Tuesday, November 15, 2011

Tiga Macam Orang yang Takkan Disapa Allah

Diriwayatkan dari hadis Imam Bukhari dan Muslim, bahwasannya Rasulullah bersabda: “Tiga macam orang yang tak akan diajak bicara Allah pada hari Kiamat, dan tidak dilihat dengan rahmat-Nya, bahkan tidak dimaafkan dan tersedia bagi mereka siksa yang pedih, yakni: seseorang yang mempunyai kelebihan air di hutan, tiba-tiba tidak diberikan pada orang rantau yang berhajat padanya. Kedua, seseorang yang menjual barang dagangannya sesudah Ashar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia mengambil barang itu sekian, dan dipercaya oleh pembeli, padahal ia berdusta. Ketiga, seorang yang berbaiat pada imam (pimpinan), ia tidak berbaiat kecuali untuk mendapatkan dunia (kekayaan), maka jika diberi ia menepati janjinya, jika tidak diberi (jabatan atau kekayaan) ia tidak menepati janjinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mencermati hadis tersebut, tiga golongan itulah yang akan merugi pada hari kiamat. Kenapa dikatakan merugi, karena hari kiamat adalah hari dimana syafa’at (pertolongan) hanya akan diberikan atas izin-Nya.

Kembali ke tiga golongan tersebut, Pertama, Seseorang yang memiliki kelebihan air di hutan, namun ia enggan membagi kepada orang rantau yang meminta sedikit airnya. Golongan pertama diibaratkan seperti seseorang yang kikir untuk bersedekah. Ia tahu bahwa ada seseorang yang lebih membutuhkan apa yang ia miliki ketimbang dirinya sendiri. Namun sayangnya, ia enggan tak mau berbagi khawatir apa yang ia punya akan berkurang atau pun habis.

Rasulallah SAW bersabda, Aisyah RA berkata, “Ya Rasulallah, apakah sesuatu yang tidak boleh ditahan (ditolak yang memintanya). Jawab Nabi, “Air, garam, dan api,” (HR ibnu Majah).

Sabda Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa jika ada seseorang yang meminta air pada kita, dianjurkan untuk jangan pernah menolaknya, karena air adalah salah satu kebutuhan yang sangat vital bagi keberlangsungan hidup manusia. Atau jangan pula ada di antara kita, bersedia memberi, lantas terus menerus mengungkit pemberiannya, padahal ia tahu sedekah yang seperti itu akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

Seperti pada firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan pahala sedekahmu dengan mengungkit dan menganiaya (si pemberi), (orang yang demikian) bagaikan orang yang bersedekah hanya untuk dilihat orang, dan tidak terdorong oleh iman pada Allah dan hari kemudian. Maka, (orang yang berbuat demikian) bagaikan batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian ditimpa hujan lebat, maka ia tetap keras lagi licin. Mereka tak mendapatkan apa-apa dari usaha mereka itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk pada kaum yang kafir.” (Al-Baqarah: 264).

Dalam ayat ini Allah menerangkan syarat untuk diterimanya sedekah yakni harus bersih dari mengungkit dan hinaan. Muhammad Al-Bakri berkata, Siti Aisyah r.a terbiasa jika bersedekah pada seseorang, ia mengutus orang untuk menyelidiki orang yang disedekahi itu. Maka bila orang itu mendoakan Siti Aisyah, segera didoakan dengan doa yang sama, supaya jangan sampai doa itu sebagai imbalan sedekah itu, sehingga mengurangi pahalanya,” karenanya, para ulama berpendapat sunnah bagi seseorang yang bersedekah mendoakan orang yang disedekahi, sebagaimana doa orang yang disedekahi itu.

Maka, ada baiknya orang yang menerima sedekah, mendoakan untuk orang yang bersedekah sesuai dengan tuntunan Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, “Siapa yang diberi sesuatu, lalu berkata pada yang memberi, “Jazakallahu Khairan (Semoga Allah membalas padamu kebaikan), maka sungguh itulah sebaik-baik pujian,” (HR Tirmidzi).

Golongan kedua, seseorang yang menjual barang dagangannya sesudah ashar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia mengambil (membeli) barang itu sekian, dan dipercaya oleh pembeli, padahal ia berdusta. Golongan kedua ini adalah sebagian orang yang bergelut dalam perniagaan dengan pesan moral yang terkandung adalah kejujuran.

Berdagang adalah pekerjaan yang sungguh mulia, mengingat profesi tersebut juga pernah dijalani oleh Rasulullah. Satu hal yang paling kita ingat adalah saat beliau meniagakan barang-barang milik istrinya, Siti Khadijah RA dengan modal jujur dan keramahan beliau, beliau meraup untung besar yang dengan keuntungan tersebut beliau serahkan seutuhnya pada Khadijah. Pesan yang kita ingat dalam kisah sukses Rasul dalam berniaga ini ialah Rasul memiliki tuntunan sendiri dalam berniaga, artinya tidak mengambil untung yang berlebihan apalagi sampai hati menipu pembeli. Karena, sedikit banyak untung yang kita ambil, itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak.

Ketiga, seorang yang berbaiat pada imam (pimpinan), ia tidak berbai’at kecuali untuk mendapatkan dunia (kekayaan), maka jika diberi ia menepati janjinya, jika tidak diberi (jabatan atau kekayaan) ia tidak menepati janjinya. Golongan ketiga ini ialah golongan setia bersyarat pada pemimpin. Ia tunduk dan patuh pada pemimpin tanpa keikhlasan sebagaimana yang dianjurkan Allah dan Rasulnya. Ia hanya patuh dan mengakui kepemimpinan seseorang jika ia pun mendapatkan ‘bagian’ dari kepemimpinannya. Padahal, Allah mengajarkan kita semua untuk taat pada Allah, Rasul dan ulil amri (pemimpin).

Semoga Allah melindungi kita semua dari ketiga golongan tersebut. Sebab, jika Allah saja enggan melihat kita, lantas siapa lagi yang kuasa memberikan pertolongan di saat orang terdekat tak sanggup menolong? Wallahu a’lam bishshawwab.

Oleh: Ina Febriany
Penulis adalah sahabat Republika Online

Monday, November 14, 2011

Keajaiban Kurma

Kurma (Phoenix dactylifera) adalah sejenis tanaman palma yang banyak ditanam di Timur Tengah dan Afrika Utara karena buahnya dapat dimakan. Karena sejarah pembudidayaannya untuk diambil buahnya. Asal-usulnya yang pasti tidak lagi diketahui, namun kemungkinan besar pohon ini berasal di oasis padang pasir di Afrika utara, dan barangkali juga di Asia barat daya. Pohonnya berukuran sedang, tingginya sekitar 15-25 meter, seringkali tumbuh bergerombol dengan beberapa batang pohon yang muncul dari satu akar yang sama, namun bisa juga tumbuh sendiri-sendiri.

Berdasarkan penelitian para ilmuwan, kurma kaya dengan protein, serat gula, vitamin A dan C serta mineral seperti zat besi, kalsium, sodium dan potasium. Kandungan protein di dalam kurma sebesar 1.8 – 2.0 persen, serat sebanyak 2.0 – 4.0 persen dan gula sebesar 50 – 70 persen glukosa.

Dengan kandung gula seperti itu, kurma mampu memberi tambahan tenaga bagi orang yang berbuka puasa hingga ia akan merasa segar dan bertenaga untuk beribadah tanpa rasa letih ataupun mengantuk. Biasanya, bagi yang merasa letih dan mengantuk disaat melaksanakan shalat tarawih disebabkan karena makanan yang dikonsumsi kebanyakan mengandung karbohidrat yang tidak menyediakan tenaga instant (tambahan). Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut, buah kurma adalah jawabannya.

Kenapa ? Sebab, sebagaimana penelitian yang dilakukan Badan Kesahatan Dunia (WHO), zat gula yang ada di dalam kurma itu berbeda dengan gula pada buah-buahan lain seperti gula tebu atau gula pasir yang biasa mengandung sukrosa di mana zat itu langsung diserap ke dalam tubuh. Hal ini membuat gula itu harus dipecahkan terlebih dahulu oleh enzim sebelum berubah menjadi glukosa. Sebaliknya, kurma tidak menbutuhkan proses demikian.

Sementara potasium di dalam kurma berguna untuk mengatasi masalah stress, sembelit dan lemah otot. Tidak hanya itu, berkat zat besi dan kalsium yang ada pada kurma, orang bakal terhindar dari penyakit yang beresiko tinggi seperti penyakit jantung dan kencing manis.

Bila dimakan oleh anak-anak, maka kurma memberi khasiat untk mencerdaskan otak mereka. Cukup beralasan, bila Rasullah s.a.w menganjurkan bagi para isteri yang mengandung untuk makan buah kurma. Kata Nabi, “Berilah makan buah kurma kepada isteri-isteri kamu yang sedang hamil, karena sekiranya wanita hamil itu memakan buah kurma, niscaya anak yang akan lahir kelak akan menjadi anak yang penyabar, bersopan santun serta cerdas. Sesungguhnya makanan Siti Maryam takkala melahirkan Nabi Isa a.s adalah buah kurma. Sekiranya, Allah s.w.t., menjadikan suatu buah yang lebih baik dari pada buah kurma, maka Allah telah memberi makan buah itu kepada Siti Maryam.” (H.R. Bukhari)

Adalah Q.S. Maryam, ayat 25-26 perihal Siti Maryam yang disinggung Nabi diatas. Firman Allah, “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, maka pohon itu akan menggugurkan buah yang masak kepadamu, maka makan serta minumlah dan bersenang hatilah kamu.”

Waktu itu, dikisahkan Siti Maryam hendak melahirkan Nabi Isa a.s dibawah pohon kurma. Lalu Malaikat Jibril datang dan menyuruh Maryam menggoncangkan pohon kurma. Buah kurma yang matang itu berjatuhan. Dan Maryam pun memakan buah kurma yang telah masak tersebut. Atas izin Allah s.w.t dan kebesaran- NYA, proses persalinan atau kelahiran Nabi Isa a.s menjadi mudah.

Berdasarkan hadis Rasullah dan firman Allah diataslah, kurma sangat berkhasiat bagi wanita yang sedang hamil dan nifas (setelah melahirkan). Hal ini diperteguh olah para ahli kedokteran bahwa unsur zat besi dan kalsium yang terdapat di dalam buah kurma adalah unsur yang sangat berguna untuk membentuk dan menambah kandungan air susu ibu. Lebih dari itu, anak-anak balita pun dapat mengambil manfaat dari buah yang biasa tumbuh didaerah Arab ini. Dengan kurma, pertumbuhan anak-anak dan sumsum tulangnya akan berkembang dengan baik.

Wajar bila Rasullah s.a.w memberikan tips untuk makan tujuh butir kurma setiap harinya supaya terhindar dari segal penyakit fisik. Mengapa Nabi menyebut kurma ‘Ajwah didalam sabdanya..

Berdasarkan asbabul wurud (sebab-sebab turunnya suatu hadist) disebutkan dulu Nabi Muhammad s.a.w kalau berbuka puasa yang dimakan adalah kurma. Kurma yang dimakan itu diberi nama ‘ajwah (ajua). Ceritanya, pada saat itu ajua adalah nama anak Salaman Alfarisi, orang nasrani yang akhirnya masuk Islam. Dia mewakafkan lahan kurmanya untuk perjuanan Islam. Untuk mengenang jasa-jasanya itu, akhirnya Rasul menamakan kurma yang dimakannya saat berbuka puasa sebagai kurma ajua. Bahkan, dalam hadist yang lain Beliau sendiri sempat menyatakan, “Rumah yang tidak ada kurmanya seperti rumah yang tidak ada makanan.”

Perkataan Rasullah tersebut menunjukan betapa pentingnya khasiat yang dapat diambil dari buah kurma. Sehingga, setiap keluarga mesti menyimpan kurma sebagai penganan wajib dirumahnya. Oleh arena itu, kita seharusnya memakan buah kurma bukan hanya dibulan puasa saja, tapi juga menjadikan kurma makanan sehari-hari. Entah itu dimakan pagi hari sebagaimana yang pernah dianjurkan Nabi diatas atau sebagai makanan ringan ketika sedang santai.

Siapa pun yang pagi-pagi makan tujuh buah kurma ‘Ajwah, maka pada hari itu dia tidak mudah keracunan dan terserang penyakit.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasullah s.a.w, jauh-jauh hari memberi saran yang sangat bermanfaat bagi yang sedang berpuasa. Sabdanya, “Apabila salah seorang diantara kamu puasa, hendaklah berbuka dengan kurma , bila tidak ada hendaklah dengan berbuka dengan air, sesungguhnya air itu bersih.” (H.R. Ahmad dan Tarmidzi). Bahkan, dalam kondisi tidak berpuasa pun (diluar bulan suci Ramadhan), buah kurma memiliki faedah yang sangat besar untuk kesehatan tubuh kita.

Dengan cara begini, kita tidak hanya mendapatkan kesehatan tubuh tapi juga memperoleh pahala karena menjalankan sunnah Rasullah s.a.w. Wallahu’alam bil shawab.
( Majalah Hidayah, MUAZ )

http://cetraline.wordpress.com/2010/05/06/keajaiban-kurma/

Sunday, November 13, 2011

Mengapa Doa-Doaku Tidak Terkabulkan?

Doa peneduh jiwa yang sedang terbalut oleh kalut, sedih dan gundah. Ia memberi ruang tersendiri bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta. Akan tetapi, kadang kita mengira sesuatu yang dipanjatkan itu belum juga terpenuhi, sehingga dengan sendirinya hati pun bertanya-tanya dan berkata:

“Kenapa yah, doa-doaku tidak terkabulkan? Apa yang salah dalam diri ini? Bukankah aku telah menunjukkan kehambaanku kepada-Nya dengan doa-doa itu?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini telah dijawab dengan jelas kedua ayat berikut ini:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ﴿٥٥﴾ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٥٦﴾

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf [7]: 55-56)

Hemat penulis, doa yang terkabulkan adalah doa yang mematuhi adab doa yang dijelaskan ayat di atas. Adab-adab tersebut dapat diuraikan sebagaimana berikut:

Adab pertama: Berdoa dengan penuh rendah diri dan suara lemah lembut

Para pakar tafsir berbeda dalam memaknai kata (التَّضّرُّعُ). Imam Ibn Jarir at-Thabari cenderung menafsirkannya dengan makna rendah diri, merasa hina, dan berupaya menghadirkan kedamaian hati di setiap doa.[[1]]

Penalaran ini disepakati kebanyakan penafsir yang datang setelahnya, seperti: al-Allâma Abu Hayyân, dan al-Hâfidzh Ibn Katsîr.[[2]]

Di lain pihak, al-Qâdhi Ibn Atiyyah menafsirkannya dengan doa yang terdengar jelas. Beliau berkata:

“Kata at-Tadarru’ (التَّضّرُّعُ) menghendaki kejelasan suara, karena kata itu sendiri tidak dipergunakan kecuali pada permintaan yang disertai dengan pelbagai isyarat dan gerakan tubuh.” [[3]]

Pemaknaan ini dilegitimasi al-Allâma Muhammad Thâhir bin Asyûr dalam pernyataannya berikut ini:

“(التَّضَرُّعُ) artinya: menunjukkan kerendahan diri dengan perihal tertentu. Olehnya itu (التَّضَرُّعُ) adalah doa yang disertai dengan suara yang jelas. Inilah penafsiran yang kami pilih karena menunjukkan keserasian makna (antonim) antara kata tersebut dengan kata (الحَفِيَّة), yang artinya: berdoa dengan suara yang lemah lembut. Olehnya itu, kata penghubung (الواو) huruf (Waw) yang sering kali diartikan dengan makna (dan), di sini ia berfungsi seperti (أَوْ) huruf (Aw), yang berarti atau. Artinya: Anda boleh memanjatkan doa dengan suara yang terdengar jelas atau dengan suara yang lemah lembut (tidak ada yang mendengarkannya kecuali Anda sendiri).”[[4]]

Hemat penulis, kata (التَّضَرُّعُ) meliputi kedua pemaknaan itu. Al-Qur’an sengaja menempatkan kata tersebut untuk menyuguhkan makna ini:

“Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Berdoalah dengan penuh kerendahan diri dan kekhusyukan, baik di waktu berdoa dengan suara yang jelas, atau dengan suara yang lemah lembut.”

Hal ini dipertegas oleh kesimpulan Ustadz Muhammad Râsyîd Ridhâ di bawah ini:

“Kedua bentuk doa itu punya waktu tersendiri. At-Tadarru’ dengan suara yang jelas bagus dan tepat di waktu menyendiri, aman dari penglihatan orang lain, sehingga mereka tidak merasa terusik dengan suara itu, dan perhatian orang yang berdoa tidak disibukkan dengan mereka dari konsentrasi membujur kepada Allah SWT, serta doanya tidak rusak dengan ria dan ujub.

Sementara itu, At-Tadarru’ dengan lemah lembut (yang hanya didengar olehnya sendiri) baik dan tepat di tempat terbuka, atau saat berada di khalayak ramai, seperti: Masjid dan di tempat yang menghidupkan syiar-syiar agama, kecuali pada waktu yang dibolehkan mengangkat suara, seperti: talbiyah di haji, takbir di kedua shalat Id. Itu boleh karena pelaksanaan ibadah-ibadah seperti ini dikerjakan secara saksama dan jauh dari puji diri.” [[5]]

Olehnya itu, ayat ini ditutup dengan firman-Nya:

(إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ المُعْتَدِيْن)

Maksudnya, dalam kondisi bagaimanapun, Anda tidak dibolehkan melampaui batas yang wajar dalam berdoa. Di antara hal yang tidak diperbolehkan dalam berdoa telah dicontohkan alQâdhi Ibn Atiyyah berikut ini:

“Kalimat tersebut meskipun maknanya umum, tetapi karena ia dalam konteks doa, maka ia mengisyaratkan hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam berdoa. Di antara hal tersebut, seperti: berteriak-teriak meminta. Ini telah diperingatkan Rasul Saw kepada kaum yang terlalu membesarkan suara pada saat takbir, beliau bersabda: (Wahai manusia, rendahkanlah suaramu, sesungguhnya engkau tidak berdoa kepada yang tuli, atau kepada yang gaib).[[6]]Dan yang lainnya lagi, seperti: meminta kedudukan yang sederajat dengan nabi, atau meminta sesuatu yang mustahil terjadi, serta berdoa melakukan kemaksiatan.”[[7]]

Kata (المُعْتَديْن) yang melampaui batas dapat juga menjadi teguran terhadap mereka yang memahami bahwa doa itu tidak lain kecuali sarana memenuhi segala keinginan. Telaah mendalam seperti ini telah diperlihatkan Syekh Mutawalli as-Sya’râwî berikut ini:

“Hindarkan diri Anda untuk tidak berdoa kecuali ingin memenuhi hajat semata!
Yang wajib Anda lakukan berdoa dengan memperlihatkan kepada-Nya kerendahan diri, kehinaan dan kekhusyukan, karena seandainya saja Anda tidak berdoa, maka segala urusan Anda terjadi sesuai dengan garis ketentuan ilahi. Jangan pernah mengira bahwa Anda berdoa supaya terwujud harapan-harapan Anda, karena Allah SWT Maha Suci untuk Anda jadikan sebagai pegawai Anda. Inilah aturan baku yang Allah tetapkan dalam memenuhi tuntutan-tuntutan Anda sekalian.”[[8]]

Hematnya, tujuan doa memperlihatkan kehambaan kita kepada Allah SWT, diterima atau tidaknya doa tersebut itu permasalahan kedua. Karena jika ia terkabulkan, maka itu adalah karunia-Nya, dan jika tidak terkabulkan itu pun karunia-Nya. Di sana ada kemaslahatan di balik penerimaan, penolakan, dan penundaan dari terkabulkannya doa yang jauh dari pengetahuan manusia sendiri.

Adab kedua: Jangan melakukan kerusakan di bumi!

Al-Qâdhi Ibn Atiyyah berkata:

“Firman-Nya: (وَلاَ تُفْسِدُوْا فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا)cakupannya sangat umum, meliputi segala bentuk kerusakan, baik yang besar atau kecil, setelah adanya perbaikan. Olehnya itu, tujuan pelarangan tersebut bersifat umum, dan tidak boleh dijustifikasi buta terhadap satu jenis kerusakan, karena hukum seperti ini menyalahi seruan tersebut.”[[9]]

Di antara bentuk kerusakan yang sering dipaparkan Al-Qur’an dalam konteks doa, perilaku sebagian kelompok yang kembali kepada kesesatan setelah doanya terkabulkan dari sebuah bencana dan kesulitan. Ini tercatat dengan begitu apik di ayat-ayat berikut ini:

­Ayat pertama: “Dan ketika mereka ditimpa azab mereka pun berkata: (Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat mengangkat azab itu dari kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu). Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya.” (QS. Al-A’raf [7]: 134-135]

Di ayat lain firman-Nya: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus [10]: 12)

Hemat penulis, telah jelas bahwa faedah doa bukan hanya terbatas dari hajat yang terpenuhi seketika itu, tetapi bagaimana menjaga kemurahan dan karunia Allah tersebut supaya tidak pergi dengan sendirinya. Tentunya, tidak ada cara lain untuk menjaganya kecuali tetap berada di jalan Allah. Apalah artinya doa yang terkabulkan pada suatu waktu, tetapi di waktu-waktu lain kita kembali terjerumus dalam kemungkaran dan kemaksiatan. Faedah doa bukan hanya ingin dilihat hari ini dan esok, tetapi faedahnya ingin dipetik di akhirat. Doa yang berkah doa yang senantiasa mengatakan seperti ini:

“Wahai diriku yang terkabulkan doanya! Aku sebenarnya enggan menyuguhkan kenikmatan ini jika di lain hari engkau kembali mengingkari Tuhanmu. Jagalah nikmat ini dengan tidak kembali menengok dunia hitam, apalagi jatuh di lembah kemaksiatan! Aku ingin senantiasa dipetik hari ini, esok dan di akhirat, bukan hanya sehari, kemudian melupakan Sang Maha Pemberi yang telah menjadikan aku fasilitas gratis guna mendekatkan dirimu kepada-Nya.”

Adab ketiga dan keempat: takut doa tidak diterima dan berharap penuh dikabulkan

Makna ini dijustifikasi Syekh al-Alûsî sebagai makna yang banyak dipilih oleh pakar tafsir. Beliau berkata:

“Firman-Nya: (ادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا) artinya: berdoalah dengan penuh rasa takut dari doa yang tidak mustajab karena ketidaklayakan Anda untuk menjadi orang-orang yang doanya mustajab, dan jangan pernah putus asa untuk senantiasa berharap penuh terhadap jawaban-Nya sebagai karunia untukmu dari-Nya. Inilah pilihan kebanyakan mufassir.”[[10]]

Di lain sisi, Syekh Mutawalli as-Sya’rawî memaparkan makna yang cukup luas, beliau berkata:

“Di sini Al-Qur’an menjelaskan adab lain berdoa, yaitu: (ادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا) artinya: takutlah dari segala bentuk manifestasi nama-Nya (القَهَّارُ) yang Maha Menaklukkan, dan berharaplah dengan segenap harapan dari segala bentuk manifestasi nama-Nya (الغَفَّارُ) yang Maha Pengampun, dan (الرَّحِيْمُ) yang Maha Pengasih. Berdoalah dengan penuh rasa takut dari segala bentuk ketergantungan sifat keperkasaan-Nya, dan berharaplah mendapatkan karunia dari segala bentuk ketergantungan sifat keindahan dan kemurahan-Nya.” [[11]]

Hemat penulis, kedua teks tersebut saling melengkapi dalam memberikan sebuah pemaknaan. Karena jika doa terkabulkan, maka segala aneka karunia dan kenikmatan yang ada di khazanah sifat-sifat keindahan dan kemurahan-Nya tercurahkan dengan sendirinya melebihi volume curah hujan. Akan tetapi, jika doa tidak terkabulkan, maka dengan sendirinya pula turun azab yang datang dari keperkasaan dan keagungan-Nya.

Olehnya itu, kedua kelompok kata yang ada pada ayat itu mustahil dipisahkan, demi terciptanya pemaknaan yang apik dan sempurna. Maha Suci Allah yang telah memilih kosa kata Al-Qur’an dan menempatkannya di tempat yang layak untuknya, pemilihan dan penempatan yang jauh dari kesanggupan para ahli bahasa.

Di penghujung tulisan singkat ini, saya yakin pemerhati tema-tema keislaman dengan mudah menyimpulkan apa yang ada di atas dan berkata:

“Doa adalah otak ibadah, tetapi tidak semua doa punya ketinggian derajat seperti itu. Doa yang sampai ke derajat itu adalah doa yang mustajab. Doa mustajab doa yang dipanjatkan dengan penuh rendah diri dan khusyuk, takut tidak diterima serta berharap penuh dikabulkan. Doa mustajab itu bukan hanya hasilnya dipetik hari ini. Akan tetapi ia senantiasa dipetik hari ini, esok dan di akhirat. Carilah dengan doa karunia dan kenikmatan-Nya yang ada pada khazanah sifat keindahan dan kemurahan-Nya, dan hindari dengan doa pula azab-Nya yang ada pada sifat keperkasaan-Nya!”

Oleh: H. Muhammad Widus Sempo, MA

Catatan Kaki:
[1] Lihat: Imam Ibn Jarir at-Thabari, Tafsir at-Thabari, vol. 12, hlm. 485
[2] Lihat: al-Allâma Abu Hayyân, al-Bahru al-Muhîth, vol. 4, hlm. 312, dan al-Hâfidzh Ibn Katsîr, Tafsir Ibn Katsîr, vol. 6, hlm. 321
[3] Lihat: al-Qâdhi Ibn Atiyyah, al-Muharrâr al-Wajîz, vol. 2, hlm. 410
[4] Lihat: al-Allâma Muhammad Thâhir bin Asyûr, at-Tahrîr wa at-Tanwîr, vol. 8, hlm. 172
[5] Ustad Muhammad Râsyîd Ridhâ, Tafsir al-Manâr, vol. 8, hlm. 457
[6] Hadit ini dikeluarkan Imam al-Bukhârî di Shahîhnya dari Abi Musa al-Asyarî r.a, kitab as-Siyar wa al-Jihad, bab Mâ Yukrah min Raf’i as-Shawt fi at-Takbîr, hadits, no. 2992, hlm. 824
[7] Lihat: alQâdhi Ibn Atiyyah, Op.Cit, vol. 2, hlm. 410
[8] Syekh Mutawalli as-Sya’râwî, Tafsir as-Sya’râwî, vol. 7, hlm. 4174
[9] Lihat: alQâdhi Ibn Atiyyah, Op.Cit, vol. 2, hlm. 410
[10] Lihat: Syekh al-Alûsî, Ruhul Maânî, vol. 8, hlm. 140
[11] Lihat: Syekh Mutawalli as-Sya’rawî, Op.Cit, vol. 7, hlm. 4180

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/11/16313/mengapa-doa-doaku-tidak-terkabulkan/#ixzz1dYTZG5TD

Kesaksian Para Sahabat Tentang Hafalan dan Ketelitian Abu Hurairah

Sejumlah tokoh sahabat telah memberikan kesaksian tentang banyaknya ilmu Abu Hurairah dan ketepatannya dalam meriwayatkan hadits.

Seorang laki-laki datang menemui Thalhah bin Ubaidillah lalu berkata, “Wahai Abu Muhammad, bagaimana menurutmu tentang orang Yaman ini, yakni Abu Hurairah, apakah dia lebih tahu tentang hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada kalian, karena kami telah mendengar darinya hadits-hadits yang tidak pernah kami dengar dari kalian, ataukah ia berkata atas Nabi apa yang tidak pernah beliau sabdakan?”

Thalhah menjawab, “Adapun jika ia mendengar hadits yang belum pernah kami dengar, maka aku tidak meragukannya. Aku akan menceritakan kepadamu tentang hal itu. Dulu kami adalah orang-orang yang memiliki rumah, kambing dan pekerjaan. Kami mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam waktu pagi dan petang, sementara Abu Hurairah adalah orang miskin sekaligus tamu di depan pintu rumah Rasulullah, tangannya bersama tangan Rasulullah, maka kami tidak ragu bahwa ia mendengar apa yang tidak kami dengar. Kamu tidak akan mendapati seseorang yang memiliki kebaikan akan berkata-kata atas nama Rasulullah apa yang tidak beliau katakan.” (Siyar A’lam an Nubala’ (2/605-606), seperti yang diriwayatkan at Tirmidzi dalam Jami’nya, al Bukhari dalam Tarikh al Kabir, al Hakim dalam al Mustadrak dan selainnya. Sanadnya hasan)

Al Baihaqi menambahkan dalam Madkhal-nya, dari maula Thalhah, ia berkata: Ketika Abu Hurairah sedang duduk, ada seoang laki-laki lewat di depan Thalhah dan berkata kepadanya, “Abu Hurairah telah banyak meriwayatkan hadits.” Thalhah menjawab, “Sungguh kami telah mendengar seperti yang ia dengar, tapi ia hafal sedang kami lupa.” Al Hafidz Ibnu Hajar juga menyebutkannya dalam Fathul Bari.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah ditanya, “Apakah engkau mengingkari hadits yang disampaikan Abu Hurairah?” Ia menjawab, “Tidak, tapi ia berani dan kami takut.”

Abu Hurairah berkata, “Apa dosaku jika aku hafal sedangkan mereka lupa?” (Siyar A’lam an Nubala (2/208))
Ibnu Umar berkata dalam hadits yang membicarakan tentang pahala mengantarkan jenazah, setelah Aisyah radhiyallahu ‘anha memberi kesaksian atas Abu Hurairah, “Engkau wahai Abu Hurairah, adalah orang yang paling banyak bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan paling mengetahui hadits beliau dibandingkan kami.”

Riwayat lengkapnya sebagai berikut:
Ibnu Umar melewati Abu Hurairah yang sedang menyampaikan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mengiringi jenazah lalu ia menshalatkannya, maka ia mendapatkan (pahala) satu qirath, dan jika ia menyaksikan penguburannya, maka ia mendapatkan (pahala) dua qirath.”

Satu qirath itu lebih besar daripada Gunung Uhud. Maka Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Wahai Abu Hurairah, perhatikanlah apa yang engkau sampaikan dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu.”

Abu Hurairah pun berdiri menghampirinya dan membawanya pergi kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu Abu Hurairah berkata kepadanya, “Wahau Ummul Mukminin, aku memintamu bersumpah demi nama Allah, apakah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengiringi jenazah lalu ia menshalatkannya, maka ia mendapatkan (pahala) satu qirath, dan jika ia menyaksikan penguburannya, maka ia mendapatkan (pahala) dua qirath.”

Aisyah menjawab “Ya pernah” kemudian Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya aku dulu tidak disibukkan oleh bercocok tanam dan berdagang di pasar dari menghadiri majelis Nabi. Aku meminta kepada beliau satu kata untuk diajarkan kepadaku dan sesuap makan untuk diberikan kepadaku.”

Maka Ibnu Umar berkata, “Wahai Abu Hurairah, engkau adalah orang yang paling banyak menemani Nabi dan paling mengetahui hadits beliau dibanding kami.” (Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (2/302), at Tirmidzi dalam Jami’-nya (13/226) secara ringkas, dan Al Hakim dalam Mustadrak-nya (3/510-511) Ia berkata “Sanadnya shahih”)
Dari Asy’ats bin Sulaim, dari bapaknya, ia berkata, “Aku datang ke Madinah, ternyata Abu Ayyub sedang menyampaikan hadits dari Abu Hurairah, dari Rasulullah, maka aku katakan kepadanya, “Engkau juga sahabat Rasulullah.” Ia menjawab, ”Abu Hurairah mendengar langsung dari Rasulullah. Aku meriwayatkan hadits darinya dari Rasulullah, lebih aku sukai daripada aku meriwayatkan (secara langsung) dari Rasulullah. (Al Muatadrak (3/512), dan Siyar A’lam an Nubala (2/606)

***
artikel muslimah.or.id
http://muslimah.or.id/kisah/kesaksian-para-sahabat-tentang-hafalan-dan-ketelitian-abu-hurairah.html
Disalin dari buku Bukan Seorang Pendusta, Dr. Muhammad Dhiya’ur Rahman al A’zhami, Pustaka At Tazkia

Friday, November 11, 2011

Kebencian Itu Awal Dari Hidayah

New York, Pagi ini, Rabu 10 Pebruari, kota New York sedang dilanda badai salju. Sejak tengah malam lalu, salju turun tiada henti membuat jalanan menjadi sepi dan licin. Kebanyakan warga memilih tinggal di rumah, berbagai institusi ditutup sementara, termasuk sekolah-sekolah dan bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Saya sendiri cukup malas untuk meninggalkan rumah pagi tadi. Tapi entah apa, rasanya saya tetap terpanggil untuk melangkahkan kaki menuju kantor PTRI, dan selanjutnya ke Islamic Center. Ternyata kantor PTRI juga pagi ini hanya dibuka hingga pukul 12 siang.

Aku pun segera menuju Islamic Cultural Center of New York dengan tujuan sekedar shalat Zhuhur dan Ashar sekalian. Lazimnya, ketika ada badai salju atau hujan lebat, jamaah meminta untuk menjamak’ shalat. Setiba di Islamic Center saya segera menuju ruang shalat, selain untuk melihat apakah pemanas ruangan telah dinyalakan atau belum, juga untuk shalat sunnah.

Tiba-tiba saja Sekretaris memanggil, “Some one is waiting for you!” “Let me do my sunnah and will be there!” jawabku.

Setelah shalat sunnah, segera saya menuju ke ruang perkantoran Islamic Center. Di ruang tamu sudah ada seseorang yang relatif berumur, tapi nampak elegan dalam berpakaian. “Hi, good morning!” sapaku. “Good morning!” jawabnya dengan sangat sopan dan ramah. “Waiting for me?” tanyaku sambil menjabat tangan. “Yes, and I am sorry to bother you at this early time.” katanya sambil tersenyum.

Saya mengajak pria berkulit putih tersebut ke ruangan kantor saya. Dengan berbasa-basi saya katakan “Wah mudah-mudahan Anda diberikan pahala atas perjuangan mengunjungi Islamic Center dalam suasana cuaca seperti ini.” “Oh not at all! We used to this kind of weather.” jawabnya.

“So, what I can do for you this morning.” tanyaku memulai pembicaraan. Tanpa saya sadari orang tersebut masih berdiri di depan pintu. Barangkali dia tidak ingin lancang duduk tanpa dipersilakan. Memang dia nampak sopan, tapi dari kata-katanya dapat dipahami bahwa dia cukup terdidik. “Please do have your sit!” kataku. “Thanks sir!” jawabnya singkat.

Setelah duduk saya ulangi lagi, pertanyaan sebelumnya “What I can do for you this morning?” Sambil membalik posisi duduknya, dia melihat ke saya dengan sedikit serius, tapi tetap dengan senyumnya. “I am here for….” seolah terhenti.. ”for some clarifications!” jawabnya. “I have been reading, I have observed, even I have learned about the religion, and to be honest I know about it a great deal!” jelasnya.

“That’s great!” selaku. Tiba-tiba dia memotong “But I don’t know, from time to time, I feel my suspicion about it and about the Muslims grows.” Dia terdiam sejenak lalu menyambung “I kind of don’t believe what I know about it!” “What do you mean?” tanyaku singkat.

Sekali lagi sang pria tersebut merubah posisi duduknya lalu bercerita. “I used to be very angry… I really hated this religion!” jelasnya. “In last many years, if it is in my hand I would have crashed it and its followers. I felt the religion and those who follow it invaded my country!” jelasnya dengan sangat serius. “And so, what happened?” pancingku. Kini dia kembali tersenyum, lalu menyambung ceritanya.

Untuk singkatnya, saya menuliskan beberapa catatan ceritanya, bagaimana kebencian nya kepada agama Islam menjadi awal ‘kehausan’ untuk mencari tahu. Suatu hari dia membeli makanan di pinggir jalan (Halal Food) di kota Manhattan. Perlu diketahui, mayoritas mereka yang jual makanan di pinggir jalan di kota New York adalah Muslim. Lalu menurutnya, di gerobak penjual makanan itu tertulis ‘Laa ilaaha illa Allah-Muhammad Rasul Allah’ dalam bahasa Arab. Kebenciannya yang sangat kepada Islam membuatnya tidak bisa menahan diri untuk mengata-ngatai penjual makanan itu “Don’t turn people away from buying your food with that ….(bad word).” katanya sinis!
Tapi menurutnya lagi, sang penjual itu tidak menjawab dan hanya tersenyum, bahkan merespon dengan “Thank you for coming my friend!”

Singkatnya, menurut dia lagi, sikap penjual makanan itu selalu teringat di pikirannya. Bahkan sikap itu menjadikannya merasa bersalah, tapi pantang untuk datang meminta maaf. Ketidak-inginannya meminta maaf itu, katanya sekali lagi, karena kebencian nya kepada agama ini. “That really made me angry to my self, but really curious at the same time!” sambungnya.

“In the beginning, I was just googling some informations about the religion. Then listening to some lectures on Youtube (especially Hamzah Yusuf’s ones).” ceritanya. Setelah itu kemudian membeli beberapa buku karangan non Muslims, termasuk sejarah Rasul oleh Karen Amstrong, Shari’ah oleh John Esposito, dll.

“The more I learned, the more I feel being suspicious and confused!” heran nya. Saya kemudian memotong “Had you ever thought, why is that?” “I don’t know, but I think media factors!” jawabnya singkat. Tapi kemudian segera menyambung bahwa setiap kali dia melihat pemboman, pembunuhan, pengrusakan, dan bahkan beberapa aksi films, ada-ada saja Muslim yang terkait. “I really don’t know and confused, what kind of Islam these people are practicing?”

Dia kembali berbicara panjang, seolah menyampaikan ceramah kepada saya tentang ‘jurang besar’ antara ilmu tentang Islam yang dia pahami dan berbagai perangai yang dia lihat dari beberapa Muslim selama ini. Di satu sisi, dia kagum dengan sikap penjual makanan tadi. Tapi di satu sisi, dia marah dengan sikap beberapa orang Islam yang justru melakukan berbagai (apa yang disebutnya sebagai) ‘kejahatan atas nama Islam’. “And so, which side will I be, if one day I will be a Muslim?” tanyanya pada dirinya sendiri.

Setelah selesai, saya kemudian memulai mengambil kendali. “First, congratulations!” kataku singkat. Dia nampak bingung dengan ucapan saya itu.

Segera saya sambung “You have been a real American!” Dia tersenyum tapi masih belum paham.

“Americans are those when don’t know they inquire.” jelasku. “I think your anger is well understandable. Firstly, because you don’t know and the remedy to that is to seek and inquire. Second, the media factors and the remedy to that is to clarify. And I think you did both.” jelasku.

Saya kemudian mengajak dia mendiskusikan berbagai hal. Mulai dari sejarah peperangan, terorisme, pembunuhan, pengrusakan, dari dulu hingga sekarang. Dan sebaliknya, bagaimana Islam telah memainkan peranan besar dalam membangun peradaban manusia.

“Throughout our human’s history, what you are seeing these days are not surprising and new’. How many lives have been taken, properties have been destroyed, home damaged?” tanyaku. “And from the beginning of Prophet Muhammad preached this religion in the 7th century in Arabia, up to this day….how many wars and killings that have been Muslims as perpetrators?” tanyaku lagi.

Dia nampak hanya geleng-geleng kepala dengan contoh-contoh yang saya berikan. Dari Hitler, Stalin, Perang Dunia I dan II, Hiroshima dan Nagasaki , dst. Berapa di antara mereka yang terbunuh, dan siapa yang melakukan? Peperangan di Irak, berapa yang terbunuh ketika jet-jet Amerika men drop bom di perkampungan-perkampungan? Siapa mayoritas tentara Amerika?

Kemudian, pernahkah dilakukan studi secara dekat, untuk mengetahui apakah benar bahwa pemboman, pembunuhan, pengrusakan yang dilakukan oleh beberapa Muslim selama ini, walau atas nama Islam, memang justified by Islam? Dan benarkah bahwa memang motif nya karena memperjuangkan Islam dan Muslims, atau karena memang Islam dan Muslims adalah jembatan menuju kepada ‘interest tertentu?’, ceritaku panjang lebar.
Tanpa terasa, waktu adzan Zhuhur telah tiba. “Sorry, that is what we call adzan or the call to pray.” jelasku. Saya diam sejenak, dia juga nampak diam mendengarkan adzan dari Sheikh Farahat, muadzin yang baru diterima sebagai pegawai di Islamic Center. Suara tamatan Al-Azhar ini memang sangat indah.

Setelah adzan, saya kembali menyambung pembicaraan. Saat ini kita membicarakan berbagai ke tidak adilan yang terjadi di berbagai belahan dunia, dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Secara ekonomi hanya segelintir yang menikmati kue alam, secara politik ada pemaksaan sistemik kepada negara lain, dan seterusnya.
“With all this, and by no way to say that killings, especially when we come to the lives of innocents and civilians, are justified in the name of struggling for justice.” lanjutku.

Tapi karena waktu sangat singkat, saya bertanya “What do you think? Is there any thing that you do object to?” pancingku. Dia nampak diam, tapi tersenyum dan mencoba berbicara.

“You are right!” katanya singkat. “I have been unfair to my own self! My association of Islam to behavior of some Muslims is completely unfair.”

“You got the point, sir!” jawabku singkat. “Now, I have to leave you for a while. I need to pray!” kataku sambil meminta maaf.

Tiba-tiba saja dia melihat saya dengan sedikit serius. Kali ini tanpa senyum dan berkata “What should I do to be a Muslim?” tanyanya. “Are you serious?” tanyaku. “Yes!” jawabnya singkat. “Follow me!” ajak ku.

Saya ajak dia ke ruang wudhu, mengajarinya berwudhu, lalu ke ruang shalat. Sambil menunggu waktu iqamat, saya menyampaikan kepadanya, “What I am going to do is leading you in declaring your new faith by what we call shahadah. And it is to testify that there is no god worthy to be worship by Allah and Muhammad is His Messenger.” jelasku seraya mengingatkan apa yang pernah dia lihat dahulu di gerobak penjual makanan itu.

Sebelum iqamat dimulai saya ajak, Peter Scott, nama pria tersebut ke depan jamaah dan menuntunnya mengucapkan “Asy-hadu anlaa ilaaha illa Allah wa asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah.” seraya diikuti gema takbir sekitar 200-an jamaah shalat Zhuhur hari ini.

“Peter, you are a Muslim, like others here today, nothing in you is less. In fact, you are better then us because you chose to be, not only born into it and follow it.” jelasku sambil meminta untuk mengikuti gerakan-gerakan shalat sebisanya, tapi dengan konsentrasi.

Allahu Akbar! Semoga Peter selalu dijaga dan dijadikan pejuang di jalan-Nya!

Oleh: M. Syamsi Ali, M.A.
New York, 10 Pebruari 2010
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2010/02/5589/kebencian-itu-awal-dari-hidayah/#ixzz1czQnie5w

Thursday, November 10, 2011

Juru Parkir, Sang Pendakwah Sejati

Pada suatu siang yang sangat terik di Jalan Papandayan, ban sepeda motor yang saya kendarai tiba–tiba bocor . Tragedi itu bersamaan dengan kumandang Adzan di beberapa masjid di sekitar Taman Kencana. Setelah beberapa meter dari TKP, saya menemukan tukang tambal ban dan akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke Ekalokasari Plaza.

Jam sudah menunjukkan pukul 12.30, saya dan guru saya ustadz Muhajir harus mencari masjid untuk shalat zuhur. Atas ajakan Abah Ajir (panggilan akrab ustadz Muhajir), saya membelokkan motor memasuki areal parkir sebuah kantor provider telepon selular. Di sinilah bermula dimana saya belajar mengambil hikmah, diawali dengan diperkenalkannya saya oleh abah Ajir dengan sahabat karibnya yang berprofesi sebagai tukang parkir, yang bernama Ishaq.

Sebagian orang memanggilnya ustadz Ishaq. Sosok sederhana bersuku Sunda namun pemberani, hanya ALLAH yang ia takuti. Kang Ishaq berjenggot lebat tapi tidak berkumis, memakai kaos bola ditambah rompi dan bercelana panjang di atas mata kaki. Subhanallah kurang lebih dua jam, saya dan abah Ajir banyak belajar darinya; mulai dari bagaimana menghormati tamu, menghadapi hidup dengan bahagia, cara berdakwah sampai kepada pernak-pernik dakwah yang pernah ia alami.

Tugasnya adalah menjadi juru parkir. Kang Ishaq menjalankan tugas MENJAGA berbagai merk mobil ; dari mobil Mercedez Benz sampai mobil odong–odong ; dari motor Herly Parkinson sampai motor butut. Itulah tugas suci para juru parkir yang bisa kita ambil hikmah : MENJAGAH AMANAH.

Perhatikanlah tukang parkir, ketika mobil mewah atau pun mobil usang datang, sang juru parkir menyambut, menerima, menjaga, mengatur dan mengamankan TITIPAN tersebut. Tapi pada saat SANG PEMILIK kendaraan itu meminta kembali mobil TITIPAN nya, juru parkir itu TIDAK PERNAH MERASA SEDIH apalagi MENAHAN mobil tersebut.

Demikianlah kita hidup harus melihat hikmah dari para tukang parkir; MENERIMA, MENJAGA TAPI TIDAK MEMILIKI HAK UNTUK MEMILIKI. Kekayaan, jabatan dan apapun yang melekat pada diri kita adalah KENDARAAN TITIPAN yang dititipkan oleh ALLAH kepada kita, Sang Juru Parkir.

“Unik”, itulah mungkin kesan pertama bagi siapa saja yang baru pertama kali bertemu dengan kang Ishaq, pasalnya ada kebiasaan yang biasa beliau lakukan namun sedikit orang yang melakukannya yaitu mengucapkan takbir kepada orang yang ia kenal ataupun yang tak ia kenal dan tak sungkan-sungkan mengingatkan karyawan perusahaan seluler tersebut dengan kalimat, “udah shalat belum?” dan ia pun sangat garang ketika melihat orang merokok atau makan pada siang hari di bulan Ramadhan, walhasil tidak ada seorang pun yang berani berkeliaran merokok dan makan di area “kekuasaannya”.

Pantas saja banyak orang memanggilnya ustadz, tutur kata hikmah plus lantunan ayat-ayat al-Qur’an yang merdu banyak ia sampaikan saat saya berbincang dengannya. Ada satu pertanyaan yang abah Ajir tanyakan kepada kang Ishaq dan pada saat bersamaan, -tanpa sepengetahuan mereka berdua- saya merekam semua pembicaraan antara kedua sahabat itu.

“Kang, apa sih kuncinya bisa tetap terlihat bahagia, meskipun panas tapi akang tetap enjoy dengan profesi akang?”

Tersenyumlah kang Ishaq lalu ia berkata, “Sodorkan semua masalah kita semuanya kepada ALLAH, Ya Muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik wa’ala thooatik, Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati tetapkanlah hatiku untuk istiqamah dan taat pada-Mu, semuanya akan kembali kepada ALLAH dan ALLAH lah sumber kebahagiaan itu.”

Dan saya pun tersentuh dengan jawabannya. Lalu abah Ajir kembali bertanya, “Kang, apa kuncinya agar tetap semangat?”

Kang Ishaq menjawab, “ATM”, lalu saya bertanya, “Apa itu kang ATM ?”

Kang Ishaq menjawab, “Allah Tempat Meminta, beribadahlah kepada ALLAH dan mohonlah pertolongan kepada-Nya, iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.”

Kang Ishaq senantiasa komitmen dengan dakwahnya, segala macam cara yang berisiko ia tempuh, hanya untuk mengajak orang lain kembali kepada ALLAH. Suatu hari di kota Surabaya, Kang Ishaq mencoba berdakwah di tengah kaum bromocorah; ada centeng toko, preman terminal bahkan ada preman di pelabuhan. Puncaknya ketika kang Ishaq harus berhadapan dengan para jago gulat dan panco untuk bertarung dengan syarat apabila kang Ishaq jatuh tersungkur maka kang Ishaq harus menjadi kaum bromocorah tapi sebaliknya kalau mereka yang kalah mereka harus menjadi kaum pengikut mushalla.

Kang Ishaq mulai komat-kamit membaca ayat-ayat yang ia yakini dapat mendatangkan ketenangan dalam hatinya dan menyerahkan segala sesuatunya kepada ALLAH al-Qowiyy (Maha Kuat) dan al-Aziiz (maha Perkasa). Pertarungan pun dimulai dan kang Ishaq nyaris tersungkur dan pada detik-detik akhir kang Ishaq membalikkan keadaan, dengan izin Allah ia dapat membuat para bromocorah tersebut tersungkur. Dan akhirnya mereka dengan jantan mengakui ketangguhan kang Ishaq dan menerima syarat menjadi pengikut kaum mushalla. Allahu Akbar!

Cerita lain yang ia sampaikan, suatu hari di daerah pedalaman di Banten, kang Ishaq menyuruh orang ke mushalla untuk shalat berjamaah, namun yang didapat adalah tantangan adu KANURAGAN oleh jawara Banten. Sama seperti di Surabaya siapa pun yang kalah harus menjadi bagian dari pengikutnya.

Kang Ishaq mengambil air putih yang dingin dan membaca doa masuk WC, dengan penuh keyakinan kepada ALLAH, air putih itu diberikan kepada para jawara dan apa yang terjadi? jawara itu pun kepanasan karena air dingin itu berubah menjadi air panas bi idznillah. Akhirnya si jawara itu menantang kembali ilmu KADIGDAYAAN yang ia miliki dengan menyayat wajahnya dengan silet yang tajam. Dan si jawara itu tidak terluka sedikit pun. Kang Ishaq tidak bergeming, dengan yakinnya ia mengambil batu sekepalan tangan dan membaca doa masuk WC, believe it or not, batu itu hancur seperti tepung terigu. Allahu Akbar!

Alhamdulillah, saya dapat mengambil hikmah dari cerita-cerita yang ia sampaikan, yang awalnya saya nyaris tidak percaya, namun secara perlahan saya mempercayai cerita tersebut karena bahasa wajah, bahasa tubuh dan kekuatan bertutur sangat kuat dan tulus ikhlas tanpa rekayasa karena diselingi ‘ALLAH Hade euy” …. ALLAH AKBAR!
Mutiara akan tetap menjadi mutiara meskipun dalam kubangan lumpur. Kang Ishaq bagaikan mutiara di tengah hiruk pikuk pongahnya dunia, kang Ishaq tetap menunjukkan mutiara tanpa harus menggadaikan nilai-nilai kesucian dakwah yang bisa ditukar dengan “manut kepada mereka yang punya uang”.

Belajarlah, belajarlah dan belajarlah meskipun dari seorang tukang parkir bahkan dari seorang pengayak comberan sekalipun. Likulli sya’in hikmatun, segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Balon terbang karena isinya bukan karena warnanya. Janganlah kita terjebak dalam penampilan fisik semata, karena pandangan mata bisa menipu, maka pergunakanlah pandangan mata hati yang jernih dalam melihat segala sesuatu.
Terima kasih, syukron jazakumulloh khoiron katsiron kang Ishaq, semoga ALLAH menjagamu.

”Kelebihan seorang alim dari pada seorang ahli ibadah, bagaikan kelebihanku terhadap orang yang terendah di antara kamu. Sesungguhnya ALLAH dan para MalaikatNYA dan semua penduduk langit dan bumi hingga semut yang di dalam lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan kepada guru-guru yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi)

Wallahu’alam bi ash-Showab

Oleh: Arif Apriansyah
Jalan Pajajaran, 28 September 2010. Pukul 13.00-15.00
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2010/11/10064/juru-parkir-sang-pendakwah-dan-kaum-bromocorah/#ixzz1dAfz1cAP

Ummu Sulaim, Sambut Islam dengan Segenap Keikhlasan Hatinya

dakwatuna.com - Ummu Sulaim, begitu ia dikenal. Perempuan bernama asli Rumaisha binti Milhan ini menyambut kehadiran Islam dengan segenap keikhlasan hatinya. Ia songsong kehadiran fajar Islam yang baru saja menerobos celah-celah kehidupannya itu. Namun, suaminya Malik bin Nadhar, masih senang dan bertahan dalam selimut kejahiliyahannya.

Hukum Islam pun memberi ketegasan bagi Ummu Sulaim bahwa seorang Muslimah diharamkan memiliki suami yang musyrik, maka pernikahan mereka yang telah berjalan dan mempunyai anak laki-laki bernama Anas bin Malik itu bubar demi keyakinan masing-masing. Buah hati yang masih kecil itu ikut dalam asuhan Rumaisha. Tak ada keraguan yang menghadangnya, bahkan setiap hari perempuan ikhlas itu mengajari Anas bin Malik dengan pola hidup Islami.

Hari demi hari, bulan dan tahun dilalui dengan keikhlasan dalam mendidik Anas bin Malik. Maka menjelmalah Anas bin Malik menjadi seorang anak laki-laki yang saleh dan tangguh. Walaupun sudah beberapa waktu Rumaisha menjanda, namun setiap ada orang yang menanyakan kesendiriannya, Rumaisha selalu berkata, “Tidak terpikir olehku untuk menikah lagi sampai anakku Anas menjadi dewasa dan bergabung dalam majelis Rasulullah.”

Kekuatan sikap ibunya itu, membuat Anas bin Malik merasa berutang budi padanya. Sebagai anak yang saleh, Anas mengungkapkan rasa terima kasihnya itu dengan berdoa, “Semoga Allah membalas kebaikan ibuku yang telah merawatku dengan baik.”

Rumaisha pun menyerahkan putranya kepada Rasulullah SAW agar membantu keperluan beliau di rumahnya sekaligus bisa belajar Islam secara langsung dari beliau. Beberapa hari setelah Anas tinggal di rumah Rasulullah, seorang laki-laki bernama Abu Thalhah berkunjung ke rumah Rumaisha.

Setelah ditanya keperluannya, Abu Thalhah berkata, “Aku ke sini untuk melamarmu. Kuharap engkau mau menjadi istriku, ya Rumaisha.”

“Aku percaya bahwa pria seperti dirimu tentu banyak diminati para wanita. Tapi, Muslimah mana yang bersedia dinikahi laki-laki penyembah berhala seperti dirimu, ya Abu Thalhah”.

“Untuk itu, jika engkau rela memeluk Islam sebagai agamamu, niscaya aku tidak akan menolak lamaranmu. Bahkan akan kujadikan keislamanmu itu sebagai mahar bagiku,” jawab Rumaisha kepada Abu Thalhah diplomatis.

Mendengar jawaban singkat dari Rumaisha, Abu Thalhah pun pulang membawa gemuruh panjang dalam dada. Beberapa hari kemudian, setelah yakin bahwa hatinya telah mantap kepada Islam, maka Abu Thalhah segera datang kepada Nabi untuk menyatakan keislamannya. Rumaisha pun tidak ingkar pada janjinya. Ia sambut lamaran Abu Thalhah dengan keikhlasan hatinya.

Rumaisha dan Abu Thalhah pun akhirnya menikah di bawah panji iman, Islam, dengan satu cita-cita besar dalam perjuangan Islam. Setelah aqad nikah selesai dilaksanakan, salah seorang yang ikut hadir berkata, “Sungguh, belum pernah aku menjumpai mahar yang lebih mulia daripada maharnya Rumaisha. Ia rela, Islamnya Abu Thalhah sebagai mahar perkawinannya.”

Dari pernikahannya dengan Abu Thalhah, Rumaisha melahirkan seorang anak yang diberi nama Sulaim. Sejak itulah orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan Ummu Sulaim. Bersama-sama dengan Abu Thalhah, pasangan suami istri itu banyak terlibat dalam perjuangan Islam, baik di masa perang maupun di masa damai.

Teringat dalam sebuah peristiwa di perang Uhud, Ummu Sulaim bersama mujahidah-mujahidah yang lain sangat giat mengangkuti qirbah-qirbah (tempat air dari kulit) berisi air di atas punggung mereka sebagai persediaan minum prajurit yang bertempur di medan perang. Begitu pula yang terjadi saat perang Hunain, ia bertempur mendampingi suaminya dengan membawa sebilah belati yang diselipkan di balik lengan bajunya. Setiap kali ada musuh mendekatinya, ia menikam dengan belatinya tersebut.

Ketika keadaan aman, Ummu Sulaim yang masih keturunan keluarga Adi bin Najjar (pengrajin kayu dari suku Khazraj) itu, tekun berkarya membuat kerajinan tangan. Setiap kali Rasulullah datang ke rumahnya, ia akan memberikan hasil karyanya itu kepada beliau. Bersama anaknya Anas bin Malik, Ummu Sulaim ikut meriwayatkan hadits dari Rasulullah. Tercatat ada sekitar 14 buah hadits yang dia riwayatkan.

Keikhlasan Ummu Sulaim dalam berjuang menegakkan Islam membuat Rasulullah SAW menaruh perhatian khusus padanya. Ini tergambar dari ucapan beliau mengenai dirinya, “Aku bermimpi masuk surga, ternyata di sana ada Rumaisha istri Abu Thalhah.”
Suatu hari Abu Thalhah sedang ada keperluan ke luar kota. Tiba-tiba anaknya Sulaim sakit keras hingga menemui ajalnya. Dengan tabah dan penuh keikhlasan, Ummu Sulaim merawat jenazah anaknya. Dia berpesan kepada seluruh keluarganya supaya merahasiakan kematian Sulaim bila Abu Thalhah datang. “Biar aku sendiri yang menceritakan padanya,” pinta Ummu Sulaim.

Ketika Abu Thalhah pulang, Ummu Sulaim menyambut kedatangan suaminya dengan mesra dan cinta kasih. Dia berupaya menyenangkan hati Abu Thalhah dengan menghidangkan makanan kesukaannya, serta berdandan secantik mungkin. Melihat sambutan istrinya yang luar biasa itu, tentu saja Abu Thalhah sangat senang dan merasa rindu pada Ummu Sulaim. Apalagi sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu istrinya.

Begitulah, Ummu Sulaim mampu menutupi duka hatinya dengan melayani Abu Thalhah dengan baik. Setelah itu, Ummu Sulaim bertanya, “Wahai suamiku, bagaimana pendapatmu bila seseorang minjam uang kepada orang lain lalu digunakannya. Namun, ketika pemiliknya memintanya kembali, orang itu merasa keberatan?”

“Tentu saja peminjam itu tidak benar,” jawab Abu Thalhah. “Jika demikian, dengarlah suamiku. Putramu adalah barang pinjaman dari Allah SWT. Sekarang Allah telah mengambil kembali barang pinjaman itu,” kata Ummu Sulaim. Mendengar perkataan istrinya, Abu Thalhah sangat terkejut. Namun setelah merenung sejenak ia pun berkata dengan tenang dan tabah, “Sesungguhnya semua makhluk adalah kepunyaan Allah, dan akhirnya akan kembali kepada-Nya.”

Pada pagi harinya Abu Thalhah menemui Rasulullah dan menceritakan semua yang sedang dialaminya. Nabi menanggapi keluh kesah sahabatnya itu dengan berkata, “Ya Abu Thalhah, mudah-mudahan Allah SWT memberi barokah kepada kalian berdua.”

Atas karunia-Nya, Ummu Sulaim pun hamil. Menjelang kelahiran anak itu, Abu Thalhah sedang bersiap-siap untuk menemani Rasulullah ke luar kota. Melihat istrinya kesakitan, maka Abu Thalhah pun menunda keberangkatannya seraya berkata, “Ya Allah, betapa inginnya aku menyertai Rasulullah, tapi hal itu tak mungkin kulakukan karena istriku sedang kesakitan.”

Usai Abu Thalhah berkata demikian, Ummu Sulaim tidak lagi merasakan sakit. Ia pun menyarankan suaminya supaya menyusul Rasulullah. Anehnya, begitu Abu Thalhah dan Rasulullah pulang, Ummu Sulaim merasakan sakitnya kambuh lagi.

Dan beberapa saat kemudian ia pun melahirkan bayinya. Anas lalu membawa bayi itu pada Rasulullah dan ia diberi nama Abdullah oleh beliau. Tidak lama setelah kelahiran Abdullah, Ummu Sulaim mengandung dan melahirkan berulang-ulang hingga ia memiliki banyak anak dalam perkawinannya dengan Abu Thalhah. Semoga perjuangan Rumaisha dengan keikhlasan hatinya menjadi penyemangat dalam dakwah Islam bagi para Muslimah generasi penerus.

Oleh: Cecep Y Pramana
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/08/14161/ummu-sulaim-sambut-islam-dengan-segenap-keikhlasan-hatinya/#ixzz1dAcOJ2uh