Tuesday, June 5, 2012

Ada Nama Allah di Tubuh Ibu

Assalamu’alaikum Wr Wb

Bismillaahirrahmaanirrahiim
,

Apa kabar ibu kita hari ini? Sudahkah kita mengunjungi, atau sekedar menelepon mengucapkan salam hari ini, atau mungkin sahabat sudah mempunyai rencana spesial dengan ibu hari ini?

Memang seorang ibu sudah sepantasnyalah mendapatkan tempat spesial di dalam hati semua orang. Ada anekdot yang pernah saya dengar dari seorang teman, “Seorang ibu dapat membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang yang tercurah walaupun hanya seorang diri, sedangkan anaknya bisa berjumlah lebih dari enam. Namun sementara anak yang banyak itu belumlah tentu dapat mengurusi ibunya yang sudah tua walaupun ibunya hanya satu.”

Masya Allah. Boleh jadi ucapan itu banyak benarnya, dikarenakan kita seringkali lupa terhadap ibu. Seringkali kita disibukkan oleh urusan-urusan keseharian yang akhirnya kita lupa atau tidak sempat.

Artinya jika kita sudah tidak satu rumah dengan ibu, walau berdekatan atau notabene masih satu kotapun belum tentu setiap week end kita dapat mengunjungi ibu kita, apalagi bagi yang ibunya di luar kota atau bahkan di luar negeri.

Sementara masih dapat kita ingat, betapa nyamannya pelukan hangat seorang ibu. Yang dengan kasih sayangnya menentramkan kita, yang dengan telatennya mengurusi kita dalam setiap keadaan. Sakit, sedih, gembira, dan tidak peduli betapa nakalnya kita, tetap doa dan kasih sayangnya selalu ada di depan.

Karena itu dalam hadis Rasulullah SAW menyatakan ketika ada yang bertanya; “Siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?" “Ibumu”, jawab Nabi. “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Lalu?”, “Ibumu." Baru kemudian, "Bapakmu dan keluarga terdekat yang lain,” tegas Nabi. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan dalam sebuah hadis Qudsi, Abdurrahman bin ‘Auf ra berkata, ia mendengar dari Rasullullah SAW, “Allah pernah mengatakan, ‘Aku adalah Allah, dan Aku adalah Arrahman (Maha Pengasih), Akulah Yang Menciptakan rahim (ibu), dan Aku ambilkan sebutannya dari NamaKU (Arrahiim = Maha Penyayang), barang siapa yang menyambungkannya, maka Aku akan menyambungkan (diriKU) dengannya. Tapi bagi yang memutuskannya maka Aku pun akan memutuskan (diriKU) dengannya.” (HR. Tirmidzi).

Tidak ada bagian tubuh kita yang diambil dari nama suci Allah, kecuali rahim seorang ibu. Tempat dimana Allah telah memilih untuk menaruh buah kasih saying sepasang hamba ciptaanNYA. Di dalam rahim itulah yang biasa juga disebut sebagai alam rahim (alam kasih sayang) proses janin terbentuk, tumbuh dan berkembang dan pada akhirnya ditiupkannya ruh dan setelah lewat dari 3 masa kegelapan akhirnya lahirlah seorang anak manusia ke dunia.

Dimensi rahiim atau kasih saying sangatlah luas. Betapa kasih saying ibupun kita tidak dapat membalasnya. Sebagaimana hadits yang menceritakan tentang seorang ibu yang digendong ketika berthawaf, lelaki itu menggendong kemanapun si ibu mau. Kemudian lelaki yang menggendongnya bertanya kepada sahabat Umar, lalu apa jawab Abdullah bin Umar ra, "Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu."

Seandainya kita mempunyai dua buah gunung emas dan kita berikan semua kepada ibu kita pun belumlah cukup dibandingkan dengan kasih sayang serta kebaikan yang telah ibu berikan kepada kita. Karena itu perlulah kita tafakuri sudahkah kita terus menyambung tali silaturahiim, dalam artian menebarkan kasih saying kepada ibu kita, ibu, ibu kemudian bapak kita, lalu kepada keluarga dan sesama?

Berhati-hatilah karena Rasullullah SAW, mengingatkan dalam haditsnya; “Dua dosa besar yang Allah segerakan azabnya di dunia, yaitu berbuat zalim dan durhaka kepada orang tua.” (HR. Hakim). Oleh karena itu, mari segerakan kita bersimpuh memohon maaf, menebarkan doa dan kasih saying kepada mereka, “Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku dan kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka mengasihiku sewaktu kecil. Aamiin."

Tidaklah lebih baik dari yang menulis ataupun yang membaca, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Ustaz Erick Yusuf: Pemrakarsa Training iHAQi (Integrated Human Quotient)
Twitter: @erickyusuf

Monday, June 4, 2012

Rokok, Kebutuhan Nomor Dua Keluarga di Indonesia

LENSAINDONESIA.COM : Sekitar 98% produk tembakau di Indonesia digunakan untuk pembuatan rokok yang mengandung lebih dari 4000 bahan kimia dan 69 diantaranya karsinogenik atau potensial menyebabkan kanker.

Penyakit akibat rokok selain penyakit kanker juga penyakit kronis seperti radang paru paru, stroke, penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit paru sumbatan menahun juga gangguan pernapasan serta gangguan Sistem reproduksi .

“Data juga menunjukkan kematian bayi baik di Kota ataupun di desa lebih banyak pada ayah yang perokok. Perokok pasif rentan jadi korban penyakit akibat rokok karena menghisap asap sampingan 3 Kali lebih berbahaya dari yang di hisap perokok. Jadi merokok membahayakan kesehatan semua,” kata dr. Prijo Sidipratomo, pada Peringatan Hari Tembakau Sedunia 2012 di FX Mal, Senayan, Jakarta, Minggu (03/06).

Menurutnya, konsumsi rokok trennya terus meningkat. Terakhir data tahun 2008 menunjukan 240 miliaar batang atau 658 juta batang per hari atau setara dengan Rp 330 miliar per hari.

Ini merupakan bisnis yang luar biasa. Sayangnya yang menjadi sasarannya adalah perokok aktif berpendidikan rendah 67 % , sedangkan yang tinggi 48%. Belanja rokok pada keluarga miskin 12% pada keluarga kaya 7 % . Rokok merupakan pengeluaran terbesar kedua bagi keluarga miskin.

“Rokok mengalahkan kebutuhan gizi pada penduduk miskin karena pengeluarannya 17 kali dari dana membeli daging, 5 kali dari dana pembelian susu dan telur. Pengeluaran membeli rokok pada keluarga miskin adalah 15 kali dari pengeluaran untuk kesehatan dan 9 kali dari pengeluaran untuk biaya pendidikan. Sungguh sangat kejam sekali dampak rokok ini bagi keluarga miskin,” ujar Prijo.

Bagi pencandu rokok, dengan atau tanpa iklan rokok, mereka akan mencari karena sudah adiksi, sehingga iklan rokok atau simbol apapun tentang brand rokok ditujukan untuk mencari perokok baru terutama anak dan remaja.

Di Jepang orang boleh membeli rokok jika sudah diatas usia 20 tahun. Bandingkan dengan Indonesia dimana ditemukan peningkatan perokok lebih dari 4 kali pada usia anak 5-9 tahun.

Mengapa semua ini terjadi ?

Karena Indonesia tidak pernah meratifikasi Frame work Convention on Tobacco Control, Indonesia termasuk 11 negara Dari 178 yg belum atau tidak mau meratifikasinya semua ini berdampak Indonesia surga bagi global industry rokok.

Karena iklan rokok dan simbol-simbol rokok bebas ditayangkan.

Karena rokok bebas diperjualbelikan hingga dalam bentuk eceran sekalipun.


http://forum.kompas.com/teras/92871-rokok-kebutuhan-nomor-dua-keluarga-di-indonesia.html

Thursday, May 31, 2012

Thierry Henry: Islam Pilihan Terbaik

Bagi Thierry Henry, Islam adalah sebuah pilihan. Karena itu ketika memutuskan berpindah keyakinan dan menjadi mualaf, dia merasa bahwa selalu sangat dekat dengan Islam.

"Saya menganggap Islam sebagai pilihan terbaik untuk saya jika saya ingin percaya pada sebuah agama," kata striker New York Red Bulls tersebut.

Menurut Henry, menjadi seorang Muslim itu tidak boleh setengah-setengah. "Aku mengikuti semua apa yang diajarkan oleh Alquran. Ini sebabnya saya anggap Islam yang paling dekat dengan hati saya."

Legenda Arsenal ini menyatakan, Islam mengajarkan umatnya bahwa seseorang harus percaya dulu terhadap Alquran. Ini sebabnya dia belum menyatakan Islam sebagai agamanya, tapi Henry mengerti agama ini lebih daripada agama lain. "Dan itu benar-benar menyedihkan bahwa banyak orang tidak meluangkan waktu untuk mencoba memahami Islam."

Penyerang Les Bleus Prancis yang sukses meraih Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 ini menekankan, jika seseorang benar-benar percaya kepada Allah maka sudah seharusnya setiap Muslim harus menjadi orang yang taat. "Kalau percaya ajaran Islam, seseorang harus percaya pada Alquran dan Rasul terakhir," ujar Henry.

http://www.republika.co.id/berita/sepakbola/internasional-2/12/05/31/m4v4cf-thierry-henry-islam-pilihan-terbaik

Cermin yang Cacat

Alkisah, ada seorang anak laki-laki yang sangat cerdas dan berasal dari keluarga yang sangat kaya. Namanya Andi. Dia punya segalanya yang diinginkan anak laki-laki, karenanya dia hanya tertarik pada barang-barang yang sangat langka dan aneh.
 
Kali ini dia tertarik dengan sebuah cermin yang sangat tua. Andi pun berusaha meyakinkan orangtuanya untuk membelinya dari seorang pria tua yang misterius. Ketika cermin itu diantar ke rumah, Andi segera melihat ke cermin tua itu. Anehnya, wajahnya di dalam cermin terlihat sangat sedih. Dia sudah mencoba tersenyum dan membuat ekspresi wajah lucu, tapi bayangannya tetap saja menunjukkan ekspresi sedih.

Karena heran, Andi keluar rumah untuk membeli permen. Lalu dia pulang dengan perasaan sebahagia mungkin untuk melihat kembali ke arah cermin. Tapi bayangannya masih tampak sedih. Dia membeli semua jenis mainan dan barang-barang loakan, tapi ekspresinya tetap saja terlihat sedih di cermin. Karena jengkel, Andi meletakkan cermin itu di sudut kamarnya.

"Cermin nggak guna! Baru kali ini aku ketemu cermin yang cacat!"

Siang itu juga, Andi pergi keluar rumah untuk bermain dan membeli beberapa mainan. Tapi di perjalanan menuju taman, dia melihat seorang anak kecil yang sedang menangis. Anak itu terlihat sangat sedih dan kesepian, sehingga Andi tergerak untuk mendekatinya dan mencari tahu ada apa. Anak kecil itu bercerita kalau dia terpisah dari orangtuanya.

Mereka pun bersama-sama mencari orangtua si anak kecil. Karena anak kecil itu tak berhenti menangis, Andi membelikan permen untuk menghiburnya. Akhirnya, setelah berjalan cukup jauh, mereka menemukan orangtua si anak yang ternyata juga sedang mencarinya. Mereka terlihat sangat cemas.

Andi pun berpamitan dengan mereka, dan berjalan menuju taman. Tapi begitu melihat hari sudah mulai malam, dia memutuskan untuk berbalik arah dan pulang, tanpa jadi bermain, atau membeli mainan, dan uangnya pun habis. Setibanya di rumah, dia masuk ke kamarnya. Di sudut kamar dilihatnya seberkas cahaya terang. Sudut yang sama tempatnya meletakkan cermin cacat itu. Merasa penasaran, dia pun menghampiri cermin itu dan menyadari bahwa cahaya itu berasal dari tubuhnya sendiri, yang bersinar-sinar karena merasa bahagia.

Saat itu Andi mengerti misteri dari cermin itu, satu-satunya cermin yang mampu merefleksikan secara jujur kebahagiaan sejati pemiliknya. Dan dia memang merasa bahagia karena telah menolong anak kecil tadi.

Sejak itu, setiap pagi saat melihat ke dalam cermin dan tidak ada cahaya yang bersinar, Andi sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk memunculkan kembali cahaya itu.

Menolong orang lain membawa kebahagiaan terbesar.

Tim AndrieWongso

Tuesday, May 29, 2012

Bukhari, Bayi Ajaib Dari Bukhara

Buta di masa kecilnya. Keliling dunia mencari ilmu. Menghafal ratusan ribu hadits. Karyanya menjadi rujukan utama setelah Al Qur’an.

Lahir di Bukhara pada bulan Syawal tahun 194 H. Dipanggil dengan Abu Abdillah. Nama lengkap beliau Muhammmad bin Ismail bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari Al Ju’fi. Beliau digelari Al Imam Al Hafizh, dan lebih dikenal dengan sebutan Al Imam Al Bukhari.

Buyut beliau, Al Mughirah, semula beragama Majusi (Zoroaster), kemudian masuk Islam lewat perantaraan gubernur Bukhara yang bernama Al Yaman Al Ju’fi. Sedang ayah beliau, Ismail bin Al Mughirah, seorang tokoh yang tekun dan ulet dalam menuntut ilmu, sempat mendengar ketenaran Al Imam Malik bin Anas dalam bidang keilmuan, pernah berjumpa dengan Hammad bin Zaid, dan pernah berjabatan tangan dengan Abdullah bin Al Mubarak.

Sewaktu kecil Al Imam Al Bukhari buta kedua matanya. Pada suatu malam ibu beliau bermimpi melihat Nabi Ibrahim Al Khalil ‘Alaihissalaam yang mengatakan, “Hai Fulanah (yang beliau maksud adalah ibu Al Imam Al Bukhari, pent), sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putramu karena seringnya engkau berdoa”. Ternyata pada pagi harinya sang ibu menyaksikan bahwa Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putranya.

Ketika berusia sepuluh tahun, Al Imam Al Bukhari mulai menuntut ilmu, beliau melakukan pengembaraan ke Balkh, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam. Guru-guru beliau banyak sekali jumlahnya. Di antara mereka yang sangat terkenal adalah Abu ‘Ashim An-Nabiil, Al Anshari, Makki bin Ibrahim, Ubaidaillah bin Musa, Abu Al Mughirah, ‘Abdan bin ‘Utsman, ‘Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, Shadaqah bin Al Fadhl, Abdurrahman bin Hammad Asy-Syu’aisi, Muhammad bin ‘Ar’arah, Hajjaj bin Minhaal, Badal bin Al Muhabbir, ‘Abdullah bin Raja’, Khalid bin Makhlad, Thalq bin Ghannaam, Abdurrahman Al Muqri’, Khallad bin Yahya, Abdul ‘Azizi Al Uwaisi, Abu Al Yaman, ‘Ali bin Al Madini, Ishaq bin Rahawaih, Nu’aim bin Hammad, Al Imam Ahmad bin Hanbal, dan sederet imam dan ulama ahlul hadits lainnya.

Murid-murid beliau tak terhitung jumlahnya. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Al Imam Muslim bin Al Hajjaj An Naisaburi, penyusun kitab Shahih Muslim.

Al Imam Al Bukhari sangat terkenal kecerdasannya dan kekuatan hafalannya. Beliau pernah berkata, “Saya hafal seratus ribu hadits shahih, dan saya juga hafal dua ratus ribu hadits yang tidak shahih”. Pada kesempatan yang lain belau berkata, “Setiap hadits yang saya hafal, pasti dapat saya sebutkan sanad (rangkaian perawi-perawi)-nya”.

Beliau juga pernah ditanya oleh Muhamad bin Abu Hatim Al Warraaq, “Apakah engkau hafal sanad dan matan setiap hadits yang engkau masukkan ke dalam kitab yang engkau susun (maksudnya : kitab Shahih Bukhari -red)?” Beliau menjawab, ”Semua hadits yang saya masukkan ke dalam kitab yang saya susun itu sedikit pun tidak ada yang samar bagi saya”.

Anugerah Allah kepada Al Imam Al Bukhari berupa reputasi di bidang hadits telah mencapai puncaknya. Tidak mengherankan jika para ulama dan para imam yang sezaman dengannya memberikan pujian (rekomendasi) kepada beliau. Berikut ini adalah sederet pujian (rekomendasi) termaksud:

Muhammad bin Abi Hatim berkata, “ Saya mendengar Abu Abdillah (Al Imam Al Bukhari) berkata, “Para sahabat ‘Amr bin ‘Ali Al Fallaas pernah meminta penjelasan kepada saya tentang status (kedudukan) sebuah hadits. Saya katakan kepada mereka, “Saya tidak mengetahui status (kedudukan) hadits tersebut”. Mereka jadi gembira dengan sebab mendengar ucapanku, dan mereka segera bergerak menuju ‘Amr. Lalu mereka menceriterakan peristiwa itu kepada ‘Amr. ‘Amr berkata kepada mereka, “Hadits yang status (kedudukannya) tidak diketahui oleh Muhammad bin Ismail bukanlah hadits”.

Al Imam Al Bukhari mempunyai karya besar di bidang hadits yaitu kitab beliau yang diberi judul Al Jami’ atau disebut juga Ash-Shahih atau Shahih Al Bukhari. Para ulama menilai bahwa kitab Shahih Al Bukhari ini merupakan kitab yang paling shahih setelah kitab suci Al Quran.

Ketakwaan dan keshalihan Al Imam Al Bukhari merupakan sisi lain yang tak pantas dilupakan. Berikut ini diketengahkan beberapa pernyataan para ulama tentang ketakwaan dan keshalihan beliau agar dapat dijadikan teladan.

Abu Bakar bin Munir berkata, “Saya mendengar Abu Abdillah Al Bukhari berkata, “Saya berharap bahwa ketika saya berjumpa Allah, saya tidak dihisab dalam keadaan menanggung dosa ghibah (menggunjing orang lain)”.

Abdullah bin Sa’id bin Ja’far berkata, “Saya mendengar para ulama di Bashrah mengatakan, “Tidak pernah kami jumpai di dunia ini orang seperti Muhammad bin Ismail dalam hal ma’rifah (keilmuan) dan keshalihan”.

Sulaim berkata, “Saya tidak pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri semenjak enam puluh tahun orang yang lebih dalam pemahamannya tentang ajaran Islam, leblih wara’ (takwa), dan lebih zuhud terhadap dunia daripada Muhammad bin Ismail.”

Al Firabri berkata, “Saya bermimpi melihat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam di dalam tidur saya”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada saya, “Engkau hendak menuju ke mana?” Saya menjawab, “Hendak menuju ke tempat Muhammad bin Ismail Al Bukhari”. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata, “Sampaikan salamku kepadanya!”

Al Imam Al Bukhari wafat pada malam Idul Fithri tahun 256 H. ketika beliau mencapai usia enam puluh dua tahun. Jenazah beliau dikuburkan di Khartank, nama sebuah desa di Samarkand. Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada Al Imam Al Bukhari.

Oleh: Abu Afifah Al Atsary

Maraji’:
Siyar A’laam An-Nubala’ karya Al Imam Adz-Dzahabi
Hadyu As Saari Muqaddimah kitab Fathul Bari karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani
Sumber: Majalah As Salam no VI/Tahun II – 2006 M/ 1427 H
Judul asli: “Bayi Ajaib Dari Bukhara”

Kisah Khalifah Umar Memilih Pengganti

Subuh itu Umar bin Khattab, seperti biasa menjadi imam shalat subuh di Masjid Nabawi. Setelah takbiratul ihram, tiba-tiba muncul seorang laki-laki, langsung menikam dada dan perutnya enam kali bertubi-tubi. Tubuh Umar roboh. Lalu para jamaah memapahnya ke rumahnya di sebelah masjid.

Dalam detik-detik kematiannya, yang terpikir oleh Umar adalah bagaimana supaya sepeninggal dirinya, kekhalifahan lebih baik lagi. Dia melihat ambisi sahabat-sahabatnya begitu besar, sehingga tidak mungkin menunjuk salah satu diantara mereka, seperti apa yang dilakukan Abu Bakar As-Sidiq kepada dirinya.

Situasinya jelas berbeda dengan masa dia diangkat oleh Abu Bakar As-Sidiq. Pada akhir kepemimpinan Umar, semua kelompok merasa berjasa menegakkan panji Islam, hingga merasa layak (berhak) menjadi khalifah menggantikan Umar bin Khattab.

Umar terbayang dua tokoh, Abu Huzaifah dan Abu Ubaidah, “seandainya salah satu diantara mereka masih hidup akan saya serahkan kepadanya.”

Tabib yang memeriksa Umar rupanya sampai pada diagnose akhir, lalu berkata, “berwasiatlah, ya Amirulmukminin!” Umar tidak tenang. Bukan karena kematiannya, tetapi karena dia belum menemukan orang yang tepat untuk menggantikannya. Lalu, orang-orang berkata, “kenapa tidak Abdullah bin Umar saja yang menggantikan urusan anda.” Umar marah, “sekali-sekali tidak akan saya serahkan urusan ini kepada orang yang tidak mampu menceraikan istrinya”.

Akhirnya Umar menunjuk enam orang untuk memilih satu diantara mereka, yaitu Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Abdur-Rahman bin Auf dan Sa’d bin Abi Waqqas. Alasannya, Umar pernah mendengar Rasul berkata bahwa mereka adalah penghuni surga. Umar menyuruh Abdullah bin Umar bergabung untuk mengawasi, tidak boleh dipilih karena dia anak dari Umar bin Khattab.

Dari kisah di atas, paling tidak ada 3 (tiga) pelajaran (ibrah) yang bisa kita petik sebagai kriteria memilih pemimpin. Pertama, integritas agama. Jaminan masuk surga oleh Rasul, bagi Umar cukup sebagai dasar kualitas agama mereka.

Kedua, Umar tidak mengangkat anaknya sebagai penggantinya, meskipun umat menganjurkannya. Inilah satu diantara keteladanan kepemimpinan Umar bin Khattab, dia enggan melibatkan keluarga untuk urusan “negara,” bukan hanya urusan kekayaan “negara,” namun juga jabatan, lebih-lebih jabatan nomor satu.

Ketiga, Umar tidak mengangkat orang yang tidak mampu menceraikan istrinya. Tentu saja kepada istri yang sudah melakukan kesalahan fatal. Artinya, Umar tidak mengharapkan pemimpin yang menggantikannya nanti orang yang tidak tegas. Umar ingin pemimpin berikutnya tegas seperti dia. Seperti langkahnya yang tidak segan-segan memecat pejabat-pejabat yang tidak berlaku adil kepada rakyatnya.

Jika kita tengok pemimpin-pemimpin kita pada setiap levelnya, dari RT sampai Presiden, sudahkah bebas dari tali hubungan keluarga dan karib-kerabat (nepotisme)? Apakah pemimpin kita tidak memanfaatkan fasilitas negara, akses politik dan ekonomi untuk keluarganya? Terakhir, sudahkah tegas kepada pejabat-pejabat yang jelas-jelas merugikan negara dan rakyatnya?
 
Oleh: Ayatulloh Marsai*
* Penulis adalah Pengajar di Al-Khairiyah Karangtengah Cilegon, Banten
 

Monday, May 28, 2012

Adzan Panggilan Mulia Penggugah Jiwa

Adalah Simon Nicholas Valenteyn, pria kelahiran Ambon yang dibesarkan sebagai pemeluk Katolik memiliki pengalaman menarik mengenai adzan. Peristiwa yang mengantarkan dirinya masuk Islam. Dia bercerita sebagaimana dimuat dalam Media Umat, ”Setiap kali pulang kerja dari kantor di Sunter Jakarta Utara menuju rumahku, aku terkesima mendengar alunan suara adzan Maghrib yang menggema di sepanjang jalan.”

"Awalnya hatiku terasa tenang dan teduh. Lambat laun, suara itu memberiku keindahan rasa yang tidak bisa aku gambarkan dengan kata-kata. Bahkan beberapa kali aku sempat menangis mendengar lantunan berbahasa Arab yang tidak aku pahami maknanya. Merasa ada yang kosong dalam jiwa. Tapi waktu itu, aku belum berani mengungkapkan pengalaman ruhani yang dasyat ini kepada siapapun.” Bermula dari situlah Simon kemudian mulai belajar dan mencari tahu lebih detil tentang Islam, hingga akhirnya dia putuskan untuk masuk Islam.

Simon tidak sendirian yang memiliki pengalaman ruhani semisal itu. Ada ribuan orang atau mungkin jutaan, yang menapaki jalan hidayah lantaran kumandang adzan. Adzan menjadi jalan hidayah dari Allah bagi orang-orang yang dipilih-Nya. Adzan mampu menggetarkan nurani siapapun yang mendengarnya. Adzan membawa energi yang menyegarkan dahaga ruhani orang-orang yang jauh dari Allah, meskipun kebanyakan mereka tidak memahami makna yang terkandung dalam adzan.

Seruan Penggugah Jiwa

Bagi yang memahami makna adzan dan menghayatinya, tentu lebih membawa efek yang hebat. Seperti yang dialami oleh Fudhail bin ‘Iyadh v yang sering menangis di masjid ketika mendengar adzan hingga lantai di hadapannya basah oleh air matanya. Betapa tidak, hakikatnya adzan adalah ‘undangan’ dari Sang Pencipta, Maha Pemberi Karunia, sekaligus amat dahsyat siksa bagi siapapun yang membangkang perintahNya. Adapun muadzin hanyalah penyampai ‘undangan’ dan bukan Pemilik undangan.

Barangkali, karena alasan ini pula Ibrahim bin Maimun Ash-Sha’igh, seorang ulama dari generasi atba’ut tabi’in selalu menghentikan aktivitasnya begitu mendengar adzan. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengisahkan biografi beliau dalam Tahdzib at-Tahdzib, bahwa pekerjaan beliau adalah tukang menempa logam. Setiap kali beliau telah mendengar seruan adzan untuk shalat, maka meskipun beliau telah mengangkat palu, beliau tak lagi mengayunkannya. Beliau segera meninggalkan pekerjaannya untuk melaksanakan shalat. Karena bagi beliau, adzan adalah panggilan dari Dzat yang memiliki kuasa segalanya atas dirinya. Bagaimana mungkin ia berani menundanya?

Cobalah kita renungkan. Jika Anda berposisi sebagai seorang karyawan, lalu Anda di panggil atasan untuk menghadap, beranikah Anda menolaknya? Jika seorang prajurit dipanggil komandan untuk melapor, beranikah ia menunda atau bahkan mengabaikan panggilannya? Beranikah ia memberikan alasan, ”Saya baru sibuk…saya lagi asyik nonton TV…saya baru ingin santai…” dan alasan remeh yang lain? Bisa dipastikan, Anda tidak berani mengambil risiko.

Jika demikian, apakah layak seseorang menunda panggilan Allah, atau bahkan tak menggubrisnya? Padahal Allah lebih kuasa, atau bahkan satu-satunya yang memiliki Kuasa mutlak atas manusia. Dia mampu mencabut nyawa seketika, menghentikan rejeki tiba-tiba, menimpakan musibah dalam sekejap mata, dan tak ada satupun jua yang mampu membendung adzab-Nya jika Dia berkehendak menimpakan atas makhluk-Nya yang durhaka.

Adakah pantas kita tetap melanjutkan senda gurau, menonton TV, berleha-leha, atau melanjutkan aktivitas kita yang tidak mendesak sementara Allah telah mengundang kita?

Inilah di antara hikmah, mengapa adzan diawali dengan seruan ’Allahu Akbar’. Seruan keagungan Allah yang semestinya mampu menggetarkan jiwa, sekaligus menggentarkan nyali orang-orang yang sombong. Karena tidak ada yang lebih agung daripada Allah. Semua makhluk adalah lemah dihadapan-Nya. Dengan pengagungan ini, tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan akan menimpa dirinya. Karena jika Allah ridha terhadapnya, Allah akan menjaganya. Namun jika dia menganggap remeh panggilan-Nya, dan menganggap besar resiko yang berasal dari makhluk-Nya, maka bagaimana ia hendak menangkis hukuman yang bisa jadi Allah akan timpakan atas dirinya?

Seruan adzan yang diawali kalimat takbir, juga mengandung arti pengagungan terhadap segala titah-Nya. Karena tidak mungkin seseorang dikatakan mengagungkan Allah, sementara dia tidak tunduk terhadap perintah-perintah-Nya. Demikian agung seruan ini, namun sayang, masih banyak jiwa yang abai dari mendatangi undangan-Nya.

Alangkah jauhnya generasi ini dengan para pendahulunya di kalangan para sahabat. Ibnu Katsier rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan, bahwa suatu kali sahabat Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang sewaktu di pasar. Di mana tatkala adzan untuk shalat dikumandangkan, serta merta mereka tinggalkan perniagaan mereka, dan mereka bersegera mendatangi undangan shalat. Melihat pemandangan ini, Abdullah bin Mas’ud bergumam, “Mereka inilah yang dimaksud oleh firman Allah ta’ala,

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِاللهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat.Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS an-Nuur 37).
Panggilan Mulia, Menuju Puncak Bahagia

Keagungan adzan juga disebabkan karena begitu mulia seruan yang dilantunkannya. Pertama adalah seruan “hayya ‘alash shalaah”, marilah menunaikan shalat!

Ibadah mana yang lebih agung dari shalat? Allah turunkan perintah shalat di momen dan tempat yang sangat istimewa, yakni ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dimi’rajkan ke langit. Shalat menjadi wasiat terakhir sebelum Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam wafat. Shalat juga menjadi barometer kebaikan seseorang, barangsiapa meremehkan shalat maka untuk urusan yang lain pasti lebih meremehkan. Dan kelak, shalat menjadi amal penentu yang akan dihisab pertama kali di akhirat.

Seruan atau ajakan yang kedua adalah ”hayya ’alal falah”, marilah menuju kejayaan. Alangkah agung ajakan ini. Tak ada orang berakal yang layak meremehkan ajakan ini. Seruan yang ’memaksa’ seorang ulama tabi’in untuk tetap mendatanginya meskipun harus dipapah puteranya karena sakit. Bahkan meskipun harus datang dengan merangkak.

Hilal bin Isaf bercerita saat dia bersama Mundzir Ats-Tsauri menjenguk Rabi’ bin Khutsaim radiyallahu ‘anhu yang sedang sakit, “Setelah lama berbincang-bincang, terdengar lantunan adzan Dzuhur. Bersamaan dengan itu puteranya datang, lalu Syeikh berkata kepadanya, “Mari kita sambut panggilan Allah.” Puteranya berkata kepada kami, “Tolong bantu saya untuk memapah beliau ke masjid. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan kepada kalian.” Kemudian kami memapahnya bersama-sama sehingga beliau bisa bergantung di antara aku dan puteranya pada saat berjalan.

Mundzir berkata,”Wahai Abu Yazid, bukankah Allah Ta’ala memberi rukhshah (keringanan) bagi Anda untuk shalat di rumah?” Beliau menjawab, “Memang benar apa yang Anda katakan, akan tetapi aku mendengar seruan, “Marilah menuju kesuksesan!” Barangsiapa mendengar seruan itu hendaknya mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.” Adakah perasaan seperti ini juga hadir di hati kita?

Makna Hayya ‘alal Falaah

Banyak definisi yang menjelaskan makna ‘al-falah’. Kata ini bisa diartikan dengan as-sa’aadah yang berarti kebahagiaan. Bisa pula bermakna an-najaah yang berarti keberhasilan atau kesuksesan. Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menghimpun definisi yang dijelaskan para ulama dengan dua hal, yakni hushuulul mathlub wal amnu minal marhuub, yakni tercapainya tujuan dan aman dari segala yang ditakutkan.

Jika demikian maknanya, bukankah ini menjadi segala-galanya bagi manusia? Bukankah diam dan bergeraknya manusia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan? Bukankah tidur dan meleknya, berdiam diri atau pergi dari rumahnya, dan usaha keras membanting tulang maupun jungkir baliknya manusia juga demi memperoleh kesuksesan? Bukankah manusia menghabiskan waktu malam dan siangnya, juga demi mendapatkan apa yang dicarinya dan agar terhindar dari apa yang ditakutinya?

Seandainya kesuksesan itu hanya bisa diperoleh dengan menempuh perjalanan yang jauh, mencurahkan segala modal, waktu dan tenagnya, niscaya manusia akan terus memburunya. Mereka akan terus mengejarnya, di manapun kesuksesan itu berada.

Tapi mereka lupa, bahwa sebenarnya yang mereka cari itu tak jauh dari rumahnya. Tak harus mengeluarkan banyak modal untuk meraihnya. Tidak pula membutuhkan waktu lama untuk sampai ke tempat tujuan. Karena kesuksesan itu dibuka pintunya di masjid, oleh Dzat yang kuasa menentukan kesuksesan bagi suatu kaum dan menghinakan kaum yang lain. Kebahagiaan dan kejayaan itu akan didapat dengan mendatangi seruan ”hayya ’alash shalaah…hayya ’alal falaah.”

Karenanya, di antara ulama ada yang mengartikan al-falah dengan shalat. Karena kesuksesan itu akan didapat jika seseorang mendatangi panggilan shalat.

Ada lagi makna lain dari al-falaah, yakni jannah. Dan tidak disangsikan bahwa jannah merupakan puncek kebahagiaan, kesuksesan, tempat terwujudnya segala keninginan dan terealisasinya rasa aman dari segala bahaya dan gangguan. Masih adakah orang yang tak ingin menyongsong kejayaan?
Semoga Allah memudahkan kita untuk bergabung dalam golongan orang-orang yang menyongsong kebahagiaan dan kesuksesan, aamiin. (Abu Umar Abdillah)[]

http://www.arrisalah.net/kolom/2012/02/adzan-panggilan-mulia-penggugah-jiwa.html