Wednesday, February 9, 2011

Anakku....

Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami. Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru. Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku. Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku...
Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu ? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?

Anakku..
Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,

Anakku...
Walau bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku...

Anakku...
Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami. Di sisi Allah, kelak akan berhimpun sekian banyak orang-orang yang menggugat.

Anakku..
Takutlah engkau kepada Allah karena kedurhakaanmu kepada Ibu. Sekalah air mataku, ringankanlah beban kesedihanku. Terserahlah kepadamu jika engkau ingin merobek-robek surat ini. Ketahuilah, "Barangsiapa beramal shalih maka itu buat dirinya sendiri. Dan orang yang berbuat jelek, maka itu (juga) menjadi tanggungannya sendiri".

Anakku...
Ingatlah saat engkau berada di perut ibu. Ingat pula saat persalinan yang sangat menegangkan. Ibu merasa dalam kondisi hidup atau mati. Darah persalinan, itulah nyawa Ibu. Ingatlah saat engkau menyusui. Ingatlah belaian sayang dan kelelahan Ibu saat engkau sakit. Ingatlah ..... Ingatlah.... Karena itu, Allah menegaskan dengan wasiat : "Wahai, Rabbku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil".

Anakku...
Pandanglah masa teladan dalm Islam, masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup, supaya engkau memperoleh potret bakti anak kepada orang tua.

http://inspirasipagi.blogspot.com/2006/01/anakku.html

Hari ke-100 Peter dan Tina

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku."

Peter: "Kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang."
(Keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)

Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"

Peter: "Eh? permainan apaan?"

Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"

Peter: "Baiklah... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan."

Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"

Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen deh. Katanya film itu bagus..."

Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke karaoke ya...
ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."

Peter : "Boleh juga..."
(Mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang malam harinya)

Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe, suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman Peter. Tangan Tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.

Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay. Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang tahunnya.

Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama, dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.

Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China. Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang...", kemudian peramal itu meneteskan air mata.

Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana. Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.

15:20 pm
Tina: "Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar."
Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu mau minum apa?"
Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya..."
Peter mengangguk. Kakinya memang pegal sekali karena di mana-mana Jakarta selalu macet.

15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.
Peter : "Ada apa pak?"
Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu adalah temanmu..."
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu.
Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.
Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.
Peter duduk di luar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.

23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih bernafas sekarang, tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya."
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai.
Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya.
Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.
Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.

Dear Peter...
Ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak, tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai,
aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku.
Peter, aku sangat sayang padamu.

23:58
Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku?
Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.
Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! Hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari!
Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!
Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian!
Tina, Aku sayang kamu...!"

Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...

***

Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.
Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali lagi.

True love doesn't have a happy ending, because true love never ends....

Dari milis motivasi_net.

Dicopy-paste dari: http://inspirasipagi.blogspot.com/2006/01/peter-dan-tina.html

Pemimpin Bijaksana

Suatu saat ketika Rasulullah SAW bersama para sahabat selesai melaksanakan shalat berjamaah, Umar bin Khattab salah satu sahabat dekat Rasul yang berada di shaf depan merasa terganggu pikirannya. Setiap gerakan Rasulullah SAW di depan para sahabat terasa berat dan sukar. Terdengar bebunyian yang demikian mencolok seolah persendian beliau saling bergesekan satu sama lain. Shalat kali ini terasa lebih lama dari biasanya.

Usai shalat, Umar RA yang begitu khawatir dengan kondisi Rasulullah mendatangi beliau. Dengan hati-hati Umar duduk di sisi beliau yang serta-merta beliau sambut dengan senyuman. "Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau sedang menanggung penderitaan yang sangat berat, sakitkah engkau, ya Rasul?" tanya Umar. Rasulullah SAW tersenyum sambil menggeleng, "Tidak wahai Umar, Alhamdulilah aku sehat."

"Mengapa setiap kali engkau menggerakkan tubuhmu, kami mendengar seolah-olah sendi tubuhmu saling bergesekan?" Umar memperlihatkan ekspresi wajah prihatin, penuh kasih saying, dan khawatir. "Kami yakin engkau sedang sakit wahai Rasul." Meskipun kondisinya agak lemah dan agak pucat, Rasulullah SAW tetap tersenyum. Sepertinya berupaya menjadi pelipur lara dari sesuatu yang tidak beliau katakan meskipun kepada Umar sahabat dekatnya.

Karena jawaban "tidak" atau "aku baik-baik saja" beliau rasakan sudah tidak mencukupi lagi, Rasulullah SAW mengangkat jubahnya hingga bagian perut beliau terlihat nyata. Seketika Umar dan sahabat terpana. Tampak perut beliau begitu kempis, perut itu dililit oleh kain yang membuntal berisi kerikil-kerikil. Kerikil-kerikil yang menimbulkan suara berisik ketika mengimami shalat. Kerikil-kerikil yang memancing keingintahuan Umar dan menyangka beliau sedang dalam kondisi sakit serius.

"Ya Rasul," suara Umar bergetar oleh rasa iba dan penyesalan, "Apakah jika engkau mengatakan sedang lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan menyediakan dan menyiapkannya untuk engkau?"

Beliau menutup kembali perutnya dengan helai jubahnya yang menjuntai seraya menatap Umar dengan tatapan penuh pancaran cinta yang utuh. "Tidak, ya Umar. Aku tahu, apa pun akan kalian korbankan demi aku, akan tetapi apa yang akan aku katakan di hadapan Allah nanti jika sebagai pemimpin aku menjadi beban bagi umatku?"

Beliau mengedarkan pandangan kepada para sahabatnya yang lain seraya berkata, "Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah dari Allah untukku agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia, terlebih di akhirat." Subhanallah, siapa pun yang mendengar kalimat beliau seketika terdiam, ada yang berdenyar merambat ke bola mata mereka, beberapa terisak haru. Umar maklum bahwa dia tidak akan sanggup melangkah lebih jauh, memaksa beliau untuk mengikuti keinginannya.

Mahasuci Allah yang telah mengutus seorang pemimpin yang begitu mulia akhlak dan perkataannya. Alangkah rindunya kita kepada pemimpin sebijaksana beliau yang tidak mau membebani umatnya. Kelak pemimpin seperti inilah yang akan dinaungi oleh naungan Allah pada saat tidak ada naungan selain dari-Nya.

Oleh: Toha MT
Copy-paste dari: http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/11/02/09/163123-pemimpin-bijaksana

"Tuhan akan Membuatmu Berlutut, Jeffrey"

Ketika masih anak-anak, saat berjalan-jalan di pantai, Dr. Jeffrey Lang pernah bertanya pada ayahnya tentang keberadaan surga. Pertanyaan anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan bisa jadi pertanda bahwa suatu saat kelak, Lang bakal menjadi sosok yang melihat segala sesuatu dengan cara berpikir logis dan rasional.

Tanda-tanda itu terbukti, ketika Lang dewasa akhirnya menjadi seorang profesor bidang matematika, bidang studi yang tidak memberi tempat bagi apapun, kecuali logika.

Lang menyelesaikan sekolah menengahnya di sekolah Katolik khusus laki-laki, Notre Dame Boys High. Sejak di sekolah menengah itu, Lang sudah menyatakan keberatannya atas kepercayaan adanya "Yang Maha Kuasa". Pendeta, orang tua dan teman-teman sekelasnya gagal meyakinkan Lang tentang eksistensi Tuhan. Akhirnya, pada usia 18 tahun, Lang memilih menjadi seorang atheis dan itu berlangsung hingga 10 tahun sampai Lang menyelesaikan studi doktoralnya.

Tapi diantara masa-masa itu, Lang pernah mendapat mimpi aneh. Dalam mimpinya, ia melihat sebuah ruangan kecil tanpa satu pun perabotan di dalamnya. Dinding ruangan itu berwarna keabu-abuan. Lantainya ditutupi karpet dengan dominasi warga merah dan putih. Di bagian atas ada jendela berukuran kecil. Dari jendela itulah cahaya masuk dan menerangi ruangan.

"Ada barisan orang di dalamnya, dan saya ada di baris ketiga. Semuanya laki-laki, tidak ada perempuan. Kami semua duduk dengan posisi tumit kaki ke arah belakang, menghadap ke arah jendela itu. Rasanya aneh. Saya tidak mengenal siapa pun," cerita Lang soal mimpinya.

Dalam mimpi itu Lang berpikir bahwa ia mungkin ada di negara lain. Lalu ia dan orang-orang di dalam ruangan itu berbungkuk bersama-sama dengan posisi wajah menghadap ke lantai. "Suasananya sangat tenang dan khidmat, tidak sedikitpun terdengar bunyi-bunyian. Tiba-tiba kami sudah duduk lagi di atas tumit. Saat saya melihat ke depan, ada seseorang di depan yang memimpin kami, dia ada di tengah, tepat di bawah jendela. Dia berdiri sendirian, saya hanya bisa melihat sedikit punggungnya. Orang itu mengenakan baju putih panjang dan kepalanya dibalut dengan syal warna putih bermotif merah. Dan saat itulah saya terbangun dari mimpi itu ..." tutur Lang.

Ia beberapa kali melihat gambaran itu dalam mimpinya selama 10 tahun menjadi seorang atheis. Tapi sebagai seorang yang mengedepankan logika dan cara berpikir rasional, Lang tidak merasa terganggu dengan mimpi itu meski ia merasakan sebuah kenyamanan yang dirasakannya aneh tiap kali terbangun setelah mimpi itu. Lang tak mengerti apa yang dirasakannya itu, dia tidak mampu memikirkan masuk akalkah mimpinya itu dan karenanya Lang bersikap tidak peduli meski sudah mengalami kejadian itu berulang kali.

Suatu hari, saat memberikan kuliah pertamanya di University of San Francisco, Lang bertemu dengan seorang mahasiswa muslim di kelas matematikanya. Lang lalu bersahabat dengan mahasiswa muslim itu dan keluarganya. Tapi saat berdiskusi dengan keluarga itu, mereka tidak pernah menyinggung masalah agama. Sampai beberapa lama kemudian, salah seorang anggota keluarga tersebut memberinya Al-Quran.

Meski Lang tidak pernah berniat mencari tahu soal agama, ia mulai membaca Al-Quran itu meski dengan penuh prasangka buruk. Membaca Al-Quran, membuat Lang merasa berada dalam sebuah pertempuran yang menarik. Lang berusaha membantah dan mempertanyakan apa yang dibacanya dalam Al-Qurang, tapi ia segera menemukan jawabannya ketika meneruskan membaca halaman per halaman Al-Quran, hingga hati kecilnya menyatakan bisa menerima apa yang ditulis dalam Al-Quran.

"Quran selalu selangkah lebih maju dari apa yang saya pikirkan, menghapus penghalang yang saya bangun sejak bertahun-tahun lalu dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya," ujar Lang.

Kala itu awal tahun '80-an dan jumlah muslim di University of San Francisco tidak banyak. Di kampus itu, Lang melihat beberapa mahasiswa Muslim menunaikan salat di sebuah ruangan kecil, di lantai bawah tanah sebuah bangunan gereja. Setelah terjadi "perang" dalam pikirannya, Lang akhirnya memberanikan diri mendatangi mushola kecil itu. Dan beberapa jam kemudian, setelah Lang keluar dari ruangan itu, ia sudah menjadi seorang muslim karena pada hari itu juga Lang memutuskan untuk bersyahadat.

Setelah bersyahadat, kebetulan masuk waktu salat dzuhur dan Lang diajak salat bersama. Ia pun berdiri dalam shaf, bersama mahasiswa lainnya dan yang menjadi imam hari itu bernama Ghassan.

Begitulah perjalanan Dr. Jeffrey Lang menuju cahaya Islam. Dari seorang yang tidak percaya adanya Tuhan, menjadi orang yang memiliki keyakinan kuat akan keberadaan Tuhan. Lang masih ingat, ayahnya berkata "Tuhan akan membuatmu berlutut, Jeffrey", ketika Lang berusia 18 tahun dan menolak keberadaan Tuhan. Perkataan ayahnya menjadi kenyataan. Sekarang Lang berlutut dan bersujud dalam dekapan Islam.

Lang merasa Tuhan menyayanginya dengan menuntunnya ke agama Islam. "Saya merasa bahwa Tuhan selalu dekat, memberikan arah pada kehidupan saya," tukas Lang. (ln/oi)

Dicopy-paste dari: http://www.eramuslim.com/berita/dakwah-mancanegara/tuhan-akan-membuatmu-berlutut-jeffrey.htm

Monday, February 7, 2011

Abdullah ibn Amir ibn Haram, Kemuliaan Seorang Syahid

Dia adalah seorang sahabat anshar yg mulia, berasal dari suku salam, termasuk pemimpin dalam bai'atul aqabah, ikut perang badr dan Allah muliakan beliau sebagai syahid pada perang uhud.

Putranya, sahabat yg mulia Jabir meriwayatkan : "Ketika ayahku terbunuh dalam perang uhud, aku melihat wajahnya lalu aku menangis, tapi Rasulallah tidak melarangku, bibiku juga ikut menangis. Rasulallah kemudian bersabda : "Kamu menangisinya atau tidak, malaikat tetap menaunginya dengan kedua sayap hinggga kalian mengangkatnya.""

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abdullah ibn Amir ibn Haram dan Amr ibn jamuh Radhiyallahu anhuma dikafani dalam satu kafan.

Dari Jabir diriwayatkan, ketika Rasulullah SAW keluar utk menguburkan para syuhada Uhud, beliau bersabda : "Biarkan luka-luka itu menemani mereka, aku akan menjadi saksi atas mereka."

Ibnu Sa'ad berkata : "Para sahabat Nabi berkata : 'Abdullah adalah sahabat yg pertama gugur dalam perang uhud dan Amr ibn Jamuh adalah seorang dengan postur yg tinggi, kami mengubur keduanya dalam satu lahad, suatu hari terjadi banjir dan merusak kuburan mereka sehingga jasad mereka terlihat. Abdullah terluka di wajahnya dan tangan memegangi luka itu, kami melepaskan tangannya dan darahnyapun masih mengucur, ketika tangannya dikembalikan ke luka tsb darahnyapun berhenti mengucur'."

Jabir berkata : "Ketika aku melihat ayah di liang lahadnya jasadnya nampak spt orang tidur, kondisinya tidak berubah sedikitpun padahal ia sudah di kubur selama 40 tahun, setelah itu kami memindahkannya ketempat yg lain." Subhanallah, Smg Allah selalu merahmatimu wahai sahabat Rasul yg mulia..

Asy-Sya'bi berkata : '' Jabir menceritakan padaku bahwa ketika Ayahnya meninggal, ia masih menyisakan utang, Jabir berkata :'' aku datang kepada Rasulullah lalu berkata :'' Ya Rasulallah, ayahku berhutang, sementara aku tidak memiliki harta kecuali buah kurma, oleh karena itu ikutlah bersamaku agar para pemberi hutang tidak mencaciku''.

Setelah itu beliau berjalan disekitar kebun kurma lalu mendoakannya, beliau kemudian duduk didalam kebun tsb, sementara aku melunasi hutang kepada mereka, setelah selesai ternyata masih tersisa harta sebanyak yg diberikan kepada mereka''.

Talhah ibn Kirasy mendengar Jabir berkata :'' Rasulullah pernah bersabda kepadaku :'' maukah aku beri tahu bahwa Allah Ta'ala telah berfirman pada ayahmu bahwa ia adalah mujahid? Allah berfirman :''hai hamba-Ku, mintalah padaku niscaya Aku akan mengabulkannya''.
Ayahmu lalu berkata :'' aku mohon pada-Mu agar mengembalikanku ke dunia sehingga dpt mati syahid untuk kedua kalinya'', Allah berfirman :'' sungguh telah menjadi ketetapan-Ku bahwa mereka yg sudah mati tidak dapat kembali lagi ke dunia''

Ayahmu lantas berkata :'' Ya Rabb, kalau begitu sampaikan masalah ini kepada orang setelahku''.

Setelah itu Allah-pun menurunkan firman-Nya : ''Jangan kalian mengira bahwa orang-yang dibunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup disisi Rabb mereka dan mereka diberi rizki'' (3:169)
Oleh : Ibnu Hasan Aththobari

Wednesday, February 2, 2011

Lelaki di Relung Hati Ibu

Oleh Ineu

Sewindu sudah Bening menemani kehidupan lelaki yang telah Allah karuniakan menjadi imam dalam hidupnya. Bahkan beberapa purnama lagi, usia pernikahannya akan memasuki tahun ke sembilan.

Banyak hal sarat dengan pelajaran berharga yang ia dapatkan selama membersamainya. Butiran-butiran hikmah yang bertaburan di sepanjang ia dan lelaki itu merajut kasih atas landasan cinta karena Allah menjadikan ruang kalbunya dipenuhi rasa syukur.

Dalam sebuah lembaran hari yang dilaluinya, Bening tak dapat melupakan saat menyaksikan raut muka dan getar suara ibu yang telah melahirkan dan membesarkan pasangan jiwanya itu. Dengan mata yang berkaca-kaca dalam gemetar tangan dan suaranya, sang ibu terus-menerus mengucapkan serangkai kalimat.

“Ia selalu ibu rindu, nak...ia selalu dalam relung hati ibu...ibu bangga dan bersyukur Allah menitipkannya pada ibu...”

Bening hanya terdiam ketika ibu dari lelaki yang telah menjadi imamnya itu mengungkapkan isi hatinya.

Tak lama kemudian perempuan lebih dari paruh baya itu meneruskan ucapannya. “Tahukah Engkau Nak, kenapa ia selalu ada dalam relung hati ibu?”

Kali ini Bening menggelengkan kepalanya perlahan sambil menanti kelanjutan ucapan sang ibu. Seolah mengerti apa yang dipikirkan mantunya itu, sang ibu kembali berucap... “Setiap anak memiliki keistimewaan masing-masing dalam hati orangtuanya. Dan, ia menempati relung hati ibu lebih dalam dari saudara-saudaranya”.

Sejenak sang ibu menghentikan ucapannya dan menatap Bening dalam-dalam. “Bukan karena prestasi dunianya atau karena ia bersekolah di negeri orang yang membuat ibu selalu merindu dan bangga padanya, tapi hanya satu hal yang membuatnya istimewa di hati ibu...”

Kembali sang ibu terdiam, butiran sebening kristal meluncur tak tertahankan lagi dari matanya. Ia terbata-bata melanjutkan ucapannya dengan getar suara menahan haru.

“Selama ini ia tak pernah menyakiti perasaan ibu, akhlaknya ini yang membuat ia selalu memenuhi ruang hati ibu”. Serangkai kalimat itu diucapnya berulang-ulang hingga Bening hanya mampu mengucap syukur mengetahui penilaian sang ibu akan imam rumahtangganya itu.

Dalam hatinya, ia pun mengakui ucapan sang ibu. Ya, sepanjang mengayuh biduk bersamanya , tak pernah hatinya tergores oleh tutur kata maupun tingkah laku suaminya. Hatta, pada masakan yang disajikan, tak pernah lisan lelaki itu mencela sekalipun di lidah Bening makanan tersebut terasa aneh. Air muka suaminya hanya sedikit mengernyit ketika keasinan atau merona merah saat pedas tak tertahankan oleh lidahnya.

Terhadap anak-anak, amanah yang dikaruniakan Allah padanya, lelaki itu selalu bersikap lembut penuh kasih. Tak mengherankan bila hati anak-anaknya sangat tertambat dan melekat erat padanya.

Lelaki itu pun tak banyak kata dalam mengajarinya hidup dengan hiasan sabar dan sahaja. Ketika ia kehilangan putra pertama yang dinanti karena Allah hanya menitipkan 2 bulan saja di rahim Bening, wajah lelaki itu tetap jernih, mengalirkan ketenangan dan ketabahan padanya.

Demikian pula saat badai demi badai masalah yang melintasi jalan hidupnya, wajah lelaki itu tetap tenang. Di saat orang lain mungkin menghadapinya dengan marah-marah, menyesali nasib, kecewa bahkan putus asa, lelaki itu tak bergeming dalam badai ujian hidupnya. Gemuruh hatinya atas segala cobaan itu ia tuangkan dalam berbagai kreasi yang hasilnya dinikmati banyak orang.

Ia juga tak banyak kata saat mengajarkan Bening akan rasa khauf (takut) hanya kepada Allah. Ia selalu berhati-hati dengan uang yang diperolehnya dari tempatnya bekerja hingga ia yakin makanan dan minuman yang mengalir dalam darah keluarganya bersumber dari harta yang halal.

Demikian juga dalam menyeleksi tempat makanan atau minuman yang dibeli. Suatu ketika lelaki itu mengajaknya jalan-jalan di sebuah kota belahan Eropa. Setelah sekian lama menyusuri jalan akhirnya ia mengajak Bening membeli dua tangkup donner kebap di sebuah toko kecil nan sempit.

Lalu ia ungkapkan rasa heran pada suaminya kenapa untuk membeli setangkup donner kebap, harus berjalan sejauh itu, padahal di dekat tempat mereka tinggal ada banyak bertebaran toko-toko yang menyajikan makanan tersebut.

Dengan penuh kelembutan, ia pun menjelaskan bahwa di beberapa toko kebap yang dilaluinya, terdapat banyak botol-botol khamr. Ia merasa ragu untuk membeli donner di toko yang menyediakan minuman tersebut. Ya, ia menyangsikan kehalalan daging yang terdapat dalam donner itu jika pemilik toko tak merasa takut menjual minuman yang diharamkan Allah.

***

Dua pasang bola mata milik sang ibu dan dirinya kini semakin sembab. Dalam diam, masing-masing menekuri kenangan-kenangan yang pernah terukir bersama lelaki yang dicintai mereka.

Wajah Bening semakin tertunduk ketika sang ibu dari lelaki yang menjadi imamnya itu terus menerus mengulangi ucapannya tentang sang anak.

“ Wahai ibu, ia tak hanya ada dalam relung hatimu, tetapi ia pun memenuhi semua sudut jiwaku”, bisik hatinya.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/ineu-lelaki-di-relung-hati-ibu.htm

Doa bagi Seorang Konglomerat Muda

Seorang konglomerat muda yang masuk dalam jajaran orang-orang terkaya di dunia, suatu kali berkata kepada seorang tokoh agama bahwa ia sudah tak perlu berdoa lagi dalam hidupnya.

"Mengapa?" sang tokoh agama bertanya.

"Saya sudah memiliki semuanya. Saya masih muda, tampan, dan kaya raya. Semua hal bisa saya miliki. Jadi, untuk apa lagi saya harus berdoa? Apalagi yang perlu saya minta dari Tuhan?"

Sambil menghela nafas, sang tokoh agama berkata, "Anak muda, engkau benar-benar perlu berdoa agar engkau diberikan Tuhan kerendahan hati..."

(Bits & Pieces)

Hikmah cerita:

Jika Anda di puncak kejayaan, jika harta Anda begitu melimpah, dan segala yang Anda inginkan tercapai, ingatlah bahwa semua itu tidak lebih dari sebutir debu di 'tangan' Tuhan yang bisa hilang begitu saja jika Ia mengibaskan 'tangan'-Nya.

Karena itu, syukuri segala yang Anda terima, karena sebetulnya kita tidak berdaya di hadapan Sang Pencipta Hidup. Dan entah bagaimana dan kenapa, semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak kemudahan hidup yang akan kita terima.

Jadi, luangkanlah waktu sebentar setiap hari untuk mengucapkan sebaris kata syukur pada Sang Empunya Hidup.

Ditulis ulang dari buku "Ternyata Kita bisa Mengubah Arah Angin" oleh Necy Tanudibyo