Monday, May 28, 2012

Inilah Warisan Rasulullah SAW

Diceritakan, sepeninggal Nabi SAW, putrinya, Siti Fatimah, meminta kepada Khalifah Abu Bakar agar diberikan warisan dari harta peninggalan Nabi. Namun, Abu Bakar menolak permintaannya. Dasarnya, sabda Rasulullah SAW, “Kami para nabi tidak mewariskan harta. Apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah [milik umat].” (HR Bukhari dari Aisyah).

Dalam riwayat lain, dikisahkan pula bahwa sahabat Abu Hurairah merasa heran melihat banyak orang di salah satu pasar di Madinah, yang begitu sibuk berbisnis. Lalu, ke pada mereka Abu Hurairah bertanya, “Kalian di sini, tahukah kalian bahwa warisan Nabi sedang dibagikan di Masjid Nabawi?”

Mereka pun bergegas menuju masjid. Merasa tak ada pembagian warisan di sana, mereka dengan rasa kecewa kembali menemui Abu Hurairah. “Tak ada pembagian warisan di masjid,” sanggah mereka.

Jawab Abu Hurairah, “Apa kalian tidak melihat di sana ada orang-orang yang sedang shalat, membaca Alquran, dan belajar tentang hukum-hukum Allah? Itulah warisan Nabi.” (HR Thabrani dari Abu Hurairah).

Dua kisah ini menegaskan kepada kita bahwa warisan penting yang ditinggalkan Nabi SAW bukanlah harta, tetapi ajaran Islam. Karenanya, ahli waris Nabi bukanlah keturunannya an sich, tetapi para ulama. Nabi SAW, seperti diungkapkan para perawi hadis (ash-hab al-Sunan), berkata, Ulama adalah ahli waris para Nabi.

Sebagai ahli waris nabi, para ulama memikul beban dan tanggung jawab dakwah, yaitu kewajiban menyeru dan mengajak manusia ke jalan Allah, ila sabil-i rabbik(QS an-Nahl [16]: 125) melalui tabligh , amar makruf, dan nahi munkar, serta beramal saleh dan keluhuran budi pekerti (QS Fu shshilat [41]: 33). Hal inilah yang ditunjukkan sahabat Abu Bakar Shiddiq dan Abu Hurai rah, dalam kisah di atas.

Belajar dari dakwah sahabat Abu Hurairah di atas maka ada dua hal yang secara absolut harus dimiliki oleh para ulama dan para dai. Pertama, hikmah, yakni ilmu dan kearifan dalam mengidentifikasi masalah dan memberikan jawab an (solusi) yang tepat dalam mengatasi masalah tersebut.

“Allah menganugerahkan al-Hikmah (kepahaman yang dalam tentang Alquran dan assunah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (QS al- Baqarah [2]: 269).

Kedua, qudwah hasanah, yakni keteladanan baik dalam sikap maupun perilaku, sehingga sang dai layak menjadi tokoh panutan (patron client), atau model peran (role model). (QS al-Ahzab [33]: 21).

Warisan yang sesungguhnya adalah agama dan hikmah atau kebenaran yang bersifat universal. Setiap orang beriman, setingkat dengan ilmu dan kesanggupan yang dimiliki, diminta untuk menjaga “warisan suci” ini.

Rasul Muhammad SAW bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara [pusaka]. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya selagi kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Alquran) dan sunah Rasul.” (HR Malik, Muslim dan Ash-hab al-Sunan). Wallahu a`lam.

Oleh: Dr A Ilyas Ismail

Friday, May 25, 2012

Nasihat Sang Ahli

Sering kali masalah membesar karena kita menyepelekan hal kecil. Tak jarang, akhirnya kambing hitam dicari-cari. Untuk itu, semangat solusi harus selalu dikedepankan.

Suatu ketika, seorang pemuda menjadi kaya berkat memiliki sebuah pabrik roti yang terus berkembang. Dari sekadar pabrik rumahan, hingga akhirnya ia memiliki pabrik roti besar dengan banyak pekerja.

Namun, pada sebuah masa, ia mengeluhkan kondisi pabriknya. Jika sebelumnya ia selalu mendapatkan keuntungan sangat besar karena produksi pabriknya terus meningkat, belakangan ia merasa produksinya terus menurun. Pertama, ia menyalahkan pekerjanya yang dianggap makin malas. Maka, orang-orang yang dianggapnya kurang bagus, dikeluarkan dari pabriknya. Begitu seterusnya. Tapi, tak pernah lagi terjadi peningkatan produksi, bahkan saat diganti dengan pekerja lain. Tetapi, ia tetap bersikukuh bahwa pasti ada yang salah dengan anak buahnya. Maka, ia pun kembali mengganti pegawainya.

Hingga beberapa lama, pabrik rotinya terus mengalami kemunduran. Produknya makin sedikit hingga ia tak mampu lagi menerima pesanan yang lebih banyak. Namun, keadaan itu justru terus membuat dirinya menyalahkan sisa pekerja di pabriknya.

Karena khawatir usahanya lama-lama bangkrut, akhirnya ia bertanya kepada orang-orang yang masih dipercayainya, bagaimana mengatasi persoalan itu. Saat itulah, ada usulan untuk mendatangkan tenaga ahli konsultan untuk memperbaiki kinerja pabrik roti tersebut.

Si pemuda pun setuju. Maka, dipanggillah seorang ahli yang terkenal dari kota sebelah. Saat datang, ia pun segera dimintakan masukan, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kinerja pabriknya.

"Tuan, apa yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan usaha ini? Saya sudah mengganti banyak pekerja yang menurut saya kurang terampil dan kurang produktif. Tapi, pabrik ini terus saja mengalami penurunan produksi," pinta si pemuda pada sang ahli.

Hari demi hari berlalu. Sang ahli pun meninjau dan meneliti hal apa saja yang mungkin menjadi sumber masalah di pabrik itu. Setiap hari, ia pun selalu bertanya dan banyak bertanya pada si pemuda tentang banyak hal. Mulai dari soal manajemen, soal sumber daya manusia, hingga urusan teknis di pabrik. Hingga, suatu ketika, ia berkata bahwa masalah di pabrik itu pasti bisa segera selesai. Dan memang, seminggu setelah ia bicara tentang hal tersebut, pabrik roti itu mulai kembali meningkat hasil produksinya. Pelan tapi pasti, pabrik itu kembali bisa bekerja maksimal seperti sediakala.

Tentu saja, si pemuda sangat berterima kasih dengan bantuan sang ahli. "Wah, Paman memang sangat luar biasa. Pabrik roti saya sudah bisa kembali pulih dalam waktu yang relatif cepat. Apa sebenarnya yang Paman lakukan pada pabrik saya hingga bisa pulih?"
 "Sederhana saja. Aku hanya membenahi beberapa sekrup yang kendor di pabrik ini. Gampang dan cepat. Maka semua mesin kembali normal," jawabnya santai.

"Hah? Sesederhana itu rupanya masalah pabrik roti saya? Jadi, berapa saya harus bayar jasa Paman untuk memperbaiki itu semua?"

"Seratus juta!"

"Untuk memperbaiki sekrup kendor sampai seratus juta? Mahal sekali?"

"Memang. Untuk memperbaiki sekrup memang murah, seratus ribu saja. Tapi untuk menemukan sekrup-sekrup mana yang kendor dan perlu diperbaiki, itu yang mahal," tegas sang ahli.

"Tapi itu tetap mahal sekali," keluh si pemuda.

"Anak muda. Biaya itu tak akan jadi mahal jika kamu lebih memperhatikan anak buahmu. Namun, selama ini kamu hanya memilih marah dan marah pada mereka, tanpa tahu persoalan sebenarnya. Kamu langsung memberhentikan mereka tanpa tahu alasan apa yang menyebabkan masalah di pabrik. Seandainya kamu lebih bijak, mau mendengar orang lain, mau mencari inti masalah tanpa menyalahkan orang lain, niscaya pabrikmu tak akan mengalami masalah seperti sebelumnya. Ingat, banyak hal sepele yang mendasari munculnya masalah besar. Karena itu, jangan biasakan mencari-cari kesalahan orang lain, tapi carilah inti masalah dan segera selesaikan!"

Si pemuda pun merasa malu mendapat nasihat itu. Ia berjanji, akan berubah lebih perhatian pada pekerjanya dan tidak akan lagi mudah menyalahkan orang lain.

Pembaca yang luar biasa,

Kisah di atas sering kita jumpai pada banyak kehidupan. Sering mencari kambing hitam persoalan, serta menyepelekan masalah kecil. Dalam kisah tergambar bahwa si pemuda cenderung menyalahkan orang lain tanpa mau tahu alasan sebenarnya. Di kehidupan pun, kita melihat banyak perselisihan yang awalnya didasari oleh hal sepele, namun tidak bisa terkomunikasikan dengan baik. Ujungnya, hal kecil bisa merembet ke banyak hal yang tidak kita kehendaki.

Karena itu, pada kisah di atas menggambarkan setidaknya dua hal yang bisa kita petik hikmahnya. Pertama, jangan pernah menyalahkan orang lain jika tak tahu masalah sebenarnya. Cobalah untuk mengevaluasi apa yang ada di sekitar diri terlebih dahulu-termasuk dari dalam diri-sebelum memutuskan sesuatu. Kedua, bahwa ada banyak hal-hal atau masalah kecil yang sering kali dianggap sepele. Namun, jika tidak ditangani, akan berubah menjadi hal besar yang bisa menyulitkan kita.

Mari, kita jauhi sikap sering menyalahkan orang lain. Sebaliknya, mari kita mengembangkan komunikasi yang baik dengan banyak pihak, sehingga masalah demi masalah bisa terselesaikan dengan bijak tanpa ada yang harus disalahkan. Sehingga, masalah-masalah sepele pun tak akan membesar dan segera terselesaikan dengan solusi terbaik.

http://m.andriewongso.com/artikel/aw_artikel/5298/Nasihat_Sang_Ahli/

Kisah Penolong Kucing

Seorang sufi besar bernama Abu Bakar al-Syibli konon setelah wafatnya hadir dalam mimpi temannya, berdialog dengan Allah SWT.

“Apa yang menyebabkan dosamu diampuni oleh Aku?” Tanya Allah SWT pada Syibli.

“Shalat tepat pada waktunya,” jawab Syibli.

“Bukan,” kata Allah SWT menimpali.

“Zakat, puasa, dan hajiku yang menyebabkan dosaku diampuni,” lanjut Syibli.

“Bukan juga,” cetus Allah SWT.

Syibli pun heran, “Kalau semua ibadah yang telah aku jalankan tidak menghapus dosaku, lalu apa yang telah Kau ridhai dariku,” tanya Syibli penasaran.

“Aku meridai dan mengampuni seluruh dosamu lantaran engkau telah menolong seekor kucing yang sedang kedi nginan dan kelaparan.”

Kisah di atas dimonumentalkan oleh Syekh Nawawi al-Bantani, dalam kitab syarah Nashaih al- I’bad. Benar dan tidaknya kisah ini dari sisi ilmiah bukan hal penting. Pelajaran dari kisah itulah sesungguhnya yang patut kita petik. Utamanya untuk menyikapi situasi kehidupan umat manusia yang semakin hari dirasakan jauh dari rasa kasih dan kekeluargaan.

Di berbagai tempat kita miris dengan aneka perilaku yang tidak lagi mencintai bangsa dan aset negaranya sendiri sebagai anugerah Allah. Lihat saja kebrutalan dan kepanikan masyarakat sudah tidak bisa lagi dikendalikan. Seakan masyarakat telah tercerabut dari tuntunan keadaban yang berakar dari nilai kemanusiaan dan moral agama. Dengan begitu, tanpa rasa kasih mereka nekat membunuh sesamanya dengan sadis. Tidak peduli apakah yang dibunuh itu rakyatnya, atasannya, teman dekatnya, keluarganya, atau bahkan anak dan orangtuanya sendiri.

Mengapa kekerasan ini makin menjadi-jadi? Jawabannya berpulang kepada para komponen elite bangsa itu sendiri dalam memberikan keteladanan kasih sayang kepada rakyatnya. Apakah kaum elite yang mengatakan sudah menyuarakan rakyat dan keadilan telah dibuktikan untuk membela negara dan rakyatnya? Justru, rakyat kecil marah dan frustrasi karena kelompok elite tanpa sadar telah melakukan dosa.

Berapa banyak peraturan yang mereka legitimasi akhirnya digerus oleh tangan besi yang berdarah kolusi. Harta rakyat disulap dengan cek pelawat demi kekuasaan sesaat. Rakyat menjadi malang karena diadang oleh berbagai kasus korupsi.

Oleh karena itu, kisah sufi di atas seharusnya menjadi ibrah (pelajaran) yang amat berharga bagi kita untuk membiasakan diri menanamkan kasih sayang yang bermanfaat ke pada siapa pun makhluk Allah SWT. Dengan ibadah simbolis saja yang kita lakukan tanpa diimbangi dengan amal kemanusiaan, tidaklah Tuhan akan mengampuni dan meridai.

Rasa kasih sang sufi di atas yang dicurahkan kepada seekor kucing mengetuk kita semua untuk berlaku sayang dan adil kepada apa pun dan siapa pun umat manusia tanpa diskriminasi. Rasa kasih sayang seperti inilah kelak akan mengantar kan bangsa (negeri) kita menjadi negeri yang kuat (tanpa konflik), selamat, aman, damai, maju, dan ber adab. Semoga. Wallahu a’lam.
 

Thursday, May 24, 2012

Adonan Roti Menjadi Perisai

Suatu kali, seorang menteri di Mesir mengundang Ibnu Al-Furrat, lalu dia berkata, “Duhai celaka, aku memiliki niat buruk kepadamu. Setiap kali aku berkeinginan untuk menangkap dan memenjarakanmu, selalu saja saya bermimpi di malam harinya. Kamu melawanku dengan adonan roti. Suatu malam saya melihat dalam mimpi, tatkala aku hendak menangkapmu, kamu menolak. Lalu aku perintahkan kepada tentaraku untuk membunuhmu. Anehnya, setiap kali mereka menyerangmu dengan anak panah dan senjata lain, engkau menangkis serangan itu dengan adonan roti di tanganmu, sehingga serangan itu tidak melukaimu sama sekali. Maka ceritakan kepadaku, ada apa dirimu dengan adonan roti itu?”

Ibnu al-Furrat menjawab, ”Tuan, semenjak aku kecil, setiap malam ibuku selalu meletakkan adonan roti di dekat bantalku. Jika datang pagi hari, beliau bersedekah dengannya karena Allah demi aku. Itulah kebiasaan ibuku hingga beliau wafat. Ketika beliau wafat, aku melanjutkan kebiasaan ibuku. Setiap malam Aku menyiapkan adonan roti sendiri di dekat bantalku. Lalu pagi harinya, aku bersedekah dengannya. Begitulah kisahku dengan adonan roti.”

Sang menteri merasa takjub dengan kisah itu, lalu dia berkata, ”Demi Allah, setelah hari ini kamu tidak bisa kusentuh dengan keburukan, saya sudah menaruh niat baik kepadamu, dan aku sekarang menyukaimu.”

(al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Kastier jilid 11/151)
http://www.arrisalah.net/berita/2010/12/adonan-roti-menjadi-perisai.html

Doa Ibu yang Membuat Anaknya yang Mati Hidup Lagi

Sebelumnya saya pernah menulis tentang dahsyatnya Doa Nabi Yunus dan dahsyatnya Doa Nabi Musa. Kali ini saya akan menulis tentang dahsyatnya doa seorang ibu terhadap anaknya yang sudah mati, kemudian anak itu hidup kembali. Kisah ini saya dapatkan dalam kitab Mujab ad-Da’wah yang ditulis oleh Imam al-Hafizh Ibnu Abi ad-Dunya rahimahullah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu , dia bercerita:

Suatu hari kami menjenguk seorang anak muda dari Anshar (Madinah) yang sedang sakit berat. Kami tidak beranjak dari sisinya sampai ajal menjemputnya. Lalu kamipun membentangkan kain untuk menuntupi wajahnya. Ibunya yang sudah lemah dan tua berada di samping kepalanya. Lalu kami menoleh kepadanya sambil menghiburnya dengan berkata, ‘Berharaplah pahala dari Allah atas musibah yang menimpamu’.

‘Apakah anakku sudah mati?’, tanya wanita tua itu.

‘Ya’, jawab kami.

‘Benarkah apa yang kalian katakan?’, tanyanya lagi.

‘Ya, benar’, jawab kami.

Lalu wanita tua itu mengulurkan tangannya ke langit sambil berkata, ‘Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku pasrah kepada-Mu dan berhijrah kepada Rasul-Mu, dengan harapan agar Engkau berkenan menolongku dalam tiap kesulitan. Ya Allah, janganlah Engkau timpakan kepadaku musibah ini pada hari ini’.

Kemudian dibukalah penutup wajah yang telah kami tutupkan kepada anak muda itu. Tidak berapa lama kemudian, kami menyantap makanan bersamanya.

Ajaib, anak muda itu hidup kembali.

Apa hikmah kisah ini?

Pertama, kisah ini memberi bukti akan dahsyatnya efek doa seorang ibu yang shalihah. Doa orangtua kepada anaknya seperti doa Nabi untuk umatnya. Jangan ragu untuk selalu meminta doa dari orangtua.

Kedua, kisah ini memotivasi kita agar terus berdoa. Jangan pernah berhenti berdoa. Jangan berpikir mengapa doa kita belum terkabulkan. Kalaupun Allah swt ‘belum’ menjawab doa kita, maka kita sudah mendapatkan dua pahala: pahala berdoa dan pahala bersabar menunggu keputusan Allah swt. Tidak ada doa yang tidak terkabul. Allah swt mengabulkan doa-doa kita yang sesuai dengan kebutuhan kita dan sesuai pada waktu yang kita butuhkan.

Ketiga, kisah ini memotivasi kita untuk terus mempertebal keyakinan kepada Tuhan. Ya, keyakinan penuh kepada Allah swt, Sang Pemberi Kehidupan, bahwa Dia akan selalu menyertai langkah hidup kita. Keyakinan seperti ini tidak akan tumbuh dalam hati seseorang yang tidak percaya dengan Kemahakuasaan Allah swt. Keyakinan seperti ini tidak akan lahir dari hati yang lalai dari Allah swt. Itulah hati yang penuh dengan doa dan pengharapan kepada Allah, hati yang penuh dengan cinta kepada Allah, hati yang selalu berusaha lurus di jalan-Nya. Pemilik hati seperti ini akan selalu ditolong oleh Allah swt. persis seperti yang dilakukan-Nya terhadap wanita tua itu.

Kita seringkali merasa putus asa dan terombang-ambing dengan ujian hidup. Itu karena kita tidak punya keyakinan penuh kepada Allah swt. bahwa Dia akan menolong kita. Bisa jadi, hati kecil kita berkata bahwa sebabnya adalah karena kita kurang dekat dengan-Nya selama ini.

Jika kita selalu berusaha mendekat kepada Allah swt dan memperbaiki ibadah kepada-Nya, maka yakinlah Dia akan memberi jalan keluar pada setiap kesulitan kita.

http://bangaziem.wordpress.com/2012/05/17/doa-ibu-yang-membuat-anaknya-yang-mati-hidup-lagi-2/

Perjalanan Nicolas Anelka Menjadi Mualaf

"Islam banyak membantu saya untuk bisa bersikap tenang dan berkonsentrasi dan memiliki semangat tinggi. Saya senang menjadi seorang Muslim, sebuah agama yang tenang dan saya banyak belajar dari Islam." (Abdul Salam Bilal Anelka alias Nicolas Anelka)
 
Lahir di Versailles, Prancis, pada 14 Maret 1979, Nicolas Anelka menghabiskan masa kecilnya di Trappes, sebuah kota kecil yang terletak di pinggiran barat Kota Paris. Sebelum menjadi seorang Muslim, Anelka adalah seorang atheis alias tidak percaya adanya Tuhan. Ia bukanlah penganut agama Kristen, seperti yang diperkirakan sebagian orang, karena Anelka pernah benar-benar tidak mempercayai keberadaan Tuhan.

Namun, ketika tidak beragama itulah, dia banyak bergaul dengan temannya dari keluarga Muslim. Dari situlah striker yang kini membela klub Liga Super Cina, Shanghai Shenhua itu mulai tertarik dengan Islam. “Saya menjadi ‘seorang Muslim’ sejak saya berusia 16 tahun,” kata Anelka kepada majalah Super yang berbasis di Arab Saudi.

Kepada majalah FourFourTwo, juru gedor 33 tahun yang mengantarkan Prancis merengkur tropi Piala Eropa 2000 ini mengungkapkan alasan mengapa memilih Islam. Islam, kata Anelka, adalah cara hidup yang sesuai dengannya.

“Saya merasa nyaman dan tenang dengan agama dan hidup saya hari ini,” ujar pemilik nama Muslim, Abdul Salam Bilal Anelka ini. Anelka melanjutkan, “Tapi ini adalah masalah pribadi dan saya tidak membicarakan hal itu terlalu sering. Itulah sisi pribadi saya.”

Memeluk Islam, mengantarkannya pada perubahan positif dalam hidupnya. Mantan bomber Chelsea itu berpendapat, Islam menuntunnya untuk bertindak dengan bijaksana. Tidak lupa, dia menegaskan Islam adalah sumber kekuatan dalam dan di luar lapangan. “Saya memiliki karier yang sulit, saya kemudian memutuskan untuk menemukan kedamaian.. Dan, akhirnya saya menemukan Islam," tegas mantan juru gedor Real Madrid, Arsenal dan Manchester City itu.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/05/24/m4hk76-perjalanan-nicolas-anelka-menjadi-mualaf

Wednesday, May 23, 2012

Malaikat Mengelilingi Majelis Zikir

Sesungguhnya Allah memiliki sekelompok Malaikat yang berkeling di jalan-jalan sambil mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka menemukan sekolompok orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka saling menyeru, "Kemarilah kepada apa yang kamu semua hajatkan." Lalu mereka mengelilingi orang-orang yang berdzikir itu dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit. Apabila orang-orang itu telah berpisah (bubar dari majlis dzikir) maka para malaikat tersebut naik ke langit.

Allah bertanya kepada mereka (padahal Dialah yang lebih mengetahui perihal mereka). Allah berfirman : "Darimana kalian semua?" Malaikat berkata : "Kami datang dari sekelompok hamba-Mu di bumi. Mereka bertasbih, bertakbir dan bertahlil kepada-Mu."

Allah berfirman: "Apakah mereka pernah melihat-Ku?" Malaikat berkata: "Tidak pernah!"
Allah berfirman : "Seandainya mereka pernah melihat-Ku?"

Malaikat berkata: "Andai mereka pernah melihat-Mu niscaya mereka akan lebih meningkatkan ibadahnya kepada-Mu, lebih bersemangat memuji-Mu dan lebih banyak bertasbih pada-Mu."

Allah berfirman: "Lalu apa yang mereka pinta pada-Ku?" Malaikat berkata: "Mereka minta sorga kepada-Mu."

Allah berfirman: "Apa mereka pernah melihat sorga?" Malaikat berkata: "Tidak pernah!"

Allah berfirman: "Bagaimana kalau mereka pernah melihatnya?"
Malikat berkata: "Andai mereka pernah melihanya niscaya mereka akan bertambah semangat terhadapnya, lebih bergairah memintanya dan semakin besar keinginan untuk memasukinya."

Allah berfirman: "Dari hal apa mereka minta perlindungan?" Malaikat berkata: "Dari api neraka."

Allah berfirman: "Apa mereka pernah melihat neraka?" Malaikat berkata: "Tidak pernah!"

Allah berfirman: "Bagaimana kalau mereka pernah melihat neraka?"

Malaikat berkata: "Kalau mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan sekuat tenaga menghindarkan diri darinya."

Allah berfirman: "Aku persaksikan kepadamu bahwasanya Aku telah mengampuni mereka."

Salah satu dari malaikat berkata: "Di situ ada seseorang yang tidak termasuk dalam kelompok mereka. Dia datang semata-mata karena ada satu keperluan (apakah mereka akan diampuni juga?)"

Allah berfirman : "Mereka (termasuk seseorang ini) adalah satu kelompok di mana orang yang duduk bersama mereka tidak akan kecewa."

Dalam riwayat Muslim ada tambahan pada kalimat terakhir: "Aku ampuni segala dosa mereka, dan Aku beri permintaan mereka." SubhanAllah.