Wednesday, June 22, 2011

Keperluan yang Makin Mendesak

Pada suatu malam seorang penguasa tiran Turkistan sedang mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh seorang darwis, namun tiba-tiba ia bertanya tentang Khidir.

"Khidir," kata darwis itu, "Datang kalau diperlukan. Tangkaplah, jubahkan kalau ia muncul, dan segala pengetahuan menjadi milik Paduka."

"Apakah itu bisa terjadi atas siapa pun?"

"Siapa pun bisa," kata darwis itu.

"Siapa pula lebih 'bisa' dariku?" pikir Sang Raja. Dan ia mengeluarkan pengumuman: "Siapa yang bisa menghadirkan Khidir yang gaib di hadapanku, akan kujadikan orang kaya."

Seorang lelaki miskin dan tua yang bernama Bakhtiar Baba, setelah mendengar pengumuman itu, menyusun akal. Katanya kepada istrinya, "Aku punya rencana. Kita akan segera kaya, tetapi beberapa lama kemudian aku harus mati. Namun itu tak apalah, sebab kekayaan kita akan bisa menghidupimu seterusnya."

Kemudian Bakhtiar menghadap raja dan mengatakan bahwa ia akan mencari Khidir dalam waktu empat puluh hari, kalau raja bersedia memberinya seribu keping uang emas.

"Kalau kau bisa menemukan Khidir," kata Raja, "Kau akan mendapat sepuluh kali
seribu keping uang emas ini. Kalau gagal, kau akan mati, dipancung di tempat ini sebagai peringatan kepada siapa pun yang akan mencoba mempermainkan rajanya."

Bakhtiar menerima syarat itu. Ia pun pulang dan memberikan uang itu kepada istrinya, sebagai jaminan hari tuanya. Sisa hidupnya yang tinggal empat puluh hari itu dipergunakannya untuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain.

Pada hari keempat puluh ia menghadap raja. "Yang Mulia," katanya, ”Kerakusanmu telah menyebabkanmu berpikir bahwa uang akan bisa mendatangkan Khidir. Tetapi Khidir, kata orang, tidak akan muncul oleh panggilan yang berdasarkan kerakusan."

Sang Raja sangat marah. "Orang celaka, kau telah mengorbankan nyawamu; siapa pula kau ini berani mencampuri keinginan seorang raja?"

Bakhtiar berkata, "Menurut dongeng, semua orang bisa bertemu Khidir, tetapi pertemuan itu hanya akan ada manfaatnya apabila maksud orang itu benar. Mereka bilang, Khidir akan menemui orang selama ia bisa memanfaatkan saat kunjungan
itu. Itulah hal yang kita tidak menguasainya."

"Cukup ocehan itu," kata Sang Raja, "Sebab tak akan memperpanjang hidupmu. Hanya tinggal meminta para menteri yang berkumpul di sini agar memberikan nasehatnya tentang cara yang terbaik untuk menghukummu."

Ia menoleh ke Menteri Pertama dan berkata, "Bagaimana cara orang itu mati?"

Menteri Pertama menjawab, "Panggang dia hidup-hidup, sebagai peringatan!"

Menteri Kedua, yang berbicara sesuai urutannya berkata, "Potong-potong tubuhnya, pisah-pisahkan anggota badannya!"

Menteri Ketiga berkata, "Sediakan kebutuhan hidup orang itu, agar ia tidak lagi mau menipu demi kelangsungan hidup keluarganya."

Sementara pembicaraan itu berlangsung, seorang bijaksana yang sudah sangat tua memasuki ruang pertemuan. Orang itu mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi dalam dirinya.

"Apa maksudmu?" tanya Raja.

"Maksudku,” kata orang itu, “Menteri Pertama itu aslinya tukang roti, jadi ia berbicara tentang panggang-memanggang. Menteri Kedua dulu tukang daging, jadi ia bicara tentang potong-memotong daging. Menteri Ketiga, yang telah mempelajari ilmu kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini.”

“Catat dua hal ini. Pertama, Khidir muncul melayani setiap orang sesuai dengan kemampuan orang itu untuk memanfaatkan kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang ini yang kuberi nama Baba karena pengorbanannya, telah didesak oleh keputus-asaan untuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakin mendesak sehingga aku pun muncul di depanmu."

Ketika orang-orang memerhatikannya, orang tua yang bijaksana itu pun lenyap begitu saja. Maka, mereka pun memastikan bahwa orang tua tersebut adalah Khidir.

Sesuai dengan yang diperintahkan Khidir. Raja memberikan belanja teratur kepada Bakhtiar. Menteri Pertama dan kedua dipecat, dan seribu keping uang emas itu dikembalikan ke kas kerajaan oleh Bakhtiar dan istrinya.

Catatan
Konon, Bakhtiar Baba adalah seorang sufi bijaksana yang hidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di Khurasan, sampai peristiwa yang ada dalam kisah itu terjadi.

Kisah ini, dikatakan juga terjadi atas sejumlah besar Syekh sufi lain, menggambarkan pengertian tentang terjalinnya keinginan manusia dengan "makhluk" lain. Khidir merupakan penghubung antara keduanya.

Judul ini diambil dari sebuah sajak terkenal karya Jalaludin Rumi:
Peralatan baru bagi pemahaman akan ada apabila keperluanmenuntutnya.
Karenanya, O manusia, jadikan keperluanmu makin mendesak,
sehingga kau bisa mendesakkan pemahamanmu lebih peka lagi.

Sumber: Kisah-Kisah Sufi oleh Idries Shah
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/11/06/16/lmw5ux-kisah-bijak-para-sufi-keperluan-yang-makin-mendesak

Mimpi dan Sepotong Roti

Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.

Setelah berhari-hari lamanya mereka menyadari bahwa yang mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak memakan dan meminum bekal tersebut. Karena tidak berhasil mencapai kesepakatan, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga. Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.

Malam pun turun, salah seorang mengusulkan agar tidur saja. Kalau besok mereka bangun, orang yang telah mendapatkan mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan.

Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari terbit.

"Inilah mimpiku," kata yang pertama. "Aku berada di tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang
berkata kepadaku, 'Kau berhak makan makanan itu, sebab kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas mendapat pujian."

"Aneh sekali," kata musafir kedua. "Sebab dalam mimpiku, aku jelas-jelas melihat segala masa lampau dan masa depanku. Dalam masa depanku, kulihat seorang lelaki maha tahu berkata, 'Kau berhak akan makanan itu lebih dari kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia."

Musafir ketiga berkata, "Dalam mimpiku aku tak melihat apa pun, tak berkata apa pun. Aku merasakan suatu kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti dan air itu, lalu memakannya di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan semalam."

Catatan
Kisah ini dianggap salah satu karya Syah Mohammad Gwath Syatari, yang meninggal tahun 1563. Ia menulis risalah terkenal, Lima Permata, yang menggambarkan cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia dalam terminologi sihir dan tenaga gaib, yang didasarkan pada model-model kuno. Ia merupakan guru yang telah melahirkan lebih dari 14 kaum dan sangat dihargai oleh Maharaja India, Humayun.

Meskipun dipuja-puja beberapa kalangan sebagai orang suci, beberapa tulisannya dianggap oleh golongan pendeta menyalahi aturan suci, dan oleh karenanya mereka menuntutnya agar dihukum. Ia akhirnya dibebaskan dari tuduhan murtad, karena hal-hal yang dikatakan dalam keadaan pikiran yang istimewa tidak bisa dinilai dengan ukuran pengetahuan biasa. Makamnya di Gwalior merupakan tempat ziarah sufi yang sangat penting.

Sumber: Kisah-Kisah Sufi karya oleh Idries Shah
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/11/06/21/ln551x-kisah-bijak-para-sufi-mimpi-dan-sepotong-roti

Thursday, June 16, 2011

Jenazah Berubah Menjadi Babi Hutan

Seorang anak mendatangi Rasulullah saw sambil menangis. Peristiwa itu sangat mengharukan Rasulullah yang sedang duduk bersama para sahabat yang lain.

"Mengapa engkau menangis wahai anakku?" tanya Rasulullah.

"Ayahku telah meninggal tetapi tidak ada seorang pun yang datang melayat. Aku tidak mempunyai kain kafan. Siapa yang akan memakamkan ayahku dan siapa pula yang akan memandikannya?" tanya anak itu.

Rasulullah saw segera memerintahkan Abu Bakar dan Umar untuk menjenguk jenazah itu. Betapa terperanjatnya Abu Bakar dan Umar melihat mayat itu berubah wujud menjadi seekor babi hutan. Kedua sahabat itu lalu segera kembali melapor kepada Rasulullah saw.

Lantas, Rasulullah saw datang sendiri ke rumah anak itu. Jenazah tersebut didoakan kepada Allah swt sehingga babi hutan itu kembali berubah wujud menjadi manusia. Kemudian Nabi menyembahyangkannya dan meminta sahabat untuk memakamkannya. Betapa herannya para sahabat, saat akan dimakamkan jenazah itu ternyata berubah kembali menjadi babi hutan.

Melihat kejadian itu, Rasulullah saw menanyakan kepada anak itu apa yang dikerjakan oleh ayahnya selama hidup di dunia.

"Ayahku tidak pernah mengerjakan sholat selama hidupnya." jawab anak itu.

Kemudian Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya, "Para sahabat, lihatlah sendiri. Begitulah akibatnya bila meninggalkan sholat selama hidupnya. Ia akan menjadi babi hutan di hari kiamat."

Subhanallaah... Naudzubillaahi min dzalik!

Sumber : Buku "The Secret Kisah-Kisah Teladan" oleh Abdul Aziz Saefudin

Kisah Abu Nawas Mati

Baginda Raja pulang ke istana dan langsung memerintahkan para prajuritnya menangkap Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas telah hilang entah kemana karena ia tahu sedang diburu para prajurit kerajaan. Dan setelah ia tahu para prajurit kerajaan sudah meninggalkan rumahnya, Abu Nawas baru berani pulang ke rumah.

“Suamiku, para prajurit kerajaan tadi pagi mencarimu.”

“Ya istriku, ini urusan gawat. Aku baru saja menjual Sultan Harun Al Rasyid menjadi budak.”

“Apa?”

“Raja kujadikan budak!”

“Kenapa kau lakukan itu suamiku.”

“Supaya dia tahu di negerinya ada praktek jual beli budak. Dan jadi budak itu sengsara.”

“Sebenarnya maksudmu baik, tapi Baginda pasti marah. Buktinya para prajurit diperintahkan untuk menangkapmu.”

“Menurutmu apa yang akan dilakukan Sultan Harun Al Rasyid kepadaku.”

“Pasti kau akan dihukum berat.”

“Gawat, aku akan mengerahkan ilmu yang kusimpan,”

Abu Nawas masuk ke dalam, ia mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat dua rakaat. Lalu berpesan kepada istrinya apa yang harus dikatakan bila Baginda datang.

Tidak berapa lama kemudian tetangga Abu Nawas geger, karena istri Abu Nawas menjerit-jerit.

“Ada apa?” tanya tetangga Abu Nawas sambil tergopoh-gopoh.

“Huuuuuu …. suamiku mati….!”

“Hah! Abu Nawas mati?”

“lyaaaa….!”

Kini kabar kematian Abu Nawas tersebar ke seluruh pelosok negeri. Baginda terkejut. Kemarahan dan kegeraman beliau agak susut mengingat Abu Nawas adalah orang yang paling pintar menyenangkan dan menghibur Baginda Raja.

Baginda Raja beserta beberapa pengawai beserta seorang tabib (dokter) istana, segera menuju rumah Abu Nawas. Tabib segera memeriksa Abu Nawas. Sesaat kemudian ia memberi laporan kepada Baginda bahwa Abu Nawas memang telah mati beberapa jam yang lalu.

Setelah melihat sendiri tubuh Abu Nawas terbujur kaku tak berdaya, Baginda Raja marasa terharu dan meneteskan air mata. Beliau bertanya kepada istri Abu Nawas.

“Adakah pesan terakhir Abu Nawas untukku?”

“Ada Paduka yang mulia.” kata istri Abu Nawas sambil menangis.

“Katakanlah.” kata Baginda Raja.

“Suami hamba, Abu Nawas, memohon sudilah kiranya Baginda Raja mengampuni semua kesalahannya dunia akhirat di depan rakyat.” kata istri Abu Nawas terbata-bata.

“Baiklah kalau itu permintaan Abu Nawas.” kata Baginda Raja menyanggupi.

Jenazah Abu Nawas diusung di atas keranda. Kemudian Baginda Raja mengumpulkan rakyatnya di tanah lapang. Beliau berkata, “Wahai rakyatku, dengarkanlah bahwa hari ini aku, Sultan Harun Al Rasyid telah memaafkan segala kesalahan Abu Nawas yang telah diperbuat terhadap diriku dari dunia hingga akhirat. Dan kalianlah sebagai saksinya.”

Tiba-tiba dari dalam keranda yang terbungkus kain hijau terdengar suara keras, “Syukuuuuuuuur …… !”

Seketika pengusung jenazah ketakukan, apalagi melihat Abu Nawas bangkit berdiri seperti mayat hidup. Seketika rakyat yang berkumpul lari tunggang langgang, bertubrukan dan banyak yang jatuh terkilir. Abu Nawas sendiri segera berjalan ke hadapan Baginda. Pakaiannya yang putih-putih bikin Baginda keder
juga.

“Kau… kau…. sebenarnya mayat hidup atau memang kau hidup lagi?” tanya Baginda dengan gemetar.

“Hamba masih hidup Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengampunan Tuanku.”

“Jadi kau masih hidup?”

“Ya, Baginda. Segar bugar, buktinya kini hamba merasa lapar dan ingin segera pulang.”

“Kurang ajar! Ilmu apa yang kau pakai Abu Nawas?

“Ilmu dari mahaguru sufi guru hamba yang sudah meninggal dunia…”

“Ajarkan ilmu itu kepadaku…”

“Tidak mungkin Baginda. Hanya guru hamba yang mampu melakukannya. Hamba tidak bisa mengajarkannya sendiri.”

“Dasar pelit !” Baginda menggerutu kecewa.

http://tasawuf.blog.com/2010/05/kisah-abu-nawas-mati/

Wednesday, June 15, 2011

Lima Hak Al-Qur'an

“Ki, bukankah Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi kita ki?” Tanya Maula.

“Benar Nak Mas, bahkan dengan tegas Al-Qur’an menyatakan bahwa ‘tidak ada keraguan di dalamnya’ sebagai petunjuk orang-orang mutaqin.” Jawab Ki Bijak, sambil mengutip ayat Al-Qur’an.

"Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa."(QS. Al-Baqarah [2] : 2)

“Lalu kenapa masih banyak orang yang membaca Al-Qur’an, tapi masih banyak di antara kita yang masih kelimpungan mencari petunjuk lain selain Al-Qur’an, apanya yang salah ki?” Tanya Maula.

“Tidak ada yang salah bagi kita yang rajin dan pandai membaca Al-Qur’an, dan jika kita belum menemukan Al-Qur’an sebagai petunjuk, itu karena kita belum menunaikan hak-hak Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.

“Hak-hak Al-Qur’an ki?” Tanya Maula

“Benar Nak Mas, kadang kita terlalu sibuk menuntut Al-Qur’an sebagai ini dan itu, sementara hak-nya tidak pernah kita hiraukan.”

“Al-Qur’an juga mempunyai hak atas kita, yang jika hak-hak Al-Qur’an itu kita tunaikan, insya Allah, kita akan benar-benar mendapati Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kita, bahkan lebih dari itu, Al-Qur’an akan menjadi rahmat dan pemberi syafaat bagi kita di yaumil akhir nanti.” Sambung Ki Bijak.

“Apa saja hak-hak Al-Qur’an atas kita ki?” Tanya Maula.

“Setidaknya ada lima hak Al-Qur’an yang harus kita tunaikan, yang pertama, hak Al-Qur’an atas kita adalah dibaca sesuai dengan ketentuan tajwid dan mahroj-nya.” Kata Ki Bijak.

“Alhamdulillah, kalau sekarang ini banyak metode pembelajaran Al qu’ran yang bagus, yang bisa dengan cepat mengajar kita untuk bisa baca Al-Qur’an, hanya kadang sebagian kita kurang terlalu peduli dengan kaidah-kaidah baca Al-Qur’an yang benar, sehingga keagungan bacaan Al-Qur’an sebagai kalam ilahi, menjadi kurang tampak, dan bahkan bagi sebagian orang, membaca Al-Qur’an tidak lebih penting dari membaca koran, ini yang harus kita perbaiki, sebagai salah satu langkah kita untuk memenuhi hak Al-Qur’an atas kita, baca Al-Qur’an sesuai dengan ketentuan dan kaidahnya.” Kata Ki Bijak.

“Lalu hak Al-Qur’an yang kedua atas kita apa ki?” Tanya Maula.

“Setelah kita bisa membaca Al-Qur’an, maka akan timbul hak Al-Qur’an yang kedua, yaitu memahami artinya, baik arti secara harfiah, maupun arti maknawi (tafsir)-nya.” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat, apa saja yang terkandung dalam Al-Qur’an?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki, secara garis besar, Al-Qur’an mengandung pelajaran ketauhidan, kisah-kisah bangsa terdahulu serta hukum-hukum atau syari’at.” Jawab Maula,

“Karenanya, kita harus benar-benar memahami apa arti bacaan Al-Qur’an, agar kita bisa melaksanakan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an serta menjauhi apa yang dilarang Allah seperti tercantum dalam ayat-ayat Al-Qur’an,”

“Atau bagaimana mungkin kita bisa menjadikan kisah-kisah bangsa terdahulu yang diterangkan Al-Qur’an sementara kita tidak mengetahui apa yang dikatakan Al-Qur’an? untuk itulah kewajiban kita terhadap Al-Qur’an adalah mengerti dan memahami arti dan maknanya.” Kata Ki Bijak.

Maula manggut-manggut mendengar penjelasan gurunya, “Yang ketiga ki?” Tanyanya kemudian.

“Hak Al-Qur’an yang ketiga adalah dihapal.” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas masih ingat dengan hadits yang menunjukan keistimewaan orang yang hapal Al-Qur’an?” Tanya Ki Bijak.

“Ya ki, dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata, ‘Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hapalan Al-Quran mereka. Setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hapalan Al-Qur’an-nya’,”

“Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah SAW, ‘Berapa banyak Al-Qur’an yang telah engkau hapal, hai fulan?’ ia menjawab, ‘aku telah hapal surah ini dan surah ini, serta surah Al-Baqarah.’ Rasulullah SAW kembali bertanya, ‘Apakah engkau hapal surah Al-Baqarah?’ Ia menjawab, ‘Betul.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!’.” Kata Maula mengutip sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmizi.

“Benar Nak Mas, itu salah satunya, dan masih banyak lagi hadits yang menyatakan betapa orang yang di dalam dadanya hapal Al-Qur’an, mendapat kehormatan di sisi Allah dan Rasul-Nya, seperti sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Penghapal Al-Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al-Quran akan berkata, “Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia,” kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al-Quran kembali meminta, “Wahai Tuhanku tambahkanlah,” maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al-Quran memohon lagi, “Wahai Tuhanku, ridhailah dia,” maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, “bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga),” dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nimat dan kebaikan’.” Kata Ki Bijak.

“Selanjutnya, Al-Qur’an mempunyai hak atas kita untuk diamalkan, bacaan yang bagus, pemahaman arti yang baik, dan hapalan yang banyak, tidak boleh lantas menjadikan kita bangga diri, karena bacaan, arti dan hapalan yang tidak disertai dengan pengamalan yang baik dan benar, laksana pohon rindang tanpa buah, tak banyak memberikan manfaat pada orang yang memilikinya.” Kata Ki Bijak.

“Bahkan menurut hemat Aki, pengamalan nilai-nilai yang terkadung dalam Al-Qur’an merupakan hal terpenting dalam upaya kita memenuhi hak-hak Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak lagi.

“Ki, kalau ada orang yang sudah mengamalkan Al-Qur’an, tapi tidak bisa membaca Al-Qur’an bagaimana ki?” Tanya Maula.

“Benar, ada orang yang sudah mengamalkan Al-Qur’an meski ia tidak bisa membacanya, tapi itu sama sekali tidak berarti menggugurkan kewajibannya untuk belajar membaca Al-Qur’an, belajar memahami artinya, belajar menghapalnya, karena kewajiban tetaplah kewajiban, yang harus ditunaikan, dan insya Allah, mereka yang sudah melaksanakan hukum-hukum Al-Qur’an sebelum bisa membacanya, akan menjadi lebih baik lagi pengamalan Al-Qur’anya kalau ditambah dengan membaca, mengerti dan menghapal Al-Qur’an dengan baik.” kata Ki Bijak.

“Selanjutnya, mengajarkan Al-Qur’an juga merupakan sebuah kewajiban kita terhadap Al-Qur’an yang harus kita laksanakan, ajarkan apa yang kita mampu, walaupun hanya satu ayat.” Kata Ki Bijak.

“Buah yang matang dan ranum, tidak akan dapat dirasakan manis dan nikmatnya jika hanya dibiarkan menggantung diketinggian pohonnya, untuk itu, buah itu harus kita petik dan kita sampaikan, agar orang lain bisa menikmati manis dan lezatnya buah yang kita hasilkan.” Kata Ki Bijak.

“Ki, setelah mendengar penjelasan Aki tadi, ana merasa, ana masih punya banyak ‘hutang’ terhadap Al-Qur’an ki, bacaan Al-Qur’an ana masih banyak kurangnya, pemahaman ana terhadap Al-Qur’anpun masih sedemikian dangkal, apalagi menghapal dan mengamalkannya, ana merasa masih sangat-sangat jauh ki.” Kata Maula.

“Aki-pun demikian Nak Mas, masih banyak hak-hak Al-Qur’an yang belum bisa Aki penuhi seluruhnya, tapi setidaknya mulai sekarang, marilah kita kembali buka dan pelajari lagi Al-Qur’an, agar kita tidak termasuk orang yang dianggap lalai dalam memenuhi kewajiban kita terhadap Al-Qur’an.” kata Ki Bijak merendah.

“Ki, adakah kiat yang bisa ana pakai untuk bisa belajar Al-Qur’an dengan benar ki.” Tanya Maula.

“Setiap orang, memiliki cara dan kekhususan tersendiri dalam mempelajari Al-Qur’an, setiap orang mungkin berbeda cara belajarnya, namun setidaknya kita harus memiliki beberapa hal mendasar sebagai modal kita untuk belajar Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.

“Apa saja modal dasar itu, ki?” Tanya Maula.

“Pertama, Niat dan komitmen yang kuat, niatkan belajar kita lillahi ta’ala, hanya semata karena mengharap ridha-Nya, kemudian, tanamkan dalam diri kita sebuah komitmen yang tinggi untuk benar-benar belajar dan mempelajari Al-Qur’an.”

“Kedua, tanamkan selalu sifat rendah hati, sifat tawadlu, agar kita tidak cepat merasa bosan atau cepat merasa puas dengan apa yang telah kita pelajari.”

“Ketiga, belajarlah terus menerus dengan penuh kesungguhan.”

“Keempat, amalkan apa yang sudah kita pelajari, misalkan kita sudah belajar baca bismillah, pahami apa arti dan makna yang terkandung didalamnya, kemudian amalkan dalam keseharian kita, bahwa tidak ada satupun aktivitas kita yang lepas dari memohon pertologan kepada Allah, yaitu dengan membaca Bismilllah.”

“Selanjutnya, untuk membantu proses belajar kita, ajarkan apa yang sudah kita pahami, proses ini akan membantu ingatan kita terhadap apa yang telah kita dapat, dengan mengajarkan, secara otomatis kita selalu mengulang-ulang pelajaran yang sama, sehingga tingkat pemahaman dan belajar kita insya Allah menjadi lebih baik.”

“Kemudian, kalau lima proses diatas sudah kita lakukan dengan benar, maka kita akan memiliki karakter.” kata Ki Bijak

“Apa cirinya kita sudah memiliki karakter ki?” Tanya Maula

“Cirinya, kita akan merasa rugi kalau sehari saja kita tidak baca Al-Qur’an,kita akan merasa kehilangan, kalau sehari saja kita tidak buka Al-Qur’an, atau kita akan merasa bersedih karena kehilangan momentun belajar Al-Qur’an, setiap hari, setiap saat dan setiap detik, orang yang memiliki karakter ini akan menunjukan semangat dan keinginan yang kuat untuk belajar Al-Qur’an.” Kata Ki Bijak.

“Alangkah bahagianya mereka yang sudah memiliki karakter seperti itu ya ki.” Kata Maula.

“Ya, berbahagialah orang yang memiliki karakter positif seperti itu, sebaliknya kita mesti berhati-hati kalau justru karakter negatif secara tidak sengaja menempel pada diri kita.” Kata Ki Bijak.

“Contohnya apa ki?” Tanya Maula.

“Menunda waktu shalat, kadang juga merupakan menjadi ciri atau karakter seseorang, sehingga kalau ia shalat tepat waktu, malah merasa rugi dan terganggu.”

“Kemudian lagi kebiasaan mencela, juga bisa jadi karakter seseorang, sehingga kalau belum mencela, rasanya gatal, dan lain sebagainya.” Kata Ki Bijak memperingatkan Maula untuk berhati-hati.

“Ya ki, semoga ana bisa memiliki karakter positif dan semoga pula ana terhindar dari karakter negatif tadi ya ki.” Kata Maula.

“Semoga Nak Mas.” Kata Ki Bijak.

Wassalam.

Abu Maulana
http://bahasahati.blogspot.com/
http://www.eramuslim.com/kisah/lima-hak-al-qur-an.htm

Amal Sedikit, Sedang, Banyak... Semua Menyesal

Di sebuah desa terpencil, di tepi hutan di lembah yang hijau hiduplah sekelompok masyarakat yang mempunyai mata pencaharian bertani dan berdagang. Ketika itu hari pasar sedang berlangsung di desa tersebut dan ramai dikunjungi baik dari penduduk setempat maupun dari desa lainnya. Di antara keramaian pasar ada tiga pemuda yang sedang menjajakan dagangannya yaitu kayu bakar yang mereka bawa dari hutan. Mereka adalah Umar, Abu, Abbas.

KEGIATAN sehari-hari mereka adalah mencari kayu bakar di hutan lalu dijualnya ke pasar. Pekerjaan ini mereka lakukan tanpa pernah melirik pada pekerjaan lain, barangkali kodrat Ilahi sudah menentukan demikian. Ketiga pemuda sebaya itu sangat akrab satu sama lainnya, walaupun begitu ketiganya mempunyai perangai berbeda.

Umar berperangai sabar, tekun dalam beribadah dan suka bekerja keras. Setelah Sholat Shubuh di saat matahari belum terbit, ia sudah pergi menjemput kedua temannya yang masih terlelap untuk mengajak pergi mencari kayu bakar. Abu, kadang mengerjakan sholat Shubuh kadang tidak. Abbas, adalah tipe pemalas yang susah bangun pagi. Kadang ia ditinggal saja oleh kedua temannya, karena ia selalu beralasan, ”Aku masih ngantuk nih. Duluan saja, nanti aku akan menyusul.”

Umar memperlihatkan rasa kasih sayang kepada semua orang. Ia sangat menyayangi saudara dan kedua orangtuanya. Ia juga menyayangi orang-orang di sekililingnya. Ia akan segera membantu mereka yang perlu bantuannya. Temannya, Abu, sikapnya biasa-biasa saja. Ia tidak terlalu antusias dengan lingkungannya. Jika ia di ajak Umar untuk membantu masyarakat yang meminta bantuan, barulah ia pergi membantu. Tapi Abbas, adalah pemuda yang cuek. Ia merasa tidak harus banyak membantu orang lain, karena menurutnya ia adalah orang miskin yang perlu bantuan orang lain juga. Terhadap keluarganya pun ia tidak punya perhatian. Ia lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri.

Begitulah, ketiga sahabat itu memang beda, walaupun begitu tetap saja mereka selalu bersama. Sampai suatu ketika mereka sepakat untuk pergi ke hutan di sebelah barat dengan harapan bisa mendapatkan kayu-kayu bakar yang lebih baik kualitasnya dan lebih banyak dari yang biasa mereka dapatkan.

Seperti biasa setelah Sholat Shubuh, hari masih gelap, Umar menjemput kedua temannya. Kemudian ketiganya berangkat menuju hutan sebelah barat. Perjalanan kali ini cukup jauh, harus melewati sungai, lembah, dan bukit-bukit terjal di pegunungan. Menjelang siang hari sampailah mereka di suatu tempat yang banyak kayu bakarnya. Kemudian mereka mulai mengumpulkan kayu bakar dan mengikatnya.

Ketika mereka sedang asyik mengumpulkan kayu-kayu bakar tiba-tiba hujan turun sangat deras disertai dengan petir yang bersahutan. Ketiganya sangat bingung dan ketakutan, mereka lalu berlari mencari tempat berteduh.

Umar melihat sebuah gua, kemudian ia berteriak kepada kedua temannya untuk berteduh di sana. Mereka pun masuk ke dalam gua yang gelap gulita itu. Di dalam gua, mereka tidak melihat apa-apa di sekelilingnya. Seakan-akan mata mereka buta. Ketiganya pun berjalan perlahan. Tiba-tiba mereka menginjak benda-benda halus licin seperti kerikil. Bersamaan dengan itu mereka di kejutkan dengan sebuah suara yang menggema ke seluruh ruangan gua. “Siapa yang mengambil akan menyesal. Siapa yang tidak akan mengambil akan menyesal.”

Ketiganya mendengar suara itu berulang-ulang hingga lama-lama menghilang. Kemudian Umar, Abu dan Abbas memutar otaknya untuk mencari keuntungan dari suara gaib itu. “Apakah yang akan diambil? Ada apa di dalam gua ini?” begitu pikir mereka. Tetapi mereka rasakan hanyalah kerikil-kerikil kecil yang mereka injak.

Umar berkata dalam hatinya,”Kalau saya ambil, saya akan menyesal, kalau tidak saya ambil, saya juga akan menyesal. Ah, lebih baik ambil saja yang banyak.” Ia pun langsung memenuhi semua kantong baju dan celana dengan kerikil-kerikil itu.

Abu pun berpikiran sama, tapi ia hanya mengambil kerikil-kerikil itu segenggam. Sebaliknya, Abbas malah tidak mau mengambil barang sedikitpun. “Kalau sama-sama menyesal lebih baik tidak aku ambil” pikirnya.

Ketiganya pun membisu. Mereka masih ketakutan. Kemudian Umar mengajak kedua temannya untuk keluar dari gua. Mereka pun berlari keluar. Tanpa terasa mereka berlari terus, menjauh dari gua. Dengan napas terengah-engah akhirnya mereka berhenti. Tidak terasa ternyata hujan juga sudah reda. Ketiganya lalu ingin membuktikan apa sebetulnya yang telah mereka ambil dari gua. Betapa terperanjatnya mereka bertiga ketika mengetahui bahwa kerikil-kerikil itu ternyata adalah berlian!!

Umar sudah mengantongi banyak berlian merasa menyesal,”Waduh! Kalau saja aku tahu ini berlian, aku akan mengambilnya lebih banyak lagi. Kalau perlu akan kubuka bajuku untuk mengantongi berlian-berlian itu sebanyak-banyaknya.” Abu juga sangat menyesal karena hanya mengambil segenggam. Sedangkan Abbas, tubuhnya langsung lemas ketika mengetahui kedua temannya mendapat berlian. Ia sendiri tidak mendapat apa-apa. “Ohh, kenapa tadi aku tidak mengambil barang sedikit saja,” ia pun jatuh pingsan dengan sejuta penyesalan.

Setelah Abbas siuman, ketiganya bersepakat untuk mendatangi gua itu kembali. Dengan semangat, Abbas langsung mengosongkan isi tasnya, diikuti oleh Umar dan Abu. Ketiganya berharap begitu mereka sampai di gua kembali mereka akan mengambil berlian-berlian itu sebanyak-banyaknya. Tapi, setelah mereka sampai di sana ternyata mulut gua sudah tertutup dengan sebuah batu besar. Mereka berusaha untuk membukanya tapi sia-sia. Mereka pun pulang dalam keadaan menyesal karena tidak dapat memperoleh berlian yang lebih banyak lagi.

Bagitulah gambaran pengamalan manusia di dunia. Dan buah dari pengamalan itu kelak akan diperoleh di akhirat. Berlian itu menggambarkan amalan-amalan baik. Di hari pembalasan semua manusia akan menyesal demi melihat pahala yang diberikan Alloh begitu banyak. Yang beramal banyak akan menyesal kenapa ia tidak beramal lebih banyak lagi. Yang beramal sedikit menyesal kenapa hanya beramal sedikit. Apalagi yang tidak beramal, akan menjadi penyesalan yang tiada habisnya.

Gua menggambarkan dunia di mana belum bisa dibedakan antara orang yang beramal banyak, sedikit maupun tidak beramal sama sekali sebab balasannya belum kelihatan. Sedangkan gua yang tertutup menggambarkan kematian. Jika kematian sudah tiba, penyesalan datang. Namun penyesalan tinggal penyesalan, yang sudah mati tidak akan bisa kembali lagi ke dunia.

Rosululloh SAW telah bersabda :

“Tidak ada dari seseorang yang telah mati kecuali dia akan menyesal. Sahabat nabi bertanya: mengapa dia menyesal wahai Rosululloh? Nabi Menjawab: Jika dia orang yang beramal baik, dia akan menyesal mengapa tidak menambah amal kebaikannya (ketika di dunia), dan jika dia orang yang beramal jelek, dia menyesal mengapa tidak mencabut (bertaubat) atas amal jeleknya (ketika di dunia).”

SUMBER : HR TIRMIDZI DAN HR BAIHAQI
http://ponpesgama.blogspot.com/2011/02/kisah-inspiratif-amal-sedikit-sedang.html

Asghor dan Akbar si Penyembah Api

Asghor dan Akbar adalah dua orang majusi yang hidup pada zaman Malik bin Dinar. Mereka adalah orang-orang yang menyembah api. Asghor yang muda telah menyembah api selama 35 tahun. Sedangkan Akbar yang umurnya jauh lebih tua, telah menyembah api selama 73 tahun. Suatu hari Asghor berkata kepada Akbar. “Kita telah menyembah api selama puluhan tahu. Marilah kita coba menguji apakah api ini membakar kita seperti ia membakar orang lain yang tidak menyembahnya. Bila ternyata memang kita tidak terbakar olehnya, maka baiklah kita teruskan menyebahnya untuk selama-lamanya”.

“Saya setuju dengan gagasanmu itu. Marilah kita coba," jawab Akbar. “Idemu itu sangat bagus,” katanya lagi.

Maka keduanya menyalakan api.

“Apakah engkau yang lebih dahulu meletakkan tanganmu ke atas api itu ataukah saya?” tanya Asghor.

“Engkau lebih dahulu..." jawab Akbar.

Asghor meletakkan tangannya di atas api yang sedang menyala itu. Ternyata api itu tetap membakar tangannya. Panasnya tidak berkurang sedikit pun. Dengan mengaduh kesakitan, Asghor menarik tangannya dari api seraya berkata: “Wahai api! Aku telah menyembahmu sekian lama, telah puluhan tahun tidak berhenti. Tapi mengapa engkau membakar tanganku, sehingga menjadi sakit begini?”

Api tidak menjawab sepatah katapun pertanyaan Asghor. Kemudian Asghor berpaling pada sahabtnya Akbar, dan berkata, “Rupanya sia-sia saja kita menyembah api ini. Tetap saja ia tidak mengubah sifatnya dari membakar. Ia tidak membalas kebaikan kita selama ini. Saya kira lebih baik kita tinggalkan saja perbuatan kita untuk menyembah api ini lagi.”

“Tidak!. Aku tidak ingin meninggalkan keyakinanku ini. Aku tetap menyembahnya seumur hidupku." jawab Akbar.

“Apakah api tidak membakar tanganmu? Coba letakkan tanganmu pula di atasnya!”

“Memang, sekalipun tanganmu atau tanganku serta tangan siapa saja tentu akan dibakar oleh api, tapi aku telah menerima keyakinan ini dari nenek moyangku dahulu kala. Aku tidak mau mengubah keyakinanku yang sudah kupilih ini.” jawab Akbar.

Akhirnya terjadilah perpisahan antara dua sahabat itu. Asghor beserta keluarganya pindah menuju kepada Malik bin Dinar, seorang sultan yang sedang berkuasa saat itu. Diceritakannya kepada sultan tentang pengalamannya. Malik bin Dinar mengajaknya masuk Islam. Mulai saat itulah kemudian Asghor menyatakan diri islam setelah mengucapkan kalimah syahadat “asyhadu an laa ilaaha illalloh, wa asyhadu anna muhammadan rosululloh”. Mereka masuk Islam dengan kesadaran mereka sendiri tanpa paksaan.

Malik bin Dinar kemudian berkata kepada Asghor, “Marilah duduk di dekatku sini, bersama sahabat-sahabatku ini. Nanti akan aku kumpulkan uang dari saharat-sahabatku ini untukmu”.

“Tidak… aku tidak ingin uang itu. Aku masuk Islam bukanlah karena kemiskinan dan kemelaratan. Aku masuk Islam adalah karena kesadaran. Aku tidak membutuhkan uang yang tuan maksudkan itu. Aku masih cukup mempunyai bekal untuk hidup walaupun sederhana.” jawab Asghor.

Karena itu, Asghor diberi tempat disebuah rumah sederhana. Sebab gedung yang indah dan mewah pun ia tidak mau menerimanya. Di sanalah ia bersama keluarganya melakukan ibadah kepada Alloh SWT dan menjalankan ajaran-ajaran Islam. Suatu kali, pagi-pagi istrinya berkata, “Pergilah ke pasar, dan carilah pekerjaan, kemudian belilah makanan untuk kita bersama.”

Dengan tidak memberikan jawaban sepatah kata pun, Asghor pergi ke pasar dengan maksud mencari rizki. Di pasar ia mencari pekerjaan, tapi tak seorangpun yang mau menerimanya. Asgor berfikir dalam hati, "Lebih baik aku beramal untuk Alloh SWT dan aku percaya bahwa Dia itu Maha Kuasa dan Maha Pemurah.”

Sesudah mengucapkan perkataan itu, ia pun pergi ke masjid dan di situlah ia melakukan sholat sampai jauh malam. Kemudian ia pulang dengan tangan hampa. Sesampainya di rumah istrinya bertanya, “Tidak satu pun engkau bawa pulang? Dan engkau tidak mendapatkan pekerjaan”.

“Ada orang yang menjanjikan pekerjaan besok, dan besok pula ia menjanjikan upah dari pekerjaan itu.” jawab Asghor.

Besoknya kebetulan hari Jum’at. Pagi-pagi benar ia pergi ke pasar. Seperti hari kemarin, hari itu pun ia tidak mendapatkan pekerjaan. Karena hingga siang hari ia belum mendapatkan pekerjaan, ia kemudian menuju masjid untuk melakukan sholat Jum’at bersama-sama kaum muslimin. Di situ, ia menadahkan tangannya seraya memohon kepada Alloh SWT :

“Ya Alloh, demi kehormatan agama yang kupeluk ini, dan demi kehormatan hari yang mulia ini, aku berdo’a kepada Engkau, kiranya buanglah rasa gelisah dan sedih dari dalam hatiku, karena tak dapat memenuhi kehendak keluargaku. Aku malu sekali terhadap keluargaku, dan aku sangat khawatir, kalau-kalau mereka kembali memeluk agama Majuzi lagi, karena tak sanggup menahan derita kelaparan sejak memasuki agama suci-Mu ini.”

Sedangkan di rumah, saat istrinya menunggu kedatangan suaminya, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang ke rumahnya seraya mengetok pintunya.

Istrinya Asghor keluar menemui tamu iti. Ternyata yang datang itu seorang pemuda yang cukup tampan. Ditangannya sebuah pundi-pundi berisi penuh, kemudian berkata: “Terimahlah pundi-pundi ini dan beritahukan kepada suamimu, bahwa inilah upah (pahala) sholat yang dilakukan di masjid itu. Walaupun amalnya sedikit namun Alloh SWT memberi balasan yang cukup besar."

Pundi-pundi itu di diterima oleh istri Asghor dan kemudian dibukanya. Ternyata di dalamnya berisi 1000 dinar uang emas. Dicobanya mengambil sebuah dan dibawanya ke tukang emas, untuk ditimbang beratnya. Ternyata beratnya melebihi berat emas biasa. Tukang emas itu menjadi heran, kenapa bisa terjadi demikian. Lalu ia bertanya, “Darimana engkau peroleh dinar emas ini? Kenapa beratnya lebih dari yang biasa?”

Istri Asghor menceritakan semua kejadian yang telah terjadi. Dia bergembira sekali menerima rizki dari Alloh yang tak terduga-duga itu. Hilang rasa lapar bertukar dengan rasa syukur Alhamdulillah yang tak henti-hentinya.

Sedangkan Asghor setelah selesai sholat di masjid, ia lalu pulang ke rumah. Ia masih gelisah dan merasa malu karena harus pulang dengan tangan kosong. Untuk menghilangkan kekecewaan istrinya, Asghor kemudian menaruh debu dalam sorbannya. “Jika istriku nanti bertanya, akan kuberikan sorban ini dengan isinya.” Pikir Asghor dalam hati.

Namun ketika sampai di halaman rumahnya, ia mencium bau yang sedap dari makanan yang sedang dimasak istrinya. Maka ditaruhlah sorbannya itu di depan pintu lalu bergegas menemui astrinya seraya menanyakan apa yang dilihatnya. Mendengar cerita istrinya, Asghor bersyukur dan bersujud kepada Alloh untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepadanya.

Istrinya kemudian bertanya, “Apakah yang engkau bawa dalam sorban tadi?”

“Tidak usalah engkau menanyakan hal itu, saya tidak membawa apa-apa.” jawab Asghor.

Istrinya kemudian bergegas menuju ke depan rumahnya dan dibukanya serban yang tergeletak di depan pintu. Ternyata ketika dibuka, sorban itu berisi permata berlian yang banyak sekali jumlahnya.

Rasa bahagia pun menyelimuti hati semuanya. Keluarga Asghor kini hidup lebih dari kecukupan. Namun hal itu tidklah membuat mereka menjadi sombong. Mereka juga tidak lupa untuk mengeluarkan zakat dan bersedekah kepada fakir miskin di sekitarnya. Sehingga tidak hanya keluarganya saja yang merasa bahagia, namun juga para tetangganya. Mereka senang memiliki tetangga seperti Asghor. Meskipun ia kaya, namun juga berhati mulia dan dermawan.

Karena itu, benarlah apa yang sudah difirmankan Alloh SWT : “Barang siapa yang bertaqwa kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi jalan keluar (bagi kesulitan-kesulitan yang menimpanya). Dan memberinya rizqi dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”(QS. At-Tholaq ayat 2-3).

http://ponpesgama.blogspot.com/2011/02/kisah-inspiratif-asghor-dan-akbar-si.html