Friday, September 24, 2010

Berlomba dalam Kebaikan

Suatu ketika, usai mengimami shalat subuh, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, "Adakah di antara kalian yang berpuasa hari ini?"

Umar menjawab, "Semalam aku tak berniat berpuasa. Jadi hari ini aku tidak berpuasa."

Sementara Abu Bakar menjawab, "Aku berpuasa, Rasulullah. Aku sudah berniat sejak semalam."

Rasulullah bertanya lagi, "Adakah di antara kalian yang menjenguk orang sakit hari ini?"

Umar menjawab, "Aku di sini terus sejak kita melaksanakan shalat. Bagaimana aku menjenguk orang sakit?"

Sedangkan Abu Bakar menjawab, "Semalam aku mendengar Abdurrahman bin Auf sedang sakit. Untuk itu, sebelum datang ke masjid ini aku menyempatkan diri menjenguknya."

Rasulullah bertanya lagi, "Adakah di antara kalian yang hari ini sudah bersedekah?"

Umar menjawab, "Hari ini aku belum kemana-mana."

Sedangkan Abu Bakar menjawab, "Sebelum sampai di sini, aku tadi melihat pengemis. Kebetulan anakku membawa roti. Kuminta roti itu untuk kuberikan kepada pengemis itu."

Rasulullah kemudian berkata, "Berbahagialah Kau, Abu Bakar. Kau mendapatkan surga."

Umar menghela nafas seraya berkata, "Betapa indahnya surga."

Rasulullah tersenyum melihat Umar tampak kecewa karena tidak bisa berbuat kebaikan sebagaimana Abu Bakar. Rasulullah segera membesarkan hati Umar.

"Semoga Allah menyayangi Umar... Semoga Allah menyayangi Umar, meski segala kebaikan-kebaikan yang diinginkannya telah didahului Abu Bakar." kata Rasulullah.


Dalam kisah lain, suatu ketika Rasulullah memerintahkan kepada paa sahabatnya untuk menyedekahkan hartanya. Kali ini Umar bersedekah dalam jumlah banyak. Umar berpikir, jumlah itu pasti melebih jumlah yang akan disedekahkan Abu Bakar.

"Kau tidak menyisakan hartamu untuk keluarga?" tanya Rasulullah.

"Sudah," jawab Umar. "Aku sudah menyisakannya."

Giliran Abu Bakar. Abu Bakar pun ternyata bersedekah dalam jumlah yang tak kalah banyak. Rasulullah bertanya hal yang sama: apakah ia tidak menyisakan hartanya untuk keluarga?

Abu Bakar menjawab, "Untuk mereka aku menyisakan Allah dan Rasulullah."

Umar tampak merasa 'kalah'. "Sepertinya aku memang tidak akan pernah bisa unggul darimu dalam hal kebaikan sedikit pun." kata Umar kepada Abu Bakar.

Rahasia sukses

by Setitik Embun Inspirasi on Thursday, September 2, 2010 at 8:32am.

Suatu kali, ada seorang konglomerat dan pengusaha kaya. Hebatnya, kekayaannya itu menurut banyak pihak diperoleh benar-benar dari nol. Karena itu, apa yg dilakukannya mampu menginspirasi banyak orang. Suatu ketika, karena penasaran, ada seorang pemuda ingin belajar menimba pengalaman dari sang pengusaha. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya sang pemuda berhasil menemui si pengusaha sukses.

"Terimakasih Bapak mau menerima saya. Terus terang saya sangat ingin menimba pengalaman dari Bapak sehingga bisa sukses seperti Bapak," ujar pemuda itu.

Mendengar permintaan itu, sang pengusaha tersenyum sejenak. Kemudian, ia pun meminta anak muda tadi menengadahkan satu tangannya. Si pemuda pun terheran-heran. Namun, lantas si pengusahapun menjelaskan maksudnya. "Biar aku lihat garis tanganmu. Dan, simaklah baik-baik apa pendapatku tentangmu sebelum aku memberikan pelajaran seperti yg kamu minta," jawab pengusaha tsb.

Setelah menengadahkan kedua tangannya, si pengusaha pun berkata, "Lihatlah telapak tanganmu ini. Di sini ada beberapa garis utama yang menentukan nasib. Disana ada garis kehidupan. Kemudian, di sini ada garis rezeki dan ada pula garis jodoh. Sekarang, menggenggamlah. Dimana semua garis tadi?"

"Di dalam telapak tangan yang saya genggam." Jawab si pemuda yg penasaran.

"Nah, apa artinya itu? Hal itu mengandung arti, bahwa apapun takdir dan keadaanmu kelak, semua itu ada dalam genggamanmu sendiri. Kamu lihat bukan? Bahwa semua garis tadi ada di tanganmu. Dan, begitulah rahasia suksesku selama ini. Aku berjuang dan berusaha dengan berbagai cara untuk menentukan nasibku sendiri," terang si pengusaha.

"Kini coba lihat kembali genggamanmu. Bukankah masih ada garis yang tidak ikut tergenggam? Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu. Karena disanalah letak kekuatan Sang Maha Pencipta yang kita tidak akan mampu kita lakukan dan itulah bagiannya Tuhan."

"Genggam dan lakukan bagianmu dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh, dan serahkan kepada Allah bagian yang tidak mampu engkau lakukan!"

sumber: unknown

Ubahlah yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Seorang resepsionis hotel tua berusaha senantiasa memberikan pelayanan terbaik untuk tamu-tamunya. Selama bertahun-tahun bekerja, ia tidak pernah mendapatkan kenaikan jabatan atau gaji yang signifikan. Tetapi, itu semua tak menghentikannya untuk memberikan pelayanan terbaik dan tidak membuatnya putus asa. Dia menyadari bahwa kebaikan yang dilakukannya tidak akan pernah sia-sia. Tuhan pasti memperhatikannya. Ibarat investasi, ia pasti akan menikmati manfaatnya. Cepat atau lambat.

Hingga suatu ketika, dia mendapatkan sebuah undangan dan tiket untuk pergi ke New York dari seseorang yang mengaku mengenalnya. Setibanya di New York, dia dijemput oleh seorang pria tua. Mereka kemudian pergi ke sebuah perempatan jalan yang besar. Di sana pria tua itu menunuk sebuah bangunan mewah di hadapannya sambil berkata, "Itu adalah hotel yang saya bangun khusus untuk Anda. Saya ingin Anda menikmati bekerja di tempat yang baru ini dengan gaji sesuai yang Anda minta."

Si resepsionis terkejut, kemudian bertanya, "Siapa Anda? Kenapa Anda lakukan ini untuk saya?"

Pria tua itu menjawab, "Dua tahun yang lalu, saya dan istri menginap di hotel tempat Anda bekerja. Tetapi ternyata hotel Anda sudah penuh, sama seperti hotel-hotel lainnya di sana. Namun kemudian Anda memberikan saya kamar yang seharusnya menjadi jatah Anda untuk beristirahat malam itu. Anda memilih untuk tidur di sofa daripada membiarkan saya tidak memiliki tempat menginap."

"Saat itu saya berjanji pada diri saya sendiri: suatu saat nanti, saya akan membangun sebuah hotel untuk Anda."

Pria itu adalah William Astor. Hotel yang dibangunnya adalah Waldorf-Astoria Hotel yang pertama. Resepsionis itu bernama George C. Bold, yang akhirnya menjadi manajer pertama hotel tersebut.

Kebaikan yang dilakukannya membuahkan keberuntungan yang tidak diduga-duga. Keberuntungan yang amat berlipat ganda.

Hikmah yang bisa kita petik dari kisah ini adalah bahwa untuk mendapatkan yang lebih, berikanlah sesuatu yang lebih. Sekecil apa pun itu. Balasan atas kebaikan datangnya seringkali melalui jalan yang tidak diduga. Yang jelas, melakukan investasi kebaikan, pasti akan mendapatkan pencairan kebaikan yang berlipat-lipat. Cepat atau lambat.

Ketika Al-Jailani Digoda Iblis

Seorang lelaki sedang mengerjakan shalat. Khusyuk sekali. Tiba-tiba, muncul cahaya terang benderang. Tampak megah dan indah.

Cahaya itu lalu berseru, "Aku Tuhanmu. Kau hamba pilihanku. Kau telah sampai dihadapanku. Mulai detik ini, aku bebaskan segala kewajiban agama, hanya untukmu. Semua yang haram, mulai saat ini, halal bagimu."

"Pergilah kau, Iblis!" kata lelaki itu.

"Bagaimana kau bisa tahu jika aku Iblis? Padahal, dengan cara ini, sudah aku sesatkan banyak orang yang shaleh, orang-orang yang taat beribadah."

"Dengan ini..." kata si lelaki seraya menitik keningnya dengan telunjuk. "Jika benar kewajiban agama tak lagi dibebankan Tuhan untuk orang-orang pilihan, niscaya sudah Ia titahkan itu kepada Muhammad SAW dari dulu."

Lelaki itu adalah Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Thursday, September 23, 2010

Al Qur'an yang Dibakar!

(di-copy dari Notes seorang Sahabat di Facebook)

Sahabatku, tulisan ini sungguh luar biasa maknanya bila kita baca sampai selesai... sangat menyentuh dan merupakan sentilan bagi kita para umat Muslim...

Al-Quran yang Dibakar!
(Oleh Fahd)

Pembatalan pembakaran Al-Quran hanya omong kosong belaka. Faktanya, dua pendeta justru melakukannya. Yang melakukan bukan Pendeta Terry Jones, tapi kedua pengikutnya.

Pendeta Bob Old bersumpah melaksanakan aksinya membakar Al-Quran. Bersama Pendeta Danny Allen, Old melakukan aksinya di hadapan sekelompok orang yang sebagiannya merupakan awak media, Sabtu (11/9) lalu, sama persis pada hari yang dideklarasikan Terry Jones. Kedua pendeta itu menyiram dua buah mushaf dan sebuah teks Islam lainnya dengan cairan pembakar, lalu menyulutnya dengan api.

Mereka menyaksikan bersama-sama kitab suci umat Islam itu menjadi abu. Aksi dua pendeta itu dilakukan di pekarangan belakang kediaman Old. Mereka mengatakan aksinya merupakan pesan dari Tuhan. Old mengatakan gereja telah mengecewakan banyak orang karena tidak mendukung aksinya. “Saya yakin bahwa sebagai negara kita berada dalam bahaya.” ujarnya sebagaimana dikutip media online Tennessean (12/10).

“Ini adalah buku berisi kebencian, bukan cinta." katanya sambil memegang Al-Quran sebelum kemudian membakarnya. “Ini adalah kitab palsu, Nabi Muhammad adalah nabi palsu dan itu merupakan wahyu palsu.” tambahnya. Kedua pendeta itu lantas melakukan apa yang disebutnya sebagai “demonstrasi damai" dengan sedikit gegap gempita. Delapan orang wartawan ikut menyaksikan aksi kedua rohaniwan gereja itu. [Gila, Al-Quran Ternyata Jadi Dibakar, metrotvnews.com]

“Anjing!” rutuk saya sesaat setelah membaca berita itu, “Ini gila! Kita harus perang! Terkutuklah mereka!” Umpatan-umpatan dan caci-maki saya keluar tanpa kontrol. “Setan!” teriak saya sekali lagi.

Tiba-tiba Tuan Setan muncul di hadapan saya! Wajahnya penuh kemarahan. “Bakarlah Al-Quranmu!” kata Tuan Setan tiba-tiba. Jelas saya berang mendengar ucapannya. Emosi saya naik pitam. Dada saya turun naik. Dan seketika kutuk dan serapah membrudal dari mulut saya.

“Percuma selama ini aku mulai menaruh rasa simpati kepadamu! Kau ternyata memang pantas dilaknat dan dimusuhi! Terkutuklah kau!”

“Bakarlah Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, dengan nada yang lebih tegas. Matanya nyalang. Gigi-giginya gemertak. Lalu telunjuknya mengarah tepat ke wajah saya. “Bakar!” ia berteriak, “Bakarlah kalau memang selama ini ia hanya menjadi kertas, bakarlah! Bakarlah!”

Napas saya turun naik, mata saya memerah, tangan saya mengepal. “Terkutuklah kau!” teriak saya.

“Mana Al-Quranmu!!” bentak Tuan Setan.

Tiba-tiba saya tersentak. Tiba-tiba saya merasa harus menemukan Al-Quran milik saya yang entah saya simpan di mana, sementara Tuan Setan terus menerus berteriak, "Bakar! Bakarlah Al-Quranmu!”

Saya terus mencari. Di manakah saya menyimpan Al-Quran saya? Saya membongkar isi lemari, mengeluarkan buku-buku, berkas-berkas, tumpukan kliping koran, dan kertas-kertas apa saja dari dalam lemari. Di manakah Al-Quran saya? Saya mulai resah mencari di mana Al-Quran saya. Saya ke ruang tamu, ke ruang tengah, ke dapur, ke seluruh penjuru rumah. Saya memeriksa ke belakang lemari, ke sela-sela tumpukan kaset dan CD-CD, ke mana-mana. Tetapi, saya tak menemukan Al-Quran saya! Di manakah saya menyimpan Al-Quran saya?

“Bakarlah Al-Quranmu!” sementara Tuan Setan terus-menerus berteriak, “Bakar!”

Saya mulai panik dan resah, kemarahan saya mulai pudar, ternyata saya tak bisa menemukan Al-Quran saya sendiri.

“Bakarlah Al-Quranmu kalau itu hanya menjadi kertas usang yang kausia-siakan!” kata Tuan Setan tiba-tiba.

Dada saya berguncang hebat. Pelan-pelan tapi pasti saya mulai menangis… tetapi saya belum menyerah untuk terus mencari Al-Quran saya. Di mana Al-Quran saya? Ada sebuah buku tebal berwarna hijau di atas lemari tua di kamar belakang, saya kira itulah Al-Quran saya, setelah saya ambil ternyata bukan: Life of Mao. Saya kecewa. Saya terus mencari sambil diam-diam air mata saya mulai meluncur di tebing pipi.

“Bakarlah Al-Quranmu!” suara Tuan Setan kembali memenuhi ruang kesadaran saya.
Tetapi kini saya tak bisa marah lagi, ada perasaan sedih dan kecewa mengaduk-aduk dada saya. Ada sesak yang tertahan, semantara isak tangis tak sanggup saya tahan. Akhirnya saya menyerah. Saya tak menemukan Al-Quran saya di mana-mana di setiap sudut rumah saya.

Kemudian Tuan Setan tersenyum menang, ia menyeringai dan menatap saya dengan sinis. “Jadi, kenapa kau mesti marah saat ada orang yang membakar dan menginjak-injak Al-Quran?” kemudian ia tertawa. “Lucu! Ini lucu! Mengapa kau mesti marah sedangkan kau sendiri tak memperdulikannya selama ini?”

Saya terus menangis. Dada saya berguncang. Tuan Setan tertawa. “Jadi, mengapa kau mesti mengutuk mereka yang menyia-nyiakan dan merendahkan Al-Quran sementara kau sendiri melakukannya diam-diam?” katanya sekali lagi.

Ada perih yang mengaliri dada saya, mendesir gamang ke seluruh persendian saya. Tiba-tiba saya ingat sebuah tempat: gudang belakang rumah. Barangkali Al-Quran saya ada di situ! Saya bergegas bangkit dari tubuh saya yang tersungkur, saya berlari menuju gudang belakang, membuka pintunya, lalu menyaksikan tumpukan barang-barang bekas yang usang dan berdebu. Sebuah kotak tersimpan di sudut ruang gudang, saya segera ingat di situlah saya menaruh buku-buku bekas yang sudah tua dan tak terbaca.

Seketika saya hamburkan isi kotak itu, membersihkannya dari debu, dan akhirnya… saya mendapatkannya: Al-Quran saya! Saya menatap Al-Quran saya dengan tatap mata rasa bersalah. Saya mengusap-usapnya, meniupnya, membersihkannya dari debu yang melekat di mushaf tua itu. Kemudian Saya mendekapnya erat-erat… mengingat masa kecil saya belajar mengeja huruf hijaiyyah, menghafal surat Al Fatihah...

“Astaghfirullahal adzhim...” tiba-tiba dada saya bergemuruh, air mata saya menderas.

Tuan Setan tertawa lepas. “Bakar saja Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, “Bukankah ia tak berguna lagi bagimu?” nada bicaranya mengejek.

Saya masih mendekap Al-Quran saya, tergugu dengan dada seolah tersayat sembilu.

“Jika pendeta yang membakar Al-Quran itu mengatakan bahwa Al-Quran adalah buku yang penuh kebencian, bukankah mereka hanya menilainya dari perilaku yang kalian tunjukkan? Bila mereka mengira Al-Quran hanyalah kitab omong kosong dan Muhammad yang membawanya hanya nabi palsu yang berbohong tentang firman, bukankah itu karena kau - kalian semua - tak pernah sanggup menunjukkan keagungan dan keindahannya? Kau, kalian semua, harus menjelaskannya!”

“Jangankan menunjukkan keindahan dan keagungan Al-Quran, membacanya pun kau tidak! Jangankan menaklukkan musuh Tuhan sementara menaklukkan dirimu sendiri pun kau tak sanggup! Apa sih maumu? Al-Quran tak pernah mengajarkan permusuhan dan kebencian, Al-Quran tak pernah mengajarkan hal-hal yang buruk, lalu kenapa kau terus-menerus melakukannya? Al-Quran selalu mengajarimu kebaikan, mengapa kau tak pernah mau mengikutinya? Heh, ya, aku baru ingat, jangankan mengikuti petunjuknya, memahami dan membacanya pun kau tidak!”

“Lalu kenapa kau harus marah ketika Al-Quran dibakar? Mengapa kau tak memarahi dirimu sendiri saat kau menyia-nyiakan Al-Quranmu? Ini bukan semata-mata soal pendeta yang membakar Al-Quran, ini bukan semata-mata soal pelecehan terhadap institusi agamamu, ini bukan semata-mata soal permulaan dari sebuah peperangan antar-agama, ini semua tentang kau yang selama ini menyia-nyiakan Al-Quran, tentang kau yang secara laten dan sistematis menyiapkan api dan bensin dari perilaku burukmu untuk menunggu Al-Quran dibakar lidah waktu yang meminjam tangan orang-orang yang membenci agamamu!”

“Mereka tak akan berani membakar Al-Quran, kitab sucimu itu, kalau saja selama ini kau sanggup menunjukkan nilai-nilai agung yang dibawa Nabimu, nilai-nilai kebaikan yang termaktub dalam teks suci kitab yang difirmankan Tuhanmu! Maka bila kau tak sanggup menggemakan Quran amanat nabimu ke segala penjuru, tak sanggup menerima cahayanya dengan hatimu, bakarlah Al-Quranmu!”

Lalu seketika terbayang, Al-Quran yang teronggok sia-sia di rak-rak buku tak terbaca, Al-Quran yang diletakkan di paling bawah tumpukkan buku-buku dan majalah, Al-Quran yang kesepian tak tersentuh di masjid dan langgar-langgar, Al-Quran yang tak terbaca dan (di)sia-sia(kan)! Saya menangis; memanggil kembali hapalan yang entah hilang kemana, mengeja kembali satu-satu alif-ba-ta yang semakin asing dari kosakata hidup saya.

Saya melacaknya dalam ingatan saya yang terlanjur dijejali kebohongan, kebebalan, penipuan, dan pengkhiatan-pengkhiantan. Di manakah Al-Quran dalam diri saya?

“Maka, bakarlah Al-Quran oleh tanganmu sendiri!” kata Tuan Setan, “Hentikan airmata sinetronmu, hentikan amarah palsumu, hentikan aksi solidaritas penuh kepentinganmu, hentikan rutuk-serapah politismu, sebab kenyataannya kau tak pernah mencintai Al-Quran! Bakarlah!” Tuan Setan tertawa lepas.

“Maafkan saya...” suara saya tiba-tiba pecah menjelma tangis, “Maafkan saya...” lalu saya bergegas pergi dengan Al-Quran yang kugamit di lengan kananku.

“Bakar saja Al-Quranmu!” teriak Tuan Setan yang kutinggalkan di gelap ruangan gudang. Lamat-lamat tawanya masih ku dengar di ujung jalan.

Saya mencari masjid, saya ke mal, saya ke pasar, saya ke terminal, saya ke sekolah, saya ke mana-mana... Saya ingin mencari mushaf-mushaf Al-Quran yang disia-siakan. Saya ingin membersihkannya dari debu dan mengajak sebanyak mungkin orang membacanya.

Saya masih bergegas dengan langkah yang galau. Saya ingin mengabarkan keagungan dan keindahan Al-Quran, tapi bagaimana caranya? Sedangkan saya sendiri tak memahaminya? Saya ingin menggaungkannya di mana-mana, tapi bagaimana caranya? Saya terus bertanya-tanya bagaimana agar Al-Quran tak dibakar? Bagaimana agar Al-Quran tak terbakar? Bagaimana? Ya, Tuhan akukah insan yang bertanya-tanya? Ataukah aku Mukmin yang sudah tahu jawabnya?

Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi. Aduhai, akan kemanakah kiranya aku bergulir... di antara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat. Akankah kulihat sezarrah saja kebaikan yang pernah kubuat? Ya Tuhan, nafasku gemuruh, diburu firmanmu!

Saya terus menangis dalam langkah-langkah gelisah yang bergegas, haruskan saya melawan semua ini dengan amarah dan kebencian? Ataukah saya harus menunjukkan kepada mereka semua yang membenci Al-Quran bahwa sungguh mereka telah keliru.

Haruskah saya kembali marah dan membakar kitab suci mereka di mana-mana, atau akan lebih baikkah jika saya jawab mereka dengan cinta dan kasih sayang, meneladani Muhammad dengan menunjukkan kepada mereka kebaikan cahaya Al-Quran, karena sesungguhnya mereka hanya belum tahu!?

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bacalah!” tiba-tiba suara Tuan Setan datang lagi, “Biarkanlah mereka membakar mushaf sebab Al-Quran bukanlah kertas yang bisa mereka bakar. Bacalah Al-Quran hingga suaranya terdengar oleh hatimu, bergema di seluruh ruang kesadaranmu, maka kau tak akan kecewa mendapati mushaf-mushaf yang terbakar atau ayat-ayat yang teronggok di ruangan-ruangan tua berdebu buku. Sebab Al-Quran bukanlah mushaf, Al-Quran adalah semesta, nama di luar kata! Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.”

Saya terdiam mendengar kata-kata Tuan Setan yang terakhir, “Tuan Setan, sebenarnya siapakah kamu? Apa agamamu?” Ia terkekeh, bahunya berguncang, “Akulah yang kau lihat dalam tidurmu: berlarian atau terbang atau tertawa tanpa suara, sesuatu yang lama kau idamkan tetapi lupa kau sapa. Akulah yang membakar Al-Quranmu!” Ia terus terkekeh, terbatuk, lalu menghilang.

Prinsip Einstein

Siapa yang tak kenal dengan tokoh ini? dia adalah seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas, mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia juga pernah dianugerahi Penghargaan Nobel Fisika pada tahun 1921 – untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan “pengabdiannya bagi Fisika Teoretis”. Bahkan, hingga saat ini Einstein selalu dijadikan sebagai simbol ‘kecerdasan’ atau ‘kejeniusan’ itu sendiri. Tetapi Albert Einstein juga bukan sekedar ilmuwan melulu.

Di sisi lain, Einstein sangat ahli memainkan biola. waktu muda, ia sangat terkenal dengan permainan biolanya. Ia sangat mahir memainkan berbagai musik klasik, dari Mozart hingga Beethoven. “Life without playing music is inconceivable for me.” katanya. Bahkan konon, istri keduanya jatuh cinta pada Einstein gara-gara terkesan pada permainan biolanya.

Yup.. Einstein memang seorang penderita disleksia. Tapi justru sindrom inilah yang membuat ia berbeda dengan ilmuwan biasa. Beberapa ahli berpendapat bahwa disleksia-lah yang menyebabkan einstein tumbuh menjadi seseorang yang multitalent dan ‘lain’. Cara pandang, proses berpikir, dan output yang dihasilkan Einstein selalu tidak bisa ditebak, dia bisa menghasilkan sesuatu yang belum pernah terlintas dalam pikiran orang biasa. Einstein juga seorang filsuf.

Beberapa tulisannya mengenai filsafat dan prinsip hidup telah berhasil mencengangkan orang-orang pada jamannya. Apa saja prinsip-prinsip hidup yang pernah dihasilkan dari otaknya? uraian berikut ini adalah beberapa diantaranya.

Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan adalah pencapaian terbaik bagi seluruh umat manusia, sekalipun cuma dihasilkan oleh beberapa gelintir manusia saja.

Otoritas
Hidup telah membuat saya memiliki otoritas – terhadap hidup saya sendiri.

Kebenaran
Lebih mudah mengatakan kebohongan – daripada mengenali kebenaran.

Kerjasama
Lebih dari seratus kali sehari – saya mengingatkan diri saya, bahwa saya hidup – karena hasil kerja keras orang lain. Baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Maka, saya harus bekerja keras – untuk memberikan sesuatu yang sebanding – dengan yang telah dan yang masih saya terima – hingga hari ini.

Kebijaksanaan
Kebijaksanaan bukan sebuah produk dari sekolah, dibutuhkan waktu seumur hidup untuk mencapai kebijaksanaan.

Kebahagiaan
Seseorang bahagia jika dia bisa hidup pada saat ini. Jika seseorang terlalu banyak berpikir tentang hari esok, maka dia akan kehilangan kebahagiaannya.

Terkenal
Ketenaran hanya membuat seseorang menjadi semakin bodoh dan bodoh.

Hidup
Hidup itu suci, hidup adalah nilai tertinggi dari semua yang ada.

Kedewasaan
Aku akan disebut dewasa – saat tidak ada orang yang mengingatkan saya - bahwa saya lupa memakai kaos kaki.

Kehormatan
Bekerja adalah satu-satunya cara untuk membuat seseorang menjadi tidak gila hormat.

Teori Relativitas
Satu jam duduk bersama seorang gadis cantik terasa seperti satu menit, tetapi duduk di atas kompor selama satu menit akan terasa seperti satu jam.

Takut
Ketakutan dan kebodohan biasanya menjadi dasar – atas semua tindakan manusia.

Tujuan
Jangan tentukan tujuan hidup yang simpel dan mudah dicapai. Tetapi tentukan tujuan hidup yang sulit dan tidak masuk akal, agar engkau akan dapat mengupayakan seluruh hidupmu untuk mencapainya.

Rasisme
Satu-satunya cara menangkal rasisme adalah dengan pendidikan dan pencerahan, tetapi ini akan memakan waktu lama dan sangat melelahkan.

Kesendirian
Saya selalu hidup sendiri dan diasingkan sewaktu muda, tetapi kesendirian dan pengasingan itu berhasil membawa saya – di tengah kerumunan orang sewaktu saya tua.

Nilai
Cobalah untuk tidak hanya berusaha menjadi orang sukses, tetapi berusahalah untuk menjadi orang yang bernilai.

Imajinasi
Imajinasi dan kreatifitas lebih penting dari seluruh ilmu pengetahuan yang ada.

Keluarga Ali, Keluarga Peduli

"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, ya ahlul bait (keluarga Rasul) dan membersihkan kamu sebersih-besihnya." (QS Al-Ahzab : 33)

Bagi kita, Ali bin Abi Thalib sudah tidak asing lagi. Begitu juga dengan istrinya Fatimah, anaknya Hasan, Husein dan Zainab. Sejak kecil Ali bin Abi Thalib sudah menjadi muslim dan dibimbing langsung oleh Rasulullah SAW. Dia juga saudara sepupu Nabi, bahkan kemudian menjadi menantu Nabi dan menjadi Khalifah menggantikan Ustman bin Affan.

Ali berhasil membangun keluarga yang baik. Istri dan anak-anaknya adalah anggota keluarga yang shalih dan shalihah. Karena itu, banyak sisi-sisi kehidupan yang bisa diteladani, di antaranya adalah kedermawanan mereka.

Suatu sore menjelang maghrib di bulan Ramadhan, Ali bersama anggota keluarganya sedang bersiap-siap buka puasa dengan air putih dan masing-masing sepotong roti kering. Kondisi keluarga Ali memang sedang sulit, sehingga tak ada lagi makanan yang bisa disantap untuk berbuka puasa.

Tiba-tiba terdengar suara orang memberi salam dan ketukan pintu. Setelah dijawab dan pintu dibuka, orang itu berkata, "Wahai kecintaan Rasulullah SAW, aku seorang miskin yang tak punya apa-apa untuk berbuka. Tolonglah aku dan bagilah rezeki yang diberikan Allah SWT kepada kalian. Semoga Allah SWT memuliakan kalian."

Mendengar keluhan itu, Ali diam sejenak. Tak lama kemudian, roti bagiannya diserahkan kepada orang miskin itu. Tiba-tiba istri dan anaknya juga melakukan hal yang sama. Maka, hari itu mereka hanya berbuka dengan air putih saja.

Ternyata hari berikutnya, kejadian semacam itu terulang kembali. Saat waktu berbuka puasa hampir tiba, terdengar suara orang memberi salam dari luar rumah. Setelah salam dijawab dan pintu dibuka, orang itu berkata, "Aku tidak tahu lagi harus pergi kemana. Aku hanyalah seorang budak muslim yang baru saja dibebaskan orang kafir. Aku ingin kebaikan kalian karena perutku lapar dan tubuhku sangat lemah karenanya."

Ali segera mengambil sepotong roti bagiannya yang diikuti oleh istri dan anak-anaknya. "Tak usahlah... makan saja bagian kalian." kata Ali kepada keluarganya. "Tidak, demi Allah SWT aku tak bisa merasa kenyang sementara aku tahu ada muslim lain yang kelaparan." jawab Fatimah.

"Alhamdulillah, kalian adalah orang yang mulia. Semoga Allah SWT membalas kemuliaan kalian." sahut Ali. Maka, hari kedua itupun keluarga Ali berbuka hanya dengan segelas air putih.

Hari ketiga, saat mereka menunggu maghrib, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan ketukan pintu dan ucapan salam dari seorang boca. "Ada apa nak?" tanya Ali kepada anak itu.

"Aku seorang yatim, ayahku telah lama meninggal dunia. Ibuku kerja sendirian. Beberapa hari ini perutku kosong, tak ada makanan yang bisa dimakan." kata anak itu memelas.

Ali memang terkenal sangat menyayangi anak-anak. Bahkan dia juga dikenal sebagai bapak para anak yatim. Tiap anak yatim menganggap Ali sebagai pengganti ayah mereka. Tanpa pikir panjang, roti yang menjadi bagiannya diberikan kepada anak itu. Namun, anggota keluarganya juga mengikuti apa yang dilakukan Ali.

"Sudahlah... biar aku saja yang memberikan bagianku. Kalian makanlah bagian kalian." pinta Ali.

"Bagaimana aku dapat merasa kenyang sementara aku tahu putraku menggigil karena lapar?" jawab Fatimah yang menganggap anak yatim sebagai anak sendiri.

"Baiklah kalau begitu... tapi kalian anak-anakku, makanlah bagian kalian. Biar ayah dan ibu yang mengurusi anak ini." pinta Ali kepada anak-anaknya.

"Tidak ayah, bagaimana mungkin aku akan makan sementara aku tahu seorang anak yang lebih muda usianya dariku harus berjuang menahan lapar." jawab Hasan.

"Baiklah kalau begitu... Tapi engkau Husein dan Zainab, makanlah bagian kalian." pinta Ali.

"Tidak ayah, bagaimana mungkin aku harus makan sementara aku tahu sahabatku harus menanggung lapar." jawab Husein mengharukan.

"Baiklah kalau begitu... Engkau masih sangat kecil Zainab, makanlah bagianmu." pinta Ali kepada Zainab.

Sambil menangis terisak-isak, Zainab memeluk ibunya dan berkata, "Tidak ayah, aku tak mau makan sendirian sementara kakakku tidak makan. Aku tidak lapar ibu. Berikan bagianku kepadanya, teman kakakku." jawab Zainab.

Jadilah, tiga hari berturut-turut di bulan Ramadhan itu keluarga Ali hanya berbuka dengan air putih yang tentu saja tidak mengenyangkan. Keadaan mereka kemudian diketahui oleh Rasulullah SAW yang umahnya berhadapan. Sambil memeluk dan mencium cucu-cucuNya, Hasan, Husain dan Zainab, Rasulullah SAW mengemukakan firman Allah SWT yang artinya, "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, ya ahlul bait, dan membersihkan sebersih-bersihnya." (QS Al Ahzab : 33). Sebagian ulama bahkan menyebut peristiwa di atas menjadi sebab turunnya ayat tersebut.

Begitulah Ali berhasil membentuk diri dan keluarganya menjadi pribadi-pribadi shalih yang sangat peduli terhadap orang lain. Dan kepedulian itu makin menjadi di bulan Ramadhan.

(nuansamuslim.com)