Thursday, September 29, 2011

Terkesan Sosok Nabi Muhammad Saw. Janna Masuk Islam

Suara azan yang didengarnya pertama meninggalkan kesan yang begitu mendalam dalam hatinya. Ia tak pernah mengerti apa yang terjadi, tapi sejak itu ia merasa ada sesuatu yang berubah pada dirinya. Ia ingin tahu apa makna semua itu, apa arti kata-kata yang didengarnya saat azan. Dan semua itu terjawab bertahun-tahun kemudian.

Namanya Janna, orang Yunani asli tapi lahir di Jerman. Keluarganya adalah penganut agama Kristen ortodok yang sangat taat. Kedua oran tuanya memastikan semua anak-anaknya, termasuk Janna, dididik dan dibesarkan dengan ajaran Kristen, dengan cara ortodok yang tradisional.

Keluarga Janna selalu pergi liburan bersama-sama. Ketika berusia antara 12-13 tahun, Janna dan keluarga besarnya berlibur ke Uni Emirat Arab. Inilah liburan yang paling berkesan bagi Janna sepanjang hidup. Siapa kira liburan itu yang kemudian menuntunnya pada Islam. Agama yang dipeluknya sekarang.

Janna kembali mengingat kembali liburannya ketika itu. Sepekan pertama, ia dan keluarganya berkeliling Uni Emirat Arab. Suatu hari, di hari Jumat, mereka sedang dalam perjalanan menuju Pasar Al-Souq. Tiba-tiba terdengar suara azan dan Janna melihat orang-orang di sekitarnya langsung menghentikan aktivitasnya. Yang sedang mengendarai mobil pun berhenti, mengambil sajadah, menggelarnya, lalu menunaikan salat meski di pinggir jalan.

"Suara azan telah mengubah sesuatu dalam diri saya, subhanallah. Saya tidak tahu apa itu, tapi setelah itu saya merasa ada perubahan dan perubahan itu mengendap dalam diri saya. Saya ingin tahu arti kata-kata dalam azan, apa maknanya," tutur Janna mengingat kembali pengalamannya ketika pertama kali mendengar azan.

Takut Kematian

Janna adalah tipikal orang yang sangat takut dengan hal-hal yang berhubungan dengan kematian. Ia selalu menghindari perbicangan tentang kematian dan tidak pernah menghadiri acara pemakaman. Tapi semuanya berubah ketika ia menyaksikan sendiri proses kematian di depan matanya.

"Paman saya menghembuskan napas terakhirnya di hadapan saya. Pengalaman itu mengubah saya. Saya mulai merasa bahwa kehidupan ini tidak seperti yang ada dalam pikiran saya. Kita menginvestasikan banyak tenaga dan waktu untuk banyak hal yang bisa lenyap begitu saja dalam hitungan detik," tukas Janna.

Tapi setelah menyaksikan proses kematian pamannya, Janna hampir tak bisa tidur dengan tenang. Ia menjalani masa-masa dimana ia terbangun tiga kali sepanjang malam, hanya untuk melihat apakah ayah dan ibunya masih bernapas.

Setelah belajar Islam, Janna tahu apa penyebab ketakutannya pada hal-hal yang berkaitan dengan kematian. "Saya selalu merasa takut pada kematian karena saya berpikir bahwa kematian adalah akhir dari segalanya," ujar Janna. Sedangkan dalam Islam, kematian hanya pemutus kehidupan di dunia untuk melanjutkan kehidupan yang lebih kekal di akhirat kelak.

"Ketakutan itu membuat saya makin bersemangat untuk mencari tahu tentang Islam. Saya sudah mempelajari agama-agama lainnya, tapi saya belum menemukan kebenaran apapun dalam agama-agama itu atau kebenaran yang membuat saya benar-benar yakin," tukas Janna.

Biografi Nabi Muhammad dan Syahadat

Janna merasa benar-benar yakin dengan Islam ketika membaca biografi Nabi Muhammad Saw, yang mengingatkan nya pada apa yang pernah ia ketahui dan pernah ia baca tentang Yesus (Nabi Isa).

"Dan saya terus membaca dan membaca. Figur ini (Nabi Muhammad Saw.) adalah orang yang mulia dengan karakter dan kepribadian yang sangat mengagumkan, dan saya kira, saya tidak pernah menemukan orang seperti ini sebelumnya," papar Janna.

Setelah membaca buku biografi itu, Janna yakin bahwa ia harus menghapus semua yang ia tahu tentang Islam yang selama ini ternyata salah. Janna lalu memulai kembali pencariannya. Tidak butuh waktu lama bagi Janna untuk mengetahui bahwa Islam-lah kebenaran itu dan tidak ada satu agama pun di dunia ini yang bisa menandinginya.

"Ketika saya mulai membaca buku-buku tentang Islam, saya menemukan semua jawaban yang tidak saya temukan dalam agama saya sendiri," tukas Janna.

Meski sudah merasa yakin dengan Islam, Janna masih takut untuk bersyahadat karena ia tahu orang tua dan keluarganya tidak akan pernah menerima Islam. "Jika mereka tahu tentang hal ini, hidup saya akan berubah secara dramatis," kata Janna.

Ia lalu bertemu dengan seorang muslimah asal Mesir, bernama Noha di Jerman. "Noha banyak membantu saya, karena saya berjumpa dengannya tepat ketika saya mulai berdoa agar saya segera menemukan kebenaran dan memiliki keberanian atas apa yang sedang saya lakukan," ungkap Janna.

Janna dan Noha sering bertemu dan berdiskusi tentang Islam. Noha menjelaskan semua hal tentang Islam dan menjawab semua pertanyaan Janna, karena Janna yakin bahwa agamanya selama ini salah dan ia tidak mau hidup dalam kesalahan itu.

Sekira satu setengah bulan Janna memikirkan tentang kebenaran yang diketahuinya. Ia pun memutuskan masuk Islam. Janna mengucapkan dua kalimat syahadat di asrama mahasiswi di Jerman. Awalnya hanya ada Noha dan Janna di ruangan, tapi akhirnya banyak mahasiswa yang yang tahu ada seseorang yang akan masuk Islam, sehingga ruangan akhirnya dipenuhi 20 orang yang menjadi saksi keislaman Janna.

"Alhamdulillah, hari itu, saya mengucapkan syahadat. Saya tidak akan pernah melupakannya, dan saya tidak akan pernah melupakan pertama kali saya menunaikan salat," tukas Janna. (kw/oi)

http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/terkesan-sosok-nabi-muhammad-saw-janna-masuk-islam.htm

Kisah Ibu dan Anak yang Sama-sama Mencari 'Tuhan' dan Menemukannya dalam Islam

DUBLIN - Biasanya di Barat, adalah anak dan bukan orang tuanya yang menjadi mualaf. Tidak demikian dengan Aisha dan Phildel, anaknya. Aisha, keturunan Irlandia, suatu hari memutuskan bahwa dia harus memeluk Islam apapun resikonya. termasuk, kemungkinan akan membuat Phildel, putri semata wayangnya, kecewa.

Di sisi lain, Phildel merasakan hal yang sama. Pencariannya tentang Tuhan, berujung pada Islam. Berikut kisah keduanya:


Aisha: Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga Katolik Roma di Dublin pada tahun 1960-an. Sementara Dublin tampak seolah 'terjebak' di abad ke-19, tepat di seberang Laut Irlandia budaya hippie tumbuh subur di London. Sebagai seorang anak, saya bertanya banyak pertanyaan selama pendidikan di sekolah biara. Diskusi agama selain Katolik Roma atau "kejahatan Protestantisme" benar-benar tidak ada.

Pada usia 16 tahun aku meninggalkan Dublin dan datang ke London. Aku larut dalam kebiasaan anak muda yang 'normal' di kota itu: melakukan kunjungan rutin ke pub dan klub. Tapi aku melihat teman-temanku selalu depresi.

Usia 20-an tahun, aku memutuskan menikah dan melahirkan putri pertama yang jelita, Phildel. Aku sangat senang tetapi sering merasa seperti sebuah pasak persegi di lubang bundar; seolah-olah aku masih belum menemukan tempat yang tepat bagiku.

Suatu hari aku berbicara dengan seorang wanita yang mengenakan jilbab. Dia bilang dirinya Muslim dan itu adalah pertama kalinya aku pernah mendengar kata itu. Pada perkembangan berikutnya, di tempat kerja, saya mengenal beberapa Muslim dan mereka mulai bercerita lebih banyak tentang Islam.

Suatu malam aku menemukan diriku berjalan di jalanan dengan Phildel di bawah hujan dan tak tahu harus kemana, setelah bertengkar hebat dengan suamiku dan kami diusir. Aku ingat mengangkat mataku ke langit dan memohon pada Tuhan untuk membantuku entah bagaimana atau memberiku suatu pertanda kalau Dia ada. Entah bagaimana caranya, kami sampai di sebuah rumah yang ternayata milik perempuan berjilbab yang pertama kali aku mengenal Islam darinya!

Setelah menemukan rumah sendiri, aku mulai belajar Islam. Lama aku mempelajarinya, sebelum akhirnya yakin, Islamlah agama yang pas buatku. Phildel membuatku maju-mundur untuk bersyahadat, namun akhirnya aku kuatkan hati dan menjadi Muslim. Aku kini sudah menikah lagi dengan pria Muslim dan memiliki seorang anak dengannya, Amina namanya.

Phildel, yang aku besarkan sebagai seorang Katolik Roma sampai perceraianku, tanpa aku sadari sangat antusias tentang Islam dan mengatakan syahadat sendiri. Dia kemudian memilih nama Zara. Phildel kini memilih tinggal dengan ayahnya.


Phildel: Ibuku dan aku sangat dekat, tidak ada seorang pun di dunia ini yang aku cintai selain dia. Pada tahun-tahun menjelang perceraian orang tuaku, kami menghabiskan lebih banyak waktu di sekitar keluarga Muslim.

Setelah perceraian kehidupan kami menjadi semakin sulit; pernikahan orang tuaku mencapai titik yang paling bergolak dan aku lebih dari lega ketika seluruh cobaan berat itu berakhir. Aku menandai perubahan yang positif dalam diri ibu dan ayah saya segera setelah mereka berpisah. Saya pikir sekitar waktu ini ibu saya mengalami pengalaman yang membangkitkan semangat luar biasa di rumah seorang teman dan kemudian menjadi seorang Muslim.

Aku? Meskipun aku tidak pernah dipaksa untuk menjadi seorang Muslim, aku menyadari langkahku menjadi Muslim adalah hasil pengaruh lingkungan. Aku tumbuh di sekitar keluarga Muslim, maka secara tak langsung pikiranku terpengaruh. Itulah sebabnya, setelah bersyahadat, aku sempat kembali ke agama lama; hanya untuk meyakinkanku agama apa sebetulnya yang dipilih hatiku.

Kini aku tinggal terpisah dari ibu - aku tinggal bersama ayah kandungku - dan berpikir Islam adalah agama yang indah. Aku senang membantu di masjid dan berbicara dengan saudara-saudara Muslimku. Kurasa aku hanya ingin mengalami sesuatu yang membuatku tahu ini adalah arah yang perlu aku ambil, arah yang benar, yaitu menjadi Muslim.

Jadi sampai sekarang aku masih belajar.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/09/29/ls9f44-kisah-ibu-dan-anak-yang-samasama-mencari-tuhan-dan-menemukannya-dalam-islam

Doa untuk Ayahanda (yang sedang Terbaring Sakit)

Bismillaahir rohmaanir rohiim

Asyhaduan laa ilaaha illallah wa asyhaduanna muhammadar rasulullah

Astaghfirullahal azhiim
Subhaanallah walhamdulillaah wa laa illaaha illallaah wallaahu akbar
Wa laa haula wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhim

Allaahuma sholi 'ala sayyidina muhammad wa 'alaa aalihi wa sohbihi ajma'iin

Yaa Allah… Yaa Rohman… Yaa Rohiim…
Sayangilah dan kasihilah kedua orang tua kami sebagaimana mereka menyayangi dan mengasihi kami di masa kecil kami....
Berilah kami kekuatan dan kesabaran untuk merawat dan slalu mendoakan kedua orgtua kami, sebagaimana mereka dulu slalu sabar merawat dan slalu mendoakan kami...

Yaa Allah… Yaa Ghaffar… Yaa Ghafuur… Yaa Afuwwu… Yaa Rauuf…
Ampunilah segala dosa dan kesalahan kedua orangtua kami selama hidupnya di dunia, baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.
Yaa Allah... Bagi mereka yg pernah tersakiti oleh ucapan dan tindakan kedua orangtua kami, baik yang sengaja ataupun tidak, jadikanlah agar mereka ikhlas, ridho dan memaafkan kesalahan orangtua kami.

Yaa Allah… Yaa Salaam… Yaa Mukmin… Yaa Muhaimin...
Khusus utk Ayahanda kami yang sedang terbaring sakit...
Jika Engkau berkenan mengangkat penyakitnya, berilah kesembuhan dan limpahkan baginya kesehatan sebagaimana sebelumnya, sehingga kami bisa berkumpul dan bersama lagi...

Namun, jika Engkau berkenan menjadikan penyakitnya sebagai penghapus dosa-dosanya di masa lalu, yaa Allah…
Hilangkanlah segala rasa sakitnya, ringankan penderitaannya, dan gantikanlah dengan keinginan untuk selalu berzikir menyebut namaMu, yaa Allah...
Jadikan lidah dan bibirnya slalu basah menyebut asmaMu, ya Allah...
Jadikan hatinya selalu sadar mengingatMu, yaa Allah...
Berikan kesempatan baginya untuk selalu mengucap Laa ilaaha illallaah di sepanjang akhir hidupnya, yaa Allah...
Karuniakanlah husnul khootimah baginya, ya Allah... Dan jauhkan darinya shu'ul khootimah...
Karuniakanlah husnul khootimah baginya, ya Allah... Dan jauhkan darinya shu'ul khootimah...
Karuniakanlah husnul khootimah baginya, ya Allah... Dan jauhkan darinya shu'ul khootimah...

Yaa Allah... Jika Engkau berkenan memanggilnya berpulang ke pangkuanMu... Panggillah beliau dengan sebaik-baik dan selembut-lembut panggilan, yaa Allah...
Jadikanlah beliau ikhlas dan ridha memenuhi panggilanMu, yaa Allah...
Jadikan pula kami semua putra-putrinya, cucu-cucu dan cicit-cicitnya ikhlas dan ridho dalam melepasnya...
Jangan biarkan ada hambatan dan ganjalan sekecil apapun, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, yang bisa menghalangi perjalanannya menuju haribaanMu, yaa Allah...

Yaa Allah... Yaa Aliim... Yaa Salaam....
Engkaulah yang maha mengetahui dan menguasai segala urusan... Engkau pula yang tahu apa-apa yang terbaik bagi seluruh hambaMu, yaa Allah...
Berikanlah yang terbaik pada kami semua, kepada Ayahanda kami yang sedang terbaring sakit, dan kepada kami semua putra-putrinya, cucu-cucunya dan cicit-cicitnya...
Kami pasrahkan segala urusan kami kepadaMu, yaa Allah...

Allahumma sholli wa sallim wa baarik 'alaa sayyidina muhammad... Abdika wa nabiyyika wa rasulika... Nabiiyil 'ummiyyin... Wa 'alaa aalihi wa sohbihi ajma'iin...

Subhaana robbika robbil'izzati 'amma yaasifun... Wa salaamun 'alal mursalin... Walhamdulillaahi robbil'aalamiin...

Al Faatihah...
Aamiin... Aamiin... Allaahumma aamiin...

Jakarta, 29 September 2011.

Monday, September 26, 2011

Siapa Sudi Menikahkan Putrinya denganku?

Seorang yang sangat miskin mengenakan kain usang, pakaian lusuh, dengan perut lapar, kaki tidak beralas, berasal dari keturunan yang tidak terhormat, tidak memiliki kedudukan, harta, dan keluarga besar, juga tidak memiliki rumah untuk berteduh, tidak memiliki perabotan yang berharga, minum hanya air dari kolam umum yang diambil dengan kedua tangannya, tidur di masjid dengan hanya berbantalkan tangan dan berkasur pasir bercampur kerikil. Meskipun demikian, dia adalah seorang yang selalu berzikir kepada Rabbnya, selalu membaca kitab Allah, dan selalu berada pada shaf terdepan dalam shalat maupun dalam kancah peperangan.

Suatu ketika, dia lewat di dekat Rasulullah saw. Rasulullah lalu memanggil namanya dengan nyaring, "Wahai Julaibib, tidakkah kamu ingin menikah?"

"Wahai Rasul, siapa yang sudi menikahkan putrinya denganku? Aku tidak mempunyai kedudukan dan tidak pula harta."

Beberapa hari kemudian, Rasulullah bertemu lagi dengannya. Beliau mengajukan pertanyaan yang sama dan dia pun menjawab dengan jawaban yang sama.

Pada pertemuan ketiga, Rasulullah mengajukan pertanyaan yang sama dan dijawab dengan jawaban serupa. Rasulullah berkata, "Wahai Julaibib, pergilah ke rumah laki-laki Anshar lalu katakan kepadanya, 'Rasulullah menyampaikan salam untukmu dan memintamu mengawinkanku dengan putrimu.'"

Sahabat Anshar ang dimaksd itu berasal dari keluarga terhormat dan terpandang. Berangkatlah Julaibib menemui sahabat Anshar itu. Diketuknya pintu rumahnya lalu disampaikanlah apa yang diperintahkan oleh Rasulullah.

Sahabat Anshar itu mengatakan, "Semoga kesejahteraan tercurah untuk Rasulullah. Bagaimana bisa aku mengawinkan anakku denganmu yang tidak mempunyai kedudukan dan harta benda?"

Pada saat itu, istri sahabat itu juga mendengar pesan Rasulullah yang disampaikan Julaibib itu dan dia pun terheran-heran dan bertanya-tanya, "... dengan Julaibib yang tidak punya kedudukan dan harta?

Dari dalam kamar, putrinya mendengar ucapan Julaibib dan pesan Rasulullah. Putri mukminah itu segera berkata kepada orangtuanya. "Kalian menolak permintaan Rasulullah? Tidak! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya!"

Selanjutnya, terjadilah pernikahan dan melahirkan sebuah keluarga yang penuh berkah. Rumah tangga yang didasarkan pada ketakwaan kepada Allah dan keridhaan terhadap perintah-Nya.

Beberapa waktu berselang, genderang jihad ditabuh. Julaibib pun ikut maju dalam kancah peperangan. Di tangannya tujuh orang musuh terbunuh, namun dia sendiri pun terbunuh. Dia meninggal berbantalkan tanah penuh keridhaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Setelah itu, Rasulullah memeriksa semua korban dalam perang itu. Para sahabat memberitahukan siapa saja yang terbunuh.

Tak ada nama Julaibib disebut sebab memang dia tidak dikenal di kalangan sahabat, namun Rasulullah ingat sekali kepada Julaibib. Beliau hafal nama itu di tengah nama-nama besar yang terbunuh. Rasulullah berkata, "Kini aku kehilangan Julaibib."

Rasulullah mendapati jasadnya penuh debu. Sembari mengusap debu dari wajahnya, beliau bersabda, "Engkau telah membunuh tujuh orang lalu engkau sendiri kini terbunuh. Engkau bagian dariku dan aku bagian darimu. Engkau bagian dariku dan aku bagian darimu. Engkau bagian dariku dan aku bagian darimu." Ucapan tanda pengenal dari Nabi ini sudah cukup untuk Julaibib sebagai tandan dan hadiah.

(Kisah ini diadaptasi dari Laa Tahzan, Syaikh Aidh Al-Qarny)

Disadur dari buku "Lelaki Akhirat dari sudut Kota Madinah', oleh Muhamad Yasir.

Thursday, September 22, 2011

Lima Belas Hari Wahyu Tidak Kunjung Datang

Hari itu kafir Quraisy sengaja mengutus Nadhr dan Uqbah menemui pembesar Yahudi di Madinah untuk menanyakan kebenaran kenabian Muhammad

"Tanyakanlah kepada orang-orang yahudi tentang Muhammad karena meereka memiliki ilmu tentang kenabian, yang ilmu itu tidak kita miliki." kata kafir Quraisy.

Keduanya pun bergegas keluar hingga tiba di Madinah. Sesampainya di rumah orang Yahudi, mereka membuka pembicaraan, "Kami datang pada kalian untuk mencari tahu tentang sahabat kami Muhammad, yang kami tahu bahwa berita kenabian Muhammad tertulis di dalam kitab Taurat kalian. Bukankah kalian pandai tentang kitab Taurat?"

Pembesar Yahudi menukas, "Hai, utusan Quraisy! Tanyakan saja kepada Muhammad tentang tiga hal. Jika bisa menjawabnya, berarti ia seorang nabi yang benar-benar diutus. Tetapi jika tidak, berarti ia hanya berdusta kepada kalian."

"Apakah tiga hal itu?"

"Pertama; bagaimanakah nasib para pemuda yang terjebak di dalam gua karena mereka memiliki cerita mengherankan. Kedua; tanyakanlah kepadanya tentang Zulqarnain, lelaki yang mengelilingi dunia sampai ke ujung-ujungnya. Ketiga; tanyakanlah kepadanya ilmu tentang ruh."

Tidak lama berselang, kedua laki-laki itu bertandang ke rumah Muhammad untuk membuktikan tiga hal tadi.

"Wahai Muhammad! Ceritakanlah tentang tigal hal, yang dengan begitu kami mempercayai bahwa kamu benar-benar nabi yang diutus kepada kami," pinta mereka.

"Esok pagi, aku pasti memberikan jawaban atas tiga pertanyaan itu," jawab Muhammad dengan sangat yakin.

Mereka pun segera bubar meninggalkan nabi.

Ternyata sampai esok hari, Jibril tidak kunjung datang. Bahkan, wahyu tidak kunjung menyapa hingga lima belas hari lamanya. Muhammad berkecil hati. Ia seperti kecewa. Sementara itu, janji sudah terlanjur diucapkan bahwa esok pagi jawaban pasti diberikan.

Penduduk Makkah pun menjadi gembar. Orang-orang Quraisy datang menagih janji, "Muhammad benar-benar telah membohongi kita. Ia menjanjikan jawaban kepada kita, namun sekarang waktunya telah lewat."

Kejadian ini benar-benar membuat Rasulullah dirundung lara, menorehkan duka di hati. Beliau merasa Tuhannya telah meninggalkannya, mengabaikannya. Ditambah lagi sebagian penduduk Makkah tidak menyapanya. Sangat menyakitkan.

Akhirnya, pada hari keenam-belas, Jibril turun menyapa Muhammad, menyampaikan kepadanya surah Al-Kahfi sebagai jawaban atas pertanyaan mereka. Allah berfriman, "Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua (Ashabul Kahfi), dan yang mempunyai raqim itu, termasuk tanda-tanda kebesaran Kami yang menakjubkan?" (Al-Kahfi : 9) bagi Allah, cerita itu tidak terlalu istimewa.

Allah juga menegur Muhammad, "Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, 'Aku pasti melakukan itu besok pagi,' kecuali dengan mengatakan, 'Insya Allah.".... (Al-Kahfi : 23-24)

(Diangkat dari Tafsir Imam Ibnu Katsir)

***

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa segala gerakan dan aktivitas yang terjadi di muka bumi terjadi atas kehendak Allah. Kehendak manusia pun tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya. Karena itulah Allah mengajarkan kepada orang-orang beriman agar mengatakan "insya Allah" jika hendak melakukan sesuatu.

Disadur dari buku "Lelaki Akhirat dari sudut Kota Madinah" karya Muhamad Yasir.

Xenia Dituntun Anaknya Menemukan Islam di Usia Senja

ATHENA - Sebelum pergi ke Inggris, Xenia hanya mengenal satu agama, Kristen Ortodoks. Dia lahir, dibesarkan, dan tinggal di Athena, Yunani, Sebelum akhirnya terbang ke Inggris tahun 1970-an untuk melanjutkan pendidikannya.

Di negeri inilah, cakrawalanya terbuka. Ia mengenal ada banyak agama di dunia ini. Islam salah satunya. Namun, ia tak berniat mempelajarinya, karena nyaman dengan agama yang dianutnya sejak kecil. "Saya dibesarkan dalam keluarga yang hangat walau tak begitu taat beribadah," ujarnya.

Usai kuliah, ia tak kembali ke negerinya. Seorang pemuda setempat memikat hatinya, dan mereka menikah. Belakangan, ia baru tahu suaminya sangat berminat pada Islam. "Agama tak begitu berperan dalam kehidupan keluarga saya...maka saya pun tak ambil pusing dengan orientasi keyakinan suami saya," ujarnya.

Di rumah, mereka tak pernah mendiskusikan agama. "Dia menghargai keyakinan saya, demikian pula sebaliknya," katanya. Belakangan ia tahu, suaminya telah menjadi Muslim.

Bersuami seorang Muslim, cakrawalanya tentang Islam terbuka. Di sekolah, ia hanya tahu hal negatif tentang agama ini. Begitu juga di media yang dia baca. Namun di rumah, ia menemukan oase yang berbeda, melalui suaminya. Namun, ia masih belum tergerak hatinya belajar Islam.

Ia hanya mempelajari Islam sedikit, demi menjawab pertanyaan anak-anaknya. Seiring berjalannya waktu, sang anak lebih condong memilih Islam, mengikuti agama sang ayah. "Saya mengantar mereka ke masjid, tapi saya tak ikut turun. Saya menunggu di mobil saja," ujarnya.

Saat dua anaknya menginjak remaja, suaminya meninggal dunia. Xenia sungguh terpukul. Ia memutuskan untuk pulang ke negeri asalnya, Yunani. Anak-anaknya, memilih tetap tinggal di Inggris.

Di bandara, ia menerima SMS anak lelakinya yang termuda, "Mum, kami mencintaimu dan kami tak ingin engkau berbeda dari kami ketika kelak kau berpulang seperti papa. Please, jadilah Muslimah."

Ia merenungi SMS sang anak. "Untuk pertama kalinya setelah 30 menikahi pria Muslim, saya membaca isi Alquran," katanya, yang mengaku awalnya ogah-ogahan membacanya.

Dia mengaku takjub dengan kitab suci almarhum suaminya itu, kendati hanya membaca terjemahannya saja. Untaian kata-katanya sungguh indah, katanya, begitu untaian ceritanya. "Itu bukan bahasa manusia. Itu bahasa Tuhan semesta alam," katanya.

Dari membaca Quran pula ia tahu, Islam bukan agama baru. Islam telah dianut oleh nabi-nabi terdahulu. "Ini lebih mudah dimengerti, bahwa hanya ada satu Tuhan, tanpa partner, dan para nabi adalah utusan-Nya," katanya.

Tiba-tiba, ia merasa tak berperantara antara dirinya dan Tuhan. "Hanya saya dan Pencipta saya," kata Xenia yang kini berusia 60 tahun lebih.

Dia mengaku mulai rajin "curhat" pada Tuhan. "Aku berbicara pada Alllah dimana saja. Dia mendengar saya, dan memantapkan hati saya," ujarnya. Sampai di satu titik, ia bulat tekad untuk bersyahadat.

Bagi Xenia, Islam adalah sistem yang sempurna. Allah tak hanya menurunkan Alquran, tapi juga mengutus Muhammad SAW untuk menjadi "contoh nyata" bagaimana Alquran diaplikasikan. "Jalan menuju surga itu berliku. Allah mengirim panduan menuju ke sana, melalui Alquran dan Muhammad," katanya.

Xenia juga menyatakan, beda dengan adama lain yang penuh doktrin, Islam mengajak umatnya untuk berpikir. "Islam tak bilang, 'Inilah dia, kau harus mengikutinya sekarang!' Tapi Allah bilang, 'Lihat, lihatlah sekelilingmu. Lakukan perjalanan, lihatlah tubuhmu, langit, alam, mengapa kau tak melihatnya (sebagai tanda-tanda kebesaran Allah?)," katanya, yang mengaku bersyukur telah menemukan islam, kendati memulianya di usia senja.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/09/21/lruuiy-xenia-dituntun-anaknya-menemukan-islam-di-usia-senja

Nabi Musa Pernah Ditegur Karena Lakukan 'Kesombongan Intelektual'

Sifat sombong (al-kibr) dan menyombongkan diri (al-takabbur) merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Kesombongan, menurut Ghazali, bermula dari kekaguman seseorang kepada diri sendiri (al-`ujb), lalu memandang rendah orang lain. Sifat sombong merupakan sikap batin yang terejawantahkan dalam perbuatan dan tindakan yang cenderung destruktif dan diskriminatif.

Penyakit yang satu ini, menurut Ghazali, patut diwaspadai, karena tak hanya menyerang manusia secara umum, tetapi justru lebih banyak menyerang orang-orang pandai, para pakar, termasuk para ulama, kecuali sedikit orang dari mereka yang mendapat bimbingan dan petunjuk dari Allah SWT.

Nabi Musa AS konon dianggap telah melakukan "kesombongan intelektual" ketika beliau berkata, "Ana a`lam al-qaum" (akulah orang paling pandai di negeri ini). Sepintas lalu, pernyataan ini dapat dianggap wajar karena dikemukakan oleh seorang Nabi yang ditugaskan Allah SWT untuk membebaskan rakyat Mesir dari perbudakan Raja Firaun. Namun, Allah SWT memandang pernyataan Musa itu berlebihan.

Karena itu, Nabi Musa ditegur oleh Allah dan diberi pembelajaran melalui dua cara. Pertama, Nabi Musa dipertemukan dengan seorang (Khidir) yang memiliki tingkat pengetahuan dan kearifan yang jauh lebih tinggi dari Musa. Seperti diceritakan secara panjang lebar dalam surah al-Kahfi, Nabi Musa seakan-akan "dipelonco" oleh Khidir karena ia tak memiliki wawasan keilmuan seluas Khidir, baik secara filosofis maupun epistemologis. Akhirnya, Khidir terpaksa meninggalkan Musa seraya berkata, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku." (QS al-Kahfi [18]: 67).

Kedua, Allah mengajarkan kepada Nabi Musa doa yang berisi etos dan moral seorang ilmuwan (intelektual). "Rabbi zidni `ilman.."(Ya Allah tambahkan kepadaku ilmu pengetahuan). Doa ini diajarkan juga kepada Nabi Muhammad SAW dan selanjutnya kepada kita semua, orang-orang beriman.

Doa ini penting, karena mengajarkan kepada kita beberapa etika keilmuan. Pertama, etos dan moral intelektual adalah belajar, menemukan kebenaran, dan mengembangkan ilmu. Kedua, ilmu pengetahuan bersifat dinamis, tumbuh dan berkembang (growing and developing) setingkat dengan kerja ilmiah para ilmuwan. Ketiga, apa yang telah diketahui pasti lebih sedikit daripada yang belum diketahui. Kenyataan inilah yang membuat para ilmuwan tak boleh sombong, tetapi harus rendah hati (tawadhu).

Socrates, filosof Yunani, pernah menunjukkan sikap rendah hati itu sewaktu ia berkata, "I only know that I don't know." (Aku hanya tahu bahwa aku tidak tahu). Imam Syafii, pendiri Mazhab Syafii, lebih tawadhu lagi. Disebutkan, setiap kali beliau memperoleh tambahan ilmu, beliau selalu menangis, karena makin sadar betapa banyak ilmu yang belum diketahuinya.

Agar tidak seperti katak dalam tempurung, para ilmuwan harus belajar dan menumbuhkan sikap rendah hati, persis seperti pesan doa yang diajarkan oleh Allah SWT kepada Nabi Musa AS di atas. Logikanya begini, kalau sifat rendah hati datang, maka segala bentuk kesombongan dan arogansi pasti menghilang. Wallahu a`lam.

Oleh Dr A Ilyas Ismail
Tulisan ini telah dimuat di Republika cetak dengan judul Kesombongan Intelektual
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/09/20/lrtvu7-nabi-musa-pernah-ditegur-karena-lakukan-kesombongan-intelektual