Tuesday, April 10, 2012

Tuhan Melihat Hatimu

Pada suatu hari, Hasan Al-Basri pergi mengunjungi Habib Ajmi, seorang sufi besar lain. Pada waktu salatnya, Hasan mendengar Ajmi banyak melafalkan bacaan salatnya dengan keliru. Oleh karena itu, Hasan memutuskan untuk tidak salat berjamaah dengannya. Ia menganggap kurang pantaslah bagi dirinya untuk salat bersama orang yang tak bisa mengucapkan bacaan salat dengan benar.

Di malam harinya, Hasan Al-Basri bermimpi. Ia mendengar Tuhan berbicara kepadanya, “Hasan, jika saja kau berdiri di belakang Habib Ajmi dan menunaikan salatmu, kau akan memperoleh keridaan-Ku, dan salat kamu itu akan memberimu manfaat yang jauh lebih besar daripada seluruh salat dalam hidupmu. Kau mencoba mencari kesalahan dalam bacaan salatnya, tapi kau tak melihat kemurnian dan kesucian hatinya. Ketahuilah, Aku lebih menyukai hati yang tulus daripada pengucapan tajwid yang sempurna."

http://kisahsufi.wordpress.com/2009/10/31/tuhan-melihat-hatimu/

Islam Menjawab Keraguan

Jauh sebelum memeluk Islam, Cecilia Mahmuda Cannolly sebenarnya telah menjadi Muslim tanpa menyadarinya. Sudah sejak lama ia kehilangan kepercayaan terhadap Kristen.

Alasan terbesarnya adalah ketidakpuasan terhadap jawaban yang ia peroleh mengenai ajaran Kristen. Ia kerap mendapat jawaban yang monoton. Para pendeta hanya mengatakan bahwa ia tidak boleh mempertanyakan ajaran gereja dan harus memiliki keyakinan.

"Saat itu, saya tidak punya keberanian mengatakan bahwa saya tidak bisa percaya akan sesuatu yang tidak saya mengerti," ujarnya.

Ia merasa tidak mampu mempercayai konsep trinitas dalam Kristen. Berdasarkan pengalamannya, apa yang ia alami sama dengan apa yang dialami pemeluk Kristen lainnya. Merasa tidak puas, ia akhirnya memutuskan meninggalkan ajaran Katolik Roma dan mencari jawaban atas pertanyaannya.

Berseberangan dengan apa yang diajarkan Kristen, dalam pencariannya Cecilia menyadari hidup memiliki makna yang luas. Tidak hanya sebatas dogma dan ritual. Ia merasa kemanapun ia memandang, ia melihat hasil karya Tuhan. Pohon, bunga, burung dan binatang merupakan anugerah Tuhan. "Bahkan bayi yang baru lahir adalah sebuah keajaiban," katanya.

Pandangannya tersebut berbeda dengan apa yang selama ini ia terima dalam ajaran Kristen. Ketika masih kecil, gereja mengajarkannya bahwa setiap manusia, bahkan bayi membawa dosa.

Suatu hari, anak perempuannya membawa pulang buku mengenai Islam. Mereka berdua sangat tertarik dengan ajaran Islam dan membeli lebih banyak buku mengenai ajaran Islam.

Dari buku-buku tersebut ia memperoleh pencerahan. Ia sempat menemui beberapa Muslim dan bertanya soal hal yang belum ia mengerti. Ia terkejut sebab semua pertanyaannya mampu dijawab dengan tepat dan jelas. Hal itu sangat berbeda dengan pengalaman sebelumnya.

Setelah membaca dan belajar banyak mengenai Islam, ibu dan anak tersebut akhirnya memutuskan untuk bersyahadat. Ia memakai nama Mahmuda dan anaknya Rashida. "Jika saya ditanya apa yang membuat saya tertarik pada Islam, saya akan menjawab shalat," kata perempuan asal Australia tersebut.

Menurutnya, berdoa dalam ajaran Kristen adalah untuk meminta agar Tuhan mengabulkan permintaan kita. Sedangkan dalam Islam, melaksanakan shalat berarti memuji Allah dan bersyukur atas rahmatnya. Hanya Allah yang tahu apa yang terbaik bagi umatnya, bahkan tanpa perlu diminta.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/04/09/m27mgx-kisah-mualaf-islam-menjawab-keraguan

Cari Muka Beroleh Nista

Imam al-Hakim meriwayatkan, suatu kali Umar bin Khathab datang ke Syam. Beliau mengenakan izaar (pakaian bawah/semisal sarung), kasut (alas kaki) dan imamah (penutup kepala). Dalam riwayat lain disebutkan pula beliau turun dari onta dan melepaskan kasutnya. Dikalungkannya kedua kasutnya diatas bahu, kemudian ia mengambil kendali ontanya dan dipegangnya sambil mengarungi sungai.

Lalu di antara sahabat berkata,“Wahai Amirul Mukmunin, para tentara dan pembesar negeri Syam akan menyambut Anda, tetapi Anda seperti itu keadaannya?” Lalu Umar menjawab, “Sesungguhnya kami adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Karena itu kami tidak akan mencari kemuliaan selain dengan Islam.”

Begitulah kemuliaan dalam pandangan generasi terbaik. Kemuliaan yang dinilai dari tingkat ketakwaan, pada sejauh mana ia bisa mengabdikan dirinya kepada Allah dan komitmennya terhadap syariat Islam. Bukan kemuliaan yang didapat dengan mencari sanjungan manusia, atau mengukurnya dengan barometer dunia. Dengan karakter itulah, kaum muslimin di waktu itu berwibawa, baik di mata kawan maupun lawan.

Ingin Mulia, Malah Terhina

Ada yang menarik dari kalimat kedua yang diucapkan oleh Umar radhiyallahu ’anhu, “Kita tidak akan mencari kemuliaan selain dengan Islam.” Karena ketika umat Islam mencari kemuliaan dengan selain Islam, lalu menggantinya dengan nilai-nilai materi duniawi yang ingin dibanggakan di hadapan manusia, maka yang didapatkan adalah kehinaan, dan bukan kemuliaan. Sayang sekali, fenomena inilah yang justru menimpa kaum muslimin hari ini.

Demi kehormatan dan pengakuan ‘modern’ di mata dunia, dengan enteng kebanyakan kaum muslimin menanggalkan identitas keislamannnya, lalu menggantinya dengan identitas Barat yang kafir. Kemuliaan diukur dari seberapa kemiripannya dengan orang kafir. Mengekor kepada tradisi dan cara berpikir Barat dianggap hebat. Dan menjadi pembeo Barat diklaim sebagai kaum moderat. Meskipun tradisi dan keyakinan yang diimpor itu berupa kemaksiatan dan kenistaan. Selainnya, diklaim sebagai kejumudan dan ketinggalan jaman.

Lalu apa hasilnya, kewibawaankah? Bahkan, keadaan kaum muslimin nyaris sempurna atau mungkin sempurna menyamai gambaran umat akhir zaman yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ الله مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ الله فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir-hampir umat-umat mengerumuni kalian layaknya orang-orang yang mengerumuni hidangan. Seseorang bertanya, “Apakah jumlah kami sedikit ketika itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bahkan ketika itu jumlah kalian banyak. Akan tetapi kalian laksana buih di lautan. Allah akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian perasaan gentar terhadap kalian, dan Allah mencampakkan di hati kalian penyakit al-wahn.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Beliau bersabda, “cinta dunia dan benci (takut) mati.” (HR Abu Dawud, al-Albani menshahihkannya)

Begitulah jika kemuliaan diburu dengan jalan yang salah, Allah menghukum dengan keadaan yang sebaliknya.

Mencari Muka, Beroleh Nista

Tak berbeda halnya dengan balasan bagi masing-masing individu. Ketika seseorang ingin mencari kewibawaan bukan di atas jalurnya, maka justru kehinaan yang akan didapatkannya. Seperti orang yang ingin memperdengarkan kebolehan dan kelebihannya di tengah manusia, agar manusia menyanjungnya. Atau memamerkan kebaikannya agar manusia memujinya, justru akan diganjar dengan aib yang akan terkuak. Nabi shallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ الله بِهِ ، وَمَنْ يُرَائِى يُرَائِى الله بِه

“Barangsiapa berlaku sum’ah, Allah akan memperdengarkan aibnya. Dan barangsiapa berbuat riya’, maka Allah akan memperlihatkan aibnya.” (HR. al Bukhari)

Al-Khaththabi menjelaskan hadits tersebut, “Yakni barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan dengan tidak ikhlas, dan hanya ingin didengar dan dilihat manusia, maka ia akan dibalas dengan terkuaknya keburukan-keburukannya. Sehingga tampaklah apa yang disembunyikan dan dirahasiakannya.”

Peringatan ini semestinya menjadi kontrol dan sarana bagi seorang muslim untuk mawas diri. Jika suatu kali ada aib atau rahasia yang memalukan terungkap, jangan-jangan ada amalan atau ibadah yang mestinya ditujukan kepada Allah, namun dilakukan untuk mengharap pujian manusia semata. Hingga Allah mengganti pujian dengan celaan, kemuliaan menjadi kehinaan, nas’alullahal ‘aafiyah.

Sebagaimana dalam hal ibadah, fenomena ujub, pamer atau merasa hebat dari orang lain terjadi pula dalam hal duniawi.

Demi mendapatkan penghargaan dan penghormatan masyarakat, ada yang memaksakan diri untuk berpenampilan ’wah’ dan selalu mengikuti tren, meski sejatinya dia termasuk orang yang tidak mampu. Dia mengira, bahwa orang-orang akan berdecak kagum melihat penampilannya. Padahal, orang yang mengetahui realita kehidupannya akan geleng-geleng dibuatnya. Bukan karena kagum, tapi karena merasa kasihan bercampur jengkel melihat orang yang tak mau mengaca diri. Orang kaya yang sombong memang tidak terpuji, namun lebih parah lagi jika ada orang miskin yang sombong. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ الله يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِر

”Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak akan disucikan, tidak akan dilihat dan baginya adzab yang pedih; orang tua yang berzina, raja yang pendusta dan orang miskin yang sombong.” (HR Muslim)

Bukan berarti orang yang diuji dengan sedikitnya harta tidak boleh berpenampilan menarik. Namun sisi celanya adalah pada mengada-ada dan memaksa diri dalam hal yang sebenarnya ia tidak mampu. Karena selayaknya seorang muslim tampil dalam wujud aslinya, jujur dengan kondisinya, dan tidak memoles diri dengan apa yang tidak dimampui agar disangka sebagai orang yang jauh lebih kaya atau lebih hebat dari kenyataannya. Inilah yang diumpamakan Nabi dengan istilah ’labisu tsaubai zuur’, memakai dua pakaian dusta. Belum lagi buntut dari ambisi tersebut tidak sederhana. Hutang yang menumpuk, kredit yang macet dan seabrek problem yang disandang hanya demi ambisi untuk dipuji.

Adapun orang yang diuji dengan kelebihan harta dan jabatan, lebih banyak lagi yang terjerumus pada sikap angkuh dan sombong. Tentang harta, Qarun dinyatakan tak lulus ujian lantaran ujub dan keangkuhannya, di mana dia berkata,

”Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku." (QS al-Qashash 78)

Begitupun Fir’aun, dinyatakan tak lulus ujian karena sombong atas kekuasaan yang dimilikinya, hingga dia mengaku sebagai tuhan,

”berkata (Fir’aun), 'Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.'” (QS an-Nazi’at 24)

Keduanya mati dalam keadaan terhina, dan bagi keduanya azab yang pedih di neraka. Sayangnya, banyak sekali qarun-qarun kecil dan fir’aun-fir’aun kecil yang mengikuti jejak keangkuhannya.

Mereka mengira, dengan unjuk kekayaan atau kekuasaan itu membuat orang akan mencintai mereka, membanggakan dan memuja mereka. Padahal sejatinya, kebanyakan orang muak melihat polah tingkah mereka yang angkuh. Dan berapa banyak orang-orang lemah yang justru mendoakan keburukan untuk mereka. Inikah kemuliaan? Tentu saja kehinaan lebih pas untuk menggambarkan keadaan mereka.

Di Akhirat pun Terhina

Belum lagi kelak di akhirat orang-orang yang angkuh akan semakin ternista dan tak berharga. Tak ada yang memandang mereka sebagai orang kaya atau pejabat. Nabi shallallahu alaihi wasallam menggabarkan keadaan mereka di akhirat,

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِى صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمُ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ

”Orang-orang yang sombong pada hari Kiamat akan dihimpun pada hari Kiamat semisal semut kecil dalam bentuk manusia, kehinaan meliputi mereka dari segala penjuru.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan haditsnya hasan).

Begitulah nasib tragis mereka yang mencari kemuliaan dengan jalan menyimpang. Hina di dunia, nista dan siksa di akhirat. Adapun insan yang beriman tentulah menyadari, bahwa izzah dan kewibawaan itu hanyalah milik Allah seluruhnya. Hanya dengan taat kepada Allah pula, kewibawaan umat akan kembali. Firman Allah,

”Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (QS Fathir 10)

Alangkah indah doa yang dipanjatkan oleh seorang ulama salaf, “Ya Allah, muliakanlah aku dengan taat kepada-Mu, dan jangan hinakan aku dengan bermaksiat kepada-Mu.” Wallahu a’lam bishawab.

Oleh Abu Umar Abdillah
http://www.arrisalah.net/kolom/2011/09/cari-muka-beroleh-nista.html

Monday, April 9, 2012

Kepala Ikan untuk Sang Nelayan

Seorang nelayan salih di Tunisia tinggal di sebuah gubuk yang sederhana dari tanah liat. Setiap hari ia melayarkan perahunya untuk menangkap ikan. Setiap hari, ia terbiasa menyerahkan seluruh hasil tangkapannya pada orang-orang miskin dan hanya menyisakan sepotong kepala ikan untuk ia rebus sebagai makan malamnya.

Nelayan itu lalu berguru kepada syaikh besar sufi, Ibn Arabi. Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun menjadi seorang syaikh seperti gurunya.

Suatu saat, salah seorang murid sang nelayan akan mengadakan perjalanan ke Spanyol. Nelayan itu memintanya untuk mengunjungi Syaikhul Akbar, Ibn Arabi. Nelayan itu berpesan agar dimintakan nasihat bagi dirinya. Ia merasakan kebuntuan dalam jiwanya.

Pergilah murid itu ke kota kediaman Ibn Arabi. Kepada penduduk setempat, ia menanyakan tempat tinggal sang syaikh. Orang-orang menunjukkan kepadanya sebuah puri indah bagai istana yang berdiri di puncak suatu bukit. “Itulah rumah Syaikh,” ujar mereka.

Murid itu amat terkejut. Ia berfikir betapa amat duniawinya Ibn Arabi dibandingkan dengan gurunya sendiri, yang tak lebih dari seorang nelayan sederhana.

Dengan penuh keraguan, ia pun pergi mengunjungi rumah mewah yang ditunjukkan. Sepanjang perjalanan ia melewati ladang-ladang yang subur, jalanan yang bersih, dan kumpulan sapi, domba, dan kambing. Setiap kali ia bertanya kepada orang yang dijumpainya, selalu ia memperoleh jawaban bahwa pemilik dari semua ladang, lahan, dan ternak itu tak lain ialah Ibn Arabi. Tak henti-hentinya ia bertanya kepada diri sendiri, bagaimana mungkin seorang materialistik seperti itu boleh menjadi seorang guru sufi.

Ketika tiba ia di puri tersebut, apa yang paling ditakutinya terbukti. Kekayaan dan kemewahan yang disaksikannya di rumah sang syaikh tak pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpinya. Dinding rumah itu terbuat dari marmer, seluruh permukaan lantainya ditutupi oleh karpet-karpet mahal. Para pelayannya mengenakan pakaian dari sutra. Baju mereka lebih indah dari apa yang dipakai oleh orang terkaya di kampung halamannya.

Murid itu meminta untuk bertemu dengan sang syaikh. Pelayan menjawab bahwa Syaikh Ibn Arabi sedang mengunjungi khalifah dan akan segera kembali. Tak lama kemudian, ia menyaksikan sebuah arak-arakan mendekati puri tersebut. Pertama muncul pasukan pengawal kehormatan yang terdiri dari tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, mengendarai kuda-kuda arabia yang gagah. Lalu muncullah Ibn Arabi dengan pakaian sutra yang teramat indah, lengkap dengan surban yang lazim dipakai para sultan.

Si murid lalu dibawa menghadap Ibn Arabi. Para pelayan yang terdiri dari para pemuda tampan dan gadis cantik membawakan kue-kue dan minuman. Murid itu pun menyampaikan pesan dari gurunya. Ia menjadi tambah terkejut dan geram ketika Ibn Arabi mengatakan kepadanya, “Katakanlah pada gurumu, masalahnya adalah ia masih terlalu terikat kepada dunia.”

Tatkala murid itu kembali ke kampungnya, guru nelayan itu dengan antusias menanyakan apakah ia sempat bertemu dengan syaikh besar itu. Dipenuhi keraguan, murid itu mengaku bahwa ia memang telah menemuinya. “Lalu,” tanya nelayan itu, “apakah ia menitipkan kepadamu suatu nasihat bagiku?”

Pada awalnya, si murid enggan mengulangi nasihat dari Ibn Arabi. Ia merasa amat tak pantas mengingat betapa berkecukupannya ia lihat kehidupan Ibn Arabi dan betapa berkekurangannya kehidupan gurunya sendiri.

Namun karena guru itu terus memaksanya, akhirnya murid itu pun bercerita tentang apa yang dikatakan oleh Ibn Arabi. Mendengar itu semua, nelayan itu berurai air mata. Muridnya tambah kehairanan, bagaimana mungkin Ibn Arabi yang hidup sedemikian mewah, berani menasihati gurunya bahwa ia terlalu terikat kepada dunia.

“Dia benar,” jawab sang nelayan, “ia benar-benar tak peduli dengan semua yang ada padanya. Sedangkan aku, setiap malam ketika aku menyantap kepala ikan, selalu aku berharap seandainya saja itu seekor ikan yang utuh.

Sumber: syafii.wordpress.com.
http://kisahsufi.wordpress.com/2009/10/31/kepala-ikan-untuk-sang-nelayan/

"Durhaka" Berbuah Celaka

"Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah," demikian pepatah masyhur yang menunjukkan bagaimana peran ibu pada anak-anaknya.

Hanya saja, teramat sedikit anak yang mengerti dan menghargai ibu mereka. Padahal, dalam al-Quran banyak disebutkan, ridha ibu merupakan ridha Allah dan murka ibu bisa membuat murkan Allah. Setidaknya tercermin dalam kisah ini.

Peristiwa ini terjadi pada naas yang pernah dialami oleh Ali, pemuda asal Madura, pada pertengahan tahun 2005 silam.

Menurut pengakuan laki-laki berperawakan murah senyum ini, peristiwa yang hampir merenggut nyawanya tersebut, bermuara pada keinginannya melanjutkan studi, seusai menamatkan proses pembelajaran Sekolah Menengah Aliyah (SMA), di salah satu pondok pesantren di kota garam tersebut.

Setelah berbagi pikiran dengan salah satu temannya, diambillah keputusan untuk melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi Islam yang terletak di Situbondo, Jawa Timur.

Tak disangka, ketika mengutarakan keinginannya tersebut kepada kedua orangtuanya, ternyata keinginan mereka bertolakbelaka dengan apa yang dikehendaki Ali. Alasannya, selain jauh, dia juga tidak memiliki teman sekampung yang hendak melakukan studi di sana.

”Ndak usah kuliah di sana. Kamu kan gak ada teman dari sini (kampung). Nanti kamu berangkat dan pulang sendirian. Kalau terjadi apa-apa di jalan, bagaimana?” papar Ali, menirukan keberatan ibunya.

Sekalipun telah mendapat sinyal ketidakridhaan orangtuanya, terutama ibu, Ali nampaknya tetap bersikeras untuk melanjutkan misinya. Peringatan-peringatan orangtuanya akan kemudharatan kalau dia bersikukuh kuliah di sana, sama sekali tak digubris. “Anjing menggonggong, kafilah terus berlalu.”

Akhirnya, melihat kengototan si-buah hati yang gak bisa ditawar-tawar, mereka pun dengan berat hati menyetujui keberangkatan Ali.

”Kalau kamu masih bersikeras, ya, terserah kamu,” ujar mereka dengan nada berat, penuh keterpaksaan.

Kecelakaan

Tidak lama setelah mendapat ’lampu hijau’ dari orangtua, bersama si-teman, Ali akhirnya berangkat ke daerah perantauan. Perjalanan pertama ini, bertujuan untuk observasi, memastikan akan kebenaran berita, bahwa di pondok yang mereka tuju itu ada perguruan tingginya, atau tidak.

Memang, perburuan mereka akan perguruan tinggi, bisa dibilang sedikit agak liar. Menurut pengakuan Ali, mereka sama sekali buta akan perguruan tinggi tersebut. Anehnya, mereka sudah tergiur untuk kuliah di sana.

Tanda-tanda kurang baik mulai cium. Ketika mereka telah menapakkan telapak kaki di lokasi yang mereka tuju. Setelah menggali informasi dari pengurus pesantren, terungkap, bahwa pondok tersebut tidak memiliki perguruan tinggi, sebagaimana informasi yang mereka dapatkan.

”Saya sangat kecewa. Jauh-jauh dari madura ke Situbondo, ternyata hasilnya nihil,” terang Ali.

Karena perburuannya tidak sukses, Ali pun langsung balik kanan, pulang kampung. Namun, perjalanan kali ini, dia harus tempuh sendiri, karena sahabatnya masih ada keperluan yang lain. Dan hal inilah yang sangat dikhawatirkan oleh kedua orangtuanya.

Ceritanya, ketika bus yang dikendarai Ali tiba di salah satu terminal di Madura, ia bersiap-siap turun. Tak ada angin, tak ada hujan, ketika kaki kirinya menginjakkan tanah, tiba-tiba dia langsung lunglai, pingsan. Naasnya, kepala bagian belakang, terbentur tortoar, yang mengakibatkan goresan luka tepat pada salah satu sarafnya, yang kemudian menyebabkan Ali berlumuran darah.

Ali langsung tidak berdaya. Sekujur tubuhnya kaku, tak ubahnya sebuah mayat.
”Menurut informasi yang saya peroleh, saat itu tangan saya dalam posisi terlentang. Tidak bisa diubah posisinya, karena kaku. Akhirnya, untuk mengganti pakaianku yang berlumuran darah, pihak medis memotong-motong bajuku,” jelasnya.

Celakanya lagi, saat itu, pria yang memiliki kemampuan bahasa Arab ini, tidak membawa satu pun kartu identitas, sehingga membuat orang-orang di sekitarnya kebingungan untuk menghubungi pihak keluarga.

Sebuah keajaiaban, di tengah kondisi keritisnya, Ali sempat mengucapkan nama pondok almamaternya, sehingga memudahkan para relawan melacak keberadaan keluarganya.
”Sudah pasti itu pertolongan Allah. Dalam kondisi demikian, aku bisa memberitahu nama almamaterku. Dan terus-terang, saya sendiri tidak menyadari akan hal itu,” akunya dengan nada terbata-bata.

Pasca kecelakaan itu, selama empat hari Ali tidak sadarkan diri. Dalam kurun waktu itu, ± delapan infus dan dua oksigen dia habiskan.

Buta, Bisu dan Tuli

Setelah mengalami masa kritis, pada hari kelima, Ali mulai siuman. Sayangnya, kondisi ini, justru membuat Ali semakin terpukul. Bagaimana tidak, ketika awal siuman, dia mendapatkan dirinya tidak mampu melihat, mendengar, dan berbicara. ”Saya sangat terpukul,” tegasnya.

Untunglah, Ali bukan tipe orang yang mudah menyerah dengan keadaan. Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi Ali sedikit demi sedikit membaik. Dia sudah mampu memdengar dan melihat. Tapi, untuk berbicara, dia mengalami kesulitan. Banyak lawan bicaranya, termasuk ibu bapaknya sendiri, tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. ”Keluar suara, tapi mereka pada tidak mengerti dengan apa yang saya ucapkan,” terangnya.

Selama kurang lebih satu bulan, Ali mengalami kondisi yang demikian. Alhamdulillah, setelah itu kondisinya kembali membaik, normal seperti sediakala, meskipun, kadang kala dia masih merasakan rasa nyeri di kepalanya.

Sedari itu, Ali tidak pernah lagi mengacuhkan perkataan orangtuanya. Peristiwa tersebut, benar-benar dijadikan pelajaran penting bagi kehidupannya.

”Ini adalah teguran Allah yang sangat berharga bagiku. Intinya, jangan pernah kita mendurhakai orangtua. Ingat, ridha Allah itu terletak pada ridha orangtua, dan murka Allah, itu terletak pada murka orangtua,” ujarnya mengingatkan, sembari menyitir salah satu hadits Nabi Muhammad Shalallahu ’alahi Wasallam. Semoga kisah ini bisa dijadikan pelajaran bagi semuanya, ujar Ali mengakhiri ceritanya.*

Cerita ini dikisahkah Ali, pemuda asal guluk-guluk, Madura, kepada hidayatullah.com

http://www.hidayatullah.com/read/15836/12/03/2011/

Sepuluh Ribu Rupiah

Menjelang shalat Isya, seorang wartawan duduk kelelahan di halaman sebuah masjid. Perutnya bertalu-talu karena keroncongan. Kepalanya clingak-clinguk mencari tukang jual makanan, tapi tak kunjung menemukannya. Dari wajahnya, tampak gurat-gurat kekecewaan.

Usut punya usut, si Wartawan ini tengah kecewa berat karena gagal bertemu dengan seorang tokoh yang hendak diwawancarai. Betapa tidak kecewa, sejak siang hari dia sudah "mengejar-ngejar" tokoh tersebut. Siang hari, mereka janji bertemu di sebuah kantor.

Beberapa saat sebelum waktu pertemuan itu berlangsung, tokoh penting ini mendadak membatalkan janji, ada acara mendadak katanya. Militansinya sebagai seorang wartawan untuk mendapatkan berita telah membuat pria muda ini mendatangi hotel tempat si Pejabat meeting. Dua jam lamanya, dia menunggu. Namun sial, si Pejabat itu keluar dari pintu samping hotel sehingga tidak sempat bertemu sang Wartawan.

Tidak mau patah arang, dia segera mencari tahu di mana keberadaan pejabat itu. Dia pun mendapatkan informasi bahwa orang yang dicarinya itu sudah pulang ke rumahnya di sebuah kompleks perumahan elite. Tanpa banyak berpikir, sang Wartawan tancap gas. Dengan motornya yang sudah agak butut, dia mendatangi perumahan tersebut. Walau harus tanya sana-tanya sini, akhirnya dia bisa sampai ke rumah si Pejabat.

"Aduh maaf, Mas, Bapaknya barusan pergi lagi. Ada pertemuan lagi katanya. Tapi, Bapak nggak bilang di mananya," kata si penghuni rumah.

Lunglailah kaki si Wartawan. Dia pun pergi. Berkali-kali dia coba mengontak si pejabat, tetapi berkali-kali pula ponselnya tidak diangkat. Sudah terbayang di benaknya kalau nanti malam dia akan ditegur atasannya karena tidak mampu mendapatkan berita. Perutnya yang keroncongan seakan menambah derita.

Saat duduk di masjid itulah, dia melihat seorang kakek yang baru saja menunaikan shalat maghrib. Dipandanginya kakek itu. Tampangnya sangat tidak meyakinkan: tinggi, kurus, jambang putihnya tidak terurus, pakaiannya sangat sederhana dan sudah luntur warnanya, sandal jepitnya pun sudah butut.

Kakek itu menghampiri sebuah tanggungan kayu bakar. Lalu, mengambil topi dan duduk melepas lelah takjauh dari tempat si Wartawan. Kerutan wajahnya yang hitam terbakar matahari seakan tampak makin mengerut karena kelelahan.

"Cep, peryogi suluh henteu? Peserlah suluh anu Bapa, ieu ti enjing-enjing teu acan pajeng!" kata Pak Tua kepada si Wartawan. Maksudnya, dia menawarkan kayu bakar yang dibawanya karena sejak dari pagi tidak laku-laku.

"Punten Bapa, abdi di Bumi teu nganggo suluh (Maaf Bapak, saya di rumah tidak menggunakan kayu bakar)," jawabnya.

"Oh muhun, teu sawios. Mangga atuh, Bapa tipayun, (Oh iya, nggak apa-apa. Kalau begitu permisi, Bapak duluan)," ujar Pak Tua penjual kayu bakar itu.

Sebelum Pak Tua itu pergi, si Wartawan segera mengambil dompet. Dilihatnya hanya ada uang sepuluh ribu, satu-satunya, plus beberapa keping uang receh. Itulah hartanya yang tersisa pada hari itu untuk makan dan membeli bensin. Namun, semua itu dia abaikan. Dia berikan uang sepuluh ribu itu kepada Pak Tua. Walau awalnya menolak, tapi akhirnya dia menerimanya pula.

Sambil menahan tangis haru, Pak Tua berkata, "Hatur nuhun Kasep, tos nulungan Bapak. Mugi-mugi Gusti Alloh ngagentosan kunu langkung ageung (Terima kasih, Cakep, sudah menolong Bapak, semoga Gusti Allah menggantinya dengan yang lebih besar)." Ternyata, Bapak ini sejak pagi belum makan dan tidak punya uang untuk pulang.

Selembar sepuluh ribu telah mengubah segalanya. Dia te-lah sudi memasukkan rasa bahagia kepada saudaranya yang tengah kesusahan, Allah Swt. pun langsung membalasnya dengan memasukkan rasa bahagia yang berlipat-lipat ke dalam hatinya.

Rasa lapar, penat, dan hati dongkol yang sebelumnya mendominasi dirinya langsung hilang sirna berganti kelapangan dan kebahagiaan. Uang sepuluh ribu itu benar-benar memberikan kepuasan yang sensasinya sulit terlupakan. Dia tidak bisa berkata apa-apa selain dari tetesan air mata bahagia. "Terima kasih, ya Allah, engkau telah memberiku rezeki sehingga bisa berbagi," gumamnya.

Tak lama kemudian, datanglah karunia yang kedua. Ponselnya tiba-tiba berbunyi, dilihatnya sebuah pesan dari atasannya kalau dia tidak perlu lagi mengejar si Pejabat karena ada narasumber lain yang lebih kompeten yang siap diwawancara seorang rekannya. Dia hanya memberi penugasan untuk meliput sebuah acara syukuran di salah satu hotel berbintang.

Karunia Allah yang ketiga pun segera datang. Di sela-sela acara liputan di hotel itu, sang Wartawan dipersilakan oleh panitia untuk menikmati hidangan mewah yang tersedia sepuasnya. Menjelang pulang, dia mendapatkan sebuah doorprize dan beberapa buah bingkisan sebagai ucapan terima kasih dari pihak penyelenggara. "Malam yang indah ...," ujarnya.

Walau balasan untuk kebaikan dan kejahatan itu dijanjikan Tuhan pada hari kebangkitan, tetap saja muncul suatu keadaan yang mewakili balasan itu. Apabila manusia bergembira di dalam hatinya, itu adalah balasan karena telah membuat orang lain bahagia.

Apabila sedih, itulah balasan karena telah membuat orang lain sedih.

Terdapat suatu bentuk balasan sebagai pemisah hari kebangkitan.
(Jalaluddin Rumi)

http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2011/07/sepuluh-ribu-rupiah.html

Thursday, April 5, 2012

Khalifah Abu Bakar radhiallahu’anhu Menjadi Pelayan Nenek Buta

Pada masa Khulafa’ur Rasyidin para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan para tabi’in berlomba-lomba berbuat kebaikan dengan membantu orang yang membutuhkan dan menolong orang yang teraniaya. Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu’anhu dan Umar bin Khatab radhiallahu’anhu termasuk orang yang gigih berlomba-lomba dalam amal kebaikan yang mulia ini, yang pelakunya mendapatkan kebaikan besar di dunia dan banyak pahala di akhirat.

Peristiwa ini terjadi pada masa Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu’anhu. Pada saat itu Umar mengamati apa yang dilakukan oleh Abu Bakar, lalu dia melakukan dua kali lipatnya karena ia bermaksud mendapatkan kebaikan dan mendahului Abu Bakar ke tingkat Surga tertinggi.

Suatu hari Umar mengamati Abu Bakar Ash-Shidiq di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat Subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil untuk beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Umar mengetahui seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Abu Bakar, kecuali rahasia urusan gubuk itu.

Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar Ash-Shidiq tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar tetap belum mengetahui apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan matanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya disitu.

Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapakan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan yang dilihatnya. Dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar radhiallahu’anhu.

Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu (Abu Bakar) di sini?”. Nenek tua itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengenalnya, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku”

Umar menekuk kedua lututnya, kedua matanya basah oleh air mata. Kemudian ia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Wahai Abu Bakar, sungguh engkau telah membuat lelah para khalifah sesudahmu” (maksudnya, khalifah berikutnya sesudah kekhalifahan Abu Bakar harus bekerja lebih keras agar mampu menandingi kualitas kekhalifahan Abu Bakar).

Diambil dari “Mausu’ah Qishashis Salaf”, edisi bahasa Indonesia “Ensklopedi Kisah Generasi Salaf” karya Ahmad Salim Baduwailan, penerbit Elba

http://kebunhidayah.wordpress.com/2009/12/24/khalifah-abu-bakar-radhiallahuanhu-menjadi-pelayan-nenek-buta/