Thursday, March 17, 2011

Kebal Api Karena Jatuh Cinta...

Posted by: Anugerah W.

Hudzaifah.org - Seorang yang terkenal arif pernah bercerita, bahwa ia pernah menemui seorang pandai besi yang sangat ajaib. Ia mengerjakan pekerjaannya tanpa pernah menggunakan alat anti api atau lain-lainnya. Hanya dengan tangan kosong, ia mampu memegang besi yang sedang membara.

Ketika si arif menanyakan penyebab kekebalannya, pandai besi tadi menceritakan peristiwa yang pernah ia alami. Beberapa tahun yang lalu, aku mempunyai tetangga seorang wanita yang sangat cantik. Aku jatuh cinta kepadanya, tetapi ia hanya biasa-biasa saja dan tak membalas cintaku.

Setelah lama menanti, akhirnya kesempatan datang juga. Pada musim paceklik, ia datang ke rumahku dan berkata, “Berilah aku makan karena Allah.”

“Aku tidak akan memberimu makan, kecuali kalau kau menerima cintaku.”

“Astaghfirullah, tidak ada jalan bagiku untuk melakukan kemaksiatan,” jawabnya seraya ketakutan. Karena ia menolak permintaanku, aku tetap tidak memberinya makan, dan kubiarkan saja ia berlalu pulang.

Karena saat itu sedang kemarau panjang, penduduk banyak yang mengalami kelaparan. Mungkin karena terpaksa, pada hari kedua ia datang lagi ke rumahku. Ia meminta seperti ucapannya kemarin dan aku tetap menolak untuk memberinya makan, sampai ia mau membalas rasa cintaku yang semakin menggelora.

Pada hari ketiga ia datang lagi dan meminta dengan berkata, “Berilah aku makan karena Allah. Sungguh aku akan binasa karena menahan lapar.”

Aku tetap bertahan dengan memberinya syarat agar mau menerima cintaku. Mulanya ia akan pulang, tetapi akhirnya kembali dan masuk ke dalam rumahku.

Setelah kusediakan makanan di hadapannya, sambil menangis ia bertanya,

“Kamu memberiku makan karena Allah?”

“Tidak!” jawabku cepat.

Benar-benar di luar dugaanku. Dalam keadaan lapar, ia tak menjamah makanan yang telah tersedia di meja, tetapi segera keluar meninggalkanku yang kebingungan.

Pada hari keempat, iapun datang lagi dan meminta seperti biasa. Aku tetap bertahan dengan mengatakan memberinya karena cinta, bukan karena Allah. Akhirnya ia masuk ke rumahku, dan aku segera menyediakan makan seperti kemarin.

Sewaktu menyediakan makan, secara tiba-tiba aku menjadi sadar dan kagum dengan ketabahannya. “Tiga hari wanita ini bertahan demi untuk tidak mendekati kemaksiatan, padahal ia akan binasa karena lapar, mengapa aku justru bersikap sebaliknya? Aku bertaubat ya Allah, semua ini karena aku telah terbakar oleh api cinta.”

Setelah berucap dalam hati, saat itu juga aku segera berkata kepadanya, "Minum dan makanlah, jangan takut-takut, sekarang aku memberimu karena Allah.”

Mendengar ucapanku ini ia segera berkata, “Ya Allah, apabila yang ia katakan benar, maka haramkanlah api kepadanya baik di dunia ini maupun di akherat kelak.”

Ternyata doanya telah dikabulkan oleh Allah, karena semenjak itu aku tak pernah merasakan panas lagi walaupun tanganku memegang api.

Setelah mendengar semua cerita penyebab kekebalan pandai besi ini, orang arif tadipun menyambung, “Maha Suci Allah, aku juga pernah mendengar sebuah hadits, bahwa siapa yang berkuasa untuk berzina, tetapi ia tidak melakukannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi keamanan pada hari Kiamat kelak, diharamkannya api baginya, dan akan dimasukkan orang itu ke dalam surga.”

http://www.hudzaifah.org/Article391.phtml

Fadhalah Jatuh Cinta

Posted by: abusafar

Hudzaifah.org - Pada saat peristiwa Fathu Makkah (penaklukkan Mekkah oleh pasukan kaum muslimin dibawah pimpinan Rasulullah SAW), ada seseorang di Mekkah yang berniat membunuh Rasulullah. Orang ini bernama Fadhalah bin Umair al-Laitsi. Dia bermaksud membunuh Nabi Muhammad SAW ketika beliau sedang thawaf di Ka'bah.

Untuk melancarkan niatnya itu, Fadhalah mencoba mendekat ke Rasul yang sedang thawaf. Ketika mendekat, tiba-tiba Rasulullah SAW menegurnya, "Apakah ini Fadhalah?"

"Ya, saya Fadhalah wahai Rasulullah SAW." jawab Fadhalah.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Rasulullah SAW.

"Tidak memikirkan apa-apa. Aku sedang teringat Allah kok.." jawab Fadhalah.

Mendengar jawaban Fadhalah itu, Rasulullah SAW tersenyum dan berkata, "Mohonlah ampun kepada Allah..."

Kemudian Nabi SAW meletakkan tangannya di atas dada Fadhalah sehingga hatinya menjadi tenang.

Dari peristiwa itu, Fadhalah mengatakan "Begitu beliau melepaskan tangannya dari dadaku, aku merasa tak seorang pun yang lebih aku cintai daripada Beliau."

Setelah peristiwa itu menimpa Fadhalah, dia tidak jadi membunuh Rasulullah SAW dan segera pulang ke rumah. Ketika pulang ke rumah, dia melewati seorang wanita yang pernah dicintainya. Wanita itu memanggil dan mengajaknya berbicara. Tapi kemudian dari mulut Fadhalah keluar untaian bait-bait ini:

Dia berkata: Marilah kita ngobrol!
Tidak, jawabku.
Allah dan Islam telah melarangku
Aku baru saja melihat Muhammad
Di hari penaklukan, hari dihancurkannya semua berhala
Agama Allah itu sangat jelas dan nyata
Sedang kemusyrikan adalah kegelapan

Fadhalah jatuh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Fadhalah jatuh cinta kepada Islam....

http://www.hudzaifah.org/Article412.phtml

Friday, March 11, 2011

Tak Jadi Masuk Biara Setelah Mendengar Kalimat "Allahu Akbar"

Kisah Madame Fatima Mil Davidson mendapatkan hidayah Islam terbilang unik. Seperti sebuah keajaiban, cahaya Islam itu menyentuhnya saat ia baru saja masuk ke kehidupan biara. Waktu itu ia memang sudah berniat untuk menjadi biarawati.

Saat ini Madame Fatima menjabat sebagai Menteri Pembangunan Sosial dan Pemerintah Lokal, Republik Trinidad dan Tobago, sebuah negara kepulauan di kawasan Laut Karibia bagian selatan. Pada majalah berbahasa Arab Men-bar-al-Islam di Kairo, ia menceritakan awal mula menemukan Islam dan bagaimana akhirnya ia menjadi seorang Muslimah.

"Saya membantah keras cerita yang mengatakan bahwa saya masuk Islam pada tahun 1975 dengan tidak mengakui ajaran Kristen. Sungguh, saya tidak bisa memahami dan menjelaskan apa yang saya alami. Saya akan mengajak Anda kembali ke tanggal 9 Maret 1950, hari yang sudah ditetapkan buat saya untuk masuk biara. Ketika saya bangun pagi di hari itu , saya merasa mendengar suara yang menyebutkan kalimat 'Allahu Akbar, Allahu Akbar', suara itu terngiang-ngiang di telinga saya dan membuat seluruh tubuh dan hati saya bergetar," kata menteri yang sebelum masuk Islam bernama Model Donafamik Davidson.

"Saya tidak begitu tahu, itu apa. Tapi hari itu saya menolak masuk ke biara. Setelah itu, menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari petunjuk Tuhan, sampai akhirnya saya menemukan Al-Quran dengan terjemahannya. Lalu, dengan mudah saya menaruh kepercayaan pada terjemahan Al-Quran yang saya baca," sambungnya.

Secara kebetulan, Madame Fatima kemudian bertemu dengan seorang cendikiawan muslim asal Pakistan Maulana Siddiq dan ulama dari India Syaikh Ansari. Ia terlibat pembicaraan yang mendalam dengan kedua ulama itu, tentang budi pekerti dan apa yang dirasakan dalam hatinya. Begitu banyak pertanyaan detil yang diajukan Madame Fatima, hingga kedua ulama berseru, "Alhamdulillah, Anda seorang muslim ! Anda sekarang seorang muslim. Bacalah apa yang Anda sukai, masuklah ke masjid dan berdoa. Kami siap menerima Anda, kapanpun Anda merasa ingin belajar apapun."

Madame Fatima merasa gembira dengan respon kedua ulama tersebut. "Saya bahagia. Setelah hari itu, saya merasa hati saya dilimpahi dengan keimanan dan rasa cinta serta kebanggaan terhadap Nabi Muhammad Saw," ujarnya.

Meski demikian, Madame Fatima mengaku baru secara resmi memeluk Islam sekitar tahun 1975. "Sampai sekarang, sudah 36 tahun saya menjadi seorang muslim. Sejak saya mendengar suara misterius yang menggetarkan kalbu, dan lalu saya menolak masuk biara. Hati saya sudah memproklamirkan Allahu Akbar," tukasnya.

"Saya menjadi gadis pertama dari komunitas kulit berwarna yang masuk ke masjid. Dan ini mendorong banyak remaja muslimah untuk juga datang ke masjid-masjid untuk salat, khususnya ke Masjid Anjuman Jami' Sanatal yang didirikan oleh ulama besar Dr. Syaik Ansari di kota Francis di Trinidad. Masjid itu sekarang dipimpin oleh Al-Haj Shafiq Muhammad," tutur Madame Fatima.

Ia juga menceritakan bahwa warga di lingkungannya masih berpikir bahwa Islam adalah agama orang India, yang memiliki ajaran dari beragam kepercayaan dan agama. "Dalam perkembangannya, di kalangan warga pribumi, kebanyakan yang berasal dari Afrika, makin banyak yang memeluk Islam. Rasio warga muslim meningkat hingga 13 persen dari total penduduk Republik Trinidad dan Tobago. Selebihnya, 31 persen penduduk negara ini beragama Kristen, 27 persen beragama Protestan, 6 persen pemeluk agama Hindu dan 23 persen pemeluk keyakinan lainnya, " papar Madame Fatima.

Lalu, apakah keislamannya membawa dampak pada pekerjaannya sebagai salah satu pejabat di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim? Menjawab pertanyaan ini, Madame Fatima menjawab, "Islam mengajarkan kita untuk ikhlas dan efisien dalam menjalankan pekerjaan dan saya mempraktekkan ajaran Islam dengan tulus ..."

"Saya tidak berbohong, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadi saya. Saya berusaha menghindari segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam, semampu saya dan dengan kesadaran diri yang kuat. Jadi, dampak keislaman saya pada pekerjaan, tidak lain hanyalah semua pekerjaan saya berjalan baik dan penuh rahmat. Mantan perdana menteri bahkan menganjurkan saya untuk berkunjung ke Mesir, tempat sekolah Islam terkenal Al-Azhar dan salah satu pusat peradaban. Dia suka membicarakan Islam juga," ujar Madame Fatima.

Ia sungguh beruntung, karena perdana menteri yang sekarang menjabat, mengizinkannya berkunjung ke Mesir terkait tugasnya sebagai menteri pembangunan sosial dan pemerintahan lokal. "Perdana Menteri juga menganjurkan saya mengunjungi Al-Azhar dan Mahkamah Tinggi Agama Islam," imbuhnya.

Madame Fatima beberapa kali berpartisipasi dalam pemlu parlemen dan sukses. Ia pernah menjabat sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan. Ia menjadi teladan sebagai seorang muslim yang mampu menunjukkan kemampuannya di bidang politik.

"Hal penting yang harus Anda ketahui, Republik Trinidad dan Tobago memberikan hari libur resmi pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Komunitas Muslim bebas menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, baik di rumah maupun di masjid-masjid," jelas Madame Fatima.

Sebagai bagian dari umat Islam, ia menyerukan dunia Islam untuk bersatu dibawah bendera Islam agar posisi dunia Islam dan kaum Muslimin menjadi kuat. "Allah Yang Mahabesar telah membimbing saya ke jalan Islam dan saya berdoa padaNya untuk membimbing umat Islam ke arah persaudaraan dan perdamaian, agar umat Islam menjadi masyarakat terbaik di masa kini, dan sudah menjadi inspirasi bagi umat manusia," tandas Madame Fatima. (ln/SP)

http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/madame-fatima-tak-jadi-masuk-biara-setelah-mendengar-kalimat-allahu-akbar.htm

Menjadi Mulia Tak Perlu Menunggu Kaya

Oleh: Ratna Utami

Ini sebuah kisah nyata: ada dua orang wanita yang tinggal serumah. Keduanya selalu menyisihkan sebagian harta yang dititipkan Allah pada mereka dengan cara berinfak. Hal ini mungkin bukan sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Tetapi tunggu, ulama tersebut melanjutkan kisahnya.

Siapakah kedua wanita yang tinggal dalam satu atap itu? Mereka bukanlah anak dan ibu atau kakak beradik. Lalu, siapakah gerangan mereka? Keduanya tak lain adalah seorang majikan dan pembantunya.

Tanpa diketahui oleh masing-masing, sang pembantu selalu menyisihkan rezeki yang diperoleh setiap kali menerima gaji, demikian pula dengan sang majikan. Secara logika kita pastinya berfikir bahwa penghasilan sang majikan lebih besar dari sang pembantu, maka infaknya pun tentu akan lebih besar. Sang pembantu, berapalah ia mampu infakkan, apalagi harus berbagi dengan kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anak-anaknya.

Namun, Allah mempunyai matematika lain. Dengan gaji tak seberapa plus dipotong infak, ia hidup cukup. Anak-anaknya bersekolah sampai jenjang tertinggi.

Tentu saja bagi orang beriman yang mengakui bahwa hanya Allah yang berkuasa memberi rezeki, tak kan pernah heran atau terlontar tanya seperti demikian. Karena sudah jelas tercantum firman-Nya dalam Alquran:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 261).

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka, dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS Al-Hadid: 18)

Demikianlah, Allah telah banyak menunjukkan salah satu contoh kekuasaan-Nya melalui kisah serupa. Sebagai sebuah pelajaran supaya cukuplah Allah tempat kita menyandarkan keyakinan sepenuhnya atas rezeki yang diberikan-Nya. Di samping itu kita tidak perlu merasa khawatir untuk bersedekah atau menginfakkan sebagian rezeki yang Allah titipkan tersebut karena janji Allah pastilah benar adanya. Kita pun tak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi rezeki demi mendapatkan kemuliaan di hadapan-Nya.

“.... Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS Al Hujuraat [49]:13).

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/11/03/11/168627-menjadi-mulia-tak-perlu-menunggu-kaya

Tuesday, March 8, 2011

Pantaskah?

Wahai diriku yang rapuh...
Pantaskah kau merasa kehilangan?
Sedangkan kau tahu,
yang kau cinta bukanlah milikmu,
bahkan dirimu pun bukan milikmu.

Duhai diriku yang lemah...
Pantaskah kau merasa kecewa?
Sedangkan kau tahu,
tak satu pun di dunia ini terjadi di luar kehendak-Nya.

Wahai diriku yang pongah...
Pantaskah kau marah dan menyumpah serapah?
Sedangkan kau tahu,
bahwa Sang Maha Murka adalah juga Sang Maha Mengampuni.

Duhai diriku yang ringkih...
Pantaskah kau bersedih hati?
Sedangkan kau tahu,
dirimu tidak lebih fana dari yang kau cintai.

Wahai diriku yang hina...
Pantaskah kau merasa hancur, terseret kenistaan di luar kuasamu?
Sedangkan kau tahu,
KuasaNya setiap saat mampu menenggelamkanmu dalam kenistaan yang lebih hina.

Duhai diriku yang bakal mati...
Cintailah Yang KEKAL,
maka cintamu akan abadi...
tak tersakiti..., tak kan terkhianati.

Monday, March 7, 2011

Dari Hindu Menuju Cahaya Islam: "Saya Merasa Aman dan Terlindungi"

Sebut saja namanya Noor. Ia adalah muslimah, berlatar belakang pendidikan Universitas Essex, Inggris, jurusan biologi. Sebelum menjadi muslimah, Noor seorang penganut agama Hindu.

Sebagai anak perempuan yang lahir dari keluarga Hindu, ia dididik untuk meninggikan harga dirinya. Keluarga mengatur dengan siapa ia harus menikah--tak peduli ia suka atau tidak-- punya anak dan mengurus suami. Lebih dari itu, sebagai perempuan, ia menyaksikan banyak aturan Hindu yang menindas perempuan.

Jika seorang perempuan Hindu berstatus janda, maka ia harus selalu mengenakan baju sari warna putih, rambutnya harus dipangkas pendek, makannya pun hanya boleh sayur-sayuran dan ia tidak boleh menikah lagi.

Seorang perempuan Hindu yang akan menikah, harus membayar mahar pada keluarga calon suaminya. Si calon suamin bisa meminta apa saja sebagai mahar, tak peduli jika calon isterinya bakal kesulitan memenuhi permintaan mahar itu.

Jika setelah menikah, isterinya tidak mampu melunasi maharnya, si suami berhak menindas isterinya baik secara emosional maupun secara fisik, yang biasanya berujung pada tindak kekerasan dalam rumah tangga. Sang isteri bahkan bisa kehilangan nyawa dan menjadi korban "dapur kematian", sebuah istilah untuk perempuan-perempuan Hindu yang menjadi korban suami dan ibu mertuanya, dimana seorang suami atau suami dan ibunya membakar seorang isteri saat ia sedang memasak di dapur, tapi kondisinya dibuat seolah-olah itu sebuah kecelakaan tak sengaja.

Peristiwa ini banyak menimpa perempuan Hindu yang tidak mampu melunasi mahar suaminya. Noor menyaksikan sendiri, bagaimana anak perempuan teman ayahnya menjadi korban insiden "dapur kematian."

Sementara kaum lelaki dalam masyarakat Hindu, diperlakukan ibarat "dewa". Dalam sebuah perayaan agama Hindu, gadis-gadis Hindu yang belum menikah diwajibkan berdoa pada Dewa Shira, agar mendapat suami yang seperti dewa itu. Setiap kali memperingati hari raya itu, Noor juga diperintahkan melakukan hal yang sama oleh ibunya.

"Saya melihat bahwa agama Hindu berdasarkan atas takhayul dan hal-hal yang tidak nyata, hanya berdasarkan pada tradisi semata, yang menindas kaum perempuan. Sesuatu yang menurut saya tidak benar," kata Noor.

Selanjutnya, ketika tinggal di Inggris untuk kuliah, Noor berpikir bahwa Inggris setidaknya negara yang menghormati persamaan hak antara lelaki dan perempuan, tidak menindas kaum perempuan dan perempuan di Inggris bebas melakukan apa saja yang diinginkannya.

"Saya berpikir begitu setelah saya mulai bertemu dengan banyak orang, dengan teman-teman, belajar dari masyarakat yang baru ini dan mengunjungi banyak tempat yang oleh teman-teman menjadi tempat 'bersosialisasi' seperti bar, tempat-tempat dansa, dan sejenisnya. Sampai saya menyadari, pada prakteknya 'persamaan hak' cuma teori saja," tukas Noor.

Tentu saja, di masyarakat Barat, perempuan diberi hak dalam bidang pendidikan, pekerjaan dan lain sebagainya. Tapi kenyataannya, kaum perempuan masih mengalami penindasan dalam bentuk yang berbeda, dan dengan cara yang lebih halus.

"Ketika saya pergi bersama teman-teman ke tempat-tempat bersosialisasi itu, saya merasa orang-orang senang ngobrol dengan saya, dan saya pikir itu hal yang normal. Tapi kemudian, saya sadar betapa naifnya saya, dan saya bisa melihat apa sebenarnya yang mereka cari."

"Saya pun mulai merasa tak nyaman. Saya merasa bukan diri saya sendiri. Saya harus berbusana dengan cara tertentu agar orang menyukai saya. Saya harus bicara dengan cara tertentu untuk membuat mereka senang. Saya merasa makin tak nyaman. Saya makin kehilangan jati diri, tapi saya tidak bisa keluar dari situasi itu. Kalau orang lain bilang melakukan itu semua untuk menyenangkan diri mereka sendiri, saya tidak menganggapnya seperti itu," papar Noor.

Menurutnya, perempuan dengan cara hidup seperti itu adalah perempuan yang tertindas. Mereka memilih busana dan cara berbicara agar disukai dan menarik perhatian kaum lelaki. Noor lalu merasa bahwa ia harus mulai melakukan sesuatu, untuk menemukan sesuatu yang membuatnya aman, nyaman, bahagia tapi tetap dihormati. Sesuatu itu, pikir Noor, adalah sebuah keyakinan yang benar, karena seseorang hidup berdasarkan keyakinannya itu.

Apa yang terlintas di benak Noor itu terbukti ketika ia masuk Islam. "Agama yang saya yakini ini sangat lengkap dan jelas mengatur semua aspek kehidupan. Saya menemukan rasa aman dengan memeluk agama Islam," ujar Noor.

"Selama ini, banyak orang yang salah menafsirkan Islam. Islam mereka anggap sebagai agama yang menindas perempuan, karena mewajibkan seorang perempuan menutup tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, tidak memberikan kebebasan dan tidak menghargai hak perempuan. Padahal, Islam memberikan banyak hak pada kaum perempuan, bahkan sejak 1.400 tahun yang lalu jika dibandingkan dengan isu hak perempuan non-Muslim di Barat yang relatif masih baru. Sampai sekarang, masih banyak kaum perempuan yang tertindas dalam masyarakatnya, contohnya dalam masyarakat Hindu yang saya ceriakan tadi," sambung Noor.

Kaum perempuan dalam masyarakat Islam, ungkap Noor, berhak atas harta warisan, boleh mengelola bisnis dan usaha mereka sendiri, berhak atas pendidikan bahkan berhak menolak lamaran seorang lelaki sepanjang alasannya kuat dan bisa dibenarkan. "Banyak ayat dalam Al-Quran yang menegaskan tentang hak-hak perempuan itu dan perintah agar para suami memperlakukan isterinya dengan baik. Islam adalah agama yang sempurna," tukas Noor.

"Pada akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa saya menerima Islam tidak dengan cara yang buta atau atas paksaan. Al-Quran sendiri mengatakan, tidak ada paksaan masuk Islam. Saya masuk Islam atas dasar sebuah keyakinan. Saya sudah menyaksikan dan mengalami sendiri kehidupan dua masyarakat, masyarakat Hindu dan masyarakat Barat, dan saya tahu apa yang saya lakukan adalah hal yang benar. Islam tidak menindas perempuan, bahkan membebaskannya dari penindasan, memberikan penghormatan dan kemuliaan bagi perempuan," tandas Noor.

Setahun lebih setelah memeluk Islam, kehidupan Noor banyak berubah. Apalagi setelah ia mengenakan jilbab. Noor mengaku merasakan sensasi yang membuatnya puas dan bahagia karena ia sudah mematahi salah satu perintah Allah Swt. "Saya merasa aman dan terlindungi. Orang-orang jadi lebih menghormati saya. Saya benar-benar bisa melihat perbedaan sikap mereka terhadap saya, setelah saya mengenakan jilbab," pungkas Noor. (ln/SP)

http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/dari-hindu-menuju-cahaya-islam-saya-merasa-aman-dan-terlindungi-sebagai-perempuan.htm

Berawal Dari Segelas Air Mengubahnya Menjadi Menteri

by KUMPULAN KISAH NYATA PEMBERI INSPIRASI DAN MOTIVASI HIDUP on Monday, March 7, 2011 at 12:50pm.

Di sebuah perusahaan pertambangan minyak di Arab Saudi, di akhir tahun40-an. Seorang pegawai rendahan, remaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari air untuk menyiram tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.

Belum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan: “Hei, kamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini hanya khusus untuk insinyur” Suara itu berasal dari mulut seorangi insinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut. Remaja itu akhirnya hanya terdiam menahan haus.

Ia tahu ia hanya anak miskin lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia lulusan lembaga Tahfidz Quran, tapi keahlian itu tidak ada harganya di perusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajemen Amerika.

Hardikan itu selalu terngiang di kepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa segelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan, sedangkan mereka insinyur ?

Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa minum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini selalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi momentum baginya untuk membangkitkan ”DENDAM POSITIF”

Akhirnya muncul komitmen dalam dirinya. Remaja miskin itu lalu bekerja keras siang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia kurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak jarang olok-olok dari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia akhirnya bisa lulus SMA.

Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi kesempatan padanya untuk mendalami ilmu.

Ia dikirim ke Amerika mengambil kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi.

Pemuda ini lulus dengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang kenegerinya dan bekerja sebagai insinyur.

Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai insinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya. Apakah sampai di situ saja?. Tidak, karirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar ketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain.

Karirnya melonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa dicapai oleh orang lokal saat itu.

Ada kejadian menarik ketika ia menjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya, kini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur bule ini datang menghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; “Aku ingin mengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak membalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa lalu”

Apa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: “Aku ingin berterimakasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau melarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah izin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini. “

Kini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya sampai di sini? Tidak. Akhirnya mantan pegawai rendahan ini menempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden Direktur pertama yang berasal dari bangsa Arab.

Tahukan Anda apa perusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian American Oil Company) perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya perusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin dominan. Kini perusahaaan ini menghasilkan 3.4 juta barrels (540,000,000 m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia dengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20×1010 m3) minyak dan 253 triliun cadangan gas.

Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai pengaruh sangat besar terhadap dunia.

Tahukah kisah siapa ini? Ini adalah kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai saat ini (2011) menjabat Menteri Perminyakan dan Mineral Arab Saudi.

Terbayangkah, hanya dengan mengembangkan hinaan menjadi dendam positif, isu air segelas di masa lalu membentuknya menjadi salah seorang penguasa minyak yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Itulah kekuatan ”DENDAM POSITIF” Kita tidak bisa mengatur bagaimana orang lain berperilaku terhadap kita. Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan akan menimpa kita. Tapi kita sepenuhnya punya kendali bagaimana menyikapinya.

Apakah ingin hancur karenanya? Atau bangkit dengan semangat “Dendam Positif.”

Sumber :
http://www.iswandibanna.com/2011/02/berawal-dari-segelas-air-mengubahnya.html
http://www.facebook.com/#!/notes/kumpulan-kisah-nyata-pemberi-inspirasi-dan-motivasi-hidup/berawal-dari-segelas-air-mengubahnya-menjadi-menteri/199825803379737


Posting by AH