Showing posts with label Allah. Show all posts
Showing posts with label Allah. Show all posts

Thursday, June 21, 2012

Katanya Allah itu Ada, Mana Buktinya?

Kisah ini termasuk kategori ‘Raddus-Syuhubuhat’ (jawaban atas tuduhan) tentang Islam. Musuh-musuh Islam selalu mencari-cari permasalahan dalam agama ini yang sulit dijawab oleh logika kita dan tujuannya agar kaum Muslimin ragu terhadap kebenaran agama mereka, terutama masalah aqidah.

Saya juga kurang ingat betul apakah ketiga pemuda dalam kisah ini beragama Kristen atau Atheis yang anti agama. Intinya ketiga orang pemuda itu ingin menguji pemahaman seorang ulama tentang Islam. Kalau ia tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan itu, apalagi orang awam. Dan kalau tidak ada jawaban yang logis dan memuaskan, maka ada kelemahan dalam agama ini.

Ketiga pemuda itu menemui sang ulama, dengan penuh yakin bahwa sang ulama tidak bisa menjawab salah satunya mulai berbicara,

“Ya syeikh, katanya Allah itu ada, mana buktinya? Kenapa tidak bisa kita lihat?”

“Cukup? Ya, ada pertanyaan lagi?” sambut ulama itu.

“Ada syeikh, katanya Allah telah menentukan segalanya, termasuk amal perbuatan kita sudah ditentukan dan ditakdirkan. Kalau memang demikian, kenapa musti ada hisab? Dan kenapa musti ada hukuman bagi orang yang melakukan kesalahan?” pemuda kedua bertanya.

“Ya bagus. Ada lagi yang ditanyakan?” tantang syeikh itu.

“Ya ada lagi syeikh. Katanya syetan itu diciptakan dari api. Dan kita tahu bahwa syetan nanti akan dimasukkan ke dalam neraka. Apa ada pengaruhnya, api dibakar dengan api?” Tanya pemuda ketiga.

“Cukup atau ada lagi?”

“Cukup syeikh.”

“Ya sebentar ya…”

Sang ulama tidak menjawab melainkan mengambil beberapa genggam tanah keras lalu… "Pluk… prak…duss…!"

Dilemparkan tanah keras itu ke muka ketiga pemuda itu, dan ketiganya meringis kesakitan. Darah pun bercucuran dari wajah mereka.

“Ya syeikh, kami bertanya baik-baik, kenapa Anda melempar kami?”

“Itu jawabannya…” jawab ulama itu.

Ketiga pemuda itu pergi dan langsung membawa kasus ini ke pengadilan. Melaporkan perbuatan ulama itu agar diadili karena kezhalimannya.

Pengadilan menerima aduannya dan ulama itu pun dipanggil.

Saat sudah berada di atas kursi terdakwa hakim mulai memproses hukumnya dan menanyakan kepada ulama itu perihal dakwaan ketiga pemuda itu.

“Ya syeikh,” kata hakim. “Benarkah Anda telah menyakiti ketiga pemuda ini? Bisa Anda jelaskan?”

“Ketiga pemuda itu menanyakan tiga hal dan saya telah menjawabnya.”

“Jawaban macam apa, syeikh? Lalu kenapa mereka terluka seperti itu?”

“Ya, itu jawabannya.”

“Saya tidak mengerti, bisa Anda jelaskan?”

“Mereka bertanya bahwa Allah itu ada, jika ada, mana buktinya? Kenapa kita tidak bisa melihatnya? Sekarang saya bertanya, bagaimana rasanya saya lempar dengan tanah keras itu? Sakit?”

“Jawab wahai pemuda?” minta hakim kepada salah satunya.

“Ya sakit.”

“Kalau memang sakit, berarti sakit itu ada, kalau memang ada, mana buktinya? Kenapa saya tidak melihat ‘sakit’ itu?”

“Ini, darah ini syeikh. Darah ini tanda bahwa sakit itu ada.”

“Begitulah pak Hakim, dia tidak bisa membuktikan adanya sakit dan tidak bisa melihat sakit itu, hanya menunjukkan tandanya, darah. Bahwa sesuatu yang ada tidak mesti bisa dilihat. Tapi ada tanda-tandanya. Sakit itu ada dan tidak bisa kita lihat, hanya ada buktinya, darah. Demikian halnya dengan Pencipta kita, Allah Azza wa Jalla. Ia ada, namun keterbatasan akal kita tidak bisa menangkap keberadaan-Nya. Dan seluruh makhluk di jagad raya ini adalah bukti bahwa Allah itu ada.”

“Bisa diterima,” sela hakim.

“Pertanyaan yang kedua pak hakim, mereka bertanya bahwa Allah telah menentukan segalanya termasuk amal perbuatan manusia dan mentakdirkannya, jika demikian, apa gunanya hisab dan kenapa mesti ada hukuman bagi orang yang berbuat salah?”

“Apa jawaban Anda syeikh?”

“Sekarang saya bertanya kepada kalian. Kalau Anda berkeyakinan seperti itu, kenapa melaporkan perbuatan saya ke pengadilan? Perbuatan saya kan sudah ditentukan?”

“Bisa diterima syeikh, ada lagi?

“Yang ketiga bertanya, syetan adalah makhluk yang diciptakan dari api, lalu di akhirat nanti akan masuk neraka dan disiksa dengan api. Dan saya telah melempar mereka dengan tanah, kita tahu bahwa mereka, kita diciptakan dari tanah, kalau memang sama-sama dari tanah kenapa mesti meringis kesakitan?”

Hakim pun menerima argumentasinya dan memutuskan bebas untuk sang ulama…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17826/katanya-allah-itu-ada-mana-buktinya-kenapa-tidak-bisa-kita-lihat/#ixzz1yO6l3WFt

Tuesday, May 10, 2011

Nabi Sulaiman as Menangkap Iblis

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Sulaiman as memohon kepada Allah, "Ya Allah, Engkau telah menundukkan bagiku manusia, jin, binatang buas, burung-burung dan para malaikat. Ya Allah, aku ingin menangkap Iblis dan memenjarakan, merantai, serta mengikatnya, sehingga manusia tidak berbuat dosa dan maksiat lagi."

Allah Swt kemudian mewahyukan kepada Nabi Sulaiman as, "Wahai Sulaiman, tidak ada kebaikan(nya) jika Iblis ditangkap." Nabi Sulaiman as tetap memohon, "Ya, Allah, keberadaan makhluk terkutuk itu tidak memiliki kebaikan di dalamnya."

Allah Swt berfirman, "Jika Iblis tidak ada, maka banyak pekerjaan manusia yang akan ditinggalkan."

Nabi Sulaiman As berkata, "Ya Allah, aku ingin menangkap makhluk terkutuk ini selama beberapa hari saja."

Allah Swt ber-firman, "Bismillah, tangkaplah Iblis!"

Kemudian Nabi Sulaiman as menangkap Iblis itu. Beliau merantai dan memenjarakannya.

Dalam pada itu, Nabi Sulaiman as juga merajut tas. Beliau makan dari hasil jerih payahnya sendiri. Suatu hari, Beliau membuat tas untuk dijual ke pasar. Dari hasil penjualan tas, beliau hendak membeli gandum sekadarnya untuk membuat roti. Padahal dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa setiap hari di dapur (istana) Nabi Sulaiman dimasak 4000 unta, 5000 sapi, dan 6000 kambing. Meski demikian, Nabi Sulaiman as membuat tas dan menjualnya ke pasar untuk mencari makan.

Keesokan harinya, Nabi Sulaiman as mengutus anak buahnya untuk menjual tasnya ke pasar. Mereka melihat pasar itu tutup dan tak ada yang berdagang sama sekali. Mereka kembali dan mengabarkan kepada Nabi Sulaiman as.

Nabi Sulaiman as bertanya, "Apa yang telah terjadi?" Mereka menjawab, "Kami tidak tahu."

Ya, tas Nabi Sulaiman as tidak bisa dijual malam itu. Nabi Sulaiman as hanya minum segelas air. Hari berikutnya, anak buah Nabi Sulaiman as kembali menjual tas itu ke pasar. Mereka kembali membawa berita bahwa pasar tetap tutup dan semua orang pergi ke pekuburan; sibuk menangis dan meratap. Semua orang siap-siap melakukan perjalanan ke alam akherat. Nabi Sulaiman as bertanya kepada Allah, "Ya, Allah, apa sebenarnya yang telah terjadi? Mengapa orang-orang tidak bekerja mencari makan?"

Allah Swt mewahyukan kepada Nabi Sulaiman as, "Wahai Sulaiman, engkau telah menangkap Iblis itu, sehingga akibatnya manusia tidak bergairah bekerja mencari nafkah. Bukankah sebelumnya telah kukatakan padamu bahwa menangkap Iblis itu tidak mendatangkan kebaikan?"

Mendengar itu, Nabi Sulaiman as segera membebaskan Iblis. Esok harinya, orang-orang bergegas ke pasar dan membuka toko mereka masing-masing. Mereka pun sibuk bekerja dan mencari nafkah. Jadi, jika tidak ada Iblis, pekerjaan manusia akan kacau balau.

Dipetik dari Buku ” Kisah-Kisah Allah ” Karya Ahmad Mir Khalaf Zadeh & Qasim Mir Khalaf Zadeh
http://namakugusti.wordpress.com/2010/07/22/nabi-sulaiman-as-menangkap-iblis/

Monday, May 2, 2011

Bantuan Itu Datang Setelah Shalat Tahajud

Hidayatullah.com - Sore menjelang maghrib beberapa hari lalu, istriku terlihat resah. Beberapa kali mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu. Raut wajahnya tampak kalut. Karena penasaran, saya pun bertanya kepadanya. “Ada apa toh umi. Dari tadi ko terlihat bingung?”.

“Anu, Abi. Beras di dapur sudah habis. Bingung besok enggak ada yang dimasak,” jawabnya sambil menunjukkan karung beras yang sudah kosong melompong.

Kekhawatiran istriku bisa dimaklumi. Pasalnya, jika besok tidak ada beras yang dimasak, maka tiga belas anak yayasan yang kami asuh terancam bakal tidak makan. Itu berarti, mereka akan berangkat sekolah dengan perut kosong.

“Umi tenang saja, ya. Meski beras sudah tidak ada, tapi kita masih punya satu malam untuk shalat tahajud dan meminta kepada Allah,” kataku menenangkan dengan penuh kenyakinan.

“Iya abi, umi yakin. Semoga saja Allah yang Maha Pemberi rezeki berkenan membantu kita,” harapnya meski kekalutan masih tergambar di wajahnya.

Malam harinya, pukul 2.30 dini hari saya dan istri bangun. Sekitar sepuluh menit berwudhu dan memakai pakaian shalat. Setelah itu membangunkan anak-anak yang sedang tidur pulas. Cukup sulit juga membuat mata mereka melek. Meski sudah dipukul pelan dengan sajadah dan kata-kata “Shalatul lail” berulang kali, tetap saja mereka tidak bangun-bangun.

Parahnya lagi, bila ada yang sudah bangun, tak jarang yang tidur lagi. Cukup lama memang agar mau membuka mata mereka melek dan langsung mengambil air wudhu. Mungkin karena masih kecil-kecil jadi sulit dibangunkan. Tapi, setelah sekitar 15 menit dan beberapa kali dibangunkan, akhirnya mereka pun semua bangun.

Sembari menunggu mereka siap-siap, saya dan istri shalat lebih dulu. Biasanya, mereka akan menyusul shalat. Dalam suasana syahdu di sepertiga malam itu saya pun berdoa dan memohon kepada Allah SWT. Kedua tangan kutengadahkan ke langit. Istri dan anak-anak mengamini meski dengan mata merem-melek menahan kantuk.

“Ya Allah, Engkau Maha Kaya. Berilah rezeki yang halal dan berkah untuk kami ya Allah. Kami tidak memiliki apa-apa kecuali dari-Mu. Jika ia ada di langit, turunkanlah, jika di bumi keluarkanlah, jika kotor sucikanlah. Terdengar suara amin para santri. Air mataku meleleh.

Subhanallah. Pagi sekitar pukul 10.00 tiba-tiba datang seseorang perempuan membawa empat karung beras. Entah tahu dari mana, tapi kata perempuan itu ia sengaja mencari yayasan di daerah itu, Sidoarjo, Jawa Timur. Yayasan kecil kami terletak jauh di dalam gang. Tak banyak orang tahu. Selain itu, di sekitar juga banyak yayasan lain jauh lebih besar dan terkenal.

Saya yakin, ia dikirim oleh Allah. Dan saya yakin, itu jawaban atas doa anak-anak yayasan semalam.

“Subhanallah, ternyata betul ya Abi. Allah pagi ini buktikan janji-Nya,” kata istri setelah mengantar dermawan itu pulang.

Sejak itu, saya dan istri makin yakin kekuatan shalat malam. Shalat malam bisa menjadi senjata untuk mengundang pertolongan Allah setiap saat dan dalam kondisi apapun.

Sejak saat itu pula, saya, istri dan seluruh penghuni yayasan melakukan shalat tahahud tiap malam. Dan ternyata, hingga kini Allah selalu mencukupi kebutuhan kami. Kami tidak pernah kelaparan. Pertolongan seperti itu juga sering kami alami.

Pernah suatu saat, tiba-tiba seseorang datang jauh-jauh dari Malang. Kata lelaki yang memiliki salon itu, ia bermimpi disuruh untuk memberikan sedekah ke sebuah yayasan di daerah tersebut.

Ciri-ciri yayasan itu, katanya kecil dan ustadz pemangkunya berbadan kurus. Maka, dicarilah yayasan yang dimaksud dalam mimpinya itu. Tapi, sudah dicari-cari tak jua ketemu. Ketika menemui yayasan kami, yakinlah orang tersebut jika yayasan itu yang ada dalam mimpinya.

“Iya, ini pesantrennya yang ada dalam mimpi saya,” katanya. Meski berkali-kali saya pertanyakan jangan-jangan bukan yayasan ini yang dimaksud, tapi ia tetap bergeming. Ia pun memberi uang Rp 2 juta rupiah.

Tidak hanya itu. Pernah juga ada kejadian serupa. Ceritanya, ada seseorang nyasar yang ingin memberi bantuan. Ia sebenarnya ingin memberi sedekah ke yayasan lain. Tapi, entah kenapa, ia justru datang ke yayasan kami. Saya pun menjelaskan jika yayasan ini bukan yang ia maksud dan memintanya agar menyalurkan sedekahnya ke yayasan semula.

Tapi, meski sudah berkali-kali dibujuk, ia tetap saja bersikukuh. “Sudah, sedekah ini saya berikan untuk yayasan ini saja,” paparnya. Karena tak bisa menolak, sedekahnya pun kami terima. Dalam hati saya berucap dengan sedikit bergurau: “Ternyata, malaikat pinter juga ya mengalihkan orang berbuat baik.”

Saya sendiri sudah beberapa tahun menjadi pengasuh di yayasan Islam di Sidoarjo milik salah satu ormas Islam. Yayasan itu belum terlalu besar. Gedungnya saja masih milik orang lain, hanya disuruh menempati saja. Ada tiga belas anak yang masih sekolah, dari bangku SD hingga SMA. Mereka dari berbagai daerah, ada dari Sidoarjo sendiri, Balikpapan, Madura, Semarang, Surabaya, dan deerah lainnya.

Seperti yayasan pada umumnya, pembiayaan gratis dan berasal dari umat Islam. Tapi, kendati demikian, saya tak pernah khawatir Allah telantarkan kami. Karena itu, agar Allah tak pernah sepi menolong, maka tiap malam kami harus sering meminta dan menagih janji-Nya. Seperti diceritakan Maryadi kepada Hidayatullah.com

http://www.hidayatullah.com/read/16694/29/04/2011/bantuan-itu-datang-setelah-shalat-tahajud.html

Friday, April 29, 2011

Perempuan Bersayap di dalam Surga

Kehadiran Musa di tengah keluarga Fir’aun yang kafir telah mematahkan kehendak manusia seberkuasa apapun manusia itu. Kehadiran Musa di tengah keluarga fir’aun yang kafir adalah sebuah bukti skenario-Nya. Skenario yang menggenggam setiap gerak kemahlukkan manusia. Di tengah kekuasaan Fir’aun dan antek-anteknya, Musa hadir dan lolos dari hukum penggal. Ini sebuah ironisme bagi kekuasaan Fir’aun.

Kehendak Allah inillah yang menumbuhkan cahaya iman seorang perempuan sederhana. Dia hanya seorang tukang sisir istana keluarga Fir’aun, Masyitah namanya. Dia seorang Ibrani. Mula-mula, tidak seorang pun tahu siapa sebenarnya Masyitah dan mengapa tindak-tanduknya berbeda dengan pelayan istana lainnya. Perempuan salehah ini tekun beribadah dan dilindungi oleh istri Fir’aun sendiri yang juga perempuan solehah.

Tumbuhnya iman Masyitah seiring tumbuh dan berkembangnya Musa sebagai seorang anak laki-laki. Dan selama itu, tidak seorang pun mengetahui bahwa dalam istana megah itu hidup beberapa hamba Allah yang kelak akan tertoreh dalam sejarah mesir.

Pada suatu hari, seperti biasa Masyitah melaksanakan tugasnya menyisiri rambut putri-putri Fir’aun. Tidak seperti biasanya, hari itu, Masyitah agak sedikit gugup-seolah dia menerima firasat buruk. Tanpa sengaja sisir yang dia pegang terjatuh dan meluncur dari mulutnya, “Mahasuci Allah!.”

Bagai disambar petir telinga putri Fir’aun mendengar ucapan juru sisirnya yang bertentangan dengan keyakinannya. “Apa yang kamu sebut itu, inang? Kau berani menyebut Tuhan selain Fir’aun? Kau akan segera menemui kematianmu!” hardik putri Fir’aun itu.

Putri Fir’aun beranjak dari duduknya dan mengadukannya hal itu kepada ayahandanya. Masyitah tepekur akan nasib yang akan menimpanya. Dan betul saja, tiba-tiba seorang pengawal istana memerintahkannya menghadap Fir’aun. Masyitah pasrah dan dikuatkan hatinya menghadapi siksaan itu nanti.

“Apa yang kamu sebut tadi, keparat?!” hardik Fir’aun. Sejenak, perempuan salehah itu terbungkam. Kemudian, seorang pengawal maju dan menghempaskannya pecutnya ke tubuh Masyitah.

“Jawab! apa yang kamu sebut tadi?” hardik Firaun lagi.

“Hamba menyebut Mahasuci Allah…” jawab Masyitah yang tiba-tiba di anugrahi keberanian. Dia tidak lagi tunduk walaupun cemeti berkali-kali mendera tubuhnya.

”Berani benar kau menentang aku, heh! Akulah Tuhanmu, Tuhan rakyat Mesir. Akulah yang menentukan hidup matimu. Akulah Tuhan tertinggi dari seluruh jagat ini. Berani-beraninya kau menyebut tuhan selain Aku Tuhanmu!”

”Mahasuci Allah, tiada sesembahan lain selain kecuali Dia. Allah lah yang menciptakan langit bumi dan segalah isinya. Allah yang menentukan rizki bagi hamba-hambaNya. Tiada sesuatu yang sempurna kecuali Allah,” kata Masyitah kemudian dengan tegas.

Berbarengan dengan ucapannya itu, dua orang pengawal menyeretnya ke tempat penyiksaan. Sebuah kuali raksasa sedang terjerang di atas api yang menjilat-jilat. Dalam kuali itu terisi minyak yng mendidih. Algojo yang membawanya, menuju ke arah beberapa orang yang tengah diborgol dengan belenggu besi. "Kau kenal siapa orang-orang itu?”

Masyitah melihat dua orang anaknya dalam genggaman para pengawal itu. Dia hampir tidak percaya bahwa kedua anak yang masih kecil-kecil itu pun akan menerima siksaan seperti dia.

Algojo bertanya lagi, “Masihkah kau mengingkari Tuhan Fir’aun, hai budak?!”

“Tuhanku adalah Allah yang Mahatunggal, Allahu Ahad, Ahad!” Air mata Masyitah bagai menyembur. Dia menyaksikan anaknya yang tua memanggil-manggil. Namun, suaranya tiba-tiba terenyap tertelan kobaran api yang memanggang kuali yang berminyak mendidih itu.

”Sekarang, sebut Fir’aun adalah Tuhanmu!”. ancam algojo lagi.

“Rabbiyallah. Hanya Allah Tuhanku. Allah yang menentukan hidup matiku.”

”Masih tegakah kamu melihat anak bayimu digoreng dalam panggangan api itu?”

“Api tidak mematikan, kecuali jika ajal memanggil. Allah-lah yang menghidupkan dan Allah-lah pula yang mematikan, kemudian Allah pula yang menghidupkan kembali.”

Tiba-tiba, Masyitah menyaksikan anak bayinya itu dilemparkan ke dalam kobaran api. Sejenak ia memejamkan matanya, tapi kemudian dengan lantangnya dia berseru, ”Wahai Anak-anakku…, kalian adalah syuhada pengisi surga. Tunggulah ibumu. Aku akan menyusul kalian!”

Lalu kepada algojo Fir’aun, Masyitah berseru, “Wahai budak kekuasaan, kalian adalah setan-setan bermuka manusia. Sampaikan pesan terakhirku ini kepada rajamu, manusia yang kalian anggap Tuhan bahwa sudah kehendak Allah tidak akan lama lagi negeri ini akan musnah. Fir’aun dan pengikutnya akan ditelan Laut Merah. Camkanlah bahwa tiada kekuasaan, melainkan kekuasaan Allah. Kini aku siap menghadapi kematian. Lemparkan diriku kedalam belanga yang berapi itu!”

Kejadian itu demikian cepatnya. Dua orang algojo mengangkatnya, lalu melemparkan perempuan itu ked alam kobaran api pembakaran itu. Sekilas, tampak wajah Masyitah menyunggingkan senyum. Sesungguhnya dia telah melihat gerbang surga serta para malaikat yang menyambut kedatangannya.

http://ibnoe.com/kisah-nyata-perempuan-bersayap-di-surga.html

Wednesday, September 29, 2010

Bersilaturahim Karena Allah

Suatu saat, selepas melaksanakan shalat di Masjid Nabawi, Madinah, Rasulullah SAW berbagi sapa dan berbincang-bincang dengan para sahabat tentang pelbagai hal. Dalam pertemuan tersebut, beliau berupaya memberikan dorongan kepada kaum muslim untuk saling mencintai karena Allah dan demi meraih ridha-Nya.

Beliau pun menceritakan sebuah kisah. “Wahai sahabat-sahabatku,” tutur beliau, ”suatu ketika ada seorang pria berkunjung kepada saudaranya di jalan Allah. Kemudian, Allah Swt mengirimkan malaikat untuk bertanya kepadanya.

Ketika bertemu dengan orang itu, malaikat itu pun bertanya,”Wahai saudaraku ! Engkau hendak kemana?’

“Aku hendak mengunjungi saudaraku si Fulan!” jawab orang itu.

“Apakah keperluanmu kepadanya?” tanya sang malaikat penuh selidik.

“ Tidak ada!” jawab orang itu.

“Apakah dia mempunyai hubungan kekeluargaan denganmu?” tanya sang malaikat lebih jauh lagi.

“Tidak!” jawab orang itu.

“Apakah karena dia pernah memberimu sesuatu?” tanya sang malaikat sekali lagi.

“Tidak!” jawab orang itu.

“Kalau begitu, apa sebabnya engkau berkunjung kepadanya?” tanya sang malaikat.

“Aku mencintainya di jalan Allah!” jawab orang itu.

“Wahai saudaraku,” ucap sang malaikat memberi tahu orang itu, “sesungguhnya Allah SWT mengutusku kepadamu untuk menerangkan bahwa Dia mencintaimu karena cintamu kepadanya, dan Dia mengharapkan surga untukmu!”

Sumber : buku “Mutiara Akhlak Rasulullah SAW” , penulis : Ahmad Rofi’ Usmani

Mangkuk Yang Cantik, Madu dan Sehelai Rambut

Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abakar RA, Umar RA, Utsman RA, dan ‘Ali RA, bertamu ke rumah Ali RA. Di rumah Ali RA, istrinya Sayidatina Fathimah RHA, putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta ke semua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abubakar RA berkata, “Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut.”

Umar RA berkata, “Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Utsman RA berkata, “Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber’amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

‘Ali RA berkata, “Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Fatimah RHA berkata, “Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Rasulullah SAW berkata, “Seorang yang mendapat taufiq untuk ber’amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber’amal dengan ‘amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat ‘amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Malaikat Jibril AS berkata, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

Allah SWT berfirman, “Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut.”

[Sahabat Nabi, Last Revised : Ahad, 7 Maret 2005]

Thursday, December 3, 2009

Gusti Allah Ora Sare

Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11 malam. Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini. Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan, warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan “acara” kehujanan.

Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual nasi goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana. Lumayan, pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala. Dia menyilahkan saya duduk. “Disini saja dik, daripada kehujanan…,” begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh.

Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya berkata, “tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja. Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak sibuk. Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik. Tampaklah pertunjukkan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar. Tangannya cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu.

Segera saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula canggung mulai hilang. Basa-basi saya bertanya, “Wah hujannya tambah deras nih, orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?” Bapak itu menoleh ke arah saya, dan berkata, “Iya dik, jadi sepi nih dagangan saya..” katanya sambil menghisap rokok dalam-dalam.

“Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?” kata saya, “Wah, rezekinya jadi berkurang dong ya?” Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja, tak banyak yang membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu tambah sedih. Namun, agaknya saya keliru…

“Gusti Allah, ora sare dik, (Allah itu tidak pernah istirahat), begitu katanya. “Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi
lumayan lah tanahnya.” Bapak itu melanjutkan, “Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih hujan…”

Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, “Gusti Allah ora sare”. Allah Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya, tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Makna nya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.

Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar.

Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok.

Hmm…saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak saya. “Ya Allah, Engkau Memang Maha yang Tak Pernah Beristirahat” Untunglah, hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan. Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare…. Gusti Allah Ora Sare…

***
Teman, begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. Allah memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar. Termasuk kali ini. Ya, ini adalah hari yang bersejarah buat saya. Saat ini, usia saya telah bertambah, dan milis ini pun memasuki tahun yang ketiga. Tentu, ya tentu, saya merasa bersyukur sekali dengan semua ini. Namun, kadang wujud syukur itu tak tampak kentara dalam runutan hidup yang saya lakoni.

Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan.

Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa. Aku berdoa agar diberikan kekuatan…Namun, Allah memberikanku cobaan agar aku kuat menghadapinya.

Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan…Namun, Allah memberikanku masalah agar aku mampu memecahkannya.
Aku berdoa agar diberikan kecerdasan…Namun, Allah memberikanku otak dan
pikiran agar aku dapat belajar dari-Nya.
Aku berdoa agar diberikan keberanian…Namun, Allah memberikanku marabahaya agar aku mampu menghadapinya
Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang…Namun, Allah memberikanku
orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat berbagi dengannya.
Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan…Namun, Allah memberikanku pintu
kesempatan agar aku dapat memanfaatkannya.