Monday, August 1, 2011

Sang Penyembuh

Suatu hari Nabi Musa mengalami sakit gigi yang sangat menyiksanya, lantas beliau pun mengadukan perihal ini kepada Allah sang Maha Penyembuh. Demi mendengar keluh nabi yang disayangiNya itu, Tuhan pun memberitahunya obat penawar sakit giginya tersebut. Allah menyuruh Musa untuk mencari sebuah tanaman (berdasar sebuah Riwayat, tanaman itu sejenis rerumputan) yang bisa dijadikan penawar dari sakit yang sedang dideritanya itu. Musa pun tanpa menunggu lama lagi segera bergegas mencari tanaman yang dimaksud oleh Tuhan tersebut. Dan selang beberapa waktu kemudian tanaman yang dimaksud berhasil ditemukan dan seketika itupun Musa segera mengkonsumsinya sebagai obat sesuai dengan apa yang telah diresepkan oleh Tuhan. Dan akhir kisah, sakit gigi beliau pun sembuh dan Musa bersyukur dengan kesembuhannya itu. Beliau lantas berujar,”Alhamdulillah berkat tanaman ini sakit gigi ku akhirnya sembuh.”

Kemudian di lain waktu berselang lumayan lama dari kejadian itu, Musa menderita sakit gigi lagi. Dan seketika itu beliau teringat akan tanaman yang dahulu dianggapnya dapat menyembuhkan penyakit gigi yang pernah dialaminya. Tanpa membuang-buang waktu, Musa beranjak dari tempatnya dan mencari tanaman itu. Setelah tanaman itu berhasil didapat, Musa pun menyeduhnya dan menggunakannya sebagai obat seperti yang dahulu pernah diresepkan Tuhan. Dan selang beberapa waktu setelah meminumnya, tak nampak ada efek berarti dari tanaman yang “dianggap” oleh Musa dapat menyembuhkan penyakitnya itu. Dan setelah dirasa cukup lama menunggu namun tak ada dampak yang berarti dari tanaman yang terlanjur dipercaya Musa sebagai obat yang sangat manjur bagi sakitnya itu, Musa pun mengadu kepada Allah perihal semua itu. Allah yang Maha Tahu pun kemudian perlahan menjelaskan perihal semua kejadian itu kepada Sang Nabi yang tiada seorang nabi pun pernah diajak bercakap-cakap dengan Nya selainnya.

“Hai Musa! Aku telah mengetahui semua yang telah engkau alami.”

“Engkaulah memang satu-satunya Yang Maha Mengetahui, wahai Tuhanku dan Tuhan sekalian alam,” jawab Musa.

“Hai Musa, ketahuilah bahwasannya ada sebuah pelajaran berharga dari semua kejadian yang telah engkau alami, wahai Nabiku.”

“Hikmah apakah yang Engkau maksudkan, ya Robb?”

“Tentang ikhtiarmu yang keliru.”

“Maksud Engkau?”

“Sadarilah wahai Musa, dahulu saat pertama kali engkau menderita sakit dan mengadu kepadaku bukankah Aku telah menunjukimu tentang sebuah tanaman yang dapat menjadi penawar bagi sakitmu?”

“Benar, wahai Tuhanku!”

“Dan saat Engkau menggunakannya sebagai obat dan ternyata mujarab, engkau kemudian menganggapnya sebagai sang penyembuh sakitmu.”

Musa masih Khusyu’ mendengar “Ceramah” Tuhannya.

“Kemudian,” lanjut Tuhan, “Setelah selang beberapa waktu saat engkau mengalami sakit yang sama, seketika itu pula engkau segera mencari tanaman yang terlanjur engkau anggap sebagai sang penyembuh sakitmu itu, bukan? Dan setelah engkau menggunakannya sebagai obat ternyata tidak manjur seperti dahulu, bukan? Nah disinilah letak kekhilafanmu, wahai Musa. Engkau lupa bahwasnnya yang bisa menyembuhkan segala penyakit adalah Aku. Obat hanyalah sebagai perantara saja. Terserah mau ku letakkan dimana bentuk kesembuhan dari sebuah penyakit. Semua itu kulakukan untuk melihat sejauh mana manusia berikhtiar menjemput kesembuhannya. Ingat, berbagai bentuk obat hanyalah sebuah perantara karena hak untuk menyembuhkan hanyalah di tanganKu. Mengertikah engkau Musa?”

Musa yang sedari tadi termangu mendengar “Khotbah” Tuhannya mendadak terkesiap dan sadar. Ia pun kemudian beristiqfar atas kekhilafannya dan bertasbih memuji ke–MahaSuci-an Tuhannya.

Dari kisah itu, nampaknya kita juga mulai tersadar bahwasannya kita selama ini memang sering seperti apa yang telah dilakonkan Musa dalam kisah tersebut. Bukankah terlalu sering kita menganggap bahwannya obat dari dokter lah yang dapat menyembuhkan penyakit yang sedang kita derita. Kita sering lupa bahwa di balik kesembuhan yang telah kita rasakan setelah sakit kita, ada kehendak Tuhan di baliknya. Obat, dokter, dan sarana penyembuhan lainnya adalah sebuah media/perantara saja, tak lebih. Dan terserah Allah dimana mau meletakkan kesembuhan seseorang, entah itu di obat A, Dokter C, Tabib B, Bidan D dll, semua terserah Allah. Karena sesungguhnya hikmah di balik itu semua adalah, tentang mengukur sejauh mana tingkat ikhtiar dan ke-tawakall-an manusia dalam menjemput kesembuhannya.

Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?”,(Qs. Al Qiyaamah [75] : 27)

Maka jawabannya adalah, “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku”, (Qs. As Syu’araa’ [26] : 80)

Sebagai manusia yang berakal sehat, janganlah kita mengulang kisah Bani Isra’il dahulu (dan masih dilestarikan oleh sekelompok umat lain hingga kini) yang menganggap manusia yang bisa menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati dan berbicara saat masih oroknya, sebagai Tuhan. Padahal semua itu adalah mukjizat semata dan tidak akan pernah bisa terjadi jika Allah tak mengizinkannya. Lantas mengapa Tuhan melakukannya, hingga akhirnya kini banyak manusia yang tersesat dengan menuhankan manusia (Nabi) karena semua mukjizat itu? Salah satu jawabannya adalah karena Tuhan hendak memperlihatkan tingkat kedewasaan masing-masing manusia, dianggap dewasa dan berakal sehat jika mereka dapat mengerti maksud Tuhan dalam kisah Bani Isra’il dalam Al Qur’an (salah satunya dalam Surah Al Ma’idah [05] ayat ke 110*). Manusia dewasa dan berpikiran sehat adalah mereka yang dapat membedadkan Tuhan dan manusia. Sedangkan mereka yang masih belum dewasa dan pikirannya masih belum terbuka adalah mereka yang tidak dapat membedakan antara Tuhan, manusia/Nabi, sehingga Manusia atau Nabi pun dapat dialih-posisikan sebagai Tuhan yang wajib disembah. Semoga kita termasuk dalam golongan mereka yang dewasa dan masih dapat berpikir sehat, Tuhan dan manusia jelas berbeda, bukan?


Note :

Surah Al Ma’idah [05] ayat ke 110, “(ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu aku menguatkan kamu dengan Ruhul qudus. kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata”. (Qs. Al Ma’idah [05] ayat ke 110)

Oleh : Musyaf Senyapena (senyapena@gmail.com)
http://musyafucino.wordpress.com/2011/03/06/467/

Pil Umur Panjang

“Rasa iri menggerogoti sukacita, kebahagiaan, dan kepuasan hidup seseorang sampai habis.” - Billy Graham

Dahulu di sebuah desa, hiduplah seorang tabib yang sangat pandai menyembuhkan orang. Namanya tabib Lie. Selain pandai mengobati, tabib Lie pun tidak pernah meminta bayaran kepada penduduk. Itulah sebabnya penduduk desa senang sekali kepadanya.

Keadaan itu membuat tabib Han menjadi menjadi iri. Sebenarnya tabib Han juga pandai menyembuhkan orang. Namun, saying ia selalu meminta bayaran tinggi. Jadi penduduk desa kurang senang padanya. Melihat kesuksesan Tabib Lie, timbullah niat jahat di benak Tabib Han. Suatu hari Tabib Han menghadap Baginda Raja Mhing. Raja Mhing terkenal sebagai pengusaha yang kurang bijaksana dan cepat sekali emosi. Tabib Han pun memanfaatkan hal itu untuk mencelakakan Tabib Lie.

Tabib Han melaporkan kepada Baginda Raja, “Tabib Lie ternyata mempunyai sebutir pil umur panjang. Ia sengaja menyembunyikannya untuk dipakai sendiri.

“Pil umur panjang.” Kening Baginda berkerut.

“Benar, Yang Mulia, tabib Lie berusaha menyembunyikan pil penemuannya itu,” Kata tabib Han, berusaha membohongi baginda Raja.

Mendengar ada sebutir pil yang dapat membuat seseorang menjadi berumur panjang, Baginda Raja pun tertarik. Baginda Raja segera memerintahkan tabib Lie untuk menghadapnya.

Tabib Lie terkejut saat mendengar permintaan Baginda Raja. “Ampun, Baginda Raja. Sebenarnya hamba tidak mempunyai pil umur panjang itu,” kata Tabib Lie hati-hati.

Mendengar perkataan tersebut baginda pun marah, “Jangan bohong! Aku tahu kau sengaja menyembunyikan pil itu untuk kau makan sendiri. Aku tidak mau tahu. Kuberi kau waktu satu minggu. Jika kau tidak memberikan pil itu, kepalamulah taruhannya.”

Tabib Lie tidak dapat lagi berkata-kata. Ia mengetahui bahwa ini pasti ulah tabib Han, orang yang iri dan selalu mencoba menyingkirkannya. Tabib Lie kembali ke rumah. Ia sangat sedih dan tidak dapat tidur nyenyak. Istrinya yang mengetahui keadaan suaminya datang mendekatinya lalu membisikkan sesuatu kepadanya. TIba-tiba saja wajah murung tabib Lie berubah ceria. Ternyata Sang istri telah memberinya sebuah ide cemerlang untuk mengatasi masalahnya.

Beberapa hari berlalu. Akhirnya waktu yang ditentukan Baginda Raja berakhir. Tabib Han bersorak melihat keadaan tabib Lie. “Kali ini kau pasti dapat ku singkirkan,” piker tabib Han.

Pagi itu tabib Lie datang menghadap Baginda Raja.

“Mana pil pesananku?” Tanya Baginda tanpa basa-basi.

“Ampun Yang Mulia, sebelum Hamba memberikan pil umur panjang itu, izinkan Hamba menyampaikan sesuatu,” Ujar Tabib Lie

“Cepat katakan,” jawab Baginda Raja tidak sabar.

“Pil umur panjang itu baru akan berkhasiat jika Baginda meminumnya sesuai dengan syarat-syaratnya,” Jawab tabib Lie menjelaskan.

“Syarat?” Baginda tidak mengerti.

“Sebelum pil umur panjang itu Baginda minum, Baginda harus menjalani puasa selama 40 hari 40 malam” jelas tabib Lie.

Syarat yang aneh. Ujar Baginda Raja. “Tetapi baiklah aku akan melakukannya,” lanjutnya. Akhirnya mulai hari itu Baginda pun mulai menjalani puasanya. Hari pertama puasa, baginda dapat menjalaninya dengan baik, tetapi memasuki hari ketiga Baginda merasa resah. Ia tidak dapat tidur dan bekerja dengan konsentrasi karena lapar yang dideritanya. “Apa enaknya mendapatkan pil umur panjang itu kalau aku harus berpuasa sampai 40 hari. Mungkin sebelum mendapatkan pil itu aku sudah mati kelaparan,” Pikir Baginda.

Tiba-tiba Baginda sadar kalau permintaannya itu aneh. “Mana ada manusia yang abadi? Setiap manusia pasti akhirnya akan meninggal juga.” Kata Baginda. “Alangkah bodohnya aku karena menerima laporan yang tidak masuk akal dari tabib Han.” Sesal Baginda.

Akhirnya Baginda sadar bahwa tabib Han sudah membohonginya. Segera saja ia menyuruh pengawalnya menangkap tabib Han dan menjebloskannya ke dalam panjara.

Aeschylus berkata, “Hanya sedikit orang yang memiliki kekuatan untuk menghormati keberhasilan seorang teman tanpa iri hati.” Rasa iri memang hanya akan merusak hati dan menyengsarakan hidup. Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.

Bila menyadari bahwa tidak ada satu pun keuntungan dengan menyimpan salah satu penyakit hati itu, kenapa kita tidak berusaha menyingkirkannya? Belajarlah untuk dapat menerima kesuksesan orang lain dengan lapang dada karena terkadang kita harus mengakui bahwa “di atas langit masih ada langit”. Atau ketika melihat keberhasilan seseorang, jadikanlah itu sebagai lecutan untu memotivasi diri agar mampu bekerja lebih maksimal lagi. Bila perlu bergaullah dengan mereka dan jalin sebuah hubungan yang baik agar kita pun dapat berjalan meraih sukses. Jika mereka mampu, kita pasti juga mampu.

Jika kita sibuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang semakin baik dari hari ke hari, saya rasa kita tidak akan punya cukup waktu untuk merasa iri dengan orang lain. Bagaimana menurut Anda?

*taken From: “Inspirasi 5 Menit” by Imeda Saputra
http://www.anakunhas.com/2010/02/inspirasi-hari-ini-pil-umur-panjang.html

Friday, July 29, 2011

Cukuplah Hanya Musailamah yang Permalukan Diri Sendiri

Musailamah termasuk salah seorang yang mendakwakan dirinya 'nabi', setelah wafatnya Rasululah SAW. Berbagai upaya ia lakukan guna menarik perhatian dalam menggalang dukungan dari masyarakat. Laki- laki yang 'kebelinger' ini tampaknya memang telah mempersiapkan diri secara matang. Karya sastra yang disusun Musailamah diketengahkannya sebagai tandingan ayat-ayat Alquran. Maksudnya, agar orang percaya, kalau dia pun mendapat wahyu, sebagaimana halnya Rasulullah SAW.

Sayang, syair-syair kreasinya dinilai jauh di bawah standar sastra Arab. Sama sekali tak ada nilainya dibandingkan dengan keindahan sastra ayat Alquran. Apalagi kalau disimak materinya yang menyangkut reproduksi dan kehidupan katak. Dinilai terlalu mengada-ada, hingga jadi tertawaan dan ejekan masyarakat. Meskipun demikian, Musailamah tidak patah arang. Lelaki yang ambisius ini begitu percaya diri.

Gagal memperoleh pengakuan, membuat Musailamah semakin penasaran. Dengan arogan, ia mengemukakan tantangan terhadap kehebatan Muhammad SAW, sebagai Rasul Allah. Dikatakan kepadanya, bahwa dengan izin Allah, Rasulullah SAW pernah menyembuhkan penderita yang matanya buta sebelah. Alih-alih menyerah, Musailamah malah minta didatangkan penderita dengan kasus yang sama.

Dengan disaksikan orang banyak, Musailamah mulai mendemonstrasikan metode pengobatannya. Mulutnya komat-kamit layaknya orang sedang berdoa. Tak ada yang tahu, mantera apa yang dilafazkannya. Sejenak kemudian, Musailamah mengusapkan telapak tangannya ke mata si penderita. Apa yang terjadi? Ternyata, olesan telapak tangan Musailamah menyebabkan si penderita mengalami buta total. Sebelum berobat salah satu matanya masih berfungsi secara normal. Di tangan Musailamah, kedua mata pasien itu serentak buta.

Lagi-lagi Musailamah mengalami kegagalan. Namun, kali ini kegagalan terjadi di depan khalayak. Ia dipermalukan secara terbuka. Dalam terminologi agama, apa yang dialami Musailamah tersebut, dikenal dengan khizlanah. Kebohongan publik ini kemudian mengantarkan Musailamah ke "penobatan" dirinya sebagai al-Kazzab (si Pembohong). Musailamah al-Kazzab gelar dilekatkan pada diri sosok nabi palsu ini sepanjang sejarah.

Karena itu, orang yang membuat dirinya dipermalukan di depan khalayak akibat perbuatannya sendiri, itulah yang disebut dengan khizlanah. Di negara kita, banyak orang yang bisa disebut dengan khizlanah. Seperti, mereka yang melakukan korupsi lalu fotonya dipajang di mana-mana di media massa. Kemudian, ada orang yang terhormat berselingkuh atau terlibat aksi pornografi. Artis ataupun aktor yang melakukan hal serupa sehingga namanya semakin terkenal karena perbuatan buruknya. Pejabat yang hanya obral janji, juga bisa disebut dengan khizlanah.

Allah SWT mewanti- wanti kita selaku hamba-Nya, agar tidak alpa menyebut asma-Nya di setiap aktivitas dalam kehidupan. Baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun sebagai warga negara. "Dan, jangan sekali- kali kamu menyatakan terhadap sesuatu, 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) insya Allah'." (QS [18]: 23-24). Wallahu a'lam.

Oleh: Jalaluddin
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/07/28/lp100h-cukuplah-hanya-musailamah-yang-permalukan-diri-sendiri

Timur Leng, Sang Penakluk Dunia yang Setia Mengabdi kepada Allah

Adalah seorang penakluk yang dianggap terbesar dalam sejarah. Dialah Timur Leng (1336-1405 M), yang juga mendapat julukan “Tamerlane”, sang penakluk dunia. Selain Jengis Jhan, dialah satu-satunya penakluk yang mampu menjelajahi daratan sangat luas, mulai dari Pantai pasifik di Timur hingga ke pinggir Sungai Don di Barat.

Penaklukan dahsyat yang ia lakukan berhasil melumpuhkan dua Raja besar pada zamannya, Sultan Turki, Bayazid Yiddrim, dan Kaisar Mongol, Toktamish, yang juga adalah cucu Jengis Khan.

Menurut para sejarawan, prestasi Timur Leng jauh lebih unggul dibanding Jengis Khan. Kaisar Mongol yang bengis ini yang tidak pernah menghadapi pasukan yang kuat di daratan Rusia, sementara Timur berhadapan dengan pasukan yang sangat kuat yang dipimpin oleh Kaisar Toktamish. Bahkan ada sejarawan yang menilai, Timur lebih menonjol ketimbang Iskandar Zulkarnain. Sebab, Iskandar hanya berhadapan dengan pasukan-pasukan yang lemah.

Kurang lebih 550 tahun silam, adalah seorang lelaki yang berusaha menjadikan dirinya sebagi penguasa dunia, tulis sejarawan terkemuka Inggris Harorld Lamb dalam bukunya, Tamerlane Sang Pengguncang dunia. Segala sesuatu yang diusahakan selalu berhasil, sehingga orang menyebutnya sebagai “Tamerlane” sang penakluk dunia.

Ia dilahirkan pada 8 April 1336 M/25 Sya’ban 736 H di kota Hijau. Ia adalah anak Taragai, kepala suku Barlas di Uzbekistan, Asia tengah sekarang. Taragai, sang ayah kabarnya masih keturunan Karachar Noyan, kerabat Jagatai, anak Jengis Khan. Tapi Timur Leng, sering disebut sebagai keturunan Jengis Khan. Belakangan ia masuk Islam dan berpaham Syiah. Ada yang bilang ia menganut tarekat Naqsyabandiyah.

Di masa kecil ia tidak punya apa-apa, kecuali seekor lembu. Tapi yang istimewa, bersama ayahandanya ia biasa menghabiskan waktunya bersama-sama orang suci. Ayahandanyalah yang mengajarkan Islam kepada anaknya ini. Suatu hari ayahandanya berkata, “Dunia ini tidak lebih baik ketimbang sebuah Jambangan bunga emas yang penuh berisi Kalajengking dan Naga.” Itulah pandangan hidup ayahandanya tentang dunia, yang terpatri kuat dalam sanubari Timur Leng.

Sejak kecil ia sudah menampakkan watak sebagai orang besar. Ia sangat tidak menyukai perbuatan-perbuatan bodoh. Itu sebabnya selama hidupnya ia tidak pernah punya waktu untuk bergurau. Meski sebagai lelaki ia sangat kaku, tapi ia sangat pemberani dan cerdas. Barangkali itu pula sebabnya ia berhasil mengawini gadis cantik bernama Alji Khatun Agha.

Ketika usianya baru 12 tahun, ia sudah terlibat dalam sejumlah peperangan. Ketika ayahandanya meninggal, ia bergabung dengan pasukan Amir Qaghazan, sampai Gubernur Tansoxiana itu meninggal. Suatu ketika pasukan Tughluk Timur khan menyerbu dan Timur Leng menghadangnya. Ia bertempur dengan gagah berani, sehingga mengundang simpati Tughluk, musuhnya. Karena itu, ia direkrut Tughluk sebagai komandan pasukannya. Namun belakangan memberontak setelah Tughluk mengangkat anaknya, Ilyas Khoja, sebagai Gubernur Samarkand, sementara ia hanya sebagai pejabat biasa.

Tak lama kemudian ia bergabung dengan Amir Husain, cucu Qaghazan. Dengan mengendarai kuda perkasa yang gagah berani ia menyerang Tughluk dan Ilyas Khoja. Keduanya tewas, sementara pasukan Tughluk tunggang langgang melarikan diri. Setelah berhasil memenangkan perang, pada 10 April 1370 para Ulama mengangkat Timur Leng sebagai komandan bangsa Tartar. “Sebagaimana hanya ada satu Tuhan di alam ini, maka di muka bumi seharusnya juga hanya ada satu Raja,” kata Timur Leng seusai dilantik.

Di awal karirnya sebagai komandan tentara tartar, ia berhasil merebut kota Hijau dengan taktik tipu muslihat. Mula-mula ia menyusupkan pasukan kecil di sekeliling kota. Setelah menguasai medan, mereka menebang dahan-dahan pohon di pinggir-pinggir jalan dan membakarnya. Karuan saja, dalam waktu singkat hal itu menimbulkan kobaran api dan tebaran abu yang luas. Melihat itu Jenderal Jat yang menjaga kota Hijau mengira, mereka diserang oleh pasukan yang berkekuatan sangat besar. Mereka ketakutan dan akhirnya menyerah.

Pada saat yang bersamaan, pasukan Timur Leng, menyusup ke perkemahan tentara kota Hijau yang dipimpin oleh Bikijuk. Mereka menyalakan api besar disekeliling kemah. Melihat api berkobar di mana-mana, musuh pun ketakutan, hingga mereka melarikan diri sebelum fajar menyingsing. Pada saat itulah sebagian pasukan Timur Leng menyerang dari belakang.

Setelah itu Timur Leng juga berhasil merebut Heart, sebuah kota penting yang dihuni seperempat juta orang yang memiliki beberapa lembaga pendidikan. Ketika itu ancaman terbesar bagi bangsa Tartar adalah orang-orang Mongol yang terkenal dengan sebutan “Gerombolan Emas”. Gerombolan ini dipimpin oleh anak cucu Jengis Khan yang ketika itu tengah berada di puncak kejayaan. Mereka berkeliaran di sepanjang dataran Siberia yang berbatasan dengan padang Tundra yang luas di utara.

Terkadang mereka turun mengganggu sampai ke wilayah-wilayah kekuasaan bangsa tartar. Orang-orang mongol termasuk sangat lihai menunggang kuda dengan kecepatan luar biasa. Gerombolan ini dipimpin oleh Toktamish, pengeran berhati jahat yang pernah minta perlindungan kepada Timur Leng, dan meninggalkan Urus Khan, pimpinan bangsa Mongolia. Saat itu Toktamish mengincar kekuasaan Tartar.

Suatu hari di musim dingin, bersama sebuah pasukan besar. Toktamish menyusup ke sekitar sungai Syr Darya, tapi penyusupan itu diketahui oleh intelejen Timur Leng. Para penasehatnya menyarankan agar Timur Leng menunggu sampai pasukannya yang saat itu tersebar berkumpul kembali. Tapi Timur Leng menolak. Ia pergi sendiri memimpin pasukan yang terdiri dari resimen-resimen kecil.

Dengan mengendarai kuda, di bawah hujan dan salju, pasukannya menyerang pos-pos luar gerombolan Toktamish dan merangsek masuk ke perkemahan mereka. Manuver yang taktis ini membuat pasukan Toktamish mundur tergesa-gesa. Timur Leng memang lebih yakin dengan taktik menyerang ketimbang bertahan. Karena itu ia memutuskan menyerang gerombolan emas tersebut.

Tak lama kemudian bersama pasukan besarnya, ia melaju munuju Rusia melalui padang rumput Sitepa. Inilah sebuah petualangan antara hidup dan mati, menempuh perjalanan 1.800 mil dalam waktu 18 minggu, lambat laun pasukannya kehabisan tenaga karena kekurangan perbekalan. Sementara pasukan Toktamish terus menghindar dan bergerak jauh ke utara, masuk ke dalam rimba yang dingin. Namun mereka tercengang menyaksikan betapa pasukan Timur Leng yang gigih terus bergerak di tengah semakin menipisnya perbekalan dan dilanda kelelahan.

Suatu pagi, Timur Leng membagi pasukannya dalam tujuh divisi yang dipimpin oleh anak-anaknya sendiri, didampingi beberapa jenderal yang berpengalaman. Ia sendiri memimpin divisi sentral bersama para veteran perang, dan jenderal-jenderalnya. Serangan pertama dilancarkan, dipimpin oleh komandan bernama Syaifuddin. Sementara divisi sentral diperintahkannya terus maju dibawah pimpinan putranya sendiri, Miran Shah.

Pasukan ini menggempur habis-habisan pasukan Toktamish, dan Toktamish lari tunggang langgang, Timur Leng terus mengejar Gerombolan Emas yang meninggalkan barang rampasan cukup banyak. Beberapa hari kemudian Timur Leng menggempur Serai dan Astara Khan di kawasan sungai Volga. Dan akhirnya terbayarlah dendamnya terhadap Toktamish yang pernah membakar kota Bukhara.

Timur Leng kemudian merangsek di sepanjang sungai Don dan akhirnya menginjakkan kakinya di Moskwa tanpa hambatan. Para bangsawan dari kekaisaran Rusia lari tunggang langgang. Tak lama kemudian Timur Leng pulang, tanpa sempat masuk ke kota Moskwa. Dalam perjalanan pulang, ia menggempur benteng batu yang disebut Takrit milik bangsa Georgia di Rusia bagian selatan yang suka berperang. Pasukan Timur Leng berusaha menaklukkan benteng Takrit dengan memanjat tali, akhirnya benteng yang dibangun di atas puncak bukit karang itu bisa dikuasai.

Sasaran selanjutnya adalah Persia. Ia tiba di Persia pada tahun 1386 M dengan sejumlah besar prajurit. Ia sempat menyelesaikan pertikaian antara para pangeran Kesultanan Persia yang dipimpin oleh Sultan Muzaffar. Suatu ketika Sultan Mansur, salah seorang putra mahkota, membunuh beberapa orang kepala suku Tartar, mendorong pasukan Tartar merebut Isfahan. Semua putra mahkota menyerah, kecuali Mansur, yang melarikan diri ke pegunungan. Tak beberapa lama kemudian, Ziraz pun ditalukkan. Disini ia bertemu dengan Hafizd, penyair Persia yang sangat terkenal.

Selama musim semi tahun 1399, Timur Leng menyerbu India melalui Khayber Pass. Ia hanya menghadapi perlawanan kecil, pasukannya terus merangsek ke Delhi tanpa kesulitan. Selesai dengan urusan di India, ia pulang dengan membawa pasukan gajah dan 200 orang tukang batu untuk membangun fondasi masjid Samarkand. Tak lama kemudian Timur Leng merebut Bagdad dengan kekerasan.

Setelah itu ia mulai mengincar kekaisaran Turki. Mula-mula ia menulis surat kepada kaisar Turki, Bayazid Yildrim, minta agar Kaisar tidak membantu Kurra Yusuf dan Sultan Ahmad dari Bagdad. Bayazid membalas surat itu dengan kalimat-kalimat yang bernada sombong dan tidak sopan. Karuan saja Timur Leng berang. Tapi ia tidak segera menyerang Bayazid, karena menyadari dikelilingi oleh banyak musuh dari segenap penjuru. Ia bertekad menghancurkan mereka satu persatu. Mula-mula ia bergerak menuju Syria, menaklukkan suku Turkoman di selatan Rusia. Setelah itu ia melumpuhkan Sultan Mamluk dari Mesir dekat Allepo, kemudian bergerak ke Damaskus.

Pasukan Timur Leng bahkan mengejar pasukan Mesir sampai keluar Palestina. Divisi yang lain bergerak menuju Bagdad. Dalam waktu hanya 14 bulan, ia telah melancarkan dua perang besar, beberapa perang kecil, dan merebut hampir selusin kota yang dibentengi tembok batu yang kokoh. Ia berhasil menghancurkan sekutu Bayazid. Merasa terancam oleh agresi Timur Leng pada awal 1402, Bayazid mengerahkan kekuatan sebanyak 200.000 prajurit.

Sebelum menyerang Bayazid yang berkuasa di Turki, Timur Leng mempelajari geografi daerah-daerah yang akan diserangnya. Ternyata daerah itu tidak cocok untuk pasukan kavaleri. Ia lalu bergerak ke selatan dan terus maju menyisir sepanjang lembah sungai Halys. Di sana ia mengatur dua siasat. Melepas kuda sambil menunggu untuk menyerang, atau maju terus menjelajah. Timur Leng memilih taktik kedua: memaksa pasukan Turki menunggu sedemikian rupa agar senantiasa mengikuti gerak-geriknya.

Tentara Turki yang kebanyakan pasukan Invanteri itu cepat merasa lelah. Bayazid pun mengikuti perjalanan Timur Leng, berjalan cepat selama seminggu, sehingga lelah, haus dan lapar. Akhirnya Timur Leng menduduki pangkalan utama pasukan Bayazid yang menyimpan persediaan makanan dan minuman. Maka buru-buru Bayazid menyerang, sementara pasukan Tartar yang tangguh bertahan sekuat tenaga, dan akhirnya Bayazid pun menyerah.

Sultan Turki, Bayazid itu pun dibawa ke hadapan Timur Leng yang menerimanya dengan penuh hormat, mendudukkannya di sampingnya. Istri dan jubahnya dikembalikan kepada Bayazid. Selepas menaklukkan Bayazid, Timur Leng bergerak menuju Smima, sebuah kota kecil yang dikenal sebagai gerbang masuk ke Eropa. Tak tahan menghadapi pasukan Timur Leng, pasukan Kurra Yusuf dan Sultan Ahmad dari Bagdad menyingkir ke Arabia dan Mesir. Belakangan Sultan Mamluk dari Mesir dan beberapa Raja dan kaisar dari Eropa buru-buru menyatakan tunduk dan setia. Mereka bersedia membayar upeti tahunan.

Kini Timur Leng bertekad mewujudkan ambisinya yang terakhir: menaklukkan Cina, dengan menaklukkan negeri ini, ia menganggap dirinya sebagai penakluk terbesar yang mampu menundukkan kekuatan paling besar di dunia. “Kita telah menaklukkan seluruh daratan Asia kecuali Cina. Anda semua menjadi sahabatku dalam peperangan dan tak pernah gagal merebut kemenangan. Untuk merebut Cina, tak begitu banyak kekuatan yang kita butuhkan,” kata Timur Leng kepada Dewan Putra Mahkota.

Dengan membawa seperempat juta prajurit, ia menyerbu Cina. Saat itu kebetulan musim dingin sedang mencapai puncaknya. Meski demikian. Ia maju terus. Pasukan Tartar itu tiba di Ortar dengan selamat untuk beristirahat selama musim dingin yang menggigit. Sesudah musim dingin reda, ia akan melanjutkan penyerbuan. Tapi sayang pada bulan Maret 1405, ia meninggal dunia. Penyerbuan ke Cina pun urung. Dan pasukan Tartar pun dengan serta merta menyerah kepada Kaisar Cina.

Begitu pemimpin besar Tartar itu wafat, terjadilah perebutan kekuasaan di antara anak-anaknya: Muhammad Jehanekir dan Khalil. Setelah bertempur hebat Khalil menang. Namun tidak beberapa lama ia dikudeta oleh saudaranya yang lain, Syekh Rukh (1405-1447). Syekh Rukh dan anaknya Ulugh Bey (1447-1449), memerintah negeri Tartar dengan cukup bijak. Ilmu pengetahuan kembali berkembang. Namun tidak lama kemudian, pada tahun 1469 kekuasaan keluarga Timur Leng itupun ambruk.

Timur Leng sesungguhnya bukan hanya seorang Kaisar penakluk kawasan yang luas di Asia dan Eropa, melainkan juga seorang pemimpin yang cinta ilmu, seni dan kebudayaan. Ia menyemarakkan kota asalnya, Samarkand dengan Istana, gedung dan Taman-Taman yang megah dan indah, dengan jalan-jalan yang lebar. Ia juga membangun sebuah masjid raya hanya dalam waktu sebulan sebagai pusat ilmu dan kebudayaan. Ia pun mengembangkan gaya arsitektur baru dengan selera tinggi.

Ketika itu, bisnis dan perdagangan juga berkembang pesat. Samarkand dan Tabriz menjelma menjadi pusat perdagangan besar di dunia Timur. Rute perdagangan antar benua yang telah diblokir selama ratusan tahun dibuka kembali. Timur Leng juga mengentaskan orang-orang miskin. Ia mendirikan rumah-rumah sederhana untuk menampung orang-orang cacat dan lemah. Wilayah kekuasaannya juga dibersihkan dari perampok dan pencuri. Para Hakim dan Komandan tentara bertanggung jawab terhadap keamanan di daerah masing-masing.

Meski dikenal sebagai pemimpin besar, Timur Leng adalah orang yang sangat sederhana, dan suka berterus terang. Ia sangat tidak menyukai sikap sombong, kebiasaan pesta pora. Ia tidak pernah memakai gelar kebesaran sebagai Kaisar. Dalam surat menyurat, ia lebih suka menggunakan kalimat seperti, “Saya, Timur, Pengabdi Allah, menyatakan." (ar/sf) www.suaramedia.com

http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/26472-timur-leng-sang-penakluk-dunia-yang-setia-mengabdi-pada-allah.html

Thursday, July 28, 2011

"Kalau Mau Pindah Agama, Pindahlah ke Islam!"

Sally berasal dari keluarga Filipina penganut Katolik yang taat. Ia dididik dengan nilai-nilai dan tradisi ajaran Katolik. Pada usia 15 tahun, Sally masuk biara dan bahagia menjalani kehidupan sebagai biarawati.

"Saya bahagia karena saya bisa melaksanakan tugas-tugas saya sebagai biarawati dan orang-orang di sekeliling saya, termasuk keluarga juga bahagia melihat saya," ujar Sally.

Hingga datang suatu masa ketika Sally mulai bertanya pada dirinya sendiri, setiap malam, "Apa yang saya lakukan di dalam biara ini?" Ia jadi sering pergi ke sebuah kapel kecil dan sederhana dan berdiam diri di sana. Di dalam kapel, Sally mulai mempertanyakan apakah Tuhan benar-benar mendengarnya, karena dalam ajaran Katolik yang ia tahu, disebutkan bahwa Tuhan hadir dalam acara-acara sakramen.

"Pikiran saya dipenuhi oleh pertanyaan. Mulai ada keraguan khususnya tentang realita Yesus Kristus. Tapi saya tidak punya keberanian untuk menanyakan pada pendeta atau teman-teman biarawati lainnya. Saya terlalu takut mereka akan menentang pemikiran saya," kata Sally.

"Jadi saya biarkan saja semua keraguan saya menggantung. Saya bahkan membiarkan diri saya mengucapkan sumpah pertama saya sebagai biarawati, dan saya terus memperbaruinya setiap tahun sampai selama 10 tahun! Hingga sampai pada satu titik saya tidak tahan lagi melakukan kaul kesucian dan kemiskinan, mengakui Yesus Kristus sebagai pilihan dan mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan dan anak Tuhan ... Saya berdoa lebih keras lagi, meminta petunjuk pada Tuhan agar menunjukkan jalan yang benar," papar Sally.

Yang memberatkan perasaannya saat itu adalah, orang tuanya akan sangat terluka jika ia meninggalkan biara. Ayah Sally yang sangat keberatan jika putrinya keluar dari biara, bahkan jika alasannya Sally ingin punya keluarga sendiri. Sally tidak ingin menyakiti keluarganya, terutama ibu dan dua saudara lelakinya yang menjadi pendeta, serta empat saudara perempuannya, yang semuanya menjadi biarawati.

"Di atas itu semua, saya juga tidak mau bersikap munafik dan berpura-pura bahagia menjalani sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan prinsip-prinsip saya. Maka, saya tidak menyerahkan surat permohonan profesi dan saya bicara pada atasan saya bahwa saya ingin keluar dari biara," tutur Sally.

Ia akhirnya keluar dari biara tanpa memberitahu keluarganya, dan mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Tak berapa lama kemudian, ia bertemu dengan sahabat dekatnya yang sudah menjadi pendeta. Sally ditawari untuk bekerja dengan sahabatnya itu di sebuah gereja di Marawi sebagai kordinator paroki.

Pada saat yang sama, orang tua Sally tahu bahwa ia sudah meninggalkan biara. Meski berat menerima kenyataan itu, orang tua Sally masih berharap suatu hari Sally akan kembali ke biara. Sally sendiri menerima tawaran kerja sebagai kordinator paroki. Tapi pendeta yang menjadi atasan Sally, tidak memperlakukannya dengan baik.

"Dia tidak membayar gaji saya dan berusaha melakukan pelecehan seksual pada saya," ungkap Sally.

Beruntung, Sally selalu lolos dari nafsu setan pendeta itu. Ia berdoa lagi, meminta Tuhan untuk selalu melindunginya dan memberinya kebahagiaan, karena Sally merasa tidak pernah merasakan kedamaian dalam hidupnya. Jiwa dan pikirannya selalu diliputi kesedihan.

Hari Baru, Semangat Baru

Suatu pagi, tanggal 17 Juni 2001, Sally mendengar sebuah suara yang indah di telinganya, tapi ia tidak paham itu suara apa. "Saya kira suara itu datang dari masjid di dekat tempat tinggal saya. Begitu saya mendengar suara itu, saya merasa seperti ditenggelamkan dalam air yang sejuk. Saya tidak bisa menjelaskan apa yang saya rasakan," tutur Sally.

"Hari itu, saya merasakan kebahagiaan merasuk ke dalam hati, meski saya tidak paham apa yang saya dengar. Setelah mendengar suara itu, saya berkata pada diri saya sendiri 'ada hari baru, sebuah awal baru'." sambungnya.

Sally lalu bertanya tentang suara yang didengarnya, dan ia tahu bahwa itu adalah suara panggilan salat untuk kaum Muslimin. Tapi Sally merasa aneh, ia datang ke Marawi awal Mei 2001, mengapa selama ini ia tidak pernah mendengar suara itu dan baru mendengarnya pada pagi hari di bulan Juni?

Hari itu juga, Sally memutuskan untuk mencari tahu apa itu Islam dan Muslim. Ia membaca banyak buku. Sally juga akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai kordinator paroki dan pulang ke rumah keluarganya di Pampanga. Sesampainya di rumah, ia baru tahu bahwa ayahnya sudah meninggal dunia, yang membuat Sally selama beberapa saat merasa tertekan.

Namun Sally terus belajar Islam. Ia kembali ke Manila, berharap ada seseorang yang bisa memberikan penjelasan padanya tentang Islam. Di dalam hatinya, Sally merasa bahwa ia siap untuk memeluk Islam, tapi tak tahu bagaimana caranya.

Sally tak menyerah. Ia mencari tahu lewat internet, bergabung dengan forum-forum di dunia maya dengan harapan menemukan seorang muslim yang memberikan pencerahan tentang Islam padanya.

Usaha Sally tak sia-sia. Pada tanggal 16 Juni 2004, Sally bertemu dengan seorang muslim di Manila yang menjawab semua keingintahuan Sally tentang Islam. Hingga suatu hari, Sally akhirnya mengucapkan syahadat, sebagai syarat untuk menjadi seorang muslim.

"Di hari yang menentukan itu, saya seperti menemukan sebuah rumah. Rumah itu adalah agama Islam. Rumah di mana saya bisa menemukan cinta, kebahagiaan dan kegembiraan. Sekarang, saya bisa tersenyum. Senyum yang datang dari hati terdalam. Hari itu, saya bisa tidur dengan nyenyak," ungkap Sally tentang perasaannya setelah masuk Islam.

"Tiap kali saya berdoa, saya menangis, bukan airmata kesedihan, tapi airmata kebahagiaan. Kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kebahagiaan yang tak terlukiskan," tambah Sally.

Ia pun teringat, dulu pernah berbincang-bincang dengan kakeknya, seorang pendeta Katolik. Kakeknya mengatakan, "Kalau kamu ingin pindah agama, pindahlah ke Islam!"

"Allahu Akbar ! Semoga Allah membuka hati keluarga saya pada cahaya Islam. Amiin," doa Sally. (kw/RoI)

http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/kalau-mau-pindah-agama-pindahlah-ke-islam.htm

Penciptaan Manusia (3)

Kita perhatikan berikut ini, ayat lain dari Alquran yang memberikan petunjuk ilmiah. Allah SWT berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu, Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal daging, dan segumpal daging itu, Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." (QS Al-Mu'minuun: 12-14)

Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan proses penciptaan manusia dari saripati (sulaalah) tanah yang telah ditentukan kadarnya. Karenanya, yang dimaksud dengan ‘sulaalah’ di atas, bukan rangkaian makhluk hidup yang mendahului penciptaan manusia, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang yang sesat. Karena keyakinan ini, secara ilmiah telah terbukti kesalahannya, setelah ditemukannya fosil di daratan afrika tengah, yang membuktikan bahwa manusia dalam penciptaannya tidak terkait dengan evolusi makhluk hidup lainnya yang berkembang hingga menjadi seperti dirinya.

Saripati tanah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah ke 16 unsur tanah yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Setelah sperma menyatu dengan sel telur, ke 16 unsur ini berubah menjadi zygote yang menetap pada tempatnya di dalam suatu ruangan yang kuat dan kokoh, yaitu rahim. Selanjutnya zygote ini berproses menjadi segumpal darah. Sebagaimana dijelaskan dalam ayat lain. Allah SWT berfirman: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah." (QS Al-Alaq: 1-2).

Selanjutnya gumpalan darah ini berproses lagi, sehingga menjadi segumpal daging (sebagiannya mempunyai bentuk, sebagian lagi tidak mempunyai bentuk), kemudian berproses lagi hingga terbentuk tulang yang dibungkusi oleh daging. Setelah itu keluarlah janin itu, sebagai bayi yang dijadikan Allah sebagai khalifahnya di muka bumi ini.

Subhanallah, sekiranya janin itu tahu bagaimana ia diciptakan? Atau sekiranya ia diberikan oleh Allah SWT kemampuan untuk melihat dan menyaksikan langsung bagaimana kekuasaan-Nya dalam membuat dirinya hidup hingga terlahir ke dunia. Sekiranya demikian, sungguh ia akan menjadi hambanya yang taat dalam menyembah-Nya, ia akan merasakan malu yang sangat, jika sedetik terlewat tanpa mengingat Tuhan yang telah menciptakannya dalam bentuk yang indah dengan kekuasaan-Nya.

Sesungguhnya dalam ayat di atas: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah...". Terdapat banyak petunjuk dan hikmah yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang memiliki jiwa yang suci.

Berdasarkan ayat di atas, kami ingin tegaskan kepada mereka yang mengatakan bahwa di dalam kitab suci kalian (Alquran), terkadang disebutkan: "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”, dan terkadang dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah, atau terkadang dari air mani. Bagaimana kalian memberikan penafsiran atas pertentangan antara satu ayat dan ayat lainnya?

Kami ingin tegaskan kepada mereka yang berkata demikian, bahwa Allah sesungguhnya menghendaki manusia untuk memikirkan setiap periode penciptaan dirinya. Sehingga mereka dapat mengetahui keagungan Penciptanya, dan besarnya karunia serta nikmat-Nya yang telah diberikan kepada mereka. Mereka perlu memahami bahwa dalam penciptaan manusia untuk sampai pada tahapan terakhir, yaitu lahirnya janin dari rahim seorang ibu, pembentukan janin tersebut, harus melewati semua tahapan yang telah ditentukan-Nya.

Setiap tahapan tidak dimaksudkan sebagai awal penciptaan manusia. Akan tetapi yang dimaksud setiap tahapan adalah merupakan permulaan bagi kelangsungan tahapan berikutnya. Semua tahapan penciptaan ini adalah rangkaian proses dari penciptaan manusia oleh Yang Maha Agung dan Yang Maha Mencipta.

Sesungguhnya antara satu ayat dan ayat lainnya yang terdapat dalam al-Quran, tidak ada pertentangan sedikit pun. Yang menyebabkan kalian mengatakan adanya pertentangan ini, adalah kedengkian dan kebencian kalian sendiri kepada Alquran dan kebenarannya. Karena sesungguhnya Allah sebagai Pencipta telah menciptakan semua apa yang terdapat di alam semesta ini.

Manusia, kalaupun dia disebut sebagai pencipta, maka dia hanya dapat menciptakan sesuatu sesuai dengan bahan yang sudah ada. Dan mustahil bisa menciptakan sesuatu dari sesuatu yang tidak ada. Siapakan yang telah menciptakan semua yang ada di dunia ini, yang dimanfaatkan manusia dalam produksinya? Alhah!

Lalu apakah manusia bisa menciptakan pesawat dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada, atau mereka menciptakannya dari unsur-unsur benda yang sebelumnya telah ada? Allah SWT, Dialah yang telah menciptakan semesta alam dan segala isinya dari ketiadaan. Karenanya layaklah Dia disebut sebagai "Pencipta Yang Paling Baik".

Seorang manusia yang menciptakan sesuatu karya, sesungguhnya ia mengharapkan satu manfaat dari hasil karyanya. Tentunya hal ini merupakan hal yang biasa. Karena siapa pun dari manusia yang menciptakan sesuatu, maka ia memiliki tujuan agar ciptaannya dapat dinikmati oleh dirinya dan sesamanya. Tapi Allah, apakah Dia mengharapkan sesuatu bagi Diri-Nya? Sekali-kali tidak. Allah telah menciptakan semua ciptaan-Nya adalah demi kepentingan manusia. Dialah yang telah memberi mereka makanan dan minuman. Dialah yang telah memberi mereka kehidupan.

Allah SWT yang telah mengadakan semua kebutuhan manusia dan menyempurnakan nikmat-Nya untuk mereka, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Namun sayangnya, meski demikian, banyak manusia yang tidak mau bersyukur kepada-Nya. Malah sebaliknya, mereka memberikan rasa syukur kepada sesamanya.

Sesekali Allah SWT (tidak akan rugi). Karena seperti yang Dia katakan dalam sebuah Hadits Qudsi: "Wahai hambaku, janganlah engkau merasa takut dari seorang penguasa pun, selama kekuasaan dan kerajaan-Ku tegak. Jangan engkau takut kehilangan rezekimu, selama persediaan-Ku penuh dan tidak habis. Aku telah menciptakan segala sesuatu untukmu, dan Aku telah menciptakanmu untuk-Ku..."

Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/11/07/27/loz54s-alquran-dan-sains-penciptaan-manusia-3

Penciptaan Manusia (2)

Sebagian dari musuh Islam, ada juga yang membuat bantahan atas firman Allah SWT: "Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani". Mereka berkata, "Dari apa sebenarnya manusia diciptakan? Apakah dari tanah (debu)? Atau dari air mani? Jika benar manusia diciptakan dari tanah sekaligus dari air mani, bagaimana hal itu bisa terjadi?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kami katakan, sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya, bahwa manusia tercipta dari gabungan beberapa unsur zat yang berjumlah 16, jumlah yang sama yang menjadi unsur zat yang membentuk tanah (turĂ¢b).

Dan manusia mempunyai komposisi khusus dalam perpaduan antara unsur-unsur ini dalam persentase kadarnya. Tidak ada seorang pun yang memiliki kesamaan kadar unsur-unsur yang membentuk tubuhnya. Allah SWT telah mengatur itu semua dengan kekuasaan dan pengetahuan-Nya. Dia telah menetapkan komposisi unsur-unsur tanah ini sesuai kehendak-Nya. Inilah tahapan pertama bagi penciptaan manusia dari unsur tanah.

Selanjutnya, unsur-unsur yang akan membentuk manusia itu sesuai kadar yang telah ditentukan berubah dalam bentuk janin, ketika dua orang manusia yang berlainan jenis melakukan hubungan badan, dan terjadi pertemuan antara sperma laki-laki dengan sel telur perempuan yang kemudian berproses menjadi janin. Demikianlah Allah SWT menetapkan unsur-unsur tanah dan air mani, untuk menciptakan seorang manusia.

Untuk memudahkan penjelasannya, kami berikan gambaran berikut ini, seorang ilmuwan, ketika memiliki keinginan untuk membuat hasil karya tertentu, terlebih dahulu, ia menetapkan bahan-bahan tertentu sesuai yang ia butuhkan sebelum ia memulai pekerjaannya. Setelah bahan yang dibutuhkan tersedia sesuai kuantitas dan kualitas yang diperlukan, maka ia dengan mudah dapat menghasilkan karyanya. Demikianlah Allah SWT menentukan unsur-unsur yang digunakan-Nya untuk menciptakan manusia. Dan bagi-Nya Sifat Yang Maha Tinggi.

Sesungguhnya ayat-ayat Allah SWT yang terdapat dalam Al-Qur'an, mudah untuk dicerna oleh akal, karena logis dan sesuai dengan realita. Hanya orang-orang yang akal dan hatinya tertutupi ‘kedengkian’ yang tidak mendapatkan petunjuk-Nya.

Selanjutnya dalam ayat lain, Allah Swt menjelaskan bahwa air yang darinya manusia diciptakan adalah air mani yang dalam bahasa Arabnya disebut "maa-un mahiin" atau "maa-un hayyin", yang memiliki arti sebagai air yang mempunyai potensi kehidupan yang lemah. Dan sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya, bahwa Allah SWT pun telah menciptakan manusia dari air mani (nuthfah). Nuthfah ini adalah air mani laki-laki atau sperma.

Untuk dapat memahami petunjuk ilmiah yang ada dalam firman Allah SWT: "Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?" kita sebaiknya memberikan penjelasan tentang kelompok binatang bersperma atau spermatozoon.

Spermatozoon, sebagaimana tampak dalam gambar, terdiri dari bagian kepala, bagian tengah dan bagian ekor. Dengan menggunakan ekornya ini, binatang ini hidup dalam saluran air mani yang memberinya makanan. Dan dikarenakan binatang ini merupakan makhluk hidup, maka tentunya ia juga berasal dari air, sesuai firman-Nya: "Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup".

Namun kekuatan yang dimiliki binatang ini sangat lemah, sehingga kebanyakan dari spermatozoon ini mati ketika terjadi pembuahan (fertilisasi). Akan tetapi, dengan kekuasaan Allah, seseorang ketika mengeluarkan air maninya, jumlah yang ia keluarkan, bisa mencapai 300 sampai 500 juta spermatozoon. Hal itu sebagai tanda ke Maha Tahuan Allah, karena dari jutaan spermatozoon ini akan mati, saat terjadi pembuahan antara sperma laki-laki dan sel telur perempuan.

Meskipun binatang ini lemah, namun binatang inilah yang menjadi penentu jenis kelamin dari janin yang dikandung, apakah laki-laki atau perempuan. Pengetahuan ilmiah ini, secara menakjubkan dijelaskan Al-Qur'an dalam kata-kata yang singkat namun padat, ketika Allah SWT berfirman: "Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?"

Terlebih lagi, jika kita memerhatikan cara pengungkapan di atas, di mana Al-Qur'an menyampaikannya dalam bentuk pertanyaan. Seolah-olah Allah berkata kepada semua manusia—baik yang beriman kepada-Nya maupun yang tidak beriman dan mengingkari kekuasan-Nya: "Adakan penelitian oleh kalian berdasarkan ilmu genetika yang telah kalian dapatkan! Lalu periksalah kondisi spermatozoon ini. Kemudian bandingkan antara penemuan ilmiah yang kalian dapatkan dengan yang dijelaskan dalam Al-Qur'an!"

Jika kalian mendapatkan kebenaran dalam Al-Qur'an, maka berimanlah! Dan jika tidak, maka kalian bebas berbuat apa saja! Demikianlah cara pengungkapan Al-Qur'an. Dan pada realistasnya, tidak mungkin akan terjadi perbedaan antara ilmu pengetahuan dan apa yang terdapat dalam Al-Qur'an. Karena Al-Qur'an sebagai Kitab Suci yang diturunkan Allah, tidak mungkin di dalamnya terdapat kebohongan dan kebatilan. Karena yang menurunkannya adalah Allah, yang telah menciptakan manusia dan alam semesta ini. Bagaimana realitas kehidupan dan penciptaan akan bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh penciptanya.

Selanjutnya, kita akan mencoba menjelaskan tentang petunjuk ilmiah lainnya, yang terdapat dalam firman Allah SWT: "Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging, yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu, dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan." (QS Al-Hajj: 5)

Pada bagian terdahulu, telah dijelaskan tentang tahapan penciptaan manusia dari air mani, di mana sebelumnya kadar unsur-unsur tanah bagi penciptaan seorang manusia, telah ditentukan oleh Allah. Dalam pembahasan berikut ini, kami akan menjelaskan kelanjutan dari tahapan tersebut, di mana Allah telah menentukan peta gen tertentu yang mengandung semua sifat keturunan bagi seorang manusia yang akan diciptakan-Nya. Dalam peta gen ini, Allah menentukan lokasi dan fungsi dari setiap gen yang dibawa oleh kromoson-kromoson yang terjalin dalam sebuah jaringan.

Janin pada pertama kalinya terbentuk dari sel yang dinamakan zygote yang dihasilkan dari pembuahan antara sperma dan sel telur. Kandungan sifat keturunan yang dimiliki oleh masing-masing orang tua, yang dibawa melalui kromoson inilah yang mengarahkan pembentukan janin dan perkembangannya. Peta kromoson ini, seperti buku panduan yang tidak mungkin ditiru dan disalin seperti aslinya, meskipun dengan menggunakan ilmu dan teknologi tinggi. (Perhatikan! Peta kromoson mengatakan dengan pasti akan kesaksiannya bahwa “Tiada Tuhan selain Allah”).

Namun sebelum proses pembentukan janin dan perkembangannya, terjadi proses penentuan jenis kelaminnya dikarenakan adanya perbedaan perkembangan antara janin laki-laki dan perempuan dan perbedaan anggota tubuhnya. Yang berfungsi untuk menentukan jenis kelamin ini, adalah nuthfah. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur'an secara ringkas dalam firman Allah: "Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani (nuthfah)." (QS Al-Hijr: 26)

Setelah penentuan jenis kelamin janin dan proses pemindahan kandungan sifat keturunan orang tua yang dibawa oleh kromoson, selanjutnya adalah periode berikutnya yaitu periode alaqah atau segumpal darah.

Al-alaqah dalam bahasa Arab berarti darah yang membeku. Dan hal ini terbukti setelah dilakukan pengambilan gambar atas janin pada periode ini dalam bentuk darah yang membeku, di mana anggota tubuh belum terbentuk. Setelah dilakukan pengambilan gambar pada periode selanjutnya, didapatkan bahwa janin telah berubah dalam bentuk segumpal daging (mudh-ghoh) yang menampakkan bentuk tubuh yang sempurna dan yang belum sempurna. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran: "kemudian dari segumpal daging, yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna".

Daging ini kemudian menempel di dinding rahim sampai waktu yang ditentukan-Nya, yaitu waktu kelahiran. Rahim bagi janin adalah seperti tempat tinggal di mana ia menetap di dalamnya selama beberapa waktu tertentu sampai saatnya ia keluar ke alam dunia.

Dari penjelasan di atas, apa yang dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern dengan bantuan teknologi canggih, telah dijelaskan oleh Al-Qur'an 14 abad yang lalu. Apakah musuh-musuh Islam, setelah ini, masih dapat mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah buatan Muhammad SAW?

Sama sekali tidak! Karena sesungguhnya, Al-Qur'an ini adalah kalam Allah yang telah berfirman: "Dan Kami turunkan (Al-Qur'an) itu dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur'an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran." (QS Al-Israa: 17)

Coba kita perhatikan firman Allah SWT berikut ini yang terdapat dalam surah Ath-Thariq: "Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar. Yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati)."

Dalam ayat di atas, Allah SWT menyuruh manusia untuk berpikir dan meneliti, bagaimana ia diciptakan? Dan dari apa dia diciptakan? Jawabannya: Dari air! Sebagaimana kita jelaskan sebelumnya. Namun dalam kalimat berikutnya, Allah menyebutkan sifat dari air itu dengan kata ‘daafiq’. Artinya air yang bergerak dan hidup. Dan hal inilah yang telah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan modern. Berdasarkan sains, spermatozoon bergerak dengan menggunakan ekornya dalam salurah air mani sehingga bertemu dengan sel telur dan terjadi pembuahan di antara keduanya.

Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/11/07/26/loxz5a-alquran-dan-sains-penciptaan-manusia-2