterapi. Tiada pengkultusan kepada seseorang sehebat apa pun dirinya. Sehingga di sebuah peperangan, Umar ra mencopot Khalid dari jabatan panglima perang dan menggantinya dengan Abu Ubaidah bin Jarrah. Hal ini dilakukannya untuk menyelamatkan umat agar tidak mengkultuskan Khalid. Tentu Umar tidak mengganti sosok Khalid dengan sahabat biasa. Tapi dia adalah sahabat yang luar biasa. Di mana Rasul saw pernah menggelarinya dengan “Aminu hadzihil ummah” kepercayaan umat ini.
Dan benarlah tak lama setelah itu Abu Ubaidah menjadi idola baru bagi umat. Semua peperangan yang dikendalikannya mengalami kemenangan besar.
Saudaraku,
Dalam bukunya “Tharaif wa mawaqif min at tarikh al Islami”, Hasan Zakaria Falaifil pernah menulis;
Khalid bin Walid ra wafat tahun 21 H, dalam usia kurang dari 55 tahun. Menjelang wafat ada hal yang merisaukan hatinya.
Apa yang merisaukannya saudaraku?
Ia terkenang dengan anak-anaknya yang berjumlah 40 orang yang tidak menemaninya kala itu. Seluruhnya menghadap Allah swt di masa hidupnya karena terjangkit penyakit kolera. Ia tidak melihat apapun di rumahnya, selain kudanya, budak laki-lakinya dan peralatan perangnya. Setelah mendengar kabar ini, Umar ra bertutur, “Sungguh ia benar-benar pejuang sejati yang menggetarkan musuh. Ia seorang panglima perang yang tangguh.”
Saudaraku..
Dalam hidup pasti kita pernah risau. Ada yang bernuansa positif dan tidak sedikit yang bermuatan negatif. Dan justru risau itu menandakan bahwa detak jatung kehidupan kita masih ada.
Apa yang dirasakan Khalid dari rasa sepi ditinggal pergi oleh orang-orang dekat; istri dan anak-anaknya merupakan bentuk risau yang positif. Terlebih detik-detik di ambang kematian, adalah satu keadaan yang sangat mendambakan kehadiran mereka. Juga terbayang di benak sahabat ini, setelah kepergiannya maka para kekasihnya tak dapat memandikan, menyalatkan jenazahnya dan memakamkannya.
Dan yang paling merisaukannya adalah bahwa cita-cita hidupnya meraih mati syahid di medan perang tak terwujud di alam realita.
Saudaraku..
Buah pelajaran yang dapat kita petik dari kisah ini adalah:
Risau yang memotivasi kita untuk selalu mengukir prestasi mulia di hadapan-Nya adalah warna risau yang terpuji. Kita risau dengan status belum terdaftar di KUA pada usia lebih dari 25 tahun, adalah risau yang positif. Karena hal itu akan memupuk semangat kita untuk menyempurnakan agama sesegera mungkin. Risau karena belum mampu menyelesaikan hafalan al Qur’an di usia 38 tahun. Itu juga merupakan warna risau yang mulia. Sebab ia dapat menjaga semangat agar tak luntur untuk menghafal kalamullah. Tapi jika kita risau lantaran gagal membangun menara bisnis, atau terjatuh dari puncak popularitas, atau cinta terhadap lawan jenis yang tak bersambut dan seterusnya yang menyebabkan kita meratap dan terpuruk dalam kesedihan yang berkepanjangan. Maka hal itu sudah barang tentu masuk dalam bab putus asa dari rahmat Allah Swt, yang merupakan bibit dari kekufuran.
Para sahabat, rata-rata memiliki banyak keturunan. Jika Khalid bin Walid ra memiliki 40 anak, maka Anas bin Malik lebih banyak dari itu. Disebutkan bahwa anak cucunya yang berkumpul saat khataman al Qur’an di rumahnya lebih dari 100 orang.
Anak adalah investasi bagi orang tua, baik di dunia maupun di akherat. Itu artinya semakin banyak kita memiliki keturunan, semakin banyak pula investasi kita. Terlebih Nabi saw pernah memberikan garansi, bahwa siapa yang memiliki tiga orang puteri. Ia berikan sandang, pangan dan mendidiknya dengan baik, maka ia akan terhalang dari sengatan api neraka, sebagaimana yang tersebut dalam riwayat Ibnu Majah. Maka sungguh ironi jika ada orang yang cukup dan bahkan bangga dapat membatasi anak keturunannya dengan dua anak saja.
Membiasakan diri untuk memberikan penghargaan, pujian, kesaksian yang baik terhadap orang yang shalih, menularkan keshalihan kepada orang lain, berjuang di jalan Allah dan berkiprah untuk melayani umat. Baik di masa hidupnya atau sepeninggalnya. Seperti perkataan Umar ra perihal Khalid bin Walid ra.
Memelihara kesehatan dan kebugaran tubuh agar tak terjangkit penyakit menular dan berbahaya semisal kolera dan seterusnya.
Bersilaturahim kepada orang-orang shalih, terutama generasi terbaik umat ini yakni para sahabat. Hal ini terwujud dengan menelusuri sirah mereka. Karena dengan membaca sirah mereka seolah-olah kita telah berkunjung dan bertatap muka dengan mereka.
Saudaraku..
Apa yang membuat kita risau hari ini? Wallahu a’lam bishawab.
Sumber: Status Ustadz Abu Ja’far
(http://www.facebook.com/profile.php?id=100000992948094)
(http://www.facebook.com/profile.php?id=100000992948094)
Friday, August 10, 2012
Kisah Seorang Perawan Tua
Fenomena bertambahnya jumlah wanita yang terlambat menikah (perawan tua) menjadi satu perkara yang menakutkan saat ini, mengancam kebanyakan pemudi-pemudi di masyarakat kita yang Islami, bahkan di seluruh dunia. Berikut ini marilah kita mendengarkan salah satu jeritan mereka :
Majalah Al-Usrah edisi 80 Dzulqa’dah 1420 H menuliskan jeritan seorang perawan tua dari Madinah Munawaroh, ”Semula saya sangat bimbang sebelum menulis untuk kalian karena ketakutan terhadap kaum wanita karena saya tahu bahwasanya mereka akan mengatakan bahwa aku ini sudah gila, atau kesurupan. Akan tetapi, realita yang aku alami dan dialami pula oleh sejumlah besar perawan-perawan tua, yang tidak seorang pun mengetahuinya, membuatku memberanikan diri. Saya akan menuliskan kisahku ini dengan ringkas.
Ketika umurku mulai mendekati 20 tahun, saya seperti gadis lainnya memimpikan seorang pemuda yang multazim dan berakhlak mulia. Dahulu saya membangun pemikiran serta harapan-harapan; bagaimana kami hidup nanti dan bagaimana kami mendidik anak-anak kami… dan.. dan…
Saya adalah salah seorang yang sangat memerangi ta’adud (poligami). Hanya semata mendengar orang berkata kepadaku, “Fulan menikah lagi yang kedua”, tanpa sadar saya mendoakan agar ia celaka. Saya berkata, “Kalau saya adalah istrinya -yang pertama- pastilah saya akan mencampakkannya, sebagaimana ia telah mencampakkanku’. Saya sering berdiskusi dengan saudaraku dan terkadang dengan pamanku mengenai masalah ta’addud. Mereka berusaha agar saya mau menerima ta’addud, sementara saya tetap keras kepala tidak mau menerima syari’at ta’addud. Saya katakan kepada mereka, ‘Mustahil wanita lain akan bersama denganku mendampingi suamiku”. Terkadang saya menjadi penyebab munculnya problema-problema antara suami-istri karena ia ingin memadu istri pertamanya; saya menghasutnya sehingga ia melawan kepada suaminya.
Begitulah, hari terus berlalu sedangkan aku masih menanti pemuda impianku. Saya menanti… akan tetapi ia belum juga datang dan saya masih terus menanti. Hampir 30 tahun umurku dalam penantian. Telah lewat 30 tahun… oh Illahi, apa yang harus kuperbuat? Apakah saya harus keluar untuk mencari pengantin laki-laki? Saya tidak sanggup, orang-orang akan berkata wanita ini tidak punya malu. Jadi, apa yang akan saya kerjakan? Tidak ada yang bisa saya perbuat, selain dari menunggu.
Pada suatu hari ketika saya sedang duduk-duduk, saya mendengar salah seorang dari wanita berkata, ‘Fulanah jadi perawan tua”. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Kasihan Fulanah jadi perawan tua”, akan tetapi… fulanah yang dimaksud itu ternyata aku. Ya Illahi! Sesungguhnya itu adalah namaku… saya telah menjadi perawan tua. Bagaimanapun saya melukiskannya kepada kalian, kalian tidak akan bisa merasakannya. Saya dihadapkan pada sebuah kenyataan sebagai perawan tua. Saya mulai mengulang kembali perhitungan-perhitunganku, apa yang saya kerjakan?
Waktu terus berlalu, hari silih berganti, dan saya ingin menjerit. Saya ingin seorang suami, seorang laki-laki tempat saya bernaung di bawah naungannya, membantuku menyelesaikan problema-problemaku… Saudaraku yang laki-laki memang tidak melalaikanku sedikit pun, tetapi dia bukan seperti seorang suami. Saya ingin hidup; ingin melahirkan, dan menikmati kehidupan. Akan tetapi, saya tidak sanggup mengucapkan perkataan ini kepada kaum laki-laki. Mereka akan mengatakan, “Wanita ini tidak malu”. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain daripada diam. Saya tertawa… akan tetapi bukan dari hatiku. Apakah kalian ingin saya tertawa, sedangkan tanganku menggenggam bara api? Saya tidak sanggup…
Suatu hari, saudaraku yang paling besar mendatangiku dan berkata, “Hari ini telah datang calon pengantin untukmu, tapi saya menolaknya…” Tanpa terasa saya berkata, “Kenapa kamu lakukan? Itu tidak boleh!” Ia berkata kepadaku, “Dikarenakan ia menginginkanmu sebagai istri kedua, dan saya tahu kalau kamu sangat memerangi ta’addud (poligami)”. Hampir saja saya berteriak di hadapannya, “Kenapa kamu tidak menyetujuinya?” Saya rela menjadi istri kedua, atau ketiga, atau keempat… Kedua tanganku di dalam api. Saya setuju, ya saya yang dulu memerangi ta’addud, sekarang menerimanya. Saudaraku berkata, “Sudah terlambat”
Sekarang saya mengetahui hikmah dalam ta’addud. Satu hikmah ini telah membuatku menerima, bagaimana dengan hikmah-hikmah yang lain? Ya Allah, ampunilah dosaku. Sesungguhnya saya dahulu tidak mengetahui. Kata-kata ini saya tujukan untuk kaum laki-laki, “Berta’addud-lah, nikahilah satu, dua, tiga, atau empat dengan syarat mampu dan adil. Saya ingatkan kalian dengan firman-Nya, “… Maka nikahilah olehmu apa yang baik bagimu dari wanita, dua, atau tiga, atau empat, maka jika kalian takut tidak mampu berlaku adil, maka satu…” Selamatkanlah kami. Kami adalah manusia seperti kalian, merasakan juga kepedihan. Tutupilah kami, kasihanilah kami.”
Dan kata-kata berikut saya tujukan kepada saudariku muslimah yang telah bersuami, “Syukurilah nikmat ini karena kamu tidak merasakan panasnya api menjadi perawan tua. Saya harap kamu tidak marah apabila suamimu ingin menikah lagi dengan wanita lain. Janganlah kamu mencegahnya, akan tetapi doronglah ia. Saya tahu bahwa ini sangat berat atasmu. Akan tetapi, harapkanlah pahala di sisi Allah. Lihatlah keadaan suadarimu yang menjadi perawan tua, wanita yang dicerai, dan janda yang ditinggal mati; siapa yang akan mengayomi mereka? Anggaplah ia saudarimu, kamu pasti akan mendapatkan pahala yang sangat besar dengan kesabaranmu.”
Engkau mungkin mengatakan kepadaku, “Akan datang seorang bujangan yang akan menikahinya”. Saya katakan kepadamu, “Lihatlah sensus penduduk. Sesungguhnya jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Jika setiap laki-laki menikah dengan satu wanita, niscaya banyak dari wanita-wanita kita yang menjadi perawan tua. Jangan hanya memikirkan diri sendiri saja. Akan tetapi, pikirkan juga saudarimu. Anggaplah dirimu berada dalam posisinya.”
Engkau mungkin juga mengatakan, “Semua itu tidak penting bagiku, yang penting suamiku tidak menikah lagi.” Saya katakan kepadamu, “Tangan yang berada di air tidak seperti tangan yang berada di bara api. Ini mungkin terjadi. Jika suamimu menikah lagi dengan wanita lain, ketahuilah bahwasanya dunia ini adalah fana, akhiratlah yang kekal. Janganlah kamu egois, dan janganlah kamu halangi saudarimu dari nikmat ini. Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
Demi Allah, kalau kamu merasakan api menjadi perawan tua, kemudian kamu menikah, kamu pasti akan berkata kepada suamimu “Menikahlah dengan saudariku dan jagalah ia. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu kemuliaan, kesucian, dan suami yang shalih.”
http://muslimahzone.com
http://kisahislami.com/kisah-seorang-perawan-tua/
Ketika umurku mulai mendekati 20 tahun, saya seperti gadis lainnya memimpikan seorang pemuda yang multazim dan berakhlak mulia. Dahulu saya membangun pemikiran serta harapan-harapan; bagaimana kami hidup nanti dan bagaimana kami mendidik anak-anak kami… dan.. dan…
Saya adalah salah seorang yang sangat memerangi ta’adud (poligami). Hanya semata mendengar orang berkata kepadaku, “Fulan menikah lagi yang kedua”, tanpa sadar saya mendoakan agar ia celaka. Saya berkata, “Kalau saya adalah istrinya -yang pertama- pastilah saya akan mencampakkannya, sebagaimana ia telah mencampakkanku’. Saya sering berdiskusi dengan saudaraku dan terkadang dengan pamanku mengenai masalah ta’addud. Mereka berusaha agar saya mau menerima ta’addud, sementara saya tetap keras kepala tidak mau menerima syari’at ta’addud. Saya katakan kepada mereka, ‘Mustahil wanita lain akan bersama denganku mendampingi suamiku”. Terkadang saya menjadi penyebab munculnya problema-problema antara suami-istri karena ia ingin memadu istri pertamanya; saya menghasutnya sehingga ia melawan kepada suaminya.
Begitulah, hari terus berlalu sedangkan aku masih menanti pemuda impianku. Saya menanti… akan tetapi ia belum juga datang dan saya masih terus menanti. Hampir 30 tahun umurku dalam penantian. Telah lewat 30 tahun… oh Illahi, apa yang harus kuperbuat? Apakah saya harus keluar untuk mencari pengantin laki-laki? Saya tidak sanggup, orang-orang akan berkata wanita ini tidak punya malu. Jadi, apa yang akan saya kerjakan? Tidak ada yang bisa saya perbuat, selain dari menunggu.
Pada suatu hari ketika saya sedang duduk-duduk, saya mendengar salah seorang dari wanita berkata, ‘Fulanah jadi perawan tua”. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Kasihan Fulanah jadi perawan tua”, akan tetapi… fulanah yang dimaksud itu ternyata aku. Ya Illahi! Sesungguhnya itu adalah namaku… saya telah menjadi perawan tua. Bagaimanapun saya melukiskannya kepada kalian, kalian tidak akan bisa merasakannya. Saya dihadapkan pada sebuah kenyataan sebagai perawan tua. Saya mulai mengulang kembali perhitungan-perhitunganku, apa yang saya kerjakan?
Waktu terus berlalu, hari silih berganti, dan saya ingin menjerit. Saya ingin seorang suami, seorang laki-laki tempat saya bernaung di bawah naungannya, membantuku menyelesaikan problema-problemaku… Saudaraku yang laki-laki memang tidak melalaikanku sedikit pun, tetapi dia bukan seperti seorang suami. Saya ingin hidup; ingin melahirkan, dan menikmati kehidupan. Akan tetapi, saya tidak sanggup mengucapkan perkataan ini kepada kaum laki-laki. Mereka akan mengatakan, “Wanita ini tidak malu”. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain daripada diam. Saya tertawa… akan tetapi bukan dari hatiku. Apakah kalian ingin saya tertawa, sedangkan tanganku menggenggam bara api? Saya tidak sanggup…
Suatu hari, saudaraku yang paling besar mendatangiku dan berkata, “Hari ini telah datang calon pengantin untukmu, tapi saya menolaknya…” Tanpa terasa saya berkata, “Kenapa kamu lakukan? Itu tidak boleh!” Ia berkata kepadaku, “Dikarenakan ia menginginkanmu sebagai istri kedua, dan saya tahu kalau kamu sangat memerangi ta’addud (poligami)”. Hampir saja saya berteriak di hadapannya, “Kenapa kamu tidak menyetujuinya?” Saya rela menjadi istri kedua, atau ketiga, atau keempat… Kedua tanganku di dalam api. Saya setuju, ya saya yang dulu memerangi ta’addud, sekarang menerimanya. Saudaraku berkata, “Sudah terlambat”
Sekarang saya mengetahui hikmah dalam ta’addud. Satu hikmah ini telah membuatku menerima, bagaimana dengan hikmah-hikmah yang lain? Ya Allah, ampunilah dosaku. Sesungguhnya saya dahulu tidak mengetahui. Kata-kata ini saya tujukan untuk kaum laki-laki, “Berta’addud-lah, nikahilah satu, dua, tiga, atau empat dengan syarat mampu dan adil. Saya ingatkan kalian dengan firman-Nya, “… Maka nikahilah olehmu apa yang baik bagimu dari wanita, dua, atau tiga, atau empat, maka jika kalian takut tidak mampu berlaku adil, maka satu…” Selamatkanlah kami. Kami adalah manusia seperti kalian, merasakan juga kepedihan. Tutupilah kami, kasihanilah kami.”
Dan kata-kata berikut saya tujukan kepada saudariku muslimah yang telah bersuami, “Syukurilah nikmat ini karena kamu tidak merasakan panasnya api menjadi perawan tua. Saya harap kamu tidak marah apabila suamimu ingin menikah lagi dengan wanita lain. Janganlah kamu mencegahnya, akan tetapi doronglah ia. Saya tahu bahwa ini sangat berat atasmu. Akan tetapi, harapkanlah pahala di sisi Allah. Lihatlah keadaan suadarimu yang menjadi perawan tua, wanita yang dicerai, dan janda yang ditinggal mati; siapa yang akan mengayomi mereka? Anggaplah ia saudarimu, kamu pasti akan mendapatkan pahala yang sangat besar dengan kesabaranmu.”
Engkau mungkin mengatakan kepadaku, “Akan datang seorang bujangan yang akan menikahinya”. Saya katakan kepadamu, “Lihatlah sensus penduduk. Sesungguhnya jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Jika setiap laki-laki menikah dengan satu wanita, niscaya banyak dari wanita-wanita kita yang menjadi perawan tua. Jangan hanya memikirkan diri sendiri saja. Akan tetapi, pikirkan juga saudarimu. Anggaplah dirimu berada dalam posisinya.”
Engkau mungkin juga mengatakan, “Semua itu tidak penting bagiku, yang penting suamiku tidak menikah lagi.” Saya katakan kepadamu, “Tangan yang berada di air tidak seperti tangan yang berada di bara api. Ini mungkin terjadi. Jika suamimu menikah lagi dengan wanita lain, ketahuilah bahwasanya dunia ini adalah fana, akhiratlah yang kekal. Janganlah kamu egois, dan janganlah kamu halangi saudarimu dari nikmat ini. Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
Demi Allah, kalau kamu merasakan api menjadi perawan tua, kemudian kamu menikah, kamu pasti akan berkata kepada suamimu “Menikahlah dengan saudariku dan jagalah ia. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu kemuliaan, kesucian, dan suami yang shalih.”
http://muslimahzone.com
http://kisahislami.com/kisah-seorang-perawan-tua/
Wednesday, August 1, 2012
Rindu Rasulullah
Para sahabat
bertanya kepada beliau Saw, “Siapakah gerangan yang engkau rindukan itu
ya Rasulullah?”
“Aku rindu kepada saudara-saudaraku..”, jawab beliau
Saw
“Bukankah kami ini saudara-mu ya Rasulullah?”, tanya para sahabat.
“Kalian sahabat-sahabatku dan aku mencintai kalian, namun aku sangat
rindu kepada saudara-saudaraku”, jawab Rasulullah Saw.
Sahabat semakin penasaran dan sekali lagi bertanya kepada beliau
Saw
“Ya Rasulullah, siapakah gerangan mereka yang engkau panggil dengan sebutan ‘saudaramu’ dan engkau sangat rindukan itu?”
Rasulullah Saww menjawab, “Mereka adalah umatku kelak, yang mana mereka belum pernah melihat wajahku, belum pernah bertemu denganku, belum pernah berbincang-bincang denganku, tetapi mereka sangat merindukanku dengan tulus, ikhlas dan penuh rasa hormat kepadaku, mereka adalah orang-orang yang melanjutkan perjuanganku dan tidak jarang pula mereka meneteskan air mata karena menahan rindu yang sangat kepadaku, aku rindu kepada mereka dan aku ingin bertemu dengan mereka…”
السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ, أَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ وَأَقَمْتَ الصَّلاَةَ وَآتَيْتَ الزَّكَاةَ وَأَمَرْتَ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَيْتَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَعَبَدْتَ اللّه مُخْلِصاً حَتَّى أتَاكَ الْيَقِيْنُ فَصَلَوَاتُ الله عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ وَعَلَى أهْلِ بَيْتِكَ الطَّاهِرِيْنَ
“Ya Rasulullah, siapakah gerangan mereka yang engkau panggil dengan sebutan ‘saudaramu’ dan engkau sangat rindukan itu?”
Rasulullah Saww menjawab, “Mereka adalah umatku kelak, yang mana mereka belum pernah melihat wajahku, belum pernah bertemu denganku, belum pernah berbincang-bincang denganku, tetapi mereka sangat merindukanku dengan tulus, ikhlas dan penuh rasa hormat kepadaku, mereka adalah orang-orang yang melanjutkan perjuanganku dan tidak jarang pula mereka meneteskan air mata karena menahan rindu yang sangat kepadaku, aku rindu kepada mereka dan aku ingin bertemu dengan mereka…”
السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ الله, السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ, أَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ الرِّسَالَةَ وَأَقَمْتَ الصَّلاَةَ وَآتَيْتَ الزَّكَاةَ وَأَمَرْتَ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَيْتَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَعَبَدْتَ اللّه مُخْلِصاً حَتَّى أتَاكَ الْيَقِيْنُ فَصَلَوَاتُ الله عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهُ وَعَلَى أهْلِ بَيْتِكَ الطَّاهِرِيْنَ
Share this post to other.
Friday, July 20, 2012
Kisah Nyata : Malam Pesta Seorang Pengantin Wanita
Bismillahirr Rahmanirr Rahim …
Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Ahmad ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir Arab Saudi.
Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Lalu dia mendengar azan Isya, dan dia sadar kalau wudhunya telah batal.
Dia berkata pada ibunya : “Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”
Ibunya terkejut : “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”
Lalu ibunya menambahkan : “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu!”
Anaknya menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta!!"
Ibunya berkata : “Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang kamu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik di mata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu!"
Anaknya berkata dengan tersenyum : “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik dimata-Nya.”
Lalu dia berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu. Lalu dia memulai shalatnya. Dan pada saat itu dia bersujud, dia tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya.
Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah, bersujud di hadapan Pencipta-Nya. Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud. Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya!
Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini. Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama.
“SUBHANALLAH”
http://kisahislami.com/kisah-nyata-malam-pesta-seorang-pengantin-wanita-jangan-dilewatkan/
Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Ahmad ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir Arab Saudi.
Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Lalu dia mendengar azan Isya, dan dia sadar kalau wudhunya telah batal.Dia berkata pada ibunya : “Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.”
Ibunya terkejut : “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.”
Lalu ibunya menambahkan : “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu!”
Anaknya menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta!!"
Ibunya berkata : “Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang kamu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik di mata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu!"
Anaknya berkata dengan tersenyum : “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik dimata-Nya.”
Lalu dia berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu. Lalu dia memulai shalatnya. Dan pada saat itu dia bersujud, dia tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya.
Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah, bersujud di hadapan Pencipta-Nya. Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud. Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah yang teguh untuk mematuhi Tuhannya!
Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini. Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama.
“SUBHANALLAH”
http://kisahislami.com/kisah-nyata-malam-pesta-seorang-pengantin-wanita-jangan-dilewatkan/
Thursday, May 10, 2012
Kita Bersama Orang yang Kita Idolakan
Rasulullah saw. memiliki seorang mawla yang bernama Tsawban. Mawla artinya budak yang telah dibebaskan. Tsawban begitu mencintai Rasulullah, sampai-sampai ia tidak bisa menahan gejolak rindunya.
Setelah sekian lama berpisah dengan Rasulullah, Tsawban mendatangi Rasulullah. Kini ia berubah: wajahnya pucat, murung, dan badannya kurus.
Melihat penampilan Tsawban yang berubah drastis, Rasulullah menanyakan apa gerangan yang terjadi dengan dirinya.
Masya Allah, dengarlah jawaban Tsawban.
Kata Tsawban, ‘Aku tidak sakit, wahai Rasulullah. Hanya saja, jika aku tidak melihat wajahmu beberapa saat saja, maka aku begitu merasa kesepian dan rindu ingin segera berjumpa denganmu. Lalu, aku berpikir di akhirat nanti aku tidak akan mungkin lagi melihatmu, karena kalaupun aku masuk surga, toh engkau pasti berada di tempat para Nabi. Ujung-ujungnya aku pun tidak pernah lagi berjumpa denganmu’.
Tidak lama setelah Rasulullah saw. mendengar perkataan Tsawban, turunlah wahyu, ‘Siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan bersama orang-orang yang Allah berikan nikmat, yaitu berada di golongan para Nabi, orang-orang yang tulus (shiddiq), para syuhada, dan orang-orang shalih’ (Q.s. an-Nisa’, ayat 69).
Begitulah.
Rasulullah saw. adalah figur yang paling pantas kita cintai dan idolakan. Jika kita mengidolakan orang lain, maka suatu saat kita akan kecewa. Jika kita mengidolakan artis, selebritis, politisi, atau lainnya, suatu saat kita akan kecewa karena perilaku mereka tidak sesuai harapan kita. Orang-orang semacam ini memang tidak pantas kita idolakan.
Cintailah Rasulullah, niscaya kita akan kembali berkumpul bersamanya.
Ya Allah, jadikan kami salah satu orang yang Kau kumpulkan bersama para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin…
Apa Jadinya Jika Tuhan Tidak Menciptakan Hawwa?
Apa jadinya jika Tuhan tak mencipta sang Hawwa / Apa jadinya hidup kita tanpa hadir mereka / Kelangsungan manusia terletak di pundak seorang wanita / Terimakasih ohhh ibuku / Kasih sayang sepanjang hidupmu / Dengan senyummu terbuka pintu surgaku /
Itulah penggalan lirik lagu yang berjudul Terimakasih Ibu yang disenandungkan oleh grup musik asal Bandung, Sugar Cane. Master-copy lagu ini dikirim ke saya lewat perantara Hendra ‘Ken’ Fauzi, sahabat lama saya, yang terlibat dalam manajemen band Sugar Cane.
Menurut saya, lagu ini liriknya bagus. Manis didengar semanis sugar (gula) dan suara vokalis-nya bening Sebening Mata Air. Musiknya apik. Digarap dengan serius. Punya citarasa tersendiri. Lagu ini bercerita tentang kewajiban sang anak untuk bersyukur dan berbakti terhadap orangtua, lebih-lebih kepada ibu. Lagu ini mungkin tidak dirancang untuk masuk dalam genre musik religi, namun saya kira isinya agamis, artinya selaras dengan pesan agama. Lagu ini bisa dinikmati oleh para remaja atau anak sekolah. Daripada mendengarkan lagu yang destruktif, lebih baik mendengarkan lagu-lagu seperti ini. (Buat pembaca yang kurang sreg dengan lagu dan musik, silakan baca tulisan saya sebelumnya: Haramkah Mendengarkan Nyanyian dan Musik?)
Gara-gara lagu itu, saya jadi ‘dipaksa’ menulis lagi, setelah sekian lama tidak menulis di blog ini. Bukan karena saya kehabisan bahan untuk menulis, tapi karena kebodohan saya membagi waktu. Waktu saya sebagian besar habis dalam majlis-majlis ilmu. Selain untuk menambah wawasan keilmuan saya, tentu saja majlis-majlis ilmu memberi saya peluang untuk melayani umat. Harap maklum, saya ini pelayan, alias jongos.
Baiklah, saya akan mulai menulis dari soal ibu kita, nenek moyang kita, yaitu Hawwa alayhassalam.
As-Suddi meriwayatkan dari Abu Shalih dan Abu Malik, dari Ibnu Abbas, dari Murrah, dari Ibnu Mas‘ud, dari kalangan para sahabat Rasulullah, bahwa mereka berkata, ‘Iblis dikeluarkan dari surga dan Adam ditempatkan di surga. Lalu, Adam merasa kesepian mondar-mandir di surga, lantaran ia tidak punya teman-hidup yang dapat membuatnya tentram. Di saat Adam tertidur dan ia terbangun dari tidurnya, ia melihat seorang wanita yang sedang duduk di sisi kepalanya. Wanita ini diciptakan Allah dari tulang rusuknya. Adam bertanya kepadanya, ‘Siapakah gerangan engkau?’ Yang ditanya menjawab, ‘Aku seorang wanita’. Adam kembali bertanya, ‘Untuk apa engkau diciptakan?’ Wanita itu menjawab, ‘Agar engkau tentram di sisiku’.
Untuk menguji ilmu Adam, para malaikat pun bertanya, ‘Wahai Adam, siapa nama wanita itu?’ Adam menjawab, ‘Hawwa’. Para malaikat kembali bertanya, ‘Mengapa disebut Hawwa?’ Adam menjawab, ‘Li annaha khuliqot min syay’in hayyin – karena ia diciptakan dari sesuatu yang hidup’.
Begitulah yang ditulis Imam Ibnu Katsir ad-Dimasyqi as-Syafii dalam kitab Qoshosh al-Anbiya’ ketika menceritakan penciptaan Hawwa dari tulang rusuk Adam.
Dr Amru Khalid dalam kitab Inni Ja’ilun fil Ardhi Khalifah mengatakan bahwa Hawwa disebut Hawwa karena mengandung tiga makna. Makna pertama, lantaran Hawwa berasal dari kehidupan (li annaha min al-hayat). Ia tidak diciptakan dari tanah (sebagaimana Adam) namun ia diciptakan dari diri Adam sendiri. Dengan makna ini, artinya kehidupan tidak sempurna tanpa seorang Hawwa. Kenikmatan dunia dan nilai dunia menjadi cacat kecuali dengan kehadiran Hawwa. Makna kedua, Hawwa berarti al-ihtiwa’ (mengisi peran), karena dengan itulah ia mengisi hidup Adam. Seorang wanita bisa mengisi hidupnya dengan berperan sebagai seorang ibu, anak, saudara, bahkan seorang ayah. Makna ketiga, Hawwa berarti al-haya’ (malu). Dengan makna ini, seorang wanita perlu punya rasa malu.
Hawwa adalah wanita paling cantik di dunia. Kemungkinan posturnya tinggi, puluhan meter. Dalam sebuah hadits shahih, Adam digambarkan tingginya adalah 60 hasta (30 meter). Untuk mengimbangi postur Adam, bisa jadi postur Hawwa menyamai posturnya Adam. Begitu tingginya postur Hawwa, hingga ada riwayat yang mengatakan bahwa tempat terdalam dari Laut Merah hanyalah seukuran lututnya Hawwa. Masya Allah…
Hawwa dimakamkan di Jeddah, tidak jauh dari Laut Merah. Karena keberadaan Hawwa, kotanya disebut Jeddah, artinya Nenek Moyang. Untuk berziarah ke makam Hawwa tidak mudah. Paling-paling, para peziarah hanya berdiri dan berdoa di depan pintu kompleks makamnya yang bertuliskan ‘Maqbaroh Ummina Hawwa’ – Kuburan Ibu Kita Hawwa. (Maklum, negara Arab Saudi agak ketat soal ziarah kubur. Saking ketatnya, kadang over-acting alias berlebihan). Bahkan, tidak sedikit peziarah yang naik ke atas pohon yang tumbuh di pinggir tembok kompleks makam, sekedar untuk melongok ke dalamnya, menghilangkan rasa penasaran mereka. Beruntung, suatu kali, ketika pintu kompleks makam terbuka dan satpam-nya lengah, saya nekat menerobos masuk ke dalam area makam Hawwa, dan dari dalam area tersebut saya melihat dan memotret bentuk makam yang ukurannya panjang-panjang. Sewaktu saya kecil, ibu saya memang pernah menceritakan tentang panjangnya ukuran makam di kompleks makam Hawwa. Dan memang begitulah yang saya saksikan. Wallahu a’lam.
Setelah Hawwa, wanita tercantik di dunia adalah Sarah, istri Nabi Ibrahim. Pantaslah kalau Nabi Yusuf terkenal dengan ketampanannya, karena ia adalah titisan (cicit) Sarah. Yusuf adalah anak Ya‘qub. Ya‘qub adalah anak Ishaq. Ishaq adalah anak Ibrahim dan Sarah. Karena ketampanan Nabi Yusuf, banyak ibu hamil yang membaca Surat Yusuf ketika hamil, berharap anaknya setampan/secantik Yusuf. Hehehehhe…
Dalam ajaran Islam, wanita memang punya kedudukan mulia. Bahkan, al-Quran merekam banyak figur wanita yang menghiasi perjalanan peradaban manusia. Di antaranya adalah: kisah Ibu Musa dan saudari Musa, kisah Asiyah (istri Firaun), kisah putri Nabi Syuaib (sejarawan menyebutnya: Shafura), kisah Maryam, bunda Isa. Dan, tidak ketinggalan, peran Khadijah, yang membantu Rasulullah dalam perjuangan awalnya memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Quraisy Makkah.
Begitu pentingnya peran wanita dalam kehidupan, sehingga wanita-wanita perkasa itu sering ditambahi dengan gelar Siti. Siti adalah kependekan Sayyidati (Junjunganku atau Yang Dipertuan). Sehingga, dalam masyarakat muncullah nama-nama seperti: Siti Hawwa, Siti Asiyah, Siti Maryam, Siti Khadijah, Siti Aisyah, Siti Sarah, Siti Fathimah, Siti Zaynab, dan sebagainya. Sedangkan untuk kaum lelaki yang hebat, gelar tambahannya adalah Sidi. Sidi adalah kependekan dari Sayyidi (Junjunganku atau Yang Dipertuan). Tentu saja, gelar-gelar ini adalah bentuk penghormatan terhadap keluhuran pribadi seseorang yang dikenal dengan kebajikan hidupnya.
Oleh karena itulah, ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang prioritas bakti kepada orangtua, maka Rasulullah menjawabnya: ibumu dulu… ibumu dulu… ibumu dulu… baru ayahmu. Bakti kepada ibu disebut tiga kali. Itu artinya lebih diprioritaskan. Makanya, surga berada di bawah kaki ibu. Maksudnya, ganjaran berbakti kepada ibu adalah surga. Beruntunglah orang yang masih mempunyai ibu. Dengan begitu, ia punya peluang untuk mendapatkan surga. Senyum seorang ibu kepada sang anak, sebagai tanda ke-ridha-annya, membuat pintu-pintu surga terbuka. Bakti kepada orangtua tidak hanya ketika mereka masih hidup. Ketika mereka sudah wafat, sang anak tetap punya kewajiban untuk berbakti kepada keduanya, yaitu dengan cara mendoakan mereka, memohonkan ampun untuk mereka, berbuat baik atas nama mereka, dan menyambung persaudaraan dengan sahabat-sahabat mereka yang masih hidup.
Mungkin Anda pernah mendengar sebuah kisah masyhur (populer) yang terjadi di zaman Rasulullah, yaitu kisah tentang seorang lelaki yang lebih mementingkan istrinya daripada ibunya sendiri. Lelaki ini bernama Alqamah. Karena ia lebih mementingkan istrinya, sang ibu marah dan sakit hati terhadap Alqamah. Akibatnya sungguh tragis, sang anak tidak mampu mengucap kalimat tauhid (syahadat) ketika sakaratul maut. Rasulullah pun heran dengan kejadian ini, padahal Alqamah termasuk lelaki shalih, rajin shalat, puasa, sedekah, dan lainnya. Lalu Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk membakar Alqamah di depan ibunya. Akhirnya, sang ibu tidak tega anaknya dibakar di depannya. Sang ibu lalu ridha kepadanya. Alqamah akhirnya mampu mengucap kalimat tauhid di saat malaikat maut menjemput ajalnya.
Imam Ahmad dan Imam at-Thabrani meriwayatkan hadits tentang kisah tersebut. Kisah ini memang menjadi perhatian di kalangan para ulama sejak dulu, lebih-lebih dari para ahli hadits. Imam as-Suyuthi dan Imam al-Haytsami, misalnya, menilai kisah tersebut tidak benar, karena periwayat hadits yang menceritakan kisah itu, yaitu Fa’id bin Abdurrahman, dinilai cacat alias tidak kredibel.
Baiklah, kita anggap saja kisah Alqamah itu fiktif alias tidak ada. Namun, pesan moralnya jangan dilupakan. Bukankah ada hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, ‘Ridha Allah ada pada ridha orangtua, dan murka Allah ada pada murka orangtua’? Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi.
Kembali ke soal Hawwa.
Karena Hawwa diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, maka perlakuan terhadap wanita perlu ekstra hati-hati. Jika mau diluruskan secara ekstrem, maka rusuk itu akan patah. Jika wanita didiamkan dalam kebengkokannya, maka ia semakin bengkok. Serba salah, memang. ‘Hendaknya kalian berlaku baik-baik terhadap wanita’, begitu pesan Rasulullah. Di lain kesempatan, Rasulullah juga berpesan, ‘Sebaik-baik suami adalah yang berbuat baik terhadap istrinya’. Wanita yang dimaksud oleh Rasulullah itu bukan hanya istri, namun juga mencakup ibu, anak wanita dan seterusnya ke bawah, saudara yang wanita, keponakan yang wanita, dan wanita pada umumnya.
Sungguh, apa jadinya jika Allah tidak menciptakan seorang Hawwa, atau seorang ibu, atau seorang wanita. Dunia bakal hampa. Namun, kaum wanita perlu juga menengok ke-Hawwa-an mereka. Adam dari tanah, sehingga fungsi kaum lelaki adalah memakmurkan bumi (dunia). Hawwa dari rusuk Adam, sehingga fungsi kaum wanita adalah menjadi mitra internal dan supporter paling dekat terhadap lelaki. Jika kaum wanita menyadari hal ini, niscaya dunia semakin tentram jadinya.
Ala kulli hal, mari kita hormati wanita dan kita muliakan ibu kita.
Friday, April 13, 2012
Juang Cinta Para Wanita
“Wahai Abu Utsman,” kata perempuan itu, “Sungguh aku mencintaimu.”Suasana hening sejenak. “Aku memohon, atas nama Allah, agar sudilah kiranya engkau menikahiku,” lanjutnya.
Lelaki yang bernama lengkap Abu Utsman An Naisaburi itu diam. Ada keterkejutan dan kegamangan dalam dirinya tatkala mendengar perkataan perempuan yang datang kepadanya itu. Ia tidak mengenal perempuan ini dengan baik. Namun, tiba-tiba saja perempuan ini datang menemuinya dan menyatakan rasa cintanya yang dalam kepadanya. Bahkan saat itu pula, atas nama Allah, perempuan itu meminta pada Abu Utsman untuk menikahinya. Seakan keterkejutan yang dirasakan Abu Utsman bertumpuk-tumpuk di atmosfir hatinya.
Abu Utsman diam. Memikirkan keputusan apa yang hendak diambilnya. Sebagai seorang pemuda, ia dihadapkan pada sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Sebuah keputusan yang mungkin akan dijalaninya selama lebih dari separuh usianya dan separuh imannya. Selama ini keluarganya senantiasa mendorongnya untuk segera meminang salah seorang perempuan shalihah di wilayah itu. Namun, ia selalu menolak dorongan dari keluarganya itu hingga hari ini. Maka, sampai sekarang ia masih juga membujang. Ia akan mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupnya, termasuk segala konsekuensi yang menyertainya.
Imam Abul Faraj Abdurahman ibnu Al Jauzi menuliskan dalam salah satu kitabnya, Shaidul Khathir, bahwa Abu Utsman kemudian datang ke rumah si perempuan. Ia mendapati orangtua si perempuan adalah orang yang miskin. Namun, keputusannya tetaplah bulat untuk meminang si perempuan yang datang menyatakan cinta kepadanya itu. Terlebih lagi karena perempuan itu memintanya untuk menikahinya. Ia menyaksikan kebahagiaan yang berlimpah pada orangtua si perempuan mendengar bahwa putrinya dipinang oleh Abu Utsman, lelaki yang berilmu, tampan, shalih, penyabar, setia, jujur, tulus, dan terhormat.
Mereka pun menikah. Hingga akhirnya sang istri itu meninggal dunia lima belas tahun kemudian. Namun, sejak malam pengantin mereka ada kisah yang baru terungkap setelah kematian sang istri. “Ketika perempuan itu datang menemuiku,” kisahnya, “Barulah aku tahu kalau matanya juling dan wajahnya sangat jelek dan buruk. Namun, ketulusan cintanya padaku telah mencegahku keluar dari kamar. Aku pun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikit pun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian.”
Ah, kita jangan marah pada Abu Utsman yang mengharapkan istri yang cantik dan sempurna, tapi kemudian hanya mendapatkan istri juling dan buruk wajah. Itu merupakan sisi manusiawi dari lelaki yang menginginkan kecantikan dan kesempurnaan dari pendamping hidupnya. “Begitulah kulalui lima belas tahun dari hidupku bersamanya hingga dia meninggal,” lanjutnya berkisah. “Maka, tiada amal yang paling kuharapkan pahalanya di akhirat, selain masa-masa lima belas tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya dan ketulusan cintanya.” Kesetiaan itu adalah bintang di langit kebesaran jiwa.
Sungguh, saya sangat kagum dengan sepasang suami istri ini. Meskipun cinta di antara mereka tidak pernah benar-benar ada dalam masa-masa lima belas tahun perkawinan itu, tapi perjuangan cinta si perempuan sangat luar biasa di mata saya. Meskipun sang perempuan itu tahu bahwa ia bermata juling, meskipun ia tahu bahwa ia hanya anak orang miskin, meskipun ia tahu bahwa ia bukan perempuan berwajah cantik satin, tapi ia memperjuangkan cintanya untuk membersamai orang yang dicintainya itu. Ia berhasil membersamainya dalam masa lima belas tahun hingga maut datang menjemput. Ia memang tidak tahu bahwa selama masa itu sang suami, Abu Utsman An Naisaburi, tidak pernah benar-benar mencintainya. Namun, Abu Utsman membuktikan bahwa ia adalah lelaki yang setia, tulus, sabar, dan senantiasa menjaga perasaan sang istri yang demikian tulus mencintainya. Bagi saya, semua hal itu adalah bagian dari cintanya, hanya saja bentuknya yang sedikit berbeda. Sungguh, saya sangat kagum dengan sepasang suami istri ini. Semua bermula tatkala si perempuan itu menyatakan dan memperjuangkan cintanya.
Ada pula kisah lain dari shahabiyah Rasulullah. Namanya Khansa’ binti Khaddam Al Anshariyah. Ia adalah salah seorang perempuan Madinah dari Bani Aus yang berstatus janda. Khaddam, sang ayah Khansa’, mengawinkannya dengan seorang lelaki yang juga berasal dari Bani Aus. Namun, ia tidak menyukai lelaki itu dan sebenarnya ia telah menyukai lelaki lain. Maka, berangkatlah Khansa’ menemui Rasulullah. Ia menceritakan kasus perselisihannya dengan sang ayah dan mengutarakan hasrat hatinya bahwa ia mencintai lelaki lain itu. Rasulullah pun memanggil sang ayah dan memerintahkan kepadanya untuk memberikan kebebasan kepada putrinya dalam memilih calon suaminya sendiri.
“Sesungguhnya,” tutur para imam hadits dalam kitab mereka, “Ayahnya menikahkan dia, sedangkan dia seorang janda maka ia tidak suka pernikahan itu, kemudian datang kepada Rasulullah. Maka Rasulullah menolak pernikahannya.” Hanya Imam Muslim yang tidak mencatat riwayat dari Khansa’ binti Khaddam Al Anshariyah ini.
Khansa’ binti Khaddam Al Anshariyah pun memilih. Ia memutuskan untuk meninggalkan perkawinan paksaan sang ayah dan menginginkan dinikahi oleh orang yang dicintainya. Dalam Shahifah Amru bin Syaibah, disebutkan bahwa lelaki itu terlebih dahulu meminang Khansa’ dan sudah diterima Khansa’. Nama lelaki itu adalah Abu Lubabah bin Abdil Mundzir. Ia adalah salah seorang sahabat utama yang menghadiri Bai’atul Aqabah kedua, ia adalah wakil Rasulullah di Madinah saat Perang Badar untuk menjaga keamanan dan ketertiban penduduk kota Madinah, anak-anak, kaum perempuan, kebun buah-buahan. Ia juga ditugasi untuk memberi makanan pada warga yang kelaparan dan memenuhi kebutuhan semua warga yang ada, baik anak-anak maupun orang tua sampai pasukan yang berada di jalan Allah itu kembali. Dengan lelaki mulia inilah Khansa’ menjatuhkan pilihannya, ia menikah dengan lelaki yang dicintainya. Ia menikah dengan lelaki yang diperjuangkannya hingga melibatkan keputusan Rasulullah atas pemaksaan sang ayah. Dari pernikahan mereka itu lahirlah seorang perempuan bernama Lubabah.
Pada Khansa’ binti Khaddam Al Anshariyah pula kita berterimakasih atas pelajaran penting tentang larangan pemaksaan menikah dari orang tua jika sang putri tidak menyukai calon suaminya. Dari Khansa’ pula kita belajar tentang hak-hak perempuan dalam syariat Islam dan menjalankan hidupnya sebagai bagian dari sistem struktur masyarakat madani. Semua bermula tatkala si perempuan itu menyatakan dan memperjuangkan cintanya.
Kisah hidup perempuan paling mulia di zamannya pun melakoni episode perjuangan cinta ini.
“Sebenarnya ia orang biasa,” kata perempuan mulia itu. Dr Thaha Husain menuliskan fragmen ini dalam saduran kisahnya yang dinukil oleh Saefulloh Muhammad Satori dalam Romantika Rumah Tangga Nabi. Perempuan mulia ini bernama Khadijah binti Khuwailid. Sedangkan orang yang dibicarakannya adalah Muhammad bin Abdullah yang kala itu berusia sekitar dua puluh lima tahun. “Saya kenal ibunya. Saya kenal ayahnya, dan saya turut hadir pada waktu ia baru lahir,” terangnya.
Dalam pandangan Khadijah, sosok Muhammad muda adalah sosok dengan kebaikan yang melimpah, kewibawaan lelaki, kepercayaan amanah, dan pesona jiwa yang tak mampu tersembunyikan oleh kerasnya hidup yang dilaluinya. Sebentuk empati pada Muhammad muda menunas di hatinya. Segala kabar miring yang pernah didengarnya dari orang-orang yang mengatakan bahwa kedudukan Muhammad hanyalah seorang penggembala kambing penduduk Mekah tertepis dengan sendirinya menyaksikan amanahnya pada lelaki itu terlaksana dengan gemilang.
Rasa empati di dalam hati Khadijah bertransformasi, lembut, lambat dan menumbuh pelan, pasti. Rasa empati itu semakin lama berbunga cinta. Ia merasakan perasaan manusiawi terhadap lelaki mulia yang menjadi pekerjanya itu. Dan seperti bentuk cinta jiwa lainnya, cinta yang dirasakannya menginginkan balasan dan penghalalan di singgasana pernikahan. Namun, ia masih merasakan keraguan di dalam dirinya untuk membersamai sang lelaki mulia itu. Sebelumnya, ia telah menikah dengan Atiq bin Aid bin Abdullah Al Makhzumi dan Abu Halah Hindun bin Zarrah At Tamimi. Bahkan ia telah memiliki putri yang sudah berada di usia nikah dan seorang putra lagi. Saat itu Khadijah berusia sekitar empat puluh tahun. Selisih usianya dengan Muhammad sekitar lima belas tahun.
Dalam kebimbangan itu, datanglah kawan karibnya yang bernama Nafisah binti Munayyah. Ia adalah kawan Khadijah dimana ia banyak mendengarkan keinginan-keinginan hati Khadijah. Dan kali ini termasuk tentang rasa cintanya terhadap Muhammad dan hasrat hatinya untuk menjadi istri dari lelaki yang dicintainya itu. Nafisah pun mengerti. Ia menawarkan bantuannya untuk menjadi utusan rindu antara Khadijah dan Muhammad.
Segera ditemuinya Muhammad. Ditanyalah lelaki mulia ini alasan-alasan mengapa ia belum juga menikah. Ia juga menjelaskan kepada Muhammad tentang keutamaan-keutamaan bagi orang yang menikah yang didampingi seorang istri yang setia. Muhammad muda termangu membayangkan idealisme yang dijabarkan nafisah dan realita yang dihadapinya di masa lalu dan kini.
“Aku tidak tahu dengan apa aku dapat beristri…?” jawab Muhammad dengan pertanyaan retoris.
“Jika ada seorang perempuan cantik, hartawan, dan bangsawan yang menginginkan dirimu, apakah engkau bersedia menerimanya?” tanya Nafisah balik.
Syaikh Shafiyurahman Al Mubarakfuri dalam Rahiq Al Makhtum menyebutkan bahwa Nafisah binti Munayyah bergegas menemui Muhammad muda dan membeberkan rahasia Khadijah tersebut dan menganjurkannya untuk menikahi Khadijah. Muhammad pun menyetujuinya dan merundingkan hal itu dengan paman-pamannya. Kemudian mereka mendatangi paman Khadijah untuk melamarnya bagi Muhammad. Pernikahan pun segera berlangsung dengan dihadiri oleh Bani Hasyim dan para pemimpin suku Mudhar. Muhammad menyerahkan mahar sebanyak dua puluh ekor unta muda.
“Muhammad,” kata Abu Thalib, sang paman, dalam Romantika Rumah Tangga Nabi, “Adalah seorang pemuda yang mempunyai beberapa kelebihan dan tidak ada bandingannya di kalangan kaum Quraisy. Ia melebihi semua pemuda dalam hal kehormatan, kemuliaan, keutamaan, dan kecerdasan. Walaupun ia bukan termasuk orang kaya, tapi kekayaan itu dapat lenyap. Sebab setiap titipan atau pinjaman pasti akan diminta kembali. Sesungguhnya Muhammad mempunyai keinginan khusus terhadap Khadijah binti Khuwailid, begitu pula sebaliknya…”
Tentu saja kisah cinta Khadijah – Muhammad adalah kisah yang sarat dengan hikmah dan berlimpah berkah. Dua orang mulia bertemu dalam singgasana pernikahan yang sama. Bergemuruh oleh kerja-kerja cinta di antara keduanya. Saling melengkapi di antara keduanya. Dan kematangan serta sikap keibuan Khadijah adalah energi gerak dan penenang jiwa tatkala sang suami memikul amanah langit dan menyampaikan dua kalimat keadilan. Penyiksaan psikis pun bisa dikikis oleh rasa kasih dan sayang Khadijah pada Muhammad, Rasulullah.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi seandainya Khadijah hanya berdiam diri menunggu takdir cintanya kepada Muhammad. Bisa jadi Rasulullah tetap akan meminang Khadijah. Namun, bisa jadi hal lain yang terjadi, yakni tidak terjadi apa-apa di antara keduanya. Dan tentu ceritanya akan lain jika Khadijah tidak menikah dengan Muhammad. Namun, sejarah cukup membuktikan bahwa takdir telah diciptakan oleh Khadijah dengan mengutarakan rasa cintanya melalui kawan karibnya, dan takdir ciptaannya itu pun berjodoh dengan takdir ilahi. Khadijah memang perempuan mulia, dan kemuliaannya itu tidak mengurangi kekuatan dirinya untuk memperjuangkan rasa cintanya. Dan cinta Khadijah – Muhammad pun mengabdi di langit jiwa sejarah manusia. Semua bermula tatkala perempuan mulia itu menyatakan dan memperjuangkan cintanya.
Kita seringkali tidak memahami bahwa kehidupan berjalan dalam siklus pilihan, keputusan, dan konsekuensi. Kisah-kisah hidup perempuan-perempuan ini memang berakhir bahagia dalam perjuangan cintanya untuk membersamai lelaki yang dicintainya. Namun, ada juga kisah yang tidak gemilang, bahkan berkesan coretan buram menghitam dalam sejarah perjuangan cinta, jika boleh kita sebut cinta. Mari kita simak kisahnya sebagaimana dituturkan Salim A Fillah dalam Jalan Cinta dengan menukil dari Raudhatul Muhibbin dan Taujih Ruhiyah.
Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga.
Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya, kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai Nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaqnya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulang kali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu.
Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itu pun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama.
Maka ditulisnyalah surat itu, memohon bertemu. Dan ia mendapat jawaban. ”Ya”, katanya.
Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya.
”Maha Suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, ”Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.”
Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. ”Andai saja kau lihat aku”, katanya, ”Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.”
”Betapa inginnya aku”, kata si gadis, ”Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.”
Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. ”Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit dan penyesalan yang tak berkesudahan.”
Si gadis ikut tertunduk. ”Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, ”Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegup. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.”
”Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. ”Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertaqwa.”
Ah, perjuangan cinta si perempuan itu tampak nyata tidak indah. Memang benar ia orang yang romantis dan memiliki daya khayal yang tinggi serta kemampuan merangkai kata yang indah. Namun, semuanya berbau aroma syaitan dan nafsu. Kesucian cinta yang seharusnya ada di dalam hatinya dan mengejawantah di dalam laku juangnya ternyata tergerus oleh badai hawa nafsu. Selain persoalan ikhtilath yang terjadi di antara mereka, si perempuan itu tidak menunjukkan juang cintanya dalam bentuk yang halal. Semuanya di luar bingkai pernikahan. Begitu hitam dan memalukan yang mendengar kisahnya. Semua bermula tatkala si perempuan mulia itu menyatakan dan memperjuangkan cintanya.
“Di kota Kufah,” tulis Ibnul Qayyim dalam Raudhatul Mubibbin, “Ada seorang pemuda yang tampan sekali wajahnya, rajin beribadah, dan berijtihad. Suatu hari dia singgap di suatu kaum dari An Nakha’. Di sana pandangannya terpapas dengan seorang gadis yang cantik jelita dari kaum itu, sehingga dia langsung jatuh cinta kepadanya. Dia pun berpikir untuk menikahinya. Dia singgah di tempat yang lebih dekat dengan rumah gadis itu, lalu mengirim utusan untuk menyampaikan pinangan kepada ayah sang gadis. Namun, dia dikabari ayahnya, bahwa gadis itu sudah dipinang oleh anak pamannya sendiri.”
Lelaki shalih dan perempuan itu ternyata telah saling mencinta. Dan status si perempuan yang telah dipinang membuat mereka tidak bisa bersatu. Gelora cinta dan asmara begitu menggebu di antara keduanya. Tatkala si perempuan sudah demikian merasa berat, maka ia mengirim utusan kepada lelaki itu.
“Aku sudah mendengar tentang besarnya cintamu kepadaku. Aku pun sedih karenanya. Jika kamu mau, aku bisa menemuimu. Atau jika kamu mau, maka aku bisa mengatur cara agar kamu bisa masuk ke dalam rumahku,” kata utusan itu menirukan pesan si perempuan.
Lagi-lagi, pernyataan cinta dan perjuangan untuk dapat membersamai ini kembali dicoret dengan warna buram menghitam. Keindahan cintanya di antara sepasang manusia itu ternodai oleh niat yang tidak lempang. Terpesong dari jalan cinta rabbani. Namun, ada yang indah dari kisah ini. Tatkala mendengar tawaran dari si perempuan yang sedang mabuk kepayang oleh cinta itu, sang pemuda malah menjawab, “Tidak adakah pilihan di antara dua hal yang dicintai ini? Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar jika aku mendurhakai Tuhanku. Sesungguhnya aku takut api neraka yang baranya tidak pernah padam dan tidak surut jilatannya.”
Mendengar jawaban dari lelaki yang dicintainya itu, si perempuan meluncur di titik balik. Ia tersadar atas khilafnya dalam perjuangan cinta yang ia lakukan. Ia sadar dan bertobat. Ia mengabdikan dirinya pada Allah dan hanya beribadah semata. Memisahkan diri dari keluarganya. Namun begitu, ia tetap tidak mampu memadamkan rasa cintanya dan kerinduannya kepada sang pemuda hingga meninggal dalam keadaan seperti itu. Mereka memang akhirnya tidak pernah saling membersamai dalam singgasana pernikahan, tapi masih terasa indah akhirnya. Kesucian diri dari maksiat atas nama cinta. Kisah serupa juga dialami oleh Abdurahman bin Abu Ammar yang dicintai oleh seorang perempuan Mekah yang menyatakan cintanya dan mengajaknya berbuat mesum. Namun, cintanya pada Allah menuntunnya tetap menjaga kesucian diri. Semua bermula tatkala si perempuan itu menyatakan dan memperjuangkan cintanya.
Memperjuangkan cinta bagi seorang perempuan adalah keputusan yang sulit. Di sana dibutuhkan keberanian yang berlipat-lipat dibandingkan dengan perjuangan cinta seorang lelaki. Ada adat, tradisi, dan karakter jiwa yang harus dilawan untuk mampu mengambil keputusan besar itu: memperjuangkan cinta. Rasa malu yang dimiliki perempuan dalam urusan cinta sangatlah mendalam. Oleh karena itu, Rasulullah menjelaskan bahwa kemauan seorang perempuan akan pinangan seorang lelaki adalah dengan diamnya, dalam arti tidak menolak, tanpa perlu mengiyakan dengan rangkaian kata-kata. Namun, kekuatan cinta memang dahsyat dan menggerakkan.
Dalam Shahih-nya, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ketika berada dalam sebuah majelis Rasulullah, seorang perempuan berdiri dan berkata kepadanya, “Ya Rasulullah, apakah engkau mau kepadaku?” Dalam kesempatan lain, perempuan yang lain datang pada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah saya datang untuk menghibahkan diriku kepadamu.”
Hadits tentang perempuan yang pertama diriwayatkan oleh Tsabit Al Bunani dalam Bab Seorang Perempuan Menawarkan Dirinya Kepada Lelaki Shalih. Sedangkan hadits tentang perempuan kedua diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad. Meskipun kedua bentuk penghibahan diri perempuan ini adalah hal yang khusus bagi Rasulullah sebagaimana dicantumkan dalam Surat Al Ahzab ayat 50, tapi menawarkan diri untuk dinikahi lelaki shalih adalah hukum umum yang berlaku untuk semua lelaki shalih.
“Di antara kehebatan Bukhari di sini,” kata Ibnu Al Munir, sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, “Adalah dia tahu bahwa kisah perempuan yang menyerahkan dirinya ini bersifat khusus. Maka, dia beristinbath (menyimpulkan hukum) dari hadits ini untuk kasus yang tidak bersifat khusus, yaitu diperbolehkannya seorang perempuan menawarkan dirinya kepada lelaki yang shalih karena menginginkan keshalihannya. Hal itu boleh dilakukan.”
“Hadits tadi memuat dalil bolehnya seorang perempuan menawarkan dirinya kepada laki-laki shalih. Perempuan itu juga boleh memberitahukan bahwa ia mencintai laki-laki tersebut karena keshalihannya, keutamaan yang dimilikinya, keilmuannya, dan kemuliannya. Sungguh ini bukan suatu perangai jelek. Bahkan, ini menunjukkan keutamaan yang dimiliki perempuan itu,” kata Imam Al ‘Aini.
Masih dari Fathul Bari, dalam Kitab Tafsir, diterangkan bahwa perempuan yang menawarkan diri itu adalah Khaulah binti Hakim, dan ada yang mengatakan Ummu Syarik atau Fathimah binti Syuraih. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa perempuan itu adalah Laila binti Hathim, Zainab binti Khuzaimah, dan Maimunah bintul Harits.
“Dari hadits tentang seorang perempuan yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah ini,” kata Ibnu Hajar, “Dapat disimpulkan bahwa barangsiapa dari kaum perempuan yang ingin menikah dengan orang yang lebih tinggi darinya, tidak ada yang harus dirasakan malu sama sekali. Apalagi kalau niatnya baik dan tujuannya benar. Katakanlah, umpamanya karena lelaki yang ingin dia tawarkan itu mempunyai kelebihan dalam soal agama, atau karena rasa cinta yang apabila didiamkan saja dikhawatirkan dapat membuatnya terjerumus pada hal-hal yang dilarang.”
Bagi kebanyakan kita, mungkin juga termasuk saya dan Anda, jika mendengar seorang perempuan yang menawarkan diri untuk dinikahi oleh seorang lelaki shalih, mungkin kita akan berkata seperti yang dikatakan oleh putri Anas yang kala itu menyaksikan sebentuk perjuangan cinta itu, “Alangkah sedikit rasa malunya. Sungguh memalukan! Sungguh memalukan!”
Namun, saya lebih suka perkataan yang disampaikan oleh sang ayah, Anas, kepada putrinya itu, “Dia lebih baik daripada kamu. Dia mencintai Rasulullah, lalu dia menawarkan dirinya untuk beliau.”
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2010/10/9674/juang-cinta-para-wanita/#ixzz1rss5rhNp
Thursday, April 5, 2012
Khalifah Abu Bakar radhiallahu’anhu Menjadi Pelayan Nenek Buta
Pada masa Khulafa’ur Rasyidin para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para tabi’in berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan membantu orang yang membutuhkan dan menolong orang yang teraniaya. Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu’anhu dan Umar bin Khatab radhiallahu’anhu termasuk orang yang gigih berlomba-lomba dalam amal kebaikan yang mulia ini, yang pelakunya mendapatkan kebaikan besar di dunia dan banyak pahala di akhirat.Peristiwa ini terjadi pada masa Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu’anhu. Pada saat itu Umar mengamati apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, lalu dia melakukan dua kali lipatnya karena ia bermaksud mendapatkan kebaikan dan mendahului Abu Bakar ke tingkat Surga tertinggi.
Suatu hari Umar mengamati Abu Bakar Ash-Shidiq di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat Subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil untuk beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Umar mengetahui seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Abu Bakar, kecuali rahasia urusan gubuk itu.
Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar Ash-Shidiq tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar tetap belum mengetahui apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan matanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya disitu.
Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapakan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan yang dilihatnya. Dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar radhiallahu’anhu.
Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu (Abu Bakar) di sini?”. Nenek tua itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengenalnya, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku”
Umar menekuk kedua lututnya, kedua matanya basah oleh air mata. Kemudian ia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Wahai Abu Bakar, sungguh engkau telah membuat lelah para khalifah sesudahmu” (maksudnya, khalifah berikutnya sesudah kekhalifahan Abu Bakar harus bekerja lebih keras agar mampu menandingi kualitas kekhalifahan Abu Bakar).
Diambil dari “Mausu’ah Qishashis Salaf”, edisi bahasa Indonesia “Ensklopedi Kisah Generasi Salaf” karya Ahmad Salim Baduwailan, penerbit Elba
http://kebunhidayah.wordpress.com/2009/12/24/khalifah-abu-bakar-radhiallahuanhu-menjadi-pelayan-nenek-buta/
Tuesday, April 3, 2012
Bisakah Kita Membalas Kebaikan Ibu? Inilah Jawaban Islam
Suatu hari, Ibnu Umar melihat seseorang yang sedang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lantas berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Kitab al-Kabair karya adz-Dzahabi).
Kisah di atas memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa setiap anak tidak akan dapat membalas jasa orang tuanya, kecuali ia menemukan orang tuanya sebagai budak, lalu dibeli dan dimerdekakan. (HR Muslim). Dalam hadis lain, “Berbuat baik kepada kedua orang tua itu lebih utama daripada shalat, sedekah, puasa, haji, umrah, dan berjihad di jalan Allah.” (HR Thabrani).
Apakah masih ada kewajiban berbuat baik kepada orang tua setelah keduanya wafat? Sabda Nabi SAW, “Masih, yaitu mendoakannya, memohonkan ampunan untuknya, menunaikan janjinya, memuliakan temannya, dan menyambung hubungan kerabat yang tidak tersambung kecuali dengannya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).
Sejarah mencatat, banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Kita tidak akan dapat menjadi hebat seperti sekarang tanpa sentuhan darinya. Maka, tak berlebihan jika ada ungkapan, Al-Jannatu tahta aqdami al-ummahat”, surga berada di bawah telapak kaki ibu.
Karena itu, ketika seorang laki-laki berhijrah dari Yaman kepada Nabi SAW dan ingin berjihad. Kemudian, Nabi SAW bertanya, “Apakah di Yaman masih ada kedua orang tuamu?”
“Masih ya Rasulullah” jawab laki-laki itu.
Nabi SAW bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan mintalah izin darinya. Jika keduanya memberi izin maka engkau boleh berjihad dan jika keduanya tidak mengizinkan maka berbuat baiklah kepadanya, karena hal itu merupakan sesuatu yang paling baik yang engkau bawa untuk bertemu dengan Allah setelah tauhid.” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).
Lalu, datang laki-laki lain kepada Nabi SAW meminta baiat untuk berangkat hijrah. Ia berkata, “Aku datang kepadamu, sehingga membuat kedua orang tuaku menangis.”
Kemudian Nabi SAW bersabda, “Kembalilah kepada keduanya dan buatlah keduanya tertawa, sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.” (HR Abu Dawud, Nasa’i, dan al-Hakim).
Ibu memiliki peran yang tak dapat digantikan oleh siapa pun. Dialah yang mencetak generasi unggul. Maka, tidaklah berlebihan jika seorang penyair mengungkapkan, Al-Ummu madrasatun, in a’dadtahaa a’dadta sya’ban thayyiba al-a’raaqi. Ibu itu ibarat sebuah sekolah, apabila kamu persiapkan dengan baik, berarti kamu telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.
Dalam hadis lain, Rasul SAW menempatkan ibu sebagai orang yang paling utama untuk dihormati. Beliau memerintahkan umatnya untuk senantiasa memuliakan ibunya, kemudian menyayangi ibunya. Setelah itu, barulah bapak. Wallahu a’lam.
Oleh: Imam Nur Suharno
Dikutip dari Hikmah Republika edisi 29 Maret 2012 dengan judul: Membalas Kebaikan Ibu
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/04/02/m1ujql-bisakah-kita-membalas-kebaikan-ibu-inilah-jawaban-islam
Saturday, March 3, 2012
Kisah Mengharukan: "Saya Rela Menjadi Tongkat Ibu Sepanjang Hidupku."
"Hawa udara di Changchun, Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi…"
Menurut laporan “City Evening Post”, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.
Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.
Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya sang ayah.
Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.
Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.
Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuanyuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.
Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.
Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.
Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.
“Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……”
http://forum.kompas.com/internasional/46355-kisah-mengharukan-saya-rela-menjadi-tongkat-ibu-sepanjang-hidupku.html
Menurut laporan “City Evening Post”, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.
Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya sang ayah.
Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.
Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.
Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuanyuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.
Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.
Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.
Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.
“Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……”
http://forum.kompas.com/internasional/46355-kisah-mengharukan-saya-rela-menjadi-tongkat-ibu-sepanjang-hidupku.html
Friday, February 24, 2012
Mati Syahid di Atas Salib
Suatu saat, Rasulullah Saw. ingin mengetahui gerak-gerik kaum kafir Quraisy maka beliau mengirim sepuluh pejuangnya untuk melakukan misi tersebut. Di antara sepuluh pejuang yang diutus oleh Rasulullah Saw tersebut adalah Khubaib bin Ady dan Zaid bin Ditstsinah. Mereka dipimpin oleh Ashim bin Tsabit. Ketika mereka tiba di suatu tempat yang berada di antara Asfan dan Mekah, suku Hayyan dari kabilah Hudzail sempat melihat mereka, lalu suku Hayyan itu mengintai para pejuang utusan dan berhasil membunuh delapan orang di antara mereka sedang sisanya Khubaib bin Ady dan Zaid bin Ditstsinah berhasil mereka tangkap. Setelah itu, keduanya dijual oleh suku Hayyan kepada kaum kafir Quraisy, lalu mereka menyiksa Zaid hingga tewas sedangkan Khubaib masih dibiarkan hidup dengan 2 pilihan, mati di tiang salib atau kembali pada agamanya semula (kafir).
Pada saat hendak dihukum salib, Khubaib meminta izin kepada mereka untuk melaksanakan sholat tetapi mereka tidak mengizinkannya dengan harapan agar Khubaib mau kembali kepada kekafirannya. Tetapi akhirnya Khubaib tetap melakukan sholat meski tidak diijinkan olah kaum kafir Quraisy. Khubaib berkata, ”Demi Allah, seandainya kalian tidak mengancam untuk membunuhku maka niscaya aku akan tambah lagi sholatku.” Kemudian ia pun mendoakan mereka, ”Ya Allah, hitunglah jumlah mereka dan bunuhlah mereka semuanya!” Karena didoakan seperti itu maka kaum kafir Quraisy pun segera menyalibnya, dan Khubaib sempat melantunkan sebuah syair sebelm kematiannya menjemput,
"Aku tidak peduli bila harus dibunuh
karena aku seorang muslim
Karena setelah itu,
tempat tinggalku berada di sisi Allah
Sedang hidup seperti itu sungguh indah
Dan Mungkin juga nanti akan bertemu
dengan para kekasih tercinta."
Setelah itu kaum kafir quraisy menimpali ucapan Khubaib tersebut, ”Apakah kamu ingin Muhammad menggantikan tempatmu? Sedangkan kamu sendiri akan sehat dan senang berada di tengah keluargamu?”
Khubaib menjawab, “Demi Allah, aku sama sekali tidak ingin berada di tengah keluargaku sambil menikmati indahnya dunia sedangkan Rasulullah Saw sedang tersakiti walau tertusuk duri sekalipun.”
Abu Sufyan yang sempat mendengar jawaban yang terlontar itu lalu memberikan komentar, “Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorangpun yang mencintai orang lain seperti cintanya sahabat Muhammad kepadamya.”
Selesai bercakap-cakap, anak-anak panah kaum kafir Quraisy segera berhamburan melesat ke tubuh Khubaib dan tombak Abu Maisarah dari bani Abdud Daar yang mengakhiri nyawa Khubaib, maka ia pun pergi menuju Tuhannya sebagai pahlawan syahid dengan gagah berani.
Dipetik dari Buku “100 Kisah Teladan Tokoh Besar” karya Muhammad Sa’id Mursi & Qasim Abdullah Ibrahim
Tuesday, February 14, 2012
Valentine’s Day; Ritual Cinta Yang Membodohi Remaja
dakwatuna.com – Tanggal 14 Februari telah menjadi hari special yang ditunggu-tunggu oleh para remaja di dunia, tak terkecuali remaja di Indonesia. Mereka terlanjur meyakini hari ini sebagai hari kasih sayang yang harus diisi dengan perayaan istimewa. Mulai dari saling tukar kado, menyatakan cinta, ciuman, sampai seks bebas merupakan aktivitas yang turut mewarnai valentine’s day.Sejarah Valentine’s Day
Valentine’s Day yang kini dimaknai sebagai hari kasih sayang, tidak muncul dan diperingati begitu saja. Terdapat beberapa versi tentang asal-usul lahirnya Valentine’s Day. Versi pertama, menurut catatan The World Book Encyclopedia (1998) disebutkan bahwa sejarah Valentine’s Day bermula dari sebuah kepercayaan di Eropa. Kepercayaan kuno ini menyebutkan bahwa cinta burung jantan dan betina mulai bersemi pada tanggal 14 Februari. Burung-burung memilih pasangannya pada hari itu. Berdasarkan kepercayaan kuno di kalangan masyarakat Eropa kala itu, lalu kemudian mereka menganjurkan agar pemuda-pemudi memilih pasangannya di hari yang sama seperti berseminya cinta burung jantan dan betina. Apalagi dalam bahasa Perancis Normandia terdapat kata Gelantine yang berarti cinta. Persamaan bunyi antara Gelantine dan Valentine inilah yang dijadikan dasar penetapan hari kasih sayang.
Versi kedua, menghubungkan Valentine’s Day ini dengan seorang pendeta. Menurut beberapa ahli sejarah bahwa Valentine’s Day diadopsi dari nama seorang pendeta bernama Saint Valentine. Dia ditangkap oleh kaisar Claudius II karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih. Dia juga menolak menyembah Tuhan-Tuhan orang Romawi. Kaisar lalu memerintahkan agar dia di penjara dan pada akhirnya dijatuhi hukuman gantung. Orang-orang yang bersimpati kepadanya, lalu menulis surat tentang kecintaan mereka kepada doa sang pendeta. Surat itu kemudian dipajang dan diikatkan di terali bekas penjaranya.
Sementara versi ketiga mengacu pada sebuah pesta yang dilakukan orang-orang Romawi kuno yang disebut Lupercalia. Inilah versi terkuat yang diyakini kebenarannya hingga saat ini. Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian pensucian di masa Romawi kuno. Upacara yang khusus dipersembahkan untuk mengenang dan mengagungkan dewi cinta (Queen of Feverish Love) yang bernama Juno Februata. Dalam pesta tersebut, para pemuda mengambil nama gadis di sebuah kotak secara acak. Nama gadis yang diambilnya tadi kemudian menjadi pendampingnya selama setahun untuk bersenang-senang.
Bergesernya Makna Valentine’s Day
Seiring berjalannya waktu, tahun 496 M Paus Gelasius I mengubah upacara ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day. Upacara untuk menghormati Saint Valentine yang mati digantung oleh kaisar Claudius. Dia digantung karena melanggar aturan kaisar yang melarang para pemuda untuk menikah. Kaisar Claudius berpendapat bahwa tentara yang masih muda dan berstatus bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan. Lelaki yang belum beristri lebih sabar bertahan dalam perang dibandingkan tentara yang sudah menikah. Oleh Karena itu, kaisar memerintahkan untuk melarang kaum laki-laki untuk menikah. Namun, Saint Valentine menentang kebijakan itu. Dia berpendapat bahwa pemuda-pemudi tetap harus mendapat ruang yang luas untuk melampiaskan hasrat cintanya. Dia lalu secara diam-diam menikahkan banyak pemuda.
Sejak orang-orang Romawi kuno mengenal agama Nasrani, maka pesta jamuan kasih sayang ini (pesta Lupercalia) lalu dikaitkan dengan upacara kematian Saint Valentine. Setelah Paus Gelasius menetapkan tanggal 14 Februari sebagai tanggal penghormatan buat Saint Valentine, maka akhirnya perayaan ini berlangsung secara terus menerus setiap tahunnya hingga sekarang. Hari ini dijadikan sebagai momen untuk saling tukar menukar pesan kasih dan menempatkan Saint Valentine sebagai simbol dari para penabur kasih. Hari Valentine ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga, coklat, dan gua-gula. Hari Valentine juga diisi dengan acara kumpul-kumpul, pesta dansa, minum-minuman alkohol hingga pesta seks. Singkatnya perayaan kasih sayang ini dipersembahkan untuk mengagungkan Saint Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, kepasrahan, dan keberanian dalam memperjuangkan cinta.
Sikap Seorang Remaja
Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kaum remaja khususnya pemuda-pemudi Islam? Haruskah mereka ikut hanyut dalam perayaan itu? Tentu jawabannya tidak. Karena Valentine’s Day bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Valentine’s Day bersumber dari paganisme orang musyrik penyembah berhala. Valentine’s Day justru telah merendahkan dan mempersempit makna cinta. Cinta dihargai sebatas coklat, bunga mawar, greeting card, ciuman dan seks bebas. Valentine’s Day juga menyempitkan kasih sayang hanya sehari saja. Padahal dalam Islam, kasih sayang itu perlu diaktualisasikan setiap saat dan di setiap tempat. Bahkan kita diperintahkan untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh manusia.
Perayaan Valentine’s Day juga menggiring remaja untuk melakukan seks. Hal itu dapat kita saksikan dengan jelas dari propaganda mereka. Seorang pakar kesehatan di Inggris bahkan menganjurkan seks di hari Valentine. Direktur kesehatan British Heart Foundation yakni Prof. Charles George mengungkapkan bahwa seks bebas tidak saja membakar 100 kalori dalam tubuh, tetapi juga sangat baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, dia menganjurkan agar masyarakat di manapun, baik tua maupun remaja, hendaknya mengisi perayaan hari Valentine dengan pesta seks.
Olehnya itu, penulis secara pribadi dan sebagai pendidik mengajak kepada seluruh remaja khususnya pemuda-pemudi Islam untuk menjauhi dan tidak ikut-ikutan dalam perayaan ini. Siapa yang ikut merayakan Valentine’s Day berarti dia telah merusak pribadinya sendiri sebagai muslim dan bahkan menjadi bagian dari mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud)
Oleh: Muhammad Rais, S.Ip
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18511/valentines-day-ritual-cinta-yang-membodohi-remaja/#ixzz1mJlSudsN
Valentine's Day; “Sebuah Pembodohan Umat atas Nama Cinta”
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S.AL-ISRO :36)Valentine Day, begitulah kita menyebutnya. Sebuah hari yang dicitrakan sebagai hari ‘kasih-sayang’ oleh orang-orang yang berkepentingan. Valentine memang sudah menjadi fenomena tersendiri di kalangan muda-mudi kita di Nusantara. Tak hanya kaum muda Nasrani, bahkan sebagian kaum muda muslim pun ikut berpesta pora merayakan hari kematian Santo Valentinus tersebut.
Di banyak Negara, tak terkecuali Indonesia Valentine mempunyai daya tarik tersendiri bagi kaula muda. Pencitraan sebagai hari kasih-sayang dijadikan dalil dalam merayakan hari tersebut. Pencitraan itupun kemudian dikesankan bahwa cinta itu erat berhubungan dengan bulan Februari, coklat, kartu selamat dan ngedate. Bahkan oleh sebagian dijadikan moment sebagai ‘pembuktian cinta’ berskala serba terbuka.
Memang, banyak di antara kaula muda yang hanya melihat sebuah fenomena dengan kaca mata sederhana, hingga mereka hanya ikut dalam arus yang ada tanpa berfikir kritis darimana dan mengapa momen itu tercipta. Mereka hanya melihat momen yang dikesankan indah oleh orang berkepentingan. Mengapa disebut berkepentingan? Karena moment Valentine yang dicitrakan sebagai hari kasih-sayang ini sarat kepentingan.
Salah-satunya kepentingan ekonomis. Bagi kaum kapitalis, moment valentine merupakan lumbung subur bisnis di bulan Februari. Karena mereka punya kepentingan ekonomis di dalam pencitraan itu. Maka bisa dilihat, diberbagai media Valentine dijadikan ‘umpan’ bagi para kaula muda. Dimulai iklan Televisi, Radio, Majalah, Koran, Spanduk dan berbagai Reklame terpampang secara berkala bak serangan gerilya dalam peperangan.
Valentine; Lumbung Bisnis Kaum Kapitalis
Motif niaga atau bisnis ini menjadi alasan utama kaum kapitalis karena menguntungkan, mereka merasa perlu memanfaatkan Valentine sebagai umpan bisnis, hingga kemudian dibuat dan dikemas menjadi menarik. Di situlah, pencitraan Valentine sebagai hari kasih-sayang menjadi agenda utama kaum kapitalis dan orang-orang yang tak bertanggung jawab. Mereka dikatakan tidak bertanggung jawab karena hanya melihat keuntungan materil semata, tidak menilai dan melihat aspek lain untuk dipertimbangkan. Mereka tidak mau tahu, apakah Valentine merusak akidah (kepercayaan) kaula muda Islam sebagai mayoritas di Nusantara, apakah perayaan Valentine mempunyai keuntungan terhadap kemajuan moral bangsa atau tidak. Mereka sama sekali tidak memiliki pemikiran ke arah itu, yang ada hanya bagaimana bisnis mereka bisa menguntungkan seuntung-untungnya dan orang suka dengan produk tersebut.
Selama ini, kaum muda muslim telah diperdaya dengan agenda setting kebohongan Valentine. Pencitraan terhadap publik sangat intens, sehingga publik langsung bisa percaya tanpa ada tanda-tanya. Dan ini perlu pelurusan.
Dengan melihat fenomena di atas, kita akan tersadar bahwa kita tengah berada di lapangan peperangan. Peperangan yang berlapangan pemikiran yang bersenjatakan argumen-argumen jitu dalam menyerang. Perang itu bukan perang fisik, namun perang pergulatan ideologis. Fenomena Valentine termasuk agenda perang pemikiran masa kini. Banyak pihak yang apriori terhadap masalah ini, mereka menganggap Valentine merupakan Fenomena sosial yang terjadi seperti fenomena-fenomena yang lain. Tidak perlu dipersoalkan. Tidak mau repot berpikir kritis. Padahal jika kita lihat aspek-aspek yang lain, maka akan kita dapati beragam macam keganjilan sebagai sebuah kebohongan yang disetting.
Valentine; Pembodohan Atas Nama Cinta
Valentine perlu dicermati serta dikritisi, seperti dari mana sebabnya Valentine bisa dinamakan kasih sayang? Toh ketika memakai pendekatan bahasa, baik secara etimologi bahkan terminology sekalipun, kasih-sayang dan Valentine tidak punya kausalitas linguistik. Lebih jauh lagi jika kita kaji lewat pendekatan historis (sejarah), kita tidak akan pernah mendapati bahwa Valentine's Day yang selalu dikaitkan dengan hari kasih-sayang memiliki mata rantai sejarah dengan cinta dan kasih sayang. Justru yang ada, pada tanggal 14 Februari memiliki muatan Teologis praktis dengan ritualitas Paganisme Romawi Kuno yang diadopsi oleh kaum Kristen yang hendak memasuki bangsa adidaya kala itu.
Berawal dari ritual perayaan Lupercalia Bangsa Romawi Kuno, embrio Valentine tercipta. Akulturasi perayaan Lupercalia dilakukan Kaum Kristen sebagai wasilah agar agama mereka dapat diterima masyarakat Romawi kala itu. Dengan berbagai eksplorasi, akhirnya Kaum Nasrani mempunyai jalan agar ritual itu tetap berjalan namun dengan landasan teologis mereka. Tanggal 14 sendiri dipilih karena memiliki sejarah kelam tentang kematian Santo Valentinus Sang Pendeta yang dihukum gantung karena enggan mengakui tuhan-tuhan Bangsa Romawi. Dia tetap bersikukuh mempercayai ketuhanan Yesus. Sang Raja Romawi pun menghukumnya.
Valentine dan Kerusakan Moral Bangsa
Seperti yang telah disinggung di atas, pencitraan Valentine sebagai hari Cinta dan Kasih-sayang memiliki dampak yang begitu serius terhadap keberlangsungan moralitas bangsa. Pasalnya, pencitraan tersebut cenderung menyalah-gunakan nama cinta. Malam valentine selalu dijadikan momen hura-hura serta pesta pora. Hingga sebagai ajang pembuktian cinta serba terbuka, dalam hal ini kaula muda menjadikan momen aktivitas seksual atas nama pembuktian cinta. Tidak sedikit remaja perempuan yang rela memberikan keperawanannya atas nama cinta. Dan ini menjadi masalah serius bagi keberlangsungan moral bangsa. Jika terus dibiarkan, maka nilai yang dianggap salah sekalipun akan dianggap biasa-biasa saja karena dibiasakan. Dan di sinilah peran pemerintah diuji.
Sejauh mana pemerintah dapat melindungi hak-hak warga negaranya. Terlebih generasi muda muslim sebagai mayoritas. Bila selama ini, banyak pihak yang selalu mengumandangkan sesuatu atas nama HAM. Maka umat Islam, dalam hal ini para kaula muda Islam memiliki hak yang sama untuk dilindungi dari kecacatan Spiritual dan Moral dari pencitraan sesat Valentine's Day sebagai hari Cinta dan Kasih-sayang. Wallahu a’lam.
Alan Ruslan Huban (Bidgar Da’wah PC PEMUDA PERSIS Cibatu, Mahasiswa STID Mohammad Natsir Jakarta)
http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/alan-ruslan-huban-mahasiswa-stid-mohammad-natsir-valentine-day-sebuah-pembodohan-umat-atas-nama-cinta.htm
Subscribe to:
Posts (Atom)




