Wednesday, September 1, 2010

Bayi yang Dapat Berbicara

Kisah-Kisah
24/11/2009 | 06 Zulhijjah 1430 H | Hits: 3.626
Oleh: Tim dakwatuna.com

dakwatuna.com - Tidak ada manusia yang berbicara pada masa bayinya, kecuali tiga. Mereka adalah Nabi Isa putra Maryam ketika masih bayi, yang kedua adalah bayi yang menjadi sahabat Juraij seorang ahli ibadah, dan yang ketiga adalah seorang bayi yang menyusu pada ibunya dalam sebuah perjalanan.

Mengenai kisah bayi Nabi Isa putra Maryam, bisa kita dapati kisahnya di dalam Al Qur’an, khususnya pada surat Maryam ayat 27 sampai ayat 36. Pada tulisan ini dan tulisan berikutnya akan diceritakan tentang kisah bayi sahabat Juraij dan bayi yang menyusu pada ibunya.

Baiklah, mari sejenak kita ikuti kisah bayi yang kedua. Bayi ini adalah sahabat seseorang yang bernama Juraij. Juraij adalah seorang ahli ibadah. Dia membangun sebuah biara dan dia selalu berada di dalamnya. Ketika sedang shalat, tiba-tiba Juraij didatangi oleh ibunya. Ibunya memanggil, “Hai Juraij!”

Mendengar panggilan ibunya, Juraij berkata, “Ya Rabbi, Ibu saya dan shalat saya??”
Maksud dari perkataan Juraij adalah, dia meminta bimbingan Allah, untuk memilih mana yang paling utama antara menjawab panggilan ibunya atau menyempurnakan shalatnya dulu. Ternyata Juraij lebih memilih meneruskan shalatnya. Akhirnya sang ibu pergi.

Keesokan harinya, ibunya datang lagi pas ketika Juraij sedang shalat. Lalu sang ibu memanggil, “Hai Juraij!”

Lalu Juraij berkata seperti kemarin, “Ya Rabbi, Ibuku dan shalatku?”

Ternyata Juraij lebih memilih untuk meneruskan shalatnya.

Maka ibunya pun berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau mematikannya sehingga ia melihat kepada muka wanita pelacur.”

Singkat cerita, nama Juraij beredar di tengah-tengah masyarakat Bani Israil pada waktu itu. Masyarakat sering menyebut-nyebut nama Juraij dan ibadahnya. Dan di tengah-tengah masyarakat ada seorang wanita pelacur yang sangat terkenal cantik. Saking cantiknya, wanita ini sering dijadikan perumpamaan dalam hal kecantikan ketika itu. Wanita pelacur ini berkata, “Jika kalian mau, aku akan mengujinya.”

Dia hendak menfitnah Juraij. Dia pun lalu merayu dan menggodanya. Tapi Juraij tidak melirik sama sekali. Tidak putus asa, wanita pelacur ini akhirnya mendatangi seorang penggembala yang biasa tidur di biara Juraij. Pelacur ini menyerahkan dirinya kepada penggembala ini dan berzina, sampai akhirnya hamil.

Ketika pelacur ini melahirkan, dia berkata, “Anak ini dari Juraij”.

Mendengar perkataan si pelacur, masyarakat mendatangi Juraij dan memukulinya. Mereka menurunkannya dengan paksa lalu menghancurkan biaranya, dan memukulinya kembali.

“Ada apa kalian ini?” sergah Juraij kebingungan.

Mereka menjawab, “Kamu berzina dengan Pelacur itu hingga ia melahirkan dari kamu.”

“Mana bayi itu?” tanya Juraij.

Akhirnya mereka mendatangkan bayi tersebut.

Juraij berkata, “Biarkan aku sampai aku selesai shalat.”

Setelah dia selesai shalat, dia mendatangi bayi tersebut lalu menekan perutnya dengan jari dan berkata, “Hai anak kecil, siapa ayahmu?”

Bayi itu menjawab, “Fulan si penggembala itu.”

Mendengar jawaban si bayi, akhirnya masyarakat menyerbu Juraij, menciuminya, dan mengusap-usapnya. Mereka berkata, “Kami akan membangun biaramu dari emas.”

Jawaban Juraij, “Tidak, kembalikan dari tanah liat seperti semula.”

Akhirnya mereka pun melaksanakannya…

*****

Kali ini akan kita simak kisah bayi yang ketiga. Bayi ini juga dapat berbicara seperti dua bayi sebelumnya. Dia adalah seorang bayi yang sedang menyusui pada ibunya.

Ketika sedang menyusu pada ibunya, tiba-tiba lewatlah seorang pengendara di atas seekor hewan tunggangan yang mewah, megah, dan menawan. Ketika melihat orang yang lewat itu, sang ibu kontan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah putraku ini seperti orang itu.”

Di luar dugaan, bayi yang sedang menyusui itu tiba-tiba langsung melepaskan mulutnya dari puting susu sang ibu. Dia langsung menghadap dan menatap pada ibunya seraya berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti dia.”

Setelah itu, si bayi langsung menyusu kembali seperti biasa.

Di lain waktu, ketika dalam perjalanan, ibu dan bayi bertemu dengan seorang wanita yang sedang dipukuli. Mereka memukuli wanita itu sambil mengatakan, “Kamu berzina.. Kamu mencuri..”

Wanita yang dipukuli membalas perkataan mereka, “Cukuplah Allah bagiku dan dia sebaik-baik penolong.”

Menyaksikan hal itu, si ibu pun berdoa, “Ya Allah, jangan Engkau jadikan putraku seperti wanita malang itu.”

Lagi-lagi bayi yang sedang menyusu, langsung melepaskan mulut dari puting susu ibunya. Dia langsung menatap ibunya dan berkata, “Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia.”

Si ibu pun heran dan bertanya kepada si bayi, “Seorang laki-laki berpenampilan mengagumkan lewat, aku berdo’a: ‘Ya Allah jadikanlah putraku seperti dia’. Tapi kamu berkata: ‘Ya Allah janganlah Engkau jadikan aku seperti dia’. Dan mereka melewati budak ini, dan mereka memukulinya sambil mengatakan: ‘Kamu berzina, kamu mencuri’. Lalu saya katakan: ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan putraku seperti wanita ini’. Tapi kamu berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia’?”

Mendengar itu, si bayi pun menanggapi keheranan ibunya, “Sesungguhnya laki-laki itu adalah orang yang sombong, maka saya berdo’a: ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti dia’. Sedangkan wanita ini, mereka katakan: ‘kamu berzina’, padahal dia tidak berzina; ‘kamu mencuri’, padahal dia tidak mencuri. Maka saya berdo’a: ‘Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia.’”



Pembaca semua, demikianlah kisah bayi-bayi yang dapat berbicara. Semoga dapat kita ambil hikmahnya. Aamiin.

– Tamat

Maraji’: Hadits Bukhari – Muslim
(hudzaifah/hdn)

Perjalanan Rasulullah SAW ke Surga Bersama Dua Tamunya

Kisah-Kisah, Tarikh Islam
15/10/2009 | 25 Syawal 1430 H | Hits: 12.745
Oleh: Tim dakwatuna.com

dakwatuna.com – Di suatu pagi hari, Rasulullah SAW bercerita kepada para sahabatnya, bahwa semalam beliau didatangi dua orang tamu. Dua tamu itu mengajak Rasulullah untuk pergi ke suatu negeri, dan Rasul menerima ajakan mereka. Akhirnya mereka pun pergi bertiga.

Ketika dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang yang tengah berbaring. Tiba-tiba di dekat kepala orang itu ada orang lain yang berdiri dengan membawa sebongkah batu besar. Orang yang membawa batu besar itu dengan serta merta melemparkan batu tadi ke atas kepala orang yang sedang berbaring, maka remuklah kepalanya dan menggelindinglah batu yang dilempar tadi. Kemudian orang yang melempar batu itu berusaha memungut kembali batu tersebut. Tapi dia tidak bisa meraihnya hingga kepala yang remuk tadi kembali utuh seperti semula. Setelah batu dapat diraihnya, orang itu kembali melemparkan batu tersebut ke orang yang sedang berbaring tadi, begitu seterusnya ia melakukan hal yang serupa seperti semula.

Melihat kejadian itu, Rasulullah bertanya kepada dua orang tamu yang mengajaknya, “Maha Suci Allah, apa ini?”

“Sudahlah, lanjutkan perjalanan!” jawab keduanya.

Maka mereka pun pergi melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang lagi. Orang tersebut sedang terlentang dan di sebelahnya ada orang lain yang berdiri dengan membawa gergaji dari besi. Tiba-tiba digergajinya salah satu sisi wajah orang yang sedang terlentang itu hingga mulut, tenggorokan, mata, sampai tengkuknya. Kemudian si penggergaji pindah ke sisi yang lain dan melakukan hal yang sama pada sisi muka yang pertama. Orang yang menggergaji ini tidak akan pindah ke sisi wajah lainnya hingga sisi wajah si terlentang tersebut sudah kembali seperti sediakala. Jika dia pindah ke sisi wajah lainnya, dia akan menggergaji wajah si terletang itu seperti semula. Begitu seterusnya dia melakukan hal tersebut berulang-ulang.

Rasulullah pun bertanya, “Subhanallah, apa pula ini?”

Kedua tamunya menjawab, “Sudah, menjauhlah!”

Maka mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Selanjutnya mereka mendatangi sesuatu seperti sebuah tungku api, atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya besar, dan menyala-nyala api dari bawahnya. Di dalamnya penuh dengan jeritan dan suara-suara hiruk pikuk. Mereka pun melongoknya, ternyata di dalamnya terdapat para lelaki dan wanita dalam keadaan telanjang. Dan dari bawah ada luapan api yang melalap tubuh mereka. Jika api membumbung tinggi mereka pun naik ke atas, dan jika api meredup mereka kembali ke bawah. Jika api datang melalap, maka mereka pun terpanggang.

Rasulullah kembali bertanya, “Siapa mereka?”

Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!”

Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka mendatangi sebuah sungai, sungai yang merah bagai darah. Ternyata di dalam sungai tadi ada seseorang yang sedang berenang, sedangkan di tepi sungainya telah berdiri seseorang yang telah mengumpulkan bebatuan banyak sekali. Setiap kali orang yang berenang itu hendak berhenti dan ingin keluar dari sungai, maka orang yang ditepi sungai mendatangi orang yang berenang itu dan menjejali mulutnya sampai ia pun berenang kembali. Setiap kali si perenang kembali mau berhenti, orang yang di tepi sungai kembali menjejali mulut si perenang dengan bebatuan hingga dia kembali ke tengah sungai.

Rasulullah pun bertanya, “Apa yang dilakukan orang ini?!”

“Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya.

Maka mereka pun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, mereka mendapatkan seseorang yang amat buruk penampilannya, sejelek-jeleknya orang yang pernah kita lihat penampilannya, dan di dekatnya terdapat api. Orang tersebut mengobarkan api itu dan mengelilinginya.

“Apa ini?!” tanya Rasulullah

“Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya.

Lalu mereka melanjutkan perjalanan lagi. Dalam perjalanan mereka menemukan sebuah taman yang indah, dipenuhi dengan bunga-bunga musim semi. Di tengah taman itu ada seorang lelaki yang sangat tinggi, hingga Rasulullah hampir tidak bisa melihat kepala orang itu karena tingginya. Di sekeliling orang tinggi itu banyak sekali anak-anak yang tidak pernah Rasul lihat sebegitu banyaknya.

Melihat itu, Rasulullah kembali bertanya, “Apa ini? Dan siapa mereka?”

Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!”

Maka mereka pun pergi berlalu. Lalu mereka menyaksikan sebuah pohon yang amat besar, yang tidak pernah Rasul lihat pohon yang lebih besar dari ini. Pohon ini juga indah. Kedua tamu Rasul berkata, “Naiklah ke pohon itu!”

Lalu mereka pun memanjatnya. Rasul dituntun menaiki pohon dan dimasukkannya ke dalam sebuah rumah yang sangat indah yang tak pernah Rasul lihat seumpamanya. Di dalamnya terdapat lelaki tua dan muda. Lalu mereka sampai pada sebuah kota yang dibangun dengan batu bata dari emas dan perak. Mereka mendatangi pintu gerbang kota itu. Tiba-tiba pintu terbuka dan mereka memasukinya. Mereka disambut oleh beberapa orang, sebagian mereka adalah sebaik-baik bentuk dan rupa yang pernah kita lihat, dan sebagiannya lagi adalah orang yang seburuk-buruk rupa yang pernah kita lihat. Kedua tamu yang bersama Rasulullah berkata kepada orang-orang itu, “Pergilah, dan terjunlah ke sungai itu!”

Ternyata ada sungai terbentang yang airnya sangat putih jernih. Mereka pun segera pergi dan menceburkan dirinya masing-masing ke dalam sungai itu. Kemudian mereka kembali kepada Rasululullah dan dua tamunya. Kejelekan serta keburukan rupa mereka tampak telah sirna, bahkan mereka dalam keadaan sebaik-baik rupa!
Lalu kedua orang tamu Rasulullah berkata, “Ini adalah Surga ‘Adn, dan inilah tempat tinggalmu!”

“Rumah pertama yang kau lihat adalah rumah orang-orang mukmin kebanyakan, adapun rumah ini adalah rumah para syuhada’, sedangkan aku adalah Jibril dan ini Mika’il. Maka angkatlah mukamu (pandanganmu).”

Maka mata Rasulullah langsung menatap ke atas, ternyata sebuah istana bagai awan yang sangat putih. Kedua tamu Rasulullah berkata lagi, “Inilah tempat tinggalmu!”
Rasulullah berkata kepada mereka, “Semoga Allah memberkati kalian.”

Kedua tamu itu lalu hendak meninggalkan Rasulullah. Maka Rasulullah pun segera ingin masuk ke dalamnya, tetapi kedua tamu itu segera berkata, “Tidak sekarang engkau memasukinya!” [1]

“Aku telah melihat banyak keajaiban sejak semalam, apakah yang kulihat itu?” tanya Rasulullah kepada mereka.

Keduanya menjawab, “Kami akan memberitakan kepadamu. Adapun orang yang pertama kau datangi, yang remuk kepalanya ditimpa batu, dia itu adalah orang yang membaca Al Qur’an tetapi ia berpaling darinya, tidur di kala waktu shalat fardhu (melalaikannya). Adapun orang yang digergaji mukanya sehingga mulut, tenggorokan, dan matanya tembus ke tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya dan berdusta dengan sekali-kali dusta yang menyebar ke seluruh penjuru. Adapun orang laki-laki dan perempuan yang berada dalam semacam bangunan tungku, maka mereka adalah para pezina. Adapun orang yang kamu datangi sedang berenang di sungai dan dijejali batu, maka ia adalah pemakan riba. Adapun orang yang sangat buruk penampilannya dan di sampingnya ada api yang ia kobarkan dan ia mengitarinya, itu adalah malaikat penjaga neraka jahannam.

Adapun orang yang tinggi sekali, yang ada di tengah-tengah taman, itu adalah Ibrahim AS. Sedangkan anak-anak di sekelilingnya adalah setiap bayi yang mati dalam keadaan fitrah.”


Lalu di sela-sela penyampaian cerita ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan anak orang-orang musyrik?”

Rasulullah menjawab, “Dan anak orang-orang musyrik.”

Lalu Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya.

Adapun orang-orang yang sebagian mukanya bagus, dan sebagian yang lain mukanya jelek, mereka itu adalah orang-orang yang mencampuradukan antara amalan shalih dan amalan buruk, maka Allah mengampuni kejelekan mereka. []

Maraji’: Riyadhush Shalihin
_______________
Catatan kaki:
[1] Dalam hadits riwayat Bukhari lainnya, dikisahkan bahwa kedua tamu Rasulullah itu mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Kamu masih memiliki sisa umur yang belum kamu jalani, jika kau telah melaluinya maka kau akan masuk rumahmu.” (HR. Bukhari)
(hdn/hudzaifah)

Maafkan Ibu Bila Menyakitimu

Bahz bin Hakim, dari ayah dan eyangnya, katanya : ”Aku bertanya kepada Nabi saw, ”Ya Rasul, siapakah yang harus aku taati ?” Beliau menjawab : ”Ibumu.”, ”Kemudian siapa ?” Beliau menjawab : ”Ibumu,” Lalu siapa lagi ? Jawabnya : ”Ibumu,” Dan siapa lagi ? Jawabnya : ”Bapakmu,” dan yang terdekat serta yang dekat dengan famili.”

Aban dari Anas ra. Katanya : ”Di zaman Rasul saw. ada seorang pemuda yang sangat tekun beribadah, dan banyak amalnya (ia bernama) Al Qamah. Tiba-tiba sakit keras dan istrinya mengirim utusan untuk memanggil Rasul saw. Lalu beliau mengutus Bilal, S. Ali, Salman dan Amr melihatnya dari dekat, ketika itu Al Qamah tengah sakaratul maut, oleh mereka ditalkin dengan kalimat thayyibah, tetapi ia tidak mampu mengucapkannya.

Lalu mereka menyuruh Bilal pergi menyampaikan beritanya kepada Rasul saw. Beliau bertanya : ”Ia masih punya ayah Ibu ?” Jawabnya : ”Tinggal ibunya sangat tua,” Kata beliau : ”Hai Bilal temui ibunya, salamku kepadanya, katakanlah : Apakah kau datang menemui Rasul atau Rasul yang menemui (datang) kepadamu ?”. Jawabnya : ”Akulah yang harus menemui beliau”, dan setelah sampai kepada Nabi, beliau bertanya : ”Sampaikan berita yang benar kepadaku tentang anakmu ?” Jawabnya : ”Ia tekun beribadah, shalat, puasa dan bersedekah sebanyak-banyaknya sampai aku tidak mengetahuinya”, Lalu hubunganmu dengannya ? Jawabnya : ”Ia membuatku marah (menyakiti hatiku)”, Kata beliau : ”Apa sebabnya ?” Jawabnya : ”Ia terlalu menuruti kemauan istrinya, sehingga mengabaikan aku serta menentang kepadaku.”

Lalu beliau bersabda : ”Karena marahnya Ibu, ia sulit mengucapkan kalimah thayyibah.” Alkisah Bilal diperintah mengumpulkan kayu bakar untuk membakarnya. Dan Ibunya bertanya : ”Ya Rasul, anakku tersayang akan kau bakar dimuka mataku ? Siapa yang merelakannya ?” Beliau menjawab : ”Hai Ibu Al Qamah, siksa Allah lebih pedih lagi kekal, oleh karena itu maafkanlah dia, berilah keridlaanmu padanya, pasti Allah memberi ampun kepada anakmu, demi Allah, shalat dan sedekahnya tiada berguna, selama kau marah kepadanya.” Kemudian dia mengangkat kedua tangannya dan berkata : ”Ya Rasul, aku bersaksi kepada Allah di langit, dan engkau Ya Rasul, dan para hadirin, bahwa : ”Kumaafkan dia, dan aku ridla kepadanya”.

Sesudah itu Bilal diperintah kembali ke tempat Al Qamah, dan ketika menginjak pintu rumahnya, terdengar suaranya mengucapkan kalimat Thayyibah, Lalu kata Bilal : ”Hai sekalian manusia, kemarahan ibu Al Qamah itulah yang menyulitkan Al Qamah membaca kalimah syahadat, terbukti setelah ibunya memaafkan/meridlainya, maka dengan mudah Al Qamah mengucapkannya, dan matilah ia pada hari itu.”

Kemudian Rasul saw datang, memerintahkan agar segera dimandikan, dikafankan, dan dishalati oleh beliau. Sesudah selesai ditanam, beliau berdiri di atas tepi makamnya seraya bersabda : ”Hai sekalian shahabat Muhajirin – Anshar, barangsiapa terlalu mengutamakan istri daripada ibunya, pasti dikutuk oleh Allah, semua ibadahnya baik fardlu ataupun sunnah tidak diterima.” (Al Hadits).

Kata seseorang (shahabat Nabi) : Salah satu dari antara penyebab kesulitan penghidupan ialah tidak mendo’akan kedua orang tuanya. Dan apakah yang memuaskan kedua orang tua sesudah matinya ? Jawabnya 3 perkara, yaitu :
1.Dia menjadi orang baik, sebab menggembirakan keduanya.
2.Menyambung famili dan kawan-kawan kedua orang tuanya.
3.Beristighfar untuknya, dan memohonkan untuk keduanya, serta bersedekah untuk keduanya.

Seorang suku bani Salimah datang dan bertanya kepada Nabi saw : ”Ya Rasul, orang tuaku sudah mati keduanya, apakah bisa aku berbakti kepada keduanya sesudah mati ?” Beliau menjawab : ”Ya bisa, beristighfarlah untuk keduanya, dan menghubungi famili dari keduanya.”

Sumber : Tanbihul Ghafilin ; Al Faqih Abu Laits Samarqandi

Nenek dan Minyak Goreng

Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia, yang yang ringkih dengan kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah kantong plastik. Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk di sebelahnya, di atas sebuah metromini yang menuju ke stasiun KA.

Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya mirip dengan aliran sungai. Kelok-berkelok. Hmm... dia tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana. Saya pun menjawab mau kerja, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.

Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk mendapatkan minyak itu. Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu akan dipakai untuk mengoreng tepung buat cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa dia berikan buat cucunya.

Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya. Itupun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa mendapatkan minyak dan tepung gratis.

Degh. Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang nenek yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya. Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali. Saya teringat pada Ibu. Allah memang maha bijak. Sang nenek hadir untuk menegur saya.

Sudah beberapa saat waktu sebelumnya, saya sering melupakan Ibu. Seringkali makanan yang disajikannya saya lupakan begitu saja. Mungkin, karena saya yang terlalu sok sibuk dengan semua urusan kerja. Sering saat pulang ke rumah, saya menemukan nasi goreng yang masih tersaji di meja, yang belum saya sentuh sejak pagi.

Sering juga saya tak sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena telah makan di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya bisa rasakan, Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua yang telah dimasaknya buat saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia juga memasukkan kasih dan cintanya buat saya.

Dia pasti juga akan menambahkan doa-doa dan keinginan yang terbaik buat saya. Dia pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur, dan menguleni, sama seperti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuh dengan lembut, mengelus, seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.

***

Metromini telah sampai. Setelah mengucap salam pada nenek itu, saya pun turun. Namun, saya punya punya keinginan hari itu. Mulai esok hari, saya akan menyantap semua yang Ibu berikan buat saya. Apapun yang diberikannya. Karena saya yakin, itulah bentuk ungkapan rasa cinta saya padanya. Saya percaya, itulah yang dapat saya berikan sebagai penghargaan buatnya.

Saya berharap, tak akan ada lagi makanan yang tersisa. Saya ingin membahagiakan Ibu. Terima kasih Nek.

***

http://jifasmart.blogspot.com/2008/12/nenek-dan-minyak-goreng.html
TETAP ISTIQOMAH DALAM DAKWAH!

Seratus Dollar

Seorang motivator dunia berdiri di atas mimbar. Ya, dia memang bertugas untuk memberi motivasi kepada sebuah perhimpunan pegawai perusahaan. Ruang seminar di hotel itu penuh dengan orang. Sekitar 300 pegawai berpakaian rapi sudah berkumpul dan duduk tenang di kursinya masing-masing. Mata mereka memandang ke arah motivator itu, seakan mengharap ada pencerahan baru yang didapatkan.

Dengan tenang, motivator mengeluarkan selembar uang seratus dollar dari sakunya. Uang itu tampak masih sangat baru. “Siapa yang mau uang ini?” serunya. Semua hadirin mengangkat tangannya tanda setuju. Beberapa diantaranya sambil senyum-senyum sendiri dan bertanya-tanya dalam hati apa maksud motivator itu.

Motivator tersebut lalu meremas-remas uang seratus dollar itu. Uang yang tadinya tampak rapi sekarang sudah berubah menjadi bertekuk-tekuk tidak karuan. Motivator itu berseru lagi, “Siapa yang mau uang ini?” Serentak seluruh hadirin tetap mengangkat tangannya.

Motivator kemudian menyeka keringatnya dengan uang itu, lalu menaruh uang di lantai mimbar dan menginjak-injaknya hingga kotor. “Siapa yang masih mau uang ini?” Sambil tertawa-tawa seluruh hadirin pun kembali mengangkat tangannya.

“Sahabat semua.” Kata motivator itu, “Ini adalah sebuah pelajaran berharga. Apapun yang telah saya lakukan terhadap uang ini ternyata tidak mempengaruhi keinginan Anda untuk memilikinya. Anda mau, karena Anda tahu sekotor apapun bentuknya, uang ini tidak akan berubah nilainya. Seratus dollar ini tetap seratus dollar, masih bisa dipakai untuk membeli barang, baju, atau apapun yang Anda mau.”

Dengan cukup bersahaja motivator itu melanjutkan ceritanya, “Seperti halnya hidup, mungkin Anda pernah jatuh, pernah kotor, pernah ‘menyeka keringat orang’, pernah dinjak-injak, tidak ganteng, tidak kaya, atau apalah.. Tetapi sebenarnya itu semua tidak pernah bisa merubah nilai Anda sebagai seorang manusia. Sekali dilahirkan sebagai seorang manusia, selamanya Anda tetap menjadi manusia, sama seperti saya, bagaimanapun bentuknya.”

Setelah menghela nafas, motivator itu berkata lagi, “Anda bernilai dan berharga bagi orang-orang di sekitar Anda. Anda memiliki peran penting di dalam kehidupan di sekitar Anda. Anda adalah sosok yang spesial dan bernilai tinggi, terutama bagi orang-orang yang menyayangi Anda. Bahkan jika sudah tidak ada lagi yang menyayangi Anda, Anda tetap istimewa bagi Dia yang menciptakan Anda.”

Laki-laki Sejati

Ini kisah nyata. Benar-benar terjadi di atas muka bumi. Telah ditulis dengan tinta emas oleh banyak sejarahwan dalam buku-buku mereka. Sebuah kisah nyata tentang lelaki-lelaki sejati di masa Umar bin Khattab ra.

Dimasa Kekhalifahan Umar bin Khattab, ada seorang pemuda yang mengarungi padang pasir untuk menunaikan umrah di Tanah Suci. Pemuda itu tiba di sebuah oasis di pinggir sebuah permukiman penduduk. Ia berhenti dan istirahat. Karena kelelahan pemuda itu tertidur.

Ketika pemuda itu tidur , tali pengikat untanya lepas. Dan unta itu, tanpa sepengetahuan pemuda berjalan mencari makan, karena kelaparan. Unta itu masuk ke sebuah kebun yang suburtak jauh dari tempat itu. Penjaga kebun itu adalah seorang kakek. Unta itu tak ayal lagi, karena kelaparan, memakan dan merusak tanaman kebun itu.

Sang kakek berusaha mengusir unta itu, tapi sang unta itu tidak mau beranjak dari tempatnya. Karena panik dan takut dimarahi tuannya, sang kakek memukul unta itu. Dan atas kehendak Allah, unta itu mati. Sang kakek semakin panik dan cemas, apalagi pemuda pemilik unta itu terbangun dan mendapati untanya telah mati.

Karena tidak ada orang lain selain kakek itu di dekat bangkai unta, pemuda itu berprasangka bahwa kakek tua itulah yang membunuh untanya. Dan kakek itu mengakuinya setelah sang pemuda mengintrogasinya. Seketika itu sang pemuda marah besar dan gelap mata. Ia memukul kakek itu dengan pemukul yang digunakan untuk memukuli untanya. Dan kakek itupun tewas.

Pemuda itu sangat panik dan menyesal ketika mengetahui kekhilafannya. Ia tidak berniat membunuh kakek itu, hanya marah besar. Tiba-tiba datanglah dua pemuda yang tak lain anak si kakek. Mereka terkejut melihat ayahnya mati dan ditempat itu hanya ada si pemuda. Akhirnya tahulah kedua anak kakek itu, bahwa ayahnya dibunuh oleh sipemuda itu. Mereka lalu menangkap si pemuda dan menyeretnya kehadapan Umar bin Khattab untuk diadili.

Sang pemuda mengakui perbuatannya dan Umar pun menjatuhi hukuman mati
(Qishash) untuk pemuda itu. Namun, sang pemuda minta penangguhan eksekusi hukuman, karena ia harus memberi tahu keluarganya dan menyelesaikan utangnya yang belum tuntas dikampungnya. Umar pun bersedia mengabulkan permintaaan pemuda itu dengan syarat ada yang bersedia menjadi penjamin pemuda itu.

Pemuda itu cemas dan bingung. Siapa yang mau jadi penjaminnya? Ia tidak punya kenalan dan kerabat di daerah itu. Bagaimana mungkin akan ada orang yang bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk menjadi penjaminnya.

Tiba-tiba ada orang lelaki maju dan berkata kepada Umar, "Wahai Amirul Mu'minin, saya bersedia menjamin pemuda ini." Umar kaget, Ia menatap tajam lelaki itu yang tak lain adalah Abu Dzar Al Ghiffari ra. Umar berkata dengan nada serius, "Abu Dzar, sadarkah kamu dengan resiko kesediaanmu menjadi penjamin pemuda ini?"

Dengan tegas Abu Dzar menjawab, ”Ya saya sadar. Saya siap menanggung resikonya."

Umar lalu berkata kepada pemuda itu, "Hai anak muda kau telah memiliki penjamin. Sekarang Pulanglah. Selesaikan urusanmu dan segera kembalilah kesini untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu."

Pada hari yang telah ditentukan, masyarakat sudah berkumpul di lokasi pelaksanaan eksekusi hukuman Qishash. Hari semakin panas, siang semakin terik, dan pemuda itu belum juga ada tanda-tanda datang.

Ketika hari memasuki sore, dan pemuda itu belum juga datang. Masyarakat riuh membicarakan kebodohan Abu Dzar yang bersedia menjadi penjamin orang asing yang tidak dikenal. Masyarakat juga cemas, jika sampai matahari tenggelam dan pemuda itu belum juga datang, maka Abu Dzar harus menggantikan pemuda itu untuk dipancung.

Namun, Abu Dzar tetap tenang. Dengan rasa tawakal yang tinggi kepada Allah ia menunggu detik-detik matahari semakin dekat keperaduannya. Dan matahari tenggelam, pemuda itu belum datang. Maka eksekusi pun harus dijalankan. Dengan tenang Abu Dzar maju ketempat eksekusi. Algojo disiapkan. Banyak yang menangis melihat Abu Dzar siap dihukum mati untuk dosa yang tidak dilakukannya.

Dan, ketika algojo sudah mengangkat tangannya dengan pedang terhunus siap ditebaskan ke leher Abu Dzar, seorang penduduk berteriak. Ia melihat di kejahuan ada bayangan dan kepulan debu. Ada yang datang. Ia meminta ditunggu sebentar sampai jelas siapa yang datang. Semua menoleh kebayangan itu termasuk Umar bin Khatab ra. Umar minta agar yang datang ditunggu dulu.

Bayangan itu semakin dekat. Dan ternyata yang datang adalah pemuda itu untuk memenuhi tanggung jawabnya. Semua orang berdecak takjub dan haru. Bisa saja pemuda itu melarikan diri dari hukuman mati. Tapi ia tetap datang. Dengan napas terengah-engah pemuda itu minta maaf atas keterlambatannya karena ada halangan di jalan.
Karena kagum pada kejujuran pemuda itu, Umar bertanya, "Wahai pemuda, aku kagum padamu. Kenapa engkau memilih datang padahal kau bisa saja lari dari hukuman mati?”

Pemuda itu menjawab,: “Wahai amirul Mu'min, alasanya sederhana saja. AKu tidak mau ada yang mengatakan bahwa tidak ada lagi lelaki-lelaki sejati di kalangan umat muslim yang dengan ksatria berani mempertanggung jawabkan perbuatannya.”

Ia juga mengatakan, “Bagaimana mungkin saya tega membiarkan orang lain tidak bersalah yang rela menjadi penjaminku mati karena perbuatanku."

Lalu umar menoleh kepada Abu Dzar dan bertanya, "Dan kamu Abu Dzar, apa yang membuatmu yakin untuk menjadi penjamin pemuda asing ini dan kamu siap menggantikan dirinya untuk dihukum mati jika dia tidak datang?"

Abu Dzar menjawab, "Aku melakukan ini agar tidak ada yang mengatakan bahwa tidak ada lelaki sejati di kalangan umat islam yang bersedia menolong saudaranya yang membutuhkan pertolongan. AKu tidak merasa rugi di hadapan Allah. Kalau pemuda itu tidak datang dan aku harus mati menggantikannya, kematianku syahid di jalan Allah, karena aku memang tidak bersalah."

Umar bin Khatab ra diliputi rasa kagum dan haru. Dia lalu memutuskan untuk segera mengeksekusi pemuda itu sebelum waktu salat mahgrib habis. Tiba-tiba ada yang berteriak "Tunggu wahai amirul mu'min, bolehkan kami minta agar pemuda ini dibebskan dari hukuman mati?”

Yang berteriak itu adalah dua pemuda anak kakek yang tebunuh itu.

Umar menjawab, "Apa yang membuat kalian minta pembatalan hukuman ini?"

Mereka menjawab, "Sungguh kami kagum dengan dua lelaki sejati ini, izinkan kami memafkan pemuda yang saleh yang jujur ini. Kami tidak ingin ada yang mengatakan bahwa dikalangan umat islam tiada lelaki sejati yang memaafkan kesalahan. Bukankah Al'quran membolehkan bagi ahli waris untuk memberi maaf dan membatalkan Qishash pada seorang yang melakukan pembunuhan? Kami rasa pemuda saleh ini pantas untuk kami maafkan."

Seketika gemuruh takbir dan tahmid berkumandang. Seluruh masyarakat yang menyaksikan peristiwa itu takjub dengan mata berkaca-kaca. Mereka terharu menyaksikan tingginya ahlak dalam jiwa lelaki-lelaki sejati yang berjiwa ksatria itu.

Setiap kali teringat kisah nyata ini, saya sering bertanya-tanya masih adakah lelaki-lelaki sejati berjiwa ksatria di negeri ini? Semoga masih ada, sebab sejarah menulis bahwa besar adalah bangsa yang dihuni oleh lelaki-lelaki sejati bukan para pecundang dan pengecut.

Besarnya suatu bangsa tidak dilihat dari jumlah penduduknya tapi dilihat dari jumlah manusia-manusia berjiwa ksatria dan berahlak mulia. Manusia-manusia berkarakter dan berjiwa besar. Semoga mereka masih ada di indonesia. Amin.


sumber: tidak diketahui

Jika Aku Tua Nanti...

by KUMPULAN KISAH NYATA PEMBERI INSPIRASI DAN MOTIVASI HIDUP on Tuesday, August 17, 2010 at 1:38pm

Jika aku tua nanti, mengertilah terhadapku....

Jika aku lupa cara mengikat sepatu, ajarilah aku...
Ingatlah saat aku dulu mengajarimu...

Kalau aku berulang-ulang mengatakan sesuatu, bersabarlah mendengarkanku...
Jangan memutus pembicaraanku walau sudah bosan telingamu...

Jika aku seketika lupa pembicaraan kita.
Berilah aku waktu untuk mengingatnya...
Bagiku apa yang dibicarakan tidaklah penting asal kau ada mendengarkan di sampingku...

Saat kau kecil aku harus mengulang cerita yang telah beratus kali kubacakan agar kau tertidur dan gembira...

Jika aku tua nanti, rengkuhlah jemariku ini.
Beri aku perhatianmu yang tak pernah henti.

Kalau aku perlu kamu memandikanku, janganlah marah kepadaku.
Ingatlah, sewaktu kecil aku harus memakai seribu cara untuk membujukmu...

Kalau aku tak paham hal baru, Janganlah mengejekku....
Ingatlah dahulu aku harus bersabar menjawab setiap "mengapa" darimu...

Jika nanti aku lemah dan tak sanggup untuk berjalan lagi.
Ingatlah saat kau dulu belajar menapakkan kaki....

Ulurkan tanganmu yang masih kuat memapahku.
Seperti saat dulu aku mendampingimu...

Kini, temani aku jalani sisa usiaku.
Berikan kasih tulusmu, kan kubalas dengan rasa syukurku... serta cinta tak terhingga untukmu....

Jika aku tua nanti, kelak kan tiba waktuku untuk pergi.
Panjatkanlah selalu doamu pada yang Maha Tinggi.
Karena permohonanmu kan melesat bagai cahaya menerangi dalam kuburku....

Jangan kau tangisi dan ratapi aku dalam kesedihanmu.
Berdoa dan perbanyaklah amal baikmu.
Doa anak saleh yang kan membantu dan jadi pelita dalam kuburku.

Jadilah orang yang berbakti, isi hidup dengan hal yang berarti.
Agar kelak Dia akan mempertemukan kita kembali...
Ditaman surganya yang abadi...