Monday, March 21, 2011

Zubir Bin Al-Awwam Pembantu Yang Setia

Zubir bin Al-Awwam tergolong salah seorang pahlawan Islam yang gagah perkasa dan handal di zaman Rasulullah s.a.w. Keberaniannya dapat disamakan dengan Saiyidina Ali r.a. atau Saiyidina Hamzah bin Abdul Mutalib.

Kisahnya terjadi semasa peperangan Uhud iaitu seorang pahlawan musyrik telah keluar dari tempat pertahanannya ke tengah-tengah medan pertempuran untuk berlawan pedang satu sama satu dengan tentera Islam. Ia menyeru pahlawan-pahlawan Islam datang kepadanya. Tiga kali ia menyeru namun tentera Islam masih berdiam diri juga.

Demi untuk membela maruah tentera Islam, Zubir lantas melompat ke atas untanya, lalu pergi menghadapi musuh yang sudah lama menanti. Sesudah dekat dengan unta musuh, segeralah ia melompat ke atasnya. Maka terjadilah pergelutan yang dahsyat. Tidak lama kemudian, Zubir dapat menggulingkan musuhnya ke bawah. Lantaran itu mudahlah baginya menyembelih leher musuh itu.

Melihat kejadian itu baginda Rasulullah s.a.w. amat gembira sekali seraya berkata: “Setiap nabi mempunyai pembantunya sendiri dan Zubir adalah pembantuku.” Kemudian Rasulullah menyambung lagi, katanya: “Sekiranya Zubir tidak segera keluar mendapatkan musyrik itu, tentulah aku sendiri yang terpakasa keluar mendapatkannya."

Zubir Bin Al-Awwam dialah juga panglima Islam yang kemudiannya berjaya menaklukkan kota Babylon yang terkenal itu.

Bila Datang Seorang Saleh

Oleh Anung Umar

Setelah mengetahui bahwa pria yang ia idam-idamkan tak tertarik dengannya, gadis itu pun duduk dan terdiam. Tiba-tiba seorang pria berkata dengan penuh kesungguhan, “Wahai Rasulullah, nikahkan saja aku dengannya, kalau memang engkau tidak tertarik dengannya.” Rasulullah pun bertanya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu yang bisa dijadikan mahar untuknya?” Pria itu menjawab, “Aku tak mempunyai apa-apa kecuali izar (kain sejenis sarung)ku ini.”

Beliau pun berkata, “Kalau kamu memberikan izarmu kepadanya, kamu akan duduk dalam keadaan tak ada izar yang menutupimu badanmu. Carilah selain ini (izar)..” Ia pun berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang bisa dijadikan mahar pernikahannya. Namun ia kembali dengan tangan kosong. “Wahai Rasulullah, aku tidak mendapatkan apa-apa,” ujarnya.

Beliau bersabda, “Carilah lagi (untuk maharmu itu) walaupun cincin dari besi.” Ia pun kembali berusaha mencari dan mencari untuk mendapatkan itu, namun kembali, ia datang dengan tangan kosong. Melihat keadaannya seperti itu, beliau pun tergugah untuk membantunya. Beliau bertanya, “Apakah kamu memiliki hafalan Al-Quran?” Ia menjawab, “Ya.” (dalam riwayat Abu Daud disebutkan bahwa ia hafal surat Al-Baqarah dan setelahnya). Beliau pun bersabda, “Aku menikahkanmu dengannya, dengan mahar berupa hafalan Al-Quran.” Akhirnya pria itu menikah dengan gadis itu. (HR. Bukhari No. 5135 dan Muslim No. 1425) Dalam riwayat lain beliau SAW bersabda, “Pergilah, aku telah menikahkanmu, ajarkanlah ia Al-Quran.”

Dalam hadits di atas terdapat isyarat bahwa kufu (kesetaraan) yang dituntut Islam dalam suatu pernikahan adalah dari sisi din (agama) bukan nasab, harta, dan rupa. Karena itu, menerima pinangan seorang yang saleh, yang baik dari sisi agamanya, merupakan sesuatu kepatutan yang harus diperhatikan seorang muslimah dan walinya meskipun yang meminang ini memiliki kekurangan dari sisi lainnya (yang bersifat duniawi). Dan itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya yang masyhur di tengah-tengah kita, “Pilihlah yang memiliki din, niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari No. 5090 dan Muslim No. 1466)

Shahabiyah di atas membuat kita terpegun, mengapa ia rela dinikahi seorang pria fakir yang tidak memiliki harta kecuali pakaian yang melekat di badannya? Apa yang ‘menyihir’nya sehingga mau menikah dengan seseorang yang tidak memiliki sesuatu yang bisa ‘dibanggakan’, kecuali ‘hanya’ ketakwaan dan penjagaannya terhadap Al-Quran?

Begitu pula ada shahabiyah lain yang karena perhatiannya yang lebih terhadap din calon suaminya, membuatnya ‘lupa diri’ sehingga rela menikah dengan mahar berupa sandal. Rasulullah bertanya kepadanya, “Apakah kamu rela diri dan hartamu ‘seharga’ dua sandal?” ia menjawab, “Ya.” Beliau pun merestui pernikahannya. (Musnad Abi Daud Ath-Thayalisi No. 1227)

Dan Rasulullah SAW juga memberi tuntunan kepada Fathimah binti Qais, tatkala ia mengadukan kebimbangannya dalam memilih diantara dua orang shahabat yang meminangnya. Muawiyah bin Abi Sufyan ataukah Abu Jahm? Beliau menyarankannya untuk menikah dengan seorang yang justru di luar perkiraannya, yaitu Usamah bin Zaid. Apakah seorang hitam, anak bekas budak akan menikahi seorang wanita cantik dan terhormat dari kalangan Quraisy, kabilah terhormat di jazirah Arab? Lantas apa yang akan dikatakan orang-orang tentang pernikahannya nanti?

Ia pun ‘berontak’, “Aku tidak menyukainya.” ceritanya. Namun beliau SAW berkata lagi, “Nikahlah dengan Usamah bin Zaid.” Ia pun akhirnya menikah dengan Usamah bin Zaid. Setelah menikah dengan pemuda saleh itu, ternyata ia merasakan berkah melimpah dari pernikahannya. Ia merasakan keharmonisan rumah tangga yang tidak dirasakan oleh pasangan manapun selain mereka berdua. Ia berkata, “Aku menikah dengannya (Usamah), maka Allah menjadikan kebaikan di dalam pernikahan tersebut dan aku pun merasa bahagia.” (HR. Muslim No. 1480)

Dan sejarah juga mencatat, bagaimana Bilal bin Abi Rabah, muadzin Rasulullah SAW, seorang bekas budak dari Ethiopia ternyata menikah dengan Halah binti Auf, saudara perempuan dari Abdurrahman bin Auf, seorang saudagar kaya raya dari kalangan sahabat Nabi SAW.

Dan bagaimana juga Umar bin Khattab menawarkan putrinya kepada Salman Al-Farisi, bekas budak dari Persia. (Subulussalam hadits No. 939-941)

Atsar-atsar di atas menunjukkan disyariatkan bagi seseorang untuk menawarkan kepada seorang yang saleh, yang baik agamanya untuk menikahi seorang wanita yang ada dibawah tanggungannya meskipun tidak ada kufu’ (kesetaraan) dari sisi nasab, harta dan rupa, maka apalagi menerima pinangannya tentunya!

“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian), maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi No. 1084)

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami tetap menerimanya walaupun pada diri orang tersebut ada sesuatu yang tidak menyenangkan kami?” Beliau menjawab pertanyaan ini dengan mengulangi kembali perkataan di atas sampai tiga kali.

Begitu pentingnya pertimbangan agama, sebab, kebaikan agama seseorang akan membawa keberkahan yang melimpah bagi kehidupan pasangannya, keluarganya serta keturunannya. Keberkahan yang tidak didapatkan dalam harta, nasab dan rupa seseorang.

Namun, apakah atsar-atsar di atas sudah sampai di telinga para muslimah beserta wali mereka di zaman ini? Seandainya telah sampai, akankah tetap ada seorang saleh yang tertolak untuk menikahi seorang wanita karena ia “belum mapan”, tidak “sederajat”, “bukan pegawai negeri” dan alasan duniawi lainnya?

Padahal, yang hendak melamar ini, hartanya bukan hanya pakaian yang melekat di tubuhnya, mahar yang akan diserahkan bukan berupa sandal dan ia pun bukan keturunan budak. Akankah mereka menutup pintu bagi kebaikan yang ada di depan mata mereka di masa-masa orang yang saleh makin jarang ditemui, sedangkan orang-orang fasik makin merajalela dan jumlah kaum hawa makin meningkat berlipat-lipat?

http://www.eramuslim.com/oase-iman/anung-umar-bila-datang-seorang-saleh.htm

Emma Clark, Arsitek Taman Istana yang Jatuh Hati pada Islam

REPUBLIKA.CO.ID, Mungkin dengan mudah kita banyak menjumpai para ahli arsitektur taman. Namun, tidak demikian dengan mereka yang mengkhususkan diri pada rancangan taman berkonsep Islam. Emma Clark merupakan salah satunya. Di tanah kelahirannya, Inggris, perempuan paruh baya ini memang dikenal luas sebagai seorang arsitek spesialis taman bernuansa Islam.

Emma adalah seorang muslimah Inggris yang memeluk agama Allah bukan dari jalur keturunan dan keluarga. Ia baru memeluk Islam tujuh tahun lalu, tepatnya pada pertengahan Februari 2004 silam. Emma lahir dan tumbuh di tengah-tengah keluarga pemeluk Kristen Protestan yang terbilang taat.

Kabar mengenai kepindahan Emma menjadi seorang pemeluk Islam sempat menghiasi pemberitaan di berbagai media di Inggris. Maklum saja, karena keluarga besar Emma termasuk salah satu keluarga terpandang di negeri Ratu Elizabeth II ini. Kakek buyut Emma, Herbert Henry Asquith, pernah menjabat sebagai perdana menteri Inggris periode 1908 hingga 1916. Sang kakek buyut juga dikenal sebagai tokoh yang ikut melibatkan Inggris dalam Perang Dunia (PD) pertama.

Perihal keputusannya berpindah keyakinan, Emma enggan membagi kisahnya kepada media-media Inggris. "Kita semua adalah satu ras. Saya berharap fenomena ini bukan seperti musim yang segera berlalu," ujarnya kepada harian Sunday Times menanggapi fenomena maraknya warga kalangan menengah ke atas di Inggris yang memeluk Islam beberapa tahun terakhir.

Harian Sunday Times menyebutkan bahwa Emma Clark termasuk salah satu arsitek taman yang ikut membantu membuat desain sebuah taman bernuansa Islam di kompleks rumah sekaligus peternakan milik putera mahkota Kerajaan Inggris, Pangeran Charles, yang terletak di Highgrove, kawasan Gloucestershire. Konsep taman tersebut ia beri nama "Carpet Garden". Ia juga ikut merancang taman serupa di seputar tempat parkir sebuah masjid di Woking, Surrey.

Konsep taman ada dalam Alquran

Dalam merancang sebuah taman, Emma tidak pernah keluar dari konsep rancangan sebuah taman dalam ajaran Islam. Karenanya tak mengherankan jika ia banyak mengacu kepada gambaran konsep sebuah taman sebagaimana yang banyak diterangkan di dalam kitab suci Alquran.

Emma bahkan telah menulis buku mengenai konsep taman Islam. Dalam bukunya yang diberi judul The Art of The Islamic Garden ini Emma secara khusus mengulas bagaimana Alquran tidak hanya mengajarkan kepada umat Islam mengenai masalah ibadah, tetapi juga mengajarkan banyak hal. Salah satunya adalah mengenai konsep penataan sebuah taman.

"Islam mengajarkan bahwa semua kebun atau pun taman yang ada di muka bumi ini hendaknya dibuat berdasarkan konsep taman dan kebun di surga seperti yang digambarkan dalam Alquran," papar Emma.

Ketertarikan Emma terhadap penataan taman sesuai dengan konsep Alquran berawal dari fenomena peningkatan suhu global yang mulai melanda kawasan Eropa Utara. Peningkatan suhu global melanda kawasan Eropa Utara ini telah mengusik rasa kepedulian Emma sebagai seorang arsitek taman untuk mendesain sebuah taman yang dapat mengurangi dampak pemanasan global.

Berawal dari situlah Emma kemudian melakukan sejumlah penelitian. Dari berbagai penelitian yang dilakukannya Emma menemukan fakta bahwa konsep taman yang dikembangkan oleh para arsitektur muslim di masa kekhalifahan Islam ternyata sangat ramah lingkungan dan bisa menjadi solusi untuk mengatasi peningkatan suhu global yang mulai melanda sejumlah tempat di muka bumi.

Hasil penelitiannya ini kemudian ia tuangkan dalam sejumlah konsep taman di Inggris. Konsep taman Islam yang ditawarkan oleh Emma ini pun banyak diminati di negara-negara di luar Inggris. Dan, sejak saat itu namanya dikenal luas sebagai arsitek spesialis taman Islam.

Berdasarkan konsep Islam, terang Emma, pohon-pohon yang ada di dalam taman hendaknya ditanam secara selang- seling antara pohon cemara dan pohon buah-buahan. Untuk pohon buah, ia merekomendasikan pohon almond, cherry, apel, pear atau pohon plum. Namun, jenis pohon buah yang akan ditanam, menurut Emma, bisa saja disesuaikan dengan iklim daerah setempat. Misalnya, di Inggris, bisa saja jenis pohon buah yang ditanam adalah buah murbei.

Dalam Alquran, ungkap Emma, ada empat jenis pohon yang banyak disebut, yakni ara, zaitun, delima dan kurma. Dalam konsep taman yang dibuatnya di kediaman pribadi Pangeran Charles di Highgrove, Gloucestershire, Emma menggunakan tiga dari empat jenis pohon yang banyak disebut dalam Alquran ini. Untuk taman di kediaman Pangeran Charles, ia menggunakan pohon ara, zaitun dan delima. "Kalau kurma saya anggap tidak cocok untuk di tanam di lokasi ini."

Dalam bukunya, Emma juga memaparkan bahwa konsep taman dalam Islam hendaknya memiliki elemen air di dalam taman, berupa kran-kran air yang dalam konsep Islam berfungsi sarana untuk berwudhu atau bersuci. Selain itu juga terdapat kran air khusus yang berfungsi sebagai focalpoint pada taman utama, yang dapat memancarkan air sewaktu-waktu.

Keberadaan sebuah taman dalam Islam juga menjadi suatu simbol bagi keterbukaan, di mana taman berfungsi sebagai open space (ruang terbuka). Karenanya penanaman vegetasi pada burffer area (ruang penyangga) menggunakan tanaman yang bersifat tembus pandang (tidak terlalu rapat).

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/03/21/171042-emma-clark-arsitek-taman-istana-yang-jatuh-hati-pada-islam

Friday, March 18, 2011

Pemimpin yang Mendengar

Oleh Ahmad Syahirul Alim Lc

Seperti biasa, Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA menunggang keledainya di tengah kota. Selain untuk bertegur sapa dengan sahabat dan rakyatnya, Khalifah juga memeriksa kondisi rakyatnya, menolong orang-orang yang memerlukan, dan mencegah kezaliman terjadi di negerinya.

Hari itu, seorang nenek tiba-tiba menghentikan keledai yang ditumpangi Umar. Nenek itu langsung menceramahinya. "Hei Umar, aku dulu mengenalmu sewaktu kau dipanggil Umair (Umar kecil), yang suka menakuti-nakuti anak-anak di pasar Ukadz dengan tongkatmu. Maka hari-hari pun berlalu hingga kau disebut Umar, dan kini engkau Amirul Mukminin…''

"Maka bertakwalah engkau kepada Allah atas rakyatmu! Barang siapa yang takut akan ancaman Allah maka yang jauh (akhirat) akan terasa dekat. Barang siapa yang takut akan kematian tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, dan barang siapa yang yakin akan al-hisab (hari penghitungan), ia akan menghindari azab (Allah)."

Umar hanya terdiam mendengar perkataan sang nenek tua itu. Tak satu kata pun terucap dari mulutnya. Sampai-sampai Al-Jarud Al-Abidy yang menemani Umar merasa terganggu dengan sikap nenek tua itu. Al-Jarud berkata, "Hei Nenek, Engkau telah berlebihan atas Amirul Mukminin."

"Biarkanlah ia…" cegah Umar Ra kepada Al-Jarud. "Apa engkau tidak mengenalnya? Dialah Khaulah yang perkataannya didengar oleh Allah dari atas tujuh lapis langit maka Umar lebih berhak untuk mendengarnya." tutur Amirul Mukminin.

Bahkan dalam riwayat lain, Umar berkata: "Demi Allah, seandainya ia tidak meninggalkanku sampai malam tiba, aku akan terus mendengarkannya sampai ia menunaikan keinginannya. Kecuali jika datang waktu shalat, aku akan shalat lalu kembali padanya, sampai ia menuntaskan keinginannya."

Umar RA selalu setia mendengarkan keluhan rakyatnya. Amirul Mukminin tak segan-segan untuk memohon maaf jika telah merasa lalai. Ia lalu menuntaskan hajat rakyat yang sudah menjadi kewajibannya. Sebagai Khalifah, ia bahkan pernah memikul sendiri karung gandum dan menyerahkannya pada seorang janda di ujung kota.

Begitulah Umar memberikan keteladanan kepada kita semua. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai pendengaran yang peka terhadap keluhan, bahkan kritikan rakyatnya. Ia menyadari betul, kekuasaannya hanyalah amanah yang harus ia tunaikan kepada para pemiliknya, yaitu rakyat yang dipimpinnya.

Khalifah Umar bukanlah tipe pemimpin yang haus sanjungan. Sebab, ia selalu mengingat firman Allah SWT, "Janganlah sekali-kali kamu menyangka, orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih." (Ali Imran: 188).

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/11/03/17/170135-hikmah-pemimpin-yang-mendengar

Diawali dari Mimpi, Ahmad Naga Kusnadi Pun Menuju Islam

Fian Firatmaja

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Bila ia tak mendapat mimpi itu saat SMP, tak pernah terlintas dalam benak Ahmad Naga Kunadi, 34 tahun, untuk memeluk Islam. Selain faktor garis keturunan, dalam keluarga pria Tiong Hoa itu pun tak ada yang beragama Islam. Semua menganut keyakinan Kong Hu Chu, termasuk dirinya.

Namun, sebuah peristiwa--yang semula ia anggap aneh--dalam hidupnya, membuat Naga mulai tertarik Islam. Ia mendapat mimpi yang menyeramkan. Dalam mimpi, ia melihat api mengelilingi manusia yang tergantung di paku bumi. Begitu terbangun, ia merasa ketakutan.

“Saya menyaksikan manusia-manusia digantung di sebuah paku bumi dan di kelilingi oleh api yang sangat besar”, tutur Naga. Seusai mendapat mimpi Naga mengalami demam selama tiga hari. Padahal sebelum itu kondisinya sehat-sehat saja.

Naga mencoba mengabaikan mimpi itu. Selain menyeramkan, ia juga tak mampu menafsirkan apa arti mimpi tersebut. Waktu berjalan, hingga suatu hari, ketika sudah di SMA, ia menjumpai kejadian yang mengingatkan dirinya lagi terhadap mimpi tersebut.

Sewaktu ia berjalan di sebuah toko buku, ia tiba-tiba berkeinginan untuk berhenti rak bagian Islam dan mengambil Al-Quran. Ia pun membuka dan membaca sebuah tafsir Al Quran beserta terjemahannya.

Tak bisa membaca tulisan Arab,ia pun hanya membaca teks terjemahannya saja. Membuka halaman secara acak, ia berhenti di surat Al-Humazah. Ia sangat terkejut menemukan arti terjemahan potongan surat tersebut sama persis dengan gambaran mimpi yang dia alami dulu.

”Terdapat api yang membakar dan kamu lihat mereka di ikat di tiang yang panjang” Ucap Naga saat menjelaskan artian dari surat yang ia baca. Ia terheran-heran mengapa mimpinya dulu bisa ada dalam Al-Quran.

Dari sini lah Naga tertarik mengetahui Islam. Setelah kejadian ini, ia mulai sering berdiskusi dengan teman-teman Muslimnya. Tak sebatas berdiskusi dengan temannya, ia pun mencari tahu mengenai Islam dari buku-buku tentang islam.

Tapi ia tak merasa cukup dengan informasi yang ia peroleh. Banyaknya persepsi islam yang tumbuh dan berkembang di Indonesia membuat informasi serba simpang siur. Meski demikian, dorongan rasa ingin tahun terhadap Islam malah kian besar. Alasan lain, ia masih belum memahami mengapa arti mimpinya bisa ada dalam Al Qur'an.

Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti pengajian di Masjid. Sayangnya ada sedikit kendala. Ada pandangan yang mengatakan mereka yangbelum di khitan tak boleh masuk masjid. Naga yang berkeyakinan Kong Hu Cu tentu saja belum dikhitan.

Tapi itu tak mengendurkan semangatnya untuk terus memperdalam pengetahuannya tentang Islam. Ia pun mengikuti pengajian dari luar masjid. Tak hanya mencatat dan mendengarkan, ia bahkan mencegat Ustadz pengajian tersebut untuk meminta mengajarkan dan mengenalkan islam pada dirinya.

“Saya pun rela mengunjungi rumah ustadz tersebut untuk mengajari saya di rumahnya” papar Naga. Dari ustadz tersebutlah Naga bisa mendapatkan ilmu tentang islam. Naga juga tahu bahwa mimpi tersebut adalah gambaran mengenai neraka dan mengapa mimpi itu bisa sama seperti di Al-Quran kemungkinan adalah sebuah hidayah untuk dirinya.

Tapi, ketertarikan Naga terhadap Islam tak disambut baik oleh keluarganya. Mengetahui ia mulai belajar Islam, mereka mulai mengambil jarak. Ia juga mendapat tekanan untuk menghentikan kegiatanya tersebut. Hubungan Naga dengan keluarganya juga semakin rengang

Tekad Naga yang sudah bulat mendorongnya maju terus dengan pendiriannya. Selepas dari bangku SMA, ia memutuskan untuk tinggal di sebuah mess. Kebetulan ia langsung mendapatkan pekerjaan begitu lulus.

Dua hari libur kerja, dimanfaatkan betul oleh Naga untuk mempelajari Islam. Saat Sabtu dan Minggu ia kerap mengisi dengan kegiatan mengaji dan membaca-baca buku.

“Setiap ada pangajian di hari Sabtu atau Minggu, saya pasti mengikuti pengajian tersebut. Selain itu saya juga sering ke toko buku untuk mencari buku yang bersikan pengetahuan islam," kata Naga.

Setelah lama belajar tentang islam, Akhirnya ia mulai sedikit demi sedikit mengikuti anjuran Islam. Hal pertama yang ia lakukan adalah melakukan khitan. Tepat pada usia 22 tahun ia dikhitan. Walau boleh dibilang terlambat, Naga tetap melakukan itu.

Ia beranggapan khitan juga baik untuk kesehatan. “Andai nanti saya tak masuk Islam pun, khitan kan juga baik untuk kesehatan”. Ujar Naga.

Dalam pencarian tentang Islam, ia menemukan Masjid Lautze di daerah Pasar Baru, Jakarta. Di masjid itu juga sempat mengikuti pengajian. Ia terus memperdalam Islam di masjid tersebut hingga akhirnya tahun 2002 ia memutuskan mengucapkan dua kalimah syahadat di Masjid ini.

Begitu masuk Islam, ia mengaku merasakan keindahan yang tak ada taranya. Ia merasakan bahagia yang tak mampu diucapkan dalam kata-kata.

“Semua tahu kalau gula itu manis, tapi untuk menjelaskan kenapa gula itu manis itu sulit. Seperti itulah gambaran saya mengenai bahagianya masuk islam, saya tak bisa jelaskan rasa bahagia tersebut," tutur Naga.

Kengininan untuk mendalami Islam tak berhenti sampai di sini. Setelah resmi menjadi Muslim ia sering beraktivitas di Masjid Lautze. Bahkan kini Naga ikut membantu mengurus kegiatan pengajian muallaf di Masjid tersebut.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/11/03/15/169434-diawali-dari-mimpi-ahmad-naga-kusnadi-pun-menuju-islam

Thursday, March 17, 2011

Ya Allah, Alangkah Bahagianya Calon Suamiku Itu...

Hudzaifah.org - Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yang bernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Dia tinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnya tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget dan menjawabnya agak gugup.

"Wahai saudaraku Zahid….selama ini engkau sendiri saja," Rasulullah SAW menyapa.

"Allah bersamaku ya Rasulullah," kata Zahid.

"Maksudku kenapa engkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak ingin menikah…," kata Rasulullah SAW.

Zahid menjawab, "Ya Rasulullah, aku ini seorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapa yang mau denganku ya Rasulullah?"

"Asal engkau mau, itu urusan yang mudah!" kata Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat surat yang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah binti Said, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita. Akhirnya, surat itu dibawa ke rumah Zahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedang ada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surat tersebut dan diterima di depan rumah Said.

"Wahai saudaraku Said, aku membawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku."

Said menjawab, "Adalah suatu kehormatan buatku."

Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karena tradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawan harus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin dengan orang kaya, itulah yang dinamakan se-KUFU.

Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, "Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?"

Zahid menjawab, "Apakah engkau pernah melihat aku berbohong…."

Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, "Wahai ayah, kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini…. bukankah lebih baik disuruh masuk?"

"Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya," kata ayahnya.

Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, "Wahai ayah, banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, aku tak mau ayah…..!" dan Zulfah merasa dirinya terhina.

Maka Said berkata kepada Zahid, "Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau… bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak."

Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfah berhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, "Wahai ayah, mengapa membawa-bawa nama rasul?"

Akhirnya Said berkata, "Ini yang melamarmu adalah perintah Rasulullah."

Maka Zulfah istighfar beberapa kali dan menyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar ini Rasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini. Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur’an surat 24 : 51. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 24:51)"

Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kali ini merasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai di masjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihat gerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya.

"Bagaimana Zahid?"

"Alhamdulillah diterima ya rasul," jawab Zahid.

"Sudah ada persiapan?"

Zahid menundukkan kepala sambil berkata, "Ya Rasul, kami tidak memiliki apa-apa."

Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman, dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak, Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan. Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafir yang akan menghancurkan Islam.

Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudah siap-siap dengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, "Ada apa ini?"

Sahabat menjawab, "Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita, maka apakah engkau tidak mengerti?".

Zahid istighfar beberapa kali sambil berkata, "Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jual dan akan kubelikan kuda yang terbagus."

Para sahabat menasehatinya, "Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendak berperang?"

Zahid menjawab dengan tegas, "Itu tidak mungkin!"

Lalu Zahid menyitir ayat sebagai berikut, “Jika bapak-bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. 9:24).

Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid di jalan Allah.

Rasulullah berkata, "Hari ini Zahid sedang berbulan madu dengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah."

Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur’an surat 3 : 169-170 dan 2:154). “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(QS 3: 169-170).

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. 2:154).

Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpun berkata, "Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika aku tidak bisa mendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat."


HIKMAH
Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa, "Untuk Allah di atas segalanya, and die as syuhada."
Jazakumullah.

http://www.hudzaifah.org/Article249.phtml

Sebuah Kisah Untuk Para Pelaku Pornografi dan Pornoaksi

Posted by: Sang Hikmah

Hudzaifah.org - Apa jadinya bila seorang pemuda sholeh digoda oleh wanita cantik? Kepada para pelaku pornografi dan pornoaksi, bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Kecantikan dan keindahan tubuh adalah ujian. Kisah ini pun bisa menjadi inspirasi bagi da'i dalam berdakwah. Bahwa berda'wah itu harus lemah lembut, bukan dengan kekerasan ataupun caci maki kepada pelakunya. Karena hati, hanya bisa disentuh oleh hati. Selamat membaca.
________________________________________

Rabi’ bin Khaitsam adalah seorang pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tidak mau mendekati tempat maksiat sedikit pun. Jika berjalan pandangannya teduh tertunduk. Meskipun masih muda, kesungguhan Rabi’ dalam beribadah telah diakui oleh banyak ulama dan ditulis dalam banyak kitab. Imam Abdurrahman bin Ajlan meriwayatkan bahwa Rabi’ bin Khaitsam pernah shalat tahajjud dengan membaca surat Al Jatsiyah. Ketika sampai pada ayat keduapuluh satu, ia menangis. Ayat itu artinya, “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan (dosa) itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka itu!”

Seluruh jiwa Rabi’ larut dalam penghayatan ayat itu. Kehidupan dan kematian orang berbuat maksiat dengan orang yang mengerjakan amal shaleh itu tidak sama! Rabi’ terus menangis sesenggukan dalam shalatnya. Ia mengulang-ngulang ayat itu sampai terbit fajar.

Kesalehan Rabi’ sering dijadikan teladan. Ibu-ibu dan orang tua sering menjadikan Rabi’ sebagai profil pemuda alim yang harus dicontoh oleh anak-anak mereka. Memang selain ahli ibadah, Rabi’ juga ramah. Wajahnya tenang dan murah senyum kepada sesama.

Namun tidak semua orang suka dengan Rabi’. Ada sekelompok orang ahli maksiat yang tidak suka dengan kezuhudan Rabi’. Sekelompok orang itu ingin menghancurkan Rabi’. Mereka ingin mempermalukan Rabi’ dalam lembah kenistaan. Mereka tidak menempuh jalur kekerasan, tapi dengan cara yang halus dan licik. Ada lagi sekelompok orang yang ingin menguji sampai sejauh mana ketangguhan iman Rabi’.

Dua kelompok orang itu bersekutu. Mereka menyewa seorang wanita yang sangat cantik rupanya. Warna kulit dan bentuk tubuhnya mempesona. Mereka memerintahkan wanita itu untuk menggoda Rabi’ agar bisa jatuh dalam lembah kenistaan. Jika wanita cantik itu bisa menaklukkan Rabi’, maka ia akan mendapatkan upah yang sangat tinggi, sampai seribu dirham. Wanita itu begitu bersemangat dan yakin akan bisa membuat Rabi’ takluk pada pesona kecantikannya.

Tatkala malam datang, rencana jahat itu benar-benar dilaksanakan. Wanita itu berdandan sesempurna mungkin. Bulu-bulu matanya dibuat sedemikian lentiknya. Bibirnya merah basah. Ia memilih pakaian sutera yang terindah dan memakai wewangian yang merangsang. Setelah dirasa siap, ia mendatangi rumah Rabi’ bin Khaitsam. Ia duduk di depan pintu rumah menunggu Rabi’ bin Khaitsam datang dari masjid.

Suasana begitu sepi dan lenggang. Tak lama kemudian Rabi’ datang. Wanita itu sudah siap dengan tipu dayanya. Mula-mula ia menutupi wajahnya dan keindahan pakaiannya dengan kain hitam. Ia menyapa Rabi’, “Assalaamu’alaikum, apakah Anda punya setetes air penawar dahaga?”

“Wa’alaikumussalam. Insya Allah ada. Tunggu sebentar.” Jawab Rabi’ tenang sambil membuka pintu rumahnya. Ia lalu bergegas ke belakang mengambil air. Sejurus kemudian ia telah kembali dengan membawa secangkir air dan memberikannya pada wanita bercadar hitam.

“Bolehkah aku masuk dan duduk sebentar untuk minum. Aku tak terbiasa minum dengan berdiri.” Kata wanita itu sambil memegang cangkir.

Rabi’ agak ragu, namun mempersilahkan juga setelah membuka jendela dan pintu lebar-lebar. Wanita itu lalu duduk dan minum. Usai minum wanita itu berdiri. Ia beranjak ke pintu dan menutup pintu. Sambil menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ia membuka cadar dan kain hitam yang menutupi tubuhnya. Ia lalu merayu Rabi’ dengan kecantikannya.

Rabi’ bin Khaitsam terkejut, namun itu tak berlangsung lama. Dengan tenang dan suara berwibawa ia berkata kepada wanita itu, “Wahai saudari, Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” Allah yang Maha pemurah telah menciptakan dirimu dalam bentuk yang terbaik. Apakah setelah itu kau ingin Dia melemparkanmu ke tempat yang paling rendah dan hina, yaitu neraka?!

“Saudariku, seandainya saat ini Allah menurunkan penyakit kusta padamu. Kulit dan tubuhmu penuh borok busuk. Kecantikanmu hilang. Orang-orang jijik melihatmu. Apakah kau juga masih berani bertingkah seperti ini ?!

“Saudariku, seandainya saat ini malaikat maut datang menjemputmu, apakah kau sudah siap? Apakah kau rela pada dirimu sendiri menghadap Allah dengan keadaanmu seperti ini? Apa yang akan kau katakan kepada malakaikat munkar dan nakir di kubur? Apakah kau yakin kau bisa mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan saat ini pada Allah di padang mahsyar kelak?!”

Suara Rabi’ yang mengalir di relung jiwa yang penuh cahaya iman itu menembus hati dan nurani wanita itu. Mendengar perkataan Rabi’ mukanya menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya meleleh. Ia langsung memakai kembali kain hitam dan cadarnya. Lalu keluar dari rumah Rabi’ dipenuhi rasa takut kepada Allah swt. Perkataan Rabi’ itu terus terngiang di telinganya dan menggedor dinding batinnya, sampai akhirnya jatuh pingsan di tengah jalan. Sejak itu ia bertobat dan berubah menjadi wanita ahli ibadah.

Orang-orang yang hendak memfitnah dan mempermalukan Rabi’ kaget mendengar wanita itu bertobat. Mereka mengatakan, “Malaikat apa yang menemani Rabi’. Kita ingin menyeret Rabi’ berbuat maksiat dengan wanita cantik itu, ternyata justru Rabi’ yang membuat wanita itu bertobat!”

Rasa takut kepada Allah yang tertancap dalam hati wanita itu sedemikian dahsyatnya. Berbulan-bulan ia terus beribadah dan mengiba ampunan dan belas kasih Allah swt. Ia tidak memikirkan apa-apa kecuali nasibnya di akhirat. Ia terus shalat, bertasbih, berzikir dan puasa. Hingga akhirnya wanita itu wafat dalam keadaan sujud menghadap kiblat. Tubuhnya kurus kering kerontang seperti batang korma terbakar di tengah padang pasir.

http://www.hudzaifah.org/Article368.phtml