Tuesday, January 10, 2012

Kisah Sahabat Nabi: Mu'adz bin Jabal, Pelita Ilmu dan Amal

Tatkala Rasulullah mengambil baiat dari orang-orang Anshar pada perjanjian Aqabah yang kedua, di antara para utusan yang terdiri atas 70 orang itu terdapat seorang anak muda dengan wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih berkilat serta memikat. Perhatian dengan sikap dan ketenangannya. Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya. Nah, itulah dia Mu'adz bin Jabal RA.

Dengan demikian, ia adalah seorang tokoh dari kalangan Anshar yang ikut baiat pada Perjanjian Aqabah kedua, hingga termasuk Ash-Shabiqul Awwalun— golongan yang pertama masuk Islam. Dan orang yang lebih dulu masuk Islam dengan keimanan serta keyakinannya seperti demikian, mustahil tidak akan turut bersama Rasulullah dalam setiap perjuangan.

Maka demikianlah halnya Mu'adz. Tetapi kelebihannya yang paling menonjol dan keistimewaannnya yang utama ialah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah SAW dengan sabdanya: "Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu'adz bin Jabal."

Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu'adz hampir sama dengan Umar bin Khathab. Ketika Rasulullah SAW hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya, "Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu'adz?"

"Kitabullah," jawab Mu'adz.

"Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?", tanya Rasulullah pula.

"Saya putuskan dengan Sunnah Rasul."

"Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah?"

"Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia," jawab Muadz.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah. "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah," sabda beliau.

Dan mungkin kemampuan untuk berijtihad dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan inilah yang menyebabkan Mu'adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai "orang yang paling tahu tentang yang halal dan yang haram".

Suatu hari, pada masa pemerintahan Khalifah Umar, A'idzullah bin Abdillah masuk masjid bersama beberapa orang sahabat. Maka ia pun duduk pada suatu majelis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih. Masing-masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW.

Pada halaqah atau lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan, hitam manis warna kulitnya, bersih, baik tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka. Jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya.

"Dan ia tak berbicara kecuali bila diminta. Dan tatkala majelis itu berakhir, saya dekati anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ia menjawab, saya adalah Mu'adz bin Jabal," tutur A'idzullah.

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya, "Bila para sahabat berbicara, sedang di antara mereka hadir Mu'adz bin Jabal, tentulah mereka akan sama-sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya."

Dan Amirul Mukminin Umar bin Khatab RA sendiri sering meminta pendapat dan buah pikirannya. Bahkan dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata, "Kalau tidaklah berkat Mu'adz bin Jabal, akan celakalah Umar!"

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu'adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, adalah ia sebagaimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya: "Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara."

Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum Muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu'adz sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum 33 tahun!

Mu'adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak sesuatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu'adz telah menghabiskan semua hartanya.

Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu'adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi ke sana untuk membimbing kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk-seluk Agama.

Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu'adz kembali ke Yaman. Umar tahu bahwa Mu'adz telah menjadi seorang yang kaya raya, maka ia mengusulkan kepada Khalifah Abu Bakar agar kekayaan Mu'adz itu dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu'adz dan mengemukakan masalah tersebut.

Mu'adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya dengan berbuat dosa. Bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat.

Oleh sebab itu, usul Umar ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula. Umar berpaling meninggalkannya. Pagi-pagi keesokan harinya Mu'adz pergi ke rumah Umar. Ketika sampai di sana, Mu'adz merangkul dan memeluk Umar, sementara air mata mengalir mendahului kata-katanya. "Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar, dan menyelamatkan saya!"

Kemudian bersama-sama mereka datang kepada Abu Bakar, dan Mu'adz meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya. "Tidak satu pun yang akan kuambil darimu," ujar Abu Bakar.

"Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik," kata Umar menghadapkan pembicaraannya kepada Mu'adz.

Andai diketahuinya bahwa Mu'adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak satu dirham pun Abu Bakar yang saleh itu akan menyisakan baginya. Namun Umar tidak pula berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap Mu'adz.

Hanya saja masa itu adalah masa gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.

Mu'adz pindah ke Syria (Suriah), di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagi guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah bin Jarrah —amir atau gubernur militer di sana serta shahabat karib Mu'adz — meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mukminin Umar sebagai penggantinya di Syria.

Tetapi hanya beberapa bulan saja ia memegang jabatan itu, Mu'adz dipanggil Allah untuk menghadap-Nya dalam keadaan tunduk dan menyerahkan diri.

Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda, "Hai Mu'adz! Demi Allah, aku sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan: 'Ya Allah, bantulah aku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu."

Mu'adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat.

Pada suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu'adz, maka beliau bertanya, "Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu'adz?"

"Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah," jawabnya.

"Setiap kebenaran ada hakikatnya," kata Nabi pula, "maka apakah hakikat keimananmu?"

"Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi. Dan tiada satu langkah pun yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi dengan langkah lainnya. Dan seolah-olah kesaksian setiap umat jatuh berlutut, dipanggil melihat buku catatannya. Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangan surga. Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka."

Maka sabda Rasulullah SAW, "Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan!"

Menjelang akhir hayatnya, Mu'adz berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air sungai atau menanam kayu-kayuan, tetapi hanyalah untuk menutup haus di kala panas, dan menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan ketaatan."

Lalu diulurkanlah tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam keberangkatannya ke alam gaib, ia masih sempat berujar, "Selamat datang wahai maut. Kekasih tiba di saat diperlukan..." Dan nyawa Mu'adz pun melayanglah menghadap Allah.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/08/22/lqbrcz-kisah-sahabat-nabi-muadz-bin-jabal-pelita-ilmu-dan-amal

Strategi Syetan Menjerumuskan Manusia

Sebelum kita mengetahui strategi setan menjerumuskan manusia, ada baiknya terlebih dahulu mengetahui Visi dan Misi setan.

Visi setan adalah memperbudak manusia dan Misi setan mengkondisikan manusia lupa kepada Alah SWT.

Adapun strategi setan untuk mewujudkan visi dan misinya adalah sbb :

1. Waswasah
Waswasah artinya membisikkan keraguan pada manusia ketika melakukan kebaikan atau amal sholeh. Saat kumandang azan subuh dan tubuh kita masih dililit selimut, terbersit dalam pikiran kita, "Nanti lima menit lagi". Ini adalah waswasah. Kenyataannya bukan lima menit tapi satu jam, akhirnya Sholat Shubuh terlambat bahkan tidak sholat.

2. Tazyin
Tazyin artinya membungkus kemaksiatan dengan kenikmatan. Segala yang berbau maksiat biasanya terlihat indah. Misalnya, mengapa orang yang berpacaran lebih mesra daripada suami-istri? Jalan-jalan saat pacaran lebih mengesankan daripada setelah menikah. Ini karena ada unsur tazyin. Pacaran itu maksiat, sementara nikah itu ibadah. Maksiat disulap oleh setan sehingga terasa lebih indah, nikmat dan mengesankan. Inilah yang disebut strategi tazyin.

3.Tamanni
Tamanni artinya memperdaya manusia dengan khayalan dan angan-angan. Pernahkan terbersit niat akan Shalat Tahjud saat merebahkan badan di tempat tidur? Namun pada jam tiga saat weker berbunyi, kita cepat-cepat mematikannya lalu meneruskan tidur.
Pernahkan kita ingin bertobat? Namun pada saat maksiat ada di depan mata, kita tetap saja melakukannya. Ironisnya ini berlangsung berkali-kali. Inilah yang disebut strategi tamanni.

4. A'dawah
A'dawah artinya berusaha menanamkan permusuhan. Setan berikhtiar menumbuhkan permusuhan di antara manusia. Biasanya permusuhan berawal dari prasangka buruk. Supaya manusia bermusuhan, setan biasanya menumbuhkan prasangka buruk. Karena itu waspadai kalau kita berprasangka buruk pada orang lain, sesungguhnya kita telah terperangkap strategi setan.

5. Takwif
Takwif artinya menakut-nakuti. Pernahkah merasa takut miskin karena menginfakkan sebagian harta, takut disebut sok alim karena datang ke majelis taklim? Kalau kita pernah merasakannya, inilah strategi takhwif.

6. Shaddun
Shaddun artinya berusaha menghalang-halangi manusia menjalankan perintah Allah dengan menggunakan berbagai hambatan. Pernahkah anda merasa malas saat mau melakukan sholat, atau mengantuk saat membaca Al-Qur'an meskipun sudah cukup tidur? Ini adalah gejala shaddun dari setan.

7. Wa'dun
Wa'dun artinya janji palsu. Setan berusaha membujuk manusia agar mau mengikutinya dengan memberikan janji-janji yang menggiurkan. Akhirnya manusia mempercayainya. Misalnya, banyak kasus seorang wanita menyerahkan dirinya pada sang pacar karena dijanjikan akan dinikahi, namun setelah hamil sang pacar meninggalkannya begutu saja. Dia tidak mau bertanggung jawab. Inilah contoh wa'dun atau janji palsu dari setan.

8. Kaidun
Kaidun artinya tipu daya. Setan berusaha sekuat tenaga memasang sejumlah perangkap agar manusia terjebak. Pernahkah saat diberi tugas, kita berpikir nanti saja mengerjakannya karena waktu masih lama? Ternyata setelah dekat waktunya kita mengerjakan asal-asalan dan tergesa-gesa sehingga hasilnya tidak optimal atau ada kemunginan pada waktu yang ditentukan pekerjaan tidak selesai. Strategi ini disebut kaidun.

9. Nisyan
Nisyan artinya lupa. Sesungguhnya lupa itu adalah hal yang manusiawi. Lupa memang sesuatu hal yang manusiawi, tetapi setan berusaha agar manusia menjadikan lupa sebagai alasan untuk menutupi tanggung jawab. Pernahkan kita lupa menunaikan janji? Lupa sholat? Kalau sesekali itu bisa disebut manusiawi, tetapi kalau sering dilakukan berarti terjebak strategi nisyan.

Demikian ringkasan tentang strategi setan. Semoga kita dapat mencermati dan berusaha agar tidak terjebak strategi setan laknatullah (setan yang dilaknat Allah)

Dikirim tanggal : 2007-08-12 20:38:32
Pemateri : Ustadz. Aam Amiruddin
http://www.taushiyah-online.com/index.php?page=taushiyah/detail_Tausyiah&idT=59

Saturday, January 7, 2012

Kisah Sahabat Nabi: Nusaibah binti Ka'ab, Perisai Rasulullah

Nusaibah binti Ka'ab Al-Anshariyah adalah seorang sahabat wanita yang agung lagi pemberani. Banyak jasa telah ia ukir dalam perjuangan dakwah Islam. Ummu Imarah, demikian ia biasa dipanggil, adalah salah satu contoh keberanian yang abadi.

Ia merupakan sosok pahlawan yang tidak pernah absen melaksanakan kewajiban bilamana ada panggilan untuknya. Semua target perjuangannya ditujukan untuk kemuliaan dunia dan akhirat.

Ummu Imarah adalah seorang sahabat wanita yang agung. Ia termasuk satu dari dua wanita yang bergabung dengan 70 orang laki-laki Anshar yang hendak berbaiat kepada Rasulullah dalam Baiat Aqabah Kedua. Pada waktu itu, ia berbaiat bersama suaminya, Zaid bin Ashim, dan dua orang putranya.

Kisah kepahlawanan Nusaibah yang paling dikenang sepanjang sejarah adalah pada saat Perang Uhud, di mana ia dengan segenap keberaniannya membela dan melindungi Rasulullah.

Pada perang itu, Nusaibah bergabung dengan pasukan Islam untuk mengemban tugas penting di bidang logistik dan medis. Bersama para wanita lainnya, Nusaibah ikut memasok air kepada para prajurit Muslim dan mengobati mereka yang terluka.

Ketika kaum Muslimin dilanda kekacauan karena para pemanah di atas bukit melanggar perintah Rasulullah, nyawa beliau berada dalam bahaya. Ketika melihat Rasulullah menangkis berbagai serangan musuh sendirian, Nusaibah segera mempersenjatai dirinya dan bergabung dengan yang lainnya membentuk pertahanan untuk melindungi beliau.

Dalam berbagai riwayat disebutkan, bahwa ketika itu Nusaibah berperang penuh keberanian dan tidak menghiraukan diri sendiri ketika membela Rasulullah. Saat itu, Nusaibah menderita luka-luka di sekujur tubuhnya. Sedikitnya ada sekitar 12 luka di tubuhnya, dengan luka di leher yang paling parah. Namun hebatnya, Nusaibah tidak pernah mengeluh, mengadu, atau bersedih.

Ketika Rasulullah melihat Nusaibah terluka, beliau bersabda, "Wahai Abdullah (putra Nusaibah), balutlah luka ibumu! Ya Allah, jadikanlah Nusaibah dan anaknya sebagai sahabatku di dalam surga."

Mendengar doa Rasulullah, Nusaibah tidak lagi menghiraukan luka di tubuhnya dan terus berperang, membela Rasulullah dan agama Allah. "Aku telah meninggalkan urusan duniawi," ujarnya.

Dalam sejarah Islam, Nusaibah juga disebut-sebut sebagai seorang wanita yang memiliki kesabaran luar biasa dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Ketika salah seorang putranya syahid dalam sebuah pertempuran, Nusaibah menerimanya dengan penuh keyakinan bahwa putranya mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah. Ia menerima berita kematian anaknya dengan penuh serta kebanggaan.

Selain Perang Uhud, Nusaibah bersama suami dan putra-putranya juga ikut dalam peristiwa Hudaibiyah, Perang Khaibar, Perang Hunain dan Perang Yamamah. Dalam berbagai pertempuran itu, Nusaibah tidak hanya membantu mengurus logistik dan merawat orang-orang yang terluka, tapi juga memanggul senjata menyambut serangan musuh.

Setelah Rasulullah SAW wafat, sebagian kaum Muslimin kembali murtad dan enggan berzakat. Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq segera membentuk pasukan untuk memerangi mereka. Abu Bakar mengirim surat kepada Musailamah Al-Kadzdzab dan menunjuk Habib, putra Nusaibah, sebagai utusannya.

Namun, Musailamah menyiksa Habib dengan memotong anggota tubuhnya satu persatu sampai syahid. Meninggalnya Habib meninggalkan luka yang dalam di hati Nusaibah. Pada Perang Yamamah, Nusaibah dan putranya, Abdullah, ikut memerangi Musailamah hingga tewas di tangan mereka berdua.

Beberapa tahun setelah Perang Yamamah, Nusaibah meninggal dunia. Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada Nusaibah binti Ka'ab Al-Anshariyah dengan curahan rahmat-Nya yang luas, menyambutnya dengan keridhaan, serta memuliakan kedudukannya.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/01/06/lxdhg0-kisah-sahabat-nabi-nusaibah-binti-kaab-perisai-rasulullah

Friday, January 6, 2012

Pengemis Dan Saudagar Kaya

Seorang pengemis datang mengetuk pintu sebuah rumah salah seorang saudagar kaya. Ia meminta sepotong roti untuk dimakan.

”Ini bukan toko roti,” kata saudagar kaya itu dengan ketus.

”Jika demikian, apakah kau memiliki sedikit daging,” ujar pengemis memohon.

”Memangnya rumah ini terlihat seperti tempat jagal,” kata saudagar kaya itu lagi.

”Dapatkah kuminta sedikit tepung?”

”Memangnya kau dengar suara penggilingan di rumah ini?”

”Kalau begitu seteguk air saja…”

”Di sini tak ada sumur.”

Apapun yang diminta si pengemis selalu dijawab oleh saudagar kaya itu dengan ucapan yang menyakitkan. Pada dasarnya, saudagar kaya itu tak mau memberikan apapun untuk si pengemis itu.

Akhirnya si pengemis itu berlari masuk ke dalam rumah, mengangkat jubahnya dan berjongkok seolah-olah hendak buang hajat.

”Hai, apa yang kau lakukan?!” ujar saudagar kayaitu dengan nada marah dan heran.

”Diam kau orang yang menyedihkan! Tempat kosong seperti ini hanya pantas untuk menjadi tempat buang hajat. Karena tak ada seorang pun atau apapun yang ada di sini, jadi harus diberi pupuk biar subur.”

Pengemis itu kemudian berkata, ”Jika kau burung, jenis apakah kau ini? kau bukan elang yang dilatih untuk jadi peliharaan bangsawan, bukan pula merak yang mempesona setiap yang memandang, bukan juga kakaktua yang berkisah lucu. Kau bukan kutilang yang bernyanyi kasmaran, kau bukan Hudhud yang membawa pesan Sulaiman, atau bangau yang membangun sarang di tepi tebing. Lalu apa kau ini? Kau spesies yang tak dikenal. Kau berdalih untuk mempertahankan harta milikmu. Kau telah melupakan Dia Yang tak peduli pada harta benda, Yang tak mengambil keuntungan sedikitpun dari setiap hubungan-Nya dengan manusia….”

http://www.majelisalanwar.com/artikel/pengemis-dan-saudagar-kaya.html

Kisah Nabi Isa Turun ke Bumi (Bagian ke-5 -Habis)

Nabi Isa AS akan turun ke bumi. Berita ini masih menjadi perdebatan di kalangan kaum Muslimin, apalagi kaum di luar Muslimin, yang sudah menganggap final bahwa Isa Almasih mati digantung di kayu salib. Berita ini mungkin masih menimbulkan kontroversi bagi kaum muslimin, disebabkan adanya kemusykilan dari berita itu, atau belum adanya pengetahuan yang komplet yang mereka terima.

Betulkah orang yang sudah mati bisa hidup kembali? Bukankah Nabi Muhammad sebagai Rasul dan Nabi terakhir, dan apa perlunya Nabi Isa turun lagi ke bumi? Lalu apa tugas beliau turun ke bumi? Belum lagi jika menyangkut soal teknis, bagaimana cara beliau turun dan bagaimana cara interaksinya dengan umat Islam pada zamannya. Semuanya masih menimbulkan tanda tanya besar.

Nabi Isa turun ke bumi bukan sekedar kepercayaan akal-akalan, tetapi didasarkan pada dalil yang sahih. Dalam hadis Nawwas bin Sam’an yang panjang, yang membicarakan kemunculan Dajjal dan turunnya Isa, Rasulullah SAW bersabda, “Ketika Allah telah mengutus Almasih ibnu Maryam, turunlah Isa di menara putih di sebelah timur Damsyik (Suriah) dengan mengenakan dua buah pakaian yang dicelup dengan minyak Wars dan minyak Za’faran, dan kedua telapak tangannya diletakkan di kedua sayap Malaikat. Bila dia menundukkan kepala, menurunlah rambutnya, dan jika diangkatnya, kelihatan landai seperti Mutiara, maka tidak ada orang kafirpun yang mencium nafasnya kecuali pasti meninggal dunia. Padahal nafasnya itu sejauh mata memandang. Lalu Isa mencari Dajjal hingga menjumpainya di pintu Lodd, lantas dibunuhnya Dajjal. Kemudian Isa datang kepada suatu kaum yang telah dilindungi oleh Allah dari Dajjal, lalu Isa mengusap wajah mereka dan memberi tahu mereka tentang derajat mereka di surga.” (Sahih Muslim).

Allah berfirman, “Kaum Yahudi tidak membunuh Rasul-Nya, Isa ibnu Maryam, meskipun mereka mengaku hal itu dan pengikut Isa mempercayainya. Sebenarnya, Nabi Isa tidak terbunuh. Allah menggantikan orang yang menyerupai dirinya kepada mereka, sedangkan Isa diangkat Allah ke langit."

“Dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh Almasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah.' Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, melainkan orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka, sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang Isa benar-benar dalam keraguan tentang orang yang dibunuh itu, kecuali hanya mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa: 157-158).

Allah menunjukkan dalam kitabnya bahwa Isa akan turun di akhir zaman. Dan turunnya itu merupakan pertanda bahwa kiamat sudah dekat. “Sesuungguhnya dia adalah tanda terjadinya kiamat.” (Az-Zuhruf: 61). Allah juga mengabarkan bahwa orang-orang Ahlikitab pada zaman itu akan beriman kepadanya. “Ahlikitab akan beriman kepadanya sebelum kematiannya.” (An-Nisa: 159).

Kapankah itu terjadi? Nabi Isa turun ke bumi setelah Dajjal merajalela di seantero jagat. Lalu kapan Dajjal muncul? Wallahu A’lam, Allah yang maha Tahu. Dalam hadis Bukhari dikatakan, Dajjal itu sudah ada, tetapi dikurung dan dibelenggu tangannya dalam sebuah biara di sebuah Pulau di tengah laut yang arahnya ke timur dari Jazirah Arab.

Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 157-159 menunjukkan orang-orang Yahudi tidak membunuh dan tidak menyalib Isa, tetapi Allah mengangkatnya ke langit. Sebagaimana juga disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 55. “Ingatlah ketika Allah berfirman, “Hai Isa, sesungguhnya aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkatmu kepadaku…”

Yang dimaksud dengan sinyalemen di atas bukan kematian, al-Maut, sebab jika yang dimaksud adalah kematian, Isa sama dengan orang-orang mukmin lainnya, yaitu diambil roh mereka lalu di bawa ke langit. Jika demikian tidak ada keistimewaan Isa dibandingkan dengan orang lain. Kalau yang dimaksud adalah rohnya berpisah dari tubuhnya. Tubuhnya masih berada di bumi, sebagaimana tubuh para Nabi atau manusia laiannya.

Firman Allah, “Tetapi (yang sebenarnya) Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.” (An-Nisa: 158). Memberikan penjelasan bahwa Allah mengangkat tubuh dan rohnya sebagaimana halnya Isa akan turun dengan roh dan tubuhnya, seperti disebutkan dalam hadis Bukhari-Muslim, karena kalau yang maksud adalah “Mematikannya,” niscaya Allah berfirman, “Mereka tidak membunuhnya dan pula menyalibnya, tetapi dia meninggal dunia…..”

Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lafal “Mutawaffika” ialah “Qabidhuka”. Yakni memegang roh dan tubuhnya. Sedang lafal “At-Tawaffi”, tidak menghendaki atau menetapkan Tawaffi roh tanpa tubuh dan tidak pula tawaffi terhadap keduanya, kecuali dengan adanya Qarinah (indikasi atau alasan) tersendiri. Kadang-kadang lafal “Tawaffa”, berarti memegang roh ketika tidur, seperti dalam Surat Az-Zumar ayat 42 dan surat Ali Imran ayat 61.

Dalam tafsir Ibnu Jarir Athabari, tentang surat An-Nisa: 159, “Tidak ada seorangpun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepada Isa sebelum kematiannya.” Pendapat yang paling sahih adalah pendapat orang yang mengatakan bahwa takwil ayat ini ialah tidak ada seorangpun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepada Isa sebelum Isa mati, Mauti, sebelum kematian Isa, demi Allah, sesungguhnya beliau sekarang masih hidup di sisi Allah. Bila nanti beliau turun ke bumi, semua orang akan beriman kepadanya (Tafsir Athabari).

Asy-Syaikhani lebih jelas lagi ketika meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda “Demi Allah yang diriku adalah di Tangan-Nya, benar-benar putra Maryam akan turun di tengah-tengah kamu sebagai juru damai yang adil, lalu ia menghancurkan salib, dan harta kekayaan melimpah ruah hingga tidak ada seorangpun yang mau menerima (sedekah atau zakat) dari orang lain, sehingga pada waktu itu sujud satu kali labih baik daripada dunia dan seisinya.”

Kemudian Abu Hurairah berkata, “Bacalah firman Allah ini – An-Nisa ayat 159, jika Anda mau.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir RA, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, “akan senantiasa ada golongan dari umatku yang berjuang membela kebenaran dengan memperoleh pertolongan hingga datangnya hari kiamat… kemudian akan turun Isa putra Maryam AS, lalu pemimpin mereka berkata (kepada Isa): 'silahkan anda salat mengimami kami.' Isa menjawab, 'tidak usah, sesungguhnya sebagian kalian sudah pemimpin bagi sebagian yang lain.' sebagai manifestasi kepemimpinan dari Allah bagi umat ini.” (Shahih Muslim).

Nabi Isa turun ke bumi ketika orang-orang islam sedang menyusun saf hendak salat Subuh dan Imam salat mereka sudah maju. Imam itu lalu mundur dan mempersilahkan Nabi Isa maju untuk mengimami mereka, tetapi beliau menolak. Di dalam hadis disebutkan “dan Imam mereka, atau imam pasukan islam, adalah seorang yang saleh. Ketika imam mereka sudah maju untuk salat Subuh, turunlah Isa bin Maryam. Imam itu mundur, berjalan membungkuk dan mempersilahkan Isa maju, Isa meletakkan tangannya di pundak imam itu dan berkata kepadanya, “Majulah dan salatlah, sebab imam ini di qamatkan untukmu,” imam itu lalu salat bersama mereka.

Nabi Isa turun ke bumi bukan untuk meneruskan risalahnya, tetapi hanya akan menunjukkan jalan yang lurus kepada umatnya yang telah sesat, dan kembali kepada agama islam, yaitu mengikuti risalah Nabi Muhammad SAW. Karena itulah, nabi Isa tidak mau menajdi Imam bagi umat Muhammad, sebab, dalam hal ini Nabi Isa adalah bagian dari umat Muhammad.

Tidak majunya Isa menjadi Imam Salat adalah bukti, dia datang sebagai pengikut Rasulullah SAW dan melaksanakan hukum dengan dasar Al-Qur’an, bukan dengan Injil. Karena syariat Al-Qur’an merupakan penyempurna syariat-syariat sebelumnya. Disamping itu Allah telah mengambil sumpah dan janji dari para Nabi, mereka akan beriman kepada Nabi Muhammad dan mengikutinya jika beliau diutus jika beliau masih hidup.

Al-Qur’an menunjukkan dalil itu, “Dan ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, sungguh apa saja yang aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh beriman kepadanya dan menolongnya Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka menjawab,”Kami mengakui.” Allah berfirman, “Kalau begitu saksikanlah, dan aku menjadi saksi bersamamu, barangsiapa yang berpaling sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang fasik (Ali Imran: 81-82.

Lalu bagaimana dengan hadis Nabi yang menyebutkan, “Tidak ada Nabi sesudah saya (Muhammad)?” apakah ini tidak bertolak belakang dengan maksudnya? Menurut An-Nawawi, pensyarah hadis ini adalah logika yang salah. Sebab dengan turunnya Isa tidak dimaksudkan bahwa dia turun sebagai Nabi dengan syariat yang menghapus syariat kita, tidak disebutkan begitu dalam hadis ini, tidak juga di dalam hadis lain. Namun Isa akan turun sebagai hakim yang adil, yang melaksanakan syariat kita, menghidupkan syariat kita, yang sudah ditinggalkan oleh manusia.

Pekerjaan pertama yang akan dilakukan oleh Nabi Isa adalah menghadapi Dajjal. Setelah turun, Isa menuju Baitulmakdis, tempat Dajjal dikepung oleh pasukan Muslim. Isa memerintahkan mereka untuk membuka pintu. Dalam beberapa hadis disebutkan, Rasulullah bersabda, “Isa berseru, Bukakan pintu, mereka lalu membukanya, dan dibalik pintu itu ada Dajjal bersama 70.000 orang Yahudi, yang semuanya membawa perisai dan pedang. Ketika Dajjal memandang Isa, laksana garam yang mencair di lautan, ia melarikan diri, Isa mengejarnya sampai di pintu gerbang Ludd timur (salah satu daerah di timur tengah), kemudian membunuhnya, dan Allah mengalahkan kaumYahudi.

Rahasia luluhnya Dajjal adalah, Allah memberikan kepada Nabi Isa bau khusus yang kalau dicium oleh orang kafir, si kafir itu akan mati. Dalam sebuah hadis Shahih Muslim, yang panjang disebutkan, “Saat dia (Dajjal) dalam keadaan demikian, Allah mengutus Isa ibnu Maryam. Isa akan turun di menara di timur Damaskus, dengan pakaian yang dicelup dengan minyak Wars dan minyak Za’faran, sambil bergantung dengan kedua tangannya di sayap dua Malaikat. Jika Isa menggerakkan kepala, bertetesan air, dan jika dia menggerakkan kepala, biji-biji perak laksana mutiara berjatuhan darinya. Setiap orang kafir yang mencium baunya akan mati… Isa mengejar Dajjal sampai ke gerbang Ludd timur lalu membunuhnya. Kemudia datang kepada Isa suatu kaum yang dijaga Allah dari Dajjal, lalu Isa mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan kepada mereka derajat mereka di Surga.”

Rahasia mengapa Isa tidak membiarkan Dajjal mati sendiri adalah untuk mematahkan kekuatan dan fitnah makhluk itu. Dengan menyaksikan pembunuhan dan kematiannya manusia menjadi yakin bahwa Dajjal adalah makhluk yang lemah dan dapat dikalahkan, dan klaimnya adalah palsu dan dusta.

Setelah Isa menghancurkan Dajjal dan fitnahnya Ya’juj dan Ma’juj keluar dari zamannya, dan membuat kerusakan yang sangat dahsyat di bumi. Tentang bangsa Ya’juj dan Ma’juj ini diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Al-Kahfi ayat 93-99. “Ketika Zulkarnain dalam perjalanan sampai pada suatu tempat diantara dua gunung, ia menemukan di sana suatu kaum yang nyaris tidak bisa memahami perkataan. Kaum itu mengadukan kepadanya bahwa yang mengancam mereka adalah bangsa Ya’juj dan Ma’juj, dan memintanya untuk membangun tembok yang dapat melindungi mereka ari kejahatan Ya’juj dan Ma’juj.

Zulkarnain memenuhi permintaan mereka, “Hingga apabila dia telah sampai diantar dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata, “Hai Zulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?

Zulkarnain berkata, “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekauatan, agar aku membuat dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi, hingga apabila besi itu sudah sama rata dengan kedua gunung itu, Zulkarnain berkata, “Tiuplah, hingga apabila besi itu sudah menjadi api, diapun berkata, “berilah aku tembaga agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.” Maka mereka tidak bisa mendakinya dan tidak bisa melubanginya. Zulkarnain berkata, “Ini adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh, dan janji tuhan itu adalah benar,” kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian di tiup lagi sangkala, lalu kami kumpulkan mereka itu semuanya.” (Al-Kahfi: 93-99).

Rasulullah SAW menjelaskan, “Ya’juj dan Ma’juj akan dilepas, dan mereka keluar menyerang manusia, sebagaimana difirmankan Allah SWT. “Dari tempat-tempat yang tinggi mereka keluar dengan cepat,” mereka merambah bumi. Orang-orang muslim berlindung di kota-kota dan benteng-benteng untuk menghindari mereka. Mereka merampok hewan-hewan kaum muslimin, mereka minum-minum air di bumi sampai sebagian mereka melewati sebuah sungai dan meminum airnya hingga kering, lalu lewat orang-orang setelah masa mereka, dan berkata, “Dulu di sini pernah ada Air.”

Kemudian, ketika tidak ada lagi yang teresisa kecuali satu orang di benteng atau di kota, seorang dari mereka berkata, “Penduduk bumi sudah kita habisi, tinggal penduduk langit.”

Lalu salah seorang mengambil senjata dan melemparkannya ke langit, dan senjata itu kembali dengan darah yang mengandung bala dan fitnah. Ketika mereka dalam kondisi demikian, Allah mengirimkan ulat-ulat ke leher mereka, sehingga mereka mati tidak berdaya.

Lalu orang-orang muslim berkata, “adakah sukarelawan yang mau melihat apa yang sedang dilakukan musuh?”

Salah seorang menyatakan bersedia, dan diperkirakan dia bakal terbunuh. Dia turun dan menemukan mereka sudah menjadi bangkai yang bertumpuk-tumpuk, lalu dia berseru, “Hai orang-orang Islam, bergembiralah sesungguhnya Allah telah mengalahkan musuh kalian untuk kalian.”

Mereka keluar dari kota-kota dan benteng-benteng mereka, melepaskan hewan-hewan ternak mereka, tetapi mereka tidak menemukan tempat pengembalaan kecuali telah dipenuhi mayat. Maka sesuatu tang paling disyukuri saat itu adalah rumput yang ditemukan.

Tanda-tanda besar kiamat itu, setelah datangnya Dajjal, dan turunnya Isa Almasih, yang membunuh Dajjal dan Ya’juj dan Ma’juj, yakni antara lain hapusnya ajaran Islam, hilangnya Al-Qur’an dan penyembahan berhala. Berikutnya adalah penghancuran Ka’bah oleh Dzussuwaiqatain (tokoh jahat semacam Dajjal), barulah matahari terbit dari barat, keluar binatang melata, dan api yang menghimpun manusia sebagai akkhir kiamat yang merusak dunia dan seisinya.

Bagaimana kita mengenali Nabi Isa AS. Rasulullah memberikan petunjuk, “Pada malam ketika saya di Isra’-kan, saya bertemu Musa…” lalu beliau menyebutkan ciri-cirinya, kemudian melanjutkan sabdanya, “Dan saya juga bertemu dengan Isa, perawakannya sedang, kulitnya merah, seperti orang yang baru keluar dari permandian.” (HR Bukhari-Muslim).

Kalau kita gabung dengan hadis-hadis lainnya, ciri-ciri Nabi Isa, bertubuh sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, berkulit merah agak coklat, dan berbulu, dadanya bidang, rambutnya lurus seperti orang baru keluar dari permandian, dan rambutnya sampai di bawah ujung telinga bagian bawah, yang disisir dan memenuhi kedua pundaknya.

Setelah Dajjal dibunuh oleh Nabi Isa, bumi menjadi damai. Kala itu Allah menurunkan hujan, sehingga membersihkan bumi yang telah rusak hingga cemerlang seperti kaca. Kemudian tumbuhlah berbagai pohon buah-buahan, sehingga manusia bisa memakan dan berteduh di bawahnya. Begitu juga ternak, tumbuh dewasa dengan cepat. Susu seekor kambing, dengan barakah Allah, dapat mencukupi satu keluarga, susu seekor sapi dapat mencukupi satu kabilah, serta susu seekor unta bunting yang akan melahirkan dapat mencukupi kebutuhan banyak orang.

Penghuni planet bumi ini hidup dengan aman, tidak ada permusuhan diantara umat manusia, begitu juga dunia Fauna. Ular dapat hidup bersama unta, harimau berdampingan dengan Sapi, dan Srigala bersama kambing. Malah anak-anak kecil bisa bermain dengan ular, dan ular itu tidak membahayakan bagi mereka. Nabi Isa akan menjadi hakim yang adil, membebaskan Jizyah, pajak Jiwa. Sifat bakhil, saling membenci dan saling dengki, akan hilang. Orang-orang menawarkan sedekah dan zakatnya kepada orang lain, tetapi tidak ada yang menerimanya.

Namun masa tata tentrem kerta raharja, gemah ripah loh jinawi relatif hanya sebentar. Menurut Sahih Muslim, sekitar tujuh tahun, sehingga menggenapkan usia Nabi Isa di bumi menjadi 40 tahun, sebab ketika diangkat Allah ke langit umurnya baru 33 tahun, setelah itu Allah mengirim angin yang sangat dingin dari arah Syam, dan terjadilah kiamat.

Habis
http://www.sufiz.com/kisah-nabi/kisah-nabi-isa-turun-ke-bumi-bagian-ke-5-habis.html

Kisah Nabi Isa AS Diangkat Ke Langit (Bagian ke-4)

Ibnu Katsir berkata dalam Qhisasul Anbiya’: Para pengikut Nabi Isa berselisih pendapat setelah Nabi Isa diangkat ke langit. Sebagian mereka mengatakan, di tengah-tengah kita ada hamba Allah SWT dan rasul-Nya (Ariyus). Sebagian lagi mengatakan, dia adalah Allah. Yang lain lagi mengatakan, dia adalah anak Allah. Mereka berselisih pendapat tentang Injil yang menyebutkan berbagai kebohongan di mana terdapat di dalamnya penambahan, pengurangan, dan pergantian. Al-Qur’an al-Karim telah membahas persoalan ketuhanan. Ia menjelaskan bahwa Allah SWT Maha Suci dari segala sekutu dan anak dan segala hal yang menyerupai-Nya serta segala bentuk inkarnasi, kejauhan, kedekatan dan pencapaian pandangan mata. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, YangMahaEsa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. ” (QS. al-Ikhlash: 1-4)

Dan tentang Isa as Allah berfirman: “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah ia.” (QS. Ali ‘Imran: 59)

“Mereka (orang-orang kafir) berkata: Allah mempunyai anak.’ Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepadanya. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’, lalu jadilah ia.” (QS. al-Baqarah: 116-117)

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putra Allah’ dan orang-orang Nasrani berhata: Al-Masih itu putra Allah.’ Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Mereka dilaknat oleh Allah; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. at-Taubah: 30)

Nas tersebut mengisyaratkan akidah orang-orang Mesir dan orang-orang seperti mereka dari umat-umat yang terdahulu di mana akidah mereka terfokus pada keyakinan penyaliban Isa, tentang tebusan dan kebangkitan Tuhan yang disalib serta penentangannya terhadap para pengikutnya setelah kematiannya.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putra Maryam.‘ Katakanlah: ‘Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?’ Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dihehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Maidah: 17)

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Allah salah seorang dari yang tiga,’ padahal sekali-kali tidak ada selain dari Tuhan Yang Esa.” (QS. al-Maidah: 73)

Demikianlah Al-Qur’an al-Karim menyebutkan sikap berbagai aliran yang saling berlawanan yang tumbuh setelah pengangkatan al-Masih. Al-Qur’an menjelaskan bahwa al-Masih adalah hamba Allah SWT dan seorang rasul yang diutus kepada Bani Israil. Kata hamba dan rasul adalah kata yang sangat jelas artinya, adapun yang dimaksud dengan al-Kalimah dan ar-Ruh, maka kedua kata tersebut perlu dijelaskan. Kaum Muslim memahami bahwa al-Kalimah adalah petunjuk Allah SWT yang diberikan-Nya kepada Maryam sedangkan ar-Ruh adalah menunjukkan atau mengisyaratkan kepada Ruh Kudus, yaitu Jibril as. Allah SWT telah menguatkannya atau menguatkan Nabi Isa dengan ruh yakni Jibril: “Dan (ingatlah) ketika Aku dukung kamu dengan Ruhul Kudus.” (QS. al-Maidah: 110)

Setelah mengemukakan keyakinan kaum Masehi tentang karakter Nabi Isa dan akhir dari kehidupannya dan setelah menjelaskan kebenaran yang Allah SWT ceritakan kepada kita tentang karakter tersebut dan akhir dari kehidupan yang dialami oleh Nabi Isa, kita ingin mengetahui apa yang harus dilakukan oleh kaum Muslim dalam hubungan mereka dengan orang-orang Masehi serta keyakinan mereka. Islam menetapkan atau menyampaikan nas-nas yang jelas yang mengkhususkan agama Masehi —di antara agama-agama yang lain—dengan kecintaan. Al-Qu’ran mengingkari ketuhanan al-Masih; ia juga mengingkari penyaliban dan tebusan dosa yang dilakukannya. Namun Al-Qur’an menegaskan dalam nasnya bahwa agama Nasrani merupakan agama yang lebih dekat kecintaannya kepada Islam.

Allah SWT berfirman:“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. al-Maidah: 82)

Allah SWT memuji para pengikut al-Masih yang berjalan di atas petunjuknya. Allah SWT berfirman: “Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyah (keadaan tidak menikah dan mengurung diri di biara) padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi mereka sendirilah yang mengada-adakannya untuk mencari keridhaan Allah.” (QS. al-Hadid: 27)

Tidak terdapat kontradiksi dari dua sikap tersebut. Pengingkaran Al-Qur’an terhadap ketuhanan al-Masih dan pengakuannya terhadap kecintaan kaum Nasrani serta pujiannya terhadap orang-orang yang mengikuti Nabi Isa mengandung makna lebih dari satu: Pertama, bahwa Masehi berdasarkan pada agama Tauhid dan sangat sulit bagi para pengikutnya untuk meninggalkan tauhid, dan hanya Allah SWT yang mengakui hakikat apa yang terpendam dalam hati; kedua, dalam kalangan orang-orang Nasrani terdapat para pendeta dan para rahib yang tidak bersikap congkak di hadapan Allah SWT tetapi mereka sangat patuh dan tunduk kepadanya; ketiga, sebagian pengikut Nabi Isa memiliki hati yang dipenuhi dengan kasih sayang dan rahmat. Tentu rahmat dan kasih sayang tersebut tidak tumbuh kecuali dari keimanan terhadap hari akhir. Allah SWT telah menetapkan perintah-Nya kepada kaum Muslim agar mereka memperlakukan ahlul kitab dengan perlakuan yang mulia dan baik, sebagaimana Islam menjamin kebebasan untuk menentukan keyakinan pada setiap manusia.

Allah SWT berfirman: “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus: 99)

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.” (QS. al-Baqarah: 256)

“Katakanlah: ‘Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah).’” (QS. Ali ‘Imran: 64)

Kita perhatikan bahwa ayat-ayat tersebut berbicara tentang cara memperlakukan kaum Masehi sebagai individu sebagaimana ia berbicara tentang bagaimana kita memperlakukan keyakinan mereka. Sehubungan dengan kaum Masehi sebagai individu, kita menyaksikan ayat-ayat tersebut memerintahkan untuk membalas kecintaan yang mereka perlihatkan di mana nas tersebut dengan tegas mengatakan bahwa mereka lebih dekat kecintaannya kepada orang-orang yang beriman. Jika Allah SWT yang menegaskan hal tersebut, maka orang-orang Muslim harus membalas kebaikan dan kecintaan yang ditunjukkan oleh kaum Nasrani. Adapun sehubungan dengan keyakinan mereka, di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang melarang untuk memaksa manusia dalam bentuk apa pun.

Allah SWT berfirman: “Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir.” (QS. al-Kahfi: 29)

Yang demikian itu, karena keimanan yang didahului dengan paksaan adalah bukan keimanan karena ia berarti mencabut ikhtiar atau kebebasan manusia, padahal itu adalah syarat dari keimanan. Dan barangkali inilah yang menunjukkan kesempumaan Islam dilihat dari sikapnya yang demikian indah. Kami kira tanpa kita harus memaksakan tafsiran kita kepada ayat-ayat tersebut dan memohon kepada Allah SWT dari kesalahan dan kebodohan bahwa Islam dengan sikapnya itu ingin menjauhkan para pengikutnya dari kalangan awam dari perdebatan yang panjang dan melelahkan seputar keyakinan orang lain. Tentu perdebatan tersebut tidak akan berujung dan akan menjadi seperti debat kusir saja. Namun tugas tersebut hanya diemban oleh para ulama, di mana mereka membahas sebagaimana mereka kehendaki berbagai keyakinan-keyakinan keberagamaan, sedangkan orang-orang awam tidak diberi tanggung jawab dalam hal itu. Lagi pula, perselisihan antara keyakinan dan aliran-aliran di kalangan Masehi dan kalangan Yahudi jika melibatkan orang-orang awam, maka itu hanya memboroskan waktu dan hanya membuat lelah saja.

Islam akan kembali menjadi asing dan akan kembali menjadi asing seperti pertama kali terbit. Dalam suasana keasingan Islam yang pertama, orang-orang Muslim berhasil membangun suatu individu Muslim yang kokoh. Dan ketika bangunan tersebut telah selesai, maka sempurnalah pembangunan pemerintahan Islam. Kita tidak mendengar bahwa salah seorang di antara mereka terlibat dalam perdebatan yang sengit yang tidak berujung sekitar keyakinan orang lain. Sesungguhnya memberi petunjuk kepada orang lain sehingga orang tersebut mengetahui jalan menuju Allah SWT adalah perbuatan yang indah, tetapi hidayah tersebut didahului dengan tekad seseorang untuk memberikan petunjuk kepada dirinya sendiri. Seandainya orang-orang Islam membimbing mereka menuju jalan Allah SWT niscaya Allah SWT memberi petunjuk melalui mereka siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya.

Al-Qur’an menetapkan dua mukjizat kepada Nabi Isa yang tidak disebutkan dalam kitab Injil: pertama mukjizat yang berupa pembicaraannya saat ia masih menyusui di buaian. Dan yang kedua mukjizat makanan yang turun dari langit kepada kaum Hawariyin. Sebagaimana Al-Qur’an menetapkan kemuliaan yang diperoleh oleh Nabi Isa saat ia diselamatkan dari tangan-tangan jahat orang-orang Yahudi yang ingin menyiksanya atau membunuhnya sehingga Nabi Isa terselamatkan dan dia diangkat ke langit.

Rasulullah saw mewasiatkan kepada sahabatnya agar mereka memperlakukan orang-orang Masehi dengan penuh kebaikan, bahkan beliau menikahi Maria al-Qibthiya. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa seseorang lelaki dari Bani Salim bin Auf yang bernama al-Hasin mempunyai dua orang anak yang masih Kristen, lalu ia masuk Islam dan bertanya kepada Rasulullah saw bagaimana seandainya ia harus memaksa kedua anaknya untuk memeluk Islam sedangkan mereka berdua menolak agama lain selain agama Masehi?

Kemudian Allah SWT menurunkan ayat yang berbunyi: “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama (Islam).” (QS. al-Baqarah: 256)

Ketika para utusan Najran dari kalangan kaum Masehi datang ke Madinah untuk berunding dengan Nabi, maka beliau memberi mereka setengah dari mesjidnya agar mereka dapat melaksanakan salat dengan cara mereka di dalamnya. Pada suatu hari Rasulullah saw berdiri untuk melakukan salat kepada seseorang jenazah lalu dikatakan kepadanya bahwa ia adalah jenazah Yahudi. Kemudian Rasulullah menjawab: “Bukankah ia adalah manusia.” Dalam kesempatan lain Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mengganggu secara aniaya seorang Yahudi atau seorang Nasrani, maka aku akan jadi musuhnya pada hari kiamat.” Terkadang kekuasaan akan langgeng meskipun disertai dengan kekufuran tetapi ia tidak akan abadi ketika disertai dengan kelaliman.

Para ulama Islam berselisih pendapat berkaitan dengan keadaan Nabi Isa setelah pengangkatannya. Mereka sepakat bahwa beliau tidak disalib tetapi Allah SWT mengangkatnya di sisi-Nya. Tetapi ketika ia tidak disalib, maka bagaimana keadaannya setelah itu: apakah ia masih hidup, ataukah ia mati seperti matinya nabi yang lain? Mayoritas mengatakan bahwa Allah SWT mengangkat Isa dengan fisiknya dan ruhnya di sisi-Nya. Mereka mengambil zahir dari firman-Nya: “Tetapi Allah mengangkatnya di sisi-Nya.” (QS. an-Nisa’: 158)

Juga sebagian hadis yang mendukung hal tersebut. Sementara itu, kelompok yang lain dari kalangan mufasirin, dan ini adalah kelompok yang minoritas, mereka mengatakan bahwa Nabi Isa hidup sehingga Allah SWT mematikannya sebagaimana Dia mematikan nabi-nabi-Nya lalu Dia mengangkat ruhnya di sisi-Nya sebagaimana ruh para nabi diangkat, begitu juga ruh para shidiqin (orang-orang yang benar) dan syuhada. Mereka mengambil zahir firman-Nya: “(Ingatlah) ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir.” (QS. Ali ‘Imran: 55)

Bersambung...
http://ibh3.wordpress.com/2010/08/31/nabi-isa-diangkat-ke-langit/

Kisah Nabi Isa AS dan Kaisar Herodes dari Romawi (Bagian ke-3)

Hari demi hari telah mereka lewati, dakwah pun terus berjalan, sehingga umat Nabi Isa semakin bertambah banyak. Sampai pada suatu hari, tiba-tiba tempat persembunyian Nabi Isa dan para pengikutnya diketahui dan dikepung oleh tentara Romawi. Mereka ketakutan dan melarikan diri menjauhi Nabi Isa, termasuk Kaum Hawariyun yang jumlahnya hanya 11 orang itu. Mereka menyelamatkan diri entah ke mana. Nabi Isa pun tinggal sendirian. Dalam situasi sangat kritis dan berbahaya itulah, Allah SWT mengangkat Nabi Isa AS ke surga.

Penemuan tempat persembunyian Nabi Isa itu tiada lain akibat ulah Yahuda alias Yudas Iskariot, yang adalah juga murid Nabi Isa sendiri. Rupanya ia lebih tergiur oleh iming-iming hadiah yang ditawarkan oleh Kaisar Romawi, Herodes, daripada Iman dan takwa. Ia melaporkan keberadaan Nabi Isa dan para muridnya kepada pendeta dan pemuka Bani Israel, ketika mereka sedang menyusun tuduhan palsu seolah-olah Nabi Isa akan melancarkan pemberontakan.

Tapi, ketika tentara Romawi mengepung tempat persembunyian tersebut, ternyata Nabi Isa sudah tidak ada, karena sudah diangkat oleh Allah SWT ke surga. Maka pasukan Romawi pun mencurigai seorang lelaki yang ada di sekitar tempat persembunyian tersebut, yang wajahnya oleh Allah SWT dibuat mirip dengan Nabi Isa AS. Dia tiada lain adalah Yahuda, sang pengkhianat itu. Tak pelak, Yahuda pun ditangkap dan disalib beramai-ramai oleh tentara Romawi, setelah sebelumnya diarak keliling kota dengan stempel sebagai Nabi Palsu.

Enam tahun kemudian, ibunda Nabi Isa AS. Maryam, wafat. Akan halnya para murid setia Nabi Isa, yaitu kaum Hawariyun, mereka hidup sembunyi-sembunyi, tapi tetap berdakwah. Belakangan mereka berpencar ke seantero negeri di sekitar Palestina. Mereka inilah yang kemudian menuliskan “Injil” sesuai dengan ingatan masing-masing, sehingga kemudian dikenal berbagai versi Injil, seperti Injil Matheus, Injil Yohannes, Injil Lukas, Injil Markus. Sementara Kitab Injil yang diterima oleh Nabi Isa AS dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril di bukit Zaitun, diyakini raib ketika Nabi Isa “Diangkat” oleh Allah SWT ke Surga.

Menurut pandangan dan ajaran Islam, Nabi Isa AS tidak disalib, melainkan diangkat oleh Allah SWT ke Surga. Sementara yang disalib sebenarnya adalah sang pengkhianat, Yahuda alias Yudas Iskariot. Masa kenabian Isa AS sangat singkat, hanya lima tahun. Tapi, bahkan Allah sendiri sangat menghormatinya, dengan menjulukinya sebagai Ruhulquddus, yaitu Roh Allah yang kudus, suci.

Bersambung
http://www.sufiz.com/kisah-nabi/kisah-nabi-isa-as-dan-kaisar-herodes-dari-romawi-bagian-ke-3.html