Thursday, February 9, 2012

Kisah Hidup Imam Abu Hanifah yang Menakjubkan

Wajahnya tampan dan ceria, fasih bicaranya dan santun tutur katanya. Tidak terlalu tinggi badannya, tidak pula terlalu pendek sehingga enak dipandang mata. Di samping itu, beliau suka berpenampilan rapi, wajahnya ceria dan gemar memakai wewangian. Ketika muncul di tengah-tengah manusia, mereka bisa menebak kedatangannya dari bau wanginya sebelum melihat orangnya.

Itu lah dia Nu’man bin Tsabit Al-Marzuban yang dikenal dengan Abu Hanifah, orang pertama yang meletakkan dasar-dasar fikih dan mengajarkan hikmah-hikmah yang baik.

Abu Hanifah masih merasakan hidup sesaat sebelum berakhirnya khilafah bani Umayah dan awal kekuasaan bani Abasiyah. Beliau hidup pada suatu masa di mana para khalifah dan para gubernur memanjakan para ilmuwan dan ulama hingga rejeki datang kepada mereka dari segala arah tanpa mereka sadari.

Meski demikian, Abu Hanifah senantiasa menjaga martabat jiwa dan ilmunya dari semua itu. Sesampainya di istana beliau disambut ramah dengan penuh hormat, dipersilakan duduk di samping khalifah Al-Manshur kemudian khalifah bertanya tentang banyak persoalan yang menyangkut agama maupun dunia.

Ketika beliau bermaksud untuk pulang, Amirul Mukminin mengulurkan sebuah wadah yang di dalamnya terdapat tiga puluh ribu dirham, padahal Al-Manshur dikenal kikir dibanding yang lain. Lalu Abu Hanifah berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah orang asing di Baghdad ini dan tidak memiliki tempat untuk menyimpannya. Maka aku titipkan di baitul maal, kelak jika aku memerlukannya, saya akan meminta kepada Anda.” Maka Al-Manshur mengabulkan permohonannya. Hanya saja, masa hidup Abu Hanifah tak begitu lama setelah peristiwa itu. Ketika beliau wafat, ternyata didapatkan di rumahnya harta titipan orang-orang yang jauh lebih besar daripada pemberian Amirul Mukminin.

Tatkala Al-Manshur mendengar berita tersebut, dia berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hanifah. Dia telah mengelabuhi kita, dia tidak ingin mengambil sesuatu pun dari kita, dia menolak pemberianku dengan cara halus.”

Ini tidaklah aneh, karena Abu Hanifah memiliki prinsip bahwa tidak ada yang lebih bersih dan lebih mulia daripada orang yang makan dari hasil tangannya sendiri. Oleh sebab itu, beliau menyediakan waktu khusus untuk berdagang. Beliau berdagang kain dan pakaian, kadang-kadang pulang pergi antar kota-kota di Irak. Di samping itu beliau juga memiliki toko pakaian yang terkenal dan banyak dikunjungi orang. Mereka mendapatkan kejujuran dalam bermuamalah dan amanah dalam memberi dan mengambil. Tidak diragukan lagi bahwa mereka merasakan kesenangan tersendiri dari cara muamalah Abu Hanifah, perniagaan beliau maju berkat karunia Allah hingga banyak keuntungan yang beliau dapat.

Beliau mendapatkan harta dengan cara yang halal lalu membelanjakan di tempat yang semestinya. Telah menjadi kebiasaan beliau, setiap sampai haul (satu tahun), beliau menghitung laba yang beliau dapat. Lalu menyisihkan sekedarnya untuk mencukupi kebutuhannya, sisanya dibelikan barang untuk diberikan kepada para penghafal Al-Qur’an, ahli hadits, ahli fikih dan murid-muridnya baik berupa makanan ataupun pakaian. Beliau memberikan hal itu sembari berkata, “Ini adalah laba dari hasil perniagaanku dengan kalian, Allah melancarkannya di tanganku. Demi Allah, aku tidak memberi kalian dengan hartaku sendiri, melainkan karunia Allah untuk kalian yang diberikan-Nya melalui aku. Pada tiap-tiap rezeki tidak ada suatu kekuatan dari seseorang kecuali dari Allah.”

Berita tentang kedermawanan dan kebijaksanaan Abu Hanifah masyhur di belahan bumi timur maupun barat. Terutama di kalangan para sahabat dan orang-orang yang biasa bertemu dengan beliau.

Sebagai contohnya, pernah seorang pelanggannya datang ke toko beliau seraya berkata, “Saya membutuhkan baju “khaz”, wahai Abu Hanifah.” Beliau menjawab, “Apa warna yang Anda kehendaki?” dia menjawab, “Yang berwarna ini dan ini.” Beliau berkata, “Bersabarlah sampai saya menemukannya dan akan aku berikan kepada Anda.”

Pada kasus yang lain, ada seorang wanita tua yang mencari baju “khaz”, kemudian beliau menunjukkan barang yang dimaksud. Lalu wanita itu berkata, “Saya adalah seorang wanita yang lemah, tidak pula tahu menahu soal harga, sedangkan ini hanyalah titipan. Maka juallah baju itu dengan harga yang sama ketika Anda membelinya, lalu ambillah sedikit untung darinya, karena saya adalah wanita lemah.”

Abu Hanifah berkata, “Saya membeli baju ini dua potong dalam satu harga. Saya sudah menjual yang sepotong hingga kurang empat dirham saja dari modal saya. Belialah baju ini seharga empat dirham karena saya tidak ingin mendapatkan laba dari Anda.”

Suatu hari beliau mendapatkan pakaian usang dan lusuh yang dikenakan seorang yang menghadiri majlisnya. Ketika orang-orang telah bubar dan tak ada seorang pun selain beliau dan laki-laki itu, beliau berkata, “Angkatlah alas shalat itu lalu ambillah sesuatu di bawahnya.” Orang itu mengangkat alas yang dimaksud, ternyata ada uang seribu dirham. Abu Hanifah berakta, “Ambillah dan perbaikilah penampilan Anda.” Orang itu menjawab, “Saya adalah orang yang mampu. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahkan nikmat-Nya untuk saya. Saya tidak membutuhkannya.” Abu Hanifah berkata, “Jika Allah telah memberikan nikmatnya kepada Anda, lantas manakah bekas nikmat yang engkau tampakkan? Belum sampaikah sabda Nabi saw, “Allah suka melihat bekas-bekas nikmat-Nya atas para hambanya,” sudah sepantasnya Anda memperbagus penampilan Anda agar tidak menyusahkan teman Anda.”

Kedermawanan Abu Hanifah dan perlakuan baiknya kepada orang lain mencapai klimaksnya, hingga setiap kalia beliau memberikan belanja kepada keluarganya, beliau juga menginfakkan jumlah yang sama kepada orang-orang yang membutuhkan. Setiap kali beliau memakai baju baru, beliau juga membelikan baju-baju untuk orang miskin sebesar harga bajunya. Jika diletakkan makanan di hadapannya, beliau sisihkan separuhnya untuk diberikan kepada orang-orang fakir.

Diriwayatkan pula bahwa beliau bertekad setiap kali bersumpah kepada Allah di tengah pembicaraannya, beliau akan bersedekah dengan satu dirham perak. Berikutnya ditingkatkan lagi, beliau berjanji untuk bersedekah satu dinar emas setiap kali bersumpah di tengah pembicaraanya. Namun jika sumpahnya menjadi kenyataan, dia sedekah lagi sebanyak satu dinar.

Salah satu rekan bisnis Abu Hanifah adalah Hafs bin Abdurrahman. Abu Hanifah biasa menitipkan kain-kain kepadanya untuk dijual ke sebagian kota-kota di Irak. Suatu kali Abu Hanfiah memberikan dagangan yang banyak kepada Hafsh sambil memberitahukan bahwa pada barang ini dan itu ada cacatnya. Beliau berkata, “Jika Anda bermaksud menjualnya, maka beritahukanlah cacat barang kepada orang yang hendak membelinya.”

Akhirnya Hafsh berhasil menjual seluruh barang, namun dia lupa memberitahukan cacat barang-barang tertentu tersebut. Dia berusah mengingat-ingat orang yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut, namun hasilnya nihil. Tatkala Abu Hanifah mengetahui duduk perkaranya, juga tidak mungkin diketahui siapa yang telah membeli barang yang ada cacatnya tersebut, beliau merasa tidak tenang hingga kahirnya beliau sedekahkan seluruh hasil penjualan yang dibawa Hafsh.

Di samping itu, Abu Hanifah juga pandai bergaul. Majelisnya dipenuhi orang dan dia bersusah hati bila ada yang tidak hadir meski dia orang yang memusuhinya. Salah seorang sahabatnya mengisahkan, “Aku mendengar Abdullah bin Mubarak berkata kepada Sufyan Ats-Tsauri, ‘Wahai Abu Abdillah alangkah jauhnya Abu Hanifah dari ghibah. Akut ak pernah medengarnya menyebutkan satu keburukan pun tentang musuhnya.” Sufyan Ats-Tsauri menjawab, “Abu Hanifah cukup berakal sehingga tidak akan membiarkan kebaikannya lenyap karena ghibahnya.”

Di antara kegemaran Abu Hanifah adalah mencukupi kebutuhan orang yang menarik simpatinya. Sering ada orang lewat kemudian ikut duduk di majelisnya tanpa sengaja. Ketika dia hendak beranjak pergi, beliau segera menghampirinya dan bertanya tentang kebutuhannya. Bila dia punya kebutuhan, maka Abu Hanifah akan memberinya, kalau sakit maka akan beliau antarkan dan jika memiliki hutang maka beliau akan membayarkan sehingga terjalinlah hubungan yang baik antara keduanya.

Dengan segala keutamaan yang disandang Abu Hanifah tersebut, beliau juga termasuk orang yang rajin shaum di siang hari dan shalat tahajud di malam harinya. Akrab dengan Al-Qur’an dan istighfar di waktu ashar. Ketekunannya dalam beribadah di latar belakangi oleh peristiwa di mana beliau mendatangi suatu kaum lalu mendengar mereka berkomentar tentang Abu Hanifah. “Orang yang kalian lihat itu tidak pernah tidur malam.” Demi mendengar kata-kata itu, Abu Hanifah berkata, “Dugaan orang terhadapku ternyata berbeda dengan apa yang aku kerjakan di sisi Allah. Demi Allah jangan pernah orang-orang mengatakan sesuatu yang tidak aku lakukan. Aku tak akan tidur di atas bantal sejak hari ini hingga bertemu dengan Allah.”

Mulai hari itu Abu Hanifah membiasakan seluruh malamnya untuk shalat. Setiap kali malam datang dan kegelapan menyelimuti alam, ketika semua lambung merebahkan diri. Beliau bangkit mengenakan pakaian yang indah, merapikan jenggot dan memakai wewangian. Kemudian beridiri di mihrabnya, mengisi malamnya untuk ketaatan kepada Allah, atau membaca beberapa juz dari Al-Qur’an. Setelah itu mengangkat kedua tangan dengan sepenuh harap disertai kerendahan hati. Terkadang beliau mengkhatamkan Al-Qur’an penuh dalam satu rakaat, terkadang pula beliau menghabiskan shalat semalam dengan satu ayat saja.

Sebuah riwayat menyebutkan bahwa tatkala shalat malam secara berulang-ulang Abu Hanifah membaca membaca firman Allah Ta’ala:

“Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pasti,” (Al-Qamar: 46).

Beliau menangis karena takut kepada Allah dengan tangisan yang menyayat hati.

Telah diketahui banyak orang selama lebih dari empat puluh tahun beliau melakukan shalat fajar dengan wudhu shalat isya’. Hingga akhir wafat beliau pernah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 7000 kali.

Setiap kali beliau membaca surat Al-Zalzalah, gemetar jasadnya, beretar hatinya. Dengan memegang jenggotnya, beliau berkata, “Wahai yang membalas sebesar dzarrah kebaikan dengan kebaikan dan sebesar dzarrah keburukan dengan keburukan, selamatkanlah hamba-Mu Nu’man dari api neraka dan jauhkan ia dari apa-apa yang bisa mendekatkan dengan neraka, masukkanlah ia ke dalam luasnya rahmat-Mu, ya Arhamarrahimin. (novel/al-Islam)

http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/kisah-hidup-imam-abu-hanifah-yang-menakjubkan.htm

Wednesday, February 8, 2012

Khabab bin Arats, Penderitaan di Dunia Tergantikan dengan Surga di Akhirat

Dia adalah seorang budak. Berprofesi sebagai pandai besi yang ahli membuat pedang dan senjata tajam tersohor sampai ke negeri tetangga kota Mekkah. Dialah Khabab bin Arats, yang termasuk salah seorang sahabat yang paling awal memeluk Islam.

Semenjak hari pertama keislamannya di Mekkah, hampir tak ada hari yang dilalui Khabab bin Arats tanpa penyekapan dan penyiksaan. Statusnya sebagai budak seorang wanita musyrik, Ummu Anmar, membuat posisinya sangat sulit dan memprihatinkan. Ummu Anmar memperlakukannya sangat buruk dan kejam. Kepalanya pernah ditusuk dengan besi yang dipanaskan.

Suatu hari datanglah serombongan orang musyrik menuju rumah Khabab bin Arats untuk menanyakan pesanan pedang mereka kepada Khabab. Kebetulan Khabab tidak berada di rumah. Mereka menunggu agak lama. Beberapa saat kemudian muncullah Khabab dengan wajah terlihat sumringah tanda sukacita. Khabab menyapa para tamunya. Mereka bertanya, “Apakah sudah engkau selesaikan pedang pesanan kami?”

Khabab tidak menjawab, namun ia bergumam, "Sungguh sangat menakjubkan keadaan ini," seolah-olah ia berbicara sendiri, dan para tamunya merasa keheranan melihat kelakuan Khabab.

"Hai Khabab, keadaan apa yang kamu maksudkan? Yang kami tanyakan apakah pedang kami sudah selesai kamu buat?”

Dengan pandangan menerawang seolah mimpi, Khabab lalu bertanya, “Apakah kalian sudah melihatnya? Apakah kalian juga sudah pernah mendengar ucapannya?”

Ternyata yang dimaksud Khabab adalah Rasulullah Muhammad Saw. Maka marahlah para tamunya. Mereka kemudian menyiksa dan menganiaya Khabab sampai berdarah-darah hingga pingsan. Ketika siuman Khabab tidak mendapati lagi orang-orang yang menyiksanya, dan ia pun mengobati lukanya sendiri. Penyiksaan itu berulang-ulang terjadi, dan bukan hanya menimpa dirinya saja tapi juga sahabat-sahabatnya yang lain.

Hingga kemudian Khabab datang menemui Rasulullah Saw yang sedang beribadah di Ka'bah. Ia mengadukan ketidakmampuannya menghadapi penyiksaan yang bertubi-tubi. "Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran?! Lalu mengapa Allah tidak segera memberikan kemenangan?” Khabab mendesak Rasulullah untuk segera berdo'a kepada Allah, meminta kemenangan.

Mendengar keluhan Khabab, wajah Rasulullah memerah, beliau berkata, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman sebelum kalian, ada yang ditanam hidup-hidup separuh badannya, lalu kepalanya digergaji hingga terbelah menjadi dua bagian. Ada pula yang disisir kepalanya dengan sisir besi yang dipanggang dengan api, hingga tulang dan otot kepala mereka kelihatan, tapi hal itu tidak membuat mereka meninggalkan agama dan keyakinannya. Demi Allah, sungguh akan datang suatu masa di mana para pengendara bisa berjalan dari Shan'a ke Hadramaut tidak merasakan takut selain pada Allah dan serigala yang akan menerkam gembalaannya. Tetapi kalian sungguh tergesa-gesa."

Mendengar ucapan Rasulullah Saw, keimanan Khabab dan sahabat-sahabat lainya makin teguh dan masing-masing berikrar untuk membuktikan kepada Allah dan Rasulnya.

Pada suatu hari Rasulullah Saw lewat di hadapan Khabab yang sedang disiksa dengan besi panas yang ditaruh di atas kepalanya, membakar dan menghanguskannya. Qolbu Rasulullah menjadi pilu dan iba hati. Pada saat itu jumlah musuh sangat banyak dan Rasul pun tidak dapat berbuat banyak dan hanya mampu berdo'a, "Ya Allah limpahkanlah pertolonganmu kepada Khabab!"

Dan do'a Rasulullah pun terkabul. Ummu Anmar mendapatkan balasan penyakit panas yang aneh dan mengerikan, melonglong seperti anjing yang kepanasan yang obatnya hanya dengan diseterika. Sampai akhir hayatnya penyakit itu tidak pernah sembuh.

Akhir Wafatnya

Ketika Khabab sedang sakit mendekati ajal, banyak para sahabat yang menengoknya. Khabab melihat pada kain kafan yang telah disediakan untuknya. Kain kafan itu mewah dan berlebihan. Khabab kemudian menangis seraya berkata, "Lihatlah ini kain kafanku yang sangat berlebihan dan mewah. Bukankah kain kafan Hamzah bin Abdul Mutholib sebagai syuhada Uhud hanyalah burdah berwarna abu-abu yang apabila ditarik ke bawah kepalanya kelihatan dan apabila ditarik ke atas kakinya kelihatan?" Dan ia pun meminta nanti apabila wafat dikafani kain biasa saja.

Khabab bin Arats akhirnya Wafat di tahun ke 37 H dengan meninggalkan pelajaran yang sangat berharga sebagai sahabat yang memiliki banyak penderitaan dan kesengsaraan hidup di dunia, tetapi Allah Swt membayarnya dengan kesenangan di akhirat, dengan Surga!

http://www.suara-islam.com/tabloid.php?tab_id=42

Tuesday, February 7, 2012

Michele Ashfaq: Islam itu Indah dan Sederhana

Ada kata bijak yang mengatakan, satu teladan yang baik lebih ampuh dari seribu nasehat. Kata bijak itu ingin menggambarkan bahwa memberi memberi contoh dengan menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, akan meninggalkan kesan yang lebih dalam pada pada orang lain, dibandingkan jika kita mengumbar banyak kata dan memberi nasehat.

Itulah dialami Michele, perempuan asal New York, yang mengenal dan akhirnya tertarik dengan Islam karena ia terkesan dengan karakter lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Lelaki muslim itu bukan cuma mengajarkan etiket dan kebersihan, tapi juga memberikan contoh yang riil pada Michele lewat perilakunya sehari-hari.

“Ia hanya bercerita banyak hal tentang Islam, tapi saya sendirilah yang kemudian mulai membaca buku-buku Islam yang dikirim oleh bapak mertua sekarang dari Pakistan. Itulah awalnya saya merasa ingin tahu apa itu Islam,” ujar Michele Ashfaq yang sebelumnya menganut agama Katolik.

Sebelum mengenal Islam, Michele mengaku melalui fase kehidupan yang tidak terarah. Ia bingung apa lagi yang harus dilakukannya selain dibesarkan sebagai seorang Katolik, selain meyakini ajaran agamanya dan berdoa. Dalam kebingungannya itu, Michele sempat pindah jamaah, ia mengikuti jamaah Gereja Baptis bersama dengan kakek-neneknya.

“Ketika berumur 17 atau 18 tahun, saya mengalami peristiwa aneh. Saya sedang dalam perjalanan ke gereja Katolik ketika tiba-tiba seperti ada yang membisikkan pada saya agar jangan masuk ke dalam gereja,” ujar Michele. Sejak itu, ia mulai merasa enggan datang ke gereja. Sekalipun datang, ia pasti terlambat sampai di gereja, atau ada saja hal yang membuatnya batal pergi ke gereja.

“Kalau saya kaji lagi ke belakang, sungguh luar biasa bahwa semua itu terjadi untuk sebuah alasan. Saat itu saya dalam keadaan bingung dan tidak tahu sama sekali tentang Islam. Saya orang yang naïf dan tidak tahu apa-apa tentang agama lain. Yang saya tahu, waktu itu saya tinggal di sebuah kota yang sangat terpencil di sebelah selatan Virginia Barat bersama kakek-nenek saya. Dan hidup saya hanya ke seputar gereja-rumah, rumah-gereja,” papar Michele.

Seperti diceritakan di atas, Michele mengenal Islam dari lelaki muslim asal Pakistan yang kini menjadi suaminya. Selanjutnya, Michelle belajar tentang Islam sendiri dari buku-buku yang dibacanya.

Michelle mengaku sangat terkesan dengan kesederhanaan Islam. “Islam itu sederhana dan mudah. Itulah yang membuat saya tertarik pada Islam. Saya bisa membaca dan memahami Al-Quran. Berbeda sekali ketika saya di gereja, kami tidak disarankan membaca Alkitab atau buku-buku untuk dipahami. Kami hanya disuruh mendengarkan saja apa yang diceramahkan pendeta. Kala itu, saya yang justru banyak mengajukan pertanyaan,” imbuh Michele.

Dua hal yang ia tanyakan dengan serius ketika itu adalah tentang pengakuan dosa dan mengapa ia harus meyakini Yesus sebagai juru selamat. Ia masih ingat bagaimana ibunya memaksanya agar menemui pendeta di gereja dan melakukan pengakuan dosa seperti yang dilakukan umat Katolik pada umumnya. Bagi Michele, tradisi itu sangat aneh. “Untuk apa saya datang ke seorang laki-laki dan mengakui dosa-dosa saya. Saya tahu dia pendeta, tapi dia bukan ayah saya!” tukas Michele. Di usianya saat itu yang masih remaja, ia merasa tradisi itu tidak benar.

Lalu, soal keyakinan Yesus sebagai juru selamat bagi orang Katolik. Michele mempertanyakan bagaimana dengan para pengikut Nabi Ibrahim, orang-orang yang ada sebelum Yesus datang. “Kalau mereka bilang jika saya tidak meyakini Yesus maka saya akan masuk neraka, lalu bagaimana dengan orang-orang sebelum Yesus ada? Padahal Ibrahim juga seorang nabi dan punya juga punya pengikut,” ujar Michele.

Itulah dua pertanyaan besarnya tentang ajaran Katolik, dan ia merasa tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan dan masuk akal. Dari sisi spiritual, situasi itu membuat Michele frustasi.

Tapi saat-saat yang paling membuatnya frustasi adalah ketika ia belum dipertemukan dengan pria yang kemudian menjadi suaminya. "Saya betul-betul tidak tahu apa yang harus saya lakukan, tidak tahu ke mana saya beribadah. Waktu terasa berjalan sangat lambat, dan saya bertanya pada Tuhan, mengapa semua ini terjadi, mengapa saya jadi tidak mau lagi ke gereja? Padahal saya bahkan pernah bercita-cita ingin jadi biarawati,” tutur Michele.

Kegelisahan Michele itu terjawab ketika Michele mulai mendalami agama Islam. Ia berujar, “Ketika Anda mempelajari agama Islam, rasanya seperti sedang belajar bagaimana Anda menjalani kehidupan sebagai manusia.” Hal lainnya yang menjawab semua kegelisahan Michele adalah pada saat shalat dan saat memberikan sedekah atau kunjungan ke yatim piatu.

Dari mulai masuk Islam hingga sekarang, sudah 12 tahun Michele memeluk Islam. Ibu yang dikaruniai tiga anak dan bekerja sebagai guru kelas satu SD di North Carolina ini menyatakan bahwa Islam telah membawa perubahan berbeda bagi dirinya.

“Sulit menjelaskan dengan kata-kata tentang perbedaan yang saya alami setelah masuk Islam. Kedamaian yang saya rasakan dalam Islam, sangat luar biasa. Saya punya hubungan langsung dengan Allah Swt,” ujar Michele.

“Namun perbedaan yang paling besar adalah adalah saat membaca Al-Quran. Al-quran berisi petunjuk dan nasehat. Jika punya pertanyaan apapun ada jawabannya dalam Al-Quran." (oi)

http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/michele-ashfaq-islam-itu-indah-dan-sederhana.htm

Gubernur yang Menjadi Kuli di Pasar

Di antara sejumlah peperangan yang paling dahsyat adalah Perang Khandaq. Kala itu kaum Yahudi Madinah melakukan persekongkolan dengan musyrikin Makkah yang terdiri atas berbagai golongan, dan bergabung menjadi satu untuk menghancurkan umat Islam di Madinah.

Blokade dilakukan oleh tentara gabungan itu, didukung dengan sabotase dari dalam oleh orang-orang Yahudi. Umat Madinah sudah mulai dihinggapi kelelahan dan putus asa, kelaparan dan kehilangan semangat, sementara setiap saat tentara musuh bakal menyerbu dengan sengit.

Dalam kekalutan itulah muncul sebuah nama ke permukaan, nama yang tadinya tidak terlalu diperhitungkan milik seorang mualaf muda kelahiran negeri Persia. Ia adalah Salman yang dijuluki al Farisi sesuai tanah tumpah darahnya. Pemuda ini menyarankan agar digali parit panjang dan dalam melingkari kota Madinah.

Rasulullah menyambut gagasan itu dengan gembira. Dan itulah awal kebangkitan semangat umat Islam untuk mempertahankan kedaulatannya dan awal kehancuran musuh-musuh umat Islam.

Sejak itu nama Salman al Farisi mencuat naik. Di zaman pemerintahan Umar bin Khaththab, Salman mendaftarkan diri untuk ikut dalam ekspedisi militer ke Persia. Ia ingin membebaskan bangsanya dari genggaman kelaliman Kisra Imperium Persia yang mencekik rakyatnya dengan penindasan dan kekejaman. Untuk membangun istana Kisra saja, ribuan rakyat jelata terpaksa dikorbankan, tidak setitik pun rasa iba terselip di hati sang raja.

Di bawah pimpinan Panglima Sa’ad bin Abi Waqash, tentara muslim akhirnya berhasil menduduki Persia, dan menuntun rakyatnya dengan bijaksana menuju kedamaian Islam. Di Qadisiyah, keberanian dan keperwiraan Salman al Farisi sungguh mengagumkan sehingga kawan dan lawan menaruh hormat padanya.

Tapi bukan itu yang membuat Salman meneteskan air mata keharuan pada waktu ia menerima kedatangan kurir Khalifah dari Madinah. Ia merasa jasanya belum seberapa besar, namun Khalifah telah dengan teguh hati mengeluarkan keputusan bahwa Salman diangkat menjadi amir negeri Madain.

Umar secara bijak telah mengangkat seorang amir yang berasal dari suku dan daerah setempat. Oleh sebab itu ia tidak ingin mengecewakan pimpinan yang memilihnya, lebih-lebih ia tidak ingin dimurkai Allah karena tidak menunaikan kewajibannya secara bertanggung jawab.

Salman sering berbaur di tengah masyarakat tanpa menampilkan diri sebagai amir, sehingga banyak yang tidak tahu bahwa yang sedang keluar masuk pasar, yang duduk-duduk di kedai kopi bercengkrama dengan para kuli itu adalah sang gubernur.

Pada suatu siang yang terik, seorang pedagang dari Syam sedang kerepotan mengurus barang bawaannya. Tiba-tiba ia melihat seorang pria bertubuh kekar dengan pakaian lusuh. Orang itu segera dipanggilnya, “Hai, kuli, kemari! Bawakan barang ini ke kedai di seberang jalan itu.” Tanpa membantah sedikitpun orang tersebut dengan patuh mengangkut bungkusan berat dan besar itu ke kedai yang dituju.

Saat sedang menyeberang jalan, seseorang mengenali kuli tadi. Ia segera menyapa dengan hormat, “Wahai, Amir. Biarlah saya yang mengangkatnya.” Si pedagang terperanjat seraya bertanya pada orang itu, “Siapa dia? Mengapa seorang kuli kau panggil Amir?” Ia menjawab, “Tidak tahukah Tuan, kalau orang itu adalah gubernur kami?” Dengan tubuh lemas seraya membungkuk-bungkuk ia memohon maaf pada 'kuli upahannya’ yang ternyata adalah Salman al Farisi.

“Ampunilah saya, Tuan. Sungguh saya tidak tahu. Tuan adalah amir negeri Madain," ucap si pedagang. “Letakkanlah barang itu, Tuan. Biarlah saya yang mengangkutnya sendiri.” Salman menggeleng, “Tidak, pekerjaan ini sudah aku sanggupi, dan aku akan membawanya sampai ke kedai yang kau maksudkan.”

Setelah dengan penuh keringat di sekujur badannya, Salman menaruh barang bawaannya di kedai itu. Ia lantas berkata, “Kerja ini tidak ada hubungannya dengan kegubernuranku. Aku sudah menerima dengan rela perintahmu untuk mengangkat barang ini kemari. Aku wajib melaksanakannya hingga selesai. Bukankah merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meringankan beban saudaranya?”

Pedagang itu hanya menggeleng. Ia tidak mengerti bagaimana seorang berpangkat tinggi bersedia disuruh sebagai kuli. Mengapa tidak ada pengawal atau tanda-tanda kebesaran yang menunjukkan kalau ia seorang gubernur?.

Ia barangkali belum tahu, begitulah seharusnya sikap seorang pemimpin menurut ajaran Islam. Tidak bersombong diri dengan kedudukannya, malah merendah di depan rakyatnya. Karena pada hakekatnya, ketinggian martabat pemimpin justru datang dari rakyat dan bawahannya.

(Sumber: Kisah Orang-orang Sabar Karangan Nasiruddin M. Ag/Pz/eramuslim.com)
http://www.al-khilafah.org/2012/01/gubernur-zuhud-yang-menjadi-kuli-di.html

Iblis Ingin Bertaubat

Dalam sebuah kitab diterangkan bahwa sesungguhnya Iblis pernah datang menemui Nabi Musa a.s. dengan berkata: “Wahai Musa, engkau adalah seorang yang telah diutus oleh Allah s.w.t. dan Dia telah berkata-kata denganmu secara langsung.” Kemudian Nabi Musa a.s. berkata: “Memang benar apa yang kamu katakan, kamu ini siapa dan apa yang kamu mau dariku?”

Lalu berkata Iblis: “Aku adalah Iblis. Wahai Musa, aku mau minta tolong kepada kamu untuk mengatakan kepada Tuhanmu bahwa seorang makhluk-Nya ingin bertaubat kepadaNya.”

Lalu Nabi Musa a.s. berdoa kepada Allah s.w.t. dan menyampaikan apa yang diucapkan oleh Iblis, dan kemudian Allah s.w.t. pun menurunkan wahyu-Nya, “Wahai Musa, katakan padanya bahwa sesungguhnya Aku berkenan menerima permohonan taubatnya itu, dengan syarat mestilah terlebih dahulu dia (Iblis) sujud di kubur Adam. Kalau dia mau sujud maka aku bersedia mengampuni segala dosanya.”

Setelah Nabi Musa a.s. menerima wahyu dari Allah s.w.t. maka Nabi Musa a.s. pun segera memberitahu Iblis tentang apa yang telah Allah perintahkan.

Begitu Nabi Musa a.s. memberitahu segala perintah Allah s.w.t., maka dengan sombong dan congkaknya Iblis berkata: “Wahai Musa, aku tidak sujud kepada Adam ketika ia hidup di syurga, bagaimana mungkin aku hendak sujud padanya sesudah dia mati.”

Begitulah sifat sombong Iblis yang tetap dengan kedengkiannya. Walaupun dia tahu bahwa api neraka itu akan membakarnya, dia tetap tidak mau beriman pada Allah s.w.t. dengan sujud memuliakan Adam.

Dalam sebuah hadis diterangkan bahwa sesungguhnya Allah s.w.t. setiap 1000 tahun sekali mengeluarkan Iblis dari neraka, dan mengeluarkan Adam a.s. dari syurga, serta memerintahkan Iblis supaya sujud kepada Adam a.s. Namun disebabkan sikap angkuhnya dia tetap enggan sujud kepada Adam a.s., maka dikembalikanlah Iblis ke dalam neraka…..

http://www.islambisa.web.id/2008/11/30/iblis-ingin-bertaubat/

Monday, February 6, 2012

Senyum Adalah Sedekah

Rasulullah SAW bersabda bahwa anak keturunan Adam memiliki kewajiban untuk bersedekah setiap harinya sejak matahari mulai terbit.

Seorang sahabat yang tidak memiliki apa pun untuk disedekahkan bertanya, “Jika kami ingin bersedekah, namun kami tidak memiliki apa pun, lantas apa yang bisa kami sedekahkan dan bagaimana kami menyedekahkannya?”

Rasulullah SAW bersabda, “Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar makruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah.” (HR Tirmizi dan Abu Dzar).

Dalam hadis lain disebutkan bahwa senyum itu ibadah, “Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah.” (HR Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi).

Salah seorang sahabat, Abdullah bin Harits, pernah menuturkan tentang Rasulullah SAW, “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW.” (HR Tirmidzi).

Meskipun ringan, senyum merupakan amal kebaikan yang tidak boleh diremehkan.

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, sekalipun itu hanya bermuka manis saat berjumpa saudaramu.” (HR Muslim).

Mungkin kita sering berpikir bahwa sedekah itu berkaitan erat dengan harta benda seperti pemberian uang, pakaian, atau apa pun yang bisa langsung dinikmati penerima dalam bentuk materi. Hal itu juga mungkin yang ada dalam pikiran para sahabat Rasulullah SAW, sehingga mereka sangat gelisah kemudian mempertanyakannya.

Karena itu, tidak semestinya seorang Muslim membiarkan satu hari pun berlalu tanpa dirinya terlibat dalam kegiatan bersedekah. Jika kita punya wawasan sempit mengenai pengertian bersedekah, tentulah hal itu menjadi mustahil.

Di antara keistimewaan sedekah adalah menolak bala (musibah).

Dari Sayyid Ali Ar-Ridha, dari Sayyid Ja’far Ash-Shadiq, dari Sayyid Ali Zainal Abidin, dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu Anhum, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah itu dapat menghindarkan diri dari kematian yang tidak baik, menjaga diri dari tujuh puluh macam bencana.”

Wallahu alam, semoga kita bisa mengamalkan ini.

Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat!

Sumber : Republika
http://virouz007.wordpress.com/2010/06/22/864/

Sunday, February 5, 2012

Kezuhudan Gubernur Itu Membuat Umar Menangis

Said bin Umar al Jumahi, termasuk seorang pemuda di antara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpin Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin Adi, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka hukum tanpa alasan.

Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Said maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai ke depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting, seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayah dan lain-lain.

Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak-anak dan pemuda, menggiring Khubaib ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad saw, serta melampiaskan sakit hati atas kekalahan mereka dalam perang Badar.

Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang telah disediakan, Said mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin Adi. Said mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, ”Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua rakaat sebelum saya kalian bunuh…”

Kemudian Said melihat Khubaib menghadap ke kiblat (Ka’bah). Dia shalat dua rakaat. Alangkah bagus dan sempurnanya shalatnya itu. Sesudah shalat, Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, ”Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur-ngulur waktu karena takut mati, niscaya saya akan shalat lagi.”

Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Said melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencincang-cincang tubuh Khubaib hidup-hidup. Kata mereka, ”Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebeskan?”

“Saya tidak ingin bersenang-senang dengan istri dan anak-anak saya, sementara Muhammad tertusuk duri,” jawab Khubaib mantap.

“Bunuh dia! Bunuh dia!” teriak orang banyak. Said melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil berdoa, ”Ya Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkan mereka semua. Jangan disisakan seorang jua pun!”

Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang jumlahnya.

Kaum Kafir Quraisy kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut jiwa Khubaib dengan sadis. Tetapi Said bin Amir al Jumahi yang baru meningkat remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau ‘sedetikpun’, hingga dia bermimpi seakan-akan melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua rakaat dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendoakan kaum kafir Quraisy. Karena itu Said ketakutan kalau-kalau Allah SWT segera mengabulkan doa Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy.

Keberanian dan ketabahan Khubaib menghadapi maut mengajarkan Said beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.

Pertama, hidup yang sesungguhnya adalah hidup beraqidah, beriman, kemudian berjuang mempertahankan aqidah itu sampai mati.

Kedua, iman yang telah terhunjam di hati seseorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib dan luar biasa.

Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib ialah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.

Sejak itu Allah SWT membukakan hati Said bin Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: "Alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala." Karena itu, dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-berhala yang dipujanya selama ini. Kemudian diumumkannya, mulai saat itu dia masuk Islam.

Tidak lama sesudah itu, Said menyusul kaum Muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantiasa mendampingi Nabi saw. Dia ikut berperang bersama beliau, mula-mula dalam peperangan Khaibar. Kemudian dia selalu turut berperang dalam setiap peperangan berikutnya.

Setelah Nabi saw berpulang ke rahmatullah, Said tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan Umar. Dia menjadi teladan satu-satunya bagi orang-orang mukmin yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala dari-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.

Kedua khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, mengerti bahwa ucapan-ucapan Said sangat berbobot dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Said.

Pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Said datang kepadanya memberi nasihat. Kata Said, ”Ya Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan ialah yang dibuktikan dengan perbuatan. Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum Muslimin, baik yang jauh maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan keluarga tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”

“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua itu, hai Said?” Tanya Khalifah Umar. “Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah umat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dengan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab Said meyakinkan.

Pada suatu ketika Khalifah Umar memanggil Said untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan. “Hai Said! Engkau kami angkat menjadi Gubernur di Himsh!” kata Khalifah Umar.

“Wahai Umar! Saya mohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,” kata Said.

“Celaka engkau!” Balas Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahan ini di pundakku, tetapi kemudian engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”

“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Said.

Kemudian Khalifah Umar melantik Said menjadi gubernur di Himsh. Sesudah pelantikan khalifah Umar bertanya kepada Said, ”Berapa gaji yang Engkau inginkan?”

“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu, ya Amirul Mukminin?” jawab Said balik bertanya. “Bukankah penghasilan saya dari Baitul Mal sudah cukup?”

Tidak berapa lama setelah Said memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap khalifah Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Himsh yang ditugasi Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.

Dalam pertemuan dengan delegasi tersebut, Khalifah Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi mengajukan daftar yang diminta khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat beberapa nama dan nama Said bin Amir al Jumahi pun tercantum di sana.

Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan nama Said bin Amir al Jumahi. Lalu beliau bertanya, ”Siapa Said bin Amir yang kalian cantumkan ini?”

“Gubernur kami!” jawab mereka. “Betulkah gubernur kalian miskin?” jawab Khalifah heran.

“Sungguh, ya Amirul Mukminin! Demi Allah! Seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),” jawab mereka meyakinkan.

Mendengar perkataan itu, Khalifah Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundit-pundi berisi uang seribu dinar.

“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Said bin Amir, dan uang ini saya kirimkan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya,” ucap Umar sedih.

Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Said, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau. Setelah Gubernur Said melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un." (kita milik Allah dan pasti kembali kepada Allah).

Mendengar ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Karena itu istrinya segera menghampiri seraya bertanya, ”Apa yang terjadi, hai Said? Meninggalkah Amirul Mukminin?”

“Bahkan lebih besar dari itu!” jawab Said sedih. “Apakah tentara kaum Muslimin kalah berperang?” tanya istrinya lagi. “Jauh lebih besar dari itu!” jawab Said tetap sedih. “Apa pulalah gerangan yang lebih dari itu?” tanya istrinya tak sabar. “Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,” jawab Said mantap.

“Bebaskan dirimu daripadanya!” kata istri Said memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi-pundi uang yang dikirimkan Khalifah Umar untuk pribadi suaminya.

“Maukah engkau menolongku berbuat demikian?” Tanya Said.

“Tentu!” jawab istrinya bersemangat. Maka Said mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya istrinya membagi-bagikan kepada fakir miskin… Subhanallah!

(Sumber: Kepahlawanan Dalam Generasi Sahabat Karangan DR. Abdurrahman Raf'at Basya/Nuim Hidayat/eramuslim.com)
http://www.al-khilafah.org/2012/02/kezuhudan-gubernur-itu-membuat-umar.html