Wednesday, September 29, 2010

Tolok Ukur Kepemimpinan

Pada suatu saat Rasulullah saw membentuk pasukan guna menumbangkan sekelompok musuh pembangkang yang tinggal di sekitar Madinah. Beliau mempersiapkan pasukan penyerang yang bergerak secara diam-diam ke arah musuh dan melumpuhkan mereka.

Rasulullah saw menunjuk seorang pemuda dari kabilah Hudzail menjadi komandan pasukan. Seorang sahabat menentang kebijakan Rasulullah saw seraya mengatakan, “Mengapa Anda memilih seorang pemuda untuk menjadi pemimpin kami? Kami tidak bersedia mematuhi perintah Anda. Semestinya Anda memilih lelaki tua sebagai pemimpin pasukan.”

Rasulullah saw bersabda, “Meskipun dia seorang pemuda, namun dia memiliki hati yang kuat dan akal yang sehat. Adapun orangtua yang Anda katakan, rambut mereka putih, tubuh mereka lemah, dan hati mereka bak aspal hitam. Saya telah menguji pemuda ini berkali-kali dan melihat bahwa akalnya ‘tua’. Tua usia tanpa akal yang berbuah, tidak ada gunanya. Berupayalah semampumu agar akal dan agamamu menjadi ‘tua’. Tolok ukur kepemimpinan bukan pada usia, namun terletak pada kekuatan akal, cara berpikir, dan kebersihan hati.”

Jenghis Khan dan Pemuda Pemberani

Tatkala pasukan Mongol, yang dipimpin Jenghis Khan, menyerang Iran, semua tempat menjadi banjir darah. Setiap memasuki kota, Jenghis Khan bertanya kepada penduduknya, “Aku yang akan membunuh kalian ataukah Tuhan yang akan membunuh kalian?”

Jika penduduk kota menjawab, “Engkau yang membunuh kami.” Maka Jenghis Khan membunuh mereka semua. Dan jika mereka menjawab, “Tuhan yang membunuh kami.” Maka Jenghis Khan juga akan membunuh mereka semua.

Hingga suatu ketika, Jenghis Khan sampai di Kota Hamadan. Jenghis Khan mengatakan kepada salah seorang prajuritnya, “Panggil para pembesar kota ini agar mereka datang menghadapku. Ada yang ingin kubicarakan dengan mereka.”

Semua pembesar di kota tersebut merasa bingung memikirkan apa yang mesti mereka lakukan terhadap panggilan Jenghis Khan tersebut. Kemudian, seorang pemuda pemberani dan cerdas berkata, “Biarlah aku yang pergi menghadap Jenghis Khan.”
Mereka mengatakan, “Kami khawatir engkau bakal terbunuh.” Pemuda itu mengatakan, “Aku akan bernasib sama seperti yang lain.”

Kemudian pemuda itu bersiap-siap hendak pergi menemui Jenghis Khan dengan membawa seekor unta, seekor ayam jantan dan seekor domba. Tatkala dia sampai di hadapan Jenghis Khan, pemuda itu mengatakan, “Wahai Sultan, apabila Anda menghendaki yang besar, ambillah unta ini! Apabila Anda menghendaki yang bulunya panjang, ambillah domba ini! Apabila Anda menghendaki yang banyak bicara, ambillah ayam jantan ini! Dan jika ada yang ingin Anda bicarakan, saya siap mendengarkan perkataan Anda.”

Jenghis Khan bertanya, “Katakanlah, aku yang membunuh orang-orang itu ataukah Tuhan?” Pemuda itu menjawab, “Bukan Anda yang membunuh dan bukan pula Tuhan!”

Dengan nada heran Jenghis Khan bertanya, “Lantas siapa yang membunuh mereka?” Dengan tenang pemuda itu berkata, “Balasan atas perbuatan mereka sendiri.”

Kalung Itu Pernah Kutemukan di Jalan

Dalam kitab Dzayl Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab menulis kisah tentang Imam al-Bazzaz.

Suatu ketika, al-Bazzaz menunaikan ibadah haji. Setelah beberapa hari di Makkah, ia kehabisan bekal. Tidak sepeser pun uang dan sedikit makanan yang ia miliki. Ia kelaparan.

Al-Bazzaz menelusuri jalan-jalan, mencari pekerjaan untuk mendapatkan makanan. Namun hasilnya nihil. Sampai kemudian ia menemukan sebuah kantong yang tergeletak di pinggir jalan. Mulanya ia ragu untuk mengambilnya, namun kemudian ia bawa kantong itu, dan terkejut setelah tahu kantong itu berisi barang-barang berharga. Ia tidak pernah melihat barang-barang sebagus itu sebelumnya. Ia putuskan untuk tak mengutak-atik kantong itu. Ia ikat kembali dan menjaganya sampai ditemukan siapa pemiliknya.

Al-Bazza kembali mencari pekerjaan untuk mendapatkan makanan.

Sampai kemudian ia mendengar ada lelaki tua yang kehilangan barang. Ia memaparkan ciri-ciri barang tersebut. Ia juga mengatakan, akan memberikan hadiah kepada siapa pun yang menemukan barangnya itu.

Ooh, ini pasti pemilik kantong yang aku temukan, pikir al-Bazza. Mulanya ia ragu, apakah kantong itu akan diserahkan atau tidak. Sementara ia sendiri sedang membutuhkan makanan. Is sempat berpikir buruk, namun akhirnya ia memutuskan untuk mengembalikannya.

Lelaki tua itu kemudian memberikan dua dinar emas kepada al-Bazzaz sebagai imbalan. Namun, al-Bazzaz menolak. "Aku tidak bisa menerima imbalan itu. Aku hanya menginginkan pekerjaan yang menghasilkan upah.”

Namun lelaki tua itu mendesak agar al-Bazzaz menerima imbalan itu.

“Aku tidak bisa menerima imbalan itu.” Tegas al-Bazzaz. “Aku tulus saat menjaga barang itu, sampai kemudian aku mengembalikannya kepadamu. Aku hanya bisa berharap semoga Allah memberiku balasan yang jauh lebih besar.”

Lelaki tua itu akhirnya memahami.


Musim haji pun usai. Para jamaah haji mulai meninggalkan Makkah. Demikian pula al-Bazzaz. Ia pulang ke kampung halamannya menggunakan perahu. Dalam perjalanan perahu itu dihantam badai. Para penumpangnya terhempas ke laut. Namun Allah menakdirkan al-Bazzaz selamat. Ia berpegangan di serpihan kayu perahu. Selama beberapa hari ia terombang-ambing tak tentu arah. Sampai kemudian ia terdampar di sebuah pulau.

Karena ia tidak mengenal siapa pun di pulau itu, al-Bazzaz menuju masjid. Ia mengerjakan shalat dan berdoa agar diberi jalan keluar. Setelah itu ia membaca al-Quran. Orang-orang yang ada di masjid itu kagum dengan bacaan al-Bazzaz. Salah seorang kemudian mendekati al-Bazzaz.

“Syekh, tolong ajari kami membaca al-Quran.” Kata orang itu.

Di tengah kegalauan dan kesedihan, tanpa berpikir panjang ia menyanggupi permintaan mereka untuk mengajar membaca al-Quran.

Setelah beberapa lama, al-Bazzaz semakin merasakan kebahagiaan menjalankan pekerjaannya. Demikian juga dengan para muridnya. Mereka begitu bersemangat belajar bersamanya. Bahkan mereka meminta al-Bazzaz menetap di pulau itu untuk terus mengajarkan al-Quran. Namun al-Bazzaz menolak. Tak terpikirkan sedikit dalam benaknya bahwa ia akan menetap di sana. Para penduduk pun terus mendesaknya. Bahkan mereka berniat menjodohkan al-Bazzaz dengan salah seorang gadis yang ayahnya telah meninggal. Akhirnya al-Bazzaz pun tak kuasa menolak permintaan mereka.

Saat diperkenalkan dengan gadis yang dimaksud, al-Bazzaz terpaku pada kalung di leher sang gadis. Sampai orang-orang menyangka jika ia mau menikah dengan gadis itu karena kalung itu. Mereka tidak tahu apa yang ada dalam benak al-Bazzaz.

Al-Bazzaz kemudian menceritakan perihal kejadian terkait dengan kalung itu. Kalung itu adalah kalung yang ada dalam kantong yang ia temukan saat sedang berhaji, yang ternyata milik seorang lelaki tua. Al-Bazzaz mengembalikan kantong itu utuh berikut isinya, dan menolak saat lelaki tua itu hendak memberikan imbalan emas.

Sontak orang-orang yang mendengar ceritanya pun bersorak gembira. Al-Bazzaz bingung mengapa mereka bersorak gembira.

“Lelaki tua pemilik kantong berisi kalung emas itu adalah ayah gadis ini.” Kata mereka. “Ia adalah guru kami di sini. Ia juga pernah bercerita tentang dirimu, pemuda yang jujur dan amanah. Ia selalu berdoa agar suatu saat dipertemukan denganmu, untuk kemudian dijodohkan dengan anak gadisnya.”

“Allah mengabulkan doanya.”

Al-Bazzaz pun menikah dan menetap di pulau itu. Ia dikaruniai dua anak. Namun tak lama kemudian istrinya meninggal dunia, kemudian kedua anaknya pun menyusul. Akhirnya al-Bazzaz pun mewarisi semua harta kekayaan peninggalan istrinya.

Kunti Dilemma

Sepeninggal Kresna, Dewi Kunti merasa sangat sedih memikirkan anak-anaknya. Ia ngeri membayangkan peperangan yang akan terjadi. Dalam hati, ia bertanya-tanya, “Bagaimana aku bisa menyatakan isi hatiku kepada anak-anakku? Bagaimana mungkin kukatakan, pikullah segala penghinaan. Sebaiknya kita tak usah meminta pembagian kerajaan dan hindari peperangan. Bagaimana mungkin anak-anakku bisa menerima pikiranku yang bertentangan dengan tradisi ksatria? Tetapi sebaliknya, apa yang akan dapat diperoleh dari saling membunuh dalam peperangan? Dan kebahagiaan seperti apakah yang akan dicapai setelah musnahnya bangsa ini? Bagaimana aku harus menghadapi ini?”. Berbagai pertanyaan timbul dalam hati Dewi Kunti.

“Bagaimana anak-anakku bisa mengalahkan bersatunya tiga kekuatan ksatria Bisma, Drona dan Karna? Mereka adalah senapati-senapati perang yang belum pernah terkalahkan”.

“Dari ketiga ksatria itu, mungkin mahaguru Drona tidak akan membunuh anak-anakku, bekas murid-murid yang dikasihinya. Kakek Bisma tentu tidak akan sampai hati membunuh Pandawa. Tetapi, Karna adalah musuh bebuyutan Pandawa. Ia sangat ingin menyenangkan hati Duryodana dengan membunuh anak-anakku.”

“Karna sungguh tangkas berolah senjata perang, senjata apapun. Bila kubayangkan Karna bertempur melawan anak-anakku, hatiku pedih sekali. Sepertinya sudah waktunya aku menemui Karna dan mengatakan kepadanya siapa sebenarnya dia. Kuharap, setelah tahu asal-usulnya ia mau meninggalkan Duryodana.”

Maka pergilah Dewi Kunti untuk menemui Karna. Ia pergi ke tepi sungai Gangga, ke tempat Karna setiap hari melakukan samadi. Benarlah, Karna tampak sedang bersamadi menghadap ke Timur, kedua tangannya tertangkup dalam sikap menyembah. Dengan sabar Dewi Kunti menunggu Karna selesai bersamadi. Sungguh khusyuk bersamadi, hingga Karna tak merasa bahwa sinar matahari telah naik sampai di atas punggungnya.

Setelah selesai bersamadi, Karna berdiri. Barulah ia melihat Dewi Kunti menunggu di belakangnya, di bawah terik matahari. Segera ia melepas bajunya untuk melindungi kepala Dewi Kunti dari panas matahari. Karna menduga permaisuri Pandu itu telah lama menunggunya. Ia agak bingung, menebak-nebak apa maksud kedatangan ibu Pandawa itu. Kemudian Karna pun berkata, “Anak Adirata, sais kereta, menyembah engkau, wahai Ratu Kunti, apa yang dapat kulakukan demi pengabdianku kepadamu?”

“Ketahuilah, Karna. Sesungguhnya Adirata bukan ayahmu”, kata Dewi Kunti. Mata Dewi Kunti berkaca-kaca karena menahan rasa haru, ketika mengucapkan kata-kata itu. Kemudian Dewi Kunti melanjutkan, “Janganlah engkau berpikir bahwa dirimu berasal dari keturunan sais kereta. Sesungguhnya, engkau adalah putra Batara Surya, Dewa Matahari. Engkau lahir dari kandungan Pritha, putri bangsawan yang dikenal dengan nama Kunti. Semoga engkau diberkahi keselamatan dan kesejahteraan.”

Saking kagetnya mendengar kata-kata Dewi Kunti, Karna terdiam dan terpana, tak sanggup berkata-kata.

Dewi Kunti pun melanjutkan ucapannya, “Engkau dilahirkan lengkap dengan senjata suci dan anting-anting emas. Karena engkau tidak tahu bahwa Pandawa adalah saudara-saudaramu seibu, engkau memihak Duryodana dan membenci Pandawa. Hidup menggantungkan diri pada belas kasihan anak-anak Drestarata tidaklah patut bagimu. Bergabunglah dengan Arjuna dan kau akan bisa memerintah sebuah kerajaan di dunia ini. Semoga engkau dan Arjuna bisa menghancurkan mereka yang jahat dan tidak adil. Seisi dunia pasti akan menghormati kalian berdua. Kalian akan disegani banyak orang, seperti Kresna dan Balarama. Dalam situasi kalut seperti sekarang, orang harus menurut nasehat orangtua yang mencintainya. Itulah kewajiban utama setiap anak.”

Ketika ibunya bercerita tentang asal-usul kelahirannya, Karna merasakan sesuatu dalam hatinya. Ia merasa Batara Surya membenarkan kata-kata Dewi Kunti. Tetapi ia menahan diri dan menganggap kabar itu sebagai ujian dari Batara Surya terhadap kesetiaan dan keteguhan hatinya. Ia bertekad untuk tidak menunjukkan kelemahannya.
Dengan menguatkan hatinya dengan keras, Karna dapat mengatasi keinginannya untuk mendahulukan kepentingannya sendiri, untuk membalas cinta ibunya, untuk bergabung dengan Pandawa.

Maka, dengan hati yang sedih namun teguh ia berkata, “Ibu, ibu telah merenggut segala hak kelahiranku sebagai ksatria dengan melemparkan aku, bayi yang tidak berdaya, ke sungai. Mengapa sekarang engkau bicara tentang tugasku sebagai ksatria? Engkau tidak pernah mencintaiku dengan cinta ibu yang merupakan hak setiap anak yang terlahir di dunia. Induk binatang saja tak pernah membuang anaknya, mengapa engkau membuangku?”

“Sekarang, ketika engkau mencemaskan nasib anak-anakmu yang lain, kau ceritakan semua ini kepadaku. Apabila sekarang aku menghidari kewajibanku, berarti aku akan menyakiti diriku lebih parah dari apa yang dapat dilakukan musuhku terhadap diriku. Seandainya sekarang aku menggabungkan diri dengan Pandawa, bukankah dunia akan mengutuk aku sebagai pengecut?”

“Selama ini aku dihidupi oleh anak-anak Drestarastra. Aku dipercaya oleh mereka sebagai sekutu yang setia. Aku berhutang budi pada mereka. Semua harta dan kehormatan yang kumiliki kuperoleh dari mereka. Sekarang, ketika perang akan meletus dan aku harus membela Kurawa, engkau menghendaki agar aku mengkhianati Kurawa, menyeberang ke pihak Pandawa. Ibu, mengapa kau minta aku mengkhianati garam yang telah kumakan?”

“Anak-anak Drestarastra memandang aku sebagai jaminan kemenangan mereka dalam peperangan yang akan datang. Katakan, adakah yang lebih hina daripada mengkhianati orang yang telah menolong kita? Katakan, adakah yang lebih hina daripada orang yang tak tahu membalas budi? Ibuku tercinta, aku harus membayar hutangku, bila perlu dengan nyawaku. Kalau tidak, aku ini ibarat perampok yang hidup dari hasil curian dan rampasan selama bertahun-tahun. Tentu aku akan menggunakan segala kekuatanku untuk melawan anak-anakmu dalam perang nanti. Aku tidak akan mengkhianati siapapun. Aku tidak akan menipu engkau dan diriku sendiri. Ampunilah aku…” kata Karna dengan lembut tetapi tegas.

“Biarpun demikian, aku tidak akan menyia-nyiakan permintaan ibu. Soalnya adalah antara aku dan Arjuna. Dia atau aku yang harus mati dalam pertempuran nanti. Ibu, aku berjanji tidak akan membunuh anak-anakmu yang lain, apapun yang mereka perbuat terhadap diriku. Wahai ibu para ksatria, anakmu tak akan berkurang, tetap lima. Salah satu dari kami, aku atau Arjuna, akan tetap hidup setelah perang usai.”

Mendengar kata-kata Karna yang demikian tegas, hati Dewi Kunti semakin sedih dan pikirannya diliputi pergulatan yang makin tajam. Ia tidak kuasa berkata-kata. Dipeluknya Karna dengan kasih ibu yang melimpah-limpah. Hatinya hancur membayangkan kedua anaknya akan bertanding, bunuh-membunuh. Hatinya terharu melihat keteguhan Karna dalam menjalani takdir hidupnya. Akhirnya ia pergi meninggalkan putra Batara Surya itu tanpa berkata-kata lagi.

Sumber : http://bharatayudha.com/kunthi-dilema/

Tuesday, September 28, 2010

Taufik Ismail Tentang Chrisye

Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi (1949-2007) di majalah sastra HORISON.

Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, “Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?” Karena saya suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, ” Chris, maaf ya, macet. Sori.” Saya akan kembalikan pita rekaman itu.

Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 65 yang berbunyi, A’udzubillahi minasy syaithonirrojim. “Alyauma nakhtimu ‘alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun” saya berhenti. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.” Saya tergugah. Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!

Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon,” Chris, alhamdulillah selesai”. Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye Sebuah Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya benar-benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi.Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. “Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65…” kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!

Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio, menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari!

Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat kelak.

Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.

* * *

Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. “Kenapa Bang, kurang?” Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar. “Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun ‘kan?”

Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.

* * *

Pada subuh hari Jum’at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga terbuka lebar baginya. Amin. #

Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya…. sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina

Tukang Kunci

Seorang ahli kunci ternama bermaksud mewariskan keahliannya kepada salah satu dari dua muridnya yang telah dididik sekian tahun. Untuk menentukan siapakah yang berhak mewarisi keahlian sangguru, mereka harus menyelesaikan ujian terakhir. Sang guru menyiapkan dua kotak yang masing-masing berisi barang berharga, di dua kamar berbeda. Mereka akan diuji, siapakah yang paling cepat membuka gembok kotak itu.

Kedua muridnya pun masuk ke kamar masing-masing secara bersamaan. Tak lama, murid pertama keluar.

"Wah! Cepat sekali kau menyelesaikannya. Apa isi kotak itu?" kata sang guru.

"Permata yang berkilau. Indah sekali. Pasti harganya sangat mahal." jawab murid pertama.

Kemudian murid kedua baru menyusul keluar. Sang guru pun mengajukan pertanyaan yang sama.

"Aku tidak tahu." jawabnya. "Aku kira tugas saya hanya membuka gembok, dan membuka kotak maupun melihat isinya bukan bagian dari ujian ini."

Sang guru mengangguk puas dengan jawaban murid kedua. Akhirnya ia memutuskan bahwa murid keua yang berhak mewarisi keahliannya. Murid pertama tidak puas dengan keputusan gurunya. Ia merasa dirinya lebih cepat menyelesaikan ujian.

"Bukankah dia tidak lebih baik daripada diriku, Guru?" kata murid pertama. "Aku lebih cepat membuka kotak daripada dia."

Sang guru menasihati, "Profesi kita adalah tukang kunci. Bertugas membantu pemilik kotak yang kuncinya hilang atau rusak. Tugas kita semata-mata hanya membuka gembok. Membuka kotak adalah hak pemiliknya. Tak dibenarkan kita membuka kotak, apalagi ingin tahu isinya. Bisa jadi, isinya bersifat rahasia. Hanya pemiliknya saja yang berhak tahu. Ini etika dalam profesi kita. Tanpa etika, keahlian yang kita miliki bisa menjadi kejahatan."

Murid pertama pun paham dan puas dengan penjelasan gurunya. Ia mendapatkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekedar gelar ahli.

Monday, September 27, 2010

Penduduk Syurga

Di dalam kitab Al-Multaqith diceritakan, bahwa sebagian bangsa Alawiyah ada yang bermukim di daerah Balkha. Ada sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami isteri dengan beberapa anak wanita mereka. Keadaan keluarga tersebut serba kekurangan.

Ketika suaminya meninggal dunia, isteri beserta anak-anak wanitanya meninggalkan kampung halamannya pergi ke Samarkand untuk menghindari ejekan orang di sekitarnya. Kejadian tersebut terjadi pada musim dingin. Saat mereka telah memasuki kota, si ibu mengajak anak-anaknya singgah di masjid, sementara dirinya pergi untuk mencari sesuap nasi.

Di tengah perjalanan si ibu bertemu dengan dua kelompok orang, yang satu dipimpin oleh seorang Muslim yang merupakan tokoh di kampung itu sendiri, sedang kelompok satunya lagi dipimpin oleh seorang Majusi, pemimpin kampung itu.

Si ibu tersebut lalu menghampiri tokoh tersebut dan menjelaskan mengenai dirinya serta berkata, "Aku mohon agar tuan berkenan memberiku makanan untuk keperluan malam ini!"

"Tunjukkan bukti-bukti bahwa dirimu benar-benar bangsa Alawiyah," kata tokoh orang Muslim di kampung itu. "Di kampung tidak ada orang yang mengenaliku," kata ibu tersebut.

Sang tokoh itu pun akhirnya tidak menghiraukannya. Seterusnya dia hendak memohon kepada si Majusi, pemimpin kampung tersebut. Setelah menjelaskan tentang dirinya dengan tokoh kampung, lelaki Majusi lalu memerintahkan kepada salah seorang anggota keluarganya untuk datang ke masjid bersama si ibu itu, akhirnya dibawalah seluruh keluarga janda tersebut untuk tinggal di rumah Majusi yang memberinya pula pelbagai perhiasan yang bagus.

Tidak berapa lama sesudah itu tokoh masyarakat yang beragama Islam itu bermimpi seakan-akan hari Kiamat telah tiba dan panji kebenaran berada di atas kepala Rasulullah SAW. Dia pun sempat menyaksikan sebuah istana tersusun dari zamrud berwarna hijau. Kepada Rasulullah SAW. dia lalu bertanya, "Wahai Rasululah! Milik siapa istana ini?"

"Milik seorang Muslim yang mengesakan Allah," jawab Rasulullah. "Wahai Rasulullah, aku pun seorang Muslim," jawabnya.

"Coba tunjukkan kepadaku bahawa dirimu benar-benar seorang Muslim yang mengesakan Allah," sabda Rasulullah SAW. kepadanya.

Dia pun bingung atas pertanyaan Rasulullah, dan kepadanya Rasulullah SAW. kemudian bersabda lagi, "Di saat wanita Alawiyah datang kepadamu, bukankah kamu berkata kepadanya, 'Tunjukkan mengenai dirimu kepadaku!' Karenanya, demikian juga yang harus kamu lakukan, yaitu tunjukkan dahulu mengenai bukti diri kamu sebagai seorang Muslim kepadaku!"

Sesaat kemudian lelaki muslim itu terjaga dari tidurnya dan air matanya pun jatuh berderai, lalu dia memukuli mukanya sendiri. Dia berkeliling kota untuk mencari wanita Alawiyah yang pernah memohon pertolongan kepadanya, hingga dia mengetahui di mana kini wanita tersebut berada.

Lelaki Muslim itu segera berangkat ke rumah orang Majusi yang telah menampung wanita Alawiyah beserta anak-anaknya. "Di mana wanita Alawiyah itu?' tanya lelaki Muslim kepada orang Majusi.

"Ada padaku," jawab si Majusi.

"Aku ingin menemuinya," ujar lelaki Muslim itu.

"Tidak semudah itu," jawab lelaki Majusi.

"Ambillah uang seribu dinar dariku dan kemudian bawalah mereka akan menemuiku," desak lelaki Muslim.

"Aku tidak akan melepaskannya. Mereka telah tinggal di rumahku dan dari mereka aku telah mendapatkan berkatnya," jawab lelaki Majusi itu.

"Tidak boleh, engkau harus menyerahkannya," ujar lelaki Muslim itu seolah-olah memaksa.

Maka, lelaki Majusi pun menegaskan kepada tokoh Muslim itu, "Akulah yang berhak menentukan apa yang kamu minta. Dan istana yang pernah kamu lihat dalam mimpi itu adalah diciptakan untukku! Apakah kamu mau menunjukkan keislamanmu kepadaku? Demi Allah, aku dan seluruh keluargaku tidak akan tidur sebelum kami memeluk agama Islam di hadapan wanita Alawiyah itu, dan aku pun telah bermimpi sebagaimana yang kamu mimpikan, serta Rasulullah SAW sendiri pun telah pula bersabda kepadaku, ’Adakah wanita Alawiyah beserta anaknya itu padamu?’ ‘Ya, benar,’ jawabku. ‘Istana itu adalah milikmu dan seluruh keluargamu. Kamu dan semua keluargamu termasuk penduduk syurga, karena Allah sejak zaman azali dahulu telah menciptakanmu sebagai orang Mukmin.’ sabda Rasulullah kembali.”