Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts
Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts

Thursday, July 12, 2012

Air Mata Meng Chiang

Kisah ini terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Ch’in Shih Huang-ti yang dikenal kejam. Kaisar khawatir kalau dinasti Hun akan menyerang negara tersebut dari utara. Agar dapat memantau musuhnya tersebut, Kaisar memutuskan untuk membangun sebuah tembok sepanjang wilayah perbatasan Cina bagian utara. Tetapi tidak lama sesudah satu bagian selesai dibangun, bagian yang lain runtuh. Dan hal ini terjadi berulang kali, sehingga pelaksanaan ‘proyek besar’ tersebut tidak pernah mengalami kemajuan.

Kemudian, seorang lelaki bijak yang merangkap salah satu anggota tim arsitek tembok tersebut berkata kepada Kaisar, “Tembok seperti ini, yang panjangnya melebihi 10.000 mil* hanya dapat dibangun jika anda mengorbankan dan mengubur manusia di setiap mil dari tembok tersebut, sehingga akan ada ‘pelindung’ di setiap milnya.”

Sangat mudah bagi kaisar untuk memenuhi nasihat ini, dengan berbagai cara Kaisar mulai menyusun rencana untuk mengorbankan manusia dengan jumlah yang sangat besar, yaitu 10.000 orang untuk membangun 10.000 mil tembok tembok tersebut. Negara pun gempar ketika rakyat mulai mendengar Kaisar akan melakukan rencana ini.

Pada saat Kaisar akan memulai rencananya, datanglah seorang pemuda terpelajar menemuinya. Pemuda tersebut berkata bahwa mengorbankan 10.000 manusia akan sangat membuat rakyat menderita, maka pemuda tersebut mengusulkan lebih baik jika kaisar mengorbankan 1 orang saja yang bernama “Wan” – karena “Wan” berarti “sepuluh ribu”.

Kaisar menyetujui usul ini. Maka dengan segera, ia mengerahkan prajurit-prajuritnya untuk menelusuri negeri ini – untuk mencari seorang lelaki yang bernama Wan. Para prajurit tersebut akhirnya menemukan seseorang bernama Wan – yang sedang duduk bersanding dengan pengantin wanitanya di sebuah pesta pernikahan. Wan dibawa dengan paksa oleh para prajurit – meninggalkan Meng Chiang – sang pengantin perempuan yang sedang dinikahinya di pesta itu.

Dengan berjalan kaki dan berlinang air mata, Meng berusaha menyusul kereta kuda prajurit yang membawa suaminya, tak peduli berapa jauh jarak yang harus ia tempuh. Meng berjalan melintasi pegunungan dan sungai untuk mencari suaminya.

Setelah beberapa bulan berlalu sampailah Meng di tembok raksasa – tempat suaminya dikorbankan dan dikuburkan. Meng tidak tahu lagi harus berbuat apa, maka ia hanya bisa duduk tersungkur dan menangis di dinding tembok itu. Air mata cintanya ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa, tembok tersebut runtuh saat air mata Meng mengalir didindingnya. Dan jasad suaminya pun muncul diantara reruntuhan tembok itu.

Ketika Kaisar mendengar kabar ini, maka mulai timbul rasa iba di hatinya. Kaisar memutuskan untuk menemui Meng Chiang. Maka, Kaisar mengirimkan utusan untuk menjemput Meng Chiang, dan Meng pun akhirnya dihadapkan pada raja. Kecantikan Meng Chiang ternyata dapat menggetarkan hati sang Kaisar, sehingga ia memutuskan untuk menjadikan Meng Chiang sebagai permaisurinya.

Meng Chiang tahu betul bahwa ia tidak akan dapat menolak kehendak sang Kaisar. Jadi Meng tetap menyetujuinya, tetapi dengan tiga syarat : Pertama, harus dilangsungkan pesta selama 49 hari untuk menghormati suaminya. Kedua, sang Kaisar beserta seluruh pejabat negara harus datang dan menghormati pemakaman suaminya dalam sebuah proses pemakaman yang megah. Ketiga, sang Kaisar harus mendirikan menara berteras dari batu setinggi 49 kaki** di tepi sungai, dimana dia ingin memberikan persembahan dan bersembahyang untuk suaminya.

Sebagai Kaisar, sangat mudah bagi bagi Ch’in Shih Huang-ti untuk mengabulkan permohonan itu. Semua permintaan Meng akhirnya dipersiapkan.

Ketika semua sudah siap, Meng Chiang naik ke atas menara batu yang dimintanya tersebut.. dengan berteriak-teriak – dan didengar oleh seluruh pejabat kerajaan dan undangan yang hadir di pesta – Meng mulai mengutuk kekejaman dan kejahatan Kaisar dengan lantang.

Meskipun di dalam hatinya Kaisar sangat murka, tetapi ia tetap berusaha tenang. Tetapi ketika Kaisar melihat Meng Chiang terjun ke dalam sungai dan tewas, dia menjadi murka dan memerintahkan para prajuritnya untuk memotong-motong tubuh Meng Chiang dan melumatkannya.

Ketika mereka melakukan ini, bagian-bagian tubuh Meng Chiang berubah menjadi ikan-ikan kecil keperakan, di mana jiwa Meng Chiang yang penuh kesetiaan bersemayam di dalamnya…

*Setara dengan 16.000 km, yaitu rencana awal panjang tembok China pada pemerintahan Kaisar Ch’in Shih Huang-ti. Tembok ini kemudian dilanjutkan oleh dinasti-dinasti yang lain. Saat ini, panjang tembok China masih belum diketahui secara pasti, tembok yang masih utuh memiliki panjang sekitar 6.700 km dan setelah itu terputus-putus di banyak bagian, menurut catatan sejarah diperkirakan panjang total tembok China jika tidak terputus-putus adalah 50.000 li (sekitar 25.000 km).
http://siiebirue.blogspot.com/2011/07/kisah-air-mata-meng.html
http://ariefsniper.blogspot.com/2011/12/kisah-ini-terjadi-pada-masa.html

Thursday, May 19, 2011

Asal Mula Telaga Biru

Di belahan bumi Halmahera Utara tepatnya di wilayah Galela dusun Lisawa, di tengah ketenangan hidup dan jumlah penduduk yang masih jarang (hanya terdiri dari beberapa rumah atau dadaru), penduduk Lisawa tersentak gempar dengan ditemukannya air yang tiba-tiba keluar dari antara bebatuan hasil pembekuan lahar panas. Air yang tergenang itu kemudian membentuk sebuah telaga. Airnya bening kebiruan dan berada di bawah rimbunnya pohon beringin. Kejadian ini membuat bingung penduduk. Mereka bertanya-tanya dari manakah asal air itu? Apakah ini berkat ataukah pertanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Apa gerangan yang membuat fenomena ini terjadi?

Berita tentang terbentuknya telaga pun tersiar dengan cepat. Apalagi di daerah itu tergolong sulit air. Berbagai cara dilakukan untuk mengungkap rasa penasaran penduduk. Upacara adat digelar untuk menguak misteri timbulnya telaga kecil itu. Penelusuran lewat ritual adat berupa pemanggilan terhadap roh-roh leluhur sampai kepada penyembahan Jou Giki Moi atau Jou maduhutu (Allah yang Esa atau Allah Sang Pencipta) pun dilakukan.

Acara ritual adat menghasilkan jawaban “Timbul dari Sininga irogi de itepi Sidago kongo dalulu de i uhi imadadi ake majobubu” (Timbul dari akibat patah hati yang remuk-redam, meneteskan air mata, mengalir dan mengalir menjadi sumber mata air).

Dolodolo (kentongan) pun dibunyikan sebagai isyarat agar semua penduduk dusun Lisawa berkumpul. Mereka bergegas untuk datang dan mendengarkan hasil temuan yang akan disampaikan oleh sang Tetua adat. Suasana pun berubah menjadi hening. Hanya bunyi desiran angin dan desahan nafas penduduk yang terdengar.

Tetua adat dengan penuh wibawa bertanya “Di antara kalian siapa yang tidak hadir namun juga tidak berada di rumah”. Para penduduk mulai saling memandang. Masing-masing sibuk menghitung jumlah anggota keluarganya. Dari jumlah yang tidak banyak itu mudah diketahui bahwa ada dua keluarga yang kehilangan anggotanya. Karena enggan menyebutkan nama kedua anak itu, mereka hanya menyapa dengan panggilan umum orang Galela yakni Majojaru (nona) dan Magohiduuru (nyong). Sepintas kemudian, mereka bercerita perihal kedua anak itu.

Majojaru sudah dua hari pergi dari rumah dan belum juga pulang. Sanak saudara dan sahabat sudah dihubungi namun belum juga ada kabar beritanya. Dapat dikatakan bahwa kepergian Majojaru masih misteri. Kabar dari orang tua Magohiduuru mengatakan bahwa anak mereka sudah enam bulan pergi merantau ke negeri orang namun belum juga ada berita kapan akan kembali.

Majojaru dan Magohiduuru adalah sepasang kekasih. Di saat Magohiduuru pamit untuk pergi merantau, keduanya sudah berjanji untuk tetap sehidup-semati. Sejatinya, walau musim berganti, bulan dan tahun berlalu tapi hubungan dan cinta kasih mereka akan sekali untuk selamanya. Jika tidak lebih baik mati dari pada hidup menanggung dusta.

Enam bulan sejak kepergian Magohiduuru, Majojaru tetap setia menanti. Namun, badai rupanya menghempaskan bahtera cinta yang tengah berlabuh di pantai yang tak bertepi itu.

Kabar tentang Magohiduuru akhirnya terdengar di dusun Lisawa. Bagaikan tersambar petir disiang bolong Majojaru terhempas dan jatuh terjerembab. Dirinya seolah tak percaya ketika mendengar bahwa Magohiduuru so balaeng deng nona laeng. Janji untuk sehidup-semati seolah menjadi bumerang kematian.

Dalam keadaan yang sangat tidak bergairah Majojaru mencoba mencari tempat berteduh sembari menenangkan hatinya. Ia pun duduk berteduh di bawah pohon Beringin sambil meratapi kisah cintanya.

Air mata yang tak terbendung bagaikan tanggul dan bendungan yang terlepas, airnya terus mengalir hingga menguak, tergenang dan menenggelamkan bebatuan tajam yang ada di bawah pohon beringin itu. Majojaru akhirnya tenggelam oleh air matanya sendiri.

Telaga kecil pun terbentuk. Airnya sebening air mata dan warnanya sebiru pupil mata nona endo Lisawa. Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memelihara telaga yang mereka namakan Telaga Biru.

(Legenda Rakyat Halmahera Utara diceritakan kembali oleh Theo S. Sosebeko)
sumber: www.halmaherautara.com
http://legendakita.wordpress.com/2007/11/02/asal-mula-telaga-biru/

Thursday, May 12, 2011

Asal Usul Gunung Tangkuban Perahu

Di Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Bandung terdapat sebuah tempat rekreasi yang sangat indah yaitu Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang terbalik. Diberi nama seperti karena bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik. Konon menurut cerita rakyat parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Berikut ini ceritanya.

Beribu-ribu tahun yang lalu, tanah Parahyangan dipimpin oleh seorang raja dan seorang ratu yang hanya mempunyai seorang putri. Putri itu bernama Dayang Sumbi. Dia sangat cantik dan cerdas, sayangnya dia sangat manja. Pada suatu hari saat sedang menenun di beranda istana, Dayang Sumbi merasa lemas dan pusing. Dia menjatuhkan pintalan benangnya ke lantai berkali-kali. Saat pintalannya jatuh untuk kesekian kalinya Dayang Sumbi menjadi marah lalu bersumpah, dia akan menikahi siapapun yang mau mengambilkan pintalannya itu. Tepat setelah kata-kata sumpah itu diucapkan, datang seekor anjing sakti yang bernama Tumang dan menyerahkan pintalan itu ke tangan Dayang Sumbi. Maka mau tak mau, sesuai dengan sumpahnya, Dayang Sumbi harus menikahi Anjing tersebut.

Dayang Sumbi dan Tumang hidup berbahagia hingga mereka dikaruniai seorang anak yang berupa anak manusia tapi memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Anak ini diberi nama Sangkuriang. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring se lalu ditemani bermain oleh seekor anjing yang bernama Tumang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa.

Pada suatu hari Dayang Sumbi menyuruh anaknya pergi bersama anjingnya untuk berburu rusa untuk keperluan suatu pesta. Setelah beberapa lama mencari tanpa hasil, Sangkuriang merasa putus asa, tapi dia tidak ingin mengecewakan ibunya. Maka dengan sangat terpaksa dia mengambil sebatang panah dan mengarahkannya pada Tumang. Setibanya di rumah dia menyerahkan daging Tumang pada ibunya. dayanng Sumbi yang mengira daging itu adalah daging rusa, merasa gembira atas keberhasilan anaknya.

Segera setelah pesta usai Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan bertanya pada pada anaknya dimana Tumang berada. Pada mulanya Sangkuriang merasa takut, tapi akhirnya dia mengatakan apa yang telah terjadi pada ibunya. Dayang Sumbi menjadi sangat murka, dalam kemarahannya dia memukul Sangkuriang hingga pingsan tepat di keningnya. Atas perbuatannya itu Dayang Sumbi diusir keluar dari kerajaan oleh ayahnya. Untungnya Sangkuriang sadar kembali tapi pukulan ibunya meninggalkan bekas luka yang sangat lebar di keningnya.Setelah dewasa, Sangkuriang pun pergi mengembara untuk mengetahui keadaan dunia luar.

Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik. Segera saja dia jatuh cinta pada wanita tersebut. Wanita itu adalah ibunya sendiri, tapi mereka tidak saling mengenali satu sama lainnya. Sangkuriang melamarnya, Dayang Sumbi pun menerima dengan senang hati. Sehari sebelum hari pernikahan, saat sedang mengelus rambut tunangannya, Dayang Sumbi melihat bekas luka yang lebar di dahi Sangkuriang, akhirnya dia menyadari bahwa dia hampir menikahi putranya sendiri.

Mengetahui hal tersebut Dayang Sumbi berusaha menggagalkan pernikahannya. Setelah berpikir keras dia akhirnya memutuskan untuk mengajukan syarat perkawinan yang tak mungkin dikabulkan oleh Sangkuriang. Syaratnya adalah: Sangkuriang harus membuat sebuah bendungan yang bisa menutupi seluruh bukit lalu membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. Semua itu harus sudah selesai sebelum fajar menyingsing.

Sangkuriang mulai bekerja. Cintanya yang begitu besar pada Sangkuriang memberinya suatu kekuatan aneh. Tak lupa dia juga menggunakan kekuatan yang dia dapat dari ayahnya untuk memanggil jin-jin dan membantunya. Dengan lumpur dan tanah mereka membendung air dari sungai dan mata air. Beberapa saat sebelum fajar, Sangkuriang menebang sebatang pohon besar untuk membuat sebuah perahu. Ketika Dayang Sumbi melihat bahwa Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya, dia berdoa pada dewa-dewa untuk merintangi pekerjaan anaknya dan mempercepat datangnya pagi.

Ayam jantan berkokok, matahari terbit lebih cepat dari biasanya dan Sangkuriang menyadari bahwa dia telah ditipu. Dengan sangat marah dia mengutuk Dayang Sumbi dan menendang perahu buatannya yang hampir jadi ke tengah hutan. Perahu itu berada di sana dalam keadaan terbalik, dan membentuk Gunung Tangkuban Perahu(perahu yang menelungkub). Tidak jauh dari tempat itu terdapat tunggul pohon sisa dari tebangan Sangkuriang, sekarang kita mengenalnya sebagai Bukit Tunggul. Bendungan yang dibuat Sangkuriang menyebabkan seluruh bukit dipenuhi air dan membentuk sebuah danau dimana Sangkuriang dan Dayang Sumbi menenggelamkan diri dan tidak terdengar lagi kabarnya hingga kini.

Sumber: www.bapusda.com
http://legendakita.wordpress.com/2007/10/08/asal-usul-gunung-tangkuban-perahu/